
TOK
TOK
TOK
Pintu ruang kerja Barra terbuka, dari baliknya muncul Anya. Dengan wajah sumringah gadis itu masuk lalu duduk di depan meja kerja Barra. Irvin yang melihat kedatangan Anya, tentu saja senang. Saat dirinya tengah sibuk memikirkan alasan untuk mengajak gadis itu bertemu, ternyata sang dewi sudah datang sendiri ke hadapannya.
“Tumben ke sini, mau ngapain?” tanya Barra.
“Mau ketemu abang lah.”
“Mau ketemu abang apa mau ketemu yang onoh,” goda Barra sambil menunjuk Irvin dengan dagunya. Anya mengikuti arah dagu Barra, walau sebenarnya dia tahu siapa yang dimaksud pria itu. Irvin langsung memberikan senyuman lengkap dengan gula dan creamernya jadi semakin legit, namun hanya dibalas dengan peletan lidah Anya.
“Aku tuh ke sini didorong rasa sayang aku ke abang.”
“Heleh kadal buntung, pasti ada maunya.”
“Ya ampun niat tulus aku ternyata dicurigai, apa dosa Anya ya Allah.. mengsedih jadinya hiks..”
“Lebay.. buruan mau ngomong apa?”
Anya terpingkal melihat reaksi Barra. Pria itu memang sudah khatam akan kegesrekan adik dari sahabatnya. Hubungan keduanya juga dekat, di mata Anya, posisi Barra sudah seperti Aric.
“Aku cuma mau kasih info kalau kak Hanna selama weekend mingu ini ngga ada di Bandung.”
“Emang Hanna kemana?”
“Ya mau mendampingi Toza lah.”
“What??? Ngedampingin kemana? Ke Jepang? Mau ketemu orang tua Toza gitu?”
Barra terlonjak dari duduknya. Kondisinya yang semula tenang langsung misah-misuh begitu mendengar kabar dari Anya. Tapi bukannya menjawab, Anya malah duduk santai sambil memainkan jemarinya. Lalu dengan gerakan tangan meminta Barra untuk duduk kembali. Seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, pria itu manut saja.
“Minggu ini tuh pertandingan perdana pro liga tahun ini. Putaran pertamanya di Yogya, nah kak Hanna mau lihat pertandingan di sana.”
“Oh cuma mau lihat tim volinya main?” suara Barra terdengar sedikit lega.
“Iya, judul besarnya itu. Tapi ngga tau juga kalau ada sub judul lainnya.”
“Maksudnya?”
“Ah elah, abang lemot nih. Di sana kan ada Toza. Siapa yang tahu kalau momen itu dimanfaatin si mandor Romusha buat pepetin kak Hanna.”
“Hahahaha…”
Tawa Irvin langsung meledak mendengar julukan Anya untuk Tozaki. Begitu pula dengan Barra yang tak bisa menahan senyumnya. Mulut Anya memang tak jauh beda dengan Kenan yang suka seenaknya memberikan julukan untuk orang.
“Terus gimana dong?”
“Ya abang ke sana, susulin kak Hanna. Timnya kan udah berangkat dari Senin. Kak Hanna baru berangkat tadi. Abang kasih kejutan, besok nongol depan kak Hanna. Masa yang kaya gitu aja harus diajarin sih. Pantesan aja masih jomblo.”
“Sendirinya juga jomblo.”
“Aku tuh milih jadi jomblo. Kalau abang jadi jomblo karena takdir.”
TOK
Sebuah jitakan sukses mendarat di kepala Anya. Gadis itu mengusap puncak kepalanya yang terkena jitakan Barra seraya mencebikkan bibirnya. Irvin yang satu ruangan dengan Barra sampai melupakan pekerjaannya dan malah asik menyimak pembicaraan sang atasan dengan wanita pujaannya.
