
Irvin yang telah mencicipi hidangan, bermaksud untuk pulang. Anya yang melihatnya, buru-buru mengambil kue yang telah disiapkannya tadi. Baru saja Irvin membuka pintu mobil, Anya datang dengan kue ulang tahun di tangannya lengkap dengan lilin yang menyala.
“Happy birthday to you.. happy birthday to you.. happy birthday bang Irvin. Happy birthday to you.”
Anya berhenti tepat di depan Irvin seraya menyodorkan kue di tangannya. Irvin diam memandangi Anya dengan wajah tanpa ekspresi.
“Surprise buat bang Irvin yang udah bantuin aku seharian ini. Happy birthday, bang. Ayo make a wish terus ditiup lilinnya.”
Bukannya meniup lilin, Irvin malah menyambar kue itu lalu membuangnya denga kasar. Anya terkejut kue yang dibuatnya dengan susah payah jatuh begitu saja ke rerumputan. Dia menatap tak mengerti ke arah Irvin.
“Kok dibuang bang. Aku sengaja buat kue buat abang. Spesial dari aku.”
“Aku ngga butuh surprise! Aku juga ngga suka merayakan ulang tahunku!”
“Tapi bang, aku cuma mau berbagi kebahagiaan aja ama abang. Kan ini juga hari istimewa buat abang.”
“Tahu apa kamu soal aku, hah?? Jangan sok tahu dan ngga usah sok peduli. Kamu pikir aku senang dengan semua ini? Ngga sama sekali! Seharian ini aku cuma buang waktu ngikutin semua keinginan konyolmu. Kamu tuh ngga lebih dari gadis manja yang selalu berlaku seenaknya. Apa karena semua orang suka padamu, maka harus menurutimu? Apa kamu sadar sikapmu itu sudah membuat orang-orang di dekatmu ngga nyaman? Alisha, Jihan bahkan calon kakak iparmu sendiri ngga nyaman denganmu. Berhentilah bersikap manja, ngga semua orang suka dengan sikapmu itu. Termasuk aku!”
Irvin segera naik ke mobilnya lalu menjalankan kendaraannya tanpa mempedulikan Anya yang shock mendengar kata-katanya tadi. Mata Anya nampak berkaca-kaca, rentetan kalimat pedas Irvin melukai hati gadis itu.
“Nya..”
Kenan yang kebetulan melintas, penasaran melihat sepupunya yang berdiri mematung di halaman vila. Pemuda itu mendekati, dan terkejut melihat wajah gadis itu yang bersimbah airmata.
“Nya.. lo kenapa?” Anya hanya menggelengkan kepalanya.
“Bilang sama gue, lo kenapa? Siapa yang udah buat lo nangis?” Kenan memegang kedua bahu Anya. Namun gadis itu bergeming, hanya buliran bening saja yang mengalir dari kedua matanya. Kenan menarik Anya ke dalam pelukannya. Tangis gadis itu pecah dalam pelukan Kenan.
☘️☘️☘️
BRAK!
Barra terkejut saat pintu ruangannya dibuka dengan kasar. Kenan merangsek masuk ke dalam ruangan dan langsung menuju meja Irvin. Sama seperti Barra, Irvin juga terkejut melihat Kenan datang dengan wajah memerah.
“Nan..” tegur Barra.
“Bang, lo apain Anya? Apa yang lo bilang sampe Anya nangis? APA?!”
“Nan.. bentar Nan.. ada apa ini?” Barra kebingungan melihat Kenan yang melabrak Irvin tiba-tiba.
Sebelum pesta ulang tahun Hanna usai, Kenan langsung membawa Anya pulang karena sepupunyai itu terus menangis. Sekeras apapun Kenan membujuk Anya, namun tak ada yang keluar dari mulut gadis itu. Akhirnya Kenan mencari tahu sendiri. Dia melihat rekaman cctv vila. Terlihat terakhir kali Anya berbicara dengan Irvin dan pria itu juga dengan kasar membuang kue ulang tahun yang dibawa Anya. Kenan langsung berkesimpulan kalau Irvin penyebabnya.
