KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Season 2 : Kenan Bikin Bengek


__ADS_3

“Orang tuamu kerjanya apa?”


“Bapak saya kerjanya banyakan duduk-duduk aja sih, om. Sambil lihatin orang yang keluar masuk ruangan. Kadang kalau ada yang bandel suka ditegur.”


“Bapakmu mandor?”


“Bukan, om.”


“Supervisor.”


“Ya sejenis itulah om. Kalau istilah kerennya supervisor atau pengawas.”


“Emang bapakmu kerja di mana sih? Belat-belit ngga jelas,” kesal Risma.


“Widih tante kepo ya. Kepo tuh sejenis penyakit menular tante. Apa tante tahu kalau kepo itu bisa menimbulkan gata-gatal, panu, kadas, kurap plus rorombeheun?”


Zahra menutup mulut dengan tangannya. Sungguh gadis itu merasa terhibur malam ini. Disangkanya suasana pertemuan dengan Sandi akan dipenuhi dengan perang urat saraf yang bisa menyebabkan darah tinggi. Namun ternyata adegan mengocok perut yang disuguhkan oleh kekasihnya. Zahra puas sekali melihat wajah dongkol Risma dan Sandi.


“Jelasnya bapakmu kerja di mana?” tanya Sandi, sama seperti halnya Risma, pria itu juga tengah menahan kekesalannya pada Kenan.


“Bapak saya itu penjaga toilet umum, om.”


Uhuk.. uhuk..


Zahra sampai tersedak minumannya saat mendengar jawaban ngaco Kenan. Sebisa mungkin gadis itu menahan tawanya yang hendak meledak. Membayangkan Abi mengenakan jas lalu duduk di depan toilet umum, hampir membuat Zahra tak bisa menahan ledakan tawanya.


“Cih.. tinggal bilang penjaga toilet umum aja pake belat-belit,” kesal Risma.


“Kalau ibumu?”


“Ibu saya perawat, om.”


“Perawat di mana?” tanya Risma penasaran atau lebih tepatnya menjurus ke arah bingung. Bagaimana bisa seorang perawat menikah dengan penjaga toilet.


“Perawat di kandang ayam. Kerjaannya ngecek ayam yang baru bertelor. Ibu tugasnya nyatet tanggal ayam bertelor terus dicek tiap haru sampe netes. Kebetulan tetangga di samping rumah miara ayam.”


“Banyak?”


“Ngga om. Cuma 5, 1 jantan, 4 betina. Hebat ya om, tuh ayam bisa poligami. Akur lagi, semua betinanya subur. Menang banyak tuh si ayam pejantan tangguh.”


Ingin rasanya Risma melempar centong sayur ke muka Kenan. Wanita itu jadi penasaran dengan rupa orang tua Kenan. Profesi mereka jauh dari kata elit tapi bisa mencetak anak yang tampan lengkap dengan mulut bawelnya.


“Dengar Kenan. Sebagai orang tua, jujur saja, saya mengharapkan anak saya bisa berjodoh dengan lelaki baik dan mapan.”


“Iya, om. Saya mengerti, makanya saya berani datang ke sini. Karena saya itu baik dan mapan plus tampan.”


“Mapan dari mana? Motor kamu aja motor jadul.”


“Bukan jadul tante, tapi antik. Udah ngga ada stoknya lagi di dunia ini. Kalau ada yang mau beli dengan harga selangit juga saya ngga akan dijual.”


“Emang ada yang mau beli?”


“Ngga ada tante, makanya ngga dijual. Lagian bego aja kalau ada orang yang mau beli motor tua kaya gitu dengan harga selangit.”


Risma menghembuskan nafas kasar. Sungguh berbicara dengan Kenan menguras emosinya. Membuat tensi darahnya naik seketika. Namun Kenan terlihat santai saja, sedang Zahra begitu menikmati kejahilan kekasihnya.


“Intinya, ngga ada nilai lebih dari kamu untuk anak saya,” tegas Sandi.


“Cinta saya tulus, om.”


“Hidup itu ngga cuma makan cinta.”


“Bener om, mana kenyang kalau makan cinta. Emangnya Zahra itu Milea yang bisa kenyang dengan gombalan Dilan.”


“Nah itu kamu tahu.”


