KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Season 2 : Pernikahan Estafet #3


__ADS_3

Selesai sarapan pagi, Aric kembali membawa Naya kembali ke kamar. Tujuan utamanya sarapan bersama keluarga sudah tercapai, yakni meledek calon pengantin pria. Habis Fathan menjadi bulan-bulanan para sahabatnya. Bahkan kedua orang tuanya pun tak berbuat apa-apa, selain ikut menertawakan anaknya itu.


“Abang tega banget sih sama bang Fathan tadi,” ujar Naya begitu mereka masuk ke dalam kamar.


“Biarin, hitung-hitung uji mental,” Aric terkekeh.


Naya terjengit ketika Aric memeluknya dari belakang. Dadanya berdebar ketika Aric menyampirkan rambutnya kemudian mulai menyusuri tengkuk dan lehernya dengan bibir. Naya hanya bisa pasrah menerima sapuan lembut itu, matanya terpejam seraya bibirnya mengeluarkan des*han maja.


Tangan Aric kemudian bergerak naik ke atas kemudian meremat bukit kembar sang istri yang masih terbukus utuh dan terlapisi dress yang dikenakannya. Kemudian dia membalik tubuh Naya dan mel*mat bibirnya. Bunyi decapan memenuhi seantero kamar saat ciuman keduanya semakin dalam dan menuntut. Tanpa melepaskan pertautan bibirnya, Aric menurunkan resleting dress yang ada di bagian belakang. Setelahnya melepaskan kaitan bra, hingga dirinya bebas mengusap punggung mulus itu.


Aric terus membuai istrinya dengan ciuman panasnya. Kini lidah mereka sudah bermain-main, saling menarik dan membelit dan berbagi saliva. Naya pun tak sadar jika dress yang dikenakannya sudah luruh jatuh ke bawah dan penutup bukit kembarnya juga sudah berpindah ke lantai.


Suasana di antara keduanya semakin panas dan liar. Kalau semalam Naya hanya pasrah menerima yang dilakukan suaminya, kini dia sudah berani meraba tubuh Aric kemudian melepaskan kaos yang dikenakan. Jarinya menelusuri dada bidang Aric sampai ke area perut yang bentuknya mirip roti sobek. Aric menggendong sang istri, membawanya menuju ranjang seraya memagut bibirnya.


Pria itu mendudukkan diri di sisi ranjang. Cumbuan mereka terus berlanjut. Kepala Naya terdongak ketika Aric terus menciumi leher, bahu hingga ke bulatan kenyalnya. Sesekali des*han keluar dari bibir wanita itu. Dia juga bisa merasakan ada yang menonjol, menusuk bokongnya. Keduanya mulai terbakar hasrat, udara di sekitar mereka berangsur menjadi hangat.


Aric menggerakkan pinggulnya setelah berhasil menerobos gawang Naya untuk kedua kalinya. Semalam dia hanya melakukannya sekali karena tak ingin membuat Naya kesakitan dan kelelahan. Namun tidak pagi ini, dia ingin kembali merasakan surga dunia untuk kedua kalinya. Durasi permainannya kali ini pun lebih lama dan mulai berani mempraktekkan gaya yang berbeda. Aric bukan pemuda polos yang tidak tahu apa-apa. Beberapa kali dia menonton film dewasa sebelum hari pernikahannya tiba dan membuatnya harus berkencan dengan nona lifebuoy.


Terdengar lenguhan Naya ketika wanita itu kembali meraih pelepasannya untuk yang kedua kali. Tubuhnya sudah merasa lelah namun sang suami masih terus memompa miliknya. Belum ada tanda permainan suaminya akan usai. Cumbuan Aric kembali berhasil membuatnya kembali on fire. Di sisa tenaganya, wanita itu berusaha terus melayani sang suami. Hingga kemudian terdengar erangan Aric ketika berhasil sampai ke puncaknya. Lahar panas miliknya menyerbu masuk ke dalam rahim Naya.


Usai percintaan panas mereka, Aric menciumi perut rata Naya, berharap aktivitas mereka barusan bisa membuatnya cepat memiliki momongan. Pria itu memang tidak mau menunda untuk mendapatkan keturunan. Dia ingin segera menyusul Kenzie yang akan menjadi seorang ayah.


