
“Paa...”
“Apa Se? Kamu dari tadi ngga bosen apa ngikutin papa terus?”
“Ya makanya papa dengerin aku dulu.”
Sekar menarik lengan kemeja sang papa kemudian menariknya hingga ke dekat sofa. Sambil menghembuskan nafas panjang, akhirnya Teddy duduk di sofa. Sejak sejam lalu anak bungsunya ini terus mengganggunya, dan dia tahu apa yang hendak dikatakan putri satu-satunya ini.
“Ada apa sih Se?”
“Papa mah kura-kura dalam perahu. Papa kan tahu apa yang mau aku omongin.”
“Se.. papa minta maaf. Tapi masalah di Jepang itu memang darurat, papa butuh Cakra buat bantu papa di sana.”
“Ya masa papa langsung bawa bang Cakra sehari setelah aku nikah. Terus aku ditinggalin gitu aja di sini? Papa mah tega.”
“Ya terus papa mau minta siapa? Abi? Dia ngga mungkin pergi ninggalin Nina yang lagi hamil muda, sayang.”
“Kan masih ada kak Juna.”
“Pekerjaan di kantornya sedang banyak-banyaknya. Papa ngga punya pilihan lagi, selain Cakra. Lagian ngga lama kok, cuma sebulan. Kalau kamu libur kuliah, kamu bisa ke sana sekalian bulan madu.”
“Papa jahat! Kemarin bang Cakra yang mundurin pernikahan gara-gara masalah bang Jojo, sekarang aku harus LDR-an habis nikah karena urusan perusahaan di Jepang. Jual aja perusahaan di sana, aku juga ngga mau!”
“Se! Jangan kaya anak kecil dong. Kamu sebentar lagi nikah, bagaimana kamu bisa jadi istri yang baik kalau kamu masih seperti anak kecil dan egois seperti ini.”
“Papa jahat hiks.. hiks.. ngga sayang sama aku.”
Sekar mulai menangis, Teddy menyandarkan kepalanya di kepala sofa. Dia cukup pusing menghadapi tingkah manja anak bungsunya.
“Siapa yang ngga sayang sama kamu?”
Sekar menolehkan kepalanya begitu mendengar suara Abi. Gadis itu berdiri lalu menghambur ke dalam pelukan kakaknya itu. Walau keras dan bermulut pedas, namun Abi sangat sayang pada Sekar. Tak lama Juna datang, dia bingung melihat Sekar yang menangis dalam pelukan Abi.
“Kamu kenapa Se?”
“Lagi ngambek,” jawab Teddy.
“Ngambek kenapa hmm?” Juna mengusap puncak kepala Sekar.
“Papa jahat hiks.. masa mau ngajak bang Cakra ke Jepang sehari sesudah aku nikah hiks.. orang tua yang lain mah nyuruh anaknya bulan madu. Papa malah nyuruh LDR-an.”
Juna men**lum senyumnya, diliriknya Abi yang juga tengah tersenyum. Abi merangkul Sekar kembali duduk di sofa disusul oleh Juna. Sekar duduk di samping Abi dan masih memeluknya, dia tak mau melihat ke arah sang papa, hanya menelusupkan kepalanya ke dada Abi.
“Udah ngga usah nangis, kakak yang bakalan temenin papa ke Jepang, bukan Cakra.”
Sekar mengangkat kepalanya lalu melihat ke arah Juna. Ditatapnya lekat-lekat yang kakak. Juna menganggukkan kepalanya seraya tersenyum. Sekar melepaskan pelukannya dari Abi lalu menghambur ke arah Juna.
“Beneran kak?”
“Iya.”
“Makasih.”
“Kamu serius Jun? Terus kerjaan di kantor gimana?”
“Aku yang handle pa. Kan di kantorku ada Cakra sama Anfa yang bisa handle. Tapi konsekuensinya kamu belum bisa bulan madu Se. Ngga mungkin Anfa ngurus kantor sendirian.”
“Iya ngga apa-apa asal ngga LDR aja.”
“Nadia setuju Jun?” kembali terdengar suara Teddy.
“Aku udah bicarain sama Nadia juga. Dia akan ikut ke Jepang, sekalian kita bulan madu kedua.”
“Ish yang pengantin baru siapa, yang honeymoon siapa,” sela Sekar.
“Ya udah kakak ngga jadi deh ke Jepangnya, biar Cakra aja.”
“Jaaaanggaaaann.. iya kak Juna sama kak Nadia bulan madu aja di sana, nanti pulang bawain aku calon keponakan ya.”
“Aamiin..”
