
“Itu Al,” tunjuk Kenan.
“Al.. lo ngga apa-apa?” tanya Dina bingung.
“Emang gue kenapa?”
“Gue pikir lo dibawa orang ke belakang kampus. Sekilas gue lihat itu mirip elo. Terus gue denger mereka bilang, cepetan bawa Alisha. Makanya gue pikir itu elo.”
“Ngaco lo.”
“Waduh..” Dina kembali panik mengingat Anya yang menyusul Alisha palsu.
“Kenapa lo?”
“Anya.”
“Anya kenapa?”
“Gue tadi ketemu Anya pas gue cerita soal tadi, dia langsung nyusul.”
“Nyusul kemana?” tanya Kenan panik.
“Ke belakang kamp…”
Belum sempat Dina menyelesaikan kalimatnya, Kenan langsung bergegas pergi. Viren, Revan dan Haikal ikut menyusul. Tak dipedulikannya lagi pria yang tengah berbicara dengan mereka. Keselamatan Anya lebih penting. Alisha pun ikut menyusul. Dia juga takut Anya berada dalam bahaya. Karena penasaran, Dina juga ikut menyusul. Tadi dia yakin betul kalau perempuan yang dibopong dua orang pria adalah Alisha.
Sementara itu Anya sudah berada di belakang kampus. Matanya berkeliling mencari sosok Alisha. Beberapa kali gadis itu memanggil nama sepupunya. Kemudian matanya menangkap dua orang pemuda tengah membopong tubuh seorang perempuan dan bergegas masuk ke ruangan kosong yang ada di dekat pohon besar. Ruangan itu tadinya adalah tempat anak-anak seni berlatih teater namun sudah tak digunakan lagi setelah mendapat ruangan baru. Anya bergegas menyusul.
Ketika sampai di dekat ruangan, tiba-tiba saja sebuah tangan membekap mulutnya kemudian menarik tubuh gadis itu ke arah ruangan kosong. Dengan kencang didorongnya tubuh Anya hingga jatuh tersungkur ke dalam ruangan lalu menutup pintu.
Anya terkejut saat tahu dirinya terkurung dalam ruangan gelap. Dia berusaha mencari keberadaan saklar lampu, namun tak menemukannya, karena saklar lampu berada di luar ruangan. Belum hilang rasa terkejut Anya, hidungnya mengendus aroma kemenyan. Lalu terdengar suara seseorang merapalkan mantra, entah apa, Anya tak mengerti. Setelah mantra berhenti, disambung lagu yang membangkitkan bulu kuduknya.
Lingsir wengi, sliramu tumeking trisno. Ojo tangi nggonmu guling. Awas jo ngetoro. Aku lagi bang wingo-wingo. Jin setan kang tak utusi. Dadyo sebarang. Wojo lelayu sebet.
Udara di sekitar Anya seketika terasa dingin, gadis itu tahu saat ini beberapa makhluk astral muncul dan tengah mendekati dirinya. Refleks Anya memegangi liontinnya. Liontin itu adalah pemberian Cakra. Tidak ada apa-apa dalam liontin itu, hanya saja Anya merasa lebih aman dan berani ketika memegangnya erat.
Seperti halnya Cakra, Anya juga memiliki kemampuan melihat makhluk astral. Oleh karenanya Cakra selalu mewanti-wanti Aric juga Kenan untuk selalu berada di sisi Anya. Para makhluk itu tidak akan berani mendekat jika ada seseorang di sisi Anya. Itu yang dikatakan seorang ustadz yang selama ini mencoba membantu Anya mengatasi rasa takutnya.
Namun sayangnya, tidak semua orang bisa menghalau keberadaan makhluk itu di sekitar Anya. Hanya orang tertentu yang diyakini memiliki aura kuat untuk menjaga Anya. Selain Cakra, ada Aric, Kenzie, Kenan dan Barra yang dianggap mampu melindungi Anya. Itulah yang membuat Kenan tak pernah jauh dari sisi Anya.
Tangan Anya semakin erat menggenggam liontinnya. Walau berada dalam kegelapan, dia bisa melihat dengan jelas para makhluk tak kasat mata yang mulai keluar dari tempat persembunyiannya. Ada yang keluar dari cermin besar yang ada di sana, penampakan berwujud kuntilanak. Bukan hanya satu, tapi tiga. Lalu dua orang anak menyerupai tuyul juga muncul dari balik dinding.
