
Anfa membantu Angela masuk ke dalam gedung apartemen. Wanita itu memeluk pinggang Anfa begitu erat, membuat lelaki itu tak nyaman. Saat di dalam lift, Angela sengaja menyurungkan tubuhnya hingga punggung Anfa menempel ke dinding lift. Pemuda itu menahan nafasnya beberapa kali saat bulatan kenyal Angela menusuk-nusuk dadanya.
Pintu lift terbuka di lantai tiga, keduanya segera keluar dari kotak besi tersebut. Dengan lemas Angela menunjuk unit yang berada di tengah. Sesampainya di depan pintu, Angela menekan kode kunci dan tak lama kemudian pintu terbuka. Anfa mendudukkan wanita itu di atas sofa.
“Aku pulang dulu ya,” pamit Anfa.
“Anfa.. tolong carikan obat di kotak obat di sana.”
Angela menunjuk kotak obat yang terletak di atas nakas dekat televisi. Anfa segera melangkahkan kakinya ke sana. Dengan terhuyung, Angela mengambil jus jeruk, saat berada di dekat Anfa, dengan sengaja dia menumpahkannya ke tubuh Anfa dan mengenai kemejanya karena resleting jaketnya terbuka.
“Anfa maaf..”
“Ngga apa-apa,” Anfa mengibas-ngibaskan tangannya di kemeja dan celananya yang basah terkena siraman jus.
“Baju kamu basah Fa.”
“Aku bawa baju ganti. Kamar mandinya di mana?”
“Pakai aja kamar mandi yang di kamarku.”
“Ngga ada yang di luar?”
“Lagi rusak.”
Anfa berpikir sejenak, rasanya tak nyaman harus masuk ke kamar wanita itu. Tapi mengingat pakaiannya yang basah dan badannya yang lengket, akhirnya pria itu menyetujuinya. Dia mengambil kaos dari dalam tas ranselnya, membuka jaketnya kemudian bergegas menuju kamar mandi.
Angela menunggu sampai Anfa masuk ke kamar mandi kemudian menggeledah jaket Anfa untuk mencari ponselnya. Dengan cepat Angela mendapatkan benda pipih tersebut lalu dia membuka kode ponsel tersebut. Wanita itu berhasil mencuri lihat saat Anfa membuka kode ponselnya. Jari Angela bergerak mencari nomor Rayi, kemudian menyalinnya ke dalam ponselnya. Dimasukkan kembali ponsel ke dalam jaket, setelah itu dirinya menghubungi Rayi.
Untuk beberapa saat, panggilannya tak terjawab, namun Angela terus menghubungi kekasih Anfa itu sambil memperhatikan ke arah kamar. Akhirnya panggilannya terjawab, terdengar suara Rayi dari seberang.
“Halo..”
“Halo Rayi.. ini aku, Angela. Sekarang Anfa sedang berada bersamaku. Maaf, sepertinya kami akan menghabiskan waktu bersama malam ini. Aku kirimkan lokasinya siapa tahu kamu ingin bergabung.”
Angela memutuskan panggilan kemudian mengirimkan lokasinya pada Rayi. Tercetak senyum smirk di wajahnya. Dia lalu bergegas masuk ke kamar. Anfa masih belum keluar dari kamar mandi. Angela membuka beberapa kancing blousenya hingga bukit kembar yang tak sepenuhnya tertutup oleh kain berenda tersembul. Dia juga melepaskan celana panjang yang dikenakannya.
Anfa yang telah selesai berganti pakaian, keluar dari kamar mandi. Pria itu terjengit saat tiba-tiba Angela menarik tangannya hingga tubuhnya terjerembab di atas kasur. Dengan cepat Angela menindih tubuh Anfa.
“An.. apa-apaan.. minggir..”
Anfa mencoba menghalau tubuh Angela, namun tangan Angela dengan cepat meraih junior Anfa yang terbungkus celana bahan kemudian merematnya. Tanpa sadar Anfa mengerang merasakan rematan tangan Angela.
“Kamu suka sayang?”
Angela terus memegang milik Anfa, kini jemarinya sudah menurunkan resleting celana Anfa. Tangan wanita itu bergerak bebas masuk ke balik celana. Lagi terdengar erangan Anfa saat Angela kembali merematnya. Untuk sesaat Anfa terbuai dengan yang dilakukan Angela, tapi kemudian kesadarannya kembali. Dicekalnya tangan Angela kemudian dijauhkan dari property pribadinya.
