
Pukul setengah lima Jojo tiba di apartemennya. Adinda terkejut karena pria itu pulang tiga puluh menit lebih awal dari waktu yang disebutkan tadi. Jojo menghampiri Adinda yang tengah menyetrika.
“Muh.. laksanya udah jadi?”
“Belum om.”
“Ih gimana sih. Aku bela-belain pulang cepet.”
Adinda tertegun mendengar Jojo mengubah panggilan dirinya dari saya ke aku. Wajah Jojo tampak masam. Adinda tersenyum geli melihat Jojo yang seperti anak kecil saja. Ngambek karena keinginannya tidak dipenuhi.
“Om jangan ngambek dong. Bikin laksa mah sebentar juga jadi. Mending om mandi dulu gih, biar seger ngga bau asem lagi. Jadi enak makan laksanya nanti.”
Jojo mengangkat kedua tangannya lalu mengendus ketiaknya. Ingin memastikan apa benar kalau badannya bau asem. Adinda tak bisa menahan tawanya, ternyata Jojo lucu juga. Bayangan sosok menyeramkan perlahan mulai memudar.
“Ya udah aku mandi dulu. Tapi harus udah jadi laksanya pas aku udah beres mandi.”
“Siap om, tenang aja.”
Jojo bergegas masuk ke kamar. Dia langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Rasanya tak pede saja mendengar Adinda mengatakan badannya bau asem. Cukup lama Jojo berada di kamar mandi. Semua bagian tubuhnya digosok dengan sabun, rambutnya juga dikeramas lagi.
Lima belas menit kemudian pria itu selesai dengan ritual mandinya. Lagi-lagi Jojo termenung di depan lemarinya. Dia bingung harus memakai baju apa. Yang ada di pikirannya, dirinya harus tampil stylish, energik dan tampan pastinya. Dia tak mau kalah saing dari Radix.
Setelah menyisir dan menyemprotkan parfum ke tubuhnya, Jojo keluar dari kamar. nampak Adinda baru saja meletakkan mangkok ke atas meja. Senyum Jojo terbit melihat gadis itu sudah menyiapkan makanan kesukaannya. Sesampainya di meja makan, Jojo melongo melihat hidangan yang tersedia.
“Muh.. ini apa?”
“Yang om pesen.”
“Aku pesen laksa Singapura bukan mie instan.”
“Tapi ini mie instan rasa laksa Singapura. Cobain deh om, enak kok. Tadi juga aku udah nyoba bikin.”
“Aku maunya laksa, Muuuuuhhhhh,” gemas Jojo.
“Maaf om. Aku ngga tahu gimana cara bikin laksa Singapura. Tahu bentuknya juga ngga.”
“Kan kamu bisa cari di google, resepnya juga ada di sana.”
“Om Jojo yang terhormat. Mohon maaf sebelumnya, tapi hp saya belum berteman dengan mbah google. Jadi saya belum bisa tanya-tanya ke dia.”
“Jangan ngelawak ya ka...”
Ucapan Jojo terhenti ketika melihat Adinda menggoyang-goyangkan ponsel jadulnya di depan wajah Jojo. Pria itu baru ingat kalau gadis di depannya menggunakan ponsel canggih, merk terkenal pula tapi pada masanya dulu.
“Astaga tuh hp buluk masih dipake aja.”
“Ish.. jangan ngeledek om. Buluk-buluk gini berguna.”
Jojo menghembuskan nafas panjang. Ditariknya kursi makan lalu duduk di atasnya. Dipandanginya mie instan rasa laksa Singapura yang tampilannya cukup cantik. Jojo akhirnya memakan juga mie instan tersebut. Adinda tersenyum melihat Jojo memakan mie instan buatannya. Dia kembali ke tempatnya semula, menyelesaikan setrikaan.
☘️☘️☘️
“Om..”
Jojo menoleh ketika Adinda memanggil namanya. Gadis itu sudah ada di sampingnya. Tas selendang sudah menghiasi bahunya. Sepertinya gadis itu bersiap pulang karena pekerjaannya sudah selesai.
