
“Ada apa ini?”
Semua langsung menolehkan kepala Abi. Wajah Sandi langsung berubah tegang melihat kemunculan Abi. Berbeda dengan Risma yang hanya terpaku melihat pria yang masih terlihat tampan di usianya yang sudah setengah abad. Melihat kemiripan dengan Kenan, dia bisa langsung menebak kalau Abi adalah ayah dari pemuda itu.
Ini pasti papanya Kenan. Ganteng juga, tapi kok gayanya perlente gini, ngga kaya penjaga toilet.
“Mama kok baru datang sih?” Kenan menghampiri Nina kemudian memeluknya dari samping. Namun tak berlangsung lama karena terkena jeweran Abi.
“Yaelah pa, peluk bentar doang,” protes Kenan.
“Tuh udah ada Zahra, jangan dekat-dekat sama istri papa.”
Kenan berdecak sebal, setelah dirinya dan juga Kenzie beranjak dewasa, Abi tak jarang menghalangi kedua anaknya bermanja pada Nina. Abi segera menarik Nina ke dekatnya. Mata Risma terus memperhatikan Abi dan Nina, jujur saja, wanita itu terpesona dengan ketampanan dan kharisma Abi.
“Pak Sandi, kebetulan sekali bertemu di sini,” sapa Abi.
“Eh i.. iya pak Abi.”
“Bapak, papanya Kenan ya,” sela Risma.
“Iya. Ibu kenal dengan anak saya?”
“Ya kenal, pak. Anak bapak itu kan ngejar-ngejar anak suami saya.”
“Lalu?”
“Zahra sudah ada jodohnya.”
“Oh ya? Siapa? Apa jodohnya Zahra sepadan dengan anakku?” Nina mulai tersulut emosi melihat sikap angkuh Risma.
“Oh ya jelas. Punya pekerjaan bagus, orang tuanya juga pengusaha mapan. Bukan kalian yang cuma penjaga toilet umum dan perawat ayam.”
Sontak Nina menoleh ke arah Kenan. Melihat tatapan tajam sang mama, Kenan langsung bersembunyi di belakang punggung Abi. Tamat sudah riwayatnya, sudah bisa dipastikan sesampainya di rumah nanti, hukuman akan diterimanya.
“Ma.. jangan begitu. Pak Abi, tolong maafkan istri saya,” ujar Sandi dengan wajah mulai memucat.
“Kenapa sih, pa? Kaya ketakutan gitu?” kesal Risma.
“Ehem.. ma.. perkenalkan ini pak Abimanyu Hikmat, dan istrinya. Pak Abi, ini Risma, istri saya.”
Sandi langsung membuka identitas Abi pada istrinya. Risma seperti tersambar geledek mendengarnya. Lututnya langsung terasa lemas, kalau saja Sandi tak menahannya, mungkin dia sudah jatuh terduduk di lantai.
“Zahra.. apa dia papamu?” tanya Abi pada Zahra.
“Iya, pa.”
Kondisi Sandi dan Risma semakin lemas begitu mendengar panggilan Zahra pada Abi. Keangkuhan dan kesombongan Risma menguap begitu saja ketika tahu orang yang di hadapannya adalah salah satu keluarga konglomerat yang ada di Indonesia.
“Ayo.. silahkan masuk.”
Abi mempersilahkan Sandi dan Risma beserta kedua anaknya untuk masuk ke dalam restoran. Seorang pelayan langsung memandu mereka memasuki ruangan VVIP yang sudah disiapkan. Berbagai aneka hidangan sudah tertata di atas meja begitu mereka masuk ke dalam ruangan tersebut. Abi dan Nina sengaja mengambil posisi berhadapan dengan Sandi dan Risma.
“Jadi, pak Sandi ini ayahnya Zahra?” tanya Nina.
“Iya, bu.”
“Bapak punya istri dua?”
“Eh bu.. bukan bu.”
“Saya istrinya, kalau dia cuma mantan,” Risma menunjuk pada Nita. Dia cukup kesal dengan pertanyaan Nina barusan.
“Oh.. jadi pak Sandi bercerai dengan bu Nita lalu menikah dengan bu Risma?”
“Iya, bu.”
“Menikahnya setelah lama bercerai atau bercerai karena ingin menikah dengan bu Risma?”