Terdengar desisan Angela saat merasakan sakit di pergelangan tangannya karena cekalan pemuda itu. Anfa bangun kemudian menghempaskan tubuh Angela ke atas kasur. Dengan cepat dinaikkan kembali resleting celananya yang telah terbuka sempurna.
“Dasar wanita gila!!”
Anfa bergegas meninggalkan kamar, namun Angela tak menyerah. Wanita itu bangun kemudian dengan cepat mengejar Anfa. Dia naik ke atas sofa lalu loncat ke punggung Anfa. Hampir saja pemuda itu terjatuh, namun berhasil menahan keseimbangan tubuhnya.
Erangan Anfa kembali terdengar ketika Angela menyesap lehernya dengan kencang. Anfa melepaskan tangan Angela dari lehernya kemudian dengan kasar mendorong tubuh Angela hingga terjatuh di atas sofa. Kesal tak bisa mendapatkan Anfa, Angela membuka blouse juga kain penutup bukit kembarnya. Seketika bulatan kenyalnya nampak menantang di hadapan Anfa.
“Astaghfirullah!!”
Anfa memalingkan wajahnya, dia mencoba menggapai tasnya namun sial bukan tas yang berhasil didapatnya melainkan bulatan kenyal Angela yang terkena sentuhan tangannya. Refleks Anfa melepaskan tangannya. Pemuda itu kemudian bergegas menuju pintu. Angela terus mengejarnya.
Saat pintu terbuka, Anfa terkejut melihat Rayi telah berada di depan unit apartemen milik Angela. Mata Rayi membulat melihat pakaian Anfa yang berantakan, kemudian matanya menatap Angela yang hanya mengenakan segitiga pengaman saja.
“Fa.. kamu..”
“Ray.. ini ngga seperti yang kamu lihat.”
“Keterlaluan kamu, Fa!!”
Rayi segera berlari meninggalkan Anfa. Terkejut dengan reaksi sang kekasih, Anfa bergegas menyusul sambil terus memanggil namanya. Angela tersenyum senang melihat usahanya untuk memecah hubungan Anfa dan Rayi berhasil. Dia sengaja membiarkan pintu apartemen terbuka untuk menunggu kedatangan Anfa kembali. Wanita itu duduk dengan tenang di sofa masih dengan keadaannya tadi.
“Rayi!!!”
Pintu lift tertutup tepat saat Anfa sampai di depannya. Pemuda itu memilih menggunakan tangga darurat untuk turun. Sesampainya di lantai dasar, dia berlari kencang mengejar Rayi yang sudah mencapai pintu keluar lobi.
“Rayi!! Tunggu Ray!!”
Anfa terus berteriak tanpa mempedulikan tatapan orang-orang yang ada di sekitar lobi. Sambil berlari, Rayi keluar dari gedung apartemen. Melihat Anfa terus mengejarnya, tangannya melambai ke arah sepeda motor yang melintas di depannya.
“Pak tolong saya, saya ikut motor bapak ya,” mohon Rayi.
“Ayo neng.”
Rayi segera naik ke belakang pemotor tersebut. Anfa mempercepat larinya melihat sang kekasih sudah bersiap pergi.
“Ray!! Ray!! Tunggu!!”
Terlambat, sepeda motor tersebut telah berhasil membawa Rayi pergi menjauh. Anfa meremat rambutnya dengan kasar. Hatinya merutuki kebodohannya yang bisa dengan mudah jatuh dalam perangkap Angela.
__ADS_1
“Aaaarrrgggghhhh!!!”
Mengingat Angela, Anfa melangkahkan kakinya kembali masuk ke dalam gedung apartemen. Tanpa menunggu pintu lift terbuka sempurna, Anfa menerobos keluar kemudian menuju unit Angela.
“Angela!!”
“Tidak usah berteriak sayang. Aku di sini menunggumu.”
Angela menatap Anfa dengan pandangan menggoda plus tubuhnya yang hanya terbalut segitiga pengaman saja. Anfa menatap Angela dengan pandangan penuh amarah. Tak ada ketertarikan sedikit pun melihat tubuh molek wanita itu.
“Kamu sudah mengganggu hidupku. Lihat saja, aku tidak akan melepaskanmu!”
