KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Bonchap : Goodness


__ADS_3

Tiga bulan setelah Abi kembali pada keluarganya, pria itu merayakan ulang tahun pernikahannya dengan Nina yang ke 19 tahun. Untuk anniversary kali ini, mereka hanya mengadakan pesta sederhana. Hanya keluarga dekat dan sahabat serta orang kepercayaannya saja yang hadir.


Pesta diadakan di kediamannya. Ketiga anaknya yang merancang pesta anniversary ini. Baik Abi dan Nina hanya duduk saja mengawasi semua persiapan yang dilakukan oleh anak-anak mereka. Freya dan Kenan mengikuti semua arahan sang kakak. Mulai dari memilih dekorasi, makanan sampai rangkaian acara.


Kenzie juga yang menyortir siapa saja yang akan diundang pada pesta kali ini. Dia tahu betul sang ayah tidak ingin mengundang banyak orang. Oleh karenanya pemuda itu merancang konsep private party. Semua yang datang diwajibkan memakai pakaian yang didominasi warna putih. Karena tema yang diusung kali ini adalah cinta putih.


Semua anggota inti keluarga Hikmat tentu saja diwajibkan datang. Begitu pula dengan Kevin, Jojo, Radix, Gurit dan Darian. Kenzie juga mengundang Fadil, Marcel, Andhiar, Agung, Beno dan Dendi. Walau hanya private party, dia juga harus memikirkan keselamatan keluarganya. Itulah alasan Beno, Agung dan Dendi turut hadir. Dan tak lupa pemuda itu juga mengundang Sutisna beserta Lilis. Tanpa mereka, sang ayah mungkin tidak akan kembali.


Satu per satu tamu undangan hadir. Suasana rumah bertambah riuh dengan kedatangan anak-anak dari para sahabat dan juga kerabat. Beno datang bersama Fani dan juga kedua anaknya. Begitu pula Agung yang datang bersama Ruby. Fathan sendiri sudah datang lebih dulu untuk membantu Kenzie bersiap. Selain dengan Aric, Ezra, Barra dan Ravin, Kenzie juga cukup dekat dengan Fathan.


Darian datang bersama dengan keluarga kecilnya. Pria itu telah menikah dengan sahabat dari adiknya dan dikaruniai dua orang anak. Sedang sang adik mengikuti suaminya yang bekerja di Singapura. Di belakang Darian, menyusul Fadil bersama istrinya. Anak tunggalnya tidak ikut serta karena masih berada di pesantren. Andhiar yang baru saja menjadi bapak, juga datang bersama istri dan anaknya yang masih berusia tiga bulan. Pria itu memang sedikit terlambat menikah karena memilih berkarir lebih dulu.


Tak lama berselang, Dendi datang seorang diri. Pria yang kini menjadi asisten Agung, telah berusia 42 tahun dan sejak lima tahun lalu resmi menyandang status sebagai duda. Selama tiga belas tahun menikah, mereka tidak juga dikaruniai anak. Sang istri menggugat cerai karena dianggapnya pria itu mandul. Kini mantan istrinya sudah menikah lagi dan dikaruniai seorang anak. Sedang Dendi memilih bertahan dengan status dudanya.


Melihat semua tamu undangan sudah hadir, acara ulang tahun pernikahan pun dimulai. Acara dibuka oleh Aric yang ditunjuk Kenzie sebagai pembawa acara. Pemuda itu selain terkenal ramah, dia juga pandai berbicara di depan umum. Sepertinya bakat Cakra menurun padanya. Sebagai pembuka, Aric meminta Abi memberi sambutan singkatnya. Bersama dengan Nina, pria itu maju ke depan.


“Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.”


“Waalaikumsalam warrahmatullahi wabarakatuh."


“Terima kasih sebelumnya saya ucapkan kepada semua yang berkenan hadir di sini. Terima kasih untuk anak-anakku tercinta yang telah menyiapkan pesta luar biasa untuk kami. Tak lupa, saya juga menyapa pak Sutisna juga Lilis. Terima kasih atas kehadiran kalian. Selamat bergabung dengan keluarga besar kami.”


Sutisna menangkupkan kedua tangannya seraya melayangkan senyuman kepada Abi dan semua yang hadir. Sungguh dirinya tak menyangka bisa berada di tengah-tengah keluarga Hikmat yang terpandang dan kekayaannya mungkin tidak akan habis tujuh turunan. Sepertinya Tuhan memberikan ini sebagai balasan atas kesabaran dan keikhlasanya menghadapi musibah yang menimpanya dulu. Dia juga tak menyangka, Abi beserta keluarga merupakan orang-orang yang hangat dan rendah hati.


