KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Was-was


__ADS_3

TOK


TOK


TOK


“Din.. Dinda!!”


Tak ada jawaban dari dalam. Jojo kembali mengetuk, kali ini dengan ketukan lebih keras. Namun lagi-lagi tak ada jawaban dari dalam. Perasaan Jojo mulai cemas, bayang-bayang Anka yang tergeletak di dalam bath tub dengan tangan berlumuran darah kembali berseliweran di otaknya.


jojo menggedor pintu seraya berteriak memanggil Adinda. Tapi tetap tak terdengar suara gadis itu. Jojo berusaha mendobrak pintu namun tak berhasil. Dia lalu menuju tempat tidur kemudian mengangkat telepon yang berada di meja dekat ranjang. Jojo menghubungi resepsionis, meminta salah satu pegawai hotel datang ke kamarnya untuk membukakan pintu kamar mandi.


Setelah itu Jojo meraih ponselnya kemudian mulai menghubungi para sahabatnya. Hatinya benar-benar takut kalau terjadi sesuatu pada Adinda. Tak berapa lama para sahabat beserta pegawai hotel datang ke kamarnya. Pegawai hotel membawa peralatan untuk membobol pintu.


“Ck.. kelamaan.. dobrak aja,” usul Abi.


“Tapi pak..”


“Saya yang ganti kerugiannya!!”


Pegawai itu tak bisa berkata apa-apa lagi, akhirnya mengijinkan Abi dan yang lainnya mendobrak pintu kamar mandi. Apalagi Abi adalah anak dari pemilik hotel ini. Abi, Juna, Cakra dan Kevin bergantian mencoba mendobrak pintu. Akhirnya usaha mereka berhasil saat melakukannya bersama.


Jojo langsung menerobos masuk ke dalam kamar mandi. Tujuan pertamanya adalah bath tub. Jojo mematung melihat Adinda tengah tertidur lelap dalam bath tub. Dengan perasaan lega sekaligus dongkol, Jojo mengangkat tubuh Adinda kemudian membawanya keluar kamar mandi.


“Dinda kenapa Jo?” tanya Juna begitu melihat Jojo membopong Adinda keluar.


“Tidur.”


“Astaga!!”


Cakra menepuk keningnya. Abi langsung keluar kamar, gara-gara ulah Adinda, dirinya gagal mencetak gol. Begitu pula dengan Kevin, tanpa bicara dia keluar dari kamar. Juna dan Cakra hanya terkekeh melihat drama pasangan baru ini kemudian menyusul keluar dari kamar pengantin tersebut.


Jojo memandangi Adinda yang tengah tertidur pulas. Diselimuti tubuh mungil gadis itu. Kepalanya menggelang pelan melihat sang istri yang begitu dikhawatirkannya justru tertidur dengan nyenyaknya.


“Bisa-bisanya kamu tidur di bath tub, Muh.. Muh.. kamu hampir bikin aku mati berdiri saking cemasnya,” gumam Jojo.


Jojo merangkak naik ke atas ranjang kemudian membaringkan tubuhnya di samping Adinda. Dia menepuk tangannya, seketika lampu ruang tidur padam. Tangannya bergerak menyalakan lampu tidur yang terletak di atas ranjang. Jojo masuk ke dalam selimut lalu memeluk tubuh mungil Adinda. Pria itu itu pun ikut menyusul sang istri ke alam mimpi.


☘️☘️☘️


Jojo terbangun dari tidurnya ketika merasakan sesuatu menimpa tubuhnya. Kaki Adinda sukses mendarat di perut bagian bawahnya. Setelah itu Adinda terus menggerak-gerakkan kakinya hingga menyentuh adik kecil yang sedang tertidur pulas. Perlahan sang adik terbangun dan terus menegang karena gerakan kaki Adinda.


Jojo menyingkirkan kaki Adinda dari tubuhnya. Tapi kemudian gadis itu berbalik ke arahnya lalu memeluk tubuhnya. Dada Adinda menempel di dadanya. Jojo semakin frustrasi, kondisinya bertambah tak karuan. Apalagi wajah Adinda berada di ceruk lehernya. Hembusan nafas istrinya itu semakin membuat hasratnya menggelora.


Pria itu berusaha membangunkan Adinda, namun gadis itu tak jua terusik. Akhirnya Jojo melepaskan pelukan Adinda, menggantinya dengan guling. Lalu secepat kilat dia berlari ke kamar mandi. Dia harus segera menidurkan kembali juniornya karena tak mungkin melahap sang istri yang tidur seperti orang pingsan.


Satu jam kemudian Jojo keluar dari kamar mandi. Sambil mengeringkan rambutnya dia berjalan menuju meja rias lalu duduk di kursi. Kelopak mata Adinda bergerak-gerak, tak lama kedua matanya mulai terbuka. Gadis itu melihat ke sekeliling. Dia terlonjak saat menyadari kalau dirinya sudah berada di atas ranjang.