Nafas Anya semakin tercekat ketika dari arah langit-langit turun sesosok putih yang menyerupai pocong. Lalu ada gadis dengan lidah menjulur dan bola mata hampir keluar. Dia adalah hantu yang kerap dibicarakan warga kampus, gadis yang mati bunuh diri dengan menggantung diri di pohon besar yang ada di luar ruangan. Kemudian ada pria yang berjalan terseok dengan tangan yang hampir putus dan wajah dipenuhi darah.
Jantung Anya semakin berdebar kencang ketika dari arah pintu muncul sosok hitam bertubuh besar yang menyerupai genderuwo. Di belakangnya sosok jangkung tinggi menjulang dengan tubuh kerempeng juga mendekat ke arah Anya. Terakhir sosok pria misterius yang selalu mengikuti Anya sejak di Singapura.
“Papi… bang Aric.. Nan… tolong aku.. aku takut,” lirih Anya dengan suara bergetar.
Sebisa mungkin Anya bertahan dari kepungan para makhluk astral yang mencoba mendekati dirinya. Dia terus merapalkan doa-doa yang diajarkan Cakra padanya. Itu untuk mencegah makhluk halus merasuki dirinya. Keringat dingin mulai membasahi tubuh Anya, nafas gadis itu pun mulai tersengal saat jaraknya dengan para makhluk itu semakin terkikis.
Lagi suara seorang pria merapalkan mantra disusul lagu lingsir wengi terdengar memenuhi seisi ruangan. Keadaan Anya semakin terdesak, karena makhluk lain pun mulai berdatangan, menambah jumlah pasukan yang mengepung gadis itu. Tubuh Anya semakin memberat, kakinya tak mampu lagi menopang tubuhnya yang semakin berat hingga jatuh terduduk di lantai. Gadis itu menutup matanya sambil terus merapalkan doa dan memegang erat liontinnya.
Tak jauh dari tempat Anya, Kenan berlari kencang menuju belakang kampus. Sebelum Kenan mencapai tempat di mana Anya berada, Prabu lebih dulu tiba. Sesuai rencana, dia yang akan menyelematkan Anya dari situasi menegangkan ini. Namun tiba-tiba saja nyali Prabu ciut saat merasakan area di sekitar ruang penyekapan Anya memiliki aura yang berbeda sekaligus mencekam. Pemuda itu justru lari tunggang langgang alih-alih menyelamatkan Anya.
Di dalam ruangan kondisi Anya semakin memburuk. Tenaganya sudah terkuras habis menahan para makhluk untuk merasuki dirinya. Bajunya sudah basah oleh keringat, wajahnya memucat, tubuhnya bergetar, bahkan dari hidungnya pun sudah keluar cairan merah. Bisa dipastikan sebentar lagi gadis itu akan tumbang. Jika itu terjadi, maka para makhluk di sekitarnya akan dengan mudah merasuki dirinya.
Jumlah makhluk astral yang datang mendekati Anya terus bertambah, seiring dengan suara mantra dan lagu yang diputar terus menerus. Mereka semakin dekat dan dekat saja. Pria misterius yang selalu mengikuti Anya semakin mendekati gadis itu. Tangannya terulur ke depan hendak menggapai bahu Anya.
BRAK!!
Dengan kencang Kenan menendang pintu ruangan hingga terbuka lebar. Di belakangnya, Irvin segera menekan saklar, membuat ruangan menjadi terang. Seketika makhluk astral yang mengelilingi Anya menghilang. Kenan berlari menghampiri Anya. Ketika pemuda itu sampai, saat itu juga Anya kehilangan kesadarannya. Dengan cepat Kenan membopong tubuh Anya dan membawanya keluar ruangan.
“Lo bawa Anya pergi, biar gue yang cari pelakunya,” ujar Viren.
Kenan mengangguk dan segera berlari sambil membopong Anya. Alisha dan Dina yang ikut masuk ke ruangan, seketika merinding dengan aura di dalam ruangan. Kening Viren mengernyit ketika mendengar suara mantra dan lagu lingsir wengi terus terdengar di ruangan. Dia berkeliling mencari sumber suara.
