Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 155 : TIDURLAH DENGANKU


__ADS_3

"Apa aku boleh bahagia? boleh hidup tenang? melepas hatiku dan mengiklaskan semua? Apa aku bisa membuka hati untuk cinta yang baru? Atau larut dalam hati penuh trauma."


___


Richie menapaki jubin dingin menggendong Vino, yang tidur pulas dengan mulut mungil melongo. Membuat lelaki dewasa itu kian gereget tapi merasa bangga karena bisa menidurkan anak aktif ini.


Berjalan dengan mengendap , melewati Lala ya terpejam dalam duduknya. Dia melangkahi kotak- mainan yang telah penuh- di depan pintu kamar. Kemungkinan wanita itu tertidur setelah membereskan mainan.


Mata Richie menyusuri setiap sudut kamar dengan aroma bunga segar begitu kentara. 'Apa tidak ada keranjang bayi?' batin Richie.


Dia merapikan alas bayi dan menidurkan Vino di kasur queen size. Dia menggeser bantal mungil yang di tiduri Vino, agar badan Vino lurus.


"Mereka tidur di tempat seperti ini? lantainya begitu dingin, tidur di kasur tanpa dipan, tidak kedinginan apa?"gumam Richie ketika menyelimuti Vino dan membatasi sekelilingnya dengan bantal. Dia merasa miris melihat keadaan ini, berharap seharusnya ada keranjang bayi dan Lala tidur di bed empuk.


Bayi itu menggeliat, Richie tak bosan-bosannya memandangi bayi mungil sambil tangan menepuk lembut pada paha Vino dan memakaikan penutup kepala bayi yang terdapat di kasur.


Lala membuka mata dengan berat ketika Richie berjongkok dan menepuk dengan lembut.


"Tidur di dalam, di sini dingin."


Mata Lala begitu berat dibuka, bagai dilem dan saling menempel, "tuan Richie." Dia mendongak kanan, melihat jam, "ah aku ketiduran. Apa tidak masalah anda tidur di kasur tipis ini? pasti punggung anda akan sakit."


"Sudah tidak apa, sana tidur. besok bantu saya membersihkan rumah kosong?" Richie langsung tidur di tempat yang tadi di duduki Lala, bekasnya masih hangat.


"Umh, pakai ini, semoga cukup menghangatkan." Lala memberikan selimut biru, yang dirasa paling panjang, walau itu tidak bisa menutupi seluruh tubuh Richie yang tinggi.


"Terimakasih," katanya. Richie tak berkedip mendapati Lala yang berusaha menjaga mata tetap terbuka dengan sesekali mengucek kelopak mata.


Terlebih mendengar suara serak Lala yang membuat hati Richie makin kembang kempis. Begitu terasa geli di telinga Richie karena menurutnya seksi.


Selimut itu menutupi wajah dan pipi Richie menghangat. Mendengar Lala mengunci pintu kamar, Richie langsung membuka selimut lagi. Satu sudut bibir tertarik ke arah mata, matanya menajam dan kian bercahaya. Dia merasa begitu gereget. Badan jungkir balik tak bisa tenang.


Dia kembali tengkurap dan memukul-mukul bantalnya, dan membenamkan wajah di sana.


'Bahkan bantal ini meninggalkan jejak aroma leher Lala.' Jantung Richie semakin berdenyut, dia terus memukul bantal perasaanya begitu membuncah dia makin menghirup aroma bantal itu dalam-dalam.


Pikirannya melayang jauh bila dia mengecup leher jenjang mulus itu, membayangkan sesaat membuat sesuatu di bawah sana mengeras. "Apa ini?" Richie melumah, menatap langit-langit genteng diatasnya, dia memegangi kejantanan di balik selimut.


"Rumah ini terlalu sederhana, tidak ada penghangat di udara sedingin ini. Tidak ada air panas, bagaimana bisa orang tinggal di tempat seperti ini, menyentuh air kamar mandi seperti menyentuh air es saat malam," gumam Richie.


