
“Heh.. bangun Dik.. bangun.. udah jam berapa nih.”
Dika membuka matanya perlahan. Sehabis minum-minum, dia tidur di club milik salah satu temannya. Sejak pernikahannya dengan Nadia batal, semua fasilitas miliknya dicabut oleh orang tuanya. Dia terkadang harus menginap di salah satu rumah temannya. Untuk pulang enggan rasanya, karena Firman pasti akan menghukumnya lagi.
“Jam berapa sekarang?”
“Jam sepuluh. Mandi sana, badan lo bau banget. Bentar lagi pegawai gue dateng, mending lo pergi deh.”
Dika menggeliatkan badannya kemudian bangun dengan tubuh sempoyongan. Dia menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Tak lama dia keluar, wajah dan tubuhnya sudah lebih segar. Temannya itu memberikan air hangat yang dicampur madu untuk meredakan pengarnya.
“Lo mau sampai kapan kaya gini Dik? Mending lo pulang. Semarah-marahnya bokap lo, dia pasti bakal maafin elo. Apalagi elo tuh anak mereka satu-satunya.”
“Hidup gue kacau gara-gara Abimanyu. Laki-laki brengsek itu yang udah batalin pernikahan gue sama Nadia. Lihat aja, gue bakal bikin perhitungan sama dia.”
“Jangan gila lo. Abi itu bukan orang yang punya belas kasihan. Udah ngga usah urusin masa lalu, mending lo nata hidup lo lagi.”
“Nina.... perempuan itu sepertinya penting buat Abi. Beberapa hari ini gue udah cari tahu tentang mereka. Sebentar lagi mereka akan nikah. Gue akan kasih hadiah pernikahan menyesakkan buat Abi hahaha..”
“Lo mau ngapain? Jangan macem-macem Dik. Bisa habis lo sama Abi.”
Dika tak mempedulikan perkataan temannya itu. Sambil melambaikan tangan, pria itu keluar dari club. Tujuannya kali ini adalah hotel tempat Nina dan Abi akan mengadakan resepsi. Hari ini Nina akan mendatangi hotel tersebut untuk melakukan test food.
☘️☘️☘️
Nina baru saja selesai test food. Dia cukup puas dengan rasa masakan yang disajikan hotel tempat diadakannya resepsi. Beno sedari tadi terus saja mengikuti Nina sesuai perintah Abi.
“Bang.. aku ke toilet dulu ya.”
“Iya mba.”
Nina keluar dari tempatnya test food lalu bergegas menuju toilet untuk menuntaskan hajatnya. Sepuluh menit kemudian dia keluar. Namun baru berjalan beberapa langkah, sebuah tangan membekap mulutnya kemudian menarik tubuhnya menjauh dari toilet. Nina coba memberontak, namun tenaga orang yang menariknya begitu kuat.
Tubuh Nina terus ditarik menuju basement yang sepi. Di dekat tangga darurat orang tersebut melepaskan tubuh Nina. Gadis itu terkejut melihat pria yang menyeretnya adalah Dika.
“Mau apa kamu?!!”
“Aku akan melenyapkanmu, supaya Abi menderita. Dia sudah menggagalkan pernikahanku dengan Nadia. Dia juga harus merasakan apa yang kurasakan.”
Dika kembali mendekati Nina, gadis itu berusaha pergi namun tangan pria tersebut berhasil mencengkeram pergelangan tangannya. Digigitnya tangan Dika, hingga terlepas pegangannya. Nina menendang perut Dika kemudian berlari menjauh. Namun Dika berhasil menarik rambut Nina.
“Aaagghhh..”
Nina menjerit ketika kulit kepalanya terasa sakit saat Dika menarik rambutnya. Tak mau kalah, gadis itu terus memberontak.
PLAK!!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Nina hingga sudut bibirnya terluka. Kemudian secepat kilat Dika mencengkeram leher Nina dengan kuat. Tubuh Nina terpojok bahkan sedikit terangkat akibat cengkeraman Dika.
Uhuk.. uhuk..
Nina terbatuk, pasokan oksigen ke paru-parunya mulai berkurang. Cengkeraman Dika di lehernya semakin kuat. Wajah Nina memerah, tangannya mencoba melepaskan tangan Dika dari lehernya namun sia-sia. Mata Nina mulai berkunang-kunang.
Dika seperti sedang dirasuki setan. Tekadnya sudah bulat menghabisi Nina demi membalas dendam pada Abi. Tiba-tiba sebuah tangan menarik tubuhnya dengan kencang hingga cengkeramannya di leher Nina terlepas. Gadis itu terjatuh di lantai, begitu pula dengan Dika. Belum sempat Dika bangun, Beno sudah menghajarnya hingga pingsan. Dengan cepat Beno menghampiri Nina.
“Mba.. mba Nina..”
Nina menatap Beno sebentar, perlahan matanya mulai mengabur lalu jatuh tak sadarkan diri. Beno bergegas membawa Nina pergi. Dia juga meminta bantuan security hotel untuk mengamankan Dika.