“Tapi saya kan udah bisa cari uang sendiri. Beres kuliah saya juga bakal cari pekerjaan untuk bisa memenuhi kehidupan saya sambil nabung untuk menikah dengan Zahra. Saya percaya, dengan kerja keras, saya bisa mencukupi kehidupan Zahra. Lebih baik hidup pas-pasan asal orang yang kita cintai, sayang, cinta dan setia sama kita. Daripada hidup mewah tapi pasangan kita ngga setia, selingkuh di belakang. Karena menikah itu bukan melulu soal materi tapi harus ada kasih sayang dan kesetiaan di dalamnya.”


JLEB


Ucapan Kenan menohok batin Sandi. Beberapa kali pria itu berdehem untuk mengusir perasaan tidak nyaman akibat ucapan Kenan. Zahra tersenyum tipis, perkataan Kenan penuh dengan sindiran untuk sang papa.


“In Syaa Allah, saya mencintai dan menyayangi Zahra. Saya juga akan selalu setia sama dia. Godaan di luar itu berat, om. Zaman sekarang perselingkuhan itu seperti hal yang wajar dan anehnya banyak perempuan yang senang banget godain pria yang sudah punya pasangan. Alhamdulillah bapak saya setia orangnya. Saya dapat contoh yang baik dari bapak saya bagaimana cara menjaga kepercayaan dan kesetiaan. Menjaga diri dari godaan pelakor.”


“Siapa juga yang mau sama penjaga WC!”


Ada kemarahan dalam ucapan Risma. Wanita itu kesal mendengar cerocosan Kenan yang seakan tengah menyindirnya. Memang benar, dulu dia lebih tertarik pada Sandi yang notabene sudah berisitri. Padahal banyak pria lajang yang mengejar cintanya. Wanita itu lebih senang mendekati dan menggoda Sandi, hingga akhirnya pria itu luluh dalam dekapannya.


“Jangan salah tante. Bapak saya kalau didandanin, gantengnya ngalahin James Bond loh.”

__ADS_1


“Heleh.”


“Saya akan ijinkan kamu menikah dengan Zahra kalau kamu bisa membelikan rumah untuknya. Bukan rumah tipe 21 atau sederhana. Minimal rumah seperti milik kami. Apa kamu sanggup?” ujar Sandi dengan penuh penekanan.


“Sanggup, om. Apa sih yang ngga aku lakuin untuk bisa bersama Zahra. Kalau perlu saya ngepet biar bisa punya uang banyak buat beli rumah. Nanti om sama tante tolong jagain lilinnya, ya.”


“Hahahaha…”


Akhirnya Zahra tak bisa menahan tawanya lagi. Risma melihat kesal pada anak tirinya itu. Bagaimana pun caranya dia harus bisa membujuk Sandi menikahkan Zahra dengan Jay. Kehidupan mereka akan terangkat jika mereka bisa berbesan dengan keluarga Jay. Selain masalah harta, Risma juga tak tahan kalau harus memiliki menantu seperti Kenan yang mulutnya tidak berhenti ngoceh. Semua ucapan yang keluar dari mulut pemuda itu sukses membuatnya naik darah.


“Saya tidak bercanda!”


“Saya juga ngga bercanda, om. Saya akan buktikan janji saya sama om. Nanti saya bawakan sertifikat rumah atas nama Zahra pada om.”


“Aku tidak butuh itu, Nan. Yang aku butuhkan pasangan yang setia yang selalu menjaga hatinya untuk satu wanita. Bukan lelaki yang mudah tergoda dengan wanita lain. Meninggalkan anak dan istrinya demi wanita penggoda.”


“ZAHRA!!”


“Kenapa? Papa ngga sanggup mendengar kenyataan tentang diri papa?”


“Jaga mulutmu. Ingat ada adik-adikmu di sini!” geram Sandi.


“Aku harus menjaga perasaan mereka? Kalian sendiri tidak pernah menjaga perasaan Silva saat dia datang ke sini. Bercerminlah sebelum menghakimi orang lain. Ini pertama dan terakhir kalinya aku datang ke sini. Terima kasih untuk makan malamnya. Ayo, Nan.”


Zahra bangun dari duduknya kemudian menarik tangan Kenan. Sandi bergegas berdiri kemudian menyusul anaknya itu sambil berteriak menahan Zahra. Tanpa mempedulikan teriakan sang ayah, Zahra terus menarik tangan Kenan keluar dari rumah.


