KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Tergoda


__ADS_3

Pukul setengah dua siang Nina dapat kembali ke kamar tempat dirinya dirias tadi. Dia sengaja melewatkan makan siang karena tubuhnya sudah tak tahan menahan berat gaun pengantin. Ditambah lagi dengan high heels yang serasa mencengkeram betisnya. Anak buah madam Lee membantu Nina melepaskan gaun pengantin. Dia segera berganti pakaian dengan dress selutut, rasanya begitu melegakan.


Esme masuk ke dalam kamar kemudian mendudukkan Nina di meja rias. Dia membantu Nina menghapus make up di wajahnya. Begitu pula dengan rambut Nadia sudah kembali tergerai. Setelah tampilannya kembali seperti semula, Nina memutuskan untuk shalat dzuhur terlebih dulu.


“Cyiin.. makan bareng ekkeh yuk. Ekkeh juga belum makan,” ajak Esme ketika Nina sedang melipat mukena.


“Nanti aja, aku masih kenyang. Aku mau istirahat dulu, ngelurusin punggung.”


“Jangan nunda makan, iyey harus siapin tenaga kalau tiba-tiba laki iyey nerkam gimana.”


“Sekarang masih siang neng Esme, paling tar malem belah durennya,” salah seorang anak buah madam Lee menimpali, membuat wajah Nina merona.


“Eh siapa tahu aja mamase udah ngga kuat terus langsung menyerang aawww.. kok ekkeh jadi merinding ngebayanginnya.”


Nina hanya menggelengkan kepalanya. Cepat-cepat dia membereskan peralatan shalatnya, rasanya dia ingin cepat menghilang dari kamar yang penuh dengan aroma kemesuman. Naas, saat akan keluar kamar, Nina bertabrakan dengan salah seorang rekan Esme yang sedang membawa sop buah di tangannya. Alhasil sop buah tersebut tumpah di dress yang Nina kenakan.


“Ya ampun mba Nina maaf..”


“Eh iya, ngga apa-apa salah saya juga. Kayanya emang harus mandi hehehe. Aku balik dulu ke kamar ya.”


Nina bergegas menuju kamar pengantin yang berada tiga lantai di atas kamar riasnya. Tubuhnya yang sudah lengket oleh keringat bertambah lengket dengan air gula yang melekat di bajunya. Sesampainya di lantai 17, dia segera menuju suite room yang terletak di paling ujung.


Baru saja Nina akan memencet bel, pintu kamar sudah terbuka. Muncul Abi dari dalamnya. Sehabis dari resepsi, Abi memang langsung menuju kamar pengantin untuk berganti pakaian juga shalat. Keningnya berkerut melihat pakaian Nina yang basah.


“Kamu kehujanan di mana?”


“Kena hujan lokal.”


Nina menerobos masuk kemudian segera masuk ke ruang tidur kemudian menuju kamar mandi. Abi memilih ke dapur untuk membuat minuman dingin. Makan siang untuk mereka sudah tertata di meja. Pria itu menunggu sang istri untuk makan bersama.


Nina melepaskan semua pakaian yang melekat di tubuhnya lalu segera menuju shower untuk membasuh tubuhnya. Tak butuh waktu lama untuk Nina membersihkan tubuhnya. Dia ingin segera mengisi perutnya bersama Abi. Karena terburu-buru masuk ke kamar mandi, Nina lupa membawa pakaiannya. Akhirnya dia hanya menggunakan handuk yang dililitkan menutupi tubuh bagian atas hingga pahanya.


Perlahan Nina membuka pintu kamarnya. Kepalanya keluar lebih dulu untuk melihat situasi. Setelah dirasa aman, Nina keluar lalu segera menuju lemari. Dikeluarkannya koper yang ada di lemari. Nina berjongkok agar mempermudah dirinya membuka koper. Sialnya resleting kopernya sulit sekali untuk dibuka.