“Aku pulang dulu ya.”
“Bentar lagi maghrib, shalat aja dulu di sini. Nanti biar aku anter pulang.”
“Ngga usah om, biar aku pulang sendiri aja.”
“Nurut kenapa sih. Sini duduk..”
Jojo menepuk ruang kosong di sebelahnya. Sambil memanyunkan bibirnya, Adinda duduk di samping Jojo.
“Kalau kamu kerja, siapa yang jaga nenek kamu?”
“Ibu Teni, yang kemarin jaga di rumah sakit.”
“Besok kamu mau masakin aku apa?”
“Om Jojo maunya dimasakin apa?”
“Gayanya nanya kaya chef profesional aja yang serba bisa. Laksa Singapura aja ngga tau.”
“Kan aku belum pernah ke Singapura om, kalau Singaparna pernah.
“Ck.. ngeles aja kaya bajaj.”
Jojo tersenyum tipis, senang juga berdebat dengan gadis ini. Diperhatikannya Adinda dari atas sampai bawah. Sebenarnya Adinda mempunyai penampilan yang sempurna jika menjadi anggota girl band. Sayang suaranya tidak cocok untuk kelompok bernyanyi yang identik dengan karakter imut dan manis. Dia tak habis pikir, gadis seimut Adinda bisa menyukai musik hard core.
Terdengar suara adzan maghrib dari ponsel Jojo. Pria itu segera bangkit dari duduknya kemudian mengajak Adinda shalat berjamaah. Lagi gadis itu dibuat terkejut, ternyata Jojo termasuk pria yang taat beribadah juga.
“Kamu bawa mukena ngga?”
“Ya bawa dong om.”
“Ya kali aja ngga. Kalo ngga bawa kamu bisa pake sarung.”
“Lah atasnya gimana?”
“Atasnya pake sarung juga, dibungkus ala ninja yang keliatan matanya doang hahaha.”
__ADS_1
Jojo tergelak sambil masuk ke salah satu kamar di unit tersebut. Dia menggelar sajadah di bagian depan, sedang di bagian belakang, Adinda juga menggelar sajadahnya. Tak lama sudah terdengar Jojo memimpin jalannya shalat. Suara Jojo cukup enak didengar saat melantunkan ayat suci.
☘️☘️☘️
Usai shalat maghrib, Jojo dan Adinda meninggalkan apartemen. Tapi sebelum mengantar Adinda pulang, Jojo mengajaknya ke salah satu mall yang menjual alat-alat elektronik. Mulut Adinda sebenarnya gatal ingin bertanya, tapi ditahannya saja. Dia terus mengikuti langkah Jojo menuju gerai salah satu merk ponsel ternama.
“Selamat datang kak. Mau cari hp seri apa?” sapa pramuniaga dengan ramah.
“Kalau keluaran terbaru mana?”
Pramuniaga tersebut segera mengambilkan salah satu seri keluaran terbaru produk ponsel ternama asal negeri ginseng. Dia menerangkan pada Jojo fitur apa saja yang terdapat di dalamnya. Adinda memandangi benda pipih tersebut, pikirannya mulai melayang, kapan dirinya bisa membeli ponsel yang harganya mencapai delapan juta rupiah per unit.
“Ok, saya ambil yang ini.”
Pramuniaga itu mengangguk lalu membuka dus ponsel. Dikeluarkannya ponsel tersebut lalu diberikan pada Jojo untuk dilihat apakah ada cacat atau tidak. Dia menyambungkan kabel charger ke ponsel, terlihat tanda kalau ponsel tengah mengisi daya.
“Mau sekalian dipasang kartunya kak?”
“Boleh. Muh.. mana hp kamu?”
“Hah?”
“Hp kamu mana? Cepet.”
Walau bingung, akhirnya Adinda mengeluarkan ponsel jadul miliknya. Jojo mengambil ponsel tersebut, mematikan daya kemudian mengeluarkan kartu sim dari dalamnya. Diberikan kartu sim tersebut pada sang pramuniaga.