“Papa tidak akan pernah menikahkanmu dengannya, Zahra!!” teriak Sandi.


“Saya akan pastikan om merestui dan menikahkan kami. Tunggu saja, om.”


Kenan segera menyalakan mesin motor setelah melontarkan kata-kata yang semakin membuat Sandi geram. Pria itu hanya bisa memandangi motor bebek tahun tujuh puluhan itu meluncur pergi dari kediamannya. Tangannya mengepal kencang, dia harus mencari cara lain agar Zahra mau menuruti keinginannya.


☘️☘️☘️


Ravin mengawasi para pegawai yang mempersiapkan pembukaan Krishna Café. Hotel Yudhistira memang menambah fasilitas café yang terletak di rooftop hotel. Di sana juga disediakan kolam yang dalamnya hanya semata kaki. Di kolam berukuran 10x10 meter itu juga terdapat meja, di mana pengunjung café menikmati makanan sambil merendamkan kaki di kolam.


Pada acara pembukaan café ini, dia meminta The Myth band yang menjadi salah satu pengisi acara. Acara pembukaan sedianya akan dilangsungkan setengah jam lagi. Para pengisi acara sudah bersiap di dekat panggung yang berada di atas kolam. Tak jauh dari sana, Kenan beserta personil lainnya, termasuk Anya dan Alisha sudah datang.


Para tamu undangan sudah mulai berdatangan. Sebagian besar tamu adalah partner bisnis Arjuna dan Yudhistira hotel, sebagian lagi klien mereka yang sering menggunakan jasa hotel dan sisanya disebar secara acak. Jay, datang mewakili Armenia food. Bersamanya, turut serta pula Sandi yang memboyong seluruh keluarganya.


Kenan memang meminta Ravin mengundang keluarga Zahra secara tidak langsung. Kakak iparnya itu sengaja memberi tambahan undangan pada Jay. Sesuai prediksi, pria itu memberikannya pada Sandi.


“Malam pak Ravin. Oh iya, kenalkan ini pak Sandi, calon mertua saya.”


Ravin menyalami Sandi dan Risma bergantian. Pria itu mencibir dalam hati mendengar ucapan Jay. Kenan memang sudah menceritakan semuanya. Dan tentu saja Ravin mendukung rencana adik iparnya itu untuk membatalkan perjodohan Zahra dan Jay.


“Silahkan duduk. Saya tinggal dulu.”


Ravin segera meninggalkan Jay dan yang lainnya, bergabung bersama dengan Ezra yang juga datang untuk membuka secara resmi café ini. Sandi terus memandangi Ravin yang tengah berbicara dengan Ezra. Hatinya senang Jay mengajaknya dan keluarganya ke acara pembukaan café ini. Di sini banyak orang penting yang berdatangan.


“Yang tadi itu siapa?” tanya Sandi.


“Ravindra, GM hotel Arjuna. Sebentar lagi dia akan naik jadi direktur utama, menggantikan Ezra yang akan ditarik ke kantor pusat.”


“Ezra siapa?”


“Anaknya Perwira Arjuna Hikmat, pemilik Blue Sky. Hotel Arjuna dan Yudhistira adalah salah satu cabang usahanya.”


Mata Sandi beralih ke arah pintu masuk café. Di sana nampak Aric dan Naya memasuki café, disusul oleh Fathan dan Azra dan tak berselang lama, Hanna dan Barra menyusul. Semuanya segera bergabung dengan Ravin dan Ezra. Mata Jay tak lepas memandang Freya yang baru saja tiba. Istri dari Ravin itu mempunyai pesona kuat yang membuatnya tak bisa melepaskan pandangan darinya.


“Kalau mereka siapa?” pertanyaan Sandi membuyarkan lamunan Jay.


“Itu Atalaric Dunia, anak dari Cakrawala Dunia, pemilik Maeswara Dunia. Istrinya Nayara, anak dari Jovan Romano, pemilik J&J Entertainment. Yang itu, Barra, kakaknya Naya. Nah yang perempuan yang rambut sebahu, kembarannya Ezra. Suaminya asisten wakil CEO Metro East.”


Sandi terus memperhatikan semua orang yang disebutkan tadi. Dirinya tak menyangka bisa bertemu keturunan keluarga Hikmat. Menjalin hubungan dengan Jay benar-benar bisa menarik dirinya ke kalangan atas. Dia harus bisa meyakinkan Zahra menikahi pria yang duduk di sebelahnya.