Abi masuk ke ruang tidur. Dia cukup terkejut melihat Nina yang hanya terbalut handuk tengah berusaha membuka koper. Pria itu menelan ludahnya kelat melihat penampilan sang istri yang begitu menggoda. Didekatinya Nina lalu dengan satu tarikan, dibukanya resleting koper tersebut.


Nina terjengit melihat Abi sudah ada di dekatnya. Dia segera pergi untuk bersembunyi di kamar mandi. Namun belum sempat pergi, Abi sudah memeluknya dari belakang. Jantung Nina seperti ingin loncat dari tempatnya saat wajah suaminya itu berada dekat dengan lehernya. Hembusan nafas Abi menerpa pori-pori kulitnya, menghantarkan gelanyar aneh ke seluruh tubuhnya.


“Mau kemana hmm..”


“Ma.. mau pa.. pake baju.”


“Pake di sini aja, kenapa harus ke kamar mandi.”


“Ma.. malu ma..s”


“Mana perempuan yang dulu takut khilaf mau memperkosaku hmm..”


Nina mengatupkan rapat-rapat mulutnya. Dalam hatinya merutuki kenapa malam itu dia berani menggoda Abi seperti itu. Kepala Abi mulai bergerak menyusuri leher jenjang Nina. Sebuah gigitan kecil diberikan di telinga istrinya yang disusul dengan kecupan di sana. Mata Nina terpejam, tubuhnya seperti baru sengat aliran listrik ribuan volt.


Bibir Abi terus bergerak menelusuri tengkuk juga bahu Nina yang terbuka. Awalnya dia hanya ingin menggoda sang istri, namun aroma sabun yang menyeruak di indra penciumannya ditambah kulit halus Nina membuat sesuatu di dalam dirinya bangkit. Abi semakin tak bisa mengontrol pergerakannya.

__ADS_1


Tangan Abi yang tadinya berada di perut perlahan naik ke atas kemudian berhenti di depan dada Nina. Dirematnya bulatan kenyal yang masih tertutup handuk membuat sang empu mend**ah. Bibir Abi kembali menciumi leher Nina, memberikan sesapan kencang hingga meninggalkan jejak di kulit putih itu. Tangannya semakin nakal meremat bukit kembar sang istri. Nina merebahkan kepalanya di dada Abi, tak dipungkiri dia begitu menikmati sentuhan suaminya.


Abi membalikkan tubuh Nina hingga berhadapan dengannya. Lalu bibirnya menyambar bibir Nina. Dengan rakus dia mel*mat bibir yang telah menjadi candu untuknya. Lidahnya menerobos masuk ke rongga mulut Nina, mengabsen semua yang ada di dalamnya. Nina yang sudah terbuai ikut membalas ciuman Abi tak kalah panas.


Nina mengalungkan tangannya ke leher Abi. Ciuman mereka semakin dalam dan menuntut. Lidah keduanya sudah saling menarik dan menaut. Tangan Abi bergerak melepaskan simpul handuk. Seketika kain yang membalut tubuh Nina luruh jatuh ke lantai. Abi mengakhiri ciumannya lalu bibirnya mulai menyesap bukit kembar sang istri. Terdengar de**han Nina, tangannya menjambak rambut Abi bahkan menekan kepala suaminya itu agar memperdalam kul*mannya.


Pergerakan bibir Abi terus ke bawah menuju perut Nina sedang kedua tangannya masih bermain di bukit kembar. Pergerakan Abi terus menurun hingga kini dirinya sudah berjongkok. Diangkatnya sebelah kaki Nina lalu diletakkan di bahunya. Terdengar jeritan tertahan Nina ketika dia bermain di bagian bawah.


Abi menghentikan aktivitasnya kemudian menggendong tubuh Nina lalu membawanya ke kasur. Kesadaran Nina masih belum sepenuhnya kembali, akibat efek sentuhan bibir Abi di bagian bawahnya. Dia hanya memandangi Abi yang tengah meloloskan semua pakaian yang membalut tubuh kekarnya.


