
Nina melangkah memasuki gedung panti. Sesuai janjinya pada Lidya, hari ini dia akan bertemu dengan wanita yang telah mengasuhnya sejak kecil. Nina langsung menuju ruang kerja Lidya. Wanita paruh baya itu ternyata telah menunggu kedatangannya. Nina mencium punggung tangan Lidya kemudian duduk di sampingnya. Sekilas matanya menatap kotak berwarna coklat yang ada di atas meja.
“Terima kasih ya Nina, sudah menyempatkan diri datang ke sini.”
“Iya bu. Ada apa? Kayanya penting banget.”
“Iya Nin. Sebenarnya tiga tahun lalu ibu ketitipan amanat. Ibu harus memberikan barang-barang yang ada di kotak itu pada seseorang. Tapi ketika ibu mendatangi alamat rumah yang tertera, ternyata orangnya sudah pindah. Kemarin ibu melihat seorang pria yang mirip dengan perempuan yang menitipkan kotak ini pada ibu. Ibu melihatnya sedang berbicara dengan Cakra. Tapi hp Cakra tidak bisa dihubungi, makanya ibu menghubungimu. Siapa tahu kamu mengenalnya.”
“Siapa bu?”
“Namanya Jojo.”
“Jojo?” Nina terkejut.
Lidya mengambil kotak di atas meja lalu membukanya. Dia mengeluarkan sebuah foto Anka lalu memberikannya pada Nina. Melihat wajah perempuan yang begitu mirip dengan Jojo, Nina yakin kalau perempuan di dalam foto adalah Anka.
“Ini Anka kan bu?”
“Kamu mengenalnya?”
“Ngga bu. Anka itu adik kembarnya Jojo, sahabatnya mas Abi.”
“Oh syukurlah kalau begitu. Ibu lega, akhirnya amanat yang selama ini membebani ibu bisa tersampaikan juga.”
“Ibu kenal Anka?”
Lidya menganggukkan kepalanya. Kemudian wanita itu menceritakan awal pertemuannya dengan Anka. Nina mendengarkan cerita Lidya dengan seksama. Sungguh dunia itu ternyata sempit. Tanpa sadar kita terkoneksi satu sama lain. Siapa yang mengira kalau selama ini ibu Lidya menyimpan barang peninggalan Anka untuk Jojo.
Nina memandangi foto Anka. Jika dirinya masih tinggal di panti saat itu, mungkin saja dia bisa bertemu dengan Anka. Nina memperhatikan kaset video serta usb yang ada di dalam kotak. Dia sungguh berharap di dalam sini berisi bukti yang dapat membuktikan kalau suaminya tidak bersalah.
“Tapi kenapa Anka minta barang ini diberikan satu tahun kemudian?”
“Ibu juga ngga tahu Nin. Mungkin ada sesuatu yang direncanakannya, makanya dia memilih waktu itu.”
“Bu, apa aku boleh membawa ini? Saat ini sedang ada kesalahpahaman antara mas Abi dengan Jojo, dan semuanya berkaitan dengan Anka. Siapa tahu isi kotak ini adalah jawaban dari semua kesalahpahaman yang terjadi.”
“Iya Nina, bawa saja. Tapi pastikan kalau Jojo menerimanya. Karena ini amanat yang dititipkan Anka pada ibu.”
“Iya bu. Kalau begitu aku pamit.”
“Iya. Semoga semua kesalahpahaman bisa segera terselesaikan.”
“Aamiin.”
Nina mencium punggung tangan Lidya, kemudian segera meninggalkan panti asuhan. Anak buah Agung yang ditugaskan menjaga Nina segera membukakan pintu mobil untuknya.
“Sekarang kita kemana mba?”
“Ke kantor mas Abi.”
Pengawal yang bernama Ihsan itu hanya mengangguk kemudian segera menjalankan kendaraannya. Selama dalam perjalanan, mata Nina tak lepas memandang kotak di tangan. Rasa keingintahuannya begitu besar akan isi dari barang yang ditinggalkan Anka.
☘️☘️☘️
Abi nampak termenung di belakang meja kerjanya. Baik dirinya, Cakra maupun Juna masih belum bisa menemukan petunjuk siapa pelaku yang telah memperkosa Anka. Kemarin dia mendapatkan berita mengejutkan dari Sekar, kalau ada seseorang yang berusaha mencelakai adiknya itu. Beruntung Jojo datang tepat waktu untuk menyelamatkannya. Saat ini Cakra sedang memburu orang yang telah berusaha mencelakai calon istrinya.
Abi berdiri lalu berjalan menuju kaca jendela besar di belakang meja kerjanya. Matanya menatap ke bawah, di mana terlihat lalu lalang kendaraan dan pejalan kaki. Terdengar helaan nafas panjangnya.
Harus bagaimana aku membuktikan padamu Jo, kalau bukan aku yang memperkosa Anka.