Sekar mengeratkan pelukannya di pinggang Juna. Dia bersyukur akhirnya tidak akan menjalani hubungan LDR bersama Cakra pasca menikah nanti. Abi mengusak puncak kepala adiknya ini. Dia rela menambah beban pekerjaan demi adik tercinta.
☘️☘️☘️
Juna turun dari mobil seraya membawa sebuket mawar merah di tangannya. Di teras Nadia menyambut kedatangannya dengan wajah sumringah. Senyum Nadia bertambah lebar begitu mendapat buket bunga dari sang suami. Sambil mengalungkan kedua tangannya di leher Juna, wanita itu memberikan ciuman hangat kepada suaminya.
Kemesraan Juna dan Nadia tertangkap oleh Nina yang tengah melintas. Dia hendak menyusul Abi di kediaman Teddy. Jujur saja, dia merasa iri melihat keromantisan Juna dan Nadia. Abi bukan sosok yang romantis, jangankan satu buket, satu tangkai bunga pun belum pernah diberikan suaminya itu.
“Lihatin apa?”
Suara Abi sukses membuyarkan lamunan Nina. Tak disangka suaminya itu sudah ada di sampingnya. Nina memeluk pinggang Abi kemudian menyandarkan kepala di dada bidang favoritnya.
“Lagi lihat kak Juna sama kak Nadia. Mereka tuh mesraaaa banget. Kak Juna romantis deh, ngasih bunga sama kak Nadia, ngga kaya suami yang di rumah sebelah tuh. Ngga ada romantis-romantisnya, kalo modus iya.”
Abi tergelak menyadari sang istri tengah menyindirnya. Dicubitnya pelan pipi Nina yang mulai sedikit chuby. Dia merangkul bahu Nina kemudian berjalan menuju rumahnya yang hanya terhalang satu rumah saja.
“Mas tumben sore gini udah pulang.”
“Lagi kangen.”
__ADS_1
“Kangen siapa?”
“Ya kangen istri mas lah.”
“Kirain kangen nengokin debay.”
“Oh kalau itu ngga usah dibilang. Tiap malem juga mas kangen, bawaannya pengen nengokin terus.”
“Dasar mesum,” Nina mencubit lengan Abi yang hanya dibalas kekehan saja.
“Mas.. aku pengen makan mie instan, pake sawi, tomat, irisan cabe sama telor tapi ngga boleh pecah, bentuknya harus kaya pouched egg.”
“Minta bikinin sama bi Ita.”
“Ngga mau, aku maunya mas yang bikin.”
“Siap my queen. Tapi mas mandi dulu ya.”
Abi mengangkat tubuh Nina lalu menggendongnya ala bridal style, membuat wanita itu terpekik pelan saking kagetnya. Dengan langkah lebar, Abi memasuki halaman rumahnya. Nina menutupi wajah dengan kedua tangannya ketika melintasi pos jaga di rumahnya. Pak Rusdi dan Asep, security yang bertugas menjaga rumah Abi hanya tersenyum melihat tingkah bosnya.
☘️☘️☘️
Sehabis isya Abi baru bisa membuatkan pesanan sang istri karena mendadak dia harus menyelesaikan pekerjaan yang dikirimkan Anfa via e-mail. Beruntung Nina tidak kehilangan mood dan mau menunggu sampai pekerjaannya selesai.
Setelah berjibaku dengan pisau, panci dan menghabiskan tiga butir telur, akhirnya mie instan pesanan sang istri selesai juga dibuat. Ternyata membuat pouched egg tak semudah yang dikira walau sudah melihat video tutorial pembuatannya. Beruntung pada percobaan ketiga berhasil, meski tak sempurna tapi Nina menerimanya.
Abi mengusap puncak kepala Nina. Istrinya itu makan dengan lahap mie instan buatannya. Impian rumah tangganya akhirnya bisa terwujud bersama wanita di sampingnya ini. Bayang-bayang Fahira yang telah menorehkan luka dalam hatinya telah sepenuhnya hilang. Dan kini hanya ada Nina dan calon buah hati yang bertahta di hatinya.
“Mas ngga makan?” pertanyaan Nina membuyarkan lamunan Abi.
“Mas udah kenyang lihat kamu makan.”
“Makan dong mas, nanti sakit kalau ngga makan. Apalagi sekarang mas lagi banyak pekerjaan. Mau aku suapin mas? Tadi aku bikin sup ikan kesukaan mas.”
“Boleh sayang, tapi jangan banyak-banyak ya.”
Nina mengangguk. Dihabiskannya dulu mie instan yang hanya tinggal dua suap lagi. Dia menaruh mangkok bekas di dapur lalu mengambil piring untuk makan suaminya. Abi menarik tubuh Nina untuk duduk di pangkuannya. Sambil memeluk pinggang Nina, Abi menerima suapan dari istri tercinta.