“Makasih Nay.. sayangku, love you,” Aric mencium kening Naya dengan lembut. Dibopongnya tubuh sang istri lalu membawanya ke kamar mandi. Usai membersihkan sisa-sisa percintaan, keduanya kembali berbaring di kasur. Aric menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka. Sejenak mereka beristirahat sambil menunggu waktu akad pengantin estafet ketiga yang akan dilaksanakan siang nanti.


☘️☘️☘️


Suasana ballroom mulai didatangi anggota keluarga calon pengantin. Sekitar lima belas menit lagi, akad nikah akan segera dimulai. Mereka masih menunggu sang penghulu yang masih dalam perjalanan. Sebenarnya Juna sudah menawari petugas KUA itu untuk menginap di hotel, agar tidak bolak balik, namun ditolaknya dengan halus karena pagi harinya dia juga harus menikahkan dua pasangan lain di tempat yang berbeda.


Aric menjemput Naya di kamar yang khusus dipakai untuk merias pengantin dan para pengiringnya. Istrinya itu nampak cantik dalam balutan kebaya modern berwarna hijau tosca. Sambil menggandeng tangannya, pia itu membawa Naya memasuki lift. Tubuh Aric terlihat bugar, wajahnya juga nampak segar karena saat mandi bersama dia kembali menambah pasokan semangat dengan memasuki gua istrinya lagi. Total dia sudah mencetak gawang sebanyak tiga kali alias hattrick.


Mata Aric langsung tertuju pada Fathan yang terlihat mondar-mandir menunggu petugas yang akan menikahkannya. Rasa gugup dan cemasnya bertambah berkali-kali lipat menuju detik-detik pengucapan ijab kabul. Ketegangan dirasakan begitu kental, sampai telapak tangannya berkeringat. Agung yang mengerti kegugupan sang anak segera menghampirinya.


“Jangan gugup, tarik nafas dalam-dalam. Ayah yakin kamu pasti,” Agung menepuk pelan bahu anaknya ini.


“Aku takut salah sebut, yah.”


“Emang kamu punya perempuan lain?”


“Ngga.”


“Terus apa yang bikin takut salah sebut? Jangan menakutkan hal-hal yang belum terjadi, takutnya kamu jadi tersugesti dan benar terjadi.”


“Iya, yah.”


Akhirnya yang ditunggu datang juga, penghulu yang sama telah datang dan bersiap untuk menikahkan calon pengantin estafet yang ketiga. Juna menyambut kedatangan pria bertubuh sedikit tambun itu, kemudian mengajaknya langsung ke meja akad. Semua yang ada di ballroom segera mendekati meja akad untuk melihat peristiwa bersejarah itu dari dekat.


Dari arah pintu masuk ballroom, nampak Kenan datang sambil menggandeng seorang gadis cantik. Karena cintanya sudah diterima oleh Zahra, dia tak ragu untuk membawa gadis pujaannya itu menyaksikan akad nikah kakak sepupunya. Sekaligus untuk memperkenalkan Zahra pada orang tua dan keluarga besarnya. Dan tentu saja untuk memproklamirkan diri kalau dirinya sudah tidak jomblo lagi.


Pemuda itu membawa Zahra terus mendekati kerumunan lalu berhenti di dekat Freya. Melihat tautan tangan sang adik dengan gadisnya, Freya tahu kalau Kenan sudah berhasil mendapatkan hati Zahra. Sebuah senyuman tersungging di wajahnya. Senang rasanya rencananya berhasil untuk menyatukan kedua orang itu. Kenan mencondongkan tubuhnya ke dekat Freya.


“Makasih kak,” bisik Kenan di telinga Zahra dan wanita itu hanya mengangkat jempolnya saja.


Di meja akad, semua yang berkepentingan sudah duduk bersama. Fathan duduk berhadapan dengan Juna. Sedang di kanan kirinya duduk Beno sebagai saksi dari pihak Agung dan Kevin sebagai saksi dari pihak Juna. Sang penghulu memberi tanda pada Juna untuk memulai prosesi akad. Pria bersahaja itu menggenggam tangan Fathan. Dia tersenyum tipis saat merasakan telapak tangan calon menantunya begitu dingin.