“Untuk istriku, terima kasih sudah setia dan sabar mendampingiku selama ini. Menerima semua kekuranganku dan sifat burukku. Aku bukanlah manusia sempurna, namun kehadiranmu menyempurnakan hidupku. Darimu aku mendapatkan tiga orang anak yang hebat. Thank you so much darling. I love you forever and always.”


“I love you more than anything, my love.”


Abi mendekatkan wajahnya kemudian mengecup bibir sang istri. Terdengar sorakan dari para bocil yang menyaksikan adegan dewasa tersebut. Kenan menggerak-gerakkan kepalanya saat Kenzie menutup kedua matanya.


“Kampret si Abi, main nyosor Nina aja. Mana banyak bocil,” gerutu Jojo.


“Lah si kunyuk mana peduli,” timpal Cakra.


“Bukan Abi kalau ngga gitu,” sambar Juna.


“Ngiri bilang bos,” lanjut Kevin dengan wajah tanpa ekspresi. Jojo mendelik kesal pada Kevin.


Setelah acara sambutan yang singkat, padat dan sedikit menghebohkan, Kenzie, Freya dan Kenan datang mendorong troli yang terdapat kue ulang tahun pernikahan di atasnya. Mereka menaruh troli di depan Abi dan Nina. Freya menyerahkan pisau untuk memotong kue pada keduanya. Bersama mereka memotong kue dan menaruhnya ke dalam piring kecil yang sudah disediakan. Bergantian Abi menyuapi Nina dan ketiga anaknya. Terakhir, Nina yang menyuapi kue suaminya.


Tepuk tangan terdengar ketika acara suap-suapan kue berakhir. Ravin yang ditunjuk menjadi fotografer dadakan langsung mengabadikan momen tersebut. Beberapa kali kameranya membidik semua adegan tadi. Fotografi memang hobi dari Ravin, pemuda itu senang sekali menjelajah tempat-tempat indah untuk mengabadikannya.


Usai acara pemotongan kue, para tamu dipersilahkan mencicipi hidangan yang telah disediakan. Sambil menikmati hidangan, para tamu dihibur dengan nyanyian dari ketiga anak Abi dan Nina. Mereka membawakan lagu lawas milik Katon Bagaskara yang berjudul cinta putih. Saat musik mengalun, di belakang mereka layar putih menayangkan cuplikan foto-foto kebersamaan Abi dan Nina dari awal menikah sampai sekarang.


“Mari kita jaga sebentuk cinta putih yang telah terbina. Sepenuhnya terjalin pengertian antara engkau dan aku,” Freya.


“Masihlah panjang. Jalan tempuh mesti ditempuh. Semoga tak lekang oleh waktu,” Kenan.


“Cukup bagiku hadirmu. Membawa cinta selalu. Lewat warna sikap, kasihku kau ungkap,” Kenzie, Freya dan Kenan.


Abi memeluk bahu Nina, keduanya nampak begitu menikmati nyanyian yang disuguhkan anak-anak mereka. Walau pun Freya tak pandai bernyanyi, namun suaranya masih layak didengar. Berbeda dengan Kenan yang sejak kecil memang dianugerahi suara merdu. Sepertinya bakat menyanyi Teddy menurun padanya.


Semua yang hadir juga mengakui kalau suara Kenan enak didengar. Akhirnya dari generasi Abi, ada juga keturunannya yang bisa bernyanyi. Kini tiba giliran Kenzie yang menyanyikan partnya. Aric dan Ezra yang telah melatih pemuda itu bernyanyi hanya menahan nafas saja saat sepupu sekaligus sahabatnya itu mulai bernyanyi.


“Jika kau bertanya sejauh mana cinta membuat bahagia. Sepenuhnya terimalah apa adanya dua beda menyatu,” Kenzie.


“Saling mengisi.. tanpa pernah mengekang diri. Jadikan percaya, yang utama,” Kenan.


“Cukup bagiku hadirmu. Membawa cinta selalu. Lewat warna sikap, kasihku kau ungkap,” Kenzie, Freya dan Kenan.


Aric dan Ezra dapat bernafas lega karena mereka hanya sebentar saja mendengar suara sember plus fals Kenzie, beruntung suaranya langsung tertimpa oleh part Kenan. Ketika menyanyi bersama pun suara Kenan lebih banyak mendominasi.


