KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Season 2 : Cilok Bikin Heboh


__ADS_3

Sepeda motor milik Kenan berhenti di depan gedung kampus yang catnya dominan berwarna putih. Dari balik helm full vest yang dikenakannya, dia melihat suster cantik, pujaan hatinya tengah berjalan bersama teman-temannya. Kenan tak menyangka kalau Zahra ternyata menuntut ilmu di kampus yang tak jauh dari kampusnya. Ini seperti sebuah kode untuknya agar lebih bersemangat mengejar gadis itu.


Dengan cepat Kenan memarkirkan motornya di dekat para pegadang kaki lima yang biasa mangkal di dekat kampus khusus pendidikan perawat. Pemuda itu melepas helmnya kemudian menaruh di atas tangki motor yang kemudian dijadikan tumpuan tangannya.


Zahra berpisah dengan teman-temannya kemudian menuju ke kumpulan pedagang kaki lima. Adiknya tadi mengirimkan pesan minta dibelikan kue ape. Gadis itu terus berjalan keluar gerbang kemudian menuju penjual kue ape yang berada di dekat motor Kenan parkir.


“Hei suntik,” sapa Kenan begitu Zahra melintas di dekatnya.


Zahra yang awalnya tak menyadari panggilan itu untuknya terus saja berjalan sampai kemudian Kenan memanggil namanya. Saat berbalik untuk melihat siapa yang memanggil, mata gadis itu membulat. Pemuda yang membuat onar di IGD dan sukses membuatnya menjadi bulan-bulanan ledekan teman seprofesinya kini berada di hadapannya.


“Biasa aja dong suntik lihatnya. Kaya yang gimana gitu lihat yang ganteng lagi,” cerocos Kenan.


“Siapa suntik?”


“Kamu.. suntik alias suster cantik.”


“Kamu tuh ngga ada bosennya ya ngikutin aku terus.”


“Weh jangan geer dulu. Siapa yang ngikutin kamu. Aku tuh kuliah di sana.”


Mata Zahra mengikuti tangan Kenan yang menunjuk gedung yang ada di seberang kampusnya. Sebuah kampus swasta terbesar dan ternama di kota Bandung. Bahkan akreditasi kampus tersebut setara dengan kampus negeri terbaik di negeri ini. Namun mahasiswa yang berkuliah di sana pastinya harus memiliki kocek yang tebal karena biaya kuliahnya cukup mahal.


“Oh.. terus ngapain di sini?”


“Ya mau ketemu kamulah. Masa iya mau ngecengin tukang seblak. Aku ngga sengaja lihat kamu keluar kampus pas lewat barusan. Itu tandanya kita tuh jodoh, bener kan?” Kenan menaik turunkan alisnya, sedang Zahra hanya melengos saja.


“Mau ngapain ketemu sama aku? Mau bikin malu lagi?”


“Aku mau nuntut ganti rugi.”


“Ganti rugi apaan?”


“Kamu tuh sudah menyalahgunakan jabatan kamu sebagai suster. Seenaknya kamu suntik aku obat bius tanpa resep dan tanpa perintah dokter.”


Zahra terbungkam, apa yang dikatakan Kenan barusan benar adanya. Untung saja kedua orang tua Kenan tak menuntutnya dan dokter jaga yang bertugas saat itu tak mengadukan kelakuannya pada suster kepala.


“Iya, aku minta maaf. Abisnya kamu rese, bikin malu teriak-teriak di IGD,” Zahra membela diri.


“Ya salah kamu juga aku begitu.”


“Salah aku apa?”


“Salah kamu terlalu cantik.”


Zahra memutar bola matanya mendengar gombalan Kenan. Gadis itu bingung terbuat dari apa otak lelaki di hadapannya. Setiap bertemu selalu sukses membuatnya kesal dengan ocehannya yang tanpa saringan.


“Terus mau kamu apa?”


“Traktir aku makan.”


“Ok bentar.”


