
Sebuah mobil berhenti di depan sebuah bangunan mangkrak. Dari dalamnya keluar Lucky juga Veruca. Keduanya masuk ke dalam gedung yang nampak terbengkalai melalui sela-sela pintu seng yang tergembok. Gedung yang tidak diselesaikan pembangunannya ini kerap dijadikan tempat pertemuan Veruca dan Lucky dengan orang yang biasa mereka panggil bos.
Keduanya menapaki anak tangga untuk tiba di lantai tiga. Sesampainya di sana terlihat seorang pria berpakaian rapih sudah menunggunya. Mereka segera menghampiri pria tersebut.
“Bos..” sapa Lucky.
“Apa kalian tahu kalau Nara akan menikah dengan Kenzie?”
“Kami baru tahu tadi bos,” jawab Lucky.
“Batalkan pernikahan itu, apapun caranya!”
“Aku boleh culik Nara dan bawa dia pergi bos?”
“Terserah! Yang penting jangan sampai Nara menikah dengan Kenzie. Kalau Nara sampai masuk ke dalam keluarga Hikmat, maka rencana kita akan kacau. Tapi ingat, jangan sampai tertangkap. Kalau kalian berhasil membatalkan pernikahan Nara, aku akan memberikan bonus yang banyak untuk kalian.”
Setelah menyampaikan apa yang perlu disampaikan, pria itu kemudian pergi meninggalkan kedua anteknya. Veruca mendekati Lucky, dia cukup terkejut mendengar rencana rekannya ini.
“Ky, lo beneran mau nyulik Nara?”
“Iya.”
“Gila lo. Jangan bangunin macan tidur. Kenzie pasti bakalan ngamuk.”
“Tenang aja. Gue punya rencana bagus.”
Lucky menyeringai licik. Di otaknya sudah tersusun apa yang akan dilakukannya. Dia akan menculik Nara dan membawa ke tempat yang terpencil dan sulit untuk ditemukan. Walau pria itu tahu dengan segala kekuasaan yang dimilikinya, keluarga Hikmat pasti bisa menemukan Nara. Tapi dia sudah punya rencana lainnya juga.
Lucky tidak akan menyekap Nara terlalu lama. Setelah berhasil mengambil hal paling berharga dalam hidup Nara, dia akan mengembalikan gadis itu. Lucky yakin Nara pasti tidak akan mau menikah dengan Kenzie setelah dirinya ternoda.
☘️☘️☘️
Lucky mulai menyusun rencana untuk menculik Nara. Dia mencari lokasi terpencil yang akan dijadikannya tempat untuk menyekap Nara. Pria itu juga mencari orang bayaran yang dirasa bisa membantu rencananya. Orang itu harus mempunyai kemampuan bela diri yang baik, bisa diandalkan dan pastinya harus bisa menutup mulutnya rapat-rapat.
Berbeda dengan Veruca, gadis itu memilih cara halus. Dia mengerahkan kembali para haters bayarannya untuk menyerang Nara di dunia maya. Gadis itu ingin menjatuhkan mental Nara dan membuatnya insecure. Veruca juga memanfaatkan Chika untuk melancarkan rencananya.
Terakhir membujuk Naya agar mau bergerak mencegah Nara menikah. Tidak dengan memintanya membatalkan pernikahan, tapi Naya harus bisa membujuk Nara untuk menunda pernikahan sampai Naya berbaikan dengan Aric. Sedang dirinya akan terus membuat jarak Aric dan Naya semakin jauh.
Kedua orang itu mulai menjalankan rencananya masing-masing. Lucky menugaskan salah satu orang bayarannya untuk memata-matai Nara. Mencari waktu yang tepat untuk menculik gadis tersebut. Dia harus bergerak cepat karena waktu pernikahan Nara tersisa tiga minggu lagi.
Toni, orang yang ditugaskan Lucky mengawasi Nara terus membayangi gadis itu. Dia melaporkan semua gerak-gerik Nara dan rutinitasnya setiap hari. Cukup sulit mencari celah untuk menculik gadis itu. Setiap harinya Nara hanya pergi ke kantor saja. Ada dua orang anak buah yang ditugaskan Jojo untuk menjaga Nara. Dan jika di kantor, selalu ada Kenzie di sampingnya.
Jam di pergelangan tangan Toni menunjukkan pukul setengah dua belas siang. Pria itu masih setia berada di dekat kantor Metro East. Seperti biasa, untuk mengisi kebosanan pria itu bermain memilih menunggu di cafe sambil bermain game online.