“Ouugghh so sweet honey. Aku tidak akan kemana-mana, baby. Bahkan aku siap jika kamu memasukiku sekarang.”
Angela menggigit bibirnya, kemudian dua jarinya menulusup masuk ke dalam segitiga bermuda miliknya. Anfa semakin jijik melihat wanita di hadapannya ini. Dengan cepat disambarnya tas ransel juga jaket lalu bergegas meninggalkan unit apartemen tersebut.
☘️☘️☘️
Anfa memacu kendaraan roda duanya menuju kompleks perumahan di mana Rayi tinggal. Dia bertekad untuk mengakhiri kesalahpahaman dengan Rayi secepatnya. Pemuda itu menghentikan motornya di depan rumah bercat hijau. Setelah melepas helmnya, dia bergegas memasuki halaman rumah.
TOK
TOK
TOK
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Terdengar sebuah suara berat dari dalam sana. Tak berapa lama kemudian pintu terbuka. Nampak Wisnu, ayah Rayi dari balik pintu. Pria berkaca mata itu seperti biasa menyambutnya dengan ramah. Anfa meraih tangan Wisnu lalu mencium punggung tangannya.
“Nak Anfa. Ada apa malam-malam ke sini?”
“Rayi nya ada om? Saya mau bertemu dengan Rayi.”
“Kalau itu Anfa bilang aku ngga mau ketemu dia pa!!!” terdengar teriakan Rayi dari dalam kamarnya.
“Maaf nak Anfa, sepertinya Rayi sedang tidak enak suasana hatinya. Lebih baik kamu pulang saja. Bicarakan masalahnya besok saja saat keadaannya sudah tenang.”
“Iya om. Maaf sudah mengganggu malam-malam. Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Anfa kembali mencium punggung tangan Wisnu kemudian berjalan menuju motornya. Pemuda itu terdiam sebentar di atas tunggangannya baru kemudian memakai helmnya. Tak lama setelahnya memacu roda dua tersebut meninggalkan kediaman sang pujaan hati.
Tiba-tiba Anfa menegakkan tubuhnya lalu masuk ke kamar mandi. Dilepaskan semua pakaian yang membalut tubuhnya kemudian membiarkan air dari shower membasahinya. Tetesan air di atas kepalanya sedikit meredakan kepenatan yang terasa mencengkeram otaknya. Perlahan tangannya mulai membasuh tubuhnya, berusaha menghapus jejak tangan Angela di tubuhnya.
Usai mandi dan menunaikan shalat isya, Anfa menarik kursi di belakang meja kerjanya. Pemuda itu menyalakan laptop dan menenggelamkan diri dalam pekerjaan. Dirinya sibuk mengecek kembali proyek kerjasama dengan Angela juga proyek perusahaan Angela dengan kliennya.
Anfa menutup laptopnya kemudian berjalan menuju kasur. Terdengar helaan nafasnya saat punggungnya menyentuh permukaan kasur yang empuk. Perlahan pemuda itu menutup matanya karena rasa kantuk yang mendera.
Bunyi alarm mengejutkan Anfa, memaksa pria itu keluar dari mimpinya yang baru saja dua jam lalu dimulai. Dengan malas pemuda itu mengangkat tubuhnya kemudian berjalan menuju kamar mandi. Selesai dengan rutinitas di kamar mandi, Anfa memulai shalat shubuhnya. Dia memilih shalat sendiri di kamarnya.
Rahma memandangi wajah Anfa yang nampak lesu saat memakan sarapannya. Disentuhnya tangan Anfa, membuat sang empu menolehkan wajah ke arahnya. Rahma menyunggingkan senyuman hangatnya.
“Anak mama kenapa? Kok seperti lemah, lesu dan ngga bertenaga gitu. Kamu sakit?”
Teddy mengarahkan pandangan ke arah Anfa ketika mendengar ucapan sang istri. Adik dari menantunya itu memang terlihat tak bersemangat pagi ini. Kantung mata nampak menggelayut di bawah matanya.
“Kamu habis lembur Fa? Apa Abi memberimu banyak pekerjaan?”
“Ngga pa, cuma beresin tugas kuliah aja.”
“Kalau terlalu sulit, kamu bisa cuti dulu sampai pekerjaan di kantor sedikit melonggar. Atau minta Abi menambah staf untuk membantumu,” saran Teddy.