Jawaban Zahra tak ayal membuat Kenan terkejut. Tak menyangka saja gadis itu langsung menyetujui permintaannya. Mata Kenan terus mengawasi Zahra yang tengah mendekati penjual kue ape. Selesai membeli pesanan adiknya, Zahra menuju penjual cilok yang ada di belakang tukang kue ape.


“Mang ciloknya sepuluh ribu.”


“Cilok aja apa campur tahu?”


“Campur bang. Jangan lupa yang pedes.”


“Ok, neng.”


Tukang cilok berkepala plontos itu dengan cepat membuatkan pesanan Zahra. Gadis itu meminta sang penjual menambahkan sambal pada pesanannya. Zahra mengeluarkan selembar sepuluh ribuan kemudian mengambil bungkusan berisi cilok. Dia lalu kembali ke tempat Kenan.


“Nih,” Zahra mengasongkan bungkusan di tangannya.


“Apaan nih?”


“Cilok. Katanya kamu minta ditraktir makan. Tuh, aku beliin. Sorry uangku udah abis, jadi cuma bisa beli cilok. Lunas ya.”


Bungkusan berisi cilok itu digantungkan Zahra di stang motor Kenan. Kemudian gadis itu kembali masuk ke dalam kampus. Bergegas dia menuju parkiran motor. Tak lama kemudian motor matic miliknya keluar dari gerbang kampus. Kenan hanya mengikuti gadis itu dari sudut matanya. Dia lalu memeriksa bungkusan dari Zahra.


“Ngga apa-apa deh. Hari ini dapet cilok, besok-besok dapet cip*k hahahaha..”


Kenan tertawa sendiri mendengar ucapannya, sudah seperti orang gila saja. Pemuda itu memakai helmnya kembali kemudian melajukan kendaraan roda duanya.


☘️☘️☘️


Sambil bersiul, Kenan memasuki rumah. Dia meletakkan bungkusan berisi cilok di atas meja makan. Sebelum menikmati pemberian istimewa Zahra, dia ingin membersihkan diri terlebih dulu. Dengan cepat pemuda itu melesat naik ke lantai atas.


Freya keluar dari kamarnya. Tubuhnya terasa lemas di hari pertamanya datang bulan. Dia sampai meminta ijin pada Ravin tak masuk kerja. Kepalanya terasa pusing, rasanya enak kalau makan yang pedas-pedas. Gadis itu menuruni anak tangga, maksudnya ingin mencari Dini, asisten rumah tangganya dan memintanya membelikan bakso atau sejenisnya.


Ketika melintasi meja makan, matanya menangkap sebuah bungkusan tergeletak begitu saja di atas meja. Karena penasaran, gadis itu mendekat dan mengeluarkan isi bungkusan tersebut. Matanya berbinar melihat cilok yang warna bumbunya sedikit merah karena sambalnya yang cukup banyak.


Bergegas Freya menuju dapur kemudian mengeluarkan cilok ke dalam mangkok. Aroma khas jajanan Bandung itu langsung menguar dan menyapa indra penciumannya. Sambil membawa segelas air putih hangat, Freya kembali ke meja makan lalu menarik salah satu kursi. Rasa cilok yang pedas langsung menyapa lidahnya dan cukup ampuh mengurangi pusingnya.


Kenan keluar dari kamarnya dengan tubuh wangi. Hanya untuk memakan cilok spesial pemberian Zahra, pemuda itu sampai harus mandi dan menyemprotkan parfum ke pakaian yang dikenakannya. Dengan langkah cepat Kenan menuruni anak tangga. Tak sabar rasanya menikmati cilok pemberian sang pujaan hati.


Sesampainya di ruang makan, matanya mencari-cari bungkusan yang tadi diletakkan di atas meja. Kemudian pandangannya tertuju pada mangkok di depan Freya. Matanya membulat ketika menyadari kalau cilok kesayangannya sudah disantap oleh sang kakak.


“Cilok gue!!” pekik Kenan membuat Freya tersedak.


