
Cakra memasukkan mobilnya ke garasi rumah. Saat baru turun dari mobil, dirinya sudah disambut oleh mang Deden yang telah tiba sejak siang tadi. Cakra bergegas menghampiri Deden lalu mencium punggung tangannya.
“Sehat mang?”
“Alhamdulillah. Tumben jam segini sudah pulang.”
“Kan tahu mamang mau ke sini, makanya ngga ambil lembur.”
Deden terkekeh kemudian merangkul bahu Cakra. Keduanya masuk ke dalam rumah. Tini yang tengah menyiapkan makan malam segera menghampiri Cakra bersama kedua orang anaknya, Pipit dan Dadan. Cakra mencium punggung tangan Tini, yang disusul oleh Pipit dan Dadan mencium punggung tangan Cakra.
“Wah.. Dadan sekarang sudah besar ya. Kelas berapa sekarang?”
“Kelas 10 kang.”
“Ini Pipit?”
Gadis berhijab panjang itu hanya mengangguk seraya menyunggingkan senyum, memperlihatkan lesung pipinya.
“Sudah selesai mondoknya?”
“Alhamdulillah sudah kang tahun kemarin.”
“Sekarang kuliah?”
“Belum kang.”
“Sudah-sudah, nanti saja ngobrolnya. Cakra, geura bebersih. Bibi udah masak pepes ikan buat kamu.”
“Wah enak pasti tuh bi. Aku mandi dulu ya.”
Cakra bergegas ke kamarnya lalu segera membersihkan diri. Selesai mandi, dia mengajak Deden dan Dadan ke masjid yang berada tak jauh dari rumahnya untuk menunaikan shalat maghrib berjamaah. Tini dan Pipit memilih shalat di rumah saja.
Sepulang dari masjid, Tini langsung mengajak suami, keponakan dan anaknya makan. Cakra menelan ludahnya melihat pepes ikan yang begitu menggoda. Harumnya membuat cacing di perutnya meronta. Melihat pepes ikan dibumbu merah, dia jadi teringat Sekar. Gadis itu sangat suka ikap pepes seperti itu.
Pipit dengan cekatan mengambilkan piring yang kemudian diisi nasi lalu memberikannya pada Cakra. Dia juga menyodorkan ikan pepes pada pria itu. Cakra tersenyum melihat Pipit yang begitu perhatian padanya. Acara makan malam pun dimulai. Sesekali terdengar obrolan mereka. Cakra tak berhenti tersenyum, sudah lama dia tak merasakan kehangatan di meja makan semenjak kedua orang tuanya meninggal dunia.
Usai makan malam, Deden mengajak Cakra berbicara serius. Cakra mengajak Deden juga Tini ke ruang kerjanya. Di sana mereka lebih leluasa berbicara. Dengan sabar Cakra menunggu pamannya bersuara. Pria paruh baya itu nampak ragu, tapi Tini terus saja menyenggol lengannya. Memberi isyarat pada sang suami agar memulai pembicaraan.
“Sebenarnya ada apa mang?”
“Hmm.. begini Cak.. maksud mamang ke sini teh.. mau.. mau..”
“Mau menagih janji almarhum papamu,” sambar Tini yang gemas melihat suaminya tak kunjung selesai bicara.
“Janji apa bi?”
“Hayu atuh bapak geura ngomong iihh.. titatadi cicing wae (bapak cepat ngomong, dari tadi diem aja),” kesal Tini.
Deden menghela nafas panjang melihat ketidaksabaran istrinya. Setelah mendapat cubitan berkali-kali dari Tini, akhirnya dia bicara juga. Cakra mendengarkan semua yang dikatakan Deden tanpa menyelanya sedikitpun. Deden menghembuskan nafas lega setelah mengungkapkan semuanya. Berbeda dengan Cakra yang nampak tercenung.
“Gimana Cak? Apa kamu bersedia?” tanya Tini.
“Kalau memang ini janji yang pernah papa ucapkan, In Syaa Allah aku bersedia bi.”
“Alhamdulillah ya Allah,” ucap Deden dan Tini bersamaan seraya mengusap wajah dengan kedua tangan.
