KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Takut Khilaf


__ADS_3

Bulu mata lentik Ruby bergerak-gerak ketika mulai membuka matanya. Kelopak matanya kadang masih terbuka dan tertutup. Tak berapa lama kesadarannya mulai pulih. Dia memandang berkeliling. Tubuhnya terlonjak ketika menyadari berada di tempat yang asing.


Ruby terbangun di sebuah sofa. Beberapa pria yang menculiknya malam itu juga ada di sana. Mereka duduk di kursi tak jauh dari sofa yang ditiduri Ruby. Wanita itu langsung melihat ke tubuhnya. Dirinya dapat bernafas lega saat melihat pakaiannya masih utuh melekat di tubuhnya.


“Akhirnya kamu bangun juga putri tidur.”


Terdengar suara salah satu pria yang ada di sana. Ruby mengenali pria tersebut. Dia adalah orang yang menghadang jalannya waktu itu.


“Saya ada di mana? Kalian mau apa sebenarnya?”


“Kamu ada di markas kita. Kamu tidur sehari semalam setelah kita bius. Ck.. ck.. ck.. kalau ngga ingat ada yang sudah mau membelimu, mungkin kami sudah menerkammu berkali-kali hahaha..”


“Hahahaha..”


Tawa pria itu disambut tawa lain dari semua yang ada di sana. Ruby mulai bersikap waspada. Diambilnya bantal sofa lalu digunakan untuk menutupi tubuhnya. Ruby kembali memandangi sekelilingnya. Saat ini dia tengah berada di sebuah apartemen. Kemudian perhatiannya teralihkan saat pintu apartemen terbuka.


Seorang wanita bertubuh gempal, bermake up tebal masuk bersama seorang pria berusia sekitar tiga puluhan berjalan memasuki apartemen. Suara high heels yang dikenakan wanita itu terdengar saat bersentuhan dengan lantai. Mereka terus berjalan hingga kemudian berhenti di depan Ruby. Mata wanita itu memindai Ruby dari atas hingga bawah.


“Di mana kalian menemukannya?” terdengar suara wanita itu.


“Di jalan mam.”


“Hmm.. apa ada keluarga yang mencarinya?”


“Sepertinya ngga ada mam.”


“Bagus.. besok panggil Juwita ke sini. Suruh dia dandanin... siapa namamu?”


Wanita itu bertanya pada Ruby tapi hanya dibalas dengan kebungkaman saja. Ruby malah memalingkan wajahnya ke arah lain. Lelaki yang datang bersama wanita itu meraih rahang Ruby lalu mengarahkan wajah Ruby padanya.


“Jawab pertanyaan mami Elis! Dia adalah pemilikmu sekarang.”


“Cih.. aku bukan barang!”


“Hmm... kucing liar ternyata. Saya tidak perlu namanya. Mulai sekarang panggil saja dia Marimar. Besok suruh Juwita ke sini lalu suruh dia siapkan Marimar agar bisa melayani tamu spesial kita tiga hari lagi. Agung.. dia sekarang tanggung jawabmu.”


Wanita yang bernama Elis itu segera pergi setelah memberikan perintah pada pria yang bernama Agung. Sedikit demi sedikit Ruby mulai memahami situasi yang menimpanya saat ini. Belum sempat dia berpikir lebih jauh, Agung sudah meraih lengannya lalu menarik tubuh Ruby untuk mengikutinya.


Agung membuka pintu kamar lalu mendorong tubuh Ruby hingga terjatuh di kasur. Dia mendekat lalu menyentuh rahang wanita itu. Ruby melihat lelaki di depannya lekat-lekat. Wajah pria itu lebih manis dibandingkan para preman di luar. Sikapnya juga lebih tenang. dan pandangannya pada Ruby sulit diartikan.


“Siapkan dirimu dengan baik. Bisa jadi kamu akan menjadi kesayangan mami Elis.”


“Tolong keluarkan aku dari sini. Aku mohon, aku akan melakukan apapun asal kamu mau mengeluarkanku.”


“Menurutlah kalau kamu mau selamat.”


Agung melepaskan cengkeramannya dari wajah Ruby lalu keluar dari kamar. Ruby segera berlari menuju pintu. Sekuat tenaga dia berusaha membuka pintu kamar namun sia-sia. Dengan frustrasi digedornya pintu kamar.


“Buka!!! Buka!!!”


Beberapa kali Ruby menggedor pintu namun usaha sia-sia. Tubuh Ruby merosot ke bawah. Dia mulai menangis, kesal, marah dan takut bercampur menjadi satu.


☘️☘️☘️


Pintu kamar Nina terbuka setelah terdengar ketukan sebelumnya. Anfa masuk ke dalam, menghampiri Nina yang sedang duduk di sofa sembari memandangi cincin pernikahan yang masih berada di kotak beludru berwarna hitam. Anfa mendudukkan bokongnya di samping Nina.


“Itu cincin nikahnya? Bagus kak.”


“Hmm.. iya bagus. Mama Rahma yang pilihin.”

__ADS_1


“Mama Rahma baik banget ya kak. Kita yang bukan anggota keluarganya disayang banget. Aku kadang malu.”