“Aku tahu lamaran abang lagi digantung di pohon nangka sama kak Hanna. Tapi abang jangan pasif nungguin jawaban kak Hanna. Harus tetep usaha, jangan sampai si mandor Romusha malah nikung. Dia tuh serius mau balikan sama kak Hanna, sampe disunat segala. Abang jangan kalah dong, ayo pepet terus kak Hanna. Aku ngga mau punya ipar mandor Romusha.”
Barra terdiam merenungi semua cerocosan Anya. Setelah lamarannya digantung, Barra memang membatasi ruang untuk bertemu dengan Hanna. Itu dilakukannya untuk memberikan waktu pada Hanna. Pria itu takut Hanna menjadi tak nyaman jika dirinya terus-menerus mendekatinya.
“Anya bener, bang. Udah susul aja ke Yogya. Urusan kerjaan besok biar aku yang handle,” Irvin ikut memberikan saran.
“Ya udah, aku mau siap-siap dulu. Vin, handle sisa kerjaan hari ini ya.”
Irvin mengangkat jempol tangannya sebagai jawaban. Barra segera berdiri dari duduknya. Disambarnya ponsel yang tergeletak di meja dan jas yang tergantung di kapstok. Lalu dengan tergesa pria itu keluar ruangan, meninggalkan Anya yang hanya melongo saja melihat kepergiannya.
“Yah.. gue ditinggalin.”
“Nya..”
Anya terlonjak mendengar panggilan Irvin. Tahu-tahu pria itu sudah berada di sampingnya. Irvin memutar kursi yang diduduki Anya menjadi menghadap padanya. Dia sedikit menundukkan tubuhnya dengan kedua tangan berpegangan pada sisi kursi.
“Besok kamu ada kuliah ngga?”
“Hmm.. ada sih. Tapi cuma satu matkul, pagi.”
“Kebetulan. Besok temenin aku ya pulang kuliah.”
“Kemana?”
“Lihat jalannya syuting. Ada beberapa tempat yang harus aku tinjau langsung. Syuting film, iklan sama video klip.”
“Hmm.. gimana ya..” Anya nampak berpikir seraya mengetuk-ngetukkan jari ke dagunya.
“Mau ya. Kan kamu yang kasih ide sama bang Barra nyusul Hanna. Kerjaan aku jadi dobel nih. Sebenernya ninjau lokasi syuting bagiannya bang Barra. Besok kamu ngga usah bawa mobil, biar aku yang antar jemput ke kampus, ok?”
“Ok deh. Tapi ngga gratis ya, bang.”
“Iya, emang kamu mau bayarannya apa sih?”
“Ada aja. Aku pulang dulu ya, bye.”
Anya yang hendak berdiri mengurungkan niatnya karena Irvin masih belum beranjak dari tempatnya. Pria itu sepertinya sengaja berada dalam posisi itu untuk menahan Anya lebih lama.
“Nya.. pertanyaanku waktu itu belum dijawab loh.”
“Pertanyaan yang mana?”
“Ngga usah jadi kura-kura dalam perahu.”
“Emang abang serius?”
“Seriuslah, masa ngelamar main-main.”
“Tunjukkan dulu keseriusan abang dengan tindakan, bukan dengan kata-kata.”
Anya mendorong tubuh Irvin hingga pegangannya terlepas, kemudian dengan cepat dia berdiri dan keluar dari ruangan. Irvin hanya tersenyum melihat tingkah Anya yang semakin menggemaskan di matanya. Tekadnya semakin bulat menjadikan Anya sebagai calon istrinya dan langkah pertama yang akan ditempuhnya adalah memutuskan kekasihnya.
☘️☘️☘️
Di sebuah café bergaya millenial, seorang gadis nampak duduk menunggu di salah satu meja yang ada di bagian luar café. Sesekali gadis itu melihat jam di ponselnya. Sudah sepuluh menit berlalu dari waktu yang dijanjikan, namun orang yang ditunggunya belum muncul juga. Baru saja dia akan menelepon, pria yang meminta bertemu dengannya datang juga.
__ADS_1
“Sorry telat. Tadi ada kerjaan tambahan,” ujar Irvin seraya menarik kursi di depan Maya, kekasihnya.