“Kira-kira kapan pernikahannya mang?”
“Tiga hari lagi Cak. Apa kamu sanggup?”
“Hah??”
Cakra terkejut bukan kepalang. Hanya dalam waktu tiga hari dirinya harus menyiapkan pernikahan. Dia mengusap kasar wajahnya.
“Kenapa mendadak sih mang? Harusnya mamang ngomong dari jauh hari biar saya bisa mempersiapkan diri.”
“Maaf Cak.. mamang juga baru berhasil membujuk Pipit agar mau menikah. Tapi kalau kamu ngga bersedia ya ngga apa-apa.”
“Bukan ngga bersedia mang, cuma terlalu mendadak aja.”
“Semuanya sudah siap Cak. Tinggal beli hantaran pernikahan saja. Makanya Pipit sekalian ikut ke sini. Biar beli di sini saja sekalian.”
“Ya udah deh mang, aku nurut aja. Toh semuanya juga udah siap kan? Cuma tinggal akunya aja.”
__ADS_1
“Iya Cak. Makasih ya, kamu mau menepati janji yang sudah dibuat alhamrhum papamu.”
“Sama-sama mang. Janji itu harus ditepati, aku ngga mau papa ngga tenang karena janjinya ada yang belum ditunaikan.”
Deden tersenyum lega mendengarnya. Dia sempat takut Cakra menolak rencana pernikahan ini. Tapi ternyata keponakannya itu bersedia. Hilang sudah beban pikiran yang membebaninya akhir-akhir ini. Begitu juga dengan Tini, wajahnya terlihat sumringah. Berbeda dengan Cakra yang terlihat masih linglung.
☘️☘️☘️
Tak bisa membayangkan kerepotan yang akan dihadapinya menjelang pernikahan tiga hari lagi. Cakra memutuskan untuk bertemu dengan Rahma. Ibu sambungnya itu selalu dijadikan tempat mengadu dan mencari solusi ketika dirinya berada dalam masalah. Sekalian dia membawakan ikan pepes untuk Sekar. Bagaimana pun juga, gadis itu masih menempati tempat tertinggi di hatinya.
Sekar menyambut gembira kedatangan Cakra. Apalagi pria itu datang dengan membawa makanan kesukaannya. Dengan semangat empat lima gadis itu membawa pepes ikan ke meja makan. Nasi dan pepes ikan sudah ada di piringnya lalu dengan lahap gadis itu memakannya.
“Kamu bukannya abis makan Se,” tegur Rahma.
“Ngiler lihat pepes ikannya ma, jadi laper lagi.”
“Awas gemuk loh.”
“Biarin. Biar gemuk bang Cakra tetap suka kan?”
Cakra hanya tersenyum tipis mendengarnya. Rahma yang sudah tahu pria itu akan berbicara dengannya, langsung mengajaknya ke ruang kerja Abi. Di sana, Teddy, Juna juga Abi sudah menunggu. Rahma masuk sambil menggamit lengan Cakra. Keduanya duduk di sofa three seater.
“Ada masalah apa sih? Kayanya serius banget.”
“Gini ma..”
Cakra pun mulai menceritakan apa yang tadi dikatakan oleh Deden. Semua yang ada di ruangan hanya menyimak tanpa ada keinginan untuk menyela. Cakra mengungkapkan kebingungannya karena waktu pernikahan yang mepet.
“Emang kapan rencana nikahnya?”
“Tiga hari lagi ma.”
“Hah??”
Semua yang ada di ruangan terkejut. Reaksi mereka sama persis seperti reaksi Cakra tadi. Pria itu hanya nyengir seraya mengusap tengkuknya.
“Makanya gue bingung Bi. Mana kerjaan di kantor banyak banget.”
“Soal belanja hantaran pernikahan mah gampang. Kamu bisa ajak Sekar, dia tuh paling bisa milih barang-barang bagus.”
“Mana mau dia ma. Nina aja deh yang nemenin.”
“Enak aja lo. Kaga!!”
“Ah elah bi, posesif amat sih. Pinjem sehari doang. Ngga mungkin kan gue jalan berdua aja ama Pipit.”