JLEB
Perkataan Nina langsung menancap dalam sanubari Sandi. Nita menundukkan pandangannya, berusaha menyembunyikan senyumnya. Tanpa dia bercerita, pasti Nina sudah tahu perihal kehidupannya. Mungkin saja Zahra yang mengatakannya. Mata Risma membulat mendengarnya. Ingin rasanya dia menyanggah perkataan wanita itu, namun benar adanya.
“Aduh maaf ya, kok saya jadi kepo. Tapi wajar kan kalau saya ingin tahu siapa keluarga dari calon anak saya. Seperti kalian yang banyak bertanya pada anak saya tentang kami. Maafkan kalau dia membohongi bapak dan ibu tentang kami. Mungkin dia hanya ingin tahu apa orang tua Zahra menerimanya karena kepribadiannya atau sesuatu yang dimilikinya.”
Sandi semakin tidak berkutik mendengar penuturan Nina. Lagi-lagi dia tidak bisa menelan dan mencerna makanan dengan baik. Apalagi tatapan Abi juga begitu tajam padanya dan Risma. Aura makan malam ini terasa begitu menyeramkan. Aura gelapnya bertambah dua kali lipat dibanding acara makan siang tempo hari.
“Nan… apa kamu yakin Zahra adalah pilihan terakhirmu?” Nina melihat ke arah sang anak.
“In Syaa Allah, ma.”
“Ok, kalau itu sudah keputusanmu, mama dan papa akan mendukung. Bagaimana dengan bapak dan ibu Sandi?”
“Ka.. kami setuju, bu.”
“Benarkah? Apa kalian tidak menyesal berbesan dengan seorang penjaga toilet umum dan perawat ayam?” Nina melihat ke arah Kenan. Anaknya itu hanya melemparkan cengiran khasnya. Diliriknya Abi yang sama sekali tak menunjukkan eskpresi apapun.
“Kalau Zahra memang memilih Kenan, saya selaku ayahnya pasti akan mendukung dan merestui.”
Zahra berdecih dalam hati mendengar jawaban sang ayah yang bertolak belakang dengan sikapnya saat pertama bertemu dengan Kenan. Mengetahui Kenan ternyata anak dari keluarga konglomerat, ucapan restu pun meluncur dengan cepatnya.
“Tapi aku nikahnya ngga dalam waktu dekat, ma. Pertama, aku sama Zahra masih kuliah. Kedua, kan syaratnya papa Zahra, aku harus punya rumah dulu atas nama Zahra.”
“Papa yang belikan untuk kamu sebagai hadiah pernikahan,” sambar Abi.
Sandi semakin dibuat terpojok dan mati kutu. Pria itu semakin tak enak diam, begitu pula dengan Risma. Kalau dua orang di depannya tahu apa saja yang dikatakan pada anaknya, entah apa yang akan dilakukan padanya.
“Kalau begitu, bagaimana kalau kalian bertunangan dulu?” usul Nina.
“Bagaimana bu Nita?” Nina melihat pada calon besannya itu.
“Saya mengikuti keinganan ibu Nina dan pak Abi saja. Zahra, apa kamu setuju?”
“Iya, ma.”
“Baiklah. Kalau begitu kita tinggal membicarakan kapan tanggal pertunangannya.”
“Bagaimana kalau…”
“Saya tidak meminta pendapat bu Risma. Bu Nita adalah ibu dari Zahra, jadi saya hanya ingin mendengar pendapat darinya saja. Tolong bu Risma tidak ikut campur dulu. Dan tolong jaga pandangan anda, jangan terus melihat pada suami saya.”
Seperti mendapat tembakan beruntun, Risma langsung mati kutu. Rupanya Nina memperhatikan saat dirinya sedari tadi terus mencuri pandang pada Abi. Ketampanan Abi membuat matanya tak bisa dikompromi dan terus melirik ke arahnya.
Ingin rasanya Zahra terbahak melihat ekspresi Risma. Puas rasanya melihat ibu tiri yang selama ini selalu bersikap semena-mena pada Silva dibuat mati kutu oleh calon mertuanya. Tak berbeda jauh dengan Zahra, Nita pun merasakan hal yang sama.
“Pertunangannya minggu depan saja, bagaimana?” usul Abi.
__ADS_1
“Kalau saya pribadi, setuju-setuju saja, pak,” sahut Nita.
“Pak Sandi?”
“Saya ikut bagaimana baiknya saja.”
“Kalian tidak perlu repot mengurusnya. Soal pelaksanaan acaranya, biar saya yang handle. Bu Nita tidak keberatan?”