☘️☘️☘️
Abi memasuki IGD dengan wajah panik. Setelah mendapat telepon dari Beno, pria itu bergegas menuju rumah sakit meninggalkan klien pentingnya. Disibaknya satu per satu tirai yang menutupi blankar di IGD sampai akhirnya dia menemukan Nina di blankar paling ujung.
“Nina..”
__ADS_1
“Mas..”
Suara Nina terdengar lemah dan parau. Abi bergegas mendekati kekasihnya itu lalu memeluknya erat. Abi mengurai pelukannya, dia memundurkan tubuhnya untuk melihat kekasihnya lebih jelas. Sudut bibir Nina terluka, di lehernya juga terlihat gurat merah bekas cengkeraman Dika. Gigi Abi bergemelutuk menahan amarah yang membuncah di dalam dada.
“Mas.. aku mau pulang.”
“Sebentar sayang, aku tanya dokter dulu.”
Abi meninggalkan Nina sebentar untuk berbiara dengan dokter. Tak lama dia kembali beserta dokter yang tadi memeriksa Nina. Gadis itu diperbolehkan pulang, berdasarkan hasil pemeriksaan tidak terjadi sesuatu yang fatal padanya. Setelah mengurus administrasi, Abi membawa Nina pulang.
Rahma dan Teddy dibuat terkejut ketika melihat Abi membopong Nina masuk ke dalam rumah. Juna dan Nadia yang baru pulang dari bulan madunya, tak kalah terkejut. Mereka bergegas mengikuti Abi menuju kamar Nina. Perlahan dibaringkan tubuh Nina di atas kasur. Abi menarik selimut lalu menutupi tubuh calon istrinya itu sampai ke batas dada.
“Nina kenapa Bi?”
“Tadi Dika berusaha menyakitinya,” terdengar suara Abi yang begitu emosi.
Nadia membekap mulutnya, tak percaya kalau mantan calon suaminya bisa berbuat nekad menyakiti Nina.
“Ma.. aku titip Nina.”
“Mas mau kemana?”
Abi yang hendak pergi memutar tubuhnya lalu mendekati Nina. Diusapnya puncak kepala Nina dilanjut dengan memberikan kecupan di dahinya.
“Aku keluar sebentar. Kamu sama mama aja di sini.”
Nina mengangguk pelan. Abi mengusap pipi Nina kemudian bergegas pergi. Juna bergerak mengikuti adiknya itu. Di teras Abi bertemu dengan Beno yang baru saja tiba.
“Di mana dia?”
“Di markas mas.”
Tanpa banyak bicara Abi segera menuju mobilnya. Tujuannya adalah menemui Dika yang disekap di markas. Markas adalah sebutan untuk kantor tim keamanan keluarga Hikmat. Juna yang khawatir adiknya kalap, meminta Beno untuk mengawasinya.
“Ikuti Abi, hentikan dia kalau sampai berbuat di luar batas.”
Tak menunggu lama, Beno segera menyusul Abi menggunakan mobil yang selalu digunakannnya.
☘️☘️☘️
BRAK!!
Abi menutup pintu mobilnya dengan kencang lalu masuk ke dalam rumah berlantai dua yang dijadikan kantor tim keamanannya. Beberapa pengawal yang berjaga di depan rumah menundukkan kepalanya pada pria itu.
Beno yang juga sudah sampai bergegas menyusul Abi. Dia memandu Abi menuju basement, tempat mereka menyekap Dika. Di sana terlihat Dika duduk di kursi dengan tangan dan kaki terikat. Hanya ada satu memar di wajahnya bekas Beno menghajarnya. Tak ada yang berani menyiksa pria itu sebelum Abi datang.
“Buka ikatannya!” perintah Abi.
Dua orang pengawal segera melepaskan tali yang mengikat tubuh Dika. Abi berjalan mendekati pria itu.
“Kamu ada masalah denganku? Lawan aku! Jangan sentuh wanitaku!!”
Sorot mata Abi seperti memancarkan sinar laser yang menembus jantung Dika. Seketika nyali pria itu ciut melihat kemarahan Abi. Dia beringsut mundur ketika Abi terus berjalan mendekatinya.
“Kita satu lawan satu. Kalau kamu menang, kamu boleh pergi dari tempat ini, tapi kalau kamu kalah, maka bersiaplah menerima hukumanmu.”
Mendengar tantangan Abi, mau tak mau Dika mencoba meladeni. Jika satu lawan satu, Dika cukup percaya diri. Dia mengepalkan kedua tangannya, memasang kuda-kuda seperti orang yang siap bertinju. Abi menggerakkan dua buah jarinya, mengkode Dika untuk mulai menyerangnya. Dika mendekat lalu melayangkan tinjunya, namun dengan cepat Abi mengelak lalu mendaratkan pukulan kencang ke wajah Dika hingga jatuh tersungkur.
