
BUGH!
Tubuh seorang pemuda tampan jatuh tersungkur ketika sebuah pukulan mendarat di perutnya. Pemuda itu nampak mengerang kesakitan, sampai terbatuk-batuk. Seorang gadis cantik berdiri tak jauh darinya. Wajahnya nampak ketakutan melihat tiga orang preman bertubuh kekar menghampirinya.
“Zar.. tolong aku, Zar,” rengek gadis itu. Namun pemuda yang dipanggil Zar itu hanya mampu terdiam di tempatnya sambil memegangi perutnya yang terasa sakit.
“Serahin uang, hape sama semua perhiasan yang kamu pake. Sekarang!!”
“I.. iya..”
Dengan tangan gemetar, gadis itu melepaskan anting, kalung dan cincin yang dipakainya. Saat akan memberikan pada preman yang ada di depannya, tangan gadis itu dicekal oleh seorang pemuda.
“Richie..” panggil sang gadis.
“Heh! Siapa lo?!”
“Wey.. santuy bang. Ini cewek gue, jangan ganggu.”
“Kalau cewek lo ngga mau diganggu, serahin apa yang gue minta!”
“Gini aja.. gue kasih sejuta, tapi abang jangan ganggu,” tawar Richie.
“Apaan sejuta. Semua yang gue minta tadi ke siniin. Buruan!!”
“Tuh anak duitnya lebih banyak, bang. Mobilnya juga bagus, lo ambil aja semua barangnya. Jangan barang cewek gue, plus gue tambahin sejuta dari gue, gimana?”
Preman itu berpikir sejenak. Dia melihat mobil yang dimaksud. Harganya ditaksir di atas 1M.
“Ya udah, mana?”
Richie mengambil dompetnya kemudian mengeluarkan sepuluh lembar seratus ribuan dari dompetnya. Diserahkan uang tersebut ke tangan para preman. Pria bertubuh besar itu kemudian memberi isyarat pada Richie dan gadis tadi untuk pergi.
“Ayo, Fan. Ngga usah urusin di Izar, cowok ngga guna, lemah..”
Richie tersenyum penuh ejekan pada Izar yang masih meringkuk di aspal. Pemuda itu memang tidak menyukai teman satu kampusnya itu. Izar selalu menjadi penghalang dirinya mendapatkan gadis-gadis incarannya sejak awal kuliah sampai mereka mendapat gelar sarjana. Kini dia bisa membalas kekesalannya lewat para preman tersebut.
Sepeninggal Richie, kini fokus para preman tertuju pada Izar. Pemuda itu menegakkan diri kemudian duduk bersila. Dipandanginya satu per satu wajah ketiga preman di depannya. Salah seorang preman yang diyakini pemimpinnya, berjongkok di depan Izar. Tangan besarnya mencengkeram dagunya.
“Serahin barang lo!”
“Weh jangan, bang. Satu-satunya ini. Kalau diambil masa depan gue gimana,” kedua tangan Izar langsung memegang sel*ngkangannya.
“Bukan itu bego! Uang, hape sama kunci mobil!”
“Hehehe.. itu yang diminta, kirain burung gue. Semuanya ada di mobil, ambil aja, bang.”
Preman tersebut tersenyum, walau tetap senyumnya tak membuat wajahnya yang pas-pasan terlihat lebih tampan. Dia menepuk pelan rahang Izar kemudian berdiri. Izar juga ikut berdiri, dia menepuk-nepuk belakang celananya yang sedikit kotor.
Sambil bersiul sang preman mendekati mobil milik Izar. Siulan pria itu bertambah kencang melihat mobil jeep wrangler sahara berwarna hijau berdiri gagah di hadapannya.
Pria itu tahu betul berapa harga mobil mewah tersebut. Dia membuka pintu mobil. Saat tangannya hendak menggapai kunci mobil, tiba-tiba saja pintu tertutup membuat preman tersebut menjerit.
“Aaarrgghhh!!”
Izar menekan pintu mobil tangannya, setengah tubuh preman itu terjepit di antara pintu dan bodi mobil. Kedua anak buahnya yang melihat itu segera mendekat untuk membantu. Dengan tak melepaskan tangannya dari pintu mobil, Izar menendang dua preman yang mendekatinya.
“Aarrrgghhhh!!!”
Teriakan pimpinan preman semakin kencang ketika Izar menarik preman lainnya kemudian membenturkan tubuh besar pria itu ke pintu mobil. Kemudian dengan lututnya dia menghajar rahang sang preman hingga jatuh terjengkang. Satu penyerang terkapar di aspal.