“Emang bi Tini ngga ikut belanja?”
“Bi Tini sama mang Deden mau datangin keluarga yang ada di sini. Dia mau ngundang secara langsung. Lo tahu sendiri keluarga besar nyokap gue kaya gimana.”
“Ya udah tapi jangan lama. Nih karena lo sobat gue aja, gue ijinin Nina nemenin elo belanja.”
“Ngga cocok banget lo posesif kaya gini.”
“Bodo amat!”
Rahma segera melerai perdebatan unfaedah kedua pria ini. Dia meminta Abi memanggil Nina juga Nadia untuk memberikan masukan barang apa yang akan dibeli untuk hantaran. Sekar yang sudah selesai makan mendekati Abi yang hendak ke kamarnya.
“Kalian ngomongin apa sih? Serius banget kayanya.”
“Itu si Cakra mau nikah, mendadak lagi. Siap-siap Se, kita ke Ciamis tiga hari lagi dia mau papa yang jadi saksinya.”
Sekar seperti tersambar geledek mendengar kabar tersebut. Kakinya mendadak lemas, dengan cepat dia berpegangan pada sisi tangga. Abi terus melenggang tanpa mengetahui sang adik yang shock berat.
Sekar mendudukkan dirinya di anak tangga. Pikirannya melayang entah kemana. Baru saja dia merasakan benih-benih cinta pada Cakra, tapi ternyata harus layu sebelum berkembang. Dia menempuk-nepuk dadanya yang terasa sesak. Genangan air nampak memenuhi kedua matanya.
Cakra menyerahkan urusan daftar belanja hantaran pada Nina dan Nadia. Dia memilih pulang ke rumah, karena malam juga sudah semakin larut. Saat melintasi tangga dia berhenti melihat Sekar yang duduk termenung.
“Se..”
Sekar mengangkat kepalanya. Matanya menatap nanar ke arah Cakra. Dengan cepat dia berdiri lalu bergegas naik ke lantai atas. Terdengar bunyi pintu berdebam setelah Sekar masuk ke dalam kamar. Cakra hanya terdiam di tempatnya berdiri. Menatap sendu ke arah atas.
☘️☘️☘️
__ADS_1
Sekar memilih pulang lebih awal dari kantor karena mendadak tak enak badan. Cakra juga sudah meninggalkan kantor sejak jam istirahat. Dia harus mengantar Pipit berbelanja hantaran pernikahan ditemani oleh Nina juga Nadia. Sekar baru saja turun dari mobilnya ketika mobil yang dikendarai Cakra berhenti di depan rumah. Dari dalam mobil turun Nina, Nadia, Cakra juga Pipit.
Nina dan Nadia langsung masuk ke dalam rumah. Sedangkan Pipit memilih menemui Sekar ditemani oleh Cakra. Gadis berhijab itu menghampiri Sekar seraya melemparkan senyum manisnya. Sekar tetap berdiri di tempatnya sambil matanya menatap ke arah Pipit.
Jadi ini calonnya bang Cakra. Cantik juga, solehah lagi.. terus gimana nasib gue? Hiks.. bang Cakra lo bener-bener jahat!!
“Assalamu’alaikum, teh Sekar ya?”
“Waalaikumsalam, iya.”
“Kenalin teh, aku Pipit.”
Pipit mengulurkan tangannya ke arah Sekar. Mau tak mau gadis itu membalas uluran tangan Pipit. Dengan sangat terpaksa dia membalas senyuman Pipit walau hatinya diiris sembilu.
“Ternyata teh Sekar beneran cantik, seperti yang kang Cakra bilang.”
“Kamu juga cantik Pit. Selamat ya, sudah mau melepas status lajang,” mata Sekar menatap ke arah Cakra saat mengatakannya.
“Teh Sekar nanti dateng ya ke pernikahanku.”
“In Syaa Allah.”
“Aku tunggu ya teh. Hayu kang, pulang.”
“Kamu masuk aja dulu ke mobil.”
Pipit mengangguk kemudian segera menuju mobil. Tinggallah Sekar dan Cakra yang masih terdiam. Sedari tadi pikiran Cakra terganggu setelah mendapat kabar dari Anfa kalau Sekar pulang lebih dulu karena sakit.
