
Sepulang kerja, Freya berkunjung ke rumah Kevin untuk menengok calon suaminya yang tengah sakit. Dia sengaja pulang lebih awal karena mengkhawatirkan keadaan Ravin. Kedatangannya tentu saja disambut gembira oleh Rindu. Wanita itu mengajak calon menantunya ke dapur. Dia sedang membuatkan makanan kesukaan Ravin. Sejak sarapan, anaknya itu belum makan apa-apa lagi.
“Frey.. nanti setelah menikah, kamu ngga keberatan kan kalau tinggal di sini? Mama cuma punya anak dua, dan semuanya laki-laki. Viren mau tinggal terpisah katanya kalau sudah menikah, jadi harapan mama cuma sama Ravin.”
“Iya ma. Aku gimana bang Ravin aja. Kalau abang mau tetap tinggal di sini, aku ikut aja.”
“Makasih ya, Frey. Papa pasti senang kalau kamu tinggal di sini. Sudah lama papa pengen punya anak perempuan, dan sekarang keinginannya terkabul.”
“Iya, ma.”
“Ini.. tolong antarkan buat Ravin. Dari tadi susah disuruh makan. Mungkin kalau kamu yang suapin, dia mau.”
Freya mengambil nampan berisi makanan dan minuman untuk Ravin. Gadis itu lalu melangkahkan kakinya menaiki anak tangga, menuju kamar calon suaminya. Setelah mengetuk pintu, Freya masuk. Nampak Ravin masih tidur dengan tubuh berbalut selimut. Diletakkan nampan di atas nakas lalu Freya mendudukkan diri di sisi ranjang.
“Bang..” dengan suara pelan Freya memanggil Ravin. Karena tak ada jawaban, dia mengguncang pelan bahu Ravin. Setelah beberapa kali, akhirnya ada respon dari pria tersebut. Ravin membuka matanya.
“Frey,” terdengar suara parau Ravin khas bangun tidur.
“Makan dulu yuk, bang. Kata mama, abang belum makan siang.”
Freya membantu Ravin bangun. Dia menempelkan punggung tangan ke kening Ravin, suhu tubuh calon suaminya itu masih terasa panas.
“Ke dokter yuk, bang.”
“Ngga.. bentar lagi juga abang sembuh.”
“Badan abang masih panas gini.”
“Nanti juga turun abis minum obat.”
“Kalau gitu abang makan dulu, ya. Abis itu baru minum obat.”
Hanya anggukan yang diberikan oleh Ravin. Freya mengambil piring dari nampan lalu mulai menyuapkan makanan. Walau lidahnya terasa pahit, Ravin berusaha memakan makanannya. Dia tak ingin membuat kekasihnya itu khawatir. Namun baru saja beberapa suap, Ravin sudah berhenti makan. Freya tak ingin memaksa lagi, yang penting sudah ada makanan yang masuk. Gadis itu lalu memberikan obat pada Ravin.
Usai meminum obatnya, Ravin menggeser tubuhnya lalu menepuk ruang kosong di sebelahnya. Freya naik ke atas kasur dan duduk di samping Ravin. Pria itu merebahkan kepalanya di bahu Freya.
“Persiapan pernikahan kita sudah sampai mana? Maaf ya, abang ngga bantuin kamu.”
“Ngga apa-apa bang. Besok rencananya, aku, Azra sama Naya mau beli buat hantaran pernikahan. Nara juga ikutan, gabut katanya diem di rumah terus.”
“Kangen kamu, Yang.”
Ravin memeluk pinggang Freya. Walau bekerja di tempat sama, namun keduanya jarang bertemu karena kesibukan masing-masing. Apalagi Ravin juga harus bolak-balik mengecek Yudhistira hotel, membantu GM di sana mempromosikan hotel.
“Bang, tadi mama minta habis nikah kita tinggal di sini.”
“Kamu mau? Kalau kamu mau ya kita tinggal di sini. Kalau ngga, kita cari rumah.”
