Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 95 : AKHIR KEHIDUPANKU?


__ADS_3

Lala melihat preman yang berdiri itu dengan penuh kebencian. Entah keberanian dari mana, Lala yang tangannya terikat kedepan berusaha berdiri.


"Lala, apa yang kamu lakukan" lirih Johan, matanya melebar saat melihat Lala melepaskan pelukan Johan dan berjalan ke arah Richie saat pistol masih menodong kepala Johan, membuat Johan tak bisa bergerak.


Richie tersenyum, "Whats up?" Lelaki itu menepuk empat kali di pahanya, "kemarikah duduk."


"Jangan!" seru Johan, giginya menggertak.


"Shut up!" bentak Richie berubah merah padam melirik Johan.


"Lepaskan Jo__" ucapan Lala terpotong.


"Duduklah," Richie mendelik ke Lala, "CK! haruskah aku menyuruh dua kali?!"


"Anda tahu saya istri Kev__" ucapan Lala terpotong. Tubuhnya tersentak.


DOOOR!


Lala membelalakan mata, dia membalikan badannya,"Johan! jangan!"


Fiuh... Kaki lala dingin dan gemetar,  bagai tulang lututnya di cabut dari tempatnya.


"Aku tak apa Lala, tenangkan dirimu," kata Johan masih terlihat tenang tak peduli gertakan Richie.


Lala melihat anak peluru itu tembus ke lantai di dekat paha Johan yang sedang bersimpiuh.


Lala membalikan badannya menghadap Richie yang tengah tersenyum licik padanya.


Menepuk paha empat kali, "Duduk," kata Richie dingin.


"Tidak! Apa maumu?" teriak Lala masih berdiri di depan Richie, "Apa Kevin tau ini?!"


Richie tersenyum tanpa bisa di tebak Lala.


"Cepat duduk, kau masih dalam permainan ini Nyonya Saint," kata Richie dingin.


"Apa anda yakin mau menggoda istri temannmu, Tuan Richie," Lala menggertakan gigi membuat Richie tertawa.


"Lihat nyonya Saint marah! imut sekali."


"Hentikan omong kosongmu sialan," decak Johan.


DORRRRR!


Johan  melihat ke bawah saat pahanya merasa tepukan keras, dia melihat darah mulai keluar dari pahanya, “Hhhh” Johan yang tadi besimpuh kini terduduk di lantai.


Richie menahan lengan kanan Lala yang akan menghampiri Johan. Lala meronta, namun Richie justru mendekapnya dari  belakang, "kau mau saya menggantung lelaki itu di jangkar gedung itu? Kau mau melihat perut lelaki itu tertancap pada jangkar itu? Atau kau mau mengeksekusinya sendiri nyonya Saint," Bisik Richie di telinga Lala. Richie mencium rambut Lala di tengah tangisan Lala.


Richie terus melirik Johan yang terlihat menekan pendarahan dengan tangannya.


Richie tersenyum licik pada Johan, "Siapa namanya? Johan? JOHAN ABIMANYU ORION? ah salah maksud saya Johan Orion Abimanyu," kata Richie di telinga Lala.

__ADS_1


DEG


Lala dan Johan terdiam.


“Martin Lewis, Hans Gunandra?” kata Richie lalu mengecup rambut Lala.


Lala tatatapannya kosong, matanya tertuju pada darah celana jeans Johan.


“ssh Apa maksudmu sialan!” kata Johan sambil meringis.


“Zack Abimanyu, Tiara Abimanyu, kira-kira mereka sedang apa ya?”sindir Richie dengan suara penuh penekanan menyebut semua keluarga Johan.


“Jangan bawa-bawa mereka, urusanmu hanya dengan ku,”geram Joham.


“Nyawa di bayar nyawa, kau tau siapa yang kau bunuh? salah satubKeluarga dari tujuh penguasa benua ini. Kau tau, mereka tak akan melepas nyawamu,” kata Richie penuh penekan dengan tangan tetap mendekap perut Lala.


“Mem-bun- nuh,” lirih Lala gemetar, Richie melirik pandangan Lala yang tertunduk.


“Dia bukan pembunuh,” lirih Lala yang di dengar Johan. Johan mengepalkan tangannya.


Richie melirik ke kanan, anak buahnya telah selesai menyiksa wanita itu. Dia menjentikan jari. Keempat preman itu keluar dari ruang.


Johan pikirannya sudah gelap, dia  memandang Lala yang tak mau memandangnya, “Lala.”


“Tidak, tidak mungkin,” empat kristal-kristal Lala airmata jatuh ke Tanah. 'Tidak mungkin ayah dari anak-anakku seorang pembunuh.'


Richie menarik Lala yang mematung, hingga Richie duduk dan Lala diatas pangkuannya.


“Berikan,” kata Richie pada anak buahnya.


