KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Dendam Mano


__ADS_3

“Pagi mba.. bisa bertemu pak Abi?”


Rayi menyunggingkan senyuman terbaiknya pada Ruby. Sekretaris Abi itu hanya memandangi dari atas sampai bawah dengan ekspresi datarnya.


Ngga bosnya, ngga sekretarisnya sama aja. Males banget senyum doang, ibadah itu ibadah woi.


“Sudah buat janji?”


“Sudah mba.. bilang aja Rayi Aisyahrani mau ketemu.”


Walau enggan, Ruby mengangkat teleponnya kemudian menghubungi ruangan Abi. Tak lama wanita itu meletakkan gagang telepon di tempatnya.


“Silahkan masuk.”


“Terima kasih.”


Rayi menunggingkan senyum tiga jarinya sebelum masuk ke ruangan Abi. Setelah mengetuk pintu dan mendengar jawaban Abi, gadis itu masuk ke dalam ruangan. Nampak Abi tengah duduk di kursi kebesarannya. Kepalanya mendongak ketika terdengar suara pintu terbuka. Dia menggerakkan jarinya, meminta Rayi mendekat.


“Ini kak.”


Rayi memberikan plastik berisikan satu helai rambut Gean. Abi melihat rambut di dalam plastik. Kemudian dia menatap Rayi dengan wajah datarnya.


“Benar ini rambut Gean, bukan rambut kamu?”


“Ya ampun kak Abi ngga percayaan banget sih. Ya udah kalau ngga percaya.”


Rayi bermaksud mengambil kembali rambut Gean, namun Abi segera menahannya. Gadis itu menyebikkan bibirnya. Berhadapan dengan Abi selalu saja membuatnya naik darah.


“Sebenernya buat apa sih kak? Kakak mau tes DNA ya dengan rambut itu. Jangan bilang kalau Gean itu adik kak Abi yang hilang. Oh my God, jangan sampai ya kak, aku ngga mau punya kakak ipar kaya kak Abi.”


“Udah ngigonya? Sana pulang.”


Rayi berdiri lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Abi dengan kedua tangan bertumpu di meja kerja pria itu.


“Kak Abi bisa ngga sih itu mulut manis dikit ngomongnya. Bilang makasih kek udah ditolongin. Minimal senyum gitu, senyum itu ibadah loh, dapet pahala. Punya muka ganteng juga percuma kalau jarang senyum, asem yang ada tuh muka. Aku heran deh kak Nina kok mau-maunya nikah sama kak Abi. Kalau aku dikasih gratis juga ngga mau.”


PLETAK


Sebuah sentilan mendarat di kening Rayi. Gadis itu langsung mengusap keningnya yang sedikit nyeri. Dia mengambil tempat bedak dari dalam tasnya kemudian membukanya. Matanya membulat melihat keningnya berwarna merah. Sang pelaku kekerasan tanpa merasa bersalah sedikit pun melanjutkan pekerjaannya.


“Dasar kejam,” kelutus Rayi.


“Soal saya minta rambut Gean, jangan bilang padanya.”


“Hmm.. saya pulang dulu. Permisi bapak Satria Abimanyu Hikmat.”


Rayi mengambil tasnya kemudian beranjak menjauhi meja Abi. Berulang kali dia mengambil nafas panjang untuk menghilangkan kekesalan hatinya. Berhadapan dengan Abi benar-benar menguras energi juga emosi. Saat tangannya akan membuka pintu, terdengar suara Abi.


“Kamu siap-siap, sehabis pernikahan saya akan ada tiga klien yang akan pakai jasa WO kamu. Mereka teman-teman saya, jadi pastikan untuk memberikan pelayanan terbaik. Jangan sampai mempermalukan saya yang sudah merekomendasikan.”


Rayi menoleh ke arah Abi. Pria itu berbicara tanpa menatap ke arahnya. Dia terus saja melihat ke arah laptop. Seketika kekesalan Rayi menguap, kalau benar Abi memberinya tiga klien maka dapat dibayangkan bonus yang akan didapatkan dari Mrs. Anne, pemilik WO tempatnya bekerja.


