
Haikal keluar dari kamar mandi dan langsung menghampiri Vina yang tengah duduk di sisi ranjang. Sebenarnya pria itu grogi juga menghadapi malam pertamanya, karena ini pertama kalinya berduaan dengan wanita yang kini sudah resmi menjadi istrinya. Dulu saat masih berpacaran, mereka selalu membawa orang ketiga, supaya tidak ganggu setan, begitu pesan kedua orang tua mereka.
Pria itu mendudukkan diri di sisi Vina. Tanpa mengatakannya pun, Haikal tahu kalau sang istri sama gugupnya. Otak Haikal berputar cepat, mencari cara agar kecanggungan di antara mereka segera mencair. Ingin rasanya langsung memeluk atau mencium tapi takut Vina menghindar, malu juga kalau ditolak istri di malam pertama.
“Ehm.. Vin.. kita kan udah nikah. Nah kamu mau dipanggil apa sesudah nikah? Biar beda aja gitu.”
“Apa ya.. terserah kamu aja, Hai.”
“Kamu bisa ngga manggilnya jangan Hai lagi? Sumpah ya, beberapa tahun kita pacaran, kupingku masih suka gatel kamu manggil aku Hai,” cerocos Haikal.
“Kan biar beda dari yang lain. Saudara sama teman kamu manggilnya Kal, ya udah aku Hai aja. Eh gimana kalau aku tambah kata Yang di belakang nama panggilanmu?”
“Maksudnya jadi Hai.. Yang gitu? Malah tambah ngga enak. Nanti kalau kamu manggil aku Haiyang, terus ada nyahut, hayang naon neng (mau apa neng?) gimana?”
Vina terkikik mendengarnya. Dia memang sengaja melontarkan usulan itu untuk memancing reaksi suaminya. Vina berharap dengan candaan garing dan celotehan absurd mereka, suasana canggung akan hilang dengan sendirinya.
“Kalau kamu manggil aku Haiyang, terus aku manggil kamu Vinyang atau Nayang gitu?”
“Iih ngga enak banget, kok aku malah ngebayanginnya kuyang.”
“Hahaha.. makanya cari panggilan lain aja. Mau apa?”
Haikal beranjak dari tempatnya untuk mengambil ponsel yang tergeletak di atas nakas. Dia lalu mulai mencari panggilan sayang untuk pasangan. Vina mendekatkan diri, mencondongkan kepalanya lebih dekat lagi untuk melihat apa yang tertera di layar ponsel.
“Nah ini aja, gimana kalau bee. Aku panggil kamu bee aja ya,” ujar Vina.
“Terus aku panggil kamu apa?”
“Bae aja, biar beda dikit.”
“Ngga enak. Aku panggil kamu boo aja ya.”
“Kok boo? Berasa kaya boboho.”
“Ya kan sesuai sama pipi kamu yang chubby kaya bapao, jadi cocok dipanggil boo.”
“Hai!!! Nyebelin banget sih.”
Vina memukuli dada Haikal, dengan cepat Haikal memegang tangan istrinya, menahan agar tidak memukulinya lagi. Gerakan tangan Vina terhenti begitu saja, suasana ramai seketika berubah menjadi hening, keduanya seperti membeku ketika mata mereka saling menatap dan mengunci.
Haikal memberanikan diri menarik Vina lebih dekat hingga jarak di antara mereka semakin terkikis. Detak jantung masing-masing sudah tak beraturan ritmenya. Pipi Vina merona ketika wajah Haikal semakin mendekat dan bibir mereka bertemu untuk pertama kalinya. Vina langsung memejamkan matanya, berharap Haikal mengambil inisiatif lebih dulu memagut atau mel*mat bibirnya seperti yang biasa dilihatnya di drama Korea atau serial barat.
Mengikuti insting kelelakiannya, Haikal mulai memainkan bibirnya. Dengan gerakan pelan, dia memagut dan mel*mat bibir Vina. Walau masih terasa kaku, namun untuk ukuran pemula seperti Haikal, sudah cukup memuaskan. Haikal mengakhiri ciumannya dan mata Vina kembali terbuka.
“Boo.. tidur yuk.”
“Ayo.”
Vina merangkak naik ke atas kasur kemudian membaringkan diri di sana. Haikal mematikan lampu utama lebih dulu dilanjut dengan menyalakan lampu tidur, baru dia menyusul naik dan berbaring di samping sang istri.
Vina terjengit ketika Haikal memeluk dirinya dari belakang. Bulu di tubuhnya meremang ketika Haikal menciumi tengkuk dan lehernya. Debaran jantung gadis itu bertambah kencang ketika tangan Haikal mulai meraba bagian tubuhnya dan meremat bukit kembarnya.
