
Kebahagiaan Teddy dan Rahma semakin bertambah, dalam kurun waktu tiga bulan berturut-turut mereka mendapatkan tiga orang cucu dari anak-anak mereka. Setiap bulannya mereka selalu mengadakan syukuran di kediaman anak-anaknya.
Dimulai dari Nina yang melahirkan anak ketiganya. Anak bungsu dari pasangan Abi dan Nina ini berjenis kelamin laki-laki. Abi memberinya nama Kenan Mahendra Hikmat. Kenzie tentu saja menyambut kelahiran adik keduanya. Keinginannya terkabul mendapatkan adik laki-laki.
Rahma memandangi Kenan yang tertidur pulas di dalam boks. Wajah Kenan begitu mirip dengan Abi, bahkan bisa dikatakan duplikat Abi. Tak ada satu pun yang berbeda, raut wajah Kenan benar-benar seperti Abi saat kecil dulu. Rahma seperti melihat anak keduanya terlahir kembali.
“Kenapa ma?” tanya Nina yang melihat Rahma termenung menatap anak bungsunya.
“Wajah Kenan mirip banget sama Abi pas baru lahir.”
“Masa sih ma?”
“Iya, kamu tanya aja papa. Mama yakin, nanti kalau udah besar mirip banget sama Abi. benar-benar duplikatnya.”
“Asal jangan kelakuannya aja ya ma. Udah cukup Kenzie aja yang mirip dia.”
“Hahaha.. kamu tuh ada-ada aja.”
Rahma merangkul Nina kemudian mengajaknya keluar kamar karena tak ingin mengusik tidur Kenan yang nampak lelap. Begitu mereka keluar, diam-diam Kenzie dan Freya masuk ke dalam. Keduanya berdiri di dekat boks, memandangi adik bungsu mereka.
“Dede Kenan cakep.”
“Cakepan abang,” Freya menyebikkan bibirnya ke arah sang kakak.
“De.. cepet gede ya, nanti kita main bola. Abang bosen main sama Freya yang cengeng.”
“Abang ahat hiks.. hiks..”
“Dasar cengeng wlee..”
Kenan menjulurkan lidahnya ke arah Freya kemudian berlari keluar kamar sebelum tangis adiknya itu pecah. Freya pun segera mengejar sang kakak yang entah kabur kemana. Aric yang melihat Freya segera menghampirinya.
“Kenapa Freya?”
“Abang ahat hiks.. hiks.. ledekin Fley teyus.”
“Cup.. cup.. udah jangan nangis.”
Aric merangkul Freya kemudian membawanya ke halaman belakang. Dia lalu mengambilkan kue coklat kesukaan Freya. Tangis Freya seketika berhenti saat mendapatkan kue kesukaannya. Tak lama Barra menghampiri.
“Frey.. itu ingusnya dilap dulu.”
“Huaaa... Bala ahat...”
“Bala.. bala.. nama gue Barra.. Barr..rra.”
Barra sengaja menekankan kata ‘r’ yang belum bisa diucapkan Freya dengan benar. Hal itu tentu saja membuat Freya bertambah kesal, Barra yang senang mengganggu Freya hanya terpingkal melihatnya. Namun seketika tawanya terhenti ketika sebuah toyoran mendarat di kepalanya. Kenzie, sang pelaku penoyoran hanya memasang wajah datarnya saat Barra melihatnya dengan sewot.
“Apa lo lihat-lihat?”
“Dasar tyrex,” ucap Barra sambil berlalu. Aric hanya tertawa mendengar julukan Barra untuk Kenzie.
“Ngga usah ketawa!”
Kenzie menyelipkan kedua tangannya di saku celana kemudian ikut berlalu. Aric kemudian mengajak Freya duduk di kursi taman. Melihat sang kakak datang dan membalas Barra membuat tangis anak itu berhenti. Dia kembali menikmati kue kesukaannya dengan tenang.
☘️☘️☘️
Sebulan berselang, giliran Nadia yang melahirkan anak ketiganya. Juna begitu bahagia ketika anaknya yang berjenis kelamin perempuan lahir dengan selamat tanpa kekurangan apapun. Dia menamakan anak cantinya itu, Alisha Maheswari Hikmat. Ezra dan Azra juga bahagia menyambut kelahiran adik mereka.