Wajah Nina merona melihat lelaki yang baru tadi pagi sah menjadi suaminya sudah tak terbungkus apapun. Dia mengalihkan pandangannya ke arah lain, namun tangan Abi menyentuh rahang wanita itu kemudian kembali mengarahkan wajah Nina padanya. Abi kembali me**mat bibir Nina, dengan tangannya menjelajahi setiap jengkal tubuh di bawahnya.


Tubuh Nina sudah tak enak diam, terkadang dadanya membusung ke atas, terkadang dia mendongakkan kepalanya. Ribuan kupu-kupu seakan tengah menggelitiki perutnya ketika Abi menciumi setiap inci tubuhnya.


“Mas.. akkuu..”


Abi kembali membungkam bibir Nina saat tahu wanitanya itu sudah sampai ke pelapasannya. Tubuh Nina bergetar, tangannya mencengkeram erat punggung Abi. belum sempat dirinya bernafas normal, Abi kembali mencumbunya. Tak berselang lama, Abi sudah bersiap memasuki sang istri. Dia mendekatkan bibir ke telinga Nina kemudian membisikkan doa di telinganya. Sedetik kemudian miliknya sudah menerobos masuk ke dalam inti Nina.


Nina memejamkan matanya dengan tangan mencengkeram erat seprei demi menahan rasa sakit yang menderanya. Abi meraih tangan Nina kemudian menautkan jemari mereka. Bibirnya kembali memagut bibir Nina demi mengalihkan rasa sakit. Setelah dirasa sang istri sudah mulai bisa menerima keberadaan miliknya, Abi mulai bergerak.


Jari Nina menaut erat jemari Abi ketika kembali merasakan rasa sakit. Namun perlakuan lembut Abi dan cumbuannya mampu mengalihkan rasa sakit tersebut dan menggantinya menjadi kenikmatan yang baru kali ini dirasakannya. Dengan gerakan lembut dan tidak terburu-buru Abi terus memacu tubuhnya di atas Nina.


Tautan jemari Nina terasa semakin erat disertai de**han panjangnya ketika gelombang hangat kembali menghantamnya. Abi mempercepat gerakannya untuk menyusul sang istri. Sebenarnya dia masih ingin berlama-lama, tapi tahu istrinya lelah dan belum mendapat asupan makan siang, Abi bermaksud mengakhiri permainannya.


Lagi terdengar de**han Nina saat ritme permainan Abi semakin cepat. Ditariknya pinggul sang istri hingga miliknya menghujam semakin dalam. Tak lama Abi sampai ke ujungnya, cairan miliknya masuk memenuhi rahim Nina. Abi menjatuhkan dirinya di samping sang istri lalu memeluknya dari belakang.


“Makasih sayang.. I love you.”


Abi mempererat pelukannya, rasa cinta dan sayangnya bertambah dalam setelah penyatuan mereka. Entah mengapa dia merasa hubungan intimnya bersama Nina terasa lebih nikmat dibanding Fahira dahulu. Kedua wanita itu sama-sama belum tersentuh ketika Abi menjamahnya, hanya saja ada yang berbeda. Mungkin saat bersama Nina, keduanya melakukan dengan penuh cinta.


“Mas..”


“Hmm..”


“Aku laper.”


“Sebentar sayang, mas ambilkan.”


Abi mengecup pipi Nina sebelum turun dari ranjang. Disambarnya bokser yang tergeletak di lantai lalu memakainya. Senyum tersungging di bibir Nina saat melihat Abi keluar dari ruang tidur menuju dapur. Hatinya menghangat mendengar Abi mengganti panggilan dirinya dari aku menjadi mas.


Tak lama Abi kembali dengan piring dan gelas di tangannya. Nina bangun dari tidurnya. Ditariknya selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Abi duduk di sisi ranjang. Dia mulai menyuapi Nina bergantian dengan dirinya.


Abi harus kembali ke dapur untuk menambah porsi makan mereka. Yang tadi diambilnya tak cukup untuk memenuhi perut mereka berdua. Terlebih keduanya baru saja melakukan aktivitas yang menguras tenaga.