Uhuk.. uhuk..


“Nan!! Ngagetin aja lo.”


“Kak.. lo ngapain makan cilok gue?”


“Oh ini cilok punya lo. Sorry ya gue makan. Pala gue pusing banget, pengen makan yang pedes-pedes. Pas banget cilok lo pedesnya bukan kaleng-kaleng.”


Freya meneguk habis minumannya untuk mengurangi rasa pedas yang terasa membakar lidahnya. Kenan hanya melongo melihat ciloknya sudah berpindah ke perut sang kakak. Hanya menyisakan bumbunya saja.


“Cilok gue huaaaaaaa!!!”


“Lo kenapa sih?” tanya Freya bingung.


“Kenapa? Lo udah makan cilok gue!!!”


Kenan memegang kedua bahu Freya kemudian mengguncang-guncangkannya. Wajahnya begitu sedih seperti baru saja kehilangan uang ratusan milyar rupiah. Freya melepaskan tangan Kenan dari pundaknya.


“Lebay lo, cuma cilok doang,” kesal Freya.


“Itu bukan sembarang cilok!”


“Iya emang rasanya tuh cilok, enak. Tapi ngga usah lebay juga. Gue gantiin, kalo perlu gue beli sama gerobaknya dan yang jual.”

__ADS_1


“Ngga mau! Gue mau cilok yang tadi lo makan!!”


“Ya udah masuk ke perut gue. Masa iya harus gue muntahin lagi,” Freya makin dibuat kesal dengan tingkah kekanakan Kenan gara-gara cilok.


Nina yang baru saja keluar dari kamarnya segera menuju ruang makan begitu mendengar suara gaduh dari arah sana. Nara yang juga sempat menangkap keributan ikut turun dari lantai dua.


“Ada apa sih ini?” tanya Nina.


“Tau tuh si Nan. Masa ribut gara-gara ciloknya aku makan, kaya anak kecil aja.”


“Itu bukan cilok biasa. Gue susah dapetin cilok itu tau ngga?!”


“Apa sih susahnya? Gue beliin sekarang juga!”


“Ngga!! Gue mau cilok yang tadi!!”


“Noh.. lo jilatin aja bumbunya. Sekalian ama mangkoknya lo telen!”


“DIAM!!!”


Nara yang baru sampai terkejut mendengar teriakan Nina yang seperti Mariah Carey saja. Tinggi nadanya mencapai tujuh oktaf. Dipikirnya hanya Adinda yang bisa mengeluarkan suara lengkingan seperti itu. Ternyata mama mertuanya tak kalah hebat dari sang mama.


“Ada apa sih ma?” tanya Nara.


“Mama juga ngga tau. Ada apa ini Frey? Nan?”


“Itu Kenan ngambek gara-gara aku makan ciloknya.”


“Lagian kamu, Frey, main makan aja bukannya tanya-tanya dulu,” tegur Nina.


“Ya maaf. Kepalaku pusing banget, pengen makan yang pedes-pedes. Lagian tuh bungkusan geletak aja di atas meja. Kirain ngga ada yang punya.”


“Punya gue itu,” sambar Kenan.


“Ya mana gue tau, dodol.”


“Makanya nanya.”


“Udah-udah kenapa jadi ribut gara-gara cilok sih,” kesal Nina.


“Aku buatin cilok, mau ngga Nan?” tanya Nara yang tak tega melihat Kenan yang terlihat begitu sedih hanya karena cilok yang dimakan oleh Freya.


“Ngga. Aku cuma mau cilok yang tadi.”


“Tuh mah, si kompor mledug lebay,” adu Freya.


“Nan.. kan kakakmu udah minta maaf, udah jangan marah lagi. Mau mama buatin cilok atau bilang aja tadi kamu belinya di mana. Nanti biar pak Asep yang beliin.”


Nina mencoba menengahi pertengkaran kedua anaknya. Baru kali ini dia melihat Kenan yang begitu kesal karena makanannya dihabiskan oleh Freya. padahal biasanya mereka selalu berbagi.