“Kalau wakil CEO Metro East, apa kamu tahu?”


“Aku cuma tahu namanya, Kenzie Nagendra, tapi belum tahu yang mana orangnya. Semua anak Abimanyu Hikmat tidak ada yang terekspos media. Hanya orang tertentu saja yang tahu wajahnya. Pak Abi sendiri jarang terekspos media. Selama ini Fathan yang maju jika berurusan dengan media.”


“Tapi kamu tahu anak dari Arjuna, Cakra dan Jovano.”


“Naya pernah posting tentang dirinya dengan Aric. Kalau Barra kan memang kerja di entertainment, makanya sering terekspos media. Kalau Ezra, dia bos di hotel Arjuna. Udah pasti aku tahu.”


Sandi manggut-manggut saja mendengar penjelasan Jay. Dia sungguh penasaran dengan keluarga Abimanyu. Pemilik bank tempatnya bekerja adalah kolega dari Abimanyu, kalau dia bisa berkenalan dengan pria itu, pasti akan mempermudah jalannya untuk menaiki jenjang karir yang lebih tinggi lagi.


Perhatian Sandi teralihkan ketika mendengar sang MC membuka acara. Setelah menyambut tamu undangan, MC tersebut mempersilahkan Ezra untuk membuka secara resmi Krishna café. Setelah mengucapkan pidato singkatnya, pria itu menekan tombol yang ada di dekat mimbar tempatnya berdiri. Pengunjung café dikejutkan dengan percikan kembang api di dekat panggung serta confetti dan bertepatan dengan itu terdengar suara musik mengalun. The Myth menjadi pembuka acara malam ini.


Suara merdu Kenan langsung terdengar ketika menyanyikan lagu lawas milik Bon Jovi. Dia beserta personil yang lain memang sengaja memilih lagu tahun 90-an, karena pengunjung café tidak semuanya anak muda. Dia ingin mengajak tamu undangan yang sudah berumur untuk bernostalgia dengan menyanyikan lagu dari band rock yang begitu popular di masanya.

__ADS_1


Mata Sandi dan Risma membelalak begitu melihat pemilik suara merdu itu ternyata Kenan. Pemuda yang menjadi pilihan Zahra. Pemilik mulut ember yang setiap kicauan yang keluar dari mulutnya membuat pasangan suami istri itu pening. Dila dan Sisil juga terkejut, tapi mereka senang bisa melihat Kenan dan mendengar suara merdunya.


“Kenapa om? Om kenal sama vocalis itu?” tanya Jay yang melihat perubahan pada wajah calon mertuanya itu.


“Itu Kenan, pemuda yang om ceritakan. Dia yang sedang menjalin hubungan dengan Zahra.”


“Oh ternyata kerjanya ngamen di café-café,” cibir Jay yang merasa dirinya di atas angin.


“Iya. Bapaknya cuma penjaga toilet,” sambung Sandi.


“PD juga dia deketin Zahra.”


“Kamu jangan mau kalah saing sama dia, Jay. Kamu harus bisa memikat hatinya Zahra. Kamu tuh jauh lebih baik dari dia,” sambung Risma.


Jay sudah tidak mendengarkan apa yang dikatakan Risma selanjutnya. Perhatiannya teralihkan ke atas panggung saat mendengar suara wanita bernyanyi. Kali ini Kenan sedang berduet dengan Anya. Mata Jay memandang tak berkedip pada gadis itu.


Riuh tepuk tangan langsung terdengar ketika pasangan duet tersebut menyelesaikan lagunya. Jay juga ikut bertepuk tangan dengan kencang. Kebetulan sekali meja yang ditempatinya memang dekat dengan panggung. Kenan berbisik pada Anya mengatakan perihal Jay. Sontak gadis itu melihat ke arah Jay. Reflex Jay mengedipkan matanya pada Anya. Pria itu terkejut ketika Anya membalas kedipannya dengan menaikkan hidung dengan jempolnya seraya menjulurkan lidahnya.


Kenan tersenyum sinis ke arah Jay. Sambil merangkul bahu Anya, pria itu turun dari panggung disusul personil The Myth lainnya. Akan ada pengisi acara lain yang menghibur pengunjung yang datang. Adegan Kenan dan Anya tertangkap oleh mata Sandi. Pria itu hanya berdecih saja.