Perhatian Abi teralihkan ketika mendengar suara ponselnya. Diambilnya ponsel yang ada di atas meja. Sebuah nomor tak dikenal baru saja mengirimkan video padanya. Jari Abi bergerak mengetuk video yang baru diterimanya. Matanya membulat melihat tayangan video tersebut. Dengan cepat dia menghubungi nomor pengirim. Tak butuh waktu lama, terdengar seseorang menjawab panggilan. Suara seorang pria yang begitu dikenalnya.
“Bagaimana? Suka dengan tayangan videonya?”
“Brengsek! Jangan macem-macem Jo. Dia ngga ada hubungannya dengan kita! Lepasin gadis itu!!”
“Ck.. ck.. ck.. segitu pedulinya lo sama dia.”
__ADS_1
“Jangan jadi pengecut. Kalau emang lo dendam sama gue, hadapi gue langsung!!!”
“Gue tunggu lo sekarang!!”
“Kirim lokasinya. Kita ketemu sekarang juga!!”
Jojo memutuskan panggilan. Tak lama masuk pesan berisi lokasi di mana dirinya berada. Abi menyambar kunci mobil kemudian bergegas keluar dari kantor.
☘️☘️☘️
Nina mengeluarkan tablet dari dalam tasnya. Dia sudah tak bisa menahan diri lagi untuk mengetahui isi dari usb yang ditinggalkan Anka. Nina menyambungkan USB ke tablet. Hanya ada satu file suara di sana. Nina mengeluarkan earphone lalu menempelkannya ke telinga.
Dengan dada berdebar Nina menekan tombol play. Seketika terdengar suara seorang perempuan yang diyakini adalah suara Anka. Nyonya Abimanyu itu terkejut mendengar semua penuturan Anka.
Saat masih mendengarkan isi rekaman, dia dikejutkan dengan deringan ponselnya. Nina mematikan rekaman kemudian segera menjawab panggilan yang berasal dari sang adik, Anfa.
“Halo Fa.”
“Kak.. gawat, kak Abi ketemuan sama Jojo.”
“Apa??!! Di mana?”
“Sebentar kak, aku kirim lokasinya.”
Anfa memutuskan hubungan lalu mengirimkan lokasi di mana Abi dan Jojo berada. Nina langsung memberitahukan pada Ihsan kemana mereka harus pergi. Kemudian dia segera menghubungi Juna. Perasaannya tak tenang saat mendengar Abi menemui Jojo seorang diri. Dia takut terjadi sesuatu pada suaminya.
“Halo Nin.”
“Halo kak. Kak, tolong susul mas Abi. Sekarang mas Abi sedang bertemu dengan Jojo. Aku takut terjadi sesuatu.”
“Kirim lokasinya.”
“Iya kak.”
Dengan tangan bergetar, Nina mengirimkan lokasi yang tadi dikirimkan Anfa. Nina juga menghubungi Cakra. Ternyata pria itu juga tengah menuju ke tempat pertemuan Abi dan Jojo.
☘️☘️☘️
Abi turun dari mobil kemudian masuk ke lokasi bangunan melalui celah pintu seng yang menutupi lokasi proyek yang tidak dilanjutkan pembangunannya. Dia segera masuk ke dalam bangunan berlantai sepuluh. Bangunan baru rampung sebagian saja, bahkan belum tertutup dinding.
Abi menapaki tangga menuju lantai teratas bangunan ini. Nafasnya sedikit tersengal ketika dia tiba di rooftop. Jojo tersenyum sinis menyambut kedatangannya. Abi berjalan mendekat pada Jojo kemudian berhenti beberapa meter di depan sahabatnya itu.
“Mana Rayi?”
“Wow sabar. Kita olahraga dulu, gimana?”
Jojo melepaskan jaket yang membalut tubuhnya ke sembarang arah. Dia lalu mulai memasang kuda-kuda. Kedua tangannya mengepal, bersiap adu jotos dengan sahabatnya itu. Abi menggulung lengan kemejanya sampai ke siku kemudian bersiap menghadapi Jojo.
Jojo merangsek maju kemudian melayangkan pukulannya. Abi mengelak seraya melepaskan pukulan, kepalan tangannya sukses mengenai rahang Jojo. Jojo mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah kemudian kembali merangsek maju. Kali ini dia sukses melayangkan tendangannya ke arah perut Abi, membuat pria itu terpukul mundur beberapa langkah ke belakang.
Abi membersihkan kemeja yang terkena tendangan Jojo lalu menggerakkan kedua jarinya, meminta Jojo menyerangnya lagi. Jual beli pukulan kembali terjadi. Kedua sahabat yang dulunya kerap berlatih bela diri bersama, kini harus berhadapan hanya karena kesalahpahaman.
Tubuh Jojo terhempas ketika sebuah tendangan Abi menghantam perutnya. Dia terbatuk beberapa kali seraya memegangi perutnya. Belum sempat berdiri, Abi sudah mendekat kemudian melayangkan pukulan bertubi-tubi ke arah Jojo. Abi menduduki tubuh Jojo yang terkapar di lantai. Baru saja tangannya akan menghantam wajah sahabatnya itu, sebuah suara menghentikannya.