“Ananda Fathan Gundhya, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya, Azra Maharani Hikmat binti Perwira Arjuna Hikmat dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan uang sebesar seratus dua puluh tujuh juta rupiah dibayar tunai!”


“Saya terima nikah dan kawinnya Ezra…”


Kalimat Fathan terhenti begitu saja ketika dirinya salah menyebut nama mempelai wanita. Dalam hatinya merutuki, ucapan Kenzie tadi pagi menjadi kenyataan. Para sahabatnya berusaha sekuat tenaga untuk menahan tawa, agar prosesi akad tidak kacau balau.


“Silahkan ulang. Tarik nafas dalam-dalam,” nasehat sang penghulu yang langsung dijalankan oleh Fathan. Melihat kondisi Fathan sudah tenang, Juna kembali mengulang kalimatnya.


“Ananda Fathan Gundhya, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya, Azra Maharani Hikmat binti Perwira Arjuna Hikmat dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan uang sebesar seratus dua puluh tujuh juta rupiah dibayar tunai!”


“Saya terima nikah dan kawinnya Azra Maharani Hikmat binti Perwira Arjuna Hikmat dengan mas kawin tersebut tunai!”


“Sah para saksi?”


“SAAAAAHHHHH…”


Suara Kevin dan Beno tenggelam di antara ucapan sah dari para sahabat konyol Fathan yang kemudian disusul dengan gelak tawa.


“Cinta mati lo sama gue, Than. Gue masih normal oii!!” seru Ezra.


“Malu-maluin gue, lo!!” celetuk Kenzie.


“Ya salam kayanya cinta terpendam tuh,” sahut Aric.


“Jangan-jangan lo ngebayangin Ezra yang pake kebaya, hahahaha,” sambung Barra.


“Lo mau main pedang-pedangan ama Ezra,” lanjut Ravin.


“Yang sabar bang. Tunjukkan kalau abang penyuka apem, bukan batang,” timpal Kenan.


Gelak tawa kembali terdengar. Membuat wajah Fathan semakin memerah. Ingin rasanya dia berbalik dan memaki satu per satu sahabat durjananya yang menjadikannya bahan bullyan. Zahra sampai ternganga melihat acara akad nikah yang awalnya begitu khidmat, tetiba hancur berantakan gara-gara celotehan absurd para pria tersebut. Baru kali ini dia menyaksikan akad nikah yang diakhiri dengan kehebohan.


Kekesalan Fathan mereda saat melihat wanita yang baru saja dibayar tunai olehnya. Matanya memandang sang istri tanpa berkedip. Ezra sampai harus menyenggol pria itu karena tidak bisa mengontrol wajahnya dengan mulut sedikit menganga. Biasanya Azra hanya berdandan seadanya, sedang sekarang dengan riasan pengantin tentu saja membuatnya pangling.

__ADS_1


Fathan tersadar dari lamunannya ketika Nadia dan Ruby mendudukkan Azra di sampingnya. Sesaat pria itu nampak linglung mencari-cari kotak beludru yang berisi cincin nikah. Agung hanya menepuk keningnya melihat sang anak. Ezra menyodorkan kotak beludru yang memang sedari tadi dititipkan Fathan padanya. Azra tersenyum kecil melihat kegugupan suaminya ini.


Dengan tangan bergetar Fathan menyematkan cincin ke jari manis Azra, disambung dengan sang istri yang melakukan hal yang sama. Azra lalu meraih tangan Fathan dan mencium punggung tangannya. Bukannya mencium kening, pria itu malah memeluk Azra. Sontak hal tersebut kembali memancing keributan.


“Woi.. cium keningnya, bukan dipeluk, astaga!” teriak Ravin.


“Jangan malu-maluin gue, Than,” seru Kenzie.


“Ambyar wes ambyar,” sahut Aric.


“Kasihan jidat adek gue ngga laku,” sambung Ezra.


“Nasib lo, Ez, punya adik ipar model begini hahahaha,” lanjut Barra.


“Makanya kalah hompimpah sama suit karena ini kali ya,” tutup Kenan.