“Denger ya bang, gue emang ngga tahu apa yang lo bilang ke Anya dan apa yang buat lo sampe buang kue ulang tahun yang Anya kasih ke elo. Tapi gue ngga suka cara lo memperlakukan Anya! Sekali lagi lo buat Anya nangis, gue ngga bakalan lihat lo anak om Radix atau kakaknya Revan, gue bakal bikin perhitungan sama lo. Inget itu!!”
Kenan menunjuk kening Irvin dengan telunjuknya lalu keluar dari ruangan Barra. Di depan ruangan, Kenan berpapasan dengan Radix. Pemuda itu langsung pergi tanpa menyapa apalagi mencium punggung tangan Radix, seperti kebiasaannya jika bertemu dengan para orang tua. Dia langsung saja masuk ke dalam lift.
Radix yang bingung melihat sikap Kenan langsung masuk ke ruangan Barra. Tadi dia melihat pemuda itu keluar dari ruangan Barra. Suasana aneh juga didapati Radix di sana. Terlihat Barra hanya berdiri dan menatap Irvin dengan raut wajah kecewa.
“Ada apa ini?”
Baik Barra maupun Irvin terkejut dengan kedatangan Radix yang tiba-tiba. Kedua pria itu hanya terdiam dan semakin membuat Radix curiga. Ditariknya kursi yang ada di depan meja Irvin lalu mendudukkan diri di sana.
“Ada apa?” tanya Radix lagi.
“Ngga ada apa-apa, om,” Barra berusaha menutupi apa yang baru saja terjadi.
Tanpa Irvin mengatakannya, Barra sudah tahu apa yang terjadi mendengar penuturan Kenan tadi. Irvin memang tidak suka dan tidak pernah merayakan ulang tahunnya lagi semenjak tahu siapa ibu kandungnya dan apa penyebab wanita itu meninggal. Dia lebih senang mengunjungi makam ibunya. Kadang hampir seharian dia berada di sana, menceritakan apa yang terjadi pada dirinya selama setahun ke belakang. Oleh karenanya Barra selalu memberi cuti pada Irvin setiap ulang tahunnya. Namun karena kemarin dia terlalu fokus pada Hanna, pria itu sampai lupa kalau Irvin harus ke makam.
“Ngga ada apa-apa, pa,” akhirnya terdengar juga suara Irvin.
“Kamu ngga bertengkar sama Kenan?”selidik Radix yang masih belum percaya dengan jawaban sang anak.
“Ngga om. Beneran ngga ada apa-apa. Om ada perlu apa nih?” Barra coba mengalihkan pembicaraan.
“Cuma mau mengingatkan lusa ada meeting dengan para sponsor untuk film terbaru kita. Tolong catat apa yang menjadi keinginan mereka tapi jangan sampai film kita jadi iklan berjalan untuk mereka dan mengaburkan esensi cerita itu sendiri.”
“Iya, om.”
“Ya sudah, itu saja.”
Radix bangun dari duduknya kemudian keluar dari ruangan. Walau masih ada kecurigaan di hatinya, namun dia meninggalkan mereka dan mencari tahu sendiri. Setelah Radix pergi, kini giliran Barra yang duduk di depan meja kerja Irvin.
“Lo cerita atau gue tanya langsung Anya.”
Irvin menarik nafas panjang sejenak lalu mulai menceritakan apa yang terjadi saat malam ulang tahun Hanna. Kekesalannya pada Anya yang terus menahan dirinya untuk pergi dan puncaknya saat Anya memberikan kue ulang tahun untuknya. Gadis itu merayakan hari jadi yang sangat dibencinya.
“Apa harus lo bersikap sekasar itu sama Anya?”