“Kok suasananya parno gini ya,” ujar Dina.
“Itu kan mantra pemanggil makhluk halus,” celetuk Revan.
“Serius lo?” tanya Haikal.
“Iya. Gue pernah dikasih tahu sama temen gue. Babenya kan tukang ngusir atau mindahin makhluk halus gitu katanya.”
“Brengsek! Niat banget mereka ngerjain si Anya,” geram Haikal.
Viren terus berkeliling, kemudian matanya menangkap sebuah speaker kecil dengan sebuah ponsel di sebelahnya. Dia segera mematikan speaker dan mengambil ponsel tersebut. Pria itu mencoba membuka ponsel yang terkunci dengan sandi pola. Setelah beberapa kali percobaan, dia berhasil membukanya. Dengan teliti diperiksanya satu per satu pesan atau panggilan di sana. Jarinya berhenti mengusap ketika melihat sebuah pesan dari Jihan.
From Jihan :
Ini gue kirimin lagu lingsir wengi sama mantra pemanggil roh halus.
Rahang Viren mengeras ketika membaca pesan tersebut. Tangannya menggenggam erat ponsel sampai telapak tangannya memutih. Bergegas dia keluar dari ruangan. Revan dan yang lain segera menyusul. Mereka belum tahu apa yang berhasil ditemukan oleh Viren.
Sambil berjalan, Viren menghubungi nomor yang diyakini adalah komplotan Jihan. Matanya berkeliling mencari sang pelaku. Dia yakin kalau mereka masih ada di sekitar kampus. Kemudan sudut matanya menangkap beberapa orang keluar dari sebuah ruangan sambil berlari. Dengan cepat Viren mengejarnya.
“Buruan kabur, kita ketahuan,” seru salah seorang di antara mereka.
Kelima orang yang bersekongkol mengerjai Anya terus berlari menghindari kejaran Viren dan yang lainnya. Baru saja mereka akan keluar dari gedung kampus ketika Viren berhasil menyusul. Dia menendang punggung pemuda yang ada di paling belakang, membuat tubuhnya menabrak dua orang di depannya.
Dengan mata nyalang Viren menghampiri lalu menghadiahi pukulan pada dua pemuda tersebut. Sedangkan tiga gadis yang bersamanya berusaha untuk kabur, namun berhasil ditahan oleh Revan dan Haikal. Puas membuat dua pemuda itu babak belur, Viren menghampiri tiga gadis lainnya. Wajah mereka memucat dan tubuh gemetaran.
“A.. ampun kak,” ujar salah satunya.
“Untung lo cewek. Kalau ngga, udah gue hajar!” geram Viren.
__ADS_1
“Biar aku aja kak.”
Alisha maju lalu menghajar tiga orang teman sekelas Anya yang telah mengerjai sepupunya itu. Tubuh ketiganya jatuh tersungkur, mereka meringis kesakitan menahan nyeri di wajah dan tubuhnya.
“Bawa ke markas! Gue mau jemput dalangnya.”
“Siapa?”
“Jihan.”
“What???!!”
☘️☘️☘️
Cakra dan Aric bergegas pulang ke rumah begitu mendengar kabar tentang Anya. Kenan memang membawa Anya pulang ke rumahnya, bukan rumah sakit. Membawa Anya ke sana hanya akan memperburuk keadaannya.
Sekar duduk di sisi ranjang memandangi Anya yang masih terpejam. Tadi putrinya itu sempat sadar, namun karena terus menjerit histeris ketakutan, Sekar terpaksa meminta bantuan tetangganya yang seorang dokter untuk memberikan suntikan penenang. Kini Anya kembali tertidur.
“Siapa yang melakukannya, Nan?”
“Aku belum tahu, mami. Tapi Viren sama yang lain lagi cari pelakunya.”
“Apa salah Anya sampai mereka tega melakukan hal seperti ini?”
Kenan mendekat lalu memeluk Sekar yang tengah menangis. Adinda yang mendengar kabar soal Anya, segera mendatangi kediaman Cakra bersama dengan Dilara. Dia juga langsung mengabari Jojo dan kedua anaknya yang lain. Adinda sengaja tak mengabari Nara karena tengah berbulan madu bersama Kenzie. Sama halnya dengan Rindu, setelah mendapat kabar dari Viren, dia pun bergegas menuju rumah Sekar. Tak lupa dia mengabari Radix dan Gurit.