“Kebiasaan, kerjaan mulu. Mau ngomong apa?” ketus Maya.
Sudah tidak ada lagi sikap romantis dari sepasang kekasih ini. Maya yang sudah menemukan tambatan hati baru, mulai bersikap tak acuh pada kekasihnya. Tapi dia juga belum mau melepaskan Irvin karena masih belum ada kepastian dari selingkuhannya untuk menikahinya. Maya harus tetap menaruh kakinya di dua perahu.
“Ayo kita putus.”
Ucapan Irvin yang tegas, jelas dan tanpa basa-basi tentu saja mengejutkan Maya. Dirinya sungguh tak menyangka Irvin akan mengakhiri hubungan mereka lebih dulu. Gadis itu menatap Irvin tak berkedip.
“Kenapa bengong?” tanya Irvin.
“Kamu bercanda kan?”
“Ngga.. sebenernya aku udah lama mau ngomong ini. Cuma karena aku sibuk jadi lupa,” jawab Irvin santai seraya menyandarkan punggungnya dan melipat kedua tangannya di depan dada.
“Apa alasan kamu minta putus?” tanya Maya sengit. Gadis itu tak terima diputuskan begitu saja oleh Irvin. Harusnya dia yang meminta putus bukan Irvin.
“Kamu selingkuh.”
Lagi, ucapan singkat Irvin membuat Maya terkejut, seperti habis mendengar suara petir di siang bolong. Perselingkuhannya yang sudah berjalan hampir setahun akhirnya sudah diketahui oleh Irvin.
“Nama selingkuhan kamu Rafka. Dia itu pengacara magang di firma hukum Sinaga and Partners, iya kan?”
“Dan kalian sudah berpacaran di belakangku 10 bulan lamanya,” lanjut Irvin karena Maya tak kunjung bersuara. Gadis itu semakin terhenyak mendengar penuturan Irvin.
“Sejak kapan kamu tahu?”
“Tujuh bulan yang lalu.”
“Hah??”
Maya semakin dibuat terkejut, ternyata Irvin sudah mengetahui perselingkuhannya sejak lama. Dan pria itu hanya diam saja setelah mengetahui pengkhianatannya.
“Kalau kamu tahu sejak lama, kenapa baru sekarang minta putus?”
“Sengaja. Tadinya aku nunggu kamu yang minta putus, tapi ternyata ngga kamu lakukan. Kamu mau main aman ya, berpegangan pada dua sisi. Kalau hubunganmu ngga berhasil dengan Rafka, kamu masih punya aku, begitu kan? Tapi asal kamu tahu, aku bukannya ngga mau memutuskanmu. Aku hanya menunggu waktu yang tepat.”
“Dan sekarang waktu yang tepat?”
“Iya karena aku sudah menemukan wanita yang kucintai.”
Maya berdecih, ternyata selama ini Irvin mempermainkannya. Namun entah mengapa hatinya merasa cemburu dan tak terima mendengar Irvin sudah menemukan wanita lain.
“Aku ngga mau putus dari kamu. Aku akui aku salah udah selingkuh, aku akan putuskan Rafka. Ayo kita lanjutkan hubungan kita. Aku sebenarnya masih sayang kamu, Vin. Cuma kamu terlalu sibuk dan kurang perhatian. Itu yang buat aku selingkuh,” Maya memegang tangan Irvin, namun langsung ditepis oleh pria itu.
“Aku ngga peduli kamu masih cinta aku atau ngga. Yang pasti aku mau putus.”
“Aku ngga mau putus sama kamu.”
“Terserah. Kita ini cuma pacaran, bukan menikah. Mau kamu teriak-teriak seperti apa, hubungan kita bisa berakhir kapan saja karena ngga ada kewajiban buatku untuk terus bersamamu. Berpikir dan bertindaklah sesukamu, tapi aku tetap ngga mau melanjutkan hubungan ini. Mulai sekarang kita berdua sudah tidak ada hubungan lagi dan lebih baik tidak usah bertemu lagi ke depannya, ok. Good luck with Rafka.”