“Sudah selesai tidurnya?”


Adinda terjengit mendengar suara Jojo. Suaminya itu tengah duduk di kursi yang ada di depan meja rias sambil menatap ke arahnya. Sontak dia melihat ke arah tubuhnya, terdengar helaan nafas lega saat menyadari dirinya masih terbungkus pakaian.


“Enak tidur di bath tub?”


“Eng.. ma..maaf om.”


“Kamu udah bikin aku panik tahu ngga? Aku takut terjadi sesuatu sama kamu. Aku takut kamu seperti Anka. Tapi kamu malah tidur nyenyak banget.”


“Maaf.”


“Sana mandi terus kita shalat shubuh jamaah.”


Adinda segera beranjak dari ranjang kemudian menuju lemari untuk mengambil pakaian ganti. Setengah berlari dia bergegas menuju kamar mandi. Jojo menghela nafas panjang, kemudian mengambil peralatan shalat dari dalam lemari. Dia menggelar dua buah sajadah kemudian memakai sarungnya.


Adinda keluar dari kamar mandi lalu segera mengambil mukenanya. Melihat sang istri telah siap, Jojo pun memulai shalat shubuhnya. Setelah menuaikan shalat dua rakaat, Jojo mengajak bicara Adinda dengan serius. Kedua duduk berhadapan di sisi ranjang.


“Kamu semalam kenapa? Kok bisa tidur di kamar mandi?”


“Maaf om.”


“Kamu takut padaku?”


“Ngga om.”


“Apa kamu menjalani pernikahan ini dengan terpaksa?”


“Ngga om.”


“Terus kenapa?”


Kepala Adinda terus menunduk dengan jemari tangan saling meremat. Tak satu kata pun yang keluar dari bibir mungilnya. Dia sudah seperti anak SD yang tengah ditegur sang guru karena ketahuan membolos.


“Din..”


“Iya om..”


“Sampai kapan kamu panggil aku, om? Sekarang aku suamimu.”

__ADS_1


Adinda mengangkat kepalanya lalu menatap Jojo yang tengah menatapnya juga. Gadis itu menggigit bibir bawahnya, dia semakin grogi saja. Dada Jojo berdesir melihat pemandangan di depannya. Baru saja Jojo hendak mendekat, tiba-tiba ponselnya berdering. Melihat nama pemanggil Jessy, pria itu langsung menjawab panggilannya.


“Halo.”


“...”


“Aku ke sana sekarang tante.”


Jojo mematikan ponselnya kemudian mengambil jaket dari dalam lemari. Disambarnya dompet, kunci mobil dan ponselnya. Adinda nampak bingung melihat suaminya seperti panik.


“Om mau kemana?”


“Aku harus ke rumah sakit. Om Richard masuk rumah sakit. Kamu di sini aja, nanti aku pesankan sarapan untuk kamu.”


Jojo mencium kening Adinda kemudian bergegas pergi. Adinda diam terpaku di tempatnya. Dia kecewa karena Jojo tak mengajaknya untuk menjenguk Richard di rumah sakit.


☘️☘️☘️


Sampai sehabis makan siang, Jojo masih belum kembali ke hotel. Adinda mulai cemas. Sedari tadi dia tak keluar kamar, hanya menunggu sang suami yang tak kunjung datang. Bahkan telepon darinya pun tak diangkat.


Adinda akhirnya memberanikan diri menghubungi Sekar untuk menanyakan keberadaan Jojo. Hatinya bertambah kecewa ternyata semua sahabat Jojo sudah menjenguk Richard di rumah sakit, sedang dirinya ditinggal sendirian di hotel. Gadis itu lalu berganti pakaian, dia bersiap untuk menjenguk Richard.


Saat Adinda keluar dari hotel, dia bertemu dengan Radix yang kebetulan tengah melintas di depan gerbang hotel. Pemuda itu langsung menghentikan kendaraannya melihat Adinda seperti tengah menunggu seseorang.


“Mau kemana Din?”


“Mau ke rumah sakit.”


“Siapa yang sakit?”


“Om Richard.”


“Kak Jojo mana?”


“Udah di rumah sakit dari pagi.”


“Kamu ditinggal di sini?”


Adinda menganggukkan kepalanya. Radix turun dari motor kemudian membuka bagasi motornya. Disodorkan helm pada gadis itu. Setengah ragu, Adinda menerima helm tersebut.


“Ayo aku anter.”


“Tapi...”


“Ayo.”


Adinda memakai helm kemudian duduk di belakang Radix. Tak lama kendaraan roda dua itu meluncur membelah jalanan di tengah hari yang terik. Tak butuh waktu lama bagi Radix untuk sampai di rumah sakit tempat Richard dirawat. Dia memilih langsung pergi karena tak ingin menimbulkan kesalahpahaman.