“Sorry bang, gue bener-bener emosi waktu itu.”
“Selama ini Anya ngga pernah ribut soal ulang tahun, lo. Dia juga ngga pernah ikut campur masalah pribadi, lo. Anya juga ngga tau soal kebiasaan lo saat ultah. Kalau dia tau, dia ngga bakalan bersikap seperti kemarin. Gue kenal Anya dari kecil, dia ngga akan bertindak seimpulsif itu kalau ngga ada yang memprovokasinya. Gue yakin, dia melakukan itu karena permintaan atau suruhan seseorang. Tugas lo, cari tahu siapa orang itu dan bawa ke depan gue. Anya udah gue anggap adik gue sendiri, orang yang udah berani nyakitin Anya harus berhadapan sama gue. Cari tau kebenarannya dan minta maaf sama Anya!”
Barra berdiri dari duduknya kemudian kembali ke kursi kebesarannya. Irvin terdiam merenungi semua ucapan Barra. Dia cukup beruntung Barra tak langsung menghadiahkan bogeman padanya, mengingat bagaimana pria itu menyayangi Anya.
☘️☘️☘️
__ADS_1
Anya duduk di balkon kamarnya dengan kedua tangan memeluk lutut. Sejak kejadian dengan Irvin, gadis itu lebih banyak diam dan melamun. Hari ini dia juga memilih bolos kuliah. Berulang kali Kenan menanyakan padanya tentang kejadian di vila, namun Anya tetap menutup mulut. Aric yang curiga dengan sikap sang adik juga bertanya-tanya, namun gadis itu tetap bungkam. Dia tak ingin menimbulkan petengkaran antara Irvin dengan kakak atau sepupunya.
Yang membebani pikiran Anya adalah ucapan Irvin yang mengatakan kalau Alisha, Jihan dan Naya tak nyaman dengan sikapnya. Gadis itu bertanya-tanya apa yang membuat ketiga wanita itu tak nyaman padanya. Jika soal Viren, dia sudah berusaha semampunya mendekatkan Viren dengan Alisha. Soal Jihan, bukan salahnya kalau Kenan tak menyukai gadis itu. Dan Naya, ini yang membuatnya tertekan. Apa mungkin calon kakak iparnya itu tak menyukai dirinya. Aric adalah satu-satunya kakak yang dimilikinya, salahkah jika dia dekat dan bermanja pada kakaknya itu.
Tanpa sadar airmata Anya mengalir. Dia terjengit saat merasakan tepukan pelan di bahunya. Buru-buru gadis itu mengusap airmatanya. Naya yang mendengar dari Barra soal Anya dan Irvin memutuskan kerja setengah hari dan menemui Anya. Bagaimana pun juga, Anya akan menjadi adik iparnya. Naya merasa harus lebih mendekatkan diri pada Anya. Karena hanya Aric, kakak yang dimiliki oleh gadis itu.
“Lagi apa, Nya?” tanya Naya seraya mendudukkan diri di samping Anya.
“Seperti yang kakak lihat. Lagi bengong gaje.”
“Kok ngga kuliah?”
“Males.”
“Ck.. jangan males-males, nanti lama lulusnya. Emang mau dapet titel mahasiswa abadi,” Naya terkekeh. Anya hanya tersenyum tipis saja menanggapinya.
Suasana hening sejenak. Entah mengapa Naya merasa, Anya sedikit menjaga jarak darinya. Begitu pula Anya yang merasa canggung dengan Naya gara-gara ucapan Irvin tempo hari.
“Nya.. kalau boleh aku tahu, kamu kenapa sih?”
“Kenapa apa kak? Aku baik-baik aja kok.”
“Tadi bang Barra cerita kalau Nan datang ke kantor terus marah-marah sama Irvin. Kamu tau ngga kenapa?”
“Hah? Masa sih kak?”
“Iya. Kamu pasti tahu sebabnya. Mau cerita ngga?”