Fathan mendelik sebal pada para sahabatnya. Dia kemudian mencium kilat kening Azra lalu membalikkan posisi tubuhnya menghadap penghulu. Juna dan juga kedua saksi hanya mengulum senyum saja, sedang pak penghulu malah terpingkal. Dari ketiga pasangan hanya Fathan yang groginya maksimal. Padahal dia sudah melihat dua pernikahan sebelumnya yang bisa dijadikan contoh.


Acara selanjutnya dilakukan dengan cepat. Sang penghulu juga tidak berlama-lama memberikan tausyiah dan segera pergi begitu kedua pengantin selesai menandatangani dokumen pernikahan. Dia masih harus menikahkan pasangan lain di dua tempat berbeda.


Setelah sang penghulu undur diri, kedua pengantin mulai melakukan ritual sungkeman pada para orang tua. Mereka terlebih dulu menghampiri Juna dan Nadia. Baik Azra maupun Fathan, bersimpuh bersamaan di depan mereka.


“Bunda bahagia melihat kalian akhirnya bisa dipersatukan dalam ikatan pernikahan. Ingatlah kalau pernikahan adalan ibadah terpanjang kalian selama hidup. Jalanilah biduk rumah tangga dengan saling percaya, saling menyayangi dan saling menjaga satu sama lain. Tunaikan hak dan kewajiban kalian dengan baik. Azra, patuhilah suamimu, dia adalah imammu sekarang. Fathan, jagalah istrimu, bimbinglah istrimu dengan kelembutan.”


“Iya, bunda,” jawab Azra dan Fathan bersamaan.


“Fathan, titip anak ayah, ya. Azra itu hatinya lembut, dia tidak terbiasa mendengar nada suara tinggi dan kasar. Terkadang juga dia masih manja, harap bersabar dengannya. Kalau dia melakukan kesalahan, tegurlah dengan baik, tanpa kekerasan. Azra, sekarang kamu sudah menjadi seorang istri. Prioritas utamamu adalah suamimu, taati dia selagi membawamu dalam kebaikan, tegurlah jika dia melakukan kesalahan. Namun tetap jangan pernah meninggikan suaramu padanya.”


“Iya ayah.”


Kedua pengantin itu mencium punggung tangan Nadia dan Juna bergantian. Kedua orang tua itu pun memeluk anak dan menantunya sebagai balasan atas penghormatan yang diberikan. Selanjutnya Azra dan Fathan menuju Agung dan Ruby. Mata Ruby tak berhenti mengeluarkan airmata. Teringat perjalanan hidupnya yang tak mudah sampai akhirnya bertemu dengan Agung dan memiliki Fathan.


“Fathan, Azra, ibu akan selalu mendoakan kalian. Semoga rumah tangga kalian sakinah mawaddah warohmah. Diberikan keturunan yang soleh dan solehah. Dikuatkan ikatan cinta kalian sampai maut memisahkan.”


“Aamiin.”


“Selamat datang di keluarga kami, nak Azra. Sekarang kami juga orang tuamu, jangan sungkan untuk berbagi keluh kesah dengan kami. kalau Fathan memperlakukanmu dengan buruk, katakan saja pada ayah. Fathan, sekarang tanggung jawabmu bertambah. Ada istri yang harus kamu nafkahi lahir dan batin. Jangan pernah menyakiti istrimu, karena dia adalah surgamu dan ibu dari anak-anakmu nanti.”


“Iya, ayah.”


Ruby memeluk Fathan dengan erat. Airmatanya kembali luruh. Dirinya bersyukur sang anak bisa mendapatkan wanita yang baik sebagai pendamping. Kemudian dia juga memeluk Azra, diciumnya kening menantu satu-satunya itu. Agung menepuk pelan punggung sang anak saat memeluknya seraya merangkul bahu Azra.


Setelah menerima nasehat dari orang tua dan para tetua yang lain. Kini giliran Fathan menemui pada sahabatnya. Spontan Kenzie, Ravin dan Aric duduk berendengan di kursi saat melihat sang sahabat yang baru melepas masa lajangnya berjalan ke arah mereka. Kening Fathan berkerut melihat aksi ketiga sahabatnya itu.


“Ngapain lo pada?” tanya Fathan bingung.


“Ogaah… males banget.”


