
Ruby melemparkan tasnya ke kasur dengan kesal. Dirinya kesal bukan kepalang, usahanya menjebak Nina sia-sia. Percuma saja dia mengeluarkan cukup banyak uang untuk membayar aktor dadakan yang tidak becus kerja. Ditambah dengan melihat kemesraan Abi dan Nina membuat Ruby seperti berada di dalam neraka.
Pintu kamar terbuka, Agung masuk ke dalam kamar. Dia berdiri dengan tangan bersidekap di dada, matanya menatap tajam ke arah Ruby yang duduk di sisi ranjang. Ruby menarik nafas panjang, satu lagi kekesalannya bertambah.
“Jelaskan apa yang terjadi di kantor tadi!”
“Yang mana?” Ruby pura-pura tak mengerti.
“Jangan berpura-pura. Kenapa kamu ribut dengan istri atasanmu? Kenapa juga dia menyebutmu pelakor? Apa kamu berusaha menggoda atasanmu?”
“Ngga usah banyak tanya.”
“Aku harus tahu karena kamu istriku!”
“Istri?”
Ruby tertawa pelan, geli sekali telinganya mendengar kalimat Agung barusan. Dia berdiri lalu mensejajarkan diri dengan suaminya. Dengan kepala sedikit menengadah, dia menatap sengit Agung.
“Aku memang istrimu tapi apa kamu lupa kalau kamu memaksaku untuk menikah denganmu?”
“Terpaksa atau tidak nyatanya kamu sekarang adalah istriku,” balas Agung tak mau kalah.
“Kalau begitu bersikaplah sepantasnya. Jangan terlalu menganggap serius pernikahan ini. Karena aku tidak pernah mengharapkannya. Jangan berlagak kamu juga peduli dengan pernikahan ini. Aku tahu tujuanmu menikahiku karena menginginkan tubuhku.”
Agung yang tak suka mendengar kalimat yang Ruby lontarkan, meraih dagu istrinya itu sedikit kasar. Saat Ruby akan berontak, Agung justru menekan rahangnya sedikit keras. Menghadapkan wajah wanita itu ke arahnya.
“Walaupun aku hanya menginginkan tubuhmu, tapi setidaknya aku jujur. Tidak seperti dirimu yang pembohong. Pertama kamu mengatakan memiliki pacar, lalu orang yang pertama menidurimu ternyata bukan pacarmu dan kini kamu berniat merebut suami orang lain. Sungguh kamu adalah jelmaan ular betina.”
“Ya.. aku memang pembohong dan ya aku juga berniat merebut bosku dari istrinya itu karena aku mencintainya. Dia pria yang kucintai dan satu-satunya orang yang kuinginkan untuk menjadi pendamping hidupku. Kamu sudah tahu kebenarannya, maka ceraikan aku.”q
“Kamu ingin berpisah? Kalau begitu cepat bereskan pakaianmu. Malam ini juga aku akan mengabulkan permintaanmu.”
Agung melepaskan tangannya dari wajah Ruby lalu berjalan ke arah lemari. Dikeluarkan semua pakaian Ruby dari dalam lemari. Kemudian tangannya mengambil koper yang ada di atas lemari. Dimasukkan semua pakaian Ruby ke dalam koper. Ruby memandangi semua yang dilakukan Agung. Tak percaya kalau semudah ini berpisah dengan lelaki itu.
“Bereskan semua sisa barangmu, jangan sampai ada yang tertinggal di sini. Aku akan mengantarkanmu malam ini juga ke tempat mami Elis.”
Ruby terlonjak mendengar nama Elis. dia menghampiri Agung yang baru saja akan keluar dari kamar. Ditariknya tangan kekar itu hingga tubuh Agung berbalik padanya.
“Apa maksudmu mengantarku ke mami Elis?”
“Apa kamu lupa kenapa pernikahan ini terjadi? Kita menikah agar kamu bisa keluar dari tempat itu. Tapi kamu memilih berpisah denganku, maka aku akan mengembalikanmu ke tempat semula. Mami Elis pasti senang menerimamu kembali. Cepatlah bersiap, sebentar lagi klub milik mami akan ramai. Mungkin kamu akan langsung diminta melayani para tamu.”
Agung membalikkan tubuhnya tapi dengan cepat Ruby menahannya. Dia memeluk pinggang pria itu dari belakang. Tanpa wanita itu sadari senyum tipis mengembang di wajah Agung.
“Jangan bawa aku ke sana. Aku tidak akan berpisah darimu.”