“Kita tinggal di sini aja bang. Nanti kalau Viren nikah, kasihan mama sama papa kesepian.”
“Abang gimana kamu aja. Oh iya, soal mahar, kamu mau apa?”
“Apa ya?”
“Seperangkat alat sunat beserta bengkongnya aja, ya.”
Dengan kesal Freya mencubit lengan kekasihnya ini, Ravin terkekeh geli. Kedatangan Freya sedikit banyak mampu mengembalikan semangat Ravin yang seharian ini seperti kehilangan tenaga. Pria itu menegakkan tubuhnya lalu menarik Freya ke dalam pelukannya.
“Badan abang anget banget. Ke dokter aja, yuk.”
“Ngga.. nanti juga baikan kok.”
“Atau aku panggil dokter Rengga aja ke sini buat periksa abang.”
“Ngga usah. Kamu kasih vitamin aja, nanti juga abang sembuh.”
“Ya udah, di mana vitaminnya?”
“Di sini.”
Ravin mengurai pelukannya, kemudian membenamkan bibirnya ke bibir Freya. Perlahan dia mel*mat bibir yang sudah lama tak dicicipinya. Freya berusaha membalas ciuman Ravin, membuat kekasihnya itu semakin bersemangat memperdalam ciumannya. Sebelah tangannya memeluk erat pinggang Freya. Sebuah sesapan panjang mengakhiri ciuman sepasang kekasih itu. Ravin mengusap sisa saliva yang menempel di bibir Freya.
“Bibir kamu manis banget. Makasih, Yang.”
“Abang tidur lagi, ya.”
“Hmm..”
Ravin merebahkan tubuhnya kembali. Freya masih setia menunggui kekasihnya sampai tertidur. Setelah melihat Ravin pulas, Freya menutupi tubuh pria itu dengan selimut kemudian turun dari kasur perlahan.
“Gimana Ravin?” tanya Rindu begitu melihat Freya turun.
“Lagi tidur, ma. Makannya ngga habis tapi udah ada yang masuk, abang juga udah minum obat. Tadi aku mau ajak ke dokter ngga mau.”
“Kalau ngga parah-parah amat, dia mana mau ke dokter. Nanti kalau kamu udah jadi istrinya, jangan kaget kalau Ravin tuh manja banget kalau lagi sakit.”
“Iya, ma. Anak mama emang manja banget.”
Kedua wanita berbeda usia itu tertawa pelan. Karena hari sudah semakin sore, Freya berpamitan. Menjelang pernikahannya yang kurang lebih enam minggu lagi, Abi dan Nina memang melarang Freya bepergian sendirian kalau bukan ke kantor atau pulang malam jika tidak dengan Ravin.
Rindu mengantar calon menantunya sampai ke teras. Saat yang bersamaan, mobil yang dikendarai Kevin memasuki halaman rumah. Freya segera menghampiri Kevin yang baru turun dari mobil lalu mencium punggung tangannya.
“Sehat, pa?”
“Alhamdulillah. Habis nengok Ravin?”
“Iya, pa.”
“Kamu nginep aja di sini, nanti papa yang bilang ke orang tua kamu,” Kevin merangkul bahu Freya lalu membawanya masuk kembali ke dalam rumah.
__ADS_1
“Kenapa pa? Biar bisa ngerawat bang Ravin?” tanya Freya bingung.
“Ngga, biar bisa makan malam bareng terus abis itu kita ngobrol-ngobrol. Sekarang kan kamu udah jadi anak papa.”
“Iya, kamu nginep aja, Frey. Papa kamu pengen ngerasain punya anak perempuan. Pengen tahu gimana rasanya ada yang bermanja-manja gitu, kaya kamu ke papa Abi. Maklum aja, anaknya pejantan semua,” Rindu terkikik geli.
“Hahaha.. iya ma, ngga kebayang kalau bang Ravin sama Viren gelendotan di tangan papa kaya gini,” Freya memeluk lengan Kevin lalu mengguncang-guncangkannya pelan.