Duta masuk ke dalam cafe untuk membeli minuman dingin. Matanya melirik ke arah Toni yang tenggelam dengan gadgetnya. Dia lalu berbisik kepada salah satu pegawai cafe yang dikenalnya. Pegawai itu lalu membawa Duta ke bagian belakang cafe kemudian masuk ke sebuah ruangan. Pria bernama Asep itu menunjukkan rekaman cctv cafe yang diminta Duta.
Cukup lama Duta memperhatikan rekaman cctv di cafe. Dia memang sudah curiga karena sering melihat Toni berkeliaran di sekitar kantor. Dan ternyata sudah empat hari ini pria itu nongkrong di cafe. Duta kemudian melihat rekaman cctv di bagian luar cafe. Toni pergi menggunakan sepeda motor begitu melihat mobil yang digunakan Nara melintas.
Setelah menyalin rekaman cctv, Duta keluar dari cafe. Tak lupa dia mengucapkan terima kasih pada Asep sekaligus memberikan tips untuk pemuda itu. Duta bergegas menuju kantor untuk bertemu dengan Kenzie. Dia harus melaporkan penemuannya. Pria itu juga melaporkan pada Dendi, atasannya itu nantinya akan melaporkan pada Abi.
TOK
TOK
TOK
“Masuk!!”
Begitu terdengar suara Kenzie, Duta masuk ke dalam ruangan. Dia berjalan mendekati meja kerja Kenzie lalu menyerahkan ponselnya. Kenzie mengambil ponsel Duta lalu memutar rekaman cctv yang tadi berhasil disalinnya.
“Orang ini sudah beberapa hari berkeliaran di sekitar kantor. Dia sepertinya mengikuti ibu Nara. Saya yakin dia juga ada di sekitar rumah bu Nara.”
“Selidiki orang ini. Ikuti semua gerak-geriknya.”
“Baik pak.”
Duta menganggukkan kepalanya kemudian keluar dari ruangan. Saat melintasi meja kerja Nara, sekilas pria itu melihat ke arah calon istri atasannya itu. Wajah Nara nampak muram, entah apa yang membuat gadis itu terlihat begitu sedih.
Sementara di ruangan lain, Dendi tengah melaporkan informasi yang diterimanya dari Duta kepada Abi. Sejenak Abi nampak terdiam, beberapa hari lalu Jojo bercerita kalau ada seseorang yang berusaha menghancurkan keluarganya lewat anak-anaknya. Pria itu mencoba menghubungkan cerita Jojo dan informasi yang diterimanya.
“Saya yakin pasti Ken sudah menyuruh Duta untuk mengawasi orang ini. Kamu, kirimkan salah satu anak buahmu untuk mendekati orang ini. Dia pasti tidak kerja sendiri, suruh anak buahmu untuk menyusup masuk ke komplotannya.”
“Baik pak.”
“Pantau kembali orang-orang yang pernah bermasalah dengan kita dahulu, terutama yang berhubungan langsung dengan Jojo.”
“Baik pak.”
“Bagaimana kabar Lilis?”
“Alhamdulillah baik pak.”
“Anak-anakmu?”
“Mereka juga baik. Sebentar lagi Rendi lulus SMA dan Safira naik kelas dua SMA.”
“Hmm.. katakan saja nanti Rendi mau kuliah di mana. Saya yang akan menanggung biayanya.”
“Terima kasih pak.”
Abi menganggukkan kepalanya. Dendi undur diri begitu Andhiar masuk ke dalam ruangan. Pria itu harus segera menjalankan tugas yang diberikan Abi.
Dendi adalah salah satu pengawal Abi yang memiliki loyalitas tinggi, selain Beno dan Agung. Kehidupannya banyak terbantu lewat pria itu. Lewat Abi pula dia bisa bertemu dengan Lilis, wanita yang kini menjadi pendamping hidupnya dan telah memberikannya sepasang anak. Ternyata benar apa kata Abi dulu kalau dirinya tidak mandul.
Avanza hitam yang dikendarai Dendi berhenti di halaman markas keamanan keluarga Hikmat. Dia langsung mengumpulkan semua anak buahnya.
Sejak kasus penculikan Alisha, Abi membagi tim keamanan menjadi dua bagian. Tim pertama adalah tim keamanan utama, mereka bertugas menjaga langsung seluruh anggota keluarga Hikmat, termasuk keluarga Jojo dan Kevin.