“Kak..” panggil Adinda.
Melihat kedatangan Adinda, Sekar melepaskan diri dari Kenan dan langsung menghambur ke arah Adinda. Tangis Sekar kembali pecah dalam pelukan Adinda. Hati Sekar sakit dan hancur melihat keadaan putrinya. Selama ini Anya berjuang keras melawan rasa takutnya, namun kejadian hari ini justru menghancurkan kerja keras gadis itu.
Tak berapa lama kemudian Cakra beserta Aric tiba. Di belakang mereka berturut-turut menyusul Juna, Abi, Kevin, Anfa, Rindu, Gurit dan Radix. Baru saja mereka masuk ke rumah, sebuah mobil kembali berhenti. Dari dalamnya keluar Nina, Nadia dan Rayi. Bergegas ketiganya masuk ke dalam rumah.
Sekar menghambur ke arah Cakra begitu melihat suaminya datang. Aric segera mendekati Anya yang masih tertidur. Pria itu duduk di sisi ranjang seraya memegang tangan sang adik.
“Gimana kejadiannya Nan? Kenapa kamu sampe kecolongan kaya gini?” tanya Abi.
“Gini pa..”
Kenan menceritakan apa yang terjadi tadi. Perhatiannya yang teralihkan oleh panitia penyelenggara musik tahunan. Dina yang terkecoh melihat Alisha yang akhirnya menggiring Anya pada jebakan yang dibuat oleh entah siapa. Kenan belum mendapatkan kabar apapun dari Viren.
Tangan Cakra mengepal kencang mendengar penuturan Kenan. Orang yang membuat jebakan ini pasti tahu tentang indra keenam yang dimiliki oleh Anya. Padahal dia sudah menutup rapat soal ini. Tidak semua anggota keluarga Hikmat mengetahui perihal Anya yang mewarisi kemampuannya. Siapa pun pelakunya harus mendapatkan balasan yang setimpal darinya.
Di tengah keheningan terdengar suara ponsel Kenan dan Gurit berdering bersamaan. Kenan mengambil ponselnya, sebuah panggilan dari Revan masuk. Pemuda itu keluar dari kamar. Begitu pula Gurit, pria itu keluar dari kamar saat hendak menjawab panggilan dari istrinya.
Wajah kedua pria berbeda generasi tersebut mendadak berubah setelah menerima panggilan. Wajah Kenan nampak memerah menahan amarah, sedang Gurit nampak pucat. Hampir saja dia terjatuh kalau Radix tak segera menangkap tubuhnya. Abi bingung melihat Kenan yang melihat ke arah Gurit dengan tatapan tajam.
“Ada apa?” tanya Abi.
“Pelakunya sudah tertangkap pa,” jawab Kenan tanpa melepaskan pandangan dari Gurit.
“Siapa? Di mana dia?” tanya Cakra.
Gurit menelan ludahnya kelat. Alih-alih mencemaskan keadaan anaknya, dia justru khawatir akan reaksi semua orang yang ada di sini, terutama Sekar. Sahabatnya itu pasti kecewa kalau tahu anaknya lah yang telah menyebabkan Anya seperti ini.
“Biar aku yang ke markas, pa. Aku mau tahu siapa yang udah berani ganggu Anya,” geram Aric.
“Aku juga pa. Om Gurit ngga mau ikut?”
Semua pandangan langsung tertuju pada Gurit. Sekar langsung melepaskan diri dari Cakra begitu mendengar ucapan Kenan. Dia menghampiri keponakannya itu. Gurit menundukkan kepalanya, tak berani melihat ke arah sahabatnya. Radix semakin dibuat bingung dengan sikap Gurit.
“Apa maksud kamu, Nan?”
“Se.. maaf.. Jihan yang melakukannya.”
Tenggorokan Gurit terasa tercekik saat mengatakannya. Kembali semua mata tertuju padanya. Tubuh Sekar limbung begitu mendengar pengakuan Gurit. Abi segera menangkap tubuh Sekar. Juna menenangkan Cakra yang hampir meledak. Begitu pun Aric, Anfa segera memegangi tubuh keponakannya ini.
“Kenapa Rit? Kenapa Jihan melakukannya? Apa salah Anya padanya?”
