
Dua orang gadis cantik tengah asik memilih souvenir pernikahan. Di hari libur ini, Rindu menyempatkan diri menemani sahabatnya memilih souvenir untuk pernikahannya. Beberapa kali Sekar mengambil gambar souvenir lalu mengirimkannya pada Cakra. Calon suaminya itu tidak bisa menemani karena membantu Abi mengurus masalah Jojo.
Beres memilih souvenir, Sekar mengajak Rindu ke cafe untuk membasahi tenggorokannya yang kering. Mereka mengambil meja di bagian paling sudut, dekat dengan jendela yang menghadap ke arah jalan. Sekar memesan avocado latte dan satu slice cheescake. Rindu memesan lemon squash, satu slice red velvet dan satu porsi kwitiaw goreng.
“Se.. beneran nikah lo diundur?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Bang Cakra mau beresin urusan bang Jojo dulu. Lo tahu sendiri kan bang Cakra ke kak Abi kaya gimana. Dia mana bisa nikah kalau urusan bang Jojo belum beres. Dari kemarin juga kerjanya nelpon kak Nina terus, nanyain keadaan kak Abi. Padahal kak Abi juga udah ngantor, tapi tetep aja kepo.”
“Emang ada apa sih sama bang Jojo?”
“Au ah males gue ceritanya, bikin sakit hati. Gue kecewa aja bang Jojo tega khianatin kak Abi. Padahal kak Abi sayang banget sama dia.”
Pembicaraan kedua gadis itu terjeda ketika pelayan datang membawakan pesanan mereka. Tanpa menunggu lama, Rindu langsung menyantap kwitiaw pesanannya. Sedari tadi perutnya sudah keroncongan. Kurang dari sepuluh menit, kwitiaw di piring sudah masuk ke perut Rindu. Kini tinggal menikmati dessertnya, red velvet kesukaannya.
“BTW bang Jojo tambah ganteng ngga?”
“Dih ngapain nanya-nanya?”
“Kepo aja gue. Tau sendiri dari dulu gue kan ngeceng bang Jojo. Tapi denger dia udah khianatin kak Abi, bikin gue ilfil deh.”
“Jangan mau sama bang Jojo, udah ngga perjaka. Dia kan udah sering tidur bareng Fahira.”
“Serius??”
“Iyalah, dia sendiri yang bilang. Gue denger pake kuping sendiri, ngga pinjem kuping orang lain. Dari pada sama bang Jojo, mending sama bang Ke, masih ori, masih gress belum tersentuh.”
Uhuk.. uhuk..
Rindu tersedak makanannya ketika Sekar menyebut nama Kevin. Buru-buru diteguknya lemon squash yang tinggal setengah hingga tak bersisa. Gadis itu menepuk-nepuk dadanya sebentar.
“Kenapa lo?” Sekar terkekeh.
“Lo sih pake nyebut nama si kulkas dua pintu. Jadi keselek gue.”
“Eh gue bilangin ya, jangan terlalu benci sama bang Ke. Karena batas antara benci dan cinta itu tipiiiiisss bener, setipis bulu hidung. Awas aja lo bucin ama bang Ke.”
“Najong... amit-amit jabang bibeh, jangan sampai deh.”
Rindu mengetuk-ngetuk meja di depannya bergantian dengan kepalanya. Sekar tak dapat menahan tawanya melihat tingkah Rindu. Tapi dalam hati dia berdoa semoga saja ada malaikat yang mencatat ucapannya tadi.
“Se.. soal uang yang dipinjem abah gue, bisa kan bayarnya nyicil.”
“Oh soal itu. Hmm... sebenernya utang lo udah ada yang bayarin. Jadi nanti lo urusan langsung aja sama orangnya.”
“Hah?? Siapa yang udah bayarin utang abah gue?”
“Hmm... bang Ke..”
“WHAT???!!!”
Suara cempreng Rindu seketika membahana seantero cafe. Membuat Sekar menutup telinganya mendengar suara yang bisa menyebabkan telinganya congean. Beberapa pengunjung cafe yang ada di sana sontak langsung melayangkan pandangannya ke arah gadis bertubuh mungil itu.
“Kok bisa sih Se? Lo becanda kan?”
“Ngga Rin, beneran. Jadi kemarin kan gue harus DP catering, sama WO, limit gue ngga cukup. Bang Ke yang bantu bayar terus dia kirim via giro sisa utang elo. Jadi semua utang lo udah dibayar tunai sama bang Ke, tinggal buku nikahnya aja yang belum ada.”
