
Kenzie membawa Nara masuk ke dalam kamar rias lalu menutup pintunya. Nara melihat ke arah gaun pernikahan yang tergantung di dalam kamar. Untuk resepsi pernikahan, keduanya sepakat mengenakan busana pernikahan modern. Gadis itu terjengit saat Kenzie memeluknya dari belakang.
“Mas.. sana ke kamar. Kamar ganti mas kan di sebelah.”
“Mas mau di sini dulu bentar. I miss you,” bisik Kenzie di telinga Nara.
“Miss you too mas.”
Tangan Kenzie terlepas dari pinggang Nara kemudian pria itu membalikkan tubuh sang istri hingga berhadapan dengannya. Dengan cepat disambarnya bibir Nara yang sedari tadi nampak begitu menggodanya. Tanpa malu-malu Nara membalas ciuman suaminya. Tak dapat dipungkiri kalau hatinya merindukan pria di hadapannya.
Kenzie melepaskan tautan bibirnya sejenak, memberi waktu bagi keduanya mengisi rongga paru-paru yang kadar oksigennya mulai menipis. Kemudian dia kembali ******* bibir Nara dengan intens. Lidahnya sudah menerobos masuk dan bermain-main di rongga mulut sang istri.
Tak puas hanya menikmati bibir istrinya, bibir Kenzie mulai bergerak menyusuri leher jenjang Nara. Terdengar lenguhan dari bibir Nara saat Kenzie menyesapi lehernya pelan. Tangannya meremat rambut sang suami saat lidah Kenzie yang kini menyusuri permukaan kulit lehernya.
Kenzie semakin liar, bukan hanya lidah yang bermain, kini tangganya mulai menggerayangi tubuh Nara. Kembali terdengar lenguhan Nara ketika tangan Kenzie menyentuh bulatan kenyalnya. Suasana di antara keduanya semakin tak terkendali. Kenzie membawa Nara ke ranjang lalu merebahkan tubuhnya di sana.
BRET!!
Nara terkejut ketika Kenzie merobek kebaya yang dipakainya. Kebaya itu sekarang sudah robek di bagian depannya, memperlihatkan tubuh bagian atas Nara yang tertutup korset. Dilepaskannya kebaya dari tubuh Nara lalu membuangnya asal ke lantai. Kenzie meneguk ludahnya kasar saat melihat bukit kembar Nara sedikit menyembul dari balik korset.
Kenzie menciumi bahu hingga dada Nara. Tubuh sang istri menggelinjang saat merasakan bibir kenyal Kenzie menciumi bagian dadanya yang tersembul. Pelan-pelan tangan Kenzie mulai membuka kaitan korset yang ada di bagian depan. Dadanya berdebar kencang menantikan pemandangan yang akan terlihat di hadapannya. Hanya tinggal dua kaitan lagi yang tersisa, ketika terdengar suara bel di pintu.
Kenzie menggeram kesal, keasikannya terganggu begitu saja. Untuk beberapa saat dia masih berada di posisinya, tak mempedulikan bel yang terus berbunyi. Sampai akhirnya dia bangun karena suara bel yang begitu mengganggunya. Miss Ella terkesiap melihat Kenzie keluar dari kamar dengan wajah horornya kemudian berjalan menuju kamar sebelah. Wanita itu terlonjak ketika mendengar pintu kamar sebelah berdebam begitu kencang.
Sambil mengusap dadanya, Miss Ella masuk ke dalam kamar. Nampak Nara tengah mengancingkan kembali korsetnya. Matanya kemudian tertumbuk pada kebaya yang ada di lantai. Tangannya meraih kebaya tersebut, sontak matanya membulat begitu melihat bentuknya yang sudah tak utuh lagi.
“Astaga kebaya 80 jutanya rusak begini!!”
☘️☘️☘️
Tepat pukul tujuh malam pesta resepsi digelar. Tamu undangan mulai banyak berdatangan. Undangan tidak hanya berasal dari partner bisnis, kerabat atau tetangga saja. Tapi semua teman Nara dan Kenzie turut diundang, tak lupa pula Nara mengundang Irfan, pegawai bengkel langganannya sampai anak panti asuhan dan panti jompo tempatnya biasa menyumbang.