Syukuran kembali diadakan di kediaman Juna. Bukan hanya keluarganya saja yang hadir, namun semua sahabatnya juga datang merayakan syukuran kelahiran anaknya. Ravin dan Viren memandangi bayi mungil yang tidur tenang di dalam boks. Tak lama Rindu datang menghampiri anak mereka.
“Abang Ravin sama Viren suka ya lihat dede Al.”
“Iya ma. Aku mau adek perempuan dong. Ngga mau punya adek laki-laki,” Ravin melihat ke arah Viren yang tak mempedulikan kata-katanya.
Rindu menghela nafas panjang melihat kedua anaknya. Usia Ravin dan Viren hanya berbeda dua tahun saja, mereka kerap bertengkar memperebutkan sesuatu. Ravin yang mudah emosi dan Viren yang senang sekali mengganggunya kerap membuat kepala Rindu pusing.
“Udah sana kalian main, jangan di sini. Nanti dede Alnya bangun.”
Ravin dan Viren segera keluar dari kamar kemudian bergabung dengan teman-temannya yang lain. Tak lama Rindu menyusul keluar, dia memilih berkumpul bersama para wanita yang tengah asik bergosip ria di halaman belakang.
“Rin.. lo ngga kepengen nambah momongan gitu?” tanya Sekar begitu sahabatnya bergabung bersama mereka.
“Ngga ah.”
“Kan lo belum punya anak cewek. Ayo usaha lagi.”
“Ya kalo dapet cewek, kalau cowok lagi, puyeng gue. Ngadepin Ravin sama Viren aja bikin gue darah tinggi.”
“Sesuatu banget ya Rin, punya anak cowok,” ucap Nina.
“Tapi aku biasa aja tuh. Kak Nadia juga kan?” tanya Sekar pada kakak iparnya.
“Ya kalian biasa karena suami kalian itu kalem, dan perilakunya normal gitu loh. Kalau kita? Yang satu beruang kutub, yang satu kulkas dua pintu hahaha...”
Semua tergelak mendengar ucapan Nina yang benar adanya. Ezra dan Aric mewarisi sikap ayah-ayah mereka. Ezra yang tenang, Aric yang ceria. Berbeda dengan Kenzie yang sifatnya seperti Abi, dingin dan ketus saat bicaranya. Begitu pula dengan Rindu, kedua anaknya memiliki sikap yang bertolak belakang. Ravin lebih condong seperti dirinya, sedangkan Viren mirip Kevin. Alhasil mereka berdua kerap terlibat pertengkaran.
“Kalau Barra gimana Din?”
“Beuh.. dia mah narsis abis, berasa paling ganteng. Soalnya adeknya cewek semua.”
“Hahaha..”
“Kalau Fathan gimana?” tanya Nina pada Ruby. Semenjak memiliki anak, Ruby memang sudah mulai berkumpul dengan Nina and the gank.
“Plek ketiplek kaya mas Agung. Ngga banyak ngomong sama galak juga. Aku dikomplain sama ibu-ibu di sekolah, gara-gara Fathan sering bikin anak mereka nangis.”
“Hahaha...”
Tawa mereka kembali terdengar. Membicarakan anak-anak mereka merupakan hal yang biasa mereka lakukan semenjak mempunyai anak. Kadang mereka bertukar pikiran bagaimana menghadapi kelakuan anak-anak mereka yang ajaib.
☘️☘️☘️
__ADS_1
Bulan berikutnya, keluarga Hikmat kembali menggelar acara syukuran setelah Sekar melahirkan anak keduanya. Pada kelahiran kedua ini, kondisi Sekar baik-baik saja, walau tetap tidak bisa melahirkan secara normal, namun melihat sang istri yang sehat dan melahirkan tepat pada waktunya membuat Cakra tenang. Bahkan dia ikut masuk ke dalam ruang operasi menemani sang istri.
Sesuai keinginan mereka, anak kedua pasangan ini adalah seorang perempuan. Cakra memberinya nama Lavanya Pratista Dunia. Dan setelah kelahiran Lavanya, Cakra memutuskan tidak menambah momongan lagi. proses melahirkan Sekar yang melalui operasi caesar memang tak memungkinkan mereka mempunyai anak banyak. Tapi mereka sudah bahagia dikaruniai sepasang anak laki-laki dan perempuan.