Dengan gemas Rindu mengeplak kepala Sekar yang mulutnya seperti ember bocor saja. Bukannya marah, Sekar malah tergelak melihat kepanikan sahabatnya. Rindu benar-benar shock, laki-laki yang selama ini sering membuatnya naik darah ternyata membayar semua hutangnya pada Sekar. Tiba-tiba perasaannya menjadi was-was.
“Ah elo mah Se.. kenapa diterima uang dari bang Ke. Nanti kalo dia minta macem-macem buat bayarannya gimana dong.”
“Ngga bakalan, paling dia minta satu macem doang.”
“Apaan?”
“Ikut abang ke KUA dek eaaa... eaaa..”
Rindu benar-benar gemas mendengar ucapan Sekar. Saking gemasnya dia menghabiskan red velvet, cheese cake dan avocado latte yang tersisa. Mata Sekar membelalak melihat Rindu melahap habis kue dan minumannya tanpa bersisa.
“Buseeet Rin.. kalap sih boleh, tapi makanan sama minuman gue jangan diembat dong.”
“Bodo amat. Pokoknya kalau sampe bang Ke minta macem-macem buat lunasin hutang gue, lo harus tanggung jawab.”
“Ogaah.. bang Ke yang buntingin elo napa gue yang harus tanggung jawab.”
“SEKAAAAARRRR!!!!”
Lengkingan tujuh oktaf Rindu kembali terdengar. Beberapa pengunjung yang duduk di dekat meja mereka sampai menutup telinganya. Sekar hanya terbahak, senang sekali menggoda sahabatnya ini. Sepertinya dia akan meminta bantuan Juna untuk menjodohkan Rindu dan Kevin.
☘️☘️☘️
Rindu mondar-mandir di ruang kerjanya. Sedari tadi habis jari kukunya digigiti. Sejak pagi, Kevin belum kelihatan batang hidungnya. Menurut Juna, Kevin harus menghadiri beberapa meeting menggantikan dirinya. Juna sendiri masih sibuk dengan urusan Jojo. Walau Abi sudah melarangnya, tapi Juna tetap bersikukuh membantu adiknya mencari siapa yang telah menodai Anka dan memfitnahnya.
Jantung Rindu hampir copot ketika tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Kevin masuk ke dalam sambil menenteng jasnya. Wajahnya terlihat kusut. Kevin melemparkan jas ke sofa lalu menghempaskan bokongnya di sana. Dia membaringkan tubuhnya untuk meluruskan punggungnya yang terasa pegal.
Sedari pagi dia terus pindah dari satu meeting ke meeting lain. Untung saja Darian, sekretaris baru Juna, benar-benar bisa diandalkan. Rindu datang membawakan minuman dingin untuk Kevin. Dengan cepat pria itu bangun lalu duduk. Tangannya meraih minuman kaleng dingin dari Rindu.
“Kamu belum pulang?” Kevin melirik jam di dinding yang menunjukkan pukul setengah enam sore.
“Kan bapak yang bilang harus nunggu sampai bapak datang.”
“Oh iya.”
Kevin menepuk keningnya. Saking sibuknya hari ini, pria itu lupa kalau tadi dia meminta Rindu untuk tidak pulang dulu. Kevin melempar kaleng bekas minumannya ke tong sampah lalu meminta Rindu duduk di depannya.
“Kamu udah makan?”
__ADS_1
“Udah tadi siang.”
“Ya udah, kamu ikut saya makan malam. Abis maghrib kita pergi.”
“Hmm.. pak.. hmm..”
“Apa? Ham hem ham hem aja kaya lagi ngiklan permen pereda tenggorokan.”
“Ish si bapak. Ini loh pak, saya mau nanya.”
“Nanya ya nanya aja, banyak banget intronya.”
Rindu menarik nafas dalam-dalam. Berbicara dengan Kevin benar-benar membutuhkan tenaga ekstra. Tingkah menyebalkan plus mulut bon cabenya sering membuat gadis mungil ini naik darah.
“Bapak bayarin utang abah saya ke Sekar?”
“Iya.”
“Kenapa pak? Saya jadi ngga enak loh bapak bayarin utang abah saya.”
“Ngga usah geer kamu. Saya bayarin utang abah kamu karena waktu itu Sekar kehabisan limit buat DP pernikahannya. Cakra juga ngga ada, jadi saya yang bantu bayar dulu. Masalahnya di mana?”