“Terima kasih kak Abi yang ganteng, baik hati walau sering jutek. Sekali lagi terima kasih. Kak Nina beruntung dapet kak Abi, hehehe... bye..”


Rayi segera keluar dari ruangan Abi sebelum pria itu berubah pikiran dan menarik kembali klien yang sudah disodorkan padanya. Abi melirik ke arah pintu yang sudah tertutup kembali ketika Rayi keluar dari ruangan. Senyum tipis tersungging di wajahnya. Kemudian dia menghubungi Beno untuk mengantarkan rambut Gean dan Nina ke lab.


“Ray..”


Rayi menoleh, senyumnya mengembang melihat lelaki yang dicintainya berada di belakangnya.


“Kamu udah mulai kerja Ge?”


“Alhamdulillah. Kamu ngapain di sini? Ketemu pak Abi?”


“Iya. Tau ngga? Aku dapet tiga klien dari pak Abi. Uugghhh aku seneng banget Ge.”


“Syukur deh. Pak Abi emang baik kok orangnya.”

__ADS_1


“Iya sih tapi tetep aja nyebelin. Udah ya aku pulang dulu, yang semangat ya kerjanya biar bisa nabung buat nikah.”


Rayi menepuk lengan kekasihnya itu seraya melemparkan senyum manis. Dia kemudian bergegas masuk ke dalam lift. Gean memandangi Rayi dengan pandangan yang sulit diartikan. Hatinya memang mencintai Rayi, tapi orang tuanya memintanya menikahi wanita lain. Entah mengapa mereka tak pernah menyukai Rayi.


“Ge..”


“Iya pak.”


“Tolong kerjakan laporan ini. Satu jam lagi harus sudah ada di meja saya.”


“Baik pak.”


Gean mengambil berkas dari tangan Cakra kemudian bergegas kembali ke mejanya. Sedangkan Cakra melangkah menuju ruangan Abi. Tanpa mengetuk, pria itu masuk ke dalam ruangan. Dia langsung duduk di hadapan Abi.


“Bi.. lo jadi mau tes DNA?”


“Jadi, gue minta bang Beno antar rambut Nina dan Gean ke lab. Kira-kira berapa lama hasilnya keluar?”


“Kemarin Fatih bilang sekitar tiga harian.”


“Ck.. ngga bisa lebih cepat apa?”


“Itu udah cepet Bi. Biasanya semingguan baru kelar. Nina udah tahu soal ini?”


“Belum. Nanti aja kalau hasilnya udah keluar. Takutnya itu bukan Anfa dan dia kecewa. Tapi ngga tahu kenapa gue yakin banget kalau itu Anfa. Kalau memang benar Gean itu Anfa, dia bisa jadi wali Nina pas nikah nanti.”


“Mudah-mudahan aja Bi. Terus soal Ruby gimana?”


“Beno masih ngawasin dia kan?”


“Iya.. sejauh ini belum ada yang mencurigakan dari dia. Tapi lo harus tetap waspada.”


“Hmm..”


Terdengar pintu terketuk, tak lama Beno masuk ke dalam. Abi segera menyerahkan dua plastik bening berisikan rambut Nina dan Gean pada Beno. Tanpa banyak bicara pria itu mengambilnya kemudian segera keluar ruangan. Abi juga bersiap untuk pergi. Hari ini dia harus kembali memimpin rapat di kantor Juna.


☘️☘️☘️


Ibu Siti Saidah, ketua yayasan Kenanga menyambut kedatangan gadis itu dengan sumringah. Nina adalah salah satu perawat terbaiknya. Namun dia belum tahu kalau kedatangan gadis itu adalah untuk memberikan surat pengunduran diri. Kemarin Abi sudah memintanya untuk mengurus pengunduran dirinya.


“Assalamu’alaikum..”


“Waalaikumsalam. Apa kabar Nina?”


“Alhamdulillah baik bu.”


Nina mencium punggung tangan ibu Siti. Wanita paruh baya itu mengajak Nina masuk ke ruangan yang dijadikan kantornya. Mereka duduk bersisian di sofa. Hubungan Nina dengan ibu Siti memang cukup dekat. Dia seperti ibu kedua bagi Nina setelah ibu Lidya.