Anya sedikit ragu, namun mendengar apa yang terjadi, dia merasa perlu menjelaskan ini sebelum masalah bertambah rumit. Gadis itu lupa kalau selain pintar, Kenan juga manusia paling kepo. Pasti pemuda itu mencari tahu apa yang terjadi padanya sampai menangis waktu itu.
“Nya..”
“Ini salahku kak. Aku yang udah buat bang Irvin marah. Niatnya aku mau kasih kejutan sama bang Irvin, dia kan ulang tahun juga. Tapi aku ngga tau kalau bang Irvin ngga suka ngerayain ulang tahunnya.”
“Bener cuma itu aja? Ngga ada yang lain?”
“Bang Irvin juga bilang kalau Alisha ngga nyaman dengan sikapku, karena aku dekat sama bang Viren. Dia juga bilang Jihan juga ngga nyaman karena aku dekat dengan Nan. Dan…”
“Dan apa?” desak Naya karena Anya tiba-tiba berhenti berbicara.
“Dia bilang kak Naya juga ngga nyaman sama aku. Aku minta maaf ya kak, kalau udah buat kakak ngga nyaman sama aku. Tapi aku cuma punya bang Aric. Aku janji setelah kalian menikah, aku ngga akan ganggu bang Aric lagi.”
“Ya ampun, Nya.”
“Nya.. aku sama sekali ngga pernah ngomong soal itu. Kamu adiknya bang Aric satu-satunya. Aku mengerti kalau kalian dekat dan memang sudah kewajiban bang Aric menjagamu. Kamu berhak untuk bermanja dengan bang Aric. Sampai kapan pun, kamu adalah adiknya. Ada istilah mantan pacar, mantan istri, tapi ngga ada istilah mantan adik atau orang tua, karena itu adalah ikatan yang ngga bisa diputus. Aku sayang kamu, Nya. Sama seperti aku sayang Nara dan Dilara. Kamu percaya aku kan?”
“Jadi kak Naya ngga marah sama aku?”
“Siapa yang marah sama kamu? Mana bisa aku marah sama cewek somplak yang selalu bikin aku ketawa. Saat hubunganku dengan bang Aric renggang, kamu yang selalu menghiburku dan meyakinkan kalau bang Aric akan balik sama aku. Mana bisa aku marah sama kamu. Aku bersyukur kamu yang jadi adik iparku.”
Naya merangkum wajah Anya dengan kedua tangannya lalu kembali memeluk gadis itu. Kali ini dia benar-benar kesal dengan Irvin. Dia akan menemui pria itu, kalau perlu akan memukul kepalanya dengan keras agar bisa berpikir jernih. Naya mengurai pelukannya, berganti dengan rangkulan di bahu Anya.
“Nya.. kamu dapet ide bikin surprise buat Irvin dari mana? Perasaan dulu kamu ngga pernah riweuh soal ultahnya dia. Kamu lebih riweuh bikin surprise buat Revan.”
“Emang bukan ide aku, kak. Jihan yang mau buat surprise buat bang Irvin, tapi dia ngga bisa soalnya om Gurit ngajakin liburan keluarga katanya. Makanya dia minta aku yang wakilin.”
“Jihan? Bukannya Jihan tau kalau Irvin emang ngga pernah ngerayain ulang tahunnya?”
“Masa?”
“Hmm.. jelas ini, pasti pangkal masalahnya di Jihan. Kayanya dia sengaja ngerjain kamu.”
“Tapi kenapa?”
“Ya karena si kompor mledug. Satu Indonesia Raya juga udah tahu kalau Jihan suka sama tuh bocah gendeng.”
“Hahahaha.. lebay deh.”
“Aku serius, Nya. Jihan pasti jealous, marah, kesel karena si Nan ngga ngerespon dia. Dan dia ngelampiasinnya ke kamu karena kamu dekat sama Nan. Denger ya, cewek yang dibakar cemburu, bisa melakukan apapun. Kamu harus hati-hati sama Jihan, jangan percaya gitu aja.”
