
Anfa dan Rayi baru saja selesai membereskan pakaian mereka ke dalam koper. Rencananya besok pagi, mereka akan berangkat ke Jepang. Setelah mengecek tak ada barang yang tertinggal, Rayi duduk di sisi ranjang. Anfa menyusul duduk di sampingnya kemudian memeluk sang istri.
“Kenapa hmm.. dari tadi manyun aja. Masih belum mau berangkat besok?”
“Bukan.”
“Terus?”
“Aku masih kesel soal pernikahan Radix. Itu kan pernikahan terakhir yang aku urus, eh malah kacau balau. Lagian si Radix dikasih tau ngeyel, mana nyewa jasa pawang hujan abal-abal lagi.”
“Hahahaha... ya ampun masih kepikiran aja.”
Anfa menggelengkan kepalanya. Ternyata yang membuat istrinya manyun sedari pagi adalah kacaunya pesta pernikahan Radix yang digelar seminggu lalu. Anfa mengurai pelukannya, kemudian mengajak sang istri keluar kamar.
“Udah ngga usah dipikirin. Ayo keluar, kayanya mama sama papa juga bude udah dateng deh.”
Rayi bangun dari duduknya kemudian mengikuti sang suami keluar dari kamar. Malam ini, Rahma mengadakan jamuan makan malam untuk melepas kepergian Anfa dan Rayi ke Jepang besok. Dia juga mengundang semua besannya, Wira, Wisnu, Astuti juga Rahayu. Bahkan bu Lidya juga ikut diundang.
Selain untuk melepas kepergian Anfa, makan malam ini juga untuk memperingati hari ulang tahun Kenzie. Cucu pertamanya itu genap berusia satu tahun hari ini. Tadi siang Abi dan Nina sudah merayakannya secara sederhana di kediamannya. Hanya keluarga dan sahabatnya saja yang datang ke pesta ulang tahun anaknya. Abi memang tidak mau mengekspos keberadaan sang anak ke publik. Demi melindungi anaknya dan juga mencegah orang-orang yang hendak berbuat jahat.
Berbeda dari acara-acara sebelumnya, makan malam kali ini digelar di selasar lantai atas. Sebuah meja besar sudah ditempatkan di tengah-tengah selasar, lengkap dengan kursinya. Aneka makanan juga sudah tersedia di sana. Para besannya juga sudah datang, Rahma dan Teddy langsung mengajaknya ke lantai dua.
Rayi dan Anfa menghampiri kemudian mencium punggung tangan para orang tua satu per satu. Rayi mengambil kursi di dekat orang tuanya. Maklum saja, dalam waktu lama nanti mereka tidak akan bertemu.
Sikap Astuti pada Anfa pun sudah mulai berubah. Dia tidak lagi ikut campur dalam kehidupan rumah tangga anaknya dan menyayangi Anfa seperti anaknya sendiri. Selain karena wanita itu telah menyadari kalau Anfa memang menantu yang baik, dia juga tak ingin bermasalah dengan Abi. Pria itu pernah membuatnya berada di hutan sendirian selama dua jam saat diajak berlibur di pulau pribadi salah satu kolega Teddy. sejak saat itu, Astuti mulai berubah. Ancaman Abi padanya ternyata bukanlah bualan semata.
Tak lama berselang, Juna dan Nadia datang. Wira langsung menyambut anaknya yang hampir setahun tak ditemuinya. Semenjak Nadia mengalami keguguran dan menceraikan Ratih, Wira memilih tinggal di kampung halaman. Bersama dengan kakaknya, dia mengolah lahan peninggalan orang tua mereka.
“Bagaimana kabarmu Nad?”
“Alhamdulillah. Bapak bagaimana?”
“Alhamdulillah, seperti yang kamu lihat, bapak baik.”
“Wa Risman ngga diajak pak?”
“Sebentar lagi panen, jadi ngga bisa ikut.”
Nadia menarik kursi di samping bapaknya kemudian mendudukkan diri di sana. Sebenarnya Nadia ingin mengajak Wira tinggal bersamanya, Juna juga tidak keberatan. Tapi ternyata ayahnya lebih senang tinggal di desa bersama kakaknya yang juga sudah menjadi duda setelah istrinya meninggal setahun yang lalu.
“Kamu sudah mendengar kabar soal Ratih?”
“Kabar apa pak?”
“Dia sudah meninggal dunia.”
“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Kapan pak?”
“Tiga bulan yang lalu. Dia tertabrak mobil saat berusaha kabur dari rumah sakit jiwa. Bapak pikir Abi sudah memberitahumu.”
“Belum pak.”
“Aku yang melarang Abi mengatakannya. Aku ngga mau Nadia bersedih atau stress. Sudah cukup dia membuat istriku menderita,” sela Juna.