“Aku sudah tak berminat meneruskan pernikahan ini. Mau dikemanakan wajahku, kalau orang-orang tahu istriku ternyata seorang wanita penggoda.”
“Aku janji akan menuruti semua keinginanmu tapi tolong jangan kembalikan aku ke mami Elis."
“Kuberi kamu waktu seminggu untuk membuktikan ucapanmu. Kalau dalam jangka waktu itu kamu masih belum berubah, maka bersiaplah kembali ke mami Elis.”
Agung melepaskan pelukan Ruby kemudian segera keluar dari kamar. Tubuh Ruby luruh jatuh ke lantai. Otaknya berpikir keras bagaimana caranya lepas dari cengkeraman Agung namun tanpa membuatnya kembali ke cengkeraman mami Elis. Hanya satu yang terlintas di pikirannya, Mano. Tapi lelaki itu seperti ditelan bumi, nomornya pun tak bisa dihubungi.
Aku haru bertemu dengan Mano. Kemana si brengsek itu, dia menghilang di saat aku membutuhkan bantuannya. Sepertinya aku akan mencarinya ke toko. Tapi bagaimana caraku lepas dari pengawasan Agung. Laki-laki itu selalu mengikuti seperti buntut saja.
☘️☘️☘️
Kepulan asap menguar di sekitar Agung. Lelaki bertubuh tegap itu tengah berdiri menatap kelap-kelip lampu kota. Rokok yang tadi dibakarnya sudah hampir habis. Dia menghisap dalam-dalam rokoknya setelah itu membuangnya ke bawah. Telapak sepatunya menginjak puntung rokok hingga baranya mati.
Sebuah tepukan mendarat di bahunya. Pria itu menoleh ke samping kanannya. Terlihat Beno sudah berdiri di sampingnya. Pikiran Agung sedikit kalut setelah pertengkarannya dengan Ruby. Dia juga cukup terkejut mengetahui kalau sang istri ternyata mencintai Abi, bosnya sendiri. Agung memutuskan menghubungi Beno untuk konsultasi.
“Ada apa? Mukamu kusut sekali, seperti habis bertengkar dengan istri.”
__ADS_1
Tak ada jawaban dari Agung membuat Beno menolehkan kepala ke arah pria di sebelahnya. Dari sorot mata Agung bisa diketahui kalau tebakannya itu benar. Sontak suara tawa terdengar dari mulutnya.
“Hahahaha.. ternyata benar tebakanku. Salahmu sendiri memperumit hidupmu dengan menikahinya.”
“Aku harus bagaimana bang? Aku juga masih belum dapat petunjuk soal sekutunya. Dan yang lebih mengejutkan ternyata Ruby mencintai mas Abi. Tadi dia membayar orang untuk menjebak istri mas Abi.”
Agung mengacak-acak rambutnya frustrasi. Beno hanya terkekeh melihatnya. Diambilnya kotak rokok dari saku celanaya. Sebatang rokok diselipkan ke bibirnya kemudian menyodorkannya ke arah Agung yang langsung ditolak olehnya. Beno menyalakan rokoknya, menghisapnya sebentar lalu menghembuskan asapnya yang langsung hilang terbawa angin.
“Dia bersikap hati-hati karena kamu selalu mengawasinya. Berikan dia kelonggaran, dan lihat apa yang akan dilakukannya.”
“Bagaimana caranya?”
“Hah.. kenapa mendadak otakmu menjadi dungu setelah menikah dengan Ruby.”
Beno menghela nafas kesal. Dibuangnya rokok yang masih panjang itu kemudian menarik tubuh Agung lebih dekat dengannya. Kepala Agung terlihat naik turun mendengar rencana yang dikatakan oleh Beno.
☘️☘️☘️
Ruby membuka pintu kamar. Hidungnya mengendus sesuatu yang membuat cacing di perutnya meronta. Dilangkahkan kakinya menuju dapur. Terlihat Agung baru selesai mencuci piring bekas sarapannya. Wanita itu melirik wajan berisi nasi goreng yang berada di atas kompor.
“Kamu baru bangun? Makanlah, aku sudah membuatkan sarapan.”
“Kamu yang membuat ini?” Ruby malah bertanya balik.
“Hmm..”
Agung menjawab dengan gumaman saja. Dia beranjak menuju kamar kemudian kembali dengan handuk tersampir di bahunya kemudian masuk ke kamar mandi. Ruby mengambil piring lalu memindahkan nasi goreng ke piringnya. Wanita itu menuju ruang tamu, makan sambil menonton tayangan gosip di televisi.