“Tentu saja, bu Nina.”
“Nanti setelah menikah, Kenan dan Zahra akan tinggal bersama dengan kami. Tapi pak Sandi tenang saja. Saya yang akan memenuhi syarat dari bapak. Saya akan membelikan rumah atas nama Zahra.”
Sandi hanya tersenyum kikuk menanggapi ucapan Abi. Itu seperti sebuah sindiran halus di telinganya. Namun melihat wajah Abi yang serius ditambah dengan suaranya yang penuh penekanan, kalimat yang terlontar seperti gada besar yang menghancurkan tubuhnya.
“Maaf.. saya permisi ke toilet sebentar,” Nita bangun dari duduknya kemudian keluar dari ruangan. Melihat kepergian Nita, Risma pun bermaksud menyusulnya. Dia perlu melampiaskan kedongkolan pada mantan istri suaminya itu.
Nita terkejut melihat Risma sudah berdiri di dekat wastafel ketika dirinya keluar dari bilik toilet. Tanpa mempedulikan wanita itu, Nita mendekati wastafel kemudian mencuci tangannya.
“Sepertinya kamu bahagia sekali malam ini,” sindir Risma. Namun Nita sama sekali tak mempedulikannya. Melihat hal tersebut, karuan membuat Risma semakin berang.
“Apa menjadi besan Abimanyu Hikmat sudah membuatmu percaya diri? Kamu tidak lebih baik dariku, Nita. Dari dulu sampai sekarang, kamu bukanlah tandinganku. Lagi pula, mas Sandi yang mempunyai kedekatan dengan Abimanyu Hikmat. Karena mas Sandi, dia menerima anakmu.”
“Terserah padamu saja, Risma. Asal kamu bahagia.”
“Dasar perempuan bodoh!”
Risma mengangkat tangannya, namun tamparannya menggantung di udara. Sebuah tangan berhasil menahan tangannya. Wanita itu terkejut saat tahu Nina yang melakukannya. Terdengar ringisannya saat Nina mencengkeram kuat pergelangan tangannya lalu menghempaskannya dengan kasar.
“Bu Nita silahkan keluar. Biar saya yang bicara dengannya.”
Tanpa pikir panjang, Nita segera keluar dari toilet. Nina menyilangkan kedua tangannya di dada seraya melayangkan tatapan tajam pada Risma. Istri dari Sandi itu menelan ludahnya kelat.
“Saya ingatkan untuk pertama dan terakhir kalinya. Jangan pernah menggangu ibu Nita dan Zahra lagi. Kalau sekali lagi saya melihat bu Risma memperlakukan Silva seperti budak, saya tidak akan melepaskan ibu. Dan satu lagi, suami saya bukanlah suamimu yang mudah tergoda akan dirimu. Jadi, jaga pandangan ibu dan hilangkan pikiran kotormu untuk menggoda suamiku.”
Setelah melontarkan kalimat bernada ancaman, Nina melenggang meninggalkan Risma yang masih terlihat syok. Aura Nina tak kalah menyeramkan dari suaminya. Sambil berpegangan pada tembok, Risma menyusul keluar.
Sekeluarnya dari rest room, Risma kembali dibuat terkejut saat melihat Nina tengah mengenalkan Nita pada Darmawan. Impiannya bisa masuk ke kalangan atas direbut begitu saja oleh Nita.
“Bu Nina bersama dengan pak Abi?” tanya Darmawan.
“Iya, pak. Oh kenalkan ini bu Nita, mamanya Zahra, calon Kenan.”
“Ah ya, saya sudah dengar perihal Zahra. Saya Darmawan,” Darmawan mengulurkan tangannya pada Nita yang langsung dibalas oleh wanita itu.
“Pak Darmawan dengan siapa ke sini?”
“Biasa bu, dengan anak-anak.”
“Salam untuk anak-anak, pak.”
“Iya, bu. Sampaikan juga salam saya untuk pak Abi. Mari bu Nita.”
Nita hanya menganggukkan kepalanya saja pada Darmawan. Sepeninggal pria itu, keduanya kembali ke ruangan makan. Tak lama Risma menyusul. Makan malam terus berlanjut. Nina menyampaikan rencana pertunangan Kenan dan Zahra. Nita menyerahkan semuanya pada Nina. Sedang Sandi dan Risma hanya dijadikan penonton saja. Keduanya seperti obat nyamuk tak berasap, baik Nina maupun Abi hanya berbicara dengan Nita dan mengabaikan mereka.