Fathan segera pergi dari hadapan ketiga sahabat durjananya itu. Melihat kekesalan Fathan, ketiganya malah terpingkal. Puas sekali rasanya mengganggu pengantin baru yang terus saja melakukan hal yang memancing jiwa usil mereka. Pria itu menarik tangan Azra menuju meja prasmanan. Perutnya tiba-tiba saja terasa lapar sehabis menjalani serangkain acara yang menguras tenaga juga hatinya.


Di saat pasangan pengantin dan yang lainnya tengah menikmati hidangan makan siang, Kenan membawa Zahra menuju meja di mana terdapat Abi, Nina, Kevin juga Rindu. Keempatnya memang menikmati hidangan di meja yang sama. Di meja tak jauh dari mereka nampak Juna, Nadia, Agung dan Ruby. Dan di meja sebelah, Jojo, Adinda, Cakra dan Sekar tengah makan bersama.


“Ma.. pa.. om.. tante, kenalin ini Zahra,” ujar Kenan.


Zahra menyalami dan mencium punggung tangan keempat orang itu satu per satu. Nina yang sudah mengenal Zahra, mengajak gadis itu untuk duduk di sebelahnya.


“Gimana kabarnya?” tanya Nina.


“Alhamdulillah, baik, tan.”


“Nan, siapa tuh? Cantik bener?” tanya Rindu.


“Calon makmum, tante. Cantik, kan? Cocok sama aku yang ganteng,” jawab Kenan jumawa. Zahra hanya tersipu malu.


“Narsis,” desis Abi.


“Kan turunan narsis juga dapetnya dari papa,” balas Kenan tak mau kalah.


Freya yang melihat Zahra tengah duduk bersama orang tua dan mertuanya, bergegas menghampiri. Kevin segera melambaikan tangannya pada Freya lalu menepuk kursi kosong di sebelahnya.


“Sini, Frey.. duduk samping papa,” ujar Kevin.


“Jangan, duduk dekat papa aja,” protes Abi.


“Aduh papaBi sama papaKe jangan ribut dong,” sahut Freya.


“Ngga enak banget, Frey dengernya. Jangan papaKe, papaJang aja manggilnya,” Kevin langsung melotot, sedang Abi hanya terkekeh.


“Kok papaJang?” tanya Freya bingung.


“Awas ya Bi,” Kevin mengepalkan tangannya ke arah besannya itu membuat Abi semakin terpingkal. Untuk membalas sahabatnya itu, Kevin menarik tangan Freya hingga duduk di sampingnya.


“Udah makan belum?” tanya Kevin.


“Baru nyemil aja.”


“Makan nasi, jangan nyemil. Mau papa ambilin?”

__ADS_1


“Iih.. ngga usah pa. Masa papa yang ambilin makanan buatku. Harusnya aku yang ngurus papa.”


“Tuh.. denger, Bi.”


“Gitu ya, Frey. Kamu udah ngga sayang sama papa, mentang-mentang udah punya papaJang,” protes Abi.


“Ya ngga dong. PapaBi kan tetap pria nomer satu di hatiku,” Freya bangun dari duduknya kemudian menghampiri Abi. Dipeluknya leher sang ayah seraya mendaratkan ciuman di pipi.


“Tenang aja, pa. Bentar lagi juga ada yang ikutan manggil papa, ya ngga?” Kenan melihat ke arah Zahra seraya menaikturunkan alisnya, membuat wajah gadis itu bersemu merah.


“Emangnya Zahra mau sama kamu? Udah mulutnya kaya kompor mledug, gayanya kaya belatung nangka,” seloroh Nina.


“Ya salam mama. Tega bener menjatuhkan pesona anak bungsunya ini. Punya anak ganteng kok disebut belatung nangka.”


“Gantengan juga papa, wlee,” Freya menjulurkan lidahnya ke arah Kenan.


Suara tawa langsung memenuhi meja mereka. Hati Zahra menghangat melihat sikap ramah keluarga Kenan padanya. Dia bertambah yakin untuk melabuhkan hati pada pemuda itu. Jika menikah dengan Kenan, setidaknya dia akan memiliki keluarga yang utuh.


Tak berselang lama, Kenzie dan Nara datang. Dia menarik Freya menjauh dari Abi kemudian mendudukkan Nara di samping papanya itu. Kevin langsung menarik Freya untuk kembali duduk di dekatnya.