“Sebentar ya kak, kartu simnya dipotong dulu.”
Pramuniaga tersebut masuk ke dalam. Lima menit kemudian dia kembali lalu memberikan ponsel kepada Jojo. Pria itu mengeluarkan dompetnya lalu memberikan kartu debit miliknya. Dengan cepat pramuniaga itu memproses transaksinya kemudian mengembalikan kartu pipih itu ke pemiliknya.
“Kartu garansinya jangan sampai hilang ya kak.”
Jojo hanya mengangguk kemudian mengajak Adinda keluar dari gerai. Dia mengajak Adinda masuk ke kedai kopi yang ada di mall ini. Setelah memesan Jojo mengambil tempat di sofa sudut. Dia meminta Adinda duduk di dekatnya.
“Sekarang kamu pakai ponsel ini, biar aku gampang hubungi kamu.”
“Ngga usah om. Hpnya mahal banget harganya. Aku harus potong gaji setahun lebih kayanya.”
“Ini hadiah buat kamu, jadi kamu ngga usah bayar.”
“Aku kan ngga ulang tahun om, buat apa dikasih hadiah.”
“Nurut aja kenapa sih? Protes mulu.”
Adinda auto mingkem. Jojo mendekatkan tubuhnya kemudian mulai menerangkan bagaimana cara menggunakan ponsel tersebut. Dia juga menerangkan apa saja yang bisa Adinda lakukan dengan ponsel tersebut.
“Apa e-mail kamu?”
“Nah ini IG kamu. Aku udah berteman sama kamu. Aku juga udah kirim pertemanan ke Abi, Cakra, Sekar, Nina, Rindu, Juna, Nadia, Anfa, Rayi sama Gurit.”
“Kang Radix ngga om?”
“Kamu aja yang kirim sendiri,” sewot Jojo.
Adinda kembali terdiam. Gadis itu bingung kenapa Jojo selalu berubah menjadi jutek dan marah-marah tak jelas ketika dirinya menyebut nama Radix. Setahunya, kemarin kedua pria itu nampak akrab.
“Sini Muh.. kita selfie.”
Jojo merangkul bahu Adinda kemudian mulai mengambil foto mereka berdua secara selfie. Dada Adinda berdegup kencang ketika tangan Jojo merengkuh bahunya. Tak cukup sekali, Jojo mengambil gambar mereka berkali-kali. Kemudian dia mengunggahnya ke laman IG Adinda.
“Nanti kamu searching aja, siapa tahu nemu temen-temen kamu.”
Jojo memberikan ponsel pada Adinda. Tak dapat dipungkiri hati gadis itu senang mendapat hadiah ponsel pintar yang harganya mahal. Jojo tersenyum tipis melihat rona bahagia di wajah Adinda.
TING
TING
TING
TING
Dinda terkejut melihat ada komentar di foto yang baru saja diposting oleh Jojo. Pesan dari Sekar, Gurit, Rindu dan Nina.
Sekar : Cieee.. udah punya akun IG nih sekarang.
Rindu : Cantik banget sih...
Gurit : Radix udah tahu belum?
Nina : Cucok meong deh, buruan ke KUA.
Wajah Adinda merona membaca komentar dari Nina. Jojo melirik ke arah ponsel. Senyumnya mengembang melihat komentar ibu hamil tersebut.
TING
Sebuah komen baru muncul, kini Abi yang mengomentari foto Adinda dan Jojo.
Abi : Cepetan pulang, jangan kelamaan berduaan nanti diikutin setan!!
Jojo mendengus kesal membaca pesan Abi. Ngga mulutnya, ngga jempolnya pedes semua. Setelah membaca komen Abi, Adinda langsung mengajak Jojo pulang. Dengan malas Jojo mengikuti keinginan gadis itu. Dalam hatinya merutuki Abi yang telah mengganggu kesenangannya.