“Masa sih kak? Jihan itu kan anaknya om Gurit, sahabatnya mami.”
“Ngga semua anak mewarisi kebaikan orang tuanya. Bisa jadi mereka berubah karena lingkungan atau hal lain, cemburu misalnya.”
“Ya emang sih, kadang aku ngerasa Jihan ketus banget sama aku. Aku pikir kalau orang tua kita bersahabat, otomatis anak-anaknya bisa juga bersahabat. Kaya bang Aric sama bang Barra atau bang Ravin. Tapi itu ngga berlaku buat aku sama Jihan dan bang Irvin.”
Wajah Anya kembali terlihat sendu. Sedih rasanya anak dari sahabat mamanya tidak menyukai dirinya. Kalau Sekar sampai tahu, pasti wanita itu akan measa sedih. Naya mengeratkan rangkulannya melihat Anya yang kembali bersedih.
“Ngga usah dipikirin soal Jihan. Kamu masih punya sahabat lain, ada Viren juga Revan. Mereka tulus sahabatan sama kamu dan pastinya sayang sama kamu juga.”
“Tapi Al juga ngga nyaman lihat aku deket sama bang Viren.”
“Kata siapa? Emang kamu pernah dengar Al ngomong seperti itu? Al pasti ngerti dengan kedekatan kamu dengan Viren. Udah ngga usah diambil hati. Mending kita bikin kue aja yuk, aku mau bikin kue buat bang Aric. Ajarin aku ya.”
“Ok.”
__ADS_1
Semangat Anya kembali setelah berbicara panjang dengan Naya. Seperti ini rasanya punya kakak perempuan. Bisa berbagi apa saja tanpa merasa canggung. Walau pun dekat, Anya tak bisa menceritakan semua masalahnya pada Aric. Apalagi masalah sensitif seperti kemarin. Dia juga tak berani bercerita pada Sekar karena takut mempengaruhi hubungan sang mami dengan para sahabatnya.
☘️☘️☘️
Kelima orang yang kemarin bersekongkol hendak mengerjai Anya tengah berkumpul bersama. Mereka membicarakan bagaimana caranya menjalankan rencana tersebut tanpa diketahui oleh Kenan. Jihan yang ada di dekat mereka, tanpa sengaja mendengarkan pembicaraan tersebut. Gadis itu berdiri kemudian menghampiri mereka.
Kelima orang tersebut langsung terdiam melihat kedatangan Jihan. Mereka takut Jihan akan membocorkan rencana mereka. Dengan santai Jihan menarik kursi kemudian duduk bersama. Dipandanginya satu per satu wajah kelima orang di depannya yang terlihat was-was. Gadis itu hanya tersenyum tipis saja.
“Rencana kalian itu payah. Kalian harus melakukan sesuatu yang ekstrim kalau mau ngerjain Anya. Gue bakal bantu kalian.”
“Serius? Lo bukannya temenan sama Anya?”
“Bukan berarti gue ngga kesel sama dia. Mau gue bantu ngga?”
“Boleh.. boleh.. apa rencana lo?”
Jihan meminta semua mendekat. Dengan suara pelan namun masih bisa terdengar jelas, gadis itu menjelaskan apa yang akan mereka lakukan untuk mengerjai Anya. Dia juga akan mengalihkan perhatian Kenan, Revan dan Haikal. Semua hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja mendengar rencana Jihan yang ternyata lebih dahsyat dari yang mereka punya.
“Terus Prabu gimana? Dia bilang mau ikutan.”
“Prabu biar jadi heronya Anya. Dia dateng buat nyelamatin Anya. Biasanya cewek bakalan jatuh cinta sama cowok yang udah jadi heronya. Gimana?”
“Boleh.. boleh.. kapan kita jalanin rencananya?”
“Besok aja.”
“Ok. Deal!”