Teman kuliah atau tepatnya para pemuja Kenzie juga datang. Mereka penasaran seperti apa wanita yang telah berhasil menaklukkan gunung es itu. Dilihat dari ulasan di medsos, masih banyak yang mengatakan kalau pernikahan ini merupakan sebuah perjodohan yang dirancang kedua orang tua demi memperkuat trah bisnis mereka. Ada juga yang menyebutkan karena kedua orang tua bersahabat dekat, mereka sepakat menjodohkan anak-anaknya.
Anggapan kedua tidaklah sepenuhnya salah. Namun yang mereka tidak tahu ada cinta yang begitu besar di antara keduanya hingga perjodohan ini berhasil menuju pernikahan.
Empat orang wanita memasuki ballroom. Mereka ada pemuja Kenzie garis keras sejak jaman kuliah. Dengan penuh percaya diri mereka berjalan menuju pelaminan. Sejenak mereka tertegun di sisi panggung, bukan karena Kenzie yang terlihat tampan dalam balutan tuxedo berwarna hitam atau Nara yang begitu cantik mengenakan gaun pengantin panjang bak puteri raja. Tapi mereka terkejut melihat bagaimana Kenzie memperlakukan Nara.
Usai menyalami para tamu yang sedari tadi tidak berhenti, Nara mendudukkan diri di kursi pelaminan. Tangannya memijat betisnya yang terasa pegal akibat high heels yang digunakannya mencapai tinggi 10 cm. Untuk wanita yang biasa mengenakannya bukanlah masalah, namun tidak untuk Nara. Gadis itu terjengit ketika Kenzie berjongkok di depannya. Tangannya menelusup masuk dari bawah lalu mulai memijit betis Nara.
“Mas ngga usah..”
“Ngga apa-apa, kamu pasti pegel. Enakan ngga?”
“Iya mas, makasih.”
“Ini kan gaunnya panjang, ngga masalah kalau kamu ganti sepatunya. Ganti sendal jepit aja ya.”
PLAK
Nara memukul lengan Kenzie, suaminya itu hanya tergelak saja. Bergantian, Kenzie memijit betis sang istri, kanan dan kiri. MC terpaksa menahan para tamu yang hendak memberikan ucapan selamat demi memberikan waktu pada kedua pengantin untuk beristirahat sejenak.
Pijatan Kenzie membuat rasa pegal di betis Nara berkurang. Gadis itu tak menyangka ternyata sang suami juga pintar memijit. Namun kemudian dia mulai merasakan tangan Kenzie sudah tak berada di betisnya lagi. Tangan suaminya itu terus bergerak ke atas lalu mengusap pahanya. Mata Nara langsung membulat.
“Mas..”
“Apa?” tanya Kenzie santai sambil terus mengusap paha sang istri.
“Mas.. udah iih.. mas tuh kesempatan dalam kesempitan ya.”
Tak ada komentar dari Kenzie, pria itu terus mengusap paha sang istri. Nara memejamkan matanya, usapan Kenzie sukses membuat tubuhnya meremang. Pria itu menghentikan usapannya kemudian berdiri. Sebelum kembali duduk, dikecupnya bibir sang istri. Kedua pengantin itu tak menyadari tingkahnya tadi terus diamati para orang tua yang duduk di samping kanan dan kiri mereka.
“Kenapa panda senyum-senyum aja?” tegur Adinda.
“Panda bahagia, ternyata Ken benar-benar mencintai anak kita.”
“Kalau Ken ngga mencintai Nara, dia ngga akan mau menikah dengannya.”
“Iya sayang, kamu benar.”
Jojo terus memandangi kedua mempelai di sampingnya. Hatinya bahagia melihat kebahagiaan yang dirasakan putrinya. Dia juga senang persahabatannya dengan abi dikuatkan dengan pernikahan anak-anak mereka.
“Kamu tahu ngga Yang, tadi Ken ngapain?” bisik Abi di telinga Nina.
“Mijitin kaki Nara.”
“Hmm.. awalnya mijit betis terus naik ke paha. Dia usap begini,” Abi menggerakkan tangannya di paha Nina.
“Mas iih.. udah tua juga masih cari kesempatan dalam kesempitan.”
“Mas kan cuma reka adegan aja, Yang.”
__ADS_1
“Hilih modus. Lagian dari mana mas tahu kalau Ken kaya gitu?”
“Oh ngga usah dijawab. Kalian bapak sama anak, kelakuannya emang sama persis kaya anak kembar. Tukang modus,” lanjut Nina.