Dika berusaha bangun. Dia harus bisa melawan Abi kalau tidak mau mati konyol di tempat ini. Dia menyeruduk tubuh Abi, tangannya memeluk pinggang pria itu dengan kencang. Abi menggerakkan kakinya, lututnya sukses mengenai perut Dika hingga pelukannya dari pinggang Abi terlepas.
Dika kembali jatuh tersungkur ketika tendangan Abi bersarang di dadanya. Dia terbatuk merasakan sesak di dadanya. Tubuhnya terasa remuk hingga tak sanggup untuk berdiri lagi. Abi kembali mendekat lalu melayangkan dua pukulan bertubi ke wajahnya. Mulut Dika mengeluarkan darah, namun Abi masih belum berhenti. Kini dia menarik tangan kanan Dika lalu memutarnya keras hingga terdengar suara seperti tulang patah.
“Aaaagghhh..”
__ADS_1
Teriakan kencang Dika menggema di seluruh ruangan. Semua yang ada di ruangan bergidik ngeri melihat Abi menghajar Dika. Beno bergeming, dia merasa apa yang dilakukan Abi masih dalam batas kewajaran.
“Pegangi dia lalu buka celananya!”
Dua orang pengawal segera memegangi Dika. Abi berjalan menuju nakas yang memajang bermacam senjata tajam. Diambilnya sebuah pisau lalu kembali mendekati Dika.
“Dudukkan dia di kursi!”
Sekuat tenaga Dika coba melepaskan diri namun sia-sia, tenaganya sudah habis terkuras. Dia hanya bisa pasrah saat dua orang bertubuh kekar melucuti celananya hingga tak bersisa lalu mendudukkannya di atas kursi. Abi mendekat dengan pisau di tangannya. Wajah Dika bertambah panik.
“Ka.. kamu ma... mau apa Bi?”
“Laki-laki sejati tidak akan pernah melukai perempuan. Tapi kamu berani menyakiti calon istriku. Kamu bukanlah laki-laki, Dika. Jadi kamu tidak membutuhkan itu. Aku akan membantumu menyingkirkannya.”
Abi menunjuk kejantanan Dika dengan pisau di tangannya. Wajah Dika bertambah panik. Dia mulai meronta, berteriak meminta ampun pada Abi tapi sepertinya pria itu menulikan telinganya.
“Mas Abi.. jangan mas,” Beno mulai bersuara.
Abi tak mempedulikan ucapan Beno. Dia semakin mendekati Dika. Digenggamnya erat pisau di tangannya. Matanya berkilat menatap laki-laki di hadapannya yang sudah banjir airmata. Dengan gerakan cepat dia mengarahkan pisaunya ke properti Dika. Beno berlari mendekat untuk mencegah.
“Aaaaaggghhh..”
Dika menjerit kencang ketika pisau menancap di kursi, sedikit lagi hampir mengenai perabotan miliknya. Dua orang pengawal yang memegangi Dika menahan nafas melihat posisi pisau yang begitu dekat dengan batangan kenyal itu. Beno cukup bernafas lega karena Abi tak melakukan aksi gilanya.
“Sekali lagi kamu berani mengganggu wanitaku, maka akan kupastikan memotong-motong milikmu lalu memberikannya pada kucing liar.”
Abi mensejajarkan dirinya dengan Dika lalu menepuk kencang rahang lelaki itu. Dia menegakkan tubuhnya kembali lalu berjalan menjauhinya. Terdengar suara kucuran air dari arah belakangnya. Saking takutnya, Dika sampai buang air kecil di tempat.
Abi berjalan mendekati Beno. Saat dirinya akan berbicara, ponselnya bergetar. Melihat nama pemanggil di layar, Abi segera menjawab panggilan.
“Halo.”
“...”
“Hasilnya sudah keluar?”
“...”
“Aku ke sana sekarang.”
Abi mengakhiri panggilan. Dimasukkannya ponsel ke saku celana lalu pandangannya kembali tertuju pada Beno.
“Masukkan dia ke dalam kardus lalu kirimkan ke rumah orang tuanya. Katakan pada ayahnya, kalau dia tak bisa mengawasi anaknya, maka dia akan menggotong keranda anaknya.”
Beno hanya menganggukkan kepalanya. Abi bergegas pergi untuk menemui orang yang tadi menelponnya.
☘️☘️☘️
Abi menghampiri Fatih yang tengah menunggunya di lobi rumah sakit. Dia adalah orang yang diminta Abi untuk memeriksa DNA Nina dan Gean. Fatih menyerahkan amplop putih di tangannya.
“Apa hasilnya?”
“Lihat saja sendiri.”
Dengan tergesa Abi membuka amplop di tangannya. Dia hanya melihat sekilas pada kata-kata yang tak dimengertinya. Matanya langsung tertuju pada tulisan dan angka yang ada di bagian paling bawah. Setelah membacanya dia melihat ke arah Fatih.
“Ini akurat?”
“Yupz.”
☘️☘️☘️
Makanya Bi, jangan kejam² jadi orang, banyak yg dendam tuh😅
__ADS_1
Dika mewek mau disunat Abi lagi🤭
Kira² apa hasil tes DNA nya ya🤔