Melihat temannya sudah terkapar, preman yang tersisa mengambil sebilah kayu yang ada yang ada di dekatnya lalu mengarahkannya pada Izar. Dengan cepat Izar menunduk hingga kayu mengenai kepala pemimpinnya sendiri.
“Aaaarrggghhh!! Sakit bangs*t!!”
“So.. sorry bos..”
BUGH!
Tubuh preman itu terhuyung ke belakang ketika Izar menendangnya. Belum sempat dia menegakkan diri dengan benar, Izar kembali menyerangnya. Pemuda itu menjadikan tubuh pemimpin preman sebagai tumpuan, lalu melompat sambil melakukan tendangan. Preman kedua terkapar tak berdaya.
Kini giliran bosnya. Izar membuka pintu mobil, menarik tubuh besar sang preman dengan tangan kirinya, lalu tangan kanannya melayangkan dua pukulan beruntun, ke perut dan juga rahang pria itu. Preman ketiga juga ikut terkapar di aspal.
Izar menepuk-nepuk kedua tangannya kemudian menghampiri pemimpin preman yang belum pingsan. Dia berjongkok di depan pria yang tengah meringis menahan sakit di tubuhnya. Teriakannya kembali terdengar ketika Izar menjepit hidung pria itu dengan kencangnya.
“Aaarrggghhhhh!!!”
“Kalau mau barang bagus, kerja. Jangan ngambil milik orang seenaknya. Tuh mobil hasil kerja keras gue sendiri. Jangankan lo bawa pergi, lo bikin lecet dikit aja, gue bikin patah tangan lo, ngerti?!!”
“I.. iya.. bbbb bos.. ma.. maa.. maaf.”
“Mas Izar..”
Izar melepaskan tangannya dari hidung preman tersebut ketika sebuah suara memanggilnya. Dia berdiri begitu melihat pengawal kepercayaan keluarganya sudah datang.
“Hehehe.. om Duta. Cepat amat sampe ke sini.”
“Biar semuanya saya yang urus, mas. Pak Abi sudah menunggu di rumah.”
“Ok deh, om.”
Duta segera memerintahkan anak buahnya untuk membawa ketiga preman tersebut ke markas. Bersama dengan anggota gank motor yang membuat rusuh dan para begal, mereka akan diterbangkan ke pulau rinca besok.
“Om.. tuh preman disuruh meni pedi komodo aja. Biar mereka kelihatan cantik pas nyambut wisatawan. Jangan lupa kuku komodonya suruh dikutex juga, biar tambah imut.”
Duta hanya bisa tertawa mendengar ucapan dari Izar. Anak sulung dari Kenzie itu selalu bisa mengocok perut dengan banyolannya. Namun jangan ditanya jika sudah marah. Maka kejadiannya akan seperti tadi. Dia akan menghabisi orang yang sudah mengganggunya tanpa ampun.
Sambil melipat kedua tangan di dada, Izar memperhatikan Duta dan anak buahnya yang tengah memasukkan para preman ke dalam mobil. Baru saja pemuda itu akan masuk ke dalam mobil, ketika sebuah tepakan mendarat di kepalanya.
PLAK!
“Auu..” teriak Izar. Hampir saja dia menghajar orang yang sudah memukul kepalanya.
__ADS_1
“Apa lo? Mau hajar gue?” tanya Arsy dengan mata melotot. Izar hanya mendengus kesal melihat adik kembarnya yang melakukannya.
“Ngapain lo di sini?”
“Ngeliat elo ngedrama. Cih.. ngga ada cara lain apa lo biar lepas dari si toge?”
“Si toge kan demen ama cowok yang gentle, jagoan. Nah lihat gue kaya tadi pasti ilfil dia, hahaha…”
Izar membuka pintu mobil lalu naik ke jok di belakang kemudi. Melihat sang kakak bersiap untuk pergi, dengan cepat Arsy memutari mobi mobil kemudian naik ke mobil. Izar hanya bedecak kesal melihat kelakuan adiknya.
“Mobil lo, mana?”
“Dibawa balik anak buah om Duta.”
“Seneng banget sih lo ngitilin gue.”
“Bukannya gitu.”
“Terus?”
“Gue mau minta tolong. Nanti abis dari rumah kakek, lo anterin gue ke rumah sakit. Gue dapet shift sore.”
“Ogah, males banget.”
“Please, Zar. Lo anterin gue terus pura-pura jadi cowok gue.”
“Jadi cowok lo? Bhuahahaha… ogah!!”
“Tar gue kenalin sama coas yang se grup ama gue, deh,” rayu Arsy.
“Wokeh. Gue pegang janji lo.”
