KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Hitut


__ADS_3

Semilir angin yang membawa kesejukan langsung menerpa kulit Kevin ketika pria itu turun dari mobil. Tak lama kemudian Rindu menyusul turun. Dia segera menghampiri Kevin kemudian mengajak suaminya itu menuju rumah kedua orang tuanya.


Saat ini pasangan pengantin baru sudah berada di kampung halaman Rindu, tepatnya di kecamatan Kawalu. Kevin menggandeng tangan Rindu berjalan menuju rumahnya yang letaknya hanya beberapa meter dari tempatnya memarkirkan mobil. Beberapa tetangga yang melihat kedatangan mereka mulai berbisik-bisik. Pembicaraan mereka tentang ketampanan Kevin dan betapa beruntungnya Rindu diperistri olehnya.


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam. Eh anak ambu sudah datang.”


Ambu menyambut kedatangan anak dan menantunya. Kevin dan Rindu mencium punggung tangan wanita itu. Rindu masuk ke dalam kamarnya, untuk meletakkan tas pakaian. Sementara Kevin memilih duduk di ruang tamu.


“Abah mana?”


“Abah kamu lagi lihat orang dari WO yang lagi ngedekor pelaminan sama panggung. Kevin, sok istrirahat aja dulu, pasti cape habis perjalanan jauh. Neng, bawa suami kamu ke kamar.”


“Iya ambu. Ayo bang.”


Rindu menarik tangan Kevin masuk ke dalam kamarnya. Pria itu memandangi kamar berukuran 3x4 yang didominasi warna pink. Dia merebahkan tubuhnya di atas ranjang kayu. Terdengar bunyi berderak ketika tubuh besarnya mendarat di atas kasur kapuk beralaskan seprai motif helo kitty.


Rindu ikut berbaring di sisi Kevin lalu memeluk pinggang lelaki itu. Rindu menyurukkan kepalanya ke ketiak sang suami. Sudah seminggu ini dia senang sekali menghirup aroma tubuh suaminya, terutama di bagian ketiaknya.


“Abang..”


“Hmm..”


“Pengen.”


“Pengen apa bee?”


“Pengen itu.”


Rindu memainkan jarinya di dada bidang Kevin. Tangannya menelusup masuk ke dalam kaos yang dikenakannya lalu mengusap dada yang ditumbuhi bulu halus. Kevin menggeram mendapat sentuhan nakal dari sang istri.


“Bee..”


“Pengen abang.”


Kevin memandangi wajah sang istri. Semenjak kejadian menonton film action, istrinya bukan hanya bertambah agresif tapi juga sering meminta jatah tak kenal waktu. Kadang pagi sebelum berangkat kerja atau tengah malam.


“Jangan sekarang bee.. banyak orang di rumah.”


“Tapi aku pengen.”


Rindu merajuk seperti anak kecil yang meminta permen. Matanya mulai berkaca-kaca, Kevin semakin tak mengerti dengan sikap istrinya ini. Diraihnya tengkuk Rindu kemudian me**mat bibir tipis sang istri. Rindu memeluk leher Kevin, dia membalas lu**tan Kevin dengan menggebu.


“Bee..” panggil Kevin setelah mengakhiri ciuman mereka. Kevin menyatukan keningnya di kening sang istri.


“Pengen, abang.”


Tak tega melihat Rindu yang terus merengek, akhirnya Kevin memulai cumbuannya. Dia melepaskan pakaian yang melekat di tubuh mereka kemudian melanjutkan aktivitas panas mereka. Kevin terus meng*lum bibir Rindu agar de**hannya tak keluar saat dirinya memompa miliknya di dalam sarang lembab kesukaannya.


Tubuh Rindu bergetar dengan tangan memeluk erat punggung Kevin saat dirinya mencapai puncaknya. De**hannya tertahan oleh lu**tan Kevin di bibirnya. Tak lama Kevin pun menyusul meraih kepuasannya. Diciumnya kening sang istri penuh kasih sayang. Kevin menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka kemudian merengkuh tubuh mungil Rindu ke dalam dekapannya. Keduanya terlelap setelah melakukan pertempuran singkat namun cukup menguras tenaga.


☘️☘️☘️


Sore harinya Rindu mengajak Kevin ke rumah bibinya. Begitu mendengar di rumah adik dari abahnya, ibu-ibu tengah membuat oleh-oleh yang akan dibawa para tamu pulang, Rindu bersemangat untuk melihat. Di benaknya sudah terbayang legitnya kue bugis dan manisnya kolontong yang seketika membuat air liurnya hendak menetes.


Sebelum ke rumah bibi, Rindu mengajak Kevin melihat panggung pelaminan dan hiburan untuk resepsi mereka besok. Resepsi rencananya akan dilaksanakan di sebuah tanah lapang yang kerap dijadikan tempat bermain bola para pemuda di kampung ini.

__ADS_1


Abah menggelar resepsi anak keduanya ini besar-besaran. Banyak acara hiburan yang nantinya disuguhkan untuk penduduk setempat. Dimulai dari pengajian bersama yang diisi tausyiah oleh dai kondang. Lalu lanjut dengan penampilan marawis. Siang hingga sore hari diisi dengan pentas dangdut dan malamnya diakhiri dengan pertunjukkan wayang golek.