'Mengapa ini begitu keras... hanya karena aroma itu, hah! ini sangat tidak nyaman.' Richie mengurungkan niat melepas benih-benih karena membayangkan saja terasa ngeri bila harus bebersih dengan air dingin.


Richie menggoyangkan kepala cepat, membuang pikiran kotor.


Richie mencoba memejamkan mata, tapi bayangan memagut Lala masih begitu kentara, 'bibir wanita itu begitu lembut, selembut permen kapas. Dengan kehangatan rasa strawberry membuatku sulit melepas bibirnya yang sangat seksi!'

__ADS_1


Malam itu Richie terbangun, mencengkram kepala dan semakin meringkuk karena mimpi buruknya.


Dia mencoba mengingat mimpinya tapi bayangan mimpi itu hilang.


Seketika dia begitu merasa sakit kala kilatan potongan demi potongan muncul di kepalanya.


Wanita yang tengah duduk itu menatap dalam dan wajah semu-semu merah dengan dadanya terus naik turun tak bisa mengontrol nafasnya. "Kevin, tolong telpon Kevin, badan ku tidak enak!"


Wanita itu mengeluskan pipi ke tangan Richie ... seperti anak anjing yang membutuhkan belaian.


"Telpon Kevin," kata Lala sangat lemah dengan dua tangan mengepal saling bertumpu di atas paha, sementara ujung jemari kaki saling mencengkram, dan berusaha menyembunyikan wajah, makin menunduk, "jangan lakukan ini."


"Anda tidak hh seperti itu tolonghh," kata Lala bercampur lenguhan, saat Richie melahap leher Lala kala gaun melorot.


Richie melihat Lala dalam gendongan dan membaringkan tubuh Lala yang kepanasan.


"Hahhhhhh." Lala mengambil nafas.Tubuh Lala yang tak bisa dikontrol menekan kuat pada kejantanan Richie.


"Ja ...ngan," kata Lala sangat pelan saat tangan Richie mulai masuk di sela kain kecil.


Kilasan pikiran itu menyakitkan kepala Richie, seperti disengat listrik membuat dia mengepal dan otot tangan kian menyembul. Ia memukuli kepala."Pergi!"


Mendengar suara bariton penuh kemarahan, Lala menyentuh punggung lebar yang duduk menunduk. Lelaki itu terus menjambak rambut.


"Richie tenanglah!!"


Lala membiarkan tangisan Vino mengutamakan Richie, karena Lala takut kegaduhan Richie membangunkan para tetangga.


"Tuan Richie, ada aku, kamu tidak sendiri." Lala menahan tangan Richie yang memukul tak terkendali, sampai tinjuan mengenai hidung Lala.


"Richie ... hei sadarlah! RICHIE!!!"


Lala membelit tubuh Richie dengan kedua tangan, mengunci tangan Richie dalam pelukan.


Richie meringis, giginya mengatub rapat sampai terdengar gertakan gigi.


"kauuu.." lirih Richie, merasakan sebuah pelukan hangat membuatnya tiba-tiba lemas, dan itu menjalar ke seluruh tubuh. "apa tadi?" Richie mencoba mengingat lagi.


"Kamu mengingat sesuatu? jangan dipaksa," tanya Lala dengan khawatir kala Richie mulai terkendali.


"Sebentar..." Lala berlari ke kamar mengangkat Vino yang akan merangkak dan menangis keras.


"Ibu disini, sayang, cep cep," menepuk punggung Vino dalam gendongan. Lala mendekap begitu erat tubuh Vino, sementara mata Lala menatap nanar Richie yang terlihat menyeramkan sekaligus kasian.


Vino perlahan menghentikan tangisan dan kembali menjemput mimoinya.