“Pa.. beliin hp baru dong, hahaha…”
Senyum Kevin terbit melihat tingkah konyol Freya, diusapnya puncak kepala calon menantunya itu. Rindu mengambil tas kerja Kevin, kemudian bersama dengan suaminya masuk ke dalam kamar. Freya memilih duduk di ruang tengah sambil menunggu calon papa mertuanya membersihkan diri. Sikap Kevin semakin hangat saja padanya semenjak dirinya sah menyandang status sebagai calon menantu.
☘️☘️☘️
Empat orang wanita cantik tengah asik mengelilingi Andhara mall. Tiga dari mereka sibuk berburu barang untuk hantaran pernikahan mereka yang akan digelar secara estafet, enam minggu lagi. Nara yang memang ikut besama mereka hanya menjadi konsultan saja, memberi masukan jika mereka bingung menentukan pilihan.
Setelah berburu tas, kini mereka masuk ke toko yang khusus menjual pakaian dalam wanita. Beraneka lingerie terpajang di toko tersebut. Di toko ini, Nara sibuk memilihkan pakaian tidur itu untuk ketiga calon mempelai wanita. Freya bergidik ngeri saat Nara memberikan sebuah lingerie berbahan tipis dan berdada rendah padanya.
“Gue harus gitu pake baju kaya gitu?” tanya Freya.
“Harus, biar bang Ravin tambah klepek-klepek sama elo.”
“Lo juga Zra, Nay. Tiap malem, kalian harus pake baju kaya gini, biar suami kalian makin nempel, hahaha..”
“Dih, baju kurang bahan gitu, ogah,” celetuk Azra.
“Iya, nih juga tipis banget kaya saringan tahu,” sambung Naya.
“Udah kalian percaya aja sama gue.”
Nara mengambil beberapa lingerie lalu wanita itu juga memilihkan beberapa stel pakaian dalam yang cocok dengan lingeri yang dipilihnya tadi. Nara membawa semua barang yang dipilihnya tadi ke meja kasir. Dia langsung membayar semua belanjaaan lalu memberikan satu per satu kantong belanjaan tersebut pada Naya, Azra dan Freya.
“Nih… hadiah dari gue.”
“Lo sendiri sering pake gitu?” tanya Naya.
“Ya iyalah. Cuma emang sih ada efeknya juga pake baju itu.”
“Efek apaan?” tanya Freya penasaran.
“Gue suka susah tidur.”
“Kok bisa?” timpal Azra.
“Soalnya digarap mulu ama bang Ken, hahaha..”
“Dasar omesh,” Naya menoyor kepala saudara kembarnya itu. Tapi setelahnya, wajah Naya justru memerah membayangkan Aric mencumbui dirinya. Refleks gadis itu menggelengkan kepalanya.
“Wah ngelamun jorok lo, ya. Hahahaha,” ledek Nara yang semakin membuat Naya memerah.
Bukan hanya Naya, tapi Azra dan Freya juga sempat membayangkan pasangan mereka melakukan hal yang membuat gerah ketika membayangkannya. Nara semakin tak bisa menghentikan tawanya, melihat ketiganya salah tingkah.
Tanpa menunggu jawaban yang lain, Nara segera melesat ke toilet yang jaraknya beberapa meter di depan toko yang mereka datangi tadi. Tak lama kemudian, Nara keluar dari toilet. Saat akan menghampiri yang lain, tanpa sengaja dirinya bersenggolan dengan seseorang.
“Maaf,” ujar Nara.
“Elo Nara kan?”
Nara menolehkan wajahnya ke arah orang yang ditabraknya tadi. Mata Nara membulat melihat orang yang telah ditabraknya. Pria yang tubuhnya hampir setara tingginya dengan Kenzie melemparkan senyuman ke arah Nara.
“Lama ngga ketemu, ternyata lo tambah cantik.”