“Ish.. mama sama papa kaya ngga pernah muda aja. Anfa tuh bergadang bukan gara-gara kerjaan atau tugas kuliah. Dia bergadang karena ngga bisa tidur abis ribut sama Rayi, betul kan?” terka Sekar.
“Kamu ribut sama Sekar? Soal apa?” Rahma mulai penasaran.
“Soal apalagi ma kalau bukan karena pengen cepet-cepet dibawa ke penghulu. Halalin adek bang.. ayo bang..”
Sekar menduselkan kepalanya ke arah sang suami yang hanya dibalas dengan gelengan kepala saja. Senyum Anfa terbit melihat tingkah absurd Sekar. Wanita yang telah dianggap adik sendiri itu selalu bisa membuatnya tersenyum dan tertawa di tengah kepenatan harinya lewat banyolan atau sikapnya.
“Inget Se, kamu tuh lagi hamil sekarang. Gimana anak kita nanti kalau ibunya petakilan kaya gini.”
“Biar petakilan tapi abang cinta mati kan.. kan.. kan..” Sekar mengerlingkan matanya ke arah sang suami.
Tawa Anfa pecah juga melihat tingkah Sekar. Rahma tersenyum senang, karena putri bungsunya berhasil mengubah mood Anfa. Dengan cepat Anfa menghabiskan sarapannya kemudian pamit pergi. Dia bermaksud mengunjungi Rayi lebih dulu sebelum menuju kantor.
☘️☘️☘️
Anfa menghentikan motornya tepat di depan Rayi yang baru saja keluar dari rumah. Dengan cepat pemuda itu turun dari motornya kemudian menyusul Rayi yang hendak menghindarinya. Tangannya mencekal lengan sang kekasih kemudian menariknya pelan, membawanya sedikit menjauh dari rumah.
“Ray.. please kita harus bicara.”
__ADS_1
“Ngga ada yang perlu dibicarakan lagi. Semua udah jelas semalam.”
“Jelas apanya? Semua ngga seperti yang kamu lihat.”
“Kurang jelas apa Fa? Kamu berduaan dengan Angela di apartemennya. Aku mendapatimu dengan pakaian acak-acakan dan Angela yang hanya memakai da**man saja. Apa itu kurang jelas?!!”
Rayi meninggikan suaranya seraya mendongakkan kepalanya ke arah Anfa. Matanya menatap tajam ke arah netra sang kekasih. Sorot kekecewaan begitu jelas di dua bola matanya. Anfa menatap frustrasi pada sang kekasih. Dalam hati dia kecewa karena Rayi sama sekali tak mempercayainya.
“Rayi please dengerin aku dulu. Angela memang mencoba menggodaku tapi ngga terjadi apa-apa di antara kita Ray.”
“Ngga terjadi apa-apa katamu? Lalu bagaimana semua baju lepas darinya?”
“Dia yang melakukannya sendiri!”
“Dan kamu hanya diam saja begitu? Jangan membodohiku Fa. Kamu laki-laki normal, ngga mungkin kamu ngga merasakan apa-apa saat melihat dirinya hampir te**njang seperti itu.”
“Ok fine! Mungkin aku sempat tergoda atau terbawa suasana tapi sumpah ngga terjadi apa-apa di sana Ray.”
“Lalu tanda merah ini?” Rayi menunjuk bercak merah di leher Anfa. Kulit Anfa yang putih kontras dengan jejak ungu kemerahan yang ditinggalkan Angela.
“Kamu mau ngelak apa lagi Fa? Aku kecewa sama kamu Fa. Kamu yang menunda pernikahan, tapi kamu juga yang mengkhianati hubungan kita. Aku rasa ngga ada yang perlu dilanjutkan antara kita. Kamu bebas memilih siapa pun yang kamu inginkan, begitu juga dengan aku. We're breaking up (kita putus).”
Rayi menepiskan tangan Anfa kemudian berlari memasuki rumahnya. Anfa hanya bisa tergugu menatap kepergian kekasihnya. Dirinya seperti baru saja tersambar petir saat mendengar Rayi ingin mengakhiri hubungan mereka.
Anfa menarik nafas panjang kemudian berjalan menuju motornya. Dengan cepat dia memakai helmnya kemudian menjalankan tunggangannya dengan kecepatan tinggi. Pemuda itu mengarahkan kendaraannya menuju kantor Metro East.