“BERHENTI!!!”
Abi menghentikan gerakan tangannya. Matanya menatap seorang pria tengah menodongkan pistol ke arah Rayi. Abi bangun lalu menjauh dari Jojo. Lelaki itu terus menyeret Rayi, tangan gadis itu terikat dan mulutnya tertutup lakban. Jojo bangun kemudian mengambil pistol yang dipegang anak buahnya.
“Jo.. lepasin dia. Dia ngga ada hubungannya sama kita!!”
“Oh jelas ada. Dia itu pacarnya Anfa. Anfa adalah adik dari Nina, istri tercintamu. Bayangkan kalau gue tembak kepalanya, apa yang terjadi pada Anfa juga Nina? Jangan lupakan keluarganya, pasti keluarganya bakal nyalahin elo sebagai penyebab kematian anaknya.”
“Pengecut lo, Jo!! Lepasin!!”
“Tenang aja, gue bakal lepasin dia. Asal lo lakuin sesuatu.”
“Apa mau lo?”
__ADS_1
Jojo melihat ke arah anak buahnya. Pria berambut gondrong itu mengeluarkan pisau cutter dari saku jaketnya lalu melemparkan ke arah Abi. Pisau itu mendarat tepat di bawah kaki Abi.
“Ambil pisau itu, cepat!!!”
Jojo menempelkan pistol ke pelipis Rayi. Abi membungkuk untuk mengambil pisau di bawahnya. Jojo menyeringai ke arah sahabatnya.
“Kalo lo mau selamatin nyawanya, iris pergelangan tangan lo. Lo harus mati dengan cara yang sama seperti Anka.”
“Eeemmmhhh... eeemmmmhhh...”
Rayi menggeram sambil menggelengkan kepalanya dengan kencang. Airmatanya deras bercucuran. Melihat tawanannya tak mau berhenti bergerak serta terus menggeram, Jojo mengalihkan perhatiannya pada Rayi.
“Kamu ingin mengatakan sesuatu?”
Rayi menganggukkan kepalanya kencang. Matanya menatap penuh harap pada Jojo. Pria itu lalu menarik lakban yang menutup mulut Rayi. Gadis itu meringis kesakitan saat Jojo membuka lakban dengan kasar.
“Kak Abi.. jangan ikuti kemauannya. Dia laki-laki gila!”
“Beraninya kamu menghinaku,” Jojo menekan pelipis Rayi dengan pistol di tangannya.
“Jangan sakiti dia!!!”
“Ho..ho..ho.. ternyata lo peduli juga sama nih anak.”
“Maafin aku kak Abi. Aku mohon jangan turuti kemauannya. Dia cuma seorang pengecut yang ngga berani menghadapimu secara langsung. Jangan turuti kemauannya!!”
“Kamu pikir aku ngga berani meledakkan kepalamu hah??!!”
“Lakukan saja kalau kamu berani!! Menghadapi seorang Abimanyu saja kamu membutuhkanku sebagai tameng. Aku yakin sekali kalau kamu ngga berani menarik pelatuk itu karena kamu pengecut!!!”
“Brengsek!!” Jojo menarik hammer dengan ibu jarinya, telunjuknya siap menekan pelatuk.
“Berhenti Jo!!! Rayi.. jangan memprovokasinya.”
“Kalau begitu cepat lakukan!!”
Abi memandangi pisau di tangannya. Perlahan dia mengeluarkan cutter dari dalamnya. Rayi menatap Abi dengan airmata berderai.
“Hentikan Jo!!!”
Cakra, Anfa juga Juna datang bersamaan. Anfa berusaha maju saat melihat Rayi berada dalam tawanan Jojo.
DORR!!!
Jojo menembakkan senjatanya ke udara lalu kembali mengarahkannya ke pelipis Rayi. Aksi Jojo membuat Cakra, Juna juga Anfa terdiam di tempatnya. Jojo kembali mengalihkan pandangannya ke arah Abi.
“Cepat iris pergelangan tangan lo kalau mau melihat perempuan ini selamat.”
“Bi, jangan Bi,” pinta Juna. Cakra dan Anfa juga menggelengkan kepalanya. Melihat itu, Jojo kembali menarik hammer lalu menekankan pistol ke pelipis Rayi.
“Cepat!!!”
“Ok.. kalau emang kematian gue bisa membuat lo tenang, gue turutin apa mau lo. Anggap aja ini sebagai ucapan terima kasih gue karena elo udah nyelamatin nyawa Sekar kemarin.”
Abi menggenggam erat pisau cutter di tangannya, perlahan dia mengarahkan pisau ke pergelangan tangannya. Semua yang ada di sana menahan nafasnya, tak terkecuali Jojo.
☘️☘️☘️
😱😱😱
**Terus gimana????
Bentar ya, paksu manggil, coming honey🏃🏃🏃
Buat yang nebak Rayi, selamat berarti kalian jeli ya pas baca cerita, kalian luar biasa👍😉
Nih mamake kasih visual dua Cogan yang lagi berseteru**
__ADS_1