“Iya.. kadang kakak juga merasa malu sama mama dan papa, mereka selalu bersikap baik. Alhamdulillah ya Fa, kita dipertemukan dengan orang-orang baik.”


Anfa menganggukkan kepalanya, tangannya meraih bahu Nina lalu merangkulnya. Semenjak bertemu kembali dengan Nina, hatinya tak pernah berhenti mengucap syukur.


“Kak.. tadi pak Kamal sama bi Murni keren loh foto pre wedding nya.”


“Au ah.. jangan bahas pre wed, kesel kakak jadinya. Rasanya pengen bejek-bejek calon kakak ipar kamu. Idenya itu loh.. kakak ngga berani ngebayangin reaksi temen-temen kakak lihat foto pre wed.”


“Hahaha.. emangnya cuma kakak yang jadi korban? Apa kabarnya aku sama Rayi yang jadi alien?”


“Ya tapi kan muka kalian ketutup kostum. Ngga kaya aku.”


“Tapi kak Na tetap cantik kok. Tadi aku lihat hasilnya, asli keren loh kak, beneran.”


“Masa?”


“Bener, keren jadinya. Kak Abi kelihatan ganteng, kak Na cantik, klop deh. Ide kak Abi tuh kadang nyeleneh tapi hasil akhirnya bagus. Kaya ke Rayi, walau kesannya maksa tapi hasilnya sekarang dia udah lancar manggil aku Anfa.”


“Emang gimana caranya?”


Anfa menceritakan tentang Abi yang memaksa Rayi mewiridkan namanya sampai seratus kali lima kali sehari. Bahkan gadis itu dipaksa mengirimkannya via voice note. Nina karuan terbahak mendengarnya. Dia benar-benar tak habis pikir dengan cara pikir calon suaminya itu.


“Kak.. nanti pas bulan madu jangan berhenti produksi ya. Siapa tahu pas pulang dapet kabar gembira gitu. Aku dapet calon ponakan.”


“Aaaaaaa....”


Terdengar jeritan Anfa ketika Nina menjewer telinga adiknya itu. Sepertinya sang adik sudah mulai terkontaminasi otak kotor Abi. Kedua kakak beradik itu terus berbincang. Terkadang terdengar gelak tawa mereka ketika mengingat pertengkaran di masa kecil, entah berebut makanan atau mainan.


Anfa merebahkan kepalanya di pangkuan Nina. Malam ini dia ingin memuaskan dirinya bermanja pada Nina. Besok saat dirinya sudah menyerahkan sang kakak pada Abi, dia tak akan bisa seintim ini lagi. Anfa cukup hafal karakter kakak iparnya yang posesif. Jangankan tidur di pangkuan, merangkulnya pun akan langsung mendapat lirikan maut.


Terdengar helaan nafas panjangnya seakan tengah mengeluarkan beban berat di hatinya. Kalau boleh jujur, saat ini dirinya tengah dilanda ketakutan. Abi bukan takut berkomitmen, tapi dia takut jika Nina akan berubah seperti Fahira dulu. Berkali-kali dia meyakinkan diri jika Nina bukanlah wanita seperti itu. Namun tak menampik ketakutan masih menggelayuti hatinya.


Abi menolehkan pandangannya ke arah samping kanannya ketika sebuah tangan menepuk pundaknya. Tampak Juna sudah berdiri di sampingnya. Belum ada pembicaraan di antara mereka. Juna sengaja menunggu sang adik berbicara lebih dulu. Tapi sepertinya mulut Abi tetap terkunci. Juna pun memilih mengalah.


“Kenapa Bi? Ada hal yang merisaukanmu?”


“Entahlah.”


“Apa kamu takut menghadapi hari esok?”


“Kak.. apa aku orang yang menyebalkan?”


“Kamu baru sadar?” Juna terkekeh.


“Apa aku semenyebalkan itu sampai Fahira mengkhianatiku?”


“Apa kamu masih mencintai Fahira?”


“Aku membencinya.”


Tanpa harus menjawabnya, Juna sudah tahu bagaimana perasaan sang adik pada mantan istrinya yang sudah bergelar almarhum itu. Kilat mata yang penuh amarah dan kebencian terlihat jelas di mata Abi ketika mendengar atau membicarakan wanita itu.


“Sikapmu sangat manis pada Fahira. Kamu tidak pernah berkata atau bersikap kasar padanya. Cintamu begitu besar padanya hanya saja wanita itu tak pernah menyadari ketulusanmu. Dia hanya memanfaatkan dirimu. Sedang Nina... kamu bersikap sangat menyebalkan padanya. Jika aku jadi Nina mungkin aku sudah memutilasimu,” Juna kembali terkekeh kemudian melanjutkan perkataannya.


“Tapi Nina itu gadis antik. Dia justru jatuh cinta karena sikap menyebalkanmu itu.”


“Apa benar dia mencintaiku kak?”

__ADS_1


“Apa kamu tidak bisa merasakannya? Apa kamu tidak bisa melihat dari caranya melihatmu?”