Izar menyalakan mesin mobil, lalu mulai menjalankan kendaraannya. Siang ini mereka diminta datang ke kediaman Abi. Pria itu ingin makan bersama cucu-cucunya. Bukan hanya Izar dan Arsy yang datang. Tapi anak-anak Freya dan Kenan juga diminta datang untuk makan bersama nenek dan kakeknya.
🌸🌸🌸
“Kakek..”
Arsy segera menghambur ke arah Abi. Gadis itu memeluk kakek tersayangnya. Tak lupa dia mencium punggung tangan dankedua pipi kakek tampannya. Di belakangnya Izar menyusul dan melakukan hal yang sama seperti kembarannya.
“Kenapa baru datang?”
“Izar tuh, kek. Abis ngedrama. Biasa bikin ilfil fans-nya,” bisik Arsy di telinga Abi.
“Ya ampun… cucu nenek emang banyak ya penggemarnya. Siapa lagi sekarang yang jadi korban?” sambung Nina.
“Itu, nek… si toge pasar,” jawab Arsy.
“Toge pasar? Siapa?”
“Nawang.. teman kuliahnya Izar.”
“Kok dipanggil toge pasar?”
Tawa Izar berubah menjadi teriak kesakitan ketika Abi menjewer telinga cucunya ini. Pemuda itu mengusap telinganya yang sedikit merah akibat ulah sang kakek. Nina segera meminta kedua cucunya itu ke halaman belakang. Mereka akan makan siang di sana. Nina mendekati Abi, memeluk lengan pria yang masih setia mendampinginya.
“Anak itu.. kenapa kelakuan playboynya mirip Jojo,” ujar Abi seraya menggelengkan kepalanya.
“Dan Arsy.. kelakuannya mirip kamu, mas,” Nina tertawa kecil.
Pasangan yang masih terlihat mesra di usia senjanya itu kemudian melangkahkan kaki menuju halaman belakang. Semua cucunya sudah menunggu untuk makan siang bersama. Abi dan Nina memang selalu mewajibkan semua cucunya untuk makan siang bersama, minimal satu bulan sekali di kediamannya, kecuali Azzam. Anak bungsu dari Kenzie itu, sekarang tengah menempuh pendidikan di Akademi Angkatan Udara. Pemuda itu serius mengejar cita-citanya sebagai pilot pesawat tempur.
🌸🌸🌸
Kendaraan milik Izar sudah berhenti di pelataran parkir rumah sakit Ibnu Sina, namun pemuda itu masih enggan turun dari kereta besi tersebut. Arsy terus menatap pada kakak kembarnya yang hanya berbeda lima menit saja waktu lahirnya. Melihat tatapan sang adik, akhirnya tangan Izar bergerak melepaskan sabuk pengaman lalu turun dari mobil.
Rumah sakit Ibnu Sina adalah rumah sakit tempat di mana Arsy melakukan tugasnya sebagai coas. Kembaran Izar ini memang mengambil kuliah bidang kedokteran. Setelah menempuh mendidikan formal selama empat tahun, kini waktunya menjalani program profesi untuk meraih gelar dokter. Selama 1,5 sampai 2 tahun, Arsy harus menjalani profesinya sebagai coas di rumah sakit ini.
“Zar, buruan. Elo lelet amat jalan kaya keong.”
“Lo sebenernya mau ngapain sih ngajak gue ke sini?”
“Kan udah gue bilang, pura-pura jadi cowok gue. Ada dokter residen yang ngejar-ngejar gue mulu.”
“Ya tinggal tolak aja apa susahnya?”
“Lah dia kan salah satu mentor gue. Nanti gue dikasih nilai jelek gimana? Please, Zar,” Arsy menangkupkan kedua tangannya.
Kalau tidak ingat pria yang tergila-gila padanya adalah dokter residen yang menjadi mentornya di IGD ini mungkin dia sudah menyemburnya dengan kata-kata pedas atau menghajarnya. Namun Arsy harus berpikir dua kali sebelum melakukan itu. Bisa-bisa sang mentor akan memberinya nilai buruk nanti.
“Emang gimana bentukan dokter yang naksir elo? Gantengan mana ama gue? Pasti gantengan gue, ya kan, ya dong.”
Arsy memutar bola matanya mendengar ucapan narsis saudara kembarnya. Namun memang harus diakui, wajah Izar jauh lebih tampan dibanding dokter residen itu. Makanya dia mengajak Izar sebagai pacarnya.
Keduanya kemudian berjalan menuju Instalasi Gawat Darurat, tempat di mana Arsy melakukan kegiatan coasnya. Saat ini dia ditugaskan di bagian gawat darurat tersebut, sebelum nanti dipindahkan ke bagian lain. Tangan Izar langsung merangkul bahu adik kembarnya, ketika mereka masuk ke IGD.