“Bagaimana pekerjaan di keluarga Hikmat? Lancarkah?”


“Alhamdulillah bu, sekarang mas Abi sudah bisa jalan lagi.”


“Alhamdulillah. Kamu memang perawat terbaik. Ibu ngga salah merekomendasikan kamu pada keluarga Hikmat. Jadi sekarang kamu sudah bisa menerima job lain, Nin? Kebetulan ada keluarga yang membutuhkan bantuanmu. Pasienmu wanita paruh baya yang terkena serangan stroke.”


Nina terdiam sejenak. Dia berusaha menyusun kalimat agar penolakan sekaligus pengunduran dirinya yang mendadak tidak menyinggung perasaan wanita di depannya ini.


“Hmm.. bu Siti, maaf sebelumnya kalau saya tidak bisa menerima tawaran pekerjaan baru.”


“Kenapa Nin?”


“Saya akan menikah bu.”


“Alhamdulillah akhirnya kamu dan Fares akan menikah juga.”


Nina tertegun mendengar nama Fares. Ibu Siti dan teman-temannya di sini memang belum mendengar putusnya pertunangan dirinya dengan Fares. Nina membuka tasnya lalu mengeluarkan sebuah amplop putih juga undangan pernikahan.


“Saya memang akan menikah bu, tapi bukan dengan Fares. Hubungan saya dengan Fares sudah berakhir empat bulan yang lalu.”

__ADS_1


“Oh maaf Nina, ibu tidak tahu. Lalu kamu akan menikah dengan siapa?”


“Saya akan menikah dengan mas Abi, bu.”


“Abi.. maksudmu Abimanyu anaknya pak Teddy Hikmat, pasien kamu?”


“Iya bu.”


Nina menundukkan kepalanya. Dia sedikit tak enak hati. Selama bekerja sebagai perawat pribadi, dia tak pernah terlibat asmara dengan pasien atau anggota keluarganya. Tapi tidak kali ini. Dia takut bu Siti akan berpikiran buruk tentangnya. Terlebih hubungannya dengan Fares juga kandas saat dia sedang bekerja untuk keluarga Hikmat.


Seakan mengerti kegundahan hati Nina, bu Siti memegang tangan Nina dengan erat hingga gadis itu mengangkat kepalanya. Nampak bu Siti tersenyum ke arahnya membuat perasaan Nina sedikit lega.


“Ibu turut senang mendengarnya. Walau ibu tidak mengenal calon suamimu, tapi ibu yakin dia adalah laki-laki yang baik. Pak Teddy dan ibu Rahma adalah orang yang baik. Mereka tidak pernah memandang orang dari status sosialnya. Kamu beruntung menjadi bagian keluarga mereka. Ibu juga lega kamu bisa lepas dari pria brengsek seperti Fares.”


“Ibu...”


“Ibu pernah beberapa kali melihat Fares berjalan dengan seorang perempuan. Dari bahasa tubuh mereka terlihat kalau hubungan mereka lebih dari sekedar teman. Maaf kalau ibu tidak pernah memberitahumu, ibu takut salah duga dan menghancurkan hubungan kalian. Ibu doakan kamu dan Abi berbahagia.”


“Terima kasih bu. Ini ada undangan untuk ibu dan teman-teman di sini. Aku harap ibu dan yang lainnya bisa datang.”


“In Syaa Allah ibu akan datang.”


“Dan aku juga mau memberikan surat pengunduran diri bu. Maaf tapi mas Abi tidak mengijinkanku bekerja lagi.”


Nina menyodorkan amplop putih di tangannya berikut undangan pernikahannya. Bu Siti menerima pemberian Nina dengan senyum di wajahnya. Walau pun berat, tapi dia harus mengikhlaskan pengunduran diri Nina. Kini perawat favoritnya itu akan menjadi menantu keluarga Hikmat.


Pintu ruangan bu Siti terketuk. Dari luar masuk Marni, salah satu rekan perawat Nina. Marni mengatakan kalau ada yang ingin bertemu dengan bu Siti. Wanita paruh baya itu meminta Marni mempersilahkan tamu untuk masuk.