☘️☘️☘️
Kepala Kenan menengok ke kanan dan kiri saat menuruni tangga. Hari ini dia bermaksud menghindari Nina. Semalam dia bisa lolos, setelah acara makan malam, Nina tak membahas lagi perihal ulahnya yang membohongi Sandi tentang identitas orang tuanya. Namun entah mengapa pemuda itu yakin kalau sang mama tidak akan melepaskannya begitu saja.
Melihat situasi aman, Kenan langsung bergegas turun. Dia memilih untuk menghabiskan waktu libur bersama dengan The Myth lalu menjemput Zahra pulang kerja. Namun baru saja dirinya mencapai ruang depan, sebuah deheman keras menghentikan langkahnya.
Perlahan Kenan membalikkan tubuhnya. Cengiran khasnya keluar melihat kedua orang tuanya sudah berdiri di hadapannya. Abi menggerakkan telunjukknya, meminta Kenan untuk mendekat.
“Mau kemana?” tanya Abi.
“Mau jalan-jalan sama Zahra.”
“Bukannya Zahra kerja?” seru Nina.
“Iy, ma. Sambil nunggu Zahra selesai kerja, aku mau latihan bareng The Myth.”
“Dari pada kamu latihan. Mending kamu bantu mama.”
“Bantu apa ma?”
Mendadak perasaan Kenan tak enak melihat gelagat kedua orang tuanya yang mencurigakan. Nina menarik tangan Kenan menuju teras belakang. Di dekat pintu, wanita itu menunjuk sejumlah peralatan kebersihan yang baru saja dibeli.
“Ini apa ma?” tanya Kenan bingung.
“Selama seminggu ke depan, kamu bertugas membersihkan semua kamar mandi di rumah ini,” ujar Abi.
“Hah??”
“Kan kamu bilang papa itu penjaga toilet umum. Nah sekarang kamu yang harus mengerjakan semua tugas papa sebagai penjaga toilet. Bersihkan semua toilet di rumah ini, terhitung mulai hari ini sampai seminggu ke depan.”
“Papa…”
“Ngga mau??” tanya Nina dengan posisi siap menjewer telinga Kenan.
“Mau, ma. Mau kok.”
“Nah, sekarang ikut mama.”
Nina menarik lengan Kenan lalu membawanya ke halaman belakang. Wanita itu berhenti di dekat rumah pohon. Perasaan Kenan semakin tak enak melihat kandang yang berisi lima ekor ayam di dalamnya.
“Tolong rawat ayam mama. Yang ini jantan, yang empat ini istrinya. Istrinya baru aja bertelur. Nah tugas kamu kasih makan, minum sama ngecek, kapan tuh telur netes.”
Kenan hanya melongo mendengar semuanya. Pemuda itu menatap kelima ayam yang berada dalam kandang. Kenapa jumlah ayamnya sama persis dengan yang dikatakannya pada Sandi dan Risma. Sepertinya Zahra sudah membocorkan semuanya pada sang mama.
“Gimana, Nan? Sanggup?” suara Nina membuyarkan lamunan pemuda itu.
“Sa.. sanggup ma.”
“Bagus. Sekarang kamu bersihin kamar mandi dulu. Baru kasih makan ayam.”
“Kerja yang bener.”
Abi menepuk pundak anaknya kemudian memeluk pinggang Nina, membawa istrinya itu dari halaman belakang. Kenan mengacak-acak rambutnya, mau tak mau dia harus menjalankan perintah sang ibu ratu kalau mau selamat. Pemuda itu bergerak mengambil peralatan kebersihan lalu mulai membersihkan kamar mandi satu per satu.
Di teras, Abi tengah duduk santai bersama Nina. Kini di kediaman mereka hanya tinggal Kenan saja, karena Kenzie dan Freya sudah tak tinggal bersama mereka. Itulah yang membuat Abi mengambil keputusan Kenan akan terus tinggal bersama mereka setelah menikah nanti. Rumah yang sekarang otomatis akan menjadi milik Kenan. Baik Kenzie maupun Freya tak mempermasalahkannya.
“Ngga kerasa ya, mas. Anak-anak sudah besar, sebentar lagi kita bakal jadi kakek, nenek. Rasanya baru kemarin aku hamil dan melahirkan mereka.”