Tim kedua adalah tim bayangan. Tim bayangan tidak terjun langsung menjaga keamanan. Tugas tim ini hanya memantau dari kejauhan untuk mengawasi keadaan. Tak jarang mereka ditugaskan menyusup ke sarang musuh sebagai mata-mata.
Dendi menyampaikan perintah yang diberikan Abi padanya. Dia menambah personil untuk menjaga keamanan di kantor juga kediaman Jojo. Kemudian memerintahkan Septa dan Jamal untuk mendekati Toni. Sedang dirinya akan menemui Jacob, hacker handal yang dipekerjakan Abi untuk membantu tim keamanan. Dia perlu menggali informasi lebih banyak tentang Toni, termasuk siapa saja orang yang ada di lingkarannya.
☘️☘️☘️
__ADS_1
Nara menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Rasa lelah begitu menderanya, begitu banyak pekerjaan yang harus diselesaikannya beberapa hari belakangan ini. Dirinya bahkan baru sekali bertemu dengan pihak wedding organizer untuk membicarakan konsep resepsi pernikahannya. Belum lagi jadwal fitting baju sudah menunggunya.
Namun bukan hanya fisiknya yang terasa lelah, namun batinnya juga lelah. Setelah suasana sedikit mereda, kini sosmednya kembali banjir kritikan pedas dan nyinyiran dari para hatersnya. Berita pernikahannya dengan Kenzie sudah tersebar, entah siapa yang melakukannya, yang jelas dirinya menjadi bulan-bulanan kebencian para netizen julid.
Bukan hanya di dunia maya, di dunia nyata pun telinganya kerap mendengar omongan pedas karyawan Metro East. Hanya karyawan di lantai Abi dan Kenzie yang tahu kalau sekretaris Kenzie adalah Nara. Penampilan Nara saat bekerja berhasil mengelabui karyawan lain. Sehingga dia bisa mencuri dengar apa yang dikatakan mereka saat jam makan siang atau saat bersantai.
Ih gue ngga rela banget deh kalau Nara yang jadi pendamping pak Kenzie. Mereka itu ibarat bumi dan langit.
Gue yakin pasti mereka dijodohin. Ngga mungkin pak Kenzie tertarik sama Nara. Cewek aneh, norak.
Jaman gini masih ada jodoh-jodohan ya. Tapi untuk keluarga konglomerat sih wajar aja. Beruntung banget ya Nara, cuma karena anaknya pak Jojo, bisa bersanding sama pak Kenzie.
Kalau pak Jojo bukan sahabat baiknya pak Abi, ngga yakin Nara bakal jadi istrinya pak Kenzie.
Kenapa harus sama Nara sih? Kalau Naya udah sama pak Aric, kenapa ngga jodohin pak Ken sama Dilara aja. Dia lebih cocok dibanding Nara.
Itulah beberapa komentar nyinyir yang tertangkap telinganya saat menikmati makan siang di EDR tadi. Nara bukanlah perempuan berhati baja, sesungguhnya dia mudah sekali terluka. Hanya saja dia selalu memendam lukanya jauh ke dalam alam bawah sadarnya. Gadis itu memilih menyembuhkan lukanya dengan selalu menampilkan senyuman dan tingkah konyolnya.
Kadang tingkah konyolnya itu membuat orang lain tertawa dan bahagia. Dari situlah dia mendapatkan energi untuk menyembuhkan luka hatinya. Jika terlalu sulit dan berat, hanya airmata yang dikeluarkannya diam-diam demi meredakan sakit yang yang dirasa. Seperti yang dilakukannya malam ini.
Nara menyalakan kran shower sedang dirinya berada di dalam bath tub yang kosong. Punggung gadis itu bergetar saat tangisnya mulai terdengar. Gadis itu menumpahkan semua kesedihannya lewat tangisan. Bukan hanya komentar pedas yang membuatnya menangis. Sikap Kenzie yang kembali dingin padanya juga sempat membuat dirinya ragu apakah benar pria itu mencintainya.
Mata Nara nampak bengkak. Hampir satu jam lamanya dia menangis di dalam kamar mandi. Seperti biasa, gadis itu akan mengompres matanya agar bengkaknya berkurang. Pandangannya beralih dari cermin di depannya ke ponsel yang tergeletak di atas meja rias. Melihat nama Kenzie yang tertera, gadis itu meraih ponselnya. Dia berdehem beberapa kali sebelum menjawab panggilan.