__ADS_1


"Minum dulu." Lala memberikan segelas air putih pada Richie, dengan tangan kiri masih menimang sang putra.


Lelaki itu menyeka keringat dingin di wajah. Dia mencoba mengatur nafas dan menggelegak segelas air tanpa bersisa.


Tatapan Richie kosong dan terus berkedip, dia terus berpikir mencari selaman memori yang terlihat serba putih tanpa bisa menemukan apa-apa. Dia beranjak memasuki kamar menyusul Lala. "Pinjami saya uang."


Lala berbalik setelah menyelimuti Vino, mendekat ke Richie. "Uang? Boleh, besok kan?"


Terlihat Richie berulang- menarik rambut dan penuh keringat. "Sekarang, Cepat!"


"Untuk apa malam-malam jam 1 pagi ???" Lala mengangkat satu alis, mulai berpikir yang tidak-tidak.


"Sudah cepat, saya akan mengembalikan lebih banyak!" Richie menggaruk kepala kasar, dan terus menggerakkan kaki.


"Tidak, aku tidak akan memberimu."


Terlihat Richie yang begitu gelisah, bibir terus bergumam dan bergetar seperti mengumpat. "Hah ! kaaauuu---" geram Richie tertahan dengan suara pelan dan dua alis menyatu. Dia menghentak keras, beringsut menuju pintu.


"Mau kemana malam-malam." Lala menghalangi jalan Richie di ruang tamu yang gelap.


"Minggir atau saya bisa melukaimu. Ini bukan urusanmu."


Lala merentangkan tangan, menahan pintu ruang tamu. "Apa kamu mau mabuk ha?! Kau di rumah ku jadi ikuti aturan ku," tegas Lala menatap Richie dalam semi kegelapan.


"FIX. SAYA KELUAR dari rumah ini! jadi minggir."


"Jangan! kau tak boleh keluar."


"Kenapa? minggir lah, saya tak yakin bisa menahan lagi. Saya tidak ingin melukai mu, jadi cepattt." Richie meraih pinggang Lala sudah tak sabar, mendekap dan menggeser tubuh mungil itu.


"Oke silahkan pergi, begitu keluar jangan salahkan jika aku tak mau menemui kamu lagi, ya."


Ucapan wanita itu penuh penekanan membuat Richie yang sudah membuka pintu itu, terhenti. Dia mematung dan diam berpikir lama sampai Lala meraih tangan Richie dan mendorong pintu itu.


Richie terus terpaku, pikiran dia kosong mengikuti langkah kaki Lala. Cengkraman yang menariknya dan mengajak duduk di kursi kayu dalam semi kegelapan membuat dia patuh karena aura tegas Lala yang terlihat marah, 'mengapa melarangku dengan ancaman? menyebalkan! Dan kenapa aku menurut!'


Lala kembali ke ruang tamu menyodorkan gelas. "Richie, minum jahe saja, semoga membantu."


"Besok lusa mari temui psikiater. AKu mendengar rumah sakit itu mendatangkan dokter-dokter terbaik dari luar negari," kata Lala menatap kasian pada Richie yang tengah meminum air jahe, lelaki itu terlihat kacau."Habiskan itu."


Lala merasakan kepala Richie yang bersandar di bahu. Rambut Richie terasa halus saat menyentuh pipi Lala.


'Pria ini ada sisi seperti ini juga?' batin Lala, merasakan kedua tangan Richi yang melingkar di pinggang Lala dengan begitu kuat, bagai takut ditinggalkan.


Satu jam sudah Richie bersandar pada bahu Lala, membuat wanita itu menutup mulutnya yang terus menguap, dia sudah tidak kuat duduk lebih lama. "Jadi mau sampai kapan? pinggangku pegal, kamu berat," keluh Lala.

__ADS_1


"Tidurlah denganku," kata Richie datar dengan suara bariton, matanya tetap terpejam, merasa nyaman di bahu kiri Lala.


__ADS_2