Lala terdongak, preman itu memberikan sebuah pistol pada Johan, sementara preman lain tetap membidik kepala Johan.


Preman itu membantu Johan yang kesulitan berdiri, preman itu mengarahkan tangan Johan ke depan ke arah wanita yang disiksa tadi..


"Nyawa harus di bayar nyawa, kau membunuh pria karena menolong gadis itu. Habisi dia! gadis itu harus mati" geram Richie.


Johan menatap tubuh wanita yang telah pingsan dan tertutupi beberapa kemeja. 'aku telah menolongnya, kini aku harus membunuhnya, dan ini di depan Lala. Kamu pasti akan semakin membenciku, La,' batin Johan.


Lala menoleh kanan, seluruh tubuh wanita itu tertutupi kemeja hitam kecuali wajahnya yang terdapat banyak cairan lelaki.


“Hentikan Tuan Richie, saya mohon, Tuan Richie...” kata Lala dalam isaknya.


Richi mengeratkan dekapannya,”apa yang bisa kau berikan padaku nyonya Saint? Apa lelaki itu begitu spesial?”


Lutut Lala gemetar, “Dimana Kevin!”


“Ini bukan arenanya, nyonya Saint, dia tak pernah mengurusi seperti ini kamu tahu...”


Lala beranjak, Richie menariknya lagi, “Sseh sseh ssehh, Anda memohon pada saya? jadi bagaimana tawaranmu nyonya Saint? Tapi, saya hanya menginginkan tubuh mu,” bisik Richie yang hanya di dengar Lala dengan senyum liciknya.


“Jangan membawa-membawa dia, aku akan melakukan ini,”kata Johan dengan gigi gemertak, dia tak bisa memilih.

__ADS_1


Johan menarik pelatuknya.


“Jangan Johan!!”teriak Lala mendelik dengan tubuh tertarik ke depan.


CEKLEK-


Tidak ada suara tembakan.


Richie tertawa.


Johan berdecak karena dia sedang di permainkan, tapi dirinya bersyukur karena pistol itu tanpa peluru. Kedua preman itu menjatuhkan Johan ke lantai. Johan meringis menahan pegal dan panas di pahanya, dia berusaha menekan darahnya.


Kaki Lala lemas, “Tolong lepaskan Johan, saya tahu anda memiliki kekuasaan itu, saya yang akan menggantinya” kata Lala dengan sudut bibir tertarik ke bawah terus menatap darah Johan yang melebar ke celananya.


“Apa anda lebih mencintai dia dari pada suami anda nyonya saint? Katakan apa alasan anda membelanya? Jawaban anda mungkin bisa saya pertimbangkan.”


Johan melihat Lala yang tertunduk diam, dia mengepalkan tangannya saat Richie tersenyum licik.


“Haruskah saya membuat anda lebih jujur nyonya Saint?”


“Tolong kali ini saja Tuan Richie,” kata Lala, bibirnya terasa keluh menatap kandungannya.


Richie melihat arah mata Lala, dia menatap anak buah dan mengibaskan tangan.


Semua orang pergi. Tinggalah Richie, Lala dan Johan yang tangan kirinya terantai di Lantai.


"Dia bisa kehabisan darah, saya mohon Tuan Richie,” kata Lala terisak melihat Johan yang duduk lemas dan sudah mulai pucat.


"Bayangkan sisa darahnya Nyonya Saint, apa dia bisa bertahan?"


"Cepat tolong dia! lepaskan saya!" Lala menyingkirkan tangan Richie, namin Lelaki itu semakin mendekapnya.


“Apa dia penting untuk hidup anda?”


“Sangat penting!”


Johan yang mendengar itu sedikit tersenyum. Tekanan tangannya tak berguna, badannya sangat lemas dan Johan jatuh ke kanan.


Lala menoleh, "Johan...!" tangis Lala saat mendengar kepala Johan terbentur Lantai, kelpala Lala terus berdenyut, 'tidak Johan! bertahan demi putrimu!' teriak Lala dalam hatinya.


Richie meraih wajah Lala, agar Lala tetap menatap Richie.


Dengan tangan lemas ... Johan berusaha menutup luka di pahanya, dia tersenyum kecut, 'malaikat maut sepertinya akan menjemputku, INI AKHIR KEHIDUPANKU? maaf Lala,' batinnya nafasnya mulai melemah.


Celana kiri Johan telah basah, dan darahnya mulai mebasahi jeans kaki kanannya, sementara darah yang telah menggenang di lantai semakin membuat keseluruhan celana dan tangan Johan merah.


Richie menepuk jari pada pipi kanannya.


Lala yang pipinya masih basah, menelan salivanya melihat aura Richie yang menyeramkan.


“Cium saya nyonya Saint,” tatap Richie dalam dengan nafasnya sedikit memburu.

__ADS_1


__ADS_2