☘️☘️☘️
Ruby terjengit saat Anfa membuka pintu ruangan dengan kasar. Matanya terus mengawasi pergerakan Anfa mulai dari masuk ruangan sampai duduk di belakang meja kebesarannya. Tangannya bergerak melonggarkan ikatan dasi yang terasa mencekik lehernya. Wanita itu menggelengkan kepalanya melihat wajah kusut atasannya. Ruby berdiri kemudian berjalan menghampiri Anfa dengan beberapa berkas di tangannya.
“Ini ada beberapa berkas yang harus dipelajari dan ditanda tangani,” Ruby menaruh berkas di atas meja.
“Kak.. soal proyek kerjasama dengan Angela tolong batalkan. Tolong hubungi juga PT. Wiraguna dan beberapa rekan bisnis yang kita rekomendasikan bekerjasama dengan Angela untuk membatalkan kerjasamanya.”
“Semuanya?”
“Ya.”
“Tapi bagaimana kalau pak Abi menanyakannya. Apalagi proyek dengan Angela akan dilaksanakan kurang dari seminggu.”
“Aku yang akan menjelaskannya pada pak Abi.”
“Ok.”
Ruby kembali ke mejanya dan mulai menjalankan apa yang diperintahkan atasannya. Anfa menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Tangannya memijat pelipisnya untuk meredakan rasa pusing yang mendera.
Anfa hampir saja terlelap saat Ruby mengetuk-ngetuk meja kerjanya. Dengan berat pemuda itu membuka matanya. Nampak Ruby sudah berdiri di depannya. Semua pekerjaan yang diperintahkan sudah selesai dikerjakannya.
“Aku sudah menyelesaikan semuanya sesuai permintaanmu. Sekarang kamu ditunggu pak Abi di ruangannya.”
“Makasih kak.”
Anfa berdiri dari duduknya. Sejenak dia merapihkan kemeja dan juga dasi yang dikenakannya. Kemudian dengan langkah mantap menuju ruangan Abi yang hanya berjarak beberapa meter saja dari ruangannya. Fadil segera membukakan pintu untuk pemuda itu.
Dengan tenang Anfa memasuki ruangan kemudian duduk di kursi yang ada di depan meja kerja Abi. Untuk beberapa saat Anfa masih menunggu Abi yang masih mempelajari berkas yang baru saja diberikan Ruby perihal pembatalan kerjasama dengan Angela. Abi menghentikan kegiatannya kemudian melihat ke arah Anfa.
“Jelaskan kenapa kamu memutuskan untuk membatalkannya?!” Abi membanting berkas ke atas meja.
☘️☘️☘️
**Haiisshh kalau udah berhubungan dengan beruang kutub, mamake mending melipir ah🚴🚴🚴
Eh balik lagi🚴🚴🚴🚴
Kemarin ada yg nanya kenapa Anfa yg harus jadi target ulet bulu?
Karena eh karena Anfa itu polos (bacanya sambil nyanyi ya pake nada bang Haji🤣).
Jadi kalau targetnya Abi atau Kevin, hasil akhirnya langsung kelihatan dong, ngga seru. Tapi kalau Anfa kan ada krenyes²nya gitu. Lumayan kan bikin kalian kesel dan gumush² gedeg gitu🤣
Terus ada lagi yang ngancem kalau Anfa kegoda ulet bulu bakalan ninggalin novel ini.
😱😱😱 sejak kapan kalian jadi mafia yang suka mengancam😌
Gini ya readers terkeceku, mamake sengaja kasih si ulet bulu sebagai bumbu penyedap aja karena rasanya kurang asin, kurang enak, kurang sedap kalau alurnya datar² aja kaya jalan tol Cipali. Kan enak tuh kalau kaya roller coaster, kadang teriak, kadang nahan nafas dan nahan angin🤭
Tenang aja, pelakor di sini ngga kaya pelakor di drama ikan terbang yg ngga ada matinya. Pelakor di sini sengaja dilambungkan tinggi untuk dihempaskan ke bumi🤭
Jadi tetap ikuti alurnya ya say...😉
So.. menurut kalian Anfa and Rayi bakalan balik lagi ngga?
BTW nih penampakan si ulet bulu yang bikin gedeg kalian**
__ADS_1
Kok dewasa sih wajahnya?? Ya iya dong, kan doi seumuran Jojo. Jadi, Anfa tuh ibarat BEBELAC alias berondong manis buat Angela🤭