“Se.. kamu sakit?”
“Iya.”
“Sakit apa? Kita ke dokter yuk.”
“Ngga usah sok perhatian deh bang. Ngga ada dokter yang bisa nyembuhin sakit aku. Dasar kadal buluk, playboy karatan, manusia ngga punya hati. Bisa-bisanya abang mainin perasaan aku. Buat apa abang bilang cinta sama aku dan minta aku membuka hati kalau ujung-ujungnya abang udah dijodohkan sama orang tua abang.”
“Kamu denger soal ini dari siapa?”
“Kak Abi! Kak Abi udah cerita semuanya. Selamat ya bang buat pernikahannya dan selamat juga udah mempermainkan hati aku. Abang puas sekarang?!!”
Sekar berlari masuk ke dalam rumah tanpa memberikan kesempatan pada Cakra untuk berbicara. Baru saja pria itu akan menyusul, terdengar suara Pipit memanggilnya.
“Kang, hayu.. udah ditunggu amih sama bapak.”
Cakra terdiam sejenak, tapi kemudian kakinya melangkah mendekati mobil. Dengan pikiran tak menentu, Cakra masuk ke dalam mobil lalu segera meninggalkan kediaman Teddy. Pipit melirik ke arah Cakra yang terlihat galau namun tak berani berkata-kata.
Sekar masuk ke dalam kamar lalu menghempaskan diri di atas kasur. Tangisnya pecah seketika. Semua rasa sesak yang dirasakannya ditumpahkan lewat airmata. Dia tak menyangka kisah cintanya berakhir sebelum sempat memulainya. Seandainya waktu bisa terulang, dia memilih menerima Cakra saat lelaki itu menyatakan perasaannya. Namun sekarang semua sudah terlambat. Nasi sudah menjadi bubur, kisah cintanya harus terkubur.
☘️☘️☘️
“Se.. ayo cepetan. Ngga usah mandi, bawa aja baju yang mau dipake, nanti kita siap-siapnya di hotel,” ucap Rahma selesai shalat shalat shubuh berjamaah.
Hari ini mereka sekeluarga berencana berangkat ke Ciamis untuk menghadiri pernikahan. Mereka akan berangkat sehabis shalat shubuh agar bisa menyaksikan akad nikah yang akan dilakukan jam sepuluh pagi.
“Aku ngga ikut ah ma.”
“Ngga usah macem-macem Se. Ngga enak sama Cakra kalau kamu ngga dateng. Udah cepetan sana siap-siap. Ngga pake lama, sepuluh menit!”
Sekar memanyunkan bibirnya. Dengan enggan dia keluar dari mushola yang ada di bagian belakang rumah lalu naik ke lantai atas. Sepuluh menit kemudian dia turun dengan membawa tas ransel yang berisi pakaian dan alat kosmetiknya.
Sekar memilih pergi bersama Abi. Gadis itu segera duduk di jok belakang. Diletakkannya bantal kecil yang tadi diambilnya dari ruang tengah di jok, lalu merebahkan kepalanya di sana. Tak lama Abi menjalankan kendaraannya.
Pukul sembilan lebih lima belas menit rombongan keluarga Hikmat sampai di kota tujuan. Mereka singgah di hotel lebih dulu untuk membersihkan diri dan bersiap. Nina dan Nadia mendandani paksa Sekar yang nampak ogah-ogahan. Setelah semuanya siap, mereka langsung menuju tempat berlangsungnya acara.
Mobil yang dikendarai Juna dan Abi berhenti sedikit jauh dari rumah Deden. Pria itu memang melangsungkan acara akad sekaligus resepsi di rumahnya. Sekar baru saja menjejakkan kakinya di halaman rumah, ketika terdengar suara seorang pria mengucapkan ijab kabul.
“Saya terima nikah dan kawinnya Pipit Andriani binti Deden Ramdhan dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas 20 gram dibayar tunai!”
☘️☘️☘️
Wah udah ijab kabul aja tuh🙈
Maap ye, Mak mau gantung jemuran dulu🏃🏃🏃
__ADS_1