
Hari yang dijanjikan Gurit untuk menikahi Syakira tiba. Wanita itu memilih menikah di rumah kontrakannya. Selain untuk membuktikan ucapan mereka, dia juga malu kalau harus menikah lagi di kampung halamannya. Selama ini Syakira selalu menjadi bahan gunjingan para tetangga karena dalam kurun waktu empat tahun sudah tiga kali menikah juga bercerai.
Tak kuat dengan gunjingan para tetangga, Syakira memutuskan untuk hijrah ke Bandung. Mencoba peruntungan di dunia entertainment. Semua hasil yang didapatnya sekarang tentu saja untuk buah hatinya tercinta, Muhammad Akmal. Anak berusia empat tahun itu adalah buah cintanya bersama mantan suami keduanya.
Suasana rumah kontrakan Syakira sudah ramai dengan para tetangga yang membantu mempersiapkan acara nikahan dadakan tersebut. Warga juga sudah mengetahui kalau ternyata penggerebekan dua malam lalu hanyalah kesalahpahaman. Teddy terpaksa turun tangan menjelaskan semuanya demi menjaga nama baik pengantin. Atas nama warganya, pak RT juga sudah meminta maaf sudah salah paham. Karena sudah terlanjur, acara pernikahan tetap diadakan.
Tenda sudah terpasang di depan rumah. Kursi-kursi juga sudah disusun berjajar. Walau hanya mengadakan akad nikah saja, namun tetap pasangan tersebut mengadakan syukuran kecil-kecilan untuk keluarga juga para tetangga dekat. Acara pernikahan dadakan ini ditangani oleh Rayi. Tak banyak yang disiapkannya, hanya gaun akad, dekorasi, make up dan konsumsi saja. Walau sederhana, namun Rayi memesan makanan dari catering ternama.
Orang tua Gurit merasa tak enak hati karena tak mempercayai sang anak. Mereka juga malu pada Teddy. Pria itu bukan hanya membiayai pernikahan anaknya tapi juga maju membela serta membersihkan nama baik Gurit. Ayah Gurit yang sudah datang sejak jam enam pagi, menyambut Teddy yang baru saja tiba.
“Selamat datang pak Teddy,” ayah Gurit menjabat tangan Teddy.
“Terima kasih pak. Bagaimana, semua sudah siap?”
“Alhamdulillah, hanya tinggal menunggu penghulunya saja. Secara pribadi saya berterima kasih karena bapak sudah bantu membersihkan nama anak saya. Saya juga minta maaf karena sudah merepotkan pak Teddy dan keluarga. Pernikahan ini harusnya menjadi tanggung jawab saya, tapi justru pak Teddy yang menanggungnya.”
“Saya tidak merasa direpotkan pak. Gurit itu sahabat anak saya, saya sudah menganggapnya seperti anak sendiri. Dan soal biaya pernikahan, saya memang sudah berjanji pada Gurit sebelumnya. Tolong jangan merasa sungkan atau malu. Kita adalah keluarga pak.”
“Sekali lagi terima kasih pak.”
“Sama-sama.”
Percakapan mereka terhenti ketika penghulu yang ditunggu datang juga. Semua yang berkepentingan segera masuk ke dalam rumah untuk melakukan dan menyaksikan akad nikah. Teddy diminta menjadi saksi dari pihak Gurit. Pria itu sudah duduk di depan meja akad. Begitu pula Gurit, ayah Syakira, saksi dari pihak keluarga Syakira dan tentu saja sang penghulu.
Sekar beserta suami dan kakak-kakaknya juga sudah datang. Demikian juga dengan Rindu dan Kevin. Jojo juga menyempatkan diri datang menyaksikan pernikahan Gurit, walau sebenarnya dia mempunyai jadwal meeting. Tapi demi sang istri yang ingin menyaksikan pernikahan temannya, Jojo terpaksa mengalah.
Radix juga datang bersama dengan Nabila. Pemuda itu tak percaya sahabatnya mengakhiri masa lajangnya lewat pernikahan fenomenal. Semuanya duduk di kursi yang tertata di depan rumah. Menanti detik-detik Gurit mengucapkan ijab kabul.
Gurit menarik nafas beberapa kali. Pemuda itu nampak gagah dalam balutas jas berwarna hitam. Teddy menepuk pundak Gurit, membuat kegugupan pemuda itu sedikit berkurang. Setelah urusan administrasi selesai, sang penghulu mempersilahkan pada ayah Syakira memulai ijab kabul. Dengan mantap pria itu menggenggam tangan Gurit.
“Ananda Gurit Agung Pradipta, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya, Syakira Febriani binti Yayat Supriyatna dengan mas kawin seperangkat alat shalat dibayar tunai!”
“Saya terima nikah dan kawinnya Syakira Febriani binti Yayat Supriyatna dengan mas kawin seperangkat alat shalat dibayar tunai!”
“Bagaimana para saksi, sah?”
“SAAAAAAHHHHH!!!”
Suara kedua saksi pernikahan tenggelam dengan suara teriakan dari luar saat menjawab sah, pelakunya tak lain kelima pria somplak plus Radix dan Anfa. Sang penghulu terlonjak kaget saking kerasnya teriakan mereka. Dia meraba dadanya seraya menggelengkan kepala saat mensahkan pernikahan pasangan di depannya.
Syakira keluar dari kamar ditemani oleh ibunya juga Rahma. Dia kemudian duduk di samping Gurit yang kini telah sah menjadi suaminya. Gurit memasangkan cincin pernikahan yang terbuat dari emas seberat 5 gram. Cincin itu dibelinya dari honor film perdananya yang mungkin juga film terakhirnya.
Syakira juga menyematkan cincin berbahan perak ke jari manis Gurit kemudian mencium punggung tangannya dengan takzim. Gurit meraih bahu sang istri kemudian mendaratkan ciuman lembut di keningnya. Sorakan dari arah luar langsung terdengar.
“Sah euy!” Anfa.
“Udah jadi mantan jomblo sekarang!” Radix.
“Bawa ke kamar!” Cakra.
“Jebol gawang!” Juna.
“Awas jangan salah masuk!” Abi.
“Lubangnya di depan!” Jojo.
“Jangan lupa men**sah!” Kevin.
Semua langsung melihat ke arah Kevin yang ikutan latah memberikan semangat pada pasangan pengantin namun dengan suara datarnya dan wajah tanpa ekspresi. Tak lama gelak tawa pecah di antara mereka. Para tetangga yang turut menyaksikan jalannya akad nikah tak bisa menahan senyumnya melihat tingkah konyol pria tersebut. Ternyata ucapan deretan pria tampan itu tak serapih jas yang mereka kenakan.
Gurit yang mendengar teriakan dari arah luar, tak bisa berbuat apa-apa selain merutuk dalam hati. Diliriknya orang-orang yang ada di meja akad. Semua nampak tersenyum sambil memandangi dirinya. Namun sebisa mungkin Gurit berusaha tenang dan tak terpengaruh suara-suara sember di luar yang masih saja meneriakkan kata-kata absurd.
Akhirnya celotehan para tamu durjana berhenti ketika penghulu memberikan nasehat seputar pernikahan yang dilanjut dengan rentetan nasehat dari para orang tua. Usai acara yang mengharu biru, tuan rumah