“Bukan masalah ciloknya ma. Tapi itu cilok pemberian seseorang. Aku dapetnya juga susah payah. Pake perjuangan dan doa.”


“Lebay,” cibir Freya.


“Bomat!”


Kenan memutar tubuhnya lalu dengan langkah lunglai kembali ke kamarnya yang berada di lantai atas. Terdengar bunyi berdebam ketika pemuda itu menutup pintu dengan kencang.


“Frey.. mama ngga mau tau, kamu harus minta maaf sama adikmu.”


Nina menggelengkan kepalanya, baru kali ini rumahnya gaduh gara-gara masalah cilok. Wanita itu kemudian menuju dapur untuk menyiapkan makan malam. Nara mengkuti mama mertuanya itu untuk membantu. Tak lama Freya menyusul, bukan untuk membantu Nina, tapi untuk membuatkan minuman kesukaan sang adik. Sebuah hadiah sebagai bentuk permintaan maaf darinya.


☘️☘️☘️


TOK


TOK


TOK


“Masuk!”


Freya membuka pintu kamar begitu mendengar suara Kenan dari dalam. Nampak adiknya itu tengah berbaring di atas ranjang empuknya. Freya mendekat dengan membawa nampan di tangannya. Diletakkannya nampan di atas nakas lalu gadis itu mendudukkan diri di sisi ranjang. Tepat di dekat Kenan berbaring.


“Nan..”


“Paan?”


“Sorry ya soal yang tadi.”


“Au ah..”


Kenan membalikkan tubuhnya membelakangi Freya. Dia masih kesal sang kakak memakan cilok spesialnya begitu saja. Freya tak patah arang, dia masih bertahan di tempatnya. Bagaimana pun juga dia harus mendapatkan maaf dari sang adik.


“Nan..” Freya menusuk-nusuk punggung Kenan dengan jarinya.


“Apaan sih. Udah sana keluar, gue mau tidur.”


“Pamali Nan, tidur sekarang. Udah sore tau.”


“Bodo.”


“Nan.. jangan marah dong. Tuh udah gue buatin dalgona kesukaan elo sama baso tahu mang Irut.”


“Gue maunya cilok yang tadi.”


“Ya.. elo mah ambekan.”


Kenan tak menanggapi lagi ucapan Freya. tahu sang adik masih marah padanya, gadis itu malah ikut merebahkan diri di dekat Kenan. Dia menggerak-gerakkan tubuhnya, mencoba mendapatkan ruang untuknya berbaring. Dengan sangat terpaksa, Kenan beringsut.


“Nan.. sorry ya, gue udah makan cilok keramat lo. Abis tadi kepala gue pusing banget. Tau sendiri kalau lagi dateng bulan, gue pengennya makan yang pedes-pedes. Sorry ya. Emang itu cilok dikasih siapa sih? Spesial banget ya.”


Masih tak ada tanggapan dari Kenan. Pemuda yang biasanya tak pernah berhenti mengoceh, kini hanya mengatupkan mulutnya saja. Freya melirik ke arah sang adik yang masih membelakangi dirinya.


“Itu cilok dibeliin sama cewek gebetan lo ya?” tebak Freya, namun tak ada jawaban dari Kenan.


“Sorry, Nan. Iya gue salah udah makan cilok elo. Gini aja deh, sebagai bentuk permintaan maaf gue. Gue bakalan bantu elo dapetin tuh gebetan. Gimana?”


Mendengar ucapan Freya, Kenan mulai melunak. Pria itu membalikkan tubuhnya menjadi telentang.


“Beneran lo mau bantu gue?”


“Iya bener. Suer takewer-kewer deh. Siapa sih inceran elo? Temen kampus lo bukan?”


“Bukan.”

__ADS_1


“Terus siapa? Oh suster yang waktu itu bang Ravin bilang, ya.”


“Iya. Tapi dia susah banget gue deketin. Jutek banget.”