☘️☘️☘️
__ADS_1
Jojo menghentikan kendaraannya di dekat gang. Kemudian pria itu turun dari mobil. Walaupun Adinda melarangnya, namun Jojo bersikeras mengantarkan gadis itu sampai ke depan rumah. Sesampainya di rumah, Adinda terkejut melihat Radix tengah menunggunya.
“Kang Radix.”
“Baru pulang Din? Kok malem pulangnya?”
“Iya kang.”
“Keluar sebentar yuk Din...”
“EHEM!!!”
Jojo berdehem keras, membuat Radix tak melanjutkan ucapannya. Keningnya berkerut melihat Jojo melihatnya dengan tatapan penuh intimidasi.
“Muh harus istirahat, besok pagi-pagi dia harus kerja.”
“Muh?”
“Aku maksudnya kang. Sekarang aku kerja bersihin apartemen om Jojo sekalian masakin juga.”
“Oh gitu. Ya udah deh, kamu istirahat aja. Besok kamu berangkat jam berapa?”
“Hmm.. jam enam.”
“Ok.. besok aku jemput. Aku pulang dulu ya.”
Radix berjalan menuju motornya, memakai helm kemudian menjalankan kendaraan roda dua itu meninggalkan gang. Setelah Radix pergi, barulah Jojo berpamitan. Begitu Jojo pergi, Adinda yang hendak masuk ke dalam rumah, namun suara bu Teni menahannya.
“Dinda..”
“Iya bu?”
.
“Ai nu tadi saha? (yang tadi siapa).”
“Yang mana bu?”
“Nu nganggo motor.”
“Oh itu kang Radix.”
“Meni kasep nya. Kalau yang satu mah yang waktu itu di rumah sakit kan?”
“Iya bu.”
“Eta ge kasep. Jadi nu mana atuh?”
“Apanya bu?”
“Nu mana kabogohna?”
“Ish ibu. Ngga dua-duanya.”
“Maenya?”
Ibu Teni menaikturunkan alisnya, menggoda Adinda. Gadis itu hanya menggelengkan kepalanya lalu segera berpamitan. Dia bergegas masuk ke dalam rumah. Berbicara dengan ibu Teni yang kadar keponya di atas rata-rata dapat membahayakan kesehatan jiwanya.
☘️☘️☘️
Waktu baru pukul setengah enam pagi ketika terdengar ketukan di pintu. Adinda yang tengah berpakaian, mempercepat kegiatannya. Dengan tergesa dia berjalan untuk membukakan pintu. Matanya membelalak melihat Jojo sudah ada di depan rumahnya.
“Om.. ngapain ke sini pagi-pagi?”
“Jemput kamu lah.”
“Tapi ini masih setengah enam, om.”
“Ya ngga apa-apa. Lebih cepat lebih baik kan. Ayo.”
“Bentar om. Ayo masuk dulu.”
Jojo masuk ke dalam rumah kemudian mendudukan diri di atas kursi rotan. Dia sengaja datang setengah jam lebih awal agar mendahului Radix menjemput Adinda. Pria itu tak rela kalau sampai Adinda diantar Radix ke apartemennya menggunakan motor. Membayangkan gadis itu memeluk pinggang Radix sudah membuatnya meradang.
Lamunan Jojo terhenti ketika Adinda keluar dari kamar. Pria itu tertegun melihat wajah Adinda yang hanya dipoles bedak tipis dan lipgloss namun tetap terpancar kecantikannya. Adinda melambaikan tangannya di depan wajah Jojo.
“Om... pagi-pagi udah ngelamun.”
“Eh.. ayo,” Jojo berdiri dari duduknya.
“Enin mana?”
“Enin tidur lagi abis shalat shubuh.”
“Oh. Ayo.”
Adinda mengikuti Jojo keluar dari rumah. Ditutupnya pintu dengan gerakan pelan, kemudian menyusul langkah pria di depannya. Sambil berjalan, dia mengirmkan pesan pada Radix untuk tidak menjemputnya.
☘️☘️☘️
**Siapa pendukung Jojo - Muh🙋
Siapa pendukung Radix - Dinda🙋**
__ADS_1