Dengan gerakan pelan, Adinda mengetuk pintu ruangan perawatan VIP. Kemudian dia menggeser pintu lalu masuk ke dalamnya. Nampak Jessy tengah duduk di samping bed dengan Richard berbaring di atasnya. Perlahan Adinda mendekati mereka.


“Bagaimana keadaan om. Maaf aku baru datang?”


“Kami yang harusnya minta maaf. Kami mengganggu waktu kalian. Keadaan om sudah baikan, dia tadi sedikit shock begitu mendengar kabar perusahaan,” tutur Jessy.


Adinda memandangi Richard yang tengah tertidur. Dia melihat ke sekeliling ruangan, namun tak mendapati keberadaan Jojo di sana.


“Jojo ada di kantin rumah sakit, mungkin sedang makan siang dengan Puja.”


DEG


Dada Adinda berdegup kencang mendengar nama Puja. Dia adalah salah satu wanita yang pernah Jojo tiduri. Seketika perasaan cemas melandanya, takut kalau Jojo kembali pada wanita itu. Terlebih mereka belum melakukan malam pertama. Adinda takut kalau Jojo melampiaskan hasratnya pada wanita itu.


“A.. aku susul kak Jojo dulu.”


“Iya Din.”


Adinda bergegas keluar dari kamar perawatan. Pikirannya semakin kalut, ketakutan benar-benar menguasai hatinya. Dengan tergesa dia memencet tombol lift. Kakinya terus bergerak demi menahan kegelisahannya. Begitu lift sampai dia lantai dasar, gadis itu langsung menghambur keluar.


Dengan langkah cepat Adinda menuju kantin. Jantungnya semakin berdegup tak karuan saat mendekati kantin. Sesampainya di sana, mata Adinda segera menyapu seisi ruangan. Akhirnya dia mendapati Jojo tengah duduk bersama seorang perempuan di meja paling sudut. Keduanya terlihat serius berbicara.


Sesaat Adinda bimbang, apakah harus menghampiri atau pergi saja. Gadis itu hanya mematung di dekat pintu masuk sambil terus menatap ke arah keduanya. Melihat gadis yang sedang berbicara dengan suaminya begitu cantik, Adinda langsung merasa minder. Saat dirinya akan berbalik pergi, terdengar suara Jojo memanggilnya.


“Din..”


Adinda masih belum berani melihat ke arah suaminya. Namun sentuhan di tangannya membuatnya menolehkan wajahnya. Tanpa berbicara, Jojo menggandeng tangan Adinda lalu menuju meja tempatnya tadi.


“Puja.. kenalin ini istriku.”


Wanita bernama Puja itu berdiri lalu menyalami Adinda seraya melemparkan senyum manisnya. Jojo mendudukkan Adinda di kursi kemudian pria itu duduk di samping sang istri.


“Kapan datang?”


“Baru aja o.. kak.”


“Maaf ya aku ngga sempat ngabarin. Mendadak ada urusan penting.”


“Maaf ya Dinda. Ada masalah di perusahaan, aku terpaksa minta Jojo bantu karena pak Richard langsung shock pas aku kasih laporan.”

__ADS_1


“Ih iya ngga apa-apa.”


“Jadi besok kamu bisa ya Jo berangkat ke Singapura?”


“Bisa.”


Adinda menoleh ke arah Jojo kemudian melihat ke arah Puja yang tak henti tersenyum melihat ke arah sang suami. Dadanya tiba-tiba terasa sesak seperti ada batu besar menindih paru-parunya.


“Ok, kalau gitu aku kembali ke hotel dulu. Besok aku tunggu di bandara ya Jo.”


“Iya.”


Puja berpamitan pada Adinda kemudian pergi meninggalkan pasangan suami istri itu. Jojo mengajak Adinda kembali ke kamar rawat inap Richard. Di sana mereka pun tak lama. Jojo memutuskan segera kembali ke hotel karena harus menyiapkan kepergiannya besok.


☘️☘️☘️


Adinda melipat mukena juga sajadah setelah selesai menunaikan shalat ashar berjamaah bersama Jojo. Suaminya itu kembali sibuk dengan berkas-berkas yang dibawa Puja tadi. Lama Adinda menatap Jojo yang tengah serius. Ingin rasanya bertanya tapi semua kata-kata seperti tercekat di tenggorokannya.


Merasa ada yang memperhatikan, Jojo mendongakkan kepalanya. Matanya langsung bersiborok dengan milik Adinda. Pria itu menghentikan pekerjaan lalu mendekati Adinda yang duduk di sisi ranjang.


“Ada apa?”


“Ngga ada apa-apa.”


“Nanti habis maghrib kita pulang ke apartemen. Kita harus bersiap pergi.”


“Kita?”