Abah seakan ingin menunjukkan pada Rafli kalau anak gadisnya yang pernah ditolak sebagai pembayar hutang bisa mendapatkan lelaki yang lebih mapan dan tampan dari pemuda itu. Rasa malu yang dirasakannya saat itu dibayar tunai oleh abah esok hari.


Panggung pelaminan sudah selesai dibuat, hanya tinggal pemasangan tenda dan dekorasinya saja. Sementara panggung hiburan masih dalam tahap pengerjaan. Puas melihat-lihat di sana, Rindu mengajak Kevin menuju rumah bi Neneng. Kedatangan pengantin baru sontak disambut oleh kehebohan ibu-ibu yang tengah bergotong royong membuat oleh-oleh khas kota santri ini.


“Euleuh neng Rindu meni geulis. Beda nya aurana mah upami tos nikah (neng Rindu cantik banget. Beda ya auranya kalau sudah nikah),” celetuk salah seorang ibu yang tengah menggoreng rangginang.


Rindu hanya membalas pujian sang ibu dengan senyuman saja. Melihat kedatangan keponakannya, bi Neneng segera mengajak Rindu ke meja makan. Di sana sudah tersedia aneka hidangan yang disukai wanita bertubuh mungil itu. Air liur Rindu hampir menetes melihat kue bugis, kalua, ladu, wajit, naga sari dan tak lupa ketan serundeng kesukaannya.



Dia segera menarik tangan Kevin untuk duduk menemaninya di meja makan. Diterangkan satu per satu makanan yang tersaji di atas meja. Kevin mengambil sebuah kalua lalu memakannya.


“Enak kan bang? Itu dibuatnya dari kulit jeruk bali.”


Kevin hanya manggut-manggut saja. Tak lama bi Neneng datang dari dapur dengan membawa piring bersisikan burayot. Mata Rindu berbinar melihat makanan yang sulit sekali didapatkan di Bandung. Bi Neneng meletakkan piring di atas meja. Kening Kevin berkerut melihat makanan yang baru pertama kali dilihatnya.



“Ini namanya burayot bang. Camilan kesukaan kang Mus preman pensiun. Cobain deh, enak loh. Mumpung masih anget bang.”


Rindu mengambil sepotong burayot lalu menyuapkannya ke mulut Kevin. Teksturnya sedikit kenyal dan rasanya perpaduan antara gurih dengan manis. Rindu mengambil sepotong lagi lalu memasukkannya ke dalam mulut sekaligus.


Bi Neneng kembali datang dengan membawa nampan yang berisikan olahan kering yang nantinya akan dijadikan buah tangan untuk keluarga dan kerabat Kevin yang datang dari Bandung. Diletakkannya nampan tersebut di atas meja. Lagi-lagi Rindu menerangkan camilan apa saja yang telah terbungkus rapih.


“Ini oleh-oleh buat dibawa pulang, bang. Ini rengginang oyek, opak, kolontong, kemplang sama sale pisang.”



“Kalau kolontong, manis ya rasanya?”


“Iya, abang juga tahu kalau itu.”


Rindu mengambil satu buah ladu, makanan yang terbuat dari tepung ketan hitam. Rasanya manis tapi tidak terlalu manis seperti dodol. Ladu banyak diproduksi secara rumahan di daerah Malangbong. Sekarang banyak yang menjadikan ladu sebagai buah tangan selain dodol.


“Bang, akhir-akhir ini kok aku doyan makan banget ya.”


“Ngga usah heran. Kamu kan emang rewog.”


“Ish abang. Udah jadi suami masih aja pedes mulutnya ama aku.”


Kevin mengambil ketan serundeng kemudian memakannya. Soal nafsu makan Rindu yang bertambah dua kali lipat tidak membuatnya aneh. Yang membuatnya heran adalah sikap sang istri yang sudah seperti ulet bulu akhir-akhir ini. Tak jarang Rindu memintanya pulang cepat dengan alasan kangen dan ingin dipeluk olehnya. Sepertinya Kevin harus cepat-cepat pindah rumah. Sudah dua kali mereka terpergok tengah berciuman oleh mama dan kakak iparnya.


Diliriknya Rindu yang tengah asik menikmati camilan. Bugis, naga sari, ketan, ladu, kalua, burayot tak berhenti disuapkan ke mulutnya. Kevin takjub dengan daya tampung lambung sang istri yang seperti karet saja. Di tengah keasikannya makan, tiba-tiba Rindu mengeluh.


“Aduh.. perut aku kayanya begah bang,” Rindu memegangi perutnya yang terasa begah.


“Kamu dari tadi makan terus sih.”


“Kenapa Rin?” tanya bi Neneng yang kembali datang dengan membawa dua gelas teh tawar hangat.


“Perutnya begah katanya bi.”


“Nih minum dulu air angetnya. Terus istirahat aja di kamar Imam. Gosok perutnya pakai minyak kayu putih.”