“Lihat itu. Kemarin dia bilang soal setia. Tapi sekarang dia merangkul perempuan seenaknya saja. Andai saja Zahra melihat, dia tidak akan mempertahankan bocah tengil itu,” gumam Sandi dan hanya diangguki oleh Risma.


Sandi terus memperhatikan Kenan yang tengah berkumpul dengan para sahabatnya. Mereka terlihat asik berbincang. Sesekali nampak Anya mengalungkan tangannya ke lehar Kenan. Sandi semakin tak menyukai Kenan, di matanya pemuda itu tak lebih dari seorang playboy yang berkedok malaikat.


Suasana semakin ramai, tamu yang datang bertambah banyak, salah satunya adalah Kenzie dan Nara. Seorang pelayan segera memandu pasangan itu ke meja yang sudah disiapkan. Kenzie menarik kursi untuk istrinya baru menarik kursi sebelah untuknya. Posisi mejanya berdekatan dengan meja yang ditempati Sandi.


Mata Kenzie berkeliling mencari keberadaan para sahabatnya. Dia memang sedikit terlambat datang ke acara pembukaan, karena tiba-tiba saja Nara mengatakan calon anak merema minta dijenguk. Tentu saja Kenzie dengan senang hati mengabulkan permintaan istrinya itu. Sandi yang duduk tak jauh dari Kenzie, tanpa sengaja melihat ke arah pria itu. Sejenak dia berpikir karena tak aneh dengan pria berwajah dingin tersebut.


“Zahra mana, om?” tanya Jay dan terdengar oleh Kenzie. Pria itu sontak melihat ke sebelahnya.


“Mungkin masih di rumah sakit. Ongat ya, kamu jangan sampai kalah saing sama Kenan,” peringat Sandi.


“Tenang aja, om. Tapi om harus dukung aku terus.”


“Itu sudah pasti.”


“Modal tampang doang dia, om.”


“Benar. Om ngga setuju dia dengan Zahra. Bocah tengil seperti itu, lihat saja kelakuannya sudah seperti playboy. Dia itu ngga sepadan untuk Zahra. Biar dia mengemis di bawah kaki om, om ngga akan setuju.”


Mendengar Sandi memandang rendah adiknya, karuan saja memancing emosi Kenzie. Rahang pria mengeras, kedua tangannya terkepal kencang. Baru saja dia hendak berdiri, Nara buru-buru menahannya. Wanita itu membisikkan sesuatu di telinga suaminya itu dan berhasil membuat Kenzie menahan diri.


“Om, saya permisi sebentar.”


Jay bangun dari duduknya melihat Anya beranjak dari tempatnya. Pria itu bergegas mengikuti kemana langkah gadis itu. Terlihat Anya memasuki toilet. Jay sengaja menunggu di dekat sana sampai Anya selesai. Begitu melihat Anya keluar, Jay bergegas mendekati.


“Hai..” sapanya namun tak diacuhkan oleh Anya. Gadis itu terus melenggang pergi. Namun Jay tak menyerah dan terus mengikuti Anya. Bukankah dia harus punya dua pegangan, seandainya Zahra tak menerimanya.


“Kenalan boleh dong. Aku suka sama suara kamu yang merdu,” Jay tak patah semangat.


“Bomat.”


“Semakin jutek, semakin cantik kamu tuh.”


“Cih gombalan receh.”


“Ngga apa receh. Dikumpulin kan bisa jadi jutaan juga.”


“Pede banget jadi orang. Abis ngerefil pede di mana?”


“Lihat kamu kepedeanku meningkat dratis.”


“Dan denger gombalan kamu bikin kuping gue mendadak congean.”


“Hahaha…”


Entah mengapa Jay malah menyukai keketusan Anya. Gadis di depannya ini terlihat begitu menggemaskan di matanya. Jika Zahra tipikal jutek yang serius, kalau Anya jutek yang somplak. Komen yang keluar dari mulutnya malah membuatnya ingin terus berbalas pantun dengannya.


“Serius nanya nih. Nama kamu siapa?”


“Nyi Ronggeng.”


“Hahahaha.. asli kamu gemesin banget sih. Udah punya pacar belum.”


“Anya..”


Jay terjengit ketika mendengar suara pria di belakangnya.


☘️☘️☘️

__ADS_1


Nah siapa tuh yang di belakang Jay?


__ADS_2