“Iya, kamu benar. Lagi pula dia sudah tidak ada hubungannya lagi dengan bapak juga Nadia.”
Baik Wisnu, Astuti atau Rahayu hanya mendengarkan saja pembicaraan Wira dengan anak menantunya. Ternyata kehidupan anak-anak Teddy tak semulus perkiraannya. Tetap ada masalah yang datang menerpa mereka. Astuti benar-benar salut pada kekompakan keluarga ini. Dia bersyukur sang anak bisa menjadi bagian keluarga Hikmat.
Nadia berdiri dari duduknya ketika melihat kedatangan Abi dan Nina. Dia langsung saja mengambil Kenzie dari gendongan papanya. Kenzie yang sudah terbiasa dengan Nadia malah mengasongkan tangan ke arahnya. Hampir setiap hari Nadia kerap bermain dengan Kenzie. Dia juga secara rutin mengunjungi Aric di kediaman Cakra. Semua dilakukan agar membuat dirinya terbiasa mengurus anak-anak dan berharap Allah akan segera memberikannya momongan.
Hanya tinggal Sekar dan Cakra yang belum datang. Tak ada niat untuk memulai acara makan malam sebelum anak bungsu mereka datang. Lima menit berselang, yang ditunggu datang juga. Cakra meminta maaf datang terlambat karena Aric malah tertidur saat akan dimandikan. Karena semua anggota keluarga sudah berkumpul, acara makan malam pun dimulai.
“Kamu sudah siap Ray tinggal di Jepang?” tanya Astuti.
“In Syaa Allah, ma.”
“Baik-baik ya selama di sana. Kalau mau pergi harus seijin Anfa. Harus nurut sama suami. Jangan lupa cepet kasih mama cucu.”
__ADS_1
“Setuju.. mama juga setuju. Mama pengen punya cucu perempuan nih, ayo dong Juna, Anfa, kasih mama cucu perempuan.”
“Sabar ma, cucu perempuan mama lagi diproses ini,” seloroh Juna, Nadia mencubit pinggang suaminya.
“Ma.. masa Anfa pengen punya anak laki dulu. Padahal aku pengen punya anak perempuan.”
“Laki-laki dulu, baru perempuan, biar bisa jaga adeknya,” sambar Anfa.
“Tuh denger ma,” Rayi mengadu pada Rahma, membuat yang lain tertawa.
“Heleh ribut laki ama perempuan. Cebongnya Anfa juga belum ada yang nyangkut.”
“Astaga.”
Rahma menepuk kening mendengar komentar anak keduanya. Seperti biasa, Abi selalu seenaknya saja jika berkomentar. Sedang Anfa malah tertawa mendengarnya, dia sudah terbiasa mendengar celotehan Abi yang kadang membuat telinga merah.
Usai makan malam, acara berkumpul pindah ke halaman belakang. Para orang tua duduk di gazebo sedang anak-anak berkumpul di dekat kolam renang. Abi tak henti menuntun anaknya yang tengah belajar berjalan. Terkadang terlihat pria itu menegakkan tubuhnya karena pegal terus menunduk.
Anfa mendekat untuk menggantikan kakak iparnya. Kini giliran pria itu yang diajak berputar-putar oleh keponakannya. Sebelum dirinya pergi, dia ingin menghabiskan waktu bersama keponakannya yang mungkin tidak akan ditemuinya selama tiga tahun. Teddy memang meminta Anfa mengurus perusahaan di sana selama tiga tahun sebelum dipindahkan ke Indonesia.
Kepala Aric bergerak ke kanan dan kiri menyimak pembicaraan papa dan paman-pamannya. Anak itu duduk anteng dalam pangkuan Nadia. Sesekali Juna mengajaknya bercanda, membuat anak itu tergelak. Abi tiba-tiba menggigit pipi Aric dengan bibirnya karena gemas melihat pipi gembulnya, membuat anak itu menangis. Sekar memukul lengan kakaknya dengan kesal. Dia mengambil Aric dari pangkuan Nadia untuk disusui.
“Lo kalau mau gigit, noh gigit aja pipi anak lo sendiri.”
“Anak gue galak, setiap gue mau gigit, dipukul muka gue,” jawab Abi.
“Hahaha.. sokoooorrr,” ledek Cakra.
“Apalagi kalau gue deketin emaknya.. beuh langsung pake jurus andalan.”
“Apa?”
“Mewek,” jawab Abi dan Nina bersamaan sambil tergelak.
“Syukurin loh diposesifin ama sendiri hahaha... bahagia banget gue.”
Melihat Kenzie yang masih belum kehabisan energi, Nadia jadi ingin bermain dengan anak itu. Dia segera berdiri dari duduknya, namun sesaat Nadia terdiam karena kepalanya seperti berputar. Beberapa hari ini dia memang mudah lelah dan malas untuk bergerak. Setelah berdiam sesaat, Nadia kembali melanjutkan langkahnya. Namun tiba-tiba pandangannya gelap.