“Kuping lo sakit ngga Ez, pas si Ken nyanyi?” tanya Aric.


“Banget,” Ezra mengorek telinganya.


“Lo biasa aja Bar, anteng gitu dengernya,” Aric melihat ke arah Barra yang berdiri di sebelahnya.


“Gue kan udah sedia ini,” Barra mengeluarkan kapas yang tadi digunakan saat Kenzie bernyanyi. Ezra dan Aric langsung tergelak, bahkan Fathan yang pendiam pun sampai menyunggingkan senyumnya.


“Seandainya gue punya remote universal. Pengen rasanya pas part si Ken nyanyi, gue mute suaranya,” timpal Ravin.


Karuan saja gelak tawa kembali terdengar. Kenzie menatap ke arah sahabatnya dengan mata lasernya. Dirinya yakin pasti para sahabat durjananya tengah membicarakan suara sembernya.


“Kenzie tuh bener-bener mirip kamu ya mas. Dari sikap dinginnya, juteknya, mulut bon cabenya sampe suara sembernya pas nyanyi nurun juga ke dia,” Nina terkikik setelah mengatakannya.


“Jangan salah, suara sembernya itu pesona terbaiknya. Buktinya kamu klepek-klepek sama suaraku kan,” Abi mengedipkan matanya. Nina hanya memutar bola matanya saja. Kenarsisan suaminya tak berkurang sedikit pun walau usia sudah bertambah.


Acara hiburan kembali berlanjut. Kini mereka dihibur oleh duet si kembar Ezra dan Azra. Suara merdu mereka langsung menyapa indra pendengaran semua yang ada di ruangan ketika mereka membawakan lagu yang tak lekang dimakan waktu, Endless Love. Abi memeluk Nina dari belakang. Kepala sang istri menyandar di dada bidangnya. Keduanya menikmati lagu yang diperuntukkan khusus untuk mereka.


Usai hiburan lagu, acara disambung dengan permainan yang mereka namakan Dance with Baloon. Setiap pasangan diminta berdansa dengan balon di tengah kening mereka. Para peserta harus menjaga balon tak jatuh selama berdansa. Aric memanggil kelompok pertama yang terdiri dari Abi, Juna, Cakra, Kevin dan Jojo bersama pasangannya masing-masing. Kelimanya bersiap untuk dansa dengan balon di antara mereka.


Freya mulai memutar musik. Kelima pasangan itu, mulai berdansa. Tidak ada kesulitan untuk Abi, Juna dan Cakra karena pasangan mereka memiliki tinggi yang tak terlalu jauh dari mereka. Berbeda dengan Kevin dan Jojo. Rindu dan Adinda yang memiliki tubuh mungil tentu saja kesulitan untuk mengimbangi suami mereka.


Jojo memilih menggendong Adinda agar tinggi badan mereka sejajar. Awalnya biasa saja, namun lama kelamaan pria itu merasa bebannya semakin berat. Apalagi sambil menggendong, dia juga harus berdansa. Tak sadar dengan usia yang mendekati angka 50, Jojo terus bergerak. Namun akhirnya dia tak bisa menahan keseimbangan dan terjatuh. Sialnya mereka menabrak Juna, hingga membuat balon mereka lepas.


“Ayah sama om Jojo, keluar permainan,” seru Aric.


Juna menoyor kepala Jojo, namun pria itu malah terpingkal. Nampak sekali dia tak merasa bersalah sama sekali telah menyebabkan Juna dan Nadia keluar dari permainan. Kini hanya tinggal tiga pasangan yang masih berdansa. Kevin sedari tadi berdiri dengan menundukkan tubuhnya agar kening mereka bisa sejajar. Lagi-lagi faktor usia berbicara. Pinggangnya terasa kaku juga terus menerus harus berada dalam posisi membungkuk. Akhirnya pria itu menyerah, dia menegakkan tubuhnya seraya memegangi pinggangnya.


“Kambuh kan encok lo hahaha,” ledek Abi. Namun karena terlalu kencang tertawa, balon yang sedari tadi diapitnya bersama Nina terjatuh. Dengan kesal Nina mencubit pinggang suaminya.


“Papa sama om Kevin gugur. Go papi.. go mami..”