Nara hanya berdecih mendengar pujian pria di depannya. Jika boleh meminta, dia tak ingin bertemu lagi dengan Anto, kakak kelasnya saat SMA dulu. Nara begitu membenci Anto, karena pria itu yang menyebabkan kematian teman baiknya dulu, Wendy. Namun karena ayahnya seorang pejabat, membuat pria itu lolos dari jelas hukum. Tak ingin berlama-lama di dekat Anto, Nara bergegas pergi. Namun tangan pria itu menarik lengan Nara.
“Lepas!”
“Wow… jangan galak-galak dong. Kenapa buru-buru pergi sih? Kita reunian dulu gimana? Kencan gitu.”
“Gue udah nikah!” Nara memperlihatkan cincin di jari manisnya pada Anto. Namun sialnya pria itu nampak tak peduli. Dia terus saja menarik lengan Nara agar ikut dengannya. Sebisa mungkin Nara melepaskan diri, namun tenaga pria itu begitu kuat.
Baru saja beberapa langkah, Anto menarik Nara, tiba-tiba sebuah tangan mencekal pergelangan tangan Anto, membuat pria itu meringis dan melepaskan cekalannya. Dengan mata nyalang, Kenzie melihat ke arah Anto. Melihat kedatangan suaminya, Nara segera melepaskan diri lalu bersembunyi di belakang tubuh Kenzie.
“Siapa lo?!” tanya Anto kesal.
“Gue suaminya. Sekali lagi lo coba ganggu Nara, gue bakal bikin tangan lo patah!”
Kenzie menggandengan Nara lalu membawanya pergi dari hadapan Anto. Mata Anto terus mengikuti pergerakan Kenzie dan Nara yang berjalan menjauh. Tangannya mengepal erat, melihat bagaimana Kenzie begitu melindungi Nara semakin membuatnya ingin mendapatkan Nara.
“Jangan sebut gue, Anto kalau ngga bisa ngerebut Nara dari lo. Dan gue bakal kirim lo ke neraka,” geram Anto. Pria itu lalu mengambil ponsel dari saku celananya.
“Halo.”
“Halo bos”
“Gue butuh pasukan buat bikin mampus orang.”
“Lo butuh berapa orang”
“Dua puluh orang. Kasih gue yang terbaik. Udah lama gue ngga bikin orang masuk ICU.”
“Siap. Buat kapan?”
“Nanti gue kabarin waktu dan tempatnya.”
Anto mengakhiri panggilannya. Sambil terus menatap ke arah Nara dan Kenzie, pria itu menyeringai licik. Sejak SMA dulu dia memang menyukai Nara, namun gadis itu tak pernah menanggapinya. Salah satu alasannya mengganggu Wendy karena kedekatan pria itu dengan Nara. Sejak kematian Wendy, Anto dipindahkan orang tuanya ke luar negeri. Dan sekarang bertemu kembali dengan Nara, membuat rasa yang pernah hilang, muncul lagi.
Masih terus menggandeng tangan istrinya, Kenzie menuju tempat di mana Azra menunggu. Freya dan Naya sudah tak ada karena baru saja Aric dan Ravin menjemputnya. Hanya tinggal tersisa Azra yang tengah berbalas pesan dengan Fathan.
“Naya sama Frey mana?” tanya Nara pada Azra.
__ADS_1
“Udah dijemput sama calon suaminya.”
“Lo mau pulang bareng kita? Si Fathan masih di tempat meeting,” tawar Kenzie.
“Ngga usah. Bang Fathan lagi di jalan. Gue nunggu di café aja.”
Azra menunjuk café yang jaraknya tak terlalu jauh dari mereka. Kenzie menganggukkan kepalanya. Ketiganya lalu berjalan menuju arah café. Azra segera masuk ke dalamnya sedang Nara dan Kenzie meneruskan perjalanan, keluar dari gedung mall.