Hampir saja tubuh Nadia jatuh ke lantai kalau Cakra tidak sigap menangkapnya. Juna segera berlari menghampiri sang istri yang jatuh pingsan. Dengan cepat dia membopong Nadia lalu membawanya ke kamar. Semua yang ada di sana tentu saja terkejut. Mereka langsung menyusul Juna. Khawatir dengan keadaan Nadia, Nina segera menelpon dokter Gilang untuk datang.
Semua menunggu dengan cemas saat dokter Gilang memeriksa Nadia. Istri dari Juna itu sudah sadar sebelum dokter keluarga Hikmat datang, namun keadaannya yang lemah membuat yang lain cemas. Beberapa saat kemudian dokter Gilang selesai memeriksa Nadia. Dia segera menghampiri Juna.
“Bagaimana keadaan Nadia dok? Dia baik-baik ajakan?”
“Besok Nadia harus dibawa untuk pemeriksaan lebih lanjut.”
“Apa ada yang serius dok?” tanya Rahma cemas.
“Secara keseluruhan Nadia baik-baik saja. Dia harus ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungannya.”
“Maksudnya?” Juna sedikit linglung mendengar ucapan dokter Gilang.
“Selamat ya Juna. Nadia sedang hamil.”
“Yang benar dok?” dokter Gilang menganggukkan kepalanya.
“Alhamdulillah.”
Semua yang mendengarnya juga mengucapkan hal yang sama. Juna bergegas menghampiri sang istri yang tengah duduk menyandar di atas kasur. Dia juga sama terkejutnya mendengar hasil pemeriksaannya.
“Mas.. aku beneran hamil?”
“Iya sayang.. seperti yang kamu dengar. Kamu hamil sayang.”
Juna menangkup wajah Nadia kemudian menciuminya. Perasaannya sungguh bahagia. Akhirnya penantian panjangnya berbuah manis. Kesabarannya selama ini dibayar dengan berita kehamilan sang istri. Nadia tak henti mengucapkan syukur dalam hati. Impiannya menjadi ibu sebentar lagi akan terwujud.
☘️☘️☘️
__ADS_1
Juna memeluk tubuh sang istri dari belakang. Nadia yang tengah menyirami bunga di halaman depan terjengit saat tangan kekar sang suami melingkar di perut buncitnya. Kandungan Nadia kini sudah berumur delapan bulan. Sebentar lagi dia akan resmi menyandang gelar sebagai ibu dari anak kembar yang dikandungnya.
Nadia meletakkan alat penyiram yang dipegangnya kemudian berbalik ke arah suaminya. Tangannya langsung melingkari leher kokoh Juna. Pria itu menghadiahi ciuman bertubi di wajah cantik Nadia.
“Istri dan anakku mau makan apa hari ini?”
“Hmm.. apa ya.. kayaknya enak deh kalau makan omelet buatan ayah,” jawab Nadia.
“Chef Juna akan buatin buat kalian.”
Senyum Nadia mengembang mendengar ucapan suaminya. Selama hamil, Juna memang sering memasak untuk istrinya itu. Dia bahkan memanggil chef profesional untuk mengajarinya memasak. Kini calon bapak itu sudah mahir menggunakan alat dapur dan mengolah beberapa makanan.
Nadia mendudukkan dirinya di kursi makan. Pemandangan favoritnya selama hamil adalah melihat sang suami berkutat di dapur. Menurutnya, Juna terlihat lebih tampan dan seksi saat memakai celemek dan menggunakan pisau.
Dengan cepat Juna meracik semua bahan yang diperlukan untuk diolah menjadi omelet. Tangannya menggoyang-goyangkan pan juga spatula. Mata Nadia tak berkedip melihatnya. Tak butuh waktu lama, omelet pesanannya jadi sudah. Juna menambahkan merica bubuk, mayonaise dan juga saos sambal ke atas omelet. Begitulah kebiasaan Nadia memakan olahan dari telur itu selama hamil.
“Ehhmmm... seperti biasa, masakan mas Juna enak banget,” Nadia mengangkat kedua jempolnya.
“Hadiahnya mana?”
Nadia mengalungkan tangannya ke leher Juna lalu mendaratkan ciuman di bibir suaminya. Juna langsung menyambut ciuman Nadia. L**atan dan pagutan keduanya langsung tercipta begitu saja. Nadia mendongakkan lehernya, memberikan akses pada Juna untuk menciumi lehernya. Sesaat pandangan mereka bertemu.
“Ke kamar yuk. Mas mau nengok anak kita.”
“Ayo mas.”
Juna membantu Nadia berdiri lalu membawanya ke kamar. Tangannya terus melingkar di pinggang sang istri. Rasa cinta dan sayangnya semakin bertambah saja pada wanita yang sebentar lagi akan memberinya anak.