“Hahaha..”
Abi tak bisa menahan tawanya mendengar ucapan sang istri. Dirangkulnya bahu sang istri, kemudian memanggil nama Nina pelan membuat wanita itu menengok dan sebuah kecupan berhasil didaratkan pria itu membuat Nina membulatkan matanya. Tapi Abi tak peduli, dia kembali mendaratkan kecupan di bibir sang istri.
“Heleh si abi, udah tua juga. Ngga inget umur,” gerutu Cakra yang gerah melihat tingkah sahabat sekaligus kakak iparnya.
“Bilang aja kalau abang juga mau,” sahut Sekar yang duduk di sampingnya.
“Ngga.. ngga salah maksudnya.”
CUP
Cakra mendaratkan kecupan di bibir Sekar. Bukan hanya sekali, tapi sampai beberapa kali, membuat Aric yang duduk di dekatnya memilih pergi. Pria itu jengah melihat kelakuan orang tuanya yang tak ingat umur dan tak tahu tempat.
Di meja lain Rindu tak bisa duduk dengan tenang karena tangan Kevin terus saja menggerayangi tubuhnya. Pria yang masih lekat dengan julukan kulkas dua pintu itu sengaja memilih meja yang paling sudut supaya bisa bebas menyentuh istrinya. Kini bukan hanya tangannya, tapi bibirnya juga sibuk menciumi tengkuk Rindu.
“Abang ya ampun.. lihat tempat dong,” gerutu Rindu.
“Pulang yuk.”
“Ngga mau, baru juga jam delapan.”
“Pulang sekarang aja mumpung anak-anak masih di sini. Adek abang pengen main katanya.”
“Ish ngga inget umur.”
“Umur boleh nambah tapi kebutuhan bawah jalan terus sayang.”
“Dasar mesum.”
“Kamu kan emang suka yang mesum-mesum.”
Rindu berdiri dari duduknya. Lebih baik dia menuruti keinginan suaminya untuk pulang dari pada tak nyaman karena selalu diganggu oleh pria tua itu. Senyum Kevin mengembang melihat sang istri yang akhirnya menuruti keinginannya. Sambil merangkul bahu sang istri, pria itu berjalan keluar dari ballroom.
“Nad.. perut mas kok ngga enak gini ya,” ucap Juna yang duduk di dekat panggung pelaminan.
“Kenapa mas? Kembung? Maagnya kambuh lagi kayanya.”
“Ayo.”
Nadia menggandeng tangan suaminya menuju ruangan kecil yang ada di ballroom. Dua orang staf WO yang ada di sana memilih untuk keluar begitu kedua orang itu masuk. Nadia lalu mencari minyak kayu putih di kotak obat yang terdapat di nakas kecil. Namun tiba-tiba dua buah tangan melingkari perutnya.
“Mas.. duduk sana. Biar aku cari dulu minyak kayu putihnya.”
“Ngga usah, perutku udah baikan. Sekarang sakitnya pindah.”
“Kemana?”
“Ke sini.”
Juna membalikkan tubuh Nadia dengan cepat lalu mencium bibir istrinya. Nadia berusaha melepaskan diri namun Juna menahan tengkuknya lalu memperdalam ciumannya. Akhirnya wanita itu membalas pagutan suaminya. Untuk beberapa saat pasangan yang sudah tidak muda lagi sibuk beradu bibir.
☘️☘️☘️
Keramaian di pesta pernikahan Kenzie dan Nara masih terus berlanjut. Kini para tamu yang hadir tengah dihibur oleh alunan musik dan suara merdu wedding singer menyanyikan lagu bertemakan cinta. Nara sengaja tidak mengundang artis ibu kota untuk tampil di pernikahannya. Dia memilih wedding singer dari kalangan umum saja, hitung-hitung memberikan rejeki pada mereka.
Wedding singer yang berjenis kelamin pria baru saja selesai membawakan lagu. Dia lalu memberikan waktu untuk rekannya bernyanyi. Di pesta kali ini, panita WO sengaja meminta empat wedding singer untuk menghibur, dua lelaki dan dua perempuan.