“Bee.. katanya mau tidur,” ujar Vina dengan suara tertahan.
“Kalau udah nikah, definisi tidurnya beda, bee.”
Haikal membalikkan tubuh Vina menjadi menghadap ke arahnya. Pria itu kembali menyambar bibir sang istri yang sudah mulai dicanduinya. Kali ini permainan bibirnya sudah lebih baik dan tidak kaku lagi. Vina juga sudah mulai bisa mengikuti permainan bibir suaminya. Dan kini pertautan bibir mereka sudah semakin dalam dan menuntut.
Posisi tubuh Haikal tepat berada di atas Vina. Pria itu masih sibuk menciumi istrinya. Jurus yang diberikan Kenan dan Viren benar-benar dipraktekkan olehnya. Sesekali terdengar ******* dan lenguhan Vina ketika dirinya menyesap sedikit kencang permukaan kulit sang istri.
Suasana tak terkendali, keduanya sudah dibungkus hasrat yang menuntut untuk segera dituntaskan. Keduanya bangun dari posisi berbaringnya dan saling melepaskan kain yang menutupi tubuh mereka. Haikal meneguk ludahnya kasar begitu melihat tubuh polos Vina. Tanpa menunggu terlalu lama, pria itu segera bersiap untuk mencetak gol dan mendayung nirwana bersama.
☘️☘️☘️
Area parkir Yudhistira hotel sudah dipenuhi oleh mobil para undangan yang datang ke pesta resepsi pernikahan Tiara dan Aldi. Suami dari Tiara bukan berasal dari kalangan biasa. Ayahnya adalah salah satu pejabat penting di pemerintahan. Itu pula yang membuat Aldi berani bersaing dengan Revan dan akhirnya berhasil mendapatkan Tiara.
Sebuah mobil berjenis sedan memasuki pelataran parkir dan berhenti di salah satu ruas parkir yang masih kosong. Bersamaan dengan itu mobil yang dikendarai Kenan juga tiba dan berhenti di samping mobil tersebut. Revan mulai waspada ketika melihat sahabatnya turun dari mobil bersama sang istri. Di saat yang sama, Silva juga turun dari kendaraan milik Revan dan langsung tertangkap mata Kenan.
“Oh jadi elo yang udah cuci otak Silva makanya dia ngga mau berangkat bareng gue,” sembur Kenan.
“Apaan.. lebay lo. Silva bilang mau istirahatin kupingnya karena udah terlalu sering terkena polusi suara elo.”
“Ngeles aja lo kaya bajaj. Kalo mau ama adek ipar gue, sungkem dulu sama gue.”
“Kampret!”
Silva yang menjadi bahan pembicaraan buru-buru mengajak Zahra untuk masuk ke dalam gedung, membiarkan kedua sahabat itu beradu mulut.
__ADS_1
“Lo beneran mepet Silva?” tanya Kenan setelah Silva dan istrinya masuk lebih dulu.
“Kepo banget hidup lo,” jawab Revan seraya melangkahkan kakinya.
“Wajarlah gue kepo. Dia kan adeknya Zahra, artinya adek gue juga. Gue cuma mau mastiin dia dapet cowok baek-baek bukan cowok gagal move on kaya elo.”
“Kampret emang, lo. Ngajakin ribut lo!”
“Jiaaahhh emang lo berani ngajak ribut gue?”
“Ya kaga,” Revan tergelak setelahnya, begitu juga dengan Kenan. Keduanya segera masuk ke dalam gedung menyusul Zahra dan Silva.
Kedua pria itu terus melangkah menuju ballroom, tempat resepsi diselenggarakan. Di depan pintu masuk, nampak Zahra dan Silva menunggu mereka. Kenan menghentikan langkahnya tepat di depan sang istri.
“Sil.. kamu temenin Revan ketemu sama pengantin. Jangan sampe tuh orang nangis guling-guling di panggung apalagi pingsan,” seru Kenan dengan entengnya. Kemudian pria itu masuk ke dalam ballroom seraya memeluk pinggang sang istri.
“Dasar kompor mledug, monyet kurap!” rutuk Revan. Silva sampai terkikik geli mendengarnya, apalagi ditambah wajah keki Revan. Keduanya kemudian mulai memasuki ruangan pesta.