“Halo..”
“Ada apa sama suara kamu?”
“Ooh.. aku tadi ketiduran pas berendem, jadi agak pilek,” kilah Nara.
“Jangan cari penyakit!”
“Iya mas.”
“Siapin bahan buat rapat besok.”
“Ok mas.”
KLIK
Sambungan langsung terputus. Nara menghela nafas panjang, Kenzie tak mengatakan hal lain kecuali soal pekerjaan. Pria itu juga tak banyak membicarakan masalah pribadi di kantor. Hal ini semakin membuat Nara gamang.
☘️☘️☘️
Baru saja Nara turun dari mobilnya ketika sebuah tangan menariknya. Dengan cepat dia menepis tangan Chika, hingga cengkeraman di pergelangan tangannya terlepas. Nara menutup pintu mobil kemudian melenggang dengan santai meninggalkan Chika. Dengan kesal Chika menyusul Nara kemudian berhenti di depannya, menghalangi jalan gadis itu.
“Apa?” tanya Nara malas.
“Gue mau ngomong sama elo.”
“Kita bukan temen dan bukan rekan kerja. Jadi ngga ada hal yang harus kita bicarakan.”
“Ada. Dan ini soal Ken”
“Apa lo tahu kalau pernikahan lo sama Ken itu udah diatur sama bokap lo juga om Jo?”
“Cih..”
Nara berdecih pelan. Lagi-lagi soal pernikahannya dengan Kenzie yang menjadi topik pembicaraan. Chika kesal melihat Nara yang tak bereaksi apa-apa. Dia kembali menyemburkan racun berbisanya.
“Lo mungkin ngga percaya. Tapi lo boleh tanya sama bokap lo, kalau apa yang gue omongin bener apa ngga. Bokap lo nangis-nangis ke om Abi, memohon supaya mau menjodohkan anaknya dengan elo. Dan Kenzie sebagai anak yang baik tentu saja menuruti keinginan orang tuanya. Sekarang lo pikir sendiri, apa mungkin dalam waktu satu bulan dia jatuh cinta sama elo? Itu hal yang mustahil, dia bersikap baik sama elo hanya demi memenuhi keinginan kedua orang tuanya. Jadi ngga usah tinggi hati deh, lo mungkin bisa dapetin Kenzie, tapi hanya fisiknya, bukan hatinya.”
Chika segera meninggalkan Nara setelah menancapkan duri-duri tajam lewat ucapannya barusan. Untuk sesaat Nara tak bereaksi apa-apa. Tapi begitu mobil Chika pergi, gadis itu menjatuhkan diri di lantai basement. Beberapa kali Nara menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak.
Nara mendongakkan kepalanya saat melihat sebuah tangan terulur padanya. Nampak Kenan sudah berdiri di depannya. Pemuda itu baru tiba di kantor karena ingin bertemu dengan sang papa. Tadi dia sempat melihat Nara dan Chika berbicara. Kenan yakin, pasti Chika telah mengatakan sesuatu yang membuat Nara nampak terpukul.
Gadis itu meraih tangan Kenan kemudian berdiri. Dia menepuk-nepuk bokongnya untuk menghalau debu yang menempel di celananya. Kenan mengambilkan tas Nara yang masih tergeletak di lantai.
“Si chiki balls ngapain tadi kak?” tanya Kenan seraya menyerahkan tas Nara.
“Cuma ngobrol.”
“Ngga mungkin cuma ngobrol biasa. Ngga ada kamusnya tuh cewek ngomong manis, apalagi dia udah tahu kalau kakak itu calonnya abang. pasti dia magkel dotcom tuh.”
Kenan sengaja memancing Nara dengan obrolan seputar pernikahannya dengan Kenzie untuk melihat reaksinya. Umpannya tepat sasaran, wajah Nara terlihat sedikit berbeda saat Kenan menyinggung hal tersebut.
“Udah ngga usah didengerin kaleng rombeng model dia. Tuh cewek sirik aja karena ngga bisa dapetin bang Ken. Sirik tanda tak mampu. Lagian bang Ken mana mau sama nenek grandong model dia.”
Senyum tipis tercetak di bibir Nara begitu mendengar berbagai julukan yang Kenan sematkan untuk pemuja berat Kenzie itu. Kenan menarik tangan Nara masuk ke dalam gedung. Jarinya memijit tombol lift khusus petinggi. Tak lama pintu lift terbuka, keduanya masuk ke dalamnya.