Lima belas menit kemudian Agung selesai dengan ritual mandinya. Tubuhnya hanya terbalut handuk sebatas pinggang saja. rambutnya masih terlihat basah dan airnya menetes ke dadanya. Ruby menelan kelat ludahnya melihat penampilan sang suami. Tak dipungkiri Agung memiliki tubuh yang tegap dan perut rata lengkap dengan roti sobeknya. Kulitnya yang kecoklatan membuat pria itu terlihat seksi dengan keadaannya sekarang.
“Hari ini kamu berangkat saja ke kantor sendiri. Aku ada urusan mendadak. Aku juga tidak bisa menjemputmu nanti.”
“Kamu mau kemana?”
Ruby bersorak dalam hati, setidaknya beberapa hari ke depan dia bisa bebas dari pengawasan Agung. Tapi dia juga penasaran dengan pekerjaan Agung sebagai tangan kanan Elis. Apalagi kata-kata menjemput perempuan, mendadak Ruby takut kalau Agung terpincut salah satu dari mereka.
“Hanya menjemput saja tapi memakan waktu berhari-hari?”
“Aku bukan hanya bertugas menjemput mereka, tapi juga harus mempersiapkan mereka menjadi wanita penghibur. Terkadang mami juga memintaku untuk mencicipi mereka untuk melihat sejauh mana kemampuan mereka di atas ranjang.”
Ruby menghentikan makannya, matanya langsung melihat ke arah Agung yang tengah mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil. Matanya menyiratkan ketidaksukaan dan Agung dapat menangkap itu. Dia tersenyum dalam hati, ternyata Ruby termakan bualannya.
Seumur hidup hanya dua orang wanita yang pernah disentuh pria itu, Ruby juga Tari, istri pertamanya yang meninggal beberapa tahun lalu. Salah satu alasannya menikahi Ruby karena wajah wanita itu sedikit mirip dengan mendiang istrinya. Hanya sifat mereka bertolak belakang.
“Apa maksudmu mencicipi adalah tidur dengan perempuan itu?”
“Tentu saja,” jawab Agung tak acuh.
“Apa kamu lupa kalau kamu sudah menikah? Bagaimana bisa kamu tidur dengan wanita lain?”
“Itu memang pekerjaanku. Lalu bagaimana denganmu? Kamu sudah menikah tapi ingin merebut bosmu sendiri? Kalau kamu bisa mendekati bosmu, kamu boleh tidur dengannya. Dan kamu tidak usah melarangku jika mami Elis memintaku untuk mencicipi anak barunya.”
Ruby mendengus kesal. Bagaimana dirinya bisa tidur bersama dengan Abi, bahkan untuk mendekat saja, pria itu tak memberikan celah sama sekali. Dan juga dia tak rela membayangkan ada wanita lain yang berada di bawah kungkungan Agung. Sungguh dia tak rela ada wanita lain yang dibuat men**sah oleh suaminya.
“Cepat habiskan sarapanmu. Jangan sampai kamu terlambat masuk kerja.”
Agung masuk ke dalam kamar meninggalkan Ruby dengan perasaan tak karuan. Ruby bangun sambil membawa piringnya yang masih terdapat sisa nasi goreng. Pembicaraan tadi membuat selera makannya hilang. Diletakkan piring ke dalam wastafel lalu masuk ke dalam kamar.
Agung baru saja mengenakan ********** ketika Ruby masuk ke dalam kamar. Lagi-lagi dia menelan ludahnya kelat melihat tubuh sang suami yang hanya terbalut da**man. Buru-buru diambilnya handuk kemudian bergegas keluar kamar. Dia harus mendinginkan otaknya sebelum terbakar hasrat dan menerkam suaminya.
☘️☘️☘️
“Nina..”
__ADS_1
Nina menolehkan wajahnya ketika mendengar sebuah suara memanggilnya. Nampak Mano berdiri di sampingnya. Senyum tersungging di bibirnya, memperlihatkan gigi-giginya yang putih.
“Sebuah kebetulan bertemu denganmu di sini.”
“Apa ini tokomu juga?”
Mano tertawa lepas mendengarnya. Saat ini keduanya tengah berada di toko yang menjual aneka pakaian dalam. Nina bermaksud membeli beberapa lingerie keluaran terbaru. Dia ingin tampil seksi di depan sang suami pastinya. Dirinya kesal karena Abi lebih banyak menghabiskan waktu di ruang kerjanya akhir-akhir ini.
“Bukan.. aku kebetulan lewat saja. Apa mau kurekomendasikan lingerie yang bagus untukmu?”
“Hey.. aku hanya ingin memberikan pendapatku dari sudut pandang pria saja,” Mano kembali berucap saat melihat tatapan aneh Nina padanya.