“Dulu aku juga menyangka Fahira mencintaiku. Tapi nyatanya sikapnya berubah setelah kami menikah. Aku takut, Nina juga berubah nantinya.”


“Jalanilah pernikahanmu maka kamu akan merasakan sendiri kalau ketakutanmu itu sia-sia belaka. Jangan menakutkan sesuatu yang belum terjadi. Percayalah kalau kali ini kamu tidak salah menjatuhkan pilihan.”


“Aku harap begitu kak.”


“Tapi sebenarnya ada yang membuatku cukup penasaran. Aku tahu kamu Bi. Kamu adalah laki-laki yang bisa menjaga diri. Selama berpacaran dengan Fahira kamu tidak pernah menyentuhnya. Jangankan mencium, berpegangan tangan saja tidak. Tapi kenapa saat bersama Nina kamu seperti soang lepas dari kandangnya hahahaha...”


Abi mendelik kesal pada kakaknya ini. Untung saja taman belakang hanya diterangi cahaya temaram. Wajah Abi yang memerah dapat tersamar lewat penerangan minim ini.


“Dia yang pertama menciumku kalau kakak lupa.”


“Dia tidak menciummu, hanya membantumu minum obat. Yang aku maksud di ruang terapi dulu.”


“Dia yang pertama menciumku karena ingin menghindari Danial.”


“Tapi kamu menikmatinya kan? Ck.. bahkan kamu yang lebih banyak mencium hahaha..”


Abi mendengus sebal, tapi dalam hati mengakuinya. Bukan hanya menikmati tapi dia juga ketagihan mencium bibir Nina yang terlihat seksi di matanya.


“Sudah masuk sana jangan berdiam di sini terus. Jangan sampai kamu kemasukan jin gagap. Bisa-bisa besok kamu jadi Azis Gagap saat akad nikah.”


Juna kembali tergelak. Ditepuknya bahu sang adik kemudian memutar badannya hendak kembali ke kamarnya.


“Fahira...”


Juna menghentikan langkahnya ketika kembali terdengar Abi. Dia membalikkan badan melihat ke arah sang adik yang juga tengah melihat ke arahnya.


“Dia tidak pernah membalas ciumanku walau hanya sekali. Tapi Nina.. dia memberiku perasaan lain saat menciumku dan membuatku ingin terus melakukannya.”


“Kalau begitu apa yang kamu takutkan? Dia mencintaimu. Kalau kamu masih takut dia akan berubah atau meninggalkanmu, hamili dia secepatnya.”


Juna melemparkan senyum ke arah sang adik kemudian meninggalkannya. Tak lama Abi pun beranjak dari halaman belakang. Dia berhenti di depan kamar Nina. Memandangi cukup lama pintu yang tertutup rapat itu. Abi melangkah menuju kamarnya. Dia terkejut melihat Nina sedang duduk menunggunya di dalam kamar.


“Kamu kemana aja sih mas? Aku tungguin dari tadi.”


“Ada apa?”


“Ini cincin pernikahan kita, kamu saja yang memegangnya. Masa aku yang pegang.”


Nina menyerahkan kotak beludru di tangannya. Abi mengambil kotak tersebut lalu membukanya. Ini pertama kalinya dia melihat cincin pernikahannya. Dipandanginya kedua cincin itu sejenak kemudian menutup kembali kotak tersebut.


“Nin.. apa kamu yakin mau menikah denganku? Kalau kamu ragu, lebih baik tidak usah diteruskan.”


“Maksud mas Abi apa sih? Aku ngga ragu dengan keputusanku. Atau jangan-jangan mas Abi yang ragu menikah denganku?”


“Aku tidak ragu Nin. Aku hanya takut kamu berubah setelah pernikahan kita nanti. Jadi sebelum semuanya terlambat, kita akhiri aja semu....mmpphh.”


Abi tak bisa melanjutkan ucapannya karena Nina telah menyumpal mulut pria itu dengan bibirnya. Abi berusaha melepaskan diri, namun Nina tak membiarkannya. Dia memegangi tengkuk Abi untuk memperdalam ciumannya. Abi menyerah, dia mengikuti permainan bibir Nina. Keduanya saling me**mat dan memagut, bahkan lidah keduanya sudah saling menaut dan menarik. Ciuman keduanya berakhir saat hampir kehabisan oksigen.


“Kunci rapat-rapat pintumu mas. Aku takut nanti malam aku khilaf lalu masuk ke kamar dan memperkosamu.”


Abi terkejut mendegar ucapan Nina. Dia hanya menatap gadis itu tanpa berkedip. Nina mengusap rahang Abi seraya mengedipkan matanya kemudian keluar dari kamar calon suaminya. Bibirnya menyunggingkan senyum kepuasan berhasil membuat Abi shock dengan kata-katanya.


☘️☘️☘️


**Weh Ruby mau dijadiin wanita penghibur nih sama mami Elis. Eliiisss.. peace ah✌️🤣

__ADS_1


Bagus Nina, jangan Abi Mulu yang ngerjain, kali² dia perlu dikerjain juga😂**


__ADS_2