Teriak Aric memberi semangat pada kedua orang tuanya. Pasangan tersebut, meneruskan dansanya sampai lagu berakhir. Sudah dipastikan keduanya menjadi pemenang. Aric kemudian memanggil kelompok kedua untuk maju. Anfa, Gurit, Radix, Darian dan Fadil bersama pasangannya masing-masing bersiap tampil.

__ADS_1


Irama lagu mulai mengalun, kelima pasangan tersebut mulai bergerak. Sampai pertengahan lagu, keadaan masih sama-sama kuat. Sepertinya sulit sekali mendapatkan pemenang di kelompok ini. Hampir mendekati akhir lagu, tanpa sengaja Gurit menginjak kaki Syakira.


“Aduuuhhh.. papiiihhhh syakiiittthhh iiihhhhh.”


“Maaf mami.”


Fadil yang memang posisinya berada di sebelah Gurit terkejut mendengar suara Syakira yang men**sah, maklum saja, ini pertama kalinya dia mendengar wanita itu berbicara. Sontak dia mengarahkan kepalanya ke arah Syakira. Pergerakannya yang tanpa aba-aba tentu saja mengejutkan sang istri. Tak siap dengan gerakan kepala Fadil, balon di kening mereka pun terjatuh.


“Yah jatoh,” seru Fadil.


“Iya jatoh gara-gara akang yang ngga fokus denger suara men**sah. Ngga cukup apa denger aku men**sah tiap malem.”


“Maaf Yang, maaf..”


“Om Fadil gugur,” seru Aric.


Dengan kesal, istri Fadil menarik telinga suaminya beranjak menjauh dari arena permainan. Kini hanya tersisa empat pasang peserta. Tersisa satu menit lagi hingga lagu berakhir. Anfa terus berdansa mengikuti irama lagu. Saking semangatnya, tanpa sadar dia bergerak semakin mendekat ke arah sofa. Hanna memperingatkan sang ayah, namun terlambat, Anfa terantuk kaki sofa, membuatnya kehilangan keseimbangan dan terjatuh.


Rayi yang tak siap ikut terjatuh. Terdorong tubuh Rayi, Anfa tak bisa menahan tubuhnya yang terhuyung ke belakang. Kepalanya menyundul bokong Radix, membuat pria itu juga kehilangan keseimbangannya. Nayla terkejut melihat tubuh suaminya limbung, dalam hitungan detik Radix jatuh di atasnya. Tangan Radix bergerak cepat menghalangi kepala Nayla agar tak membentur lantai.


Tangan Radix mengenai tungkai kaki Darian. Hampir saja pria itu jatuh terduduk di atas kepala Nayla, beruntung Radix kembali bergerak cepat dengan mendorong tubuh Darian hingga menabrak istrinya. Darian berhasil menahan tubuhnya agar tak jatuh dan sebelah tangannya menahan punggung sang istri. Namun kepala istri Darian menyundul punggung Syakira, hingga wanita itu menabrak suaminya hingga jatuh terjengkang.


Tawa semua orang langsung pecah melihat kejadian tabrakan beruntun. Aric tak bisa mengatakan apa-apa. Pemuda itu hanya tertawa sambil memegangi perutnya. Tak ada pemenang pada kelompok ini. Gurit dan Radix bergantian menoyor kepala Anfa, penyebab tabrakan beruntun.


“Hahaha.. sorry-sorry.. gue ngga sengaja tadi.”


“Gila lo, mau taro di mana muke gue,” sewot Gurit.


“Ya taro di depanlah, masa di belakang hahaha,” timpal Radix.


“Au lebay lo.. kita semua juga jatoh,” sahut Anfa.


“Lah elo jatohnya masih aman. Nah gue, kepala gue tuh jatoh di bawah kaki si toa masjid. Tengsin gue kalo disangka ngintip dal*man dia.”


“Emang keliatan?” Anfa penasaran.


“Keliatanlah, kan dia pake dress selutut.”


“Apa warnanya?” desak Radix.


“Hitam kayanya.”


“Huahahahaha.. sempet-sempetnya lo lihat dasar kadal buluk.”


Anfa dan Radix tak bisa menahan tawanya mendengar ucapan Gurit. Namun kemudian tawa mereka terhenti saat melihat Syakira tengah menatap horor ke arah mereka. Secepat kilat keduanya kabur meninggalkan Gurit.


Usai permainan, tak ada acara lagi. Mereka memilih berbincang santai sesuai dengan habitatnya masing-masing. Anak-anak memilih berkumpul di halaman belakang. Mereka berkumpul bersama, membicarakan jalannya permainan tadi. Mereka tak berhenti tertawa mengingat insiden tabrakan beruntun yang terjadi saat permainan berlangsung.