Acara syukuran digelar di kediaman Cakra. Rumah peninggalan orang tuanya ini telah mengalami perombakan. Cakra menambah beberapa ruangan baru untuk kamar anaknya dan kamar bermain. Bi Parmi juga sudah pensiun, dan sekarang digantikan oleh anaknya, Dian.
Aric bersama anak-anak lainnya memilih bermain di ruang bermain. Di sana sudah tersedia berbagai macam mainan, baik untuk perempuan ataupun laki-laki. Ruang bermain ini memang cukup luas, hingga mereka bisa bergerak bebas bermain di sana. Nampak anak-anak terbagi dalam dua kubu. Kubu anak laki-laki dan juga perempuan. Mereka anteng main bersama tanpa saling mengganggu.
Sedang para orang tua seperti biasa berkumpul sesuai gendernya. Para ibu berkumpul di halaman belakang. Sedangkan para bapak berkumpul di teras depan. Sesekali terdengar gelak tawa di sela-sela perbincangan mereka.
“Nih kalian udah kaya lomba marathon bikin anak aja. Tiga bulan berturut-turut pada lahiran semua,” celetuk Jojo.
“Ngga usah komen. Lo juga kan peserta,” kekeh Juna.
“Iya juga ya hahaha..”
“Cebongnya si Jojo rajin banget beranak pinak ye. Di antara kita, dia yang paling banyak ternak cebong,” ujar Cakra.
“Itu membuktikan kalau cebong gue kualitas unggul.”
“Heleh emang dasar lo aja otak mesum. Ngga bisa lihat si Pus nganggur, langsung digarap.”
Ucapan Abi langsung disambut gelak tawa lainnya. Jojo pun tak membalas karena memang benar adanya, dia tak pernah bisa menahan diri setiap berdekatan dengan sang istri. Pria itu juga melarang istrinya memakai alat kontrasepsi, alhasil kecebongnya berkembang biak dengan subur.
“Lo ngga mau nambah Vin?”
“Pengen sih. Cuma susah.”
“Susah kenapa?”
“Noh tuyul dua nempel mulu ama emaknya. Ada aja gangguan tiap gue mau ngegarap emaknya.”
“Sokooorrr,” Jojo.
“Hahahaha... tuh tuyul hasil cebong lo, kampret,” Juna.
“Buset, anak sendiri dikatain tuyul,” Cakra.
“Kan dia gegedugnya tuyul,” Abi.
Gelak tawa kembali terdengar. Naysila yang juga ikut datang bersama suaminya sontak langsung melihat ke arah para lelaki yang berkumpul di teras. Dia masih belum mengerti, tingkah mereka jika sedang berkumpul. Wanita itu terjengit ketika anak pertamanya yang ada dalam gendongannya menangis.
“Aa.. kayanya Revan pengen nen*n,” ucap Naysila pada Radix.
“Ke kamar aja.”
Radix meminta ijin pada Sekar untuk membawa sang istri ke kamar. Nyonya Cakra itu mengarahkan sahabatnya ke kamar tamu. Setelah mengantar Naysila ke kamar, dia kembali berkumpul dengan Gurit, Anfa dan Darian yang berkumpul di ruang tengah. Sekarang Darian sudah resmi bergabung ke dalam genk somplak. Namun dia kerap menjadi bahan bullyan karena status jomblonya.
“Dar.. lo kapan nyusul kita-kita?” tanya Anfa. Secara usia, Darian memang hanya setahun di bawah Anfa.
“Tunggu aja tanggal mainnya.”
“Tunggu tanggal mainnya mulu. Kebanyakan promo lo, tapi kaga launching-launching,” Gurit tergelak.
“Perlu diruqiyah dia,” timpal Gurit.
“Sembarangan lo! Yang perlu diruqiyah bini lo, biar kaga men**sah mulu ngomongnya hahaha.”
Anfa dan Radix melihat ke arah Syakira yang tengah berbicara dengan Rayi kemudian tertawa. Bukannya marah, Gurit malah ikutan tertawa. Pembicaraan soal suara men**sah sang istri sudah bukan hal baru lagi untuknya.
“Eh tapi anak lo ngomongnya ngga kaya emaknya kan? Mana cewek lagi,” ujar Anfa.