Seorang wanita cantik mengenakan dress A Line selutut naik ke atas panggung. Kali ini gilirannya memperdengarkan suara merdunya. Setelah berbincang dengan band pengiring, gadis itu bersiap di depan stand mic. Sebuah musik slow mulai mengalun. Tak lama terdengar suara merdu gadis itu menyanyikan lagu lawas milik Shania Twain, You’re Still the One.
“Looks like we made it. Look how far we’ve come my baby. We might took the long way. We knew we’d get there someday. They said ‘I bet, they’ll never make it’. But just look at us holding on. We’re still together still going strong. You’re still the one I run to. The one that I belong to. You’re still the one I want for last. Yor’re still the one that I love. The only one I dream of. You’re still the one I kiss good night.”
Nara menggenggam tangan Kenzie erat ketika mendengar lirik demi lirik yang dinyanyikan wedding singer berparas cantik itu. Lirik lagu yang dinyanyikan seperti menggambarkan hubungannya dengan Kenzie. Di saat banyak orang meragukan hubungan mereka, ternyata mereka bisa melangkah sampai sejauh ini. Lamunan Nara terhenti ketika Kenzie mengecup punggung tangannya mesra.
Di sudut lain, Kenan tergelitik mendengar suara merdu yang tengah menyanyikan lagu bertema cinta. Penasaran dengan wajah sang penyanyi, pemuda itu berjalan mendekat ke arah panggung. Matanya membulat menatap gadis yang ada di panggung. Ditepuknya bahu Viren yang berdiri di sebelahnya.
“Vir.. tuh cewek yang nyanyi bukannya suster yang di rumah sakit waktu itu ya.”
Viren mengarahkan pandangannya ke arah panggung. Untuk sesaat matanya menatap ke gadis cantik yang mengenakan dress motif floral. Dengan sabar Kenan menunggu jawaban sang sahabat.
“Vir... bener kan?” tanya Kenan lagi.
“Iya kali. Mana gue inget.”
“Ck.. apa sih yang lo inget. Salah gue nanya sama orang ngga peka dan ngga pedulian model elo.”
Kenan meninggalkan Viren begitu saja lalu melangkah ke sisi panggung. Dia menunggu sampai penyanyi wanita itu menyelesaikan lagunya. Begitu selesai, penyanyi tersebut turun dari panggung, memberikan kesempatan pada temannya untuk bernyanyi.
__ADS_1
“Suster Zahra.”
Senyum Kenan mengembang begitu melihat gadis itu menolehkan wajah ke arahnya. Tebakannya tak salah, perempuan yang tadi menyanyi di atas panggung adalah Zahra. Suster yang telah menarik perhatiannya sedari awal bertemu. Dengan cepat Kenan menghampiri gadis itu.
“Hai.. suster Zahra, bener kan?”
Zahra terdiam kemudian mengangguk. Wajah Kenan nampak sumringah bertemu kembali di tempat dan waktu yang tak disangka dengan suster cantik ini.
“Suster udah berubah nih profesinya.”
“Wedding singer emang side job aku. Maaf ya, aku ke sini untuk kerja bukan buat ngobrol.”
Zahra meninggalkan Kenan, dia memilih kembali ke atas panggung. Otak Kenan langsung berputar cepat mencari cara bagaimana dia bisa berinteraksi lebih lama dengan gadis itu. Kemudian dia mendekati salah satu wedding singer pria yang tengah menikmati camilan.
“Mas.. saya bisa request lagu kan?”
“Boleh mas. Mau request lagu apa?”
Kenan mendekat lalu membisikkan sesuatu. Pria itu mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti. Setelah menghabiskan kue dan membasahi kerongkongannya, dia menghampiri Zahra yang masih di atas panggung.
“Zah. Ada yang request lagu duet. Just a kiss, bisa kan kamu?”
“Bisa kang..”
“Part pertama kamu kan ya?”
“Iya kang.”
“Duluan, aku nanti nyusul. Mau minum dulu.”
Zahra menganggukkan kepalanya kemudian menghampiri band pengiring. Setelah mengatakan lagu apa yang akan dibawakan. Gadis itu bersiap di depan panggung. Terdengar suara keyboard memulai irama lagu.
“Lying here with you so close to me. It's hard to fight these feelings. When it feels so hard to breath. I'm caught up in this moment. I'm caught up in your smile,” Zahra memulai nyanyiannya.
“I've never opened up to anyone. It's so hard to hold back. When I'm holding you in my arms. We don't need to rush this. Let's just take it slow.”