Azra memilih meja yang ada di bagian luar café lalu mendudukkan diri di sana. Tak lupa juga memesan makanan dan minuman untuk dirinya juga Fathan. Sambil menunggu pesanan dan kedatangan kekasihnya, Azra bermain game di ponselnya.
Perhatian Azra dari game yang dimainkannya terjeda begitu ada seseorang yang menarik kursi di depannya. Untuk beberapa saat gadis itu tertegun melihat pria paruh baya yang duduk di hadapannya. Dalam hatinya bertanya-tanya untuk apa Jafar bertemu dengannya. Padahal dia sudah memberikan jawaban pada Amran perihal lamaran pria itu beberapa waktu lalu.
“Bagaimana kabarmu?’ Jafar membuka percakapan.
“Alhamdulillah baik, om. Kebetulan banget ya, om ketemu di sini.”
“Om sengaja mau ketemu kamu.”
“Untuk apa om?”
“Soal lamaran Amran tempo hari.”
Azra tak langsung menanggapi. Dia memberikan waktu pada pelayan untuk menata pesanannya di meja. Matanya terus memandangi Jafar, entah apa yang pria itu hendak bicarakan. Diam-diam Azra mengirimkan pesan pada sang ayah dan menekan tombol rekam pada ponselnya.
“Aku kan sudah kasih jawaban sama Amran soal lamarannya. Apa dia ngga bilang sama om?”
“Amran sudah bilang. Om ke sini ingin tahu apa alasanmu menolak Amran. Dia memliki semua kualifikasi untuk menjadi suamimu. Kenapa kamu menolaknya?”
“Maaf, om. Amran memang baik tapi aku tidak mencintainya, om. Aku sudah punya pilihan sendiri siapa yang akan menjadi pendamping hidupku. Dia juga sudah melamarku dan sebentar lagi kami akan menikah. Sekali lagi, aku minta maaf.”
“Apa pria itu adalah Fathan, anak dari kepala tim keamanan keluargamu?”
“Iya, om.”
Sebuah senyuman pahit tersungging di bibir Jafar. Dalam hatinya kesal, gadis yang dicintai anaknya justru memilih calon pendamping yang statusnya berada di bawah mereka. Menurutnya, Fathan sama sekali tidak selevel dengan putranya. Melihat sang anak yang hanya pasrah menerima penolakan Azra, membuat pria itu tak bisa tinggal diam. Bagaimana pun juga dia harus menikahkan Azra dengan Amran. Selain demi kebahagiaan putranya, tentu saja pernikahan itu akan membuat perusahaannya semakin maju.
“Pikirkan baik-baik. Dibanding Fathan, Amran itu jauh lebih baik. Kalau soal masalah cinta, perasaan itu akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Om jamin Amran akan bisa membahagiakanmu. Selain itu, pernikahan kalian juga akan memberikan dampak yang baik untuk perusahaan papamu. Kamu tahu sendiri jangkauan bisnis om seperti apa.”
“Terima kasih sekali lagi atas penawarannya, om. Tapi mohon maaf, saya tetap menolak lamaran Amran. Bang Fathan mungkin tidak berasal dari keluarga terpandang seperti om, tapi dia adalah pria yang aku inginkan dan butuhkan. Aku doakan Amran mendapatkan perempuan yang lebih baik dari aku dan mencintainya dengan tulus.”
“Apa kamu yakin dengan keputusanmu itu?”
“Iya, om.”
“Kalau begitu bersiaplah menerima kehancuran kalian. Saya akan membuat perusahaan papamu bangkrut dan membuat kalian semua tinggal di jalanan. Bukan hal sulit bagi saya melakukan itu, saya memiliki banyak jaringan di dalam dan luar negeri. Hanya dengan satu panggilan, saya bisa menghancurkan bisnis yang sudah dibangun papamu puluhan tahun.”
“Silahkan saja, om. Om pikir kami takut dengan ancaman itu? Lakukan apapun yang mau om lakukan, tapi jangan harap Azra akan menuruti kemauan om. Dia adalah calon istriku, aku tidak akan membiarkan siapa pun mengintimidasinya.”