Lilis yang belum mengenal semua yang hadir, memutuskan bergabung dengan Kenzie dan yang lainnya. Dia melangkah menuju halaman belakang. Karena tak hati-hati, sepatunya mengenai genangan air di lantai. Lilis terpeleset dan kehilangan keseimbangan. Beruntung sebuah tangan kekar menahan punggungnya hingga tubuhnya tak sampai jatuh ke lantai.


“I.. Iya.”


Untuk beberapa saat kedua orang itu masih bertahan dengan posisi masing-masing. Mata keduanya bertemu dan saling mengunci. Lilis memandangi wajah di atasnya, pria yang sudah cukup matang, wajahnya cukup tampan, bulu-bulu halus yang memenuhi rahangnya membuat penampilannya semakin mempesona. Tanpa permisi jantung Lilis langsung berdebam-debum.


“Cie.. tante Lilis sama om Dendi...” terdengar suara Kenan, Alisha, Haikal, Dilara dan Revan.


Terkejut dengan ledekan para bocil, Dendi refleks melepaskan pegangannya dari tubuh Lilis. Tak ayal wanita itu jatuh ke lantai.


“Aduh..”


“Maaf.. maaf..”


Dendi mengulurkan tangannya. Lilis menyambut uluran tangan Dendi. Pria itu segera menarik tubuh Lilis.


“Maaf.. sekali lagi maaf.”


“Iya ngga apa-apa.”


Lagi keduanya hanya terdiam dan saling menatap. Sama seperti halnya Lilis, jantung Dendi pun berdetak tak karuan. Setelah perceraiannya dengan sang istri, ini pertama kalinya pria itu merasakan kembali debaran di dadanya saat bertatapan dengan seorang perempuan.


“EHEM!!!”


Adegan tatap menatap langsung buyar ketika mendengar deheman kencang Abi. Lilis bergegas pergi, wajahnya sudah seperti kepiting rebus saja. Wanita itu melanjutkan langkahnya menuju kumpulan para bocah.


“Cie.. tante Lilis... ada setrum ya di mata om Dendi, tan,” Kenan menaik turunkan alisnya.


“Ng.. ngga kok. Udah jangan dibahas. Nanti istrinya marah, bahaya.”


“Mana ada tan. Om Dendi itu duda,” sahut Aric.


“Iya tan, hot duda,” lanjut Azra sambil terkikik.


“Masa?”


Lilis melihat ke arah Dendi yang masih berada di tempatnya tadi. Nampak pria itu tengah berbicara dengan Abi. Tanpa disadari, senyuman tipis menghiasi wajahnya. Sepertinya Lilis sudah kepincut oleh pesona Dendi.


“Gimana Lilis?”


“Apanya pak?”


“Pekerjaannya.”


“Baik pak. Dia rajin dan mudah bergaul jadi banyak yang menyukainya.”


Abi mengangguk-anggukkan kepalanya. Seperti janjinya, Abi membelikan rumah untuk Sutisna dan mencarikan pekerjaan untuk Lilis di kantornya. Sesuai dengan keahliannya, Lilis dipekerjakan di EDR (Employee Dining Room). Dia membantu koki utama menyiapkan makan siang untuk para pegawainya.

__ADS_1


“Kamu belum ada niatan menikah lagi?”


“Belum pak.”


“Kenapa?”


“Mana ada perempuan yang mau sama laki-laki mandul seperti saya.”


“Kata siapa kamu mandul? Emangnya kamu sudah periksa ke dokter?”


“Tapi mantan istri saya sekarang sudah punya anak. Berarti masalah ada di saya.”


“Belum tentu juga. Siapa tahu Allah memang ngga memberi kalian keturunan karena jodoh kalian ngga panjang. Mungkin saja kamu akan memperoleh anak dari jodoh yang baru, perempuan yang memang menjadi jodoh hidupmu, bukan jodoh sementara. Coba dekati Lilis, dia perempuan yang baik. Siapa tahu, dia itu jodohmu yang sebenarnya.”


Abi menepuk pundak Dendi kemudian berlalu meninggalkannya. Dendi terdiam merenungi ucapan atasannya itu. Kemudian pandangannya beralih ke arah Lilis yang tengah tertawa. Kembali desiran aneh dirasakannya. Dengan langkah pelan, Dendi mendekati Lilis. Sepertinya usulan Abi patut dicoba. Mungkin sudah waktunya dia mengakhiri kesendiriannya.