“Maaf Se.. aku.. aku juga ngga tau. Aku akan cari tahu. Atas nama Jihan, aku minta maaf. Aku.. aku pergi dulu. Aku harus bertemu dengan Jihan.”
Tanpa menunggu jawaban Sekar, Gurit bergegas pergi. Radix segera menyusul sahabatnya itu. Dia tahu apa yang dirasakan oleh Gurit. Kemarin dia pun merasakan kekecewaan dan malu saat Irvin mengakui perbuatannya, telah bersikap kasar pada Anya. Di belakang mereka, Aric menyusul pergi. Tak peduli Jihan adalah anak sahabat ibunya, gadis itu tetap harus menerima ganjaran yang setimpal darinya.
“Ada apa sama anak itu? Kenapa dia benci Anya sampai segitunya? Apa belum cukup kemarin dia menjebak Anya sampai Irvin marah padanya,” gumam Sekar.
“Jadi masalah sama bang Irvin dia juga pelakunya? Brengsek tuh anak,” kesal Kenan.
“Itu karena dia naksir elo, Nan. Dia kesel sama Anya, lihat kalian nempel mulu kaya perangko sama amplop,” cetus Dilara.
“Brengsek! Awas aja lo, Ji.”
Kenan segera berlari meninggalkan para orang tua yang masih terkejut mendengar dalang dibalik kasus Anya. Perhatian mereka teralihkan ketika mendengar suara Anya. Gadis itu sudah sadar.
“Papi..” panggilnya pelan.
“Iya sayang.. papi di sini.”
Cakra bergegas menghampiri Anya. Melihat Cakra, Anya langsung memeluk tubuh ayahnya itu. Tangisnya kembali pecah, tangannya memeluk erat pinggang Cakra, seakan mencari perlindungan dari pria itu.
“Aku takut pi..” ujar Anya di sela tangisnya.
“Jangan takut sayang, ada papi di sini,” Cakra mengusap pelan punggung Anya.
“Mami mana?”
“Ini mami sayang.”
__ADS_1
Sekar mendekat lalu naik ke atas ranjang. Diusapnya puncak kepala dan punggung anaknya bergantian. Anya masih belum mau melepaskan pelukannya di tubuh Cakra.
“Kalian tenangin Anya dulu. Biar aku yang ke markas,” seru Abi.
“Papa jangan pergi. Papa di sini juga, aku takut pa. Mereka banyak pa…”
Langkah Abi terhenti begitu mendengar ucapan Anya. Pria itu lalu berjalan mendekat dan berjongkok di sisi Anya. Gadis itu masih menangis dalam pelukan Cakra. Abi meraih tangan Anya dan mengusapnya pelan.
“Papa ngga kemana-mana. Papa akan di sini temani kamu, hmm.. jangan takut.”
“Ayah sama pipi juga jangan kemana-mana, temenin aku. Om Kevin juga, om Jo mana?” Anya mengabsen satu per satu sahabat papinya.
“Ini om Jo, sayang,” sahut Jojo yang baru saja tiba bersama Barra dan Naya.
“Om Jo sini, jangan jauh-jauh. Aku takut om. Mereka banyak, mereka tadi ngeroyok aku. Sekarang gantian, kalian yang ngeroyok. Tuh masih ada satu yang ngikutin. Dia ngikutin aku terus dari Singapura. Emang ngga ada kerjaan apa dia? Emang setan di sana ngga ada yang nyariin anggotanya hilang satu. Keroyok om, suruh pergi, deportasi aja dari sini,” Anya menunjuk ke arah pintu, di mana pria misterius itu berada. Dia memang masih setia mengikuti Anya sejak dari kampus tadi.
Barra menundukkan kepalanya, di saat seperti ini pun celotehan absurd dari mulut Anya masih saja ada. Anfa mengalihkan pandangannya ke arah lain, mencoba menahan tawanya yang hendak pecah.
“Mami..”
“Iya sayang.”
“Laper.”
“Kamu mau makan apa sayang?”
“Yang enak pokoknya. Tapi mama Nina sama tante Dinda aja yang masak. Mami di sini aja.”
“Mama masakin sekarang ya. Mama tahu kok kamu ngga mau ditinggal mami.”
“Bukan ma. Masakan mami kalah enak sama masakan mama.”