“Waktu terasa cepat berlalu karena ada kamu di sisiku, tapi terasa lambat kalau kamu jauh dariku.”
“Mulai deh gombalnya.”
__ADS_1
“Kan yang digombali kamu, bukan perempuan lain,” Abi meraih dagu Nina lalu mendaratkan kecupan di bibirnya.
“Mas sadar ngga, kalau semalem tuh Risma ngeliatin mas terus. Pengen kucolok aja matanya.”
“Hahahaha… kenapa ngga kamu colok aja.”
Nina menepuk lengan suaminya. Dia lupa kalau pria yang sudah mendampinginya selama hampir dua puluh delapan tahun terkenal dengan kekejamannya. Nina menarik tangan Abi kemudian melingkarkan ke bahunya. Disandarkan kepala ke dada suaminya.
“Mas, semalam aku ketemu pak Darmawan.”
“Oh ya?”
“Seminggu yang lalu, Mentari, anak bungsunya pak Darmawan telepon aku. Sebentar lagi dia menikah, dia minta tolong sama aku cariin jodoh buat papanya. Katanya ngga tega kalau harus ninggalin papanya sendirian di rumah. Setelah menikah, dia ikut suaminya yang kerja di Hamburg.”
“Hmm.. sejak istriya meninggal enam tahun yang lalu, pak Darmawan belum pernah menjalin hubungan dengan perempuan lain. Mas pernah tanya apa dia ada niatan menikah lagi, tapi dia bilang mau fokus kerja sama ngurus anak-anak.”
“Sebenernya aku punya calon. Kira-kira pak Darmawan mau ngga ya.”
“Siapa?”
“Nita, mamanya Zahra.”
Abi menolehkan kepalanya pada Nina. Wanita itu menganggukkan kepala untuk menegaskan apa yang dikatakannya tadi.
“Kamu serius?”
“Iya, mas. Mereka sama-sama single, ngga ada yang salah kan. Pak Darmawan juga laki-laki baik, ngga seperti mantan suaminya. Kalau Nita menikah dengan pak Darmawan, si Risma pasti ngga akan macam-macam lagi.”
“Hmm.. usulanmu bagus juga. Nanti mas coba bicarakan dengan pak Darmawan.”
“Iya, mas. Aku yang akan bicara pada Nita. Eh iya, aku ada rencana mau kasih kerjaan tambahan buat Risma. Mas setuju ngga?”
“Kerjaan tambahan apa?”
“Panti jompo yang baru dibangun kemarin kekurangan staf untuk mengurus lansia yang ditampung. Aku mau nyuruh Risma kerja bantu-bantu di sana, biar tuh orang ngga sombong lagi. Biar dia ngerasain dinyinyirin sama nenek-nenek.”
Nina terkikik geli membayangkan Risma mengurus para lansia yang ditampung di panti jompo yang baru saja dibangun dengan Metro East sebagai penyumbang terbesar. Entah mengapa para lansia yang ditampung di sana, begitu cerewet dan ucapannya kerap membuat telinga merah.
“Terserah kamu aja, sayang.”
Abi meraih tengkuk Nina kemudian menautkan bibir mereka. Tangan Nina melingkari leher suaminya lalu membalas ciumannya dengan mesra. Tangan Abi menarik pinggang sang istri, hingga tak ada jarak lagi di antara mereka.
“Ya Allah… ampunilah kedua orang tuaku yang telah bersikap dzalim. Di saat anaknya tengah berjuang membersihkan kamar mandi dan memberi makan ayam, mereka dengan asiknya bermesraan, menodai mata suciku.”
PLETUK
Sebuah hiasan yang ada di meja melayang dan tepat mengenai kening Kenan. Pemuda itu mengusap keningnya seraya melihat pada Abi, sang pelaku pelemparan. Kemudian mengangkat kedua tangannya lagi seperti tengah berdoa.
“Ya Allah.. ampunilah ayahku yang telah menganiaya diriku. Semoga Engkau membalas perbuatan dzalim yang kuterima dengan mengabulkan keinginanku. Tolong perintahkan malaikat-Mu untuk membisikkan pada papaku untuk mempercepat pernikahanku dengan Zahra. Dan semoga kak Freya cepat hamil, biar kedua orang tua hamba punya kerjaan lain dan ngga mesra-mesraan terus.”
Kenan segera kabur begitu melihat Abi berdiri dari duduknya. Nina hanya terpingkal melihat tingkah suami dan anak bungsunya.