“Ya ngga ada sih pak. Cuma saya terkejot sangat, debiturnya berpindah orang. Itu bayarnya boleh dicicil kan pak?”
“Hmm.. tapi ngga seribu sehari juga ya.”
“Pak bisa ngga sih ngomongnya enakan dikit gitu yang ngga bikin naik darah.”
“Ngga.”
“Ish...”
“Nanti jam tujuh kamu ikut saya makan malem bareng mama saya.”
“Hah? Ngapain pak?”
“Kamu ngga denger tadi. Makan malem.”
“Iya tapi kenapa makan malemnya sama mamanya bapak juga?”
“Ya suka-suka saya dong. Emang ngga boleh anak ngajakin makan malam orang tuanya?”
“Ya boleh aja. Maksudnya kalau bapak makan malem bareng keluarga kenapa saya harus ikut?”
“Takutnya limit atm saya ngga cukup, jadi kamu yang saya jadiin jaminan ke manager restoran. Kamu bisa nyuci piring kan?”
“Bisa pak.”
“Bagus. Kalau uang saya kurang, kamu cuciin piring di sana nanti.”
Rindu terdiam sebentar, mencoba meresapi kata-kata mutiara Kevin tadi. Pria itu bangun dari duduknya lalu berjalan menuju pintu. Rindu yang telah menyadari sepenuhnya maksud kata-kata Kevin langsung berteriak kencang.
☘️☘️☘️
Mobil yang dikendarai Kevin memasuki area parkir restoran Crystal Palace. Dia turun dari mobil disusul oleh Rindu. Dia berjalan menuju restoran, meninggalkan Rindu yang berjalan di belakangnya. Kevin menoleh ke belakang, melihat Rindu yang masih tertinggal di belakang.
“Lelet amat sih jalannya.”
“Bang Ke yang jalannya udah kaya orang kebelet.”
“Alasan, itu kaki kamu aja yang pendek. Ayo cepet.”
Kevin menarik tangan Rindu. Gadis itu mencoba mensejajarkan langkahnya mengikuti gerakan kaki Kevin sambil mulutnya tak henti berkomat-kamit. Mereka naik ke lantai dua, menuju ruang khusus yang telah dipesan keluarganya.
Seorang pelayan langsung menyambut kedatangan mereka lalu membukakan pintu ruangan. Rindu ternganga melihat keluarga Kevin sudah ada di dalam sana. Bukan hanya kedua orang tua Kevin yang ada di sana, tapi ketiga kakaknya juga datang dengan membawa serta pasangannya masing-masing.
“Akhirnya aktor dan aktris utamanya dateng juga,” seru seorang wanita yang Rindu yakini adalah kakak dari Kevin karena wajahnya mirip.
“Malem om, tante, kakak semua,” sapa Rindu.
“Malam,” jawab mama Kevin.
Kevin mencium punggung tangan kedua orang tuanya, disusul oleh Rindu. Kevin menarik sebuah kursi lalu mempersilahkan Rindu untuk duduk. Dengan dada berdebar, Rindu duduk di kursi. Mata semua orang yang ada terus menatapnya. Ingin rasanya Rindu menghilang saat itu juga.
“Siapa namanya?”
“Rindu tante. Saya sekretaris sementaranya pak eh bang Kevin.”
Acara perkenalan terjeda saat dua orang pelayan datang mengantarkan hidangan. Diam-diam Rindu menelan ludahnya melihat aneka hidangan lezat tersaji di hadapannya. Kalau tak ingat harus menjaga image, mungkin sudah dicicipinya semua makanan yang ada.
Mereka langsung memulai acara makannya setelah semua hidangan tersaji di meja. Mama Kevin mempersilahkan Rindu untuk makan. Gadis itu nampak malu-malu, dia hanya menaruh sedikit makanan di piringnya. Kevin tersenyum tipis melihatnya. Bisa dipastikan, makanan itu akan langsung jadi rebutan cacing-cacing di perut Rindu.
“Jadi ini calon istri kamu Vin?” tanya mama Kevin.
Uhuk.. Uhuk...
Rindu langsung tersedak mendengarnya. Kevin menyodorkan gelas minuman padanya. Sambil mendelik kesal, Rindu mengambil minuman yang diberikan padanya.
“Iya, dia calon istriku ma.”
Rindu menjejak sepatu Kevin, tapi pria itu terlihat cuek saja. Mama Kevin terus memperhatikan Rindu, membuat gadis itu salah tingkah. Kakak perempuan Kevin juga ikut memperhatikan Rindu.