“Iya, kita. Aku sama kamu.”


“Aku diajak ke Singapura?”


“Kamu sekarang istriku, sudah tentu kamu harus ikut mendampingiku. Kamu ngga mau?”


“Ma.. mau kok. Aku pikir kakak ngga mau ajak aku.”


Jojo memeluk Adinda, mengusap punggung gadis itu dengan gerakan pelan. Adinda balas memeluk pinggang Jojo.


“Kenapa hmm? Ada yang mau tanyakan?”


“Soal Puja.”


“Ada apa sama Puja?”


“Kakak ngga ada niat balikan sama dia kan?”


Jojo mengurai pelukannya. Dia memundurkan sedikit tubuhnya agar bisa melihat dengan jelas wajah sang istri. Adinda malah menundukkan pandangannya. Jojo menyentuh dagu Adinda kemudian mendongakkan wajah itu melihat ke arahnya.


“Sebentar lagi dia mau nikah.”


“Kalau dia ngga nikah, kakak mau balikan lagi sama dia?”


“Ngapain aku balikan sama dia? Aku udah punya yang halal di sisiku sekarang.”


BLUSH


Wajah Adinda memerah mendengar kalimat terakhir suaminya. Jojo mendekatkan wajahnya kemudian menyapu bibir Adinda dengan lembut. Tangannya bergerak ke arah tengkuk kemudian menahannya. Jojo me**mat dalam bibir Adinda. Bibirnya terus bermain, membimbing sang istri untuk mengikuti permaiannya. Perlahan Adinda mulai membalas ciuman Jojo.


Jojo mengangkat tubuh mungil Adinda kemudian meletakkan di pangkuannya. Bibirnya terus me**mat dan memagut tanpa henti. Kini lidahnya pun sudah menerobos masuk, bermain-main di rongga mulut sang istri. Adinda mencengkeram erat kaos Jojo. Pria itu lalu mengarahkan tangan Adinda memeluk lehernya. Ciuman keduanya semakin dalam dan menuntut.


Jojo mengakhiri ciumannya kemudian menyatukan kening mereka. Deru nafas mereka yang terengah saling bersahutan. Wajah Adinda nampak memerah akibat ciuman panas nan panjang tadi.


“Boleh sayang?”


“A.. apa ka..k?”


Jojo mencium leher Adinda, menjilat kemudian menyesapnya hingga meninggalkan tanda kemerahan. Gadis itu men**sah, tubuhnya seperti baru saja tersengat aliran listrik ribuan volt. Ciuman Jojo terus menjalar ke bawah, tangannya bergerak membuka tiga kancing atas blouse yang dikenakan Adinda kemudian menyusuri bahu hingga dada sang istri dengan bibir dan lidahnya.


De**han Adinda kembali terdengar. Tangannya meremat rambut Jojo erat akibat sensasi yang diberikan suaminya itu. Semakin lama Adinda semakin terbuai dengan cumbuan Jojo. Suaminya mulai melepaskan blouse yang dikenakannya kemudian melepaskan kain berenda yang menutupi bulatan kenyalnya.


Adinda terpekik pelan ketika Jojo melahap bukit kembarnya bergantian dengan rematan tangannya. Tubuh Adinda bergelinjang menahan geli sekaligus nikmat yang datang bersamaan. Perlahan Jojo membaringkan Adinda di kasur lalu melepaskan celana yang menutupi bagian bawahnya.


Wajah Adinda semakin merah ketika semua kain yang melekat di tubuhnya sudah berpindah tempat ke lantai. Dia kembali dibuat terkejut saat Jojo bermain di area bawahnya. Tubuhnya menggelinjang hebat, mulutnya mulai meracau, men**sah dan menyebut nama Jojo bergantian. Hingga akhirnya tubuhnya bergetar hebat saat gadis itu mencapai pelepasannya.


Nafas Adinda memburu hebat. Tulang persendiannya terasa lemas. Dia hanya menatap sayu ke arah Jojo yang masih berada di bawah kakiknya. Perlahan pria itu berdiri kemudian melucuti satu per satu pakaiannya. Jantung Adinda bergemuruh melihat dada bidang dilengkapi perut kotak-kotak milik suaminya. Detak jantungnya semakin tak beraturan ketika Jojo melepaskan kain terakhir di tubuhnya. Mata Adinda membelalak melihat sesuatu yang berdiri tegak tapi bukan keadilan.


☘️☘️☘️


**Apaan tuh🙈


Maaf ya baru up sore. Anakku masih dalam masa pemulihan, jadi nulis ceritanya terjeda🙏


Nih mamake kasih penampakan Puja. Kira² cantik mana Ama neng Blewah🤔



Buat penggemar Nick, akhirnya setelah Hiatus selama empat hari, Cogan itu hadir lagi. Cuss yang belum mampir..

__ADS_1



**


__ADS_2