Setelah makanan di piring tandas, Nina memberikan gelas minuman pada Abi. Diteguknya sampai habis air putih tersebut. Nina mengalungkan kedua lengannya di leher Abi. Memandang lekat wajah suaminya yang selalu terlihat tampan di matanya.
“Mas mau dessertnya?”
“Dessetnya apa?”
“Pokoknya yang manis-manis. Mau ngga?”
“Hmm.. boleh.”
“Dessertnya manis dan lezat. Makasih sayang.”
“Mas masih tetap sayang ngga sama aku kalau badanku tambah melar kaya gajah bengkak.”
“Hahaha.. kalau gajah bengkak gimana penampakannya? Ngga bengkak aja udah besar.”
“Iiih malah bahas gajahnya. Mas masih sayang ngga kalau badanku udah ngga kaya dulu?”
“Mas mencintaimu bukan karena fisikmu. Tapi karena yang ada di sini,” Abi menunjuk dada Nina. Membuat sang istri tersenyum bahagia.
“Sama isi di dalemnya juga,” bisik Abi seraya memberikan gigitan kecil di telinga Nina.
“Mas iihh.. mulai deh.”
“Kakimu pegal kan? Mas pijetin ya.”
Belum sempat Nina menjawab, Abi sudah berdiri lalu membawanya ke kamar. Hati-hati Abi merebahkan tubuh Nina di kasur. Kemudian mengambil minyak zaitun dari atas nakas. Dengan gerakan pelan dia mulai memijit kaki Nina.
Mata Nina terpejam menikmati pijatan sang suami. Tapi kemudian dia mulai terusik dengan gerakan tangan Abi yang terus naik ke paha hingga ke dekat area intimnya. Sontak Nina membuka matanya.
“Maaasss..”
“Mijet kakinya udah selesai sayang, sekarang yang atasnya belum. Sekalian dedenya minta ditengokin sama papa.”
“Dasar modus.”
“Biarin. Tapi kamu suka kan?”
Wajah Nina tersipu malu mendengarnya. Abi merangkak naik ke atas tubuhnya kemudian mulai memberikan ciuman di leher, bahu serta dadanya. Perlahan Abi melepaskan baju tidur sang istri hingga hanya menyisakan bagian dalam saja. Pria itu juga telah melepas kaos dan celana yang membalut tubuhnya.
CUP
CUP
CUP
Abi menciumi perut Nina yang masih terlihat rata. Itu ritual yang dilakukan sebelum memulai percintaan sesudah sang istri mengandung. Kemudian dengan tangan dan bibirnya, Abi mulai memberikan rangsangan pada calon ibu dari anaknya itu. Terdengar ******* Nina yang semakin membuat dirinya semakin gencar mencumbu.
Nina menjambak rambut Abi saat suaminya itu mulai memasukinya. Dikarenakan usia kandungan Nina masih muda dan masih dalam keadaan rawan, Abi menahan diri untuk bermain cepat. Walau bermain lembut, dia tetap bisa memberikan kepuasan pada sang istri.
Terdengar lenguhan panjang Nina saat dirinya mencapai pelepasannya. Tak lama terdengar geraman Abi, pria itu juga telah berhasil sampai pada puncaknya. Diciuminya kening sang istri yang dipenuhi titik-titik keringat kemudian menjatuhkan dirinya di samping Nina. Ditariknya selimut untuk menutupi tubuh mereka.
“Mas...”
__ADS_1
“Hmm...”
“Aku pengen makan sate padang.”
“Sate padang yang di mana sayang?”
“Yang dekat panti mas, enak yang di situ.”
“Oke. Tapi kamu ngga usah ikut ya, biar mas yang pergi.”
“Jangan lama-lama dan jangan larak-lirik perempuan.”
“Hahaha... ngga ada perempuan secantik dan seseksi kamu sayang.”
Abi men**lum bibir Nina sebentar kemudian bergegas turun dari ranjang. Nina menutup wajahnya saat melihat sang suami dengan tubuh polosnya berjalan santai menuju kamar mandi.
☘️☘️☘️
“Kang bunganya, buat pacar atau istri kang.. buat selingkuhannya juga boleh kok kang.”
Tawar seorang gadis yang tengah menjajakan bunga di trotoar jalan yang lumayan banyak dilintasi lalu lalang orang. Seorang gadis mungil dengan kulit putih, sekilas wajahnya mirip artis Korea. Tangannya menjinjing keranjang berisi bunga mawar warna-warni.