“Pa.. nih menantu papa minta disuapin sama papa katanya. Ck.. papa pake pelet apa sih sampe istriku pengennya disuapin papa, bukan aku,” ujar Kenzie seraya menyerahkan piring di tangannya pada Abi.


“Oh ya jelas, pesona papa itu tidak ada duanya dan tidak lekang dimakan zaman.”


“Narsis,” seru Nina, Kevin, Kenzie dan Kenan bersamaan.


Tanpa mempedulikan protesan mereka, Abi mulai menyuapi Nara. Mata Zahra memanas, seandainya dia yang ada di posisi Nara, mungkin akan sangat bahagia. Jojo yang melihat sang anak tengah disuapi Abi ikutan nimbrung.


“Ya ampun Ra, kenapa kamu malah minta disuapin papaBi sih? Mending sama papa aja.”


“Dede utun yang minta papa,” jawab Nara seraya mengusap perutnya.


“Itu tandanya, Nara lebih sayang sama papa mertuanya daripada bapak aslinya.”


“Duh, Ra. Sakitnya di sini loh,” Jojo menunjuk dadanya.


“Lebay,” seru Abi dan Kevin.


Kembali terdengar suara tawa mereka. Zahra memalingkan wajahnya seraya menyusut sudut matanya yang berair. Hal itu tertangkap oleh Nina dan Kenan.


“Kenapa Zahra?” tanya Nina lembut.


“Kayanya dia laper, ma. Yuk kita makan dulu, nanti makannya jangan di sini. Gabung sama yang tua bisa terkontaminasi otak kamu.”


Kenan bergegas pergi seraya menarik tangan Zahra sebelum semburan terdengar dari mulut para tetua. Keduanya lalu menuju meja prasmanan untuk mengambil makanan, kemudian menuju meja yang ditempati para sahabatnya. Kenan menarik kursi di samping Anya untuk Zahra.


“Eh.. ada suntik,” goda Haikal.


“Mana Revan?” tanya Kenan.


“Lagi mepet anaknya om Dendi.”


“Dih, anaknya om Dendi kan masih cabe-cabean.”


“Kaga apa-apa, anggap aja investasi jodoh hahaha,” jawab Irvin asal.


Suasana berbeda kembali di dapat Zahra. Duduk bersama para sahabat Kenan yang kerap melontarkan candaan absurd dan terkadang berbicara tanpa saringan membuatnya merasa semakin nyaman berada di lingkaran Kenan.


“Vin, kapan nyusul?” tanya Viren pada Irvin.


“Nyusul apaan?” tanya Anya.


“Ya nyusul ketemu penghulu, lah. Masa nyusulin gue bulan madu.”


“Emang lo bulan madu kemana?” tanya Irvin.


“Ke pulau Rinca. Nyikatin gigi komodo biar kinclong kalo diajak foto sambil senyum bareng ama dia huahahaha,” jawaban absurd Kenan sontak memecah tawa di antara mereka.


“Heleh.. paling bulan madu lo, ngga jauh dari pulau kapuk,” sambung Irvin.


“Heh.. yang utama itu,” jawab Viren yang langsung membuat pipi Alisha memerah.


“Kalo lo kapan, Nan?”


“Kata ayang mbeb, gue harus beresin kuliah dulu terus kerja baru ngelamar dia.”


“Dih gatel kuping gue denger panggilannya,” Haikal mengorek kupingnya.


“Sirik aja lo!”


Kenan melemparkan kulit pisang yang ada di meja pada Haikal dan sukses mendarat tepat di wajah sepupunya itu. Anya yang sedang minum langsung menyemburkan minumannya dan cipratannya mengenai Haikal. Sontak pemuda itu misah misuh dan berlari keluar ballroom untuk berganti pakaian.


☘️☘️☘️


**Akhirnya pasangan estafet beres juga ketemu penghulu.


Terima kasih buat ucapan selamat ulang tahun dan doa²nya. Maaf ngga bisa balas komen kalian satu per satu. Tapi yg jelas mamake lope² kalian segede kebon singkong gajah😘😘😘**

__ADS_1


__ADS_2