Perlahan Juna membaringkan Nadia di kasur. Pria itu kembali meneruskan cumbuannya yang sempat terputus. Nadia menikmati semua sentuhan sang suami di tubuhnya. Hati-hati Juna meloloskan semua pakaian yang melekat di tubuh istrinya. Perut buncit Nadia langsung terlihat. Juna menundukkan kepalanya lalu menciumi perut buncit itu. Beberapa saat kemudian, pria itu memulai penyatuannya.
☘️☘️☘️
“Ehhmmmm....”
Nadia tengah berjuang melahirkan anaknya. Di sampingnya Juna berdiri untuk menemani dan memberinya semangat. Tengah malam dia harus melarikan Nadia ke rumah sakit karena istrinya terus merasakan kontraksi. Namun menjelang shubuh, wanita itu masih belum berhasil mengeluarkan anaknya.
Rahma, Teddy, Wira, Abi dan Cakra terus menunggu di depan ruang persalinan. Wira nampak resah, dia terus saja mondar-mandir menunggu kelahiran cucu pertamanya. Sebenarnya Juna menganjurkan Nadia untuk operasi caesar saja, namun istrinya itu bersikeras ingin melahirkan secara normal.
“Oweeee... Oweeee..”
Semua yang ada di luar tersentak mendengar suara tangis bayi. Bersama-sama mereka mengucapkan hamdalah. Lima menit kemudian suara tangis bayi kembali terdengar. Nadia telah berhasil melahirkan anak kembarnya dengan selamat.
Juna tak henti mendaratkan ciuman di puncak kepala sang istri. Rasa bahagia sekaligus haru menghampirinya bersamaan. Setelah dibersihkan, diukur dan diadzani, Nadia memberikan inisiasi pada bayi kembarnya bergantian. Wanita itu mendapat cukup banyak jahitan di bagian bawahnya. Namun rasa sakit yang dirasakannya tak sebanding dengan kebahagiaan yang dirasakannya saat ini.
Pintu ruang bersalin terbuka. Dua orang suster keluar dari dalamnya. Satu orang mendorong kursi roda yang diduduki Nadia, seorang lagi menggendong anak Nadia. Di belakang, Juna menyusul sambil menggendong anak yang satunya. Rahma segera menghampiri suster kemudian mengambil cucunya yang berjenis kelamin perempuan. Mereka segera menuju ruang perawatan VVIP.
Perlahan Rahma membaringkan cucunya ke dalam boks. Impiannya mempunyai cucu perempuan akhirnya terkabul sudah. Di boks sebelah, Juna baru saja membaringkan anaknya yang satu lagi. Wajahnya tersenyum melihat wajah tampan sang anak. Juna dan Nadia dikaruniai sepasang anak kembar.
“Kamu sudah menyiapkan namanya?” tanya Rahma.
“Sudah ma. Yang ganteng, namanya Ezra Melviano Hikmat. Dan yang cantik ini, Azra Maharani Hikmat.”
“Nama yang bagus, Ezra dan Azra. Semoga kalian tumbuh menjadi anak yang soleh dan solehah.”
“Aamiin..” sahut yang lain.
Abi dan Cakra menghampiri untuk melihat lebih jelas wajah keponakannya. Anak kembar sang kakak bukanlah kembar identik. Wajah Ezra lebih banyak mewarisi raut Juna, sedang Azra, wajah Nadia lebih mendominasi. Dan yang terpenting, kini teman bermain Kenzie dan Aric sudah bertambah.
Juna meraih tangan Nadia lalu mencium punggung tangannya dengan mesra. Kehadiran buah hati tercinta semakin memperkuat cinta di antara keduanya. Airmata kebahagiaan kembali mengalir di wajah cantik Nadia.
☘️☘️☘️
**Selamat ya Juna dan Nadia atas kelahiran bay Ezra dan Azra. Penantian panjang kalian berbuah manis juga akhirnya.
Kemarin di komen banyak yang galfok soal kehamilan Syakira. Begini ya, di awal bab mamake udah terangkan kalau waktu sudah berjalan dari pernikahan Gurit.
Lalu di paragraf berikutnya, Gurit sudah berhasil membuat cebongnya berkembang dalam dua minggu pernikahannya. Dan saat pernikahan Radix, kandungan Syakira udh masuk 7 bulan. Jadi ada jarak antara pernikahan Gurit dan Radix, karena Anfa juga sudah selesai studi masternya.
__ADS_1
Seperti yg mamake bilang kalau novel ini akan segera berakhir. Hanya tinggal 1 episode lagi KPA akan tamat. Tapi jangan khawatir, mamake bakal kasih bonchapnya, jadi jangan di unfav dulu ya🤗**