Jihan tersenyum puas. Dia ingin melihat bagaimana wajah Anya ketika mendapatkan kejutan darinya. Apakah gadis itu masih bisa tersenyum. Awalnya Jihan tidak ingin mengerjai Anya lagi, baginya sudah cukup membuat gadis itu mendapat semprotan dari Irvin. Namun kekesalannya bertambah ketika Irvin menegurnya.
Pria itu marah padanya karena tahu orang yang ada dibalik aksi kejutan Anya adalah dirinya. Bahkan Irvin juga mengadukan hal itu pada Gurit. Alhasil Jihan mendapat semprotan dari Gurit, bahkan dia mendapat hukuman tak boleh keluar rumah kecuali untuk kuliah dan pemotongan uang jajan. Hal tersebut tentu saja semakin memicu kebencian Jihan pada Anya.
☘️☘️☘️
Setelah perkuliahan terakhir selesai, Kenan bergegas menuju kantin. Salah seorang temannya mengatakan hendak mengajak The Myth band tampil di acara musik tahunan yang biasa diadakan oleh salah satu produk rokok terkenal. Tentu saja pemuda itu antusias, bandnya bisa satu panggung dengan band papan atas di negeri ini. Dia, Viren, Revan dan Haikal berkumpul di kantin untuk bertemu dengan salah satu perwakilan panitia acara.
Anya masih membereskan barang-barangnya di kelas. Tadi Kenan menyuruhnya untuk langsung menyusul ke kantin. Anya keluar dari kelas, kemudian berjalan menuruni anak tangga sambil bersenandung kecil. Matanya tertuju pada langit sore yang mulai menggelap, sepertinya akan turun hujan.
Baru saja Anya hendak melangkahkan kakinya menuju kantin, Dina, teman Alisha menghampirinya sambil berlari. Gadis itu berhenti di depan Anya dengan nafas tersengal. Anya bingung sendiri melihat Dina yang nampak panik.
“Nya..” Dina menarik nafas sejenak.
“Kenapa lo?”
“Al..”
“Kenapa Al?”
“Tadi gue lihat dia dibawa ke belakang kampus. Ngga tau juga mau dibawa kemana. Gue mau nolongin takut soalnya cuma sendiri.”
“Masa? Salah lihat kali, dia kan jago beladiri. Masa ngga ngelawan.”
“Mana gue tahu. Gue lihat dia tadi digotong sama siapa tuh gue ngga kenal. Mungkin aja si Al dibius.”
Anya mulai cemas mendengar soal Alisha. Dia takut kejadian penculikan sepupunya itu terulang kembali. Gadis itu menanyakan dengan jelas kemana Alisha di bawa pergi.
“Yakin dia dibawa ke sana?”
“Iya, kayanya.”
“Ya udah, gue susul dia. Lo ke kantin terus bilang ke Kenan soal Al dan suruh nyusul gue.”
“Ok.”
Kedua gadis itu mulai berlari dengan mengambil arah berbeda. Anya menuju belakang kampus, sedang Dina menuju kantin. Walau letih, Dina terus memaksakan diri menuju kantin. Benar saja, nampak Kenan dan beberapa sahabatnya tengah berbicara serius dengan seorang pria.
“Ken..nan..” panggil Dina dengan suara terengah.
“Siapa lo?” tanya Kenan.
“Gue.. temennya Al. Itu.. Al dibawa beberapa orang ke belakang kampus.”
“Yang bener?” tanya Viren.
“Iya bang.”
Baru saja Viren akan bangun dari duduknya, ketika dari arah pintu kantin, dia melihat Alisha berjalan masuk dengan santainya. Dina terkejut melihat Alisha dan keadaan temannya itu baik-baik saja.
“Itu Al,” tunjuk Kenan.
☘️☘️☘️
Nah loh🙈
Udah mau mencapai limit kata, cut aja dulu ya😅
__ADS_1