Irvin segera beranjak dari duduknya dan melenggang pergi dengan tenangnya. Sementara itu Maya hanya tergugu di tempatnya. Sungguh dia tak rela hubungannya berakhir dengan Irvin seperti ini. Harusnya dia yang meminta putus dan membuat Irvin menyesal karena sudah mengabaikannya, memohon dirinya untuk kembali. Nyatanya keadaan justru berbalik. Maya memukul meja dengan kesal. Pikirannya terus tertuju pada Irvin, bahkan panggilan Rafka diabaikan olehnya.
☘️☘️☘️
Sesuai janjinya, esok hari Irvin datang menjemput Anya. Gadis itu memilih membawa sarapannya dari pada sarapan bersama dengan keluarga. Bukan karena tak ingin membuat Irvin menunggu, tapi demi menghindari pertanyaan dari kedua orang tua dan kakaknya. Irvin yang rajin berkunjung ke rumah akhir-akhir ini tentu saja membuat curiga anggota keluarga.
Anya segera naik ke mobil sebelum pria itu turun. Dengan isyarat, dia meminta Irvin untuk segera menjalankan kendaraan. Gadis itu mengeluarkan kotak bekal yang dibawanya, dua buah potong sandwich terdapat di dalamnya.
“Abang belum sarapan?”
“Belum.”
“Ya udah, nih satu buat abang,” Anya menyodorkan kotak bekal di tangannya ke arah Irvin.
“Aku lagi nyetir. Suapin dong.”
Hanya desisan yang keluar dari mulut Anya. Namun tak ayal tangannya bergerak mengambil sepotong sandwich dari dalam kotak bekal. Perlahan dibukanya plastic wrap yang membungkus sandwich lalu mengarahkannya ke mulut Irvin.
“Hmm.. enak. Pasti bukan kamu yang buat,” seru Irvin.
“Emang. Aku kan ngga bisa masak. Cuma bisa buat kue, itu juga langsung dibuang sama abang sebelum dicicipin,” sindir Anya.
“Aku kan udah minta maaf. Masih dendam ya?”
“Abang ngga tahu perjuangan aku pas bikinnya. Aku bangun jam empat pagi buat bikin kue spesial buat abang. Ngehias kuenya juga butuh perjuangan.”
Irvin menepikan kendaraannya. Dilepaskan sabuk pengaman yang membelitnya lalu membalikkan tubuhnya menghadap Anya. Pria itu sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Anya.
“Maaf ya. Maaf udah ngga ngehargain kerja keras kamu. Aku harus apa supaya kamu mau maafin aku?”
“Ngga apa-apa, bang. Lupain aja.”
“Aku jahat banget ya, Nya. Makanya kamu ngga mau kasih aku kesempatan.”
Anya jadi tak enak sendiri melihat Irvin yang merasa bersalah. Wajah ceria pria itu berubah menjadi sendu. Padahal tak ada maksud untuk membuat Irvin bersedih.
“Ngga bang, ngga gitu. Lupain aja ya. Ini makan lagi sandwichnya,” Anya memperlihatkan sandwich di tangannya.
“Ngga, udah kenyang.”
Irvin menjauhkan tangan Anya yang memegang sandwich. Pria itu kembali ke posisinya semula. Tangannya menarik sabuk pengaman lalu memakaikan lagi ke tubuhnya. Baru saja hendak menjalankan kendaraan, terdengar suara Anya.
“Kalau abang ngga mau habisin sandwichnya, aku ngga mau kasih kesempatan.”
Mendengar itu, Irvin langsung menyambar sandwich di tangan Anya lalu memasukkan sekaligus ke mulutnya. Anya tak bisa menahan tawanya melihat mulut Irvin yang penuh dengan makanan. Mulut pria itu bergerak-gerak, mencoba mengunyah makanan yang ada di dalamnya. Setelah bersusah payah, akhirnya sandwich itu berhasil masuk ke perutnya. Dia mengambil botol air mineral lalu meneguknya sampai habis setengah.