Kebetulan sekali, dokter residen yang naksir berat Arsy juga ada di sana. Pria itu menatap tajam pada Izar. Walau kembar, mereka tidak kembar identik, jadi tidak akan ada yang menyangkan kalau Izar adalah kembaran Arsy.
“Siang, dok,” sapa Arsy pada dokter residen tersebut. Mata Izar langsung tertuju pada ID Card yang tergantung di leher pria itu. Genta, itulah nama yang tertera. Izar melepaskan rangkulannya kemudian menyalami dokter tersebut lebih dulu.
“Jadi ini yang namanya dokter Genta. Kenalkan, saya Izar. Arsy banyak cerita soal dokter. Mohon bantuannya ya, dok. Tolong bimbing pacar saya ke arah yang benar.”
Dengan kesal Arsy menjejak kaki Izar, membuat pemuda itu meringis kesakitan. Walau enggan, Genta akhirnya menyambut uluran tangan Izar. Tanpa banyak bicara, dokter muda itu meneruskan kegiatannya, membaca rekam medis pasien yang ditanganinya.
“Sayang, aku pulang dulu, ya. Nanti pulang jam berapa?”
“Malam.”
“Kabari aja kalau mau pulang.”
Izar memegang kedua bahu Arsy. Dia menjilati bibirnya hingga basah. Perasaan Arsy sudah tak enak melihat gelagat kakaknya yang super jahil. Setelah membasahi bibirnya, Izar mendaratkan kecupan di kening Arsy. Gadis itu menutup matanya, membayangkan ludah Izar menempel di keningnya, membuatnya mual.
“Bye sayang.”
__ADS_1
Dengan santai, Izar melenggang pergi. Dalam hatinya tertawa puas berhasil mengerjai adiknya yang jutek dan pemarah. Sepeninggal Izar, Arsy bergegas menuju loker untuk berganti pakaian. Tak lupa dia membasuh wajahnya untuk menghilangkan ludah Izar yang menempel di keningnya.
🌸🌸🌸
Waktu menunjukkan pukul delapan malam. Suasana IGD malam ini tidak seramai biasanya, membuat Arsy bisa beristirahat lebih lama. Baru saja dia kembali dari ruang istirahat, ketika terdengar suara ambulans berhenti di depan IGD. Tak lama kemudian pintu ruangan terbuka. Dua orang perawat mendorong blankar berisi seorang pria yang bersimbah darah.
“Panggilkan dokter Reyhan,” ujar dokter Genta. Pria itu segera menuju blankar yang dibawa ke ruang tindakan. Arsy segera mengikuti Genta setelah melihat gerakan tangan pria tersebut.
Sementara itu, di belakangnya muncul seorang pria dengan pakaian penuh noda darah. Pria itu mengikuti Arsy sampai ke depan ruang tindakan. Matanya terus mengawasi dokter Genta yang tengah mengatasi temannya yang baru saja mengalami kecelakaan.
“Bagaimana situasinya?” tanya dokter Genta pada petugas medis yang membawa pasien.
“Ada kecelakaan di jalan raya, perut korban terkena tusukan bambu yang terbelah. Dilihat dari lokasinya, sepertinya bagian limpa yang terkena tusukan.”
“Suster, siapkan ruang operasi. Apa dokter Reyhan sudah dihubungi?”
“Dokter Reyhan masih berada di ruang operasi. Sebentar lagi akan ke sini.”
“Panggil dokter Daffa!”
“Baik, dok.”
“Arsy, tekan lukanya jangan sampai dia kehilangan banyak darah.”
Setelah menyampaikan instruksinya, Genta meninggalkan ruang tindakan tersebut. Arsy yang masih shock melihat banyaknya darah yang keluar, hanya terpaku saja. Teman dari korban langsung mendekatinya.
“Hey.. apa kamu tidak dengar? Kamu harus menekan lukanya!!”
“Ma.. maaf..” jawab Arsy tergagap. Dia langsung mendekati korban.
“Kenapa tidak menggunakan sarung tangan. Bagaimana kalau tanganmu itu mengandung bakteri dan kuman!!”
Lagi Arsy tersentak mendengar suara kencang pria itu. Buru-buru dia mencuci tangan. Lalu memakai sarung tangannya. Seorang suster yang bersamanya, membantu gadis itu yang terlihat gugup. Arsy kemudian mendekati sang korban, lalu mulai menekan lukanya. Dia memejamkan matanya, baru kali ini dia melihat darah yang begitu banyak.