Zahra terkejut bukan rekannya yang menyambung nyanyiannya, melainkan Kenan. Pria itu berjalan mendekati Zahra sambil terus bernyanyi. Sebagai seorang profesional, gadis itu meneruskan lagunya. Terdengar suara keduanya menyanyikan lirik di bagian reffrain.
“Just a kiss on your lips in the moonlight. Just a touch of the fire burnin' so bright
No, I don't wanna mess this thing up. No, I don't wanna push too far. Just a shot in the dark that you just might. Be the one I've been waiting for my whole life. So, baby I'm alright with just a kiss good night.”
Kenan senang bisa berduet dengan Zahra, ternyata bukan hanya cantik, tapi gadis itu juga memiliki suara yang merdu. Karena lagu yang dinyanyikan bertema cinta, Kenan memanfaatkan hal tersebut untuk memegang tangan Zahra. Gadis itu tak kuasa menolak saat Kenan menggenggam tangannya. Keduanya terus bernyanyi sambil berpandangan dan tangan Kenan yang tak melepaskan pegangannya.
Pemandangan di atas panggung tentu saja mengenjutkan para sahabat Kenan. Pemuda yang kerap mengeluarkan kalimat-kalimat nyeleneh mau bernyanyi dengan seorang perempuan selain Anya. Bahkan Kenan kerap bersikap ketus dengan perempuan lain yang tidak berada di lingkarannya. Tapi kini pemuda itu bersikap sebaliknya.
Bukan hanya para sahabat, Jihan juga dibuat terkejut. Hatinya panas terbakar cemburu melihat betapa mesranya Kenan pada teman duetnya. Bahkan mata pemuda itu tak lepas memandang wajah wedding singer tersebut. Sikap Kenan padanya tak pernah semanis itu.
Terdengar gemuruh tepuk tangan ketika Kenan dan Zahra selesai menyanyikan lagu yang mampu membuat suasana di ballroom menjadi romantis. Kenan turun dari panggung masih terus menggenggam tangan Zahra. Sesampainya di bawah, Zahra menarik tangannya.
Saat Zahra akan pergi, Kenan segera mencegahnya. Dikeluarkan ponsel miliknya kemudian memberikannya pada Zahra. Gadis itu hanya diam memandangi benda pipih di tangan Kenan.
“Aku udah pernah bilang, kalau kita bertemu di waktu dan tempat yang tidak kita duga, kamu harus kasih no ponsel kamu.”
Kenan mengasongkan ponsel ke arah Zahra. Mau tak mau gadis itu mengambil ponsel tersebut. Dengan cepat jarinya mengetikkan nomer di ponsel Kenan lalu mengembalikan pada pemuda itu.
“Mau aku kasih nama apa?”
“Icih..”
“Hahaha... oke kalau kamu maunya begitu.”
Kenan lalu mengetikkan nama untuk menyimpan nomor Zahra. Karena penasaran, Zahra melihat ke arah ponsel. Apa benar pemuda itu menyimpan nomornya dengan nama yang tadi disebutkan. Matanya membulat melihat Kenan mempelesetkan nama yang tadi dia sebutkan menjadi ‘Ich Liebe Dich’.
“Kok itu namanya?”
“Karena nanti aku bakalan ngucapin kalimat itu ke kamu, kalau kamunya sudah siap,” Kenan mengedipkan sebelah matanya. Dia lalu menekan tombol dial pada nomor Zahra.
“Aku udah miss call hp kamu. Jangan lupa buat save nomer aku.”
Tanpa menunggu jawaban Zahra, Kenan melangkah pergi. Gadis itu terdiam sejenak, lalu mengambil tasnya yang ada di dekat panggung. Diambilnya ponsel dari dalamnya. Terdapat satu panggilan tak terjawab yang dia tahu itu adalah panggilan dari nomor Kenan. Dengan cepat gadis itu mengetik untuk menyimpan nomor tersebut dengan nama ‘Pasien Rese’. Zahra memasukkan kembali ponselnya setelah selesai menyimpan nomor Kenan.
☘️☘️☘️
**Nunggu MP ya??? Sabar... resepsinya belum berakhir.
Kalau komennya buanyak, In Syaa Allah nanti sore mamake up lagi😉
Ini visual suster Zahra yang udah bikin Kenan klepek²**
__ADS_1