Jafar terjengit mendengar suara di belakangnya. Fathan yang sudah datang sedari tadi cukup geram mendengar ancaman yang dikatakan pria itu pada kekasihnya. Fathan berjalan menghampiri Azra lalu duduk di sampingnya. Matanya menatap tajam ke arah Jafar. Ayah dari Amran itu pun tak kalah sengit memandang Fathan.
“Sebelum om menghancurkan Blue Sky, perlu om tahu kalau bukan hanya pak Juna yang akan om hadapi. Tapi ada pak Abi, pak Cakra dan pak Anfa di belakangnya. Dan jangan lupakan pak Kevin juga pak Jojo. Apa om pikir mereka akan tinggal diam kalau om berusaha mengganggu Blue Sky? Om bukan hanya menghadapi satu singa, tapi masih ada lima singa lain yang siap menyerang dan menghancurkan om. Begitu juga saya tidak akan tinggal diam. Pikirkan matang-matang sebelum bertindak, jangan sampai om yang menyesal nantinya.”
Wajah Jafar mengeras mendengar ucapan Fathan. Dengan tangan terkepal pria itu memukul meja di depannya, membuat beberapa pengunjung melihat ke arahnya. Fathan memandang Jafar tanpa berkedip. Dia juga ingin menunjukkan diri bukan lawan yang mudah untuk ditindas. Azra memandang penuh kekaguman pada kekasihnya. Fathan tidak lagi bersikap minder berhadapan dengan Amran dan keluarganya.
“Dasar bocah ingusan! Lihat saja apa yang saya lakukan nanti!”
Dengan kesal Jafar bangun dari duduknya lalu pergi meninggalkan pasangan kekasih itu. Fathan mengambil ponselnya, untuk beberapa saat pria itu sibuk dengan benda pipihnya. Setelah mengirimkan beberapa file, Fathan mematikan ponselnya lalu melihat ke arah Azra.
“Apa dia benar-benar akan melakukan ancamannya tadi?” tanya Azra.
“Apa kamu takut?”
“Ngga. Seperti yang abang bilang, ayah ngga sendiri. Dan ada abang juga yang akan bantu ayah, iya kan?”
“Tentu saja. Dan sebagai makanan pembuka, abang sudah membatalkan beberapa kontrak yang berhubungan dengan perusahaan pak Jafar.”
“Ken setuju?”
“Ken menyerahkan sepenuhnya kontrak kerjasama dengan perusahaan itu pada abang. Mau abang terima atau tolak.”
“Tapi perusahaan om Jafar kan besar. Kayanya cuma pembatalan beberapa kontrak, ngga akan berpengaruh banyak buat dia.”
“Memang ngga. Tapi jangan lupa, Metro East memiliki banyak jaringan, satu kontrak yang dibatalkan akan membuat para partner bisnisnya mempertanyakan kredibilitas Global Corporation. Red notice yang diberikan Metro East untuk Global Corporation akan berdampak pada kerjasama perusahaan itu dengan yang lain. Ibaratnya abang hanya melemparkan batu, biarkan riak air yang memercik ke segala arah.”
“Ya ampun abang pinter deh, calon suami siapa sih?”
“Neneng Azra yang cantik lah,” Fathan menjawil dagu Azra disusul tawa keduanya.
Suntikan moril yang diberikan Agung pada anaknya, membuat Fathan lebih percaya diri sekarang. Apalagi dia juga mendapatkan dukungan dari banyak pihak. Fathan akan melakukan apapun untuk mempertahankan Azra, karena gadis itu layak dipertahankan dan diperjuangkan.
☘️☘️☘️
Mohon maaf kemarin ngga bisa up. Masih dengan kendala yang sama, laptop🤧
Mudah²an bulan depan bisa update normal.
**Nih para pasangan calon pengantin estafet
Freya & Ravin**
Naya & Aric
Azra & Fathan
__ADS_1