Bi Neneng mengambil botol minyak kayu putih yang ada di atas kulkas lalu memberikannya pada Rindu. Pelan-pelan Kevin membawa sang istri masuk ke dalam kamar. Mereka harus melewati sekumpulan ibu-ibu yang tengah membungkus wajit, bugis dan naga sari.

__ADS_1


Rindu berbaring di atas kasur disusul Kevin yang duduk di sebelahnya. Diangkatnya kaos Rindu kemudian mengoleskan minyak kayu putih ke atasnya. Kevin terus mengusap perut sang istri. Rindu memejamkan matanya, menikmati usapan sang suami yang terasa begitu nyaman. Tiba-tiba...


DUUUUT


DUT DUT DUT


DUUUUUT


Rentetan tembakan dari bokong Rindu terdengar memenuhi ruangan kamar. Kevin yang tengah mengusap perut istrinya terkejut dibuatnya. Rindu hanya terkikik untuk menutupi rasa malunya. Dengan kesal Kevin menyentil pelan kening sang istri.


“Ngga sopan, suami lagi ngobatin malah dikentutin.”


“Maaf bang, kelepasan hihihi... jangan diisep bang, bau kayanya.”


Kevin langsung menutup hidungnya dengan bantal. Aroma yang keluar memang begitu semerbak. Sudah kencang, bau pula, lengkap sudah bom molotov milik Rindu. Namun pasangan suami istri itu tak menyadari kalau dentuman tadi sempat terdengar oleh gerombolan ibu-ibu yang ada di depan kamar yang mereka tempati.


“Euleuh sora naon eta? (waduh, suara apa itu?),” celetuk salah seorang ibu.


“Bom molotov,” jawab yang lain sambil terkikik geli.


“Saha anu hitut? Meni kirang ageung sorana (siapa yang kentut? Ngga kurang besar tuh suaranya?)”


“Ai hitutna tarik kitu mah puguhan carogena neng Rindu. Moal mungkin hitutna si eneng (kalau kentut kenceng kaya gitu udah pasti suaminya Rindu. Ngga mungkin si eneng.)”


Kevin membelalakkan matanya mendengar tuduhan tak berdasar ibu tersebut. Walau tidak bisa berbicara Sunda namun dia paham apa yang didengarnya. Kevin dan Rindu memang bisa dengan jelas mendengar perbincangan mereka karena suaranya lumayan keras juga. Rindu menutup mulut dengan tangannya, menahan tawa yang hendak meledak.


“Teu nyangka, cep Kevin anu kasep hitutna kaos kitu (ngga nyangka Kevin yang ganteng, kentutnya kaya gitu).”


"Teras kedah kumaha atuh hitutna? Pess pess pess.. kitu? (terus harus gimana gitu kentutnya? pess.. pess.. pess.. gitu?)."


“Kade ah eta hitut kaluar jeung bukurna (awas aja itu kentut keluar sama ampasnya).”


Celetukan terakhir sontak mengundang tawa yang lain. Wajah Kevin memerah menahan kesal. Rindu yang berbuat tapi dia yang terkena getahnya. Sungguh ini adalah fitnah terkejam yang pernah diterima sepanjang hidupnya.


“Kamu tuh, volumenya ngga bisa dikecilin apa?” kelutus Kevin dengan suara pelan.


“Ya maaf bang, siapa juga yang bisa ngatur volume suara kentut hihihi. Pulang yuk bang.”


“Ngga mau, nanti aja.”


“Ini ambu udah nyuruh pulang,” Rindu menunjukkan pesan dari ambunya.


“Nanti aja nunggu tuh ibu-ibu bubar. Malu tahu, disangkanya beneran abang yang kentut.”


“Malem bang bubarnya mereka. Bi Neneng bikin bugis dan kawan-kawannya sepuluh kilo tiap macemnya. Jam berapa coba kita mau pulang?”


Kevin berpikir sejenak, jika mereka terus bertahan di dalam kamar tak mungkin juga. Sebentar lagi maghrib, mau tak mau dia harus keluar untuk berwudhu. Keluar nanti atau sekarang sama saja malunya. Akhirnya dia memutuskan mengikuti saran Rindu.


“Punten bu-ibu.”


Ucap Rindu begitu keluar dari kamar melewati sekumpulan ibu-ibu yang masih sibuk membungkus camilan. Tangannya memegang erat tangan Kevin yang berjalan di belakangnya. Beberapa dari mereka menatap Kevin dengan pandangan yang sulit diartikan. Sebisa mungkin Kevin memasang wajah datarnya. Sungguh tidak enak dipandang sebagai pelaku pencemaran udara dan suara, sedang pelaku sebenarnya melenggang tenang dengan wajah tanpa dosanya.


☘️☘️☘️


**Siapa yang pernah kena fitnah kejam kaya gitu???🤣🤣🤣


Siapa yang udah coba burayot? Enak loh beneran deh😁

__ADS_1


Karena rasa sayang mamake, mamake up 2x hari ini buat kalian😘😘😘


Komen yang banyak ya, kali aja besok jempol mamake kepeleset jadi up 2x😜**


__ADS_2