Sementara itu, Abi terus melangkah menuju teras rumah. Di sana keempat sahabatnya tengah berkumpul. Telinganya menangkap suara tawa mereka. Walau pun sudah tak muda lagi, namun selera humor mereka tak lekang dimakan usia. Abi langsung bergabung bersama mereka.


“Bi.. lo udah denger kabar terbaru soal Anwar?” tanya Cakra.


“Belum. Emang kenapa?”


“Katanya sekarang kerjaannya jadi driver online.”


“Masa?”


“Iya. Semenjak ditendang kak Juna dari perusahaan, dia juga diblack list dari semua perusahaan. Akhirnya cuma jadi driver online aja.”


“Ngga nyangka ya, ternyata kak Juna bisa sadis juga,” timpal Jojo.


“Coba kalo elo, Bi. Kira-kira lo apain tuh orang.”


“Yang pasti gue ngga akan sesadis kak Juna. Paling gue kirim aja dia ke pulau Rinca buat ngangon komodo.”


“Hahahaha.. elo tuh kebiasaan ngirim orang ke pulau. Sendirinya berasa kan terdampar di pulau kecil,” ledek Jojo.


“Bukan terdampar, gue lagi piknik.”


“Ngeles aja lo kaya bajaj.”


“Yang aneh tuh kalian. Dikasih peralatan canggih ngga ada gunanya sama sekali. Gue sampe nunggu empat hari.”


Abi menggeleng-gelengkan kepalanya. Yang lain hanya terkekeh saja, memang benar kalau mereka sama sekali tak ingat akan jam tangan yang diberikan oleh Abi. Bahkan baru Jojo yang membuka aplikasi tersebut.


“Emang jam itu buat apa sih?” celetuk Kevin.


“Serius lo ngga tahu?” tanya Abi.


“Ngga. Dari lo kasih, tuh jam masih gue simpen di dalem lemari.”


“Ya salam,” Abi menepuk keningnya.


“Namanya juga kulkas dua pintu. Mana peduli dia sama urusan begituan,” sambar Jojo.


“Pola pikirnya masih analog dia, belum digital,” ledek Cakra.


“Banyak bacot. Lo juga sama aja kaya dia.”


“Hahaha..”


Tawa mereka kembali terdengar kecuali Kevin. Pria itu melipat kedua tangannya di dada sambil otaknya berpikir keras, apa sebenarnya fungsi jam yang diberikan Abi padanya.


Agung yang tengah berbincang santai dengan Beno memperhatikan kelima orang tersebut. Hatinya lega melihat mereka kembali berkumpul dan bercengkerama seperti biasanya.


Agung yang dulu hanya seorang preman pasar, berubah kehidupannya setelah bertemu dengan Abi. pria itu mengajaknya bergabung di tim keamanan keluarga Hikmat. Di sana juga dia bertemu dengan Beno. Pria tersebut juga mendapatkan kesempatan hidup yang lebih baik lagi setelah bertemu dengan Abi.


Begitu pula Dendi, Abi membebaskan Dendi dari tuduhan pembunuhan yang tidak dilakukannya. Lalu mengajaknya bergabung di tim keamanan. Kehidupan ketiga orang itu berubah lewat tangan dingin Abi.


Baik Agung, Beno dan Dendi sama-sama bertekad mendedikasikan hidupnya untuk keluarga Hikmat dan menjaga mereka dari mara bahaya yang mengancam. Nilai-nilai kebaikan yang ditanamkan Teddy dan Rahma pada anak-anaknya mempertemukan mereka pada orang-orang baik dan juga loyal pada keluarga mereka. Karena mereka percaya kebaikan pada akhirnya akan membuahkan kebaikan pula. Seperti janji Allah yang akan membalas kebaikan hamba-Nya walau hanya sekecil biji zarrah.


☘️☘️☘️


**Mulai besok, kita udah masuk ke kehidupan anak²nya. Yang penasaran sama kisah Kenzie, Freya, Kenan dan lain², jangan unfav dulu ya. Kira² siapa ya jodoh mereka🤔


Ini terakhir kalinya mamake kasih visual lima sekawan plus nama aslinya.


Brant Daugherty as Abi**



Marc Becher as Juna



Juan Betancourt as Kevin



Alessio Pozzi as Jojo



Cole Sprouse as Cakra


__ADS_1


__ADS_2