Ingin rasanya Sekar menjitak kepala anaknya ini. Anya masih saja bisa melontarkan kata-kata yang membuat darah tingginya kumat. Cakra pun tak bisa menahan senyumnya. Namun dalam hatinya bersyukur, keadaan anaknya sudah lebih baik. Terbukti dengan otak somplaknya yang masih bekerja.
“Tante Rindu juga di sini aja, jangan turun ke bawah. Nanti makananku abis sama tante.”
“Hahahaha..”
Kevin, Jojo, Abi, Juna dan Anfa sudah tak dapat menahan tawanya lagi. Rindu mendelik ke arah suaminya. Tawa suaminya terdengar paling keras, sepertinya puas sekali menertawakannya. Barra memilih pergi saja ke markas, membiarkan para tetua yang mendengarkan ocehan absurd Anya. Naya juga ikut dengannya, takut kalau sampai Aric hilang kendali. Sedang Dilara memilih menyusul mamanya juga Nina. Lumayan bisa ikut mencicipi masakan mereka.
“Terus mimi sana bunda harus ngapain?”
“Jadi mandor mama sama tante Dinda juga boleh,” Nadia terkikik geli medengarnya.
“Bang Ken mana pa?” tanya Anya pada Abi.
“Bang Ken masih bulan madu sama kak Nara.”
“Aku mau telepon bang Ken.”
Abi merogoh saku jasnya lalu menghubungi ponsel Kenzie. Sambungan pertama tak terjawab, sambungan kedua juga tidak. Baru pada sambungan ketiga Kenzie menjawabnya. Abi langsung mengaktifkan mode loud speaker.
“Halo.. ada apa pa?”
“Bang Ken.. ini aku Anya.”
“Eh kirain papa. Taunya kut*l tyrex yang telepon. Ada apa?”
“Aku mau curhat.”
“Curhat sama Nan aja, jangan gangguin yang lagi bulan madu.”
“Ish abang jahat. Aku tadi abis dikeroyok bang.”
“Dikeroyok siapa?”
“Itu sama kunti dan gerombolannya. Ada pocong, genderuwo, tuyul sampe yang hantu penasaran ikut ngeroyok juga. Aku takut bang.”
“Ngga usah takut. Kalau kamu takut, mereka tambah berani. Kamu lihatin satu-satu mereka terus bilang jangan ganggu, kalau perlu ancem mereka.”
“Ancem kaya gimana bang?”
“Heh kunti jangan ganggu gue. Lo sirik kan sama gue yang lebih cantik dan cetar. Pergi jauh-jauh lo, kalau ngga gue kirimin ayat kursi sama trio qulhu atu container. Gitu bilangnya.”
Semua yang mendengarkan percakapan kedua orang itu hanya mampu menepuk keningnya saja. Ternyata Kenzie tak kalah absurdnya. Cakra melepaskan pelukannya di tubuh Anya. Dia memilih berbaring saja di samping anaknya itu sambil terus mendengarkan celotehan Anya yang tengah mengadu pada Kenzie.
“Abang kapan pulangnya?”
“Ngapain nanya-nanya? Kangen?”
“Ngga.. aku mau minta oleh-oleh. Awas jangan lupa.”
“Ya udah nanti abang bawain kunti penghuni pulau ini.”
“Jangaaaaannn…” terdengar gelak tawa Kenzie dari seberang.
“Udah dulu ya Nya. Abang mau bikin adonan dulu.”
“Adonan apa bang?”
“Tanya papi sama mami. Bye..”
Kenzie mengakhiri panggilan. Anya langsung melihat ke arah Sekar yang berpura-pura tengah berbicara serius dengan Nadia dan Rayi. Lalu melihat Cakra yang langsung memejamkan matanya. Abi keluar dari kamar menyusul sang istri. Juna sibuk membalas chat. Jojo dan Anfa pura-pura tengah mengusir makhluk halus yang mengikuti Anya.
Anya mendesis kesal, semua orang pura-pura menyibukkan diri. Gadis itu lalu berbaring di samping Cakra dan memeluk pinggangnya. Namun matanya tak bisa terpejam karena perutnya terus berbunyi minta diisi.
__ADS_1
☘️☘️☘️
Nick ngga bisa up, kendala laptop🤧