“Alhamdulillah ngga. Gue sengaja nyewa guru private sekaligus baby sitter buat ngebimbing anak gue biar ngomongnya ngga kaya emaknya. Syaki juga gue suruh terapi buat ngurangin suara men**sahnya.”
“Berhasil?”
“Dikit. Kalau ngomong sama anaknya udah ngga men**sah dia.”
“Kalau sama elo atau yang lain?”
“Tetep hahahaha..”
“Susah ye udah mendarah daging.”
“Makanya mana tahan si Gurit. Noh, si Syaki udah tekdung lagi hahaha..”
“Lo kapan Fa?”
“Bentar lagi launching hahahaha..”
Kediaman Cakra terus diramaikan oleh celotehan para penghuninya. Masing-masing kubu mempunyai bahan pembicaraan yang tak kalah seru. Demikian pula dengan anak-anak mereka yang asik bermain tanpa mempedulikan orang tua mereka yang tengah asik bergosip.
☘️☘️☘️
“Aaaawww..”
Adinda menjerit untuk kesekian kalinya saat merasakan kontraksi. Jojo terus berada di sampingnya, menenangkan sang istri yang merasakan sakit menjelang kelahiran anaknya. Saat ini mereka sudah berada di rumah sakit dan tengah menunggu pembukaan lengkap.
“Sakit panda huhuhu.. kenapa yang sekarang lebih sakit.”
“Sabar ya manda.. sabar sayang..”
“Sabar.. sabar.. sakit tau! Coba panda yang rasain.. aaaawww..”
Kembali terdengar pekikan Adinda. Di kehamilan ketiganya ini, dia memang lebih rewel dan mudah sekali mengeluh. Mulutnya sedari tadi tak berhenti mengomel, Jojo hanya pasrah saja mendengarkan semua celotehan ibu hamil itu.
“Ini semua gara-gara panda. Manda ngga boleh KB, enak di panda ngga enak di manda huhuhu.. panda jahat.”
“Maaf manda.. maaf..”
“Pokoknya abis ini manda mau KB.”
“Iya manda.”
__ADS_1
“Panda ngga boleh minta jatah lagi!”
“Emang manda kuat kalau ngga dikasih jatah sama panda?”
“Pandaaaaaaa!!!”
Teriakan Adinda tentu saja mengejutkan Rahma dan Teddy yang baru saja tiba. Bergegas kedua orang itu masuk ke dalam kamar. Tawa Teddy pecah ketika melihat Adinda tengah menjambak rambut suaminya.
“Aduuuhhh pa.. tolongin jangan ketawa. Manda.. sakit ini.”
“Rasain.. abis panda nyebelin.”
Sambil terus tertawa, Rahma menghampiri keduanya. Dia membujuk Adinda untuk melepaskan jambakannya. Jojo mengusap-ngusap kepalanya yang terasa nyeri. Beberapa helai rambutnya rontok akibat ulah sang istri.
“Huhuhu.. mama.. sakit mama,” Adinda mengadu pada Rahma.
“Sabar ya sayang. Itu anakmu lagi cari jalan keluar.”
Rahma mengusap pinggang Adinda untuk sedikit mengurangi rasa sakit. Tak lama seorang bidan masuk untuk mengecek keadaan wanita itu. Sang bidan meminta Adinda pindah ke ruang persalinan karena pembukaan sebentar lagi akan lengkap.
Dibantu Rahma, Adinda turun dari blankar kemudian berjalan menuju ruang persalinan yang jaraknya tak jauh. Hati-hati Rahma membantu Adinda naik ke meja partus. Jojo terus mengikuti dari belakang.
“Mama di sini aja, temenin Dinda.”
“Iya sayang, mama ngga kemana-mana.”
“Aduuhh.. sakit mama... aaawwww...”
Jojo berinisiatif memanggil bidan karena Adinda terus menerus merasakan kontraksi. Bidan kembali memeriksa keadaan Adinda kemudian memanggil dokter Santi. Pembukaan Adinda sudah lengkap dan sudah tiba waktunya untuk melahirkan. Jojo berjalan mendekat tapi terhenti begitu mendengar ucapan sang istri.
“Panda di luar aja. Aku sebel lihat panda.”
“Panda mau temenin manda di sini.”
“Ngga mau! Manda mau sama mama aja.”
“Udah Jo, kamu ngalah. Biar Dinda sama mama.”