Nina meneguk habis minuman di gelas setelah acara makannya selesai. Abi menaruh kembali gelas dan piring di dapur kemudian kembali ke kamar. Dia merangkak naik ke kasur lalu duduk di samping Nina. Tangannya meraih bahu sang istri, Nina merebahkan kepalanya di dada Abi.


“Maaf ya sayang, mas ngga bisa nunggu sampai malam. Salah kamu juga yang ngegoda duluan.”


“Ish.. siapa yang godain mas. Masnya aja yang pikirannya mesum.”


Abi terkekeh, diraihnya dagu Nina kemudian me**mat bibir seksi yang sering membuatnya gemas. Cukup lama mereka berpagutan dan saling membelit lidah hingga keduanya mengakhiri ciuman saat hampir kehabisan oksigen.

__ADS_1


“Besok kita berangkat bulan madu.”


“Kemana mas?”


“Lombok, kamu pengen banget ke sana kan?”


“Wah kok mas tahu sih.”


“Apa sih yang mas ngga tahu soal kamu. Tapi sebelum ke Lombok kita mampir dulu ke suatu tempat.”


“Ke mana?”


“Banda Aceh. Kamu kan belum mengunjungi makam orang tuamu lagi. Anfa juga ikut sama kita.”


Nina mendongakkan wajahnya ke arah Abi. Matanya nampak berkaca-kaca, suaminya itu selalu saja memberinya kejutan manis. Abi menundukkan pandangannya, diciumnya kedua kelopak mata Nina. Buliran bening mengalir di wajahnya ketika matanya menutup. Abi menghapus buliran bening itu dengan ibu jarinya.


“Jangan menangis.”


“Aku bahagia mas. Terima kasih karena selalu memberiku kejutan manis.”


“Sudah kewajibanku membuatmu bahagia.”


Nina mengalungkan kedua tangannya di leher Abi kemudian memagut bibir suaminya. Abi memeluk pinggang Nina, mengusap punggung polos yang begitu halus.


“Mau mandi sayang?”


“Iya.. badanku lengket lagi.”


“Mandi bareng ya.”


“Cuma mandi aja kan?”


“Hmm.. ngga janji juga.”


Belum sempat Nina protes, Abi sudah mengangkat tubuh istrinya itu lalu membopongnya ke kamar mandi. Nina didudukkan di atas kloset, sedang Abi mengisi bath tub dengan air hangat. Setelah terisi penuh, Abi mengangkat tubuh Nina lalu meletakkannya di dalam bath tub, kemudian menyusul masuk dan duduk di belakang Nina.


Nina menyandarkan kepalanya di dada Abi. Rasa sakit di bagian bawahnya sedikit terobati dengan air hangat ini. Abi mengambil sabun cair yang terpajang di dekat bath tub, lalu mulai memakaikan ke tubuh sang istri.


Nina membalikkan tubuhnya kemudian menyabuni badan Abi. Wajahnya merona saat tak sengaja menyenggol perabotan milik suaminya itu. Seketika milik Abi menegang saat bersentuhan dengan tangan Nina.


“Tanggung jawab sayang.”


“Ngga mau, orang ngga sengaja juga.”


Nina bermaksud kabur, namun belum sempat dia keluar dari bath tub, Abi sudah menariknya hingga tubuh Nina jatuh di atasnya. Abi langsung menyambar bibir Nina disertai sentuhan-sentuhan di titik sensitif istrinya itu. Tak butuh waktu lama, Nina kembali terbuai cumbuan Abi. Dengan senang hati Abi bersiap mencetak gol untuk kedua kalinya.


☘️☘️☘️


**Ternyata sepak terjang mas Abi di luar prediksi emak² ya. Berhubung doi duda yang setahun lebih ngga dibelai akhirnya bukan Malam Pertama yang disuguhkan tapi Siang Pertama 🤣


Terima kasih atas doa readers semua. Alhamdulillah kondisi mamake sudah baikan dan bisa up 2x hari ini. Mudah²an bsk bisa up 2x lagi ya🤗**

__ADS_1


__ADS_2