Alunan musik dan suara wedding singer menyanyikan lagu bertema cinta langsung terdengar ketika Revan dan Silva memasuki ruangan. Mata Revan langsung tertuju ke arah panggung. Nampak Tiara bersama dengan Aldi tengah berpose untuk foto bersama Kenan dan Zahra. Ada sedikit desiran di dadanya melihat sang mantan bersanding dengan pria lain di pelaminan.
Silva melirik sekilas pada Revan, gadis itu masih bisa melihat sorot kesedihan di mata pria yang disukainya. Ada sedikit rasa kecewa di hati Silva, sepertinya Revan masih memendam perasaan pada Tiara. Kepercayaan diri gadis itu yang semula cukup tinggi untuk bisa mendapatkan Revan, seketika terhempas begitu saja. Lamunan Silva buyar ketika Revan menggandeng tangannya dan mengajaknya naik ke panggung pelaminan.
Bukan hanya Revan, namun dada Tiara juga berdesir saat melihat pria yang telah bersamanya selama hampir lima tahun lamanya datang untuk memberikan ucapan selamat. Wanita itu segera menyingkirkan kegugupannya dan menyambut kedatangan Revan dengan senyum terhias di wajahnya.
Silva memandangi Revan yang tengah memberi ucapan selamat pada Tiara juga Aldi. Pria itu tetap tenang, namun entah dengan perasaannya saat ini. Kemudian pandangan Silva beralih pada Aldi. Walau wajah pria itu bisa dibilang tampan, namun tetap menurutnya Revan jauh lebih tampan dan gagah. Entah apa yang membuat Tiara berpaling padanya.
“Selamat Tia.. aku doakan pernikahan kalian bahagia, samawa dan dikaruniai anak-anak yang soleh dan solehah,” ujar Revan seraya menjabat tangan mantan kekasihnya. Kemudian pria itu melepaskan jabatan tangannya dan beralih pada Aldi.
“Selamat ya, Di. Tolong jaga Tiara baik-baik. Kamu wajib dan harus membahagiakannya,” ujar Revan seraya menatap lurus pada pria tersebut.
“Terima kasih,” hanya kalimat singkat itu saja yang keluar dari mulut sang pengantin pria.
Usai Revan memberikan ucapan selamat, Silva segera menyusul memberikan ucapan selamat. Tiara memandangi Silva yang datang bersama dengan Revan. Dalam hati kecilnya ada sedikit perasaan tak rela melihat Revan telah menggandeng gadis lain. Namun dengan cepat wanita itu menghalau pikiran piciknya. Bagaimana pun juga Revan berhak untuk bahagia dengan siapa pun itu.
Dada Silva kembali bertalu-talu ketika Revan memeluk pinggang rampingnya setelah bersalaman dengan pasangan pengantin. Tubuh Silva terasa kaku ketika Revan terus memeluknya hingga menuruni panggung pelaminan. Dia baru melepaskan pelukannya ketika menghampiri Kenan.
“Sil.. sini kamu sama kakak aja, jangan deket-deket tuh presiden jomblo. Di sini aja dia berani peluk-peluk, apalagi berduaan, bisa-bisa diciv*k kamu,” cerocos Kenan yang langsung mengundang pelototan Revan.
“Hahaha… udah mas, jangan bully Revan terus. Kasihan dia lagi nelangsa. Lihat tuh matanya udah merah, bentar lagi mewek,” ujar Zahra.
“Mana ada! Sumpah ya Ra, sejak nikah sama si kompor, lo ikutan julid kaya dia,” sewot Revan namun hanya dibalas dengan tawanya saja.
Tanpa mempedulikan ucapan sahabat durjananya, Revan segera menarik tangan Silva dan membawanya pergi dari hadapan pria itu. Kenan terus memanggil-manggil Silva, namun Revan membawanya semakin menjauh. Zahra menyenggol tangan suaminya yang tak berhenti mengusili sahabatnya.
“Udah mas, seneng banget gangguin Revan.”
“Biarin, hahaha… tapi mudah-mudahan mereka jadian deh. Biar kaga jomblo mulu tuh kunyuk.”
“Aku juga setuju sih. Apalagi Silva kan naksir Revan.”
“Iya, dari pada sama laki-laki lain yang belum jelas, mending sama Revan. Kan enak bisa bikin harga diri dia berserakan kalau jadi adek ipar, hahahaha…”
Zahra mencubit lengan suaminya yang kerap tanpa saringan jika berbicara. Keduanya kemudian melangkah menuju deretan stoll, mencari makanan enak untuk asupan gizi anak keduanya.
Revan dan Silva tiba di stoll yang menyediakan aneka pasta. Tapi ternyata mereka salah menjatuhkan pilihan. Karena ternyata di sana juga tengah mengantri Viren beserta Alisha, Anya dengan Irvin dan Haikal yang tentu saja bersama Vina.