Jojo tak punya pilihan selain mengikuti kemauan sang istri. Menjelang persalinan, Adinda memang kerap marah-marah padanya. dengan langkah lunglai dia berjalan keluar ruang persalinan lalu duduk di samping Teddy. pria paruh baya itu merangkul bahu sahabat anaknya ini. Di saat yang bersamaan Cakra dan Abi tiba disusul oleh Juna dan Kevin.
“Dinda mana?” tanya Juna.
“Di dalem.”
“Lah elo ngapain di sini?” tanya Cakra.
“Dinda ngga mau ditemenin sama gue. Diusir gue sama dia.”
“Hahahaha sokooorrr,” seru Cakra.
“Dendam kesumat itu si Pitak,” sambung Kevin.
“Makanya tuh cebong jangan suruh berkembang biak terus,” lanjut Juna.
“Nyembur mulu sih kerjaan lo,” Abi terkekeh.
“Dasar otak tambleng lo semua,” rutuk Jojo yang hanya dibalas oleh gelak tawa yang lainnya.
Sementara di dalam, Adinda masih berjuang melahirkan anak keempatnya. Rahma dengan sabar mendampingi wanita itu. Dia terus memberikan semangat pada Adinda yang sudah lelah dan mengantuk karena sejak semalam tidak tidur.
Akhirnya setelah melalui perjuangan yang cukup melelahkan, wanita itu berhasil mengeluarkan anaknya dengan bobot 3,4 kilogram dan panjang 49 cm. Suster baru saja membawa anaknya untuk dibersihkan ketika wanita itu menahannya.
“Sus.. bentar. Saya mau lihat anak saya bentar.”
Suster tersebut mendekatkan anak dalam gendongannya ke arah Adinda. Wanita itu melihat sebentar wajah anaknya kemudian menganggukkan kepalanya. Sang suster segera membawanya untuk dibersihkan.
“Kenapa Din?”
“Ngga apa-apa ma. Aku cuma mau lihat apa hidungnya mirip si Kardun.”
“Kardun? Siapa?”
“Itu loh mah tokoh di sinetron Tukang Bala-bala Naik Mercy. Aku sebel banget sama si Kardun. Hidungnya kan kaya jambu air, aku takut anakku mirip dia hidungnya.”
“Hahaha... kamu ada-ada aja.”
Bidan yang tengah membersihkan sisa-sisa darah di rahim Adinda tak bisa menahan senyumnya mendengar celetohan ibu muda itu. Dokter Santi yang menangani semua kelahiran anak Adinda juga ikut tertawa kecil.
Sementara itu di luar ruangan, Jojo tengah berjingkrak kegirangan karena anaknya sudah lahir. Tak berapa lama suster memintanya masuk untuk mengadzani anaknya. Wajah Jojo nampak sumringah melihat wajah cantik anaknya. Dia pun mulai melantunkan adzan di telinga kanan sang anak. Adinda memandangi suaminya dengan wajah terus tersenyum. Kekesalannya pada Jojo menguap begitu saja setelah bayinya lahir.
“Kamu udah punya nama untuk anakmu?” tanya Rahma begitu Jojo selesai adzan.
“Sudah ma. Namanya Dilara Salvina.”
“Nama yang cantik, secantik anaknya.”
“Makasih ma. Bibit siapa dulu dong,” ujar Jojo jumawa.
“Pokoknya abis ini manda mau KB,” sela Adinda.
“Iya sayang iya.”
Rahma tersenyum melihat keduanya. Rasanya bahagia sekali kembali mendapatkan cucu perempuan. Walaupun Jojo dan Adinda bukan darah dagingnya, namun wanita itu begitu menyayangi keduanya layaknya anak sendiri.
☘️☘️☘️
**Akhirnya proses lahiran marathon selesai juga ya🤣 so sebentar lagi kisah anak² mereka akan launching.
Kisah anak² mereka akan tetap di sini dan masih dalam bentuk bonchap ya. Kebijakan NT yang ngga bisa memisahkan jika kisah sequel dibuat judul berbeda. Lagi pula kisah anaknya ngga akan terlalu panjang jadi akan tetap jadi bonchap saja, ok😉
Huaaaa... rencana up tadi sampe sekarang belum beres review😤
Kalau up nya salahkan NT ya readers. Akkkuuuhhhh kechewaaaahhhh**
__ADS_1