“Nan.. tadi Chika bilang kalau pernikahanku sama bang Ken itu sudah direncanakan sama orang tua kita. Aku sengaja dijodohin sama bang Ken. Mungkin papa takut ya aku ngga laku makanya dia ngusulin ide ini ke papamu.”
Nara tertawa sumbang, tepatnya menertawakan diri sendiri. Kenan menyenderkan punggungnya ke dinding lift, kedua tangannya terlipat di depan dada dan matanya terpejam. Namun begitu, telinganya terus mendengar apa yang dikatakan calon kakak iparnya ini.
“Aku sebenarnya juga heran, ngga ada angin, ngga ada hujan tiba-tiba bang Ken ngelamar aku. Padahal hubungan aku sebelumnya ngga terlalu dekat sama dia. Ngga kaya Frey sama bang Barra atau bang Ravin. Aku takut kalau bang Ken terpaksa menerima pernikahan ini.”
Kepala Nara menengadah ke atas, mencoba menahan airmata yang hendak turun. Dia juga tak tahu mengapa bisa mengatakan semuanya pada Kenan. Mungkin karena sikap Kenan yang hangat padanya dan juga selalu melindunginya.
TING
Terdengar bunyi dentingan ketika kotak besi itu sampai di lantai 18. Saat Nara akan keluar, terdengar suara Kenan menghentikan sejenak langkah wanita itu.
“Perjodohan atau bukan, yang jelas bang Ken itu sayang sama kakak. Dia ngga akan mau melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hatinya walau itu permintaan dari mama dan papa. Jadi.. tutup telinga rapat-rapat dan jangan masukkan ke dalam hati omongan ngga berfaedah itu. Percaya aja sama bang Ken.”
“Thanks Nan.”
Pintu lift kembali tertutup begitu Nara keluar. Tak lama pintu kembali terbuka begitu sampai di lantai 19. Kenan keluar dari lift lalu menuju ruangan papanya. Fadil melemparkan senyuman pada anak bungsu atasannya itu. Dengan gerakan tangan dia mempersilahkan Kenan untuk masuk.
“Ngapain kamu ke sini?” tanya Abi begitu melihat Kenan masuk ke ruangannya.
“Masa aku ngga boleh mengunjungi papa tercinta di kantor sih.”
“Heleh modus.”
__ADS_1
Kenan hanya terkekeh. Tujuannya datang ke kantor, apalagi kalau bukan untuk meminta uang tambahan pada papanya itu. Dia tak berani melakukannya di rumah, karena pasti Nina akan mengomel. Pemuda itu menarik kursi di depan meja Abi kemudian mendudukkan diri di sana.
“Pa.. minta uang dong.”
“Emang uang kamu habis?”
“Kalau tabungan mah ada, tapi uang operasional udah habis. Kemarin aku beli gitar baru. Sekarang aku butuh uang buat renovasi studio, pa.”
“Pake tabungan kamu.”
“Ooh ngga bisa. Itu kan buat modal nikah.”
“Emangnya kamu udah punya calon?”
“Belum. Nabung aja dulu, jadi nanti pas udah dapet calonnya, aku nikah pake uang tabungan sendiri.”
“Butuh berapa?”
“Terserah papa.”
Abi mengambil dompetnya kemudian mengeluarkan selembar seratus ribuan lalu memberikannya pada Kenan. Pemuda itu hanya melongo melihat uang di tangannya.
“Katanya terserah papa. Ya segitu aja.”
“Diih papa.. sadissss..”
Abi terkekeh melihat reaksi anak bungsunya. Dia mengambil ponsel lalu mentransfer sejumlah uang ke rekening Kenan melalui fasilitas m-banking. Dia memberi kode pada Kenan untuk memeriksa notifikasi pesan yang masuk ke ponsel sang anak. Dengan cepat Kenan memeriksa ponselnya. Segurat senyum tercetak di wajahnya melihat nominal yang dikirimkan papanya.
“Cukup?”
“Cukup pa. Makasih.”
“Sana pergi. Papa masih banyak kerjaan.”
“Pa..”
“Apalagi?”
“Panggilin bang Ken ke sini dong.”
“Ngapain? Kamu aja yang ke ruangannya.”
“Ngga bisa. Bang Ken aja yang ke sini. Please pa, penting banget ini.”
Abi melihat kesal ke arah anak bungsunya yang begitu merepotkan pagi ini. Dia mengangkat gagang telepon di dekatnya lalu menghubungi ruangan Kenzie.