“Habis ya, Nya. Kamu harus tepatin janji kasih aku kesempatan.”
“Iya bang, iya.”
Senyum Irvin terbit, kakinya bergerak menekan pedal gas. Mobil yang sempat berhenti akhirnya kembali melaju. Anya mengambil sandwich yang tersisa lalu mulai memakannya. Gadis itu mengulum senyum melihat aksi Irvin barusan.
☘️☘️☘️
Anya bergegas menuju parkiran begitu mendapat kabar dari Irvin kalau pria itu sudah ada di tempat parkir. Dengan langkah panjang dia mendekati mobil lalu masuk ke dalamnya. Irvin langsung tancap gas begitu Anya masuk ke dalam mobil.
“Kita kemana dulu nih, bang?”
“Ke jalan Sumatra. Syuting video klipnya di salah satu rumah yang ada di sana.”
“Syuting video klip siapa bang?”
“Andito.”
__ADS_1
“Andito? Asik.. aku suka banget loh sama Andito. Lagunya enak-enak, suaranya juga bagus dan ganteng hihihi..”
Pujian demi pujian terus diberikan Anya pada Andito, penyanyi solo pria yang tengah naik daun. Penyanyi muda itu memang memiliki banyak penggemar dan rata-rata para gadis yang menjadi pemujanya. Mendengar Anya memuji Andito, karuan saja membuat Irvin cemburu.
“Biasa aja mujinya.”
“Andito emang beneran ganteng, bang.”
“Aku ngga suka kamu muji cowok lain.”
“Kenapa?”
“Aku cemburu.”
“Dih..”
Anya membuang wajahnya ke jendela samping, namun segurat senyum nampak di wajahnya. Hatinya tiba-tiba senang mendengar Irvin cemburu. Diliriknya Irvin yang hanya menatap lurus ke depan. Wajahnya nampak cemberut, sepertinya pria itu memang cemburu.
Akhirnya mobil yang dikendarai Irvin tiba juga di lokasi syuting. Anya sudah tidak sabar melihat Andito. Wajah gadis itu berbinar saat melihat langsung salah satu penyanyi favoritnya. Namun belum sempat Anya berkenalan, Irvin telah mengajaknya pergi lagi. Dengan wajah cemberut Anya mengikuti Irvin masuk ke dalam mobil.
“Sebentar banget sih, bang,” protes Anya.
“Kan aku masih harus ninjau dua lokasi syuting lagi,” kilah Irvin. Padahal dia sengaja tak berlama-lama di sana. Takut Anya malah melabuhkan hati pada penyanyi tersebut.
“Aku kan belum kenalan.”
“Nanti aku kenalin.”
“Kapan?”
“Kalau kamu udah jadi istriku.”
“Ish..”
Irvin tergelak melihat ekspresi Anya. Spontan tangannya bergerak mengusak puncak kepala gadis itu. Perjalanan menuju lokasi syuting kedua terus berlanjut, namun tak ada pembicaraan sama sekali. Anya masih dalam mode ngambek.
Di lokasi kedua, Irvin pun tak berlama-lama, hanya sekitar sepuluh menit saja. Setelah itu dia kembali mengajak Anya pergi. Tempat syuting ketiga jaraknya cukup jauh. Lokasinya berada di daerah Parongpong. Dengan kecepatan sedang, Irvin memacu kendaraannya menuju arah Ledeng.
“Nya, laper ngga?” akhirnya Irvin memecah kebisuan di antara mereka.
“Belum terlalu.”
“Kamu mau makan dulu apa nanti beres dari lokasi syuting?”
“Lama ngga?”
“Ngga terlalu."
“Ya udah nanti aja deh abis lihat syuting biar makannya tenang.”
“Ok cantik.”
“Ish…”
Lagi-lagi Irvin tergelak melihat ekspresi Anya. Kali ini gombalannya sukses membuat pipi gadis itu memerah. Kalau bisa dia ingin seperti ini setiap hari, pergi bekerja dengan ditemani gadis tercintanya.