☘️☘️☘️
“Ma.. mau ke dokter ngga?”
Tanya Sandi seraya mendudukkan diri di sisi ranjang. Tangannya meraba kening Risma. Suhu tubuh istrinya memang sedikit panas sejak mereka pulang makan malam. Perlahan Risma membuka matanya.
“Papa belum berangkat kerja?”
“Sebentar lagi. Mama ngga apa-apa ditinggal?”
“Iya, papa berangkat aja.”
“Ya sudah.”
Sandi mendaratkan ciuman di kening istrinya itu lalu pergi meninggalkan rumah. Risma menarik selimut, menutupi tubuhnya sampai sebatas dada. Saat tahu ternyata orang tua Kenan adalah Abimanyu Hikmat. Belum lagi ancaman Nina kepadanya. Membuat separuh nyawanya seakan melayang.
Dari desas-desus yang pernah didengarnya, keluarga Hikmat tak pernah tanggung memberi hukuman pada orang yang sudah mengganggunya. Dan kini dia malah menyenggol anak Abimanyu, sosok yang paling ditakuti di lingkaran keluarga Hikmat. Menyesal rasanya sudah meremehkan, berkata dan bersikap kasar pada Kenan. Harusnya dia sudah curiga dengan cerita Kenan tentang pekerjaan kedua orang tuanya.
Sementara itu, Sandi yang sudah sampai di tempat kerjanya, langsung disambut oleh salah seorang pegawainya. Seorang klien prioritas sedang menunggu di ruang meeting. Setelah menaruh tas di meja kerjanya, pria tersebut bergegas menuju ruang meeting yang ada satu lantai di atasnya.
“Selamat pagi,” sapa Sandi.
“Syelaamaathh pagiihh.”
Sandi terkejut saat tahu kalau klien prioritas yang tengah menunggunya adalah Syakira. Kegugupan langsung melandanya, melihat Syakira dalam balutan dress di bawah lutut, dengan wangi semerbak dan suara des*hannya sukses membuat pria itu cenat cenut.
“Ada yang bisa dibantu ibu…”
“Syakiraaahhh..”
“Oh i.. iya, bu Syakira.”
“Sayaahh mauuhh bukaaahh deposiitthh di siniiihhh.”
“Oh sebenarnya itu tanggung jawab pak Iwan. Berhubung pak Iwan sedang cuti, biar saya yang tangani. Nama saya, Sandi.”
“Terimaahh kasyiihh.”
Sandi berdehem beberapa kali untuk menghilangkan kegugupan dan pikiran nakalnya. Diambilnya beberapa brosur penawaran dan mulai menjelaskannya pada Syakira. Selama menjelaskan, Sandi beberapa kali melakukan kesalahan karena terganggu melihat visual dan mendengar suara sang klien.
“Bagaimana bu? Apa penjelasan saya sudah cukup?”
“Syudaahh.. nantiihh sayaahh tanyaahh syuamiihh sayaahh duluuhh.”
“Boleehhh,” tanpa sadar Sandi ikut mendesah. Syakira hanya mengulum senyum saja.
“Kalaauuhh begituuhh sayaahh permisiih.”
“I.. iya bu. Mari saya antar.”
Sandi mengekori langkah Syakira keluar dari ruang meeting tersebut. Pria itu ikut masuk ke dalam lift dan berdiri dengan posisi yang begitu dekat dengan Syakira. Sebenarnya istri dari Gurit itu malas bertemu dengan Sandi lagi, namun karena permintaan Nina, dia terpaksa datang ke kantor Sandi. Istri dari Abimanyu Hikmat itu ingin memberikan sedikit pukulan untuk Risma melalui Syakira.
“Terimaahhh kasyiihh phakkhh Syandiihh.”
“Sama-sama, bu.”
Syakira segera menaiki mobilnya lalu meninggalkan Sandi yang masih terpaku di tempatnya. Melihat Syakira membuat pikirannya sedikit teralihkan dari peristiwa kemarin malam. Dengan senyum tercetak di wajahnya, pria itu masuk kembali ke dalam kantor.
☘️☘️☘️
Numpang promo lagi ya. Mampir yuk ke cerita anak bujang online-ku. Yg suka dengan alur gemes² pengen nabok boleh dicoba😄 Jangan lupa tinggalkan jejak kalian, like, komen dan gift kalau berkenan.
__ADS_1