“Lo aja yang pecicilan, udah gitu mulut lo kan kaga ada remnya kalo ngomong. Makanya dia ilfil ama elo.”


“Lo mau bantu apa bully gue?”


“Ambekan lo, kaya Nancy,” Freya terkikik geli. Namun tawanya hilang setelah melihat tatapan horor adiknya.


“Iya.. iya.. biasa aja tuh mata. Udah kaya Suzanna aja. Lo ceritain dulu, dia kaya gimana orangnya,” sambung Freya lagi.


Kenan menegakkan dirinya kemudian mulai bercerita tentang Zahra. Freya yang awalnya tiduran, juga ikut duduk. Dengan serius dia mendengarkan apa yang dikatakan oleh sang adik. Sekilas dia memang pernah melihat Zahra saat resepsi pernikahan Kenzie.


“Lo udah tahu soal dia belum?”


“Belum.”


“Ah elah.. manfaatin tuh si monyet albino buat cari info soal Zahra.”


“Gue mau cari tahu sendiri kak. Alami gitu ngga usah pake bantuan si buluk.”


“Info lengkap tetap aja lo harus punya soal dia. Lo kan harus tahu seperti apa cewek yang harus lo taklukin. Nah rencana pendekatannya aja yang harus terlihat alami. Gimana?”


“Iya bener juga kak. Lo punya ide apa?”


Freya menggerakkan jarinya, meminta Kenan untuk mendekat. Kemudian dengan suara pelan, gadis itu mengatakan apa yang harus dilakukan sang adik untuk menaklukkan hati gadis pujaannya. Kenan nampak manggut-manggut, otak sang kakak ternyata encer juga.


“Yakin nih kak, bakalan berhasil?”


“Coba aja dulu. Kalau gagal, kita cari cara lain. Kalau masih gagal, ya ganti target hihihi..”


“Ah elo, mah. Gue nanya serius juga.”


“Coba dulu, Nan. Masa adek gue yang ganteng, pinter, punya suara bagus plus mulut kompor ngga percaya diri sih. Ayo dong semangat. Lo pasti bisa dapetin Zahra, gue bantu doa.”


“Ok, deh. Gue coba cara lo.”


“Inget, biar pelan tapi pasti.”


“Sip.”


“Ya udah gue mau telepon bang Ravin dulu. Nih gue bawa keluar ya, kan lo ngga mau.”


“Jangan.. iya gue mau.”


Kenan mengambil nampan yang hendak dibawa pergi Freya lalu meletakkan di atas nakas lagi. Senyum Freya terbit melihat sang adik mau juga meminum dalgona buatannya. Gadis itu lalu keluar dari kamar, membiarkan Kenan menikmati hidangannya.


☘️☘️☘️


Irvin menghempaskan tubuhnya di atas sofa sesampainya di rumah. Pria itu baru saja kembali dari Sabang untuk melihat tempat yang akan dijadikan lokasi syuting film terbaru J&J Entertainment. Hampir seminggu lebih pria itu berada di sana dan dia sama sekali tidak tahu kejadian yang menimpa Anya. Karena dua hari setelah ulang tahunnya, Irvin langsung terbang ke Banda Aceh.


Dari arah belakang muncul Radix. Pria itu menghampiri Irvin lalu mendudukkan diri di dekat sang anak. Melihat kedatangan ayahnya, Irvin menegakkan diri dan duduk menyender di sofa.


“Bagaimana surveynya?” tanya Radix seraya menyeruput kopi di tangannya.


“Alhamdulillah lancar, pa. Kita mulai membangun beberapa fasilitas buat para artis dan crew.”


“Syukurlah. Perhatikan kenyaman semua orang yang terlibat di proyek itu.”


“Siap bos.”


Radix hanya terkekeh mendengar jawaban anaknya. Pria itu berdiri lalu masuk ke ruangan kerjanya. Ada beberapa hal yang harus diselesaikan. Dia terpaksa mengambil alih pekerjaan Gurit. Jojo memberi cuti pada sahabatnya itu untuk menenangkan diri. Masalah Jihan cukup membuat pria itu terpukul.