Irvin membelokkan mobilnya memasuki sebuah penginapan yang dijadikan tempat syuting. Beberapa mobil sudah berjajar di halaman penginapan yang cukup luas. Sekilas Irvin melihat mobil sang papa terparkir di sana. Setelah memarkirkan kendaraannya, Irvin mengajak Anya untuk turun.
Lalu lalang kru yang tengah mempersiapkan peralatan syuting langsung menyapa indra penglihatan Anya. Irvin mendatangi sutradara yang sedang berbicara dengan asistennya. Setelah berbincang sebentar, Irvin bermaksud mencari keberadaan papanya, namun tak disangka dia malah bertemu dengan Maya. Ternyata Maya menjadi salah satu artis pendukung di film tersebut.
“Irvin..” panggilnya.
“Apa?”
“Aku ngga nyangka kamu bakal ke sini juga. Aku pikir cuma om Radix aja yang ninjau.”
“Di mana papa?”
“Tadi sih lagi ngobrol sama salah satu kru. Vin, kita balikan ya?” Maya memegang lengan Irvin.
“Mas Irvin..”
Maya menoleh begitu mendengar suara wanita memanggil nama mantan kekasihnya. Sambil berlari kecil, Anya menghampiri Irvin. Dengan cepat dia melepaskan pegangan tangan Maya. Kini gilirannya yang memeluk lengan Irvin dengan manja.
“Vin.. siapa dia?”
“Kenalin, aku Anya. Aku istrinya mas Irvin.”
“Istri?”
Baik Maya maupun Irvin terkejut mendengar pengakuan Anya. Tapi Irvin membiarkannya saja. Pria itu senang mendengar Anya mengaku sebagai istrinya, dalam hati dia buru-buru mengamini perkataan gadis itu agar dicatat oleh malaikat.
“Mas.. aku laper.”
“Kamu mau makan apa?”
“Aku mau makan kue ape.”
“Hah? Mana ada tukang kue ape di sini.”
“Cari mas. Bukan aku yang mau, tapi calon anak kita,” Anya mengusap perutnya yang rata. Tawa Irvin hampir saja meledak mendengar ucapan Anya, berbeda dengan Maya yang matanya hampir mencuat keluar.
“Vin, ini ngga bener kan? Kamu belum nikah kan?”
“Emang mas belum bilang?”
“Eh.. ngga usah sok jadi artis ya, lo. Akting lo jelek tau. Emangnya gue percaya gitu, kalau Irvin udah nikah sama elo? Gue ini udah pacaran sama dia selama dua tahun.”
“Ya terserah lo mau percaya atau ngga. Gue paham sih kenapa lo nyinyir kaya gini. Lo yang dipacarin dua tahun tapi gue yang dibayar tunai,” Anya menutup mulut dengan tangannya agar suara tawanya tak terlalu kencang.
“Vin…” Maya terus berusaha mendapat jawaban dari Irvin.
“Makanya mba, kalau punya pacar itu dijaga. Punya pacar baik malah diselingkuhin, jadi sah dong kalau gue tikung. Asal mba tahu ya, mas Irvin tuh perkasa banget loh di ranjang. Buktinya, baru sebulan nikah, cebongnya udah berbuah.”
Irvin memalingkan wajahnya ke arah lain. Sebisa mungkin dia menahan tawa yang hendak meledak. Melihat Maya yang terlihat shock, Anya semakin senang mengerjainya. Sudut mata gadis itu menangkap Radix yang tengah berjalan ke arah mereka. Dengan cepat Anya melepaskan tangan Irvin lalu mendekati Radix.
“Papa..”
**☘️☘️☘️
Kira² gimana reaksi Radix ya???
Yang nunggu Kenan sabar ya, nanti juga doi nongol lagi. Dia lagi nyusun gombalan dulu buat Zahra🤣🤣🤣
Buat readers yang mau masuk GC Ichageul, tinggal ketuk pintu aja ya😉**
__ADS_1