Tak ingin mengganggu, Nina pun pamit pulang. Saat dia akan keluar ruangan, di saat yang bersamaan tamu bu Siti masuk ke dalam ruangan. Kedua orang tersebut nampak terkejut.


“Anas,” panggil tamu itu yang tak lain adalah Mano.


“Selamat siang pak Mano, permisi.”


“Tunggu..”


Mano berbalik arah lalu mengejar Nina yang bergegas pergi. Sesampainya di teras, Mano menarik tangan Nina. Refleks gadis itu melepaskan pegangan Mano.


“Maaf, tapi apa kita bisa bicara sebentar Anas, atau Nina.”


Nina cukup terkejut pria di depannya ini tahu nama panggilannya. Dia mulai bersikap waspada. Sepertinya Mano bukan orang sembarangan. Perasaan gadis itu mendadak tidak enak.


“Saya ada penawaran untukmu. Apa bisa kamu merawat mama saya yang terkena serangan stroke? Ini serangan pertama, kata dokter dengan terapi mama bisa kembali normal.”


“Maaf pak Mano, saya sudah tidak bekerja di yayasan ini lagi. Silahkan bapak berkonsultasi dengan ibu Siti. Selain saya, masih banyak perawat yang berpengalaman.”


“Tapi saya hanya mau kamu. Bagaimana kalau saya kontrak kamu secara pribadi, tidak melalui yayasan. Saya akan bayar berapa pun yang kamu mau.”


“Maaf, saya tidak bisa. Saya akan menikah dan calon suami saya tidak mengijinkan saya untuk bekerja lagi. Sekali lagi saya mohon maaf, permisi.’


Nina bergegas pergi meninggalkan Mano. Dia buru-buru masuk ke dalam mobil dan meminta pak Kamal pergi secepatnya. Nina benar-benar tidak nyaman berada di dekat Mano. Pria itu seperti memancarkan aura gelap di sekitarnya. Mano memandangi sedan hitam yang membawa wanita pujaannya pergi. Kemudian dia melangkahkah kakinya masuk ke dalam yayasan. Dia harus menemui ibu Siti untuk mencari tahu tentang Nina lebih banyak.


Ibu Siti menyambut kedatangan Mano dengan ramah. Dia menawarkan beberapa perawat terbaiknya yang memiliki pengalaman menangani pasien stroke, namun semua ucapan bu Siti hanya dianggap angin lalu oleh Mano.


“Maaf bu Siti. Saya hanya menginginkan Nina untuk menjadi perawat ibu saya.”


“Saya mohon maaf pak Mano. Nina baru saja mengundurkan diri. Dia akan menikah dan suaminya tidak mengijinkannya bekerja lagi. Perawat yang saya tawarkan tadi juga mempunyai kemampuan yang sama baik dengan Nina.”


Mano menghela nafas kesal, dia terlambat satu langkah. Dibuangnya pandangan ke arah lain. Kemudian sudut matanya menangkap tumpukan kartu undangan di atas meja. Tangannya bergerak mengambil satu kartu undangan.


“Itu undangan pernikahan Nina. Seminggu lagi, dia akan menikah.”


Mano membaca nama calon pengantin yang tertera, Nina dan Abi. Seketika wajahnya mengeras melihat nama Abi tertera di sana. tanpa sadar tangannya meremas kartu undangan di tangannya hingga tak berbentuk lagi.


Abi.. kenapa kamu selalu mengambil wanita yang kucintai.. lihat saja, kali ini aku tidak akan membiarkannya. Aku akan merebut Nina darimu dan menghancurkan dirimu. Kalau kemarin kamu masih bisa bangkit, aku pastikan kali ini kamu akan terpuruk selamanya. Kamu akan memilih mati dari pada hidup dalam kehancuran.


☘️☘️☘️

__ADS_1


Sebentar lagi kita bakalan tahu Gean itu Anfa atau bukan.


Hmm.. kira² Mano punya dendam apa sih sama Abi, terus hubungan mereka apa ya🤔


__ADS_2