“Weh sang mantan butuh asupan gizi ternyata,” celetuk Haikal begitu melihat Revan.
“Galon juga perlu tenaga,” sambung Anya.
“Udah berapa banyak tisu buat lap ingusnya?” seru Viren.
Revan memandang keki pada ketiga sahabatnya. Silva tak kuasa menahan tawanya. Gadis itu sampai menutup mulut dengan tangannya. Tanpa mempedulikan ledekan para sahabat, Revan merangsek maju untuk mengambil pasta yang telah tersedia di meja stoll.
“Woii… antri boss.. biar kata lo lagi gallon bin mellow, antrian tetap berlaku,” Haikal mendorong tubuh Revan.
“Minggir, gue mau ambil buat Silva. Kalo tuh anak salatri, gue bisa disembur si kompor,” Revan beralasan.
“Eh cieee sok perhatian amat ama Silva. Sil.. hati-hati, jangan sampe kamu cuma jadi ember buat cucian kotornya doang,” timpal Anya.
“Bener, Sil. Jangan mau dijadiin tameng kegalonannya,” sambung Irvin.
“Mending sama yang lain aja. Jangan sama komodo gamon kaya dia,” sahut Viren.
“Gamon apaan?” tanya Silva bingung.
“Gagal mup on!” jawab Viren, Haikal dan Anya bersamaan.
__ADS_1
Sontak gelak tawa langsung terdengar, hingga menarik perhatian beberapa tamu yang ada di dekat mereka. Revan hanya bisa menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, dirinya pasrah terkena ledekan bertubi dari para sahabat durjananya. Silva pun tak bisa menahan tawanya, mata gadis itu sampai menyipit saking tergelaknya. Revan melihat pada Silva, tawa gadis itu membuat sebuah senyum tersungging di wajahnya.
☘️☘️☘️
Hubungan Revan dan Silva kian hari kian dekat saja. Kini pria itu sudah bisa sepenuhnya melepaskan dan merelakan Tiara. Dia juga mulai berpikir untuk menata kehidupan percintaannya lagi. Melihat semua sahabatnya telah melepas masa lajang, terbersit keinginan juga dalam hatinya untuk segera menyusul. Apalagi usianya kini sudah menginjak angka dua puluh tujuh.
Setelah banyak berbincang dengan kakak dan para sahabatnya, dan juga kedekatannya dengan Silva, Revan memantapkan hatinya untuk menjalin hubungan serius dengan adik ipar dari Kenan itu. Sudah dua bulan ini, dia secara intensif mengantar atau menjemput Silva dari kampus di sela-sela waktu kerjanya.
Seperti sore ini, Revan segera pulang lebih awal dari kantor agar bisa menjemput Silva dan menemui Sandi. Sudah hampir dua tahun Sandi kembali ke Bandung. Dia kembali ditugaskan ke kota kembang ini oleh Darmawan dan pria itu kembali tinggal di rumah lamanya bersama dengan Risma dan kedua anaknya.
“Lama nunggu kak?” tanya Silva begitu masuk ke dalam mobil.
“Ngga kok, cuma ngabisin baso tahu satu gerobak aja.”
“Ish..”
Revan tergelak, tangannya mengusak puncak kepala gadis yang duduk di sampingnya. Tak lama kemudian dia mulai menjalankan kendaraannya. Pria itu sengaja tidak memberitahu Silva kalau akan menemui Sandi sore ini. Revan ingin memberikan kejutan manis pada gadis itu. Sepanjang jalan Revan sibuk merangkai kata untuk melamar Silva pada Sandi.
Kendaraan yang membawa mereka berdua tiba di kediaman Sandi. Dari dalam mobil terlihat Sandi tengah duduk di teras rumahnya. Revan segera mengajak Silva untuk turun dari mobil. Gadis itu terlihat bingung begitu tahu Revan mengajaknya bertemu dengan papanya.
“Assalamu’alaikum..”
“Waalaikumsalam..”
Revan menghampiri Sandi kemudian mencium punggung tangan pria itu, disusul oleh Silva. Pria itu mempersilahkan untuk masuk, namun Revan memilih berbicara di teras saja. Silva segera masuk ke dalam rumah, hendak membuatkan minuman untuk Revan dan juga sang papa.
Untuk sesaat suasana menjadi hening sejenak. Sambil mempersiapkan diri berkata-kata, Revan melirik pada pria yang akan menjadi calon mertuanya. Tubuh Sandi sedikit lebih kurus sekarang. Sejak dirinya divonis menderita diabetes dua tahun lalu, berat badannya memang terus menyusut.