Baru saja Irvin akan meninggalkan ruangan tengah, ketika adik keduanya, Olivia menghampiri. Gadis manis itu mendudukkan diri di samping sang kakak. Dia memang lebih dekat dengan Irvin dibanding Revan.


“Bang.. selama abang pergi kan, ada kejadian menghebohkan.”


“Kejadian apa?”


“Kak Jihan ngerjain kak Anya. Wah pokoknya heboh deh. Sampe kak Jihan dapet hukuman dari bang Aric.”


“Masa? Emang Jihan ngelakuin apa?”


Olivia menceritakan apa yang telah menimpa Anya. Dia juga menyebutkan dengan terperinci hukuman apa yang diberikan Aric pada para pelaku, termasuk bonus yang diberikan Kenan pada Jihan. Irvin cukup terkejut mendengar Jihan mampu melakukan semua itu. setahunya Jihan adalah anak yang baik.


“Aku ngga nyangka banget ya, kak Jihan bisa sejahat itu sama kak Anya. Padahal apa coba salah kak Anya. Kalau bang Kenan ngga suka sama dia, bukan salahnya kak Anya dong. Lagian kak Anya sama bang Kenan kan sepupuan, jadi wajar aja kalau dekat. Ditambah bang Kenan kan emag diminta om Cakra jagain kak Anya.”


“Keadaan Anya gimana?”


“Katanya sih udah baikan. Kebayang deh kalau aku jadi kak Anya pasti udah pingsan. Aku yang cuma denger ceritanya dari bang Revan aja merinding. Aku baru tahu juga kalau kak Anya itu indigo.”


“Anya indigo?”


“Iya bang. Makanya dia tuh kemana-mana ditemenin bang Kenan. Kata pak ustadz kak Anya itu punya daya tarik buat para mahkluk halus mendekat. Selain bang Kenan, ada bang Aric, bang Ken sama bang Barra juga yang suka jagain. Kalau ada salah satu dari mereka, tuh dedemit ngga akan berani deket-deket kak Anya.”


Irvin hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Dia juga menyesal telah berlaku kasar pada Anya saat hari ulang tahunnya. Karena harus segera pergi ke Sabang, dirinya belum sempat meminta maaf pada Anya. Walau Irvin sudah menemui Sekar dan Cakra, mengakui perbuatan salahnya dan meminta maaf, namun pria itu belum mengatakannya secara langsung pada Anya.


Lamunan Irvin terhenti ketika melihat Revan melintas. Adiknya itu sudah bersiap untuk pergi dengan ransel di bahunya. Buru-buru Irvin beranjak dari tempatnya dan menyusul Revan.


“Van, mau kemana?”


“Ke Jagdish café. Mau manggung di sana.”


“Sama siapa?”


“Ya sama anak-anak lah.”


“Anya ikut ngga?”


“Ikut. Emangnya kenapa?”


“Tungguin, gue ikut ya.”


“Nyusul aja. Gue buru-buru nih, mau check sound dulu.”


“Ya udah. Kirimin lokasinya.”


Revan hanya mengangkat jempol tangannya ke arah Irvin. Pemuda itu kemudian bergegas menaiki kendaraan roda duanya. Deru suara motor terdengar ketika Revan meninggalkan kediamannya.


Sepeninggal Revan, Irvin segera menuju ke kamarnya. Dia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Demi meminta maaf pada Anya, pria itu menyingkirkan rasa lelahnya dan bermaksud menemui Anya malam ini juga. Semoga saja gadis itu mau memaafkannya.


☘️☘️☘️


Maaf up nya telat. Abis me time dulu, menyegarkan pikiran. BTW mamake ngakak deh pas bikin part Kenan ama Freya, lucu ngga sih?🤭🙈

__ADS_1


__ADS_2