“Ke ruangan saya, sekarang!”
Senyum Kenan terbit melihat sang ayah mengabulkan permintaannya. Dia bersiul senang sambil menunggu kakaknya alias si naga kutub datang. Tak sampai lima menit Kenzie sudah sampai di ruangan Abi. Keningnya berkerut melihat Kenan sudah berkunjung ke kantor sepagi ini.
“Ada apa pak?”
“Tuh si kompor mledug mau ketemu katanya.”
“Apa?” tanya Kenzie malas seraya melihat ke arah sang adik.
“Calon bini abang lagi galau noh. Jadi orang perhatian dikit napa sih.”
“Nara kenapa?” bukan Kenzie yang bertanya melainkan Abi.
“Calon mantu papa tuh abis diracunin otaknya. Ada yang bilang ke dia kalau pernikahan abang sama dia itu udah direncanain sama papa dan om Jo.”
Baik Abi maupun Kenzie terkejut mendengarnya. Melihat ekspresi kedua orang di dekatnya, Kenan bisa menebak kalau apa yang dikatakan tadi benar adanya. Tiba-tiba saja dia merasa kasihan pada Nara kalau ternyata sang kakak bersedia menikah hanya karena mengikuti keinginan kedua orang tuanya.
“Abang cinta ngga sama kak Nara?”
“Ngapain nanya-nanya?”
“Kalau cinta itu diungkapin, jangan dipendem aja. Cewek itu kadang butuh pembuktian lewat ucapan bukan lewat sikap aja.”
“Sok tau. Sendirinya jomblo, sok nasehatin orang.”
“Eh itu nasehat dari mama. Tanya aja sama mama kalo ngga percaya. Dulu katanya papa juga gitu, ngga pernah ngomong cinta sama mama tau-tau ngajakin nikah.”
“Masa? Iya pa?” tanya Kenzie.
“Mau tau aja apa mau tau banget?”
“Diih,” jawab Kenzie dan Kenan bersamaan.
“Siapa yang bilang itu ke Nara?” tanya Abi.
“Noh fans beratnya abang, si chiki balls rasa kaldu ayam yang udah expired.”
“Siapa chiki balls?” Abi mengernyitkan keningnya.
“Chika, pa,” jawab Kenzie.
Abi tak bisa menahan tawanya mendengar julukan Kenan untuk anak salah satu kolega bisnisnya. Entah apa komentar Damar jika mengetahui sang anak diberikan julukan lengkap oleh Kenan. Sepertinya julukan kompor mledug memang cocok untuk anak bungsunya ini yang kerap berbicara seenak jidatnya. Di tengah tawanya, dia melirik ke arah Kenzie yang nampak termenung.
☘️☘️☘️
**Kira² bang Ken bakal ngapain ya🤔
Terus strategi mana nih yg lebih jitu? Lucky Strike apa Abi?
Terima kasih sekali lagi mamake ucapin sama yang masih setia baca kisah ini. Mohon maaf belum bisa mengabulkan permintaan untuk up lebih dari 1 bab. Tapi walau cuma up 1 bab tapi selalu panjang, minimal mamake up 2500 kata, ngga jarang sampe 3000 kata. Kalau dikonversi sama novel lain itu jatuhnya bisa 2 bab. Biar cuma satu tapi puas bacanya. Kalau merasa tetap kurang, resiko tanggung sendiri ya🤭
Buat yang merasa cerita season dua ini berbelit² dan bikin malas baca, mangga tidak usah dilanjut. Mamake ngga maksa kalian tetap bertahan di cerita ini. Mamake meneruskan cerita untuk readers yang masih mau baca sampai akhir.
Yang udah ngga mau ngikutin, mamake ucapkan selamat tinggal, terima kasih sudah mampir. Tapi jangan komen bosen, males baca, cerita berbelit², muter² tapi tetep dibaca juga. Kalau istilah Sundanya itu** dipoyok barijeung dilebok. **Soalnya banyak juga yang komen kaya gini di novel lain tapi tetep baca. Maaf ye kalo rada nyinyir nih bahasanya. Kali² ngga apa² kan mamake nyinyir, jangan Chika aja yang nyinyir😁
Ok deh mamake mau nonton Uber Cup dulu. Walau sulit karena lawannya berat, tetap berharap yang terbaik. Semoga aja tim kita memberikan perlawanan sengit, semangat💪**
__ADS_1