“Ya udah kalau gitu kalian nikah bulan depan aja.”
Wajah Rindu terlihat panik. Refleks dia mengangkat kedua tangannya lalu melambaikannya pertanda tak setuju. Diliriknya Kevin yang masih terlihat tenang. Rindu kembali menjejak sepatu Kevin, sialnya pria itu balas menjejak kaki Rindu, alhasil gadis itu meringis kesakitan.
“Ngga bisa ma. Orang tuanya Kang.. ehem Rindu, minta dia lulus kuliah dulu. Soal nikahnya kapan, nanti gimana kita aja deh ma. Yang penting kan aku udah kenalin calon aku. Jadi mama ngga perlu repot-repot kenalin aku sama anak temen arisan mama, anak temen papa, atau mahasiswinya mba Anya.”
“Kamu kuliah semester berapa sekarang?”
__ADS_1
“Tahun ajaran ini saya semester tujuh kak.”
“Sebentar lagi Vin.”
“Biar udah semester tujuh, dia belum bisa ngajuin skripsi. Dia itu mahasiswi nasakom ma.”
Mata Rindu melotot mendengar Kevin menjulukinya mahasiswi nasakom. Kakak-kakak Kevin hampir saja tertawa.
“Apa itu nasakom?”
“Nasib satu koma. Kebayang kan sama mama, dia kuliah tanpa beban aja IPK-nya cuma segitu, apalagi kalau harus menikah terus ngurus suami. Bisa-bisa dia di DO gara-gara IPK-nya jadi nol koma.”
Rindu menggenggam erat garpu di tangannya. Ingin rasanya dia menusuk tomat di depannya lalu menjejalkan ke mulut sialan Kevin. Saat mamanya akan kembali berucap, ponsel Kevin berdering. Dia bangun dari duduknya lalu keluar ruangan untuk menerima panggilan.
Tinggallah Rindu sendiri menghadapi keluarga Kevin. Mama Kevin sedari tadi tak melepaskan pandangan darinya. Dia masih ingin meyakinkan dirinya apakah benar gadis di hadapannya ini adalah calon istri Kevin.
“Rindu.. coba jujur sama tante. Kamu bukan calon istrinya Kevin kan? Berapa kamu dibayar sama Kevin buat pura-pura jadi calon istrinya?”
“Ehem.. jadi begini tante. Mohon maaf sebelumnya, saya juga ngga tahu kalau dibawa ke sini terus dikenalin sebagai calon istri bang Ke...vin. Dia bilang cuma mau ngajak makan malem aja. Saya ngga punya pilihan karena bang Ke..vin udah bayarin utang abah saya ke Sekar. Nah sebagai kreditor yang baik, saya ikutin aja apa maunya debitur.
Tapi jujur tante, saya ngga punya hubungan apa-apa sama bang Kevin. Saya awalnya cuma magang aja jadi sekretarisnya dia terus sekarang diminta jadi sekretaris sementaranya karena ngga ada yang mau jadi sekretarisnya. Tante tau sendiri kan anak tante tuh si kulkas dua pintu itu kan orangnya nyebelin, kalo ngomong pedes banget kaya cabe setan. Coba bayangin, mana ada orang yang betah dan kuat jadi sekretarisnya selain saya. Saya juga terima tawarannya dengan sangat.. sangat.. sangat terpaksa sekali. Kalau dia ngga nawarin gaji full sebagai sekretaris plus makan 3x sehari saya juga ngga akan mau.”
Semua yang mendengar Rindu berbicara, menatap gadis itu tanpa berkedip. Dalam satu helaan nafas, gadis itu bisa berbicara panjang lebar tanpa ada jeda. Kalimat demi kalimat meluncur mulus dari bibir tipisnya. Lalu tak lama kemudian terdengar tawa kakak tertua Kevin.
“Kok bisa ya Kevin kuat deket-deket sama kamu yang bawel kaya gini. Dia itu kan paling sebel sama cewek bawel bin cerewet.”
“Iya.. iya bener. Kok Kevin bisa kuat sama kamu,” timpal kakak kedua Kevin, Anya.
“Ok Rindu. Kamu ngga usah khawatir soal utang kamu ke Kevin. Tante yang akan bayarin utang kamu.”
“Beneran tante? Alhamdulillah.”
“Tapi ada syaratnya.”