“Tidak usah. Aku cukup tahu selera suamiku.”
Nina mengambil beberapa potong lingerie dengan model dan warna berbeda kemudian membayarnya. Dengan cepat dia keluar dari toko. Mano mengikuti langkah perempuan itu yang menuruni tangga eskalator. Sesampainya di lantai dasar mall, Mano menahan langkah Nina. Dia buru-buru mencegat Nina dengan berdiri menghadangnya.
“How about coffie?”
“Maaf.. aku tidak suka kopi.”
“Tolong Nina aku hanya ingin berbicara denganmu. Aku ingin konsultasi denganmu tentang kondisi ibuku. Aku pernah memberitahumu kan kalau ibuku terkena stroke. Aku ingin tahu terapi apa yang cocok untuknya. Aku mohon.”
“Baiklah, kita bicara di cafe langgananku.”
“Ok, ayo.”
“Aku bawa mobil sendiri. Kamu ikuti saja mobilku.”
Mano hanya mengangguk seraya mengacungkan jempolnya. Dia berjalan mengikuti Nina. Seorang anak buah Beno yang ditugaskan menjaga Nina membukakan pintu untuk majikannya itu. Mano bergegas menuju mobilnya untuk menyusul Nina.
Nina mengarahkan Made, pengawal yang menjaganya menuju cafe milik temannya. Di belakang mereka, mobil Mano mengikuti. Nina meminta Made tak ikut ke dalam cafe, tapi harus stand by di luar jika Nina membutuhkannya. Pria berkepala plontos itu hanya menganggukkan kepalanya saja.
Sesampainya di cafe tujuan, Nina langsung masuk ke dalamnya. Dia sengaja memilih cafe ini agar Mano tidak berbuat macam-macam. Semenjak kejadian Ruby yang berusaha menjebaknya, dia harus lebih berhati-hati. Menjadi istri seorang Abimanyu ternyata tak semudah yang dibayangkan. Dia harus mampu berpikir cepat dalam situasi apapun, termasuk saat ini.
Mano mengikuti Nina masuk ke dalam cafe. Pria yang kelihatannya tenang itu tak kalah liciknya. Dia juga sudah menyiapkan anak buah untuk melumpuhkan pengawal Nina. Mereka bersiap di depan cafe menunggu aba-aba darinya. Lelaki itu sudah bertekad untuk mendapatkan Nina untuk membuat Abi menderita.
Mano menghampiri meja yang dipilih Nina. Dia menarik kursi di depan Nina. Seorang pelayan datang mengantarkan buku menu. Nina memesan orange juice yang langsung disetujui juga oleh Mano.
“Apa yang mau anda tanyakan?”
“Apakah ibuku bisa pulih kembali?”
“Tergantung. Apa ini serangan stroke pertamanya? Pembuluh darah bagian mana yang pecah, kanan atau kiri?”
“Ini serangan pertamanya. Pembuluh darah di otak kanannya yang pecah.”
Nina mulai membagikan pengalamannya saat menangani pasien yang menderita stroke. Mano mendengarkan dengan sungguh-sungguh seakan-akan dia benar-benar membutuhkan informasi tersebut.
Seorang pelayan datang membawakan pesanan mereka, membuat percakapan mereka terhenti sebentar. Setelah meletakkan pesanan di meja, pelayan wanita itu beranjak pergi.
“Maaf pak Mano, saya permisi ke toilet
sebentar.”
Mano mengangguk pelan, matanya mengawasi Nina yang berjalan menjauh kemudian berbelok ke area toilet. Dengan cepat Mano mengeluarkan bungkusan dari saku celananya. Setelah melihat ke kanan kiri, dia memasukkan bubuk di dalam bungkusan itu ke dalam minuman Nina.
“Maafkan aku Nina harus memilikimu dengan cara seperti ini, tapi aku tak punya pilihan lain. Dan Abi.. penderitaanmu akan dimulai.”
Nina kembali dari toilet lalu duduk di tempatnya semula. Saat tangannya akan meraih gelas minuman, terdengar ponselnya berbunyi, sebuah notofikasi pesan masuk ke ponselnya. Nina membalas pesan masuk kemudian memasukkan kembali ponsel ke dalam tas. Dia menyambar gelas yang ada di depannya, tenggorokannya memang sudah meronta ingin diguyur minuman dingin.
☘️☘️☘️
😱😱😱 gimana nih? kira² si Mano masukin apa ya ke minuman Nina? Ngga mungkin obat pencahar kan.
__ADS_1