Karena penyakit yang dideritanya, Sandi juga sudah tidak bisa memenuhi kebutuhan batin istrinya. Itu pula alasannya menceraikan Elle, membiarkan wanita itu melanjutkan hidupnya bersama lelaki lain yang bisa memberinya keturunan. Awalnya Elle menolak dan bersedia menerima keadaan Sandi. Tapi mengingat usia Elle yang masih muda, membuat Sandi tetap mengambil keputusan menceraikan Elle. Dia juga mencarikan pria baik untuk pendamping hidup mantan istrinya. Kini Elle sudah menikah dan tengah mengandung anak pertamanya.
Sandi juga berniat menceraikan Risma. Dia sudah kehilangan kepercayaan diri begitu tahu penyakit yang dideritanya berpengaruh pada kemampuan s*k*ualitasnya. Namun tak disangka Risma menolak bercerai darinya. Wanita itu memutuskan untuk tetap hidup dengannya. Dan sampai saat ini kehidupan rumah tangganya baik-baik saja. Sepertinya Risma sudah banyak berubah ke arah yang baik.
“Tumben om, jam segini udah di rumah,” Revan mulai membuka percakapan.
“Iya. Kebetulan semua pekerjaan sudah selesai dan om diperbolehkan pulang lebih cepat.”
“Dila sama Sisil kok ngga kelihatan?”
“Dila belum pulang dari kampus, kalau Sisil lagi les.”
“Ooh..”
Revan hanya ber ‘oh’ ria saja. Tak berapa lama Silva keluar dengan membawa dua buah minuman. Satu minuman untuk Revan dan satu lagi minuman khusus untuk sang papa. Setelah meletakkan minuman di atas meja, Silva duduk bergabung bersama kedua pria itu.
“Maaf, om. Sebenarnya kedatangan saya ke sini, mau membicarakan hal serius sama om.”
“Soal apa?”
“Ehem.. begini, om. Kalau om merestui, saya ingin melamar Silva dalam waktu dekat.”
Baik Sandi maupun Silva terkejut mendengar penuturan pria itu. Silva menatap lekat pada Revan, pria itu nampak serius dengan ucapannya. Namun tetap saja gadis itu masih belum sepenuhnya percaya akan apa yang didengarnya tadi.
“Secara pribadi, om setuju saja dengan niat baikmu. Tapi sepertinya Silva masih terkejut. Ada baiknya kalian bicara dulu berdua. Nanti om tunggu kabar baiknya saja.”
Sandi mengambil gelas minumannya lalu masuk ke dalam rumah. Pria itu ingin memberikan waktu untuk anaknya juga Revan bicara berdua. Sepeninggal Sandi, suasana untuk sesaat masih hening. Revan berpindah duduk ke dekat Silva. Diraihnya tangan gadis itu kemudian digenggamnya erat.
“Sil.. aku tahu kalau lamaranku terkesan mendadak. Tapi percayalah, aku sudah memikirkan ini baik-baik. Aku ingin menjalin hubungan serius denganmu, bukan berpacaran tapi menikah. Apa kamu mau menikah denganku?”
“Aku.. jujur aku kaget, kak. Apa kakak yakin mau menikah denganku?”
“Kalau aku ngga yakin, aku ngga bakal melamar kamu ke papamu.”
“Kakak beneran ngga nyesel milih aku?”
“Yah sebenarnya ada satu penyesalan sih. Tapi aku harus siap dengan resikonya.”
“Kakak nyesel kenapa?” Silva mulai was-was. Gadis itu bertanya-tanya, jika Revan menyesal kenapa malah ingin melamarnya.
“Aku nyesel kenapa Nan yang harus jadi kakak ipar kamu. Dia bakalan makin songong dan semena-mena sama aku. Tapi demi kamu, aku rela harga diriku dibuat hancur berserakan sama dia.”
“Hah?”
Untuk sesaat Silva masih belum mengerti akan apa yang dikatakan oleh Revan. Namun sedetik kemudian tawanya pecah. Revan pun ikut tertawa, dia harus segera menyiapkan mentalnya berhadapan dengan Kenan dengan status sebagai adik ipar.
☘️☘️☘️
**Bonchap kedua sudah hadir. Mohon maaf aku ngga bisa kasih bonchap banyak², Mantili udah ngancem pake pedang setannya supaya aku cepet up ceritanya🤣
__ADS_1
Jangan tunggu aku besok, seperti biasa aku libur ya💃💃💃**