“Iya tante saya tau. Tante pasti minta saya jauhin bang Ke..vin kan? Tenang aja tante, setelah masa bekerja saya habis akhir bulan ini, saya akan pergi jauh-jauh dari bang Ke..vin. Paling ketemu cuma buat bimbingan laporan magang. Habis itu saya ngga akan menemui lagi bang Ke..vin.”
Mama Kevin menganga mendengar tebakan asal Rindu. Ketiga kakak Kevin tak berhenti tersenyum melihat gadis unik model Rindu. Bahkan papa Kevin yang lebih banyak diam, tak kuasa menahan senyumnya.
“Bukan itu Rindu.”
“Terus apa tante?"
“Tante belum kepikiran sekarang. Nanti kalau udah ketemu syarat yang pas, tante langsung kasih kabar. Deal?” mama Kevin mengulurkan tangannya ke arah Rindu.
“Deal tante,” Rindu membalas uluran tangan mama Kevin. Apapun syaratnya akan Rindu penuhi, asalkan dia tidak harus menikah dengan Kevin, si kulkas berjalan. Kevin kembali ke dalam ruangan.
“Ma, aku antar Kang.. ehem.. Rindu pulang dulu. Ayo Kang..”
Rindu bangun dari duduknya lalu menyalami satu per satu orang yang ada di dalam ruangan. Bergegas dia keluar dari ruangan yang terasa mencekik lehernya. Rindu masuk ke dalam mobil lalu langsung memasang seat beltnya. Kevin segera menjalankan kendaraannya.
“Bang Ke apa-apaan sih ngenalin aku jadi calon istri segala? Untung aku ngga mati keselek tadi.”
“Kalau kamu mati tinggal kubur aja, beres.”
“Pokoknya aku ngga mau tau. Bang Ke harus klarifikasi kalau aku bukan calon istri bang Ke, harus!”
“Iya, berisik banget. Kalau ngga terpaksa, aku juga ngga mau ngenalin kamu sebagai calon istriku. Mendingan jomblo seumur hidup dari pada harus nikah sama perempuan bawel kaya kamu.”
“Aku juga ngga mau. Mending nikah sama Shawn Mendes dari pada nikah sama kulkas dua pintu model bang Ke.”
“Mana mau Shawn Mendes nikah sama kamu. Udah pendek, rewog, bawel lagi.”
“Sembarangan ya. itu Camila Cabelo pacarnya Shawn juga pendek.”
“Dia pendek tapi punya banyak kelebihan. Suara bagus, badan seksi. Nah kamu kelebihan yang kamu punya itu cuma porsi makan doang.”
“Bang Keeeee!!!”
“Apaan sih. Bersisik banget, suara cempreng kamu tuh menyebabkan polusi suara tau ngga,” Kevin mengusap telinganya yang terasa pengang.
“Bodo amat!! Pokoknya aku ngga mau tahu, beliin aku nasi goreng! Aku laper!!”
“Siapa suruh kamu tadi jaim, makan sok imut kaya gitu. Biasanya juga porsi kuli.”
Rindu tak menanggapi ucapan Kevin. Dia melipat kedua tangannya di dada lalu membuang pandangannya ke samping. Yang ada di pikirannya saat ini adalah nasi goreng mang Ohin yang mangkal di dekat kost-annya.
“Mau makan nasgor di mana?”
“Nasgor mang Ohin yang deket kost-an aku.”
“Ngga ada.. mang Ohinnya lagi mudik. Adanya mang Oleh.”
“Mang Oleh mah jualan odading.”
“Oh udah ganti sekarang jualan odading,” jawab Kevin asal.
Rindu mendelik kesal ke arah Kevin. Kalau tidak ingat dia punya hutang seratus juga pada pria menyebalkan ini, ingin rasanya dia menyumpal mulut Kevin dengan cabe setan satu ton, biar jontor bibirnya.
Kevin menghentikan mobilnya di dekat gerobak penjual nasi goreng. Dia membuka kaca mobil, lalu dengan suara setengah berteriak, pria itu memesan nasi goreng untuk Rindu.
“Bang.. pesen nasi goreng satu. Yang pedes, jangan lupa porsi kuli ya bang!!”
“Bang Keee!!!”
☘️☘️☘️
**Cooling down dulu ya gaessss.. yang kangen sama bang Ke dan Kang Pur sudah terobati ya. Saking semangatnya nulis cerita mereka ngga kerasa nyampe 2500 kata lagi.
Jangan lupa tinggalin jejaknya ya biar mamake tambah semangat lanjutin ceritanya**.
__ADS_1