Gadis itu menghembuskan nafas panjang. Dari sekian banyak orang yang melintasi jalan tempatnya menjajakan bunga, tak ada yang berniat membeli. Belum satu batang bunga pun yang berhasil dijualnya. Seorang pria mengahmpiri dirinya.
“Din.. gimana udah ada yang laku bunganya?”
“Belum kang.. mana udah malem lagi. Enin pasti nungguin. Tapi kalau belum ada yang kejual, aku ngga dapet uang. Mana besok harus beli obat buat enin.”
“Eeeuuhh kumaha atuh? Aku juga lagi ngga punya uang Din.”
“Ya elah kita kan sama-sama kere, kang hahaha.”
Abi yang tengah menunggu pesanan sate padang, tak sengaja mendengar percakapan dua orang tersebut. Setelah membayar sate pesanannya, Abi melangkah mendekati gadis penjual bunga, yang ternyata adalah Adinda alias si gadis blewah.
“Berapa harga bunganya?”
“Akang mau beli?”
“Ngga mau nanya aja.”
“Euuh si akang mah. Beli atuh buat pacar atau istrinya atau selingkuhan juga boleh.”
PLETAK
“Aduh!” Adinda mengusap keningnya yang terkena sentilan Abi.
“Berapa harga bunganya?”
“Satunya sepuluh ribu kang.”
“Itu ada berapa?”
“Ada lima belas batang kang.”
“Ya udah saya ambil semua. Tapi dibungkus yang cantik bisa ngga?”
“Bisa kang.”
Dengan semangat empat lima, Adinda menuju tiang listrik yang tak jauh dari tempatnya berjualan. Di dekat tiang itu dia menyimpan kotak yang berisi perlengkapan untuk membungkus bunga. Dengan cekatan, dia merangkai bunga yang kemudian dibungkus dengan plastik kado transparan.
Adinda tersenyum puas memandang hasil rangkaian bunganya. Hatinya senang dagangannya laku sekaligus. Tak apa keningnya terkena sentilan laki-laki jutek itu asalkan dia bisa pulang membawa uang untuk sang nenek yang tengah sakit. Dengan berlari kecil Adinda menghampiri Abi yang tengah menunggu di depan mobilnya.
“Ini kang. Semuanya jadi 160 ribu, bunganya 150 ribu, yang sepuluh ribu buat jasa rangkai bunganya,” Adinda tersenyum memperlihatkan deretan gigi putihnya.
Abi mengambil dompet dari saku belakang celananya lalu mengeluarkan tiga lembar seratus ribuan kemudian menyerahkannya pada Adinda. Gadis itu terdiam memandangi uang di tangannya.
“Kang.. ini kelebihan. Sebentar saya tukerin dulu uang buat kembaliannnya,” Adinda menyerahkan selembar seratus ribuan kepada Abi.
“Udah ngga usah dikembaliin, sisanya buat kamu. Itung-itung itu bayaran buat sentilan di jidat kamu. Lain kali jangan nyuruh beli bunga buat selingkuhan.”
“Iya kang, hatur nuhun, hatur nuhun pisaan.”
Abi langsung masuk ke dalam mobil meninggalkan Adinda yang masih berdiri di dekat mobilnya. Tak lama kendaraan miliknya meluncur meninggalkan Adinda yang senang bukan kepalang mendapatkan bonus banyak dari Abi.
“Bageur pisan si akang teh. Alhamdulillah, satu sentilan dapet 140 ribu hihihi...”
Adinda bergegas menuju pria yang tadi menemuinya lalu menyerahkan uang hasil penjualan bunga. Pria itu memberikan satu lembar lima puluh ribuan pada Adinda.
“Kang, kelebihan.”
“Ngga apa-apa, buat beli obat enin.”
“Nuhun kang.”
Adinda tersenyum senang, uangnya bertambah untuk biaya hidup sehari-hari juga untuk membeli obat neneknya. Dia membereskan kardus yang berisi perlengkapan untuk membungkus bunga kemudian beranjak pulang.
☘️☘️☘️
**Si Abi bener² ya main sentil jidat orang seenaknya🤣
Suami rumah sebelah yang mana neng Nina yang suka modus teh🤣
__ADS_1
Mohon maaf mamake ngga bisa crazy up. Jujur bikin tiap bab-nya di novel ini tuh susah. Harus dapet feel yang pas. Kadang mamake jenuh dan ngga dapet inspirasi. Tapi waktu baca komen kalian, ngga tau kenapa jadi semangat 45. Tiba² aja melintas ide sampai susunan alurnya di otak. Makasih buat semuanya yang selalu tinggalin komentar positif dan jadi mood booster buat mamake. Maaf kalau ngga bisa balas komen kalian satu per satu🙏**