Tak lama kemudian Genta kembali bersama seorang suster. Dia bermaksud menghentikan pendarahan. Pria itu terus memberikan instruksi pada Arsy untuk membantunya. Daffa yang baru saja selesai membantu di ruang operasi langsung berlari menuju IGD. Dia berhenti sebentar di depan ruang tindakan, begitu melihat kakak sepupunya tengah berdiri mengawasi.
“Bang.. ngapain di sini?” tegur Daffa.
“Itu teman gue, tadi kecelakaan.”
“Dokter! Pasien kesulitan bernafas!” teriak salah satu suster. Daffa segera masuk untuk memeriksa kondisi pasien.
“Sepertinya ada masalah dengan paru-parunya. Siap-siap intubasi,” perintah Daffa.
Mendapat perintah dari Daffa, suster tersebut segera menyiapkan peralatan. Seorang suster menyuntikkan obat bius pada pasien. Daffa lalu berdiri di dekat pasien, perlahan dia membuka mulut pasien, kemudian memasukkan perlahan laringoskop sampai terlihat organ pita suara. Dokter itu lalu memasukkan tabung endoktrakeal sampai ke batang tenggorokan, setelahnya dia menghubungkan tabung pada ventilator.
“Bagaimana?” tanya Daffa pada Genta yang sedang mencoba menghentikan pendarahan.
“Sudah berhenti.”
“Segera kirim ke ruang operasi. Dokter Reyhan sudah menunggu.”
Kedua perawat yang membantu menganggukkan kepala tanda mengerti. Mereka segera mendorong blankar menuju ruang operasi. Daffa meminta Genta untuk mendampingi di ruang operasi, sesuai instruksi dokter Reyhan.
Setelah pasien tersebut dibawa ke ruang operasi, Arsy keluar dari ruang tindakan lalu terduduk lemas di salah satu kursi tunggu. Matanya tak lepas memandangi tangannya yang terbungkus sarung tangan, penuh dengan darah.
“Kamu ngga apa-apa?” tanya Daffa.
“I.. iya, dok. Cuma kaget aja.”
“Itu biasa. Kamu baru ditugaskan di sini. Lama-lama kamu akan terbiasa.”
Pria yang tadi datang bersama pasien segera menghampiri Daffa setelah selesai mengurus administrasi.
“Gimana, Daf?”
“Aman, bang. Pasien udah dibawa ke ruang operasi. Abang tenang aja, papa sendiri yang mimpin operasinya.”
“Syukurlah.”
Wajah pria itu nampak lega setelah mendengar penuturan adik sepupunya. Kemudian matanya tertuju pada Arsy yang masih duduk sambil memandangi tangannya. Gadis itu masih terkejut dengan apa yang terjadi. Baru kali ini dia melihat luka yang menyemburkan darah sebanya itu.
“Heh.. lain kali kerja yang benar!!”
Arsy mengangkat kepalanya begitu mendengar suara pria itu. Dengan kesal dia berdiri kemudian berhadapan dengan si pria tampan namun menyebalkan.
“Kenapa dari tadi kamu selalu membentakku!! Siapa kamu?!!” balas Arsy kesal.
“Karena kamu ngga becus kerja!! Teman saya hampir mati kehabisan darah karenamu!!”
“Ngga usah lebay! Ngga usah sok tau!”
“Oh ya?”
“Heiii…. Come on.. what’s wrong with you guys?” Daffa segera melerai.
“Nih orang dari tadi bentak-bentak saya terus, dok.”
“Karena kamu ngga becus kerja!”
“STOP! Bang.. dia anak coas, dan baru tugas di sini, jadi wajar kalo masih shock. Arsy.. dia abang sepupu saya, namanya Irzal. Tolong maafin dia.”
“Bodo amat!! Dasar songong!!”
Arsy segera berlalu dari kedua pria itu. Dia menuju loker untuk membersihkan diri dan berganti pakaian. Harinya benar-benar buruk, bertemu dengan pasien yang bersimbah darah ditambah bertemu dengan pria jutek yang menyebalkan.
🌸🌸🌸
**Haiii... Ketemu lagi kita. Itu special bonus buat kalian.. Mamake lagi gabut akhirnya nulis special part untuk kalian semua. Berhubung males bikin tokoh baru, mamake masukin tokoh di Four Seasons of Love sebagai tandem mereka😁
Ini uji coba aja sih.. Kalau kalian suka, bakal mamake jadikan next project dengan judul baru😉
Yuk kasih ulasan dan pendapat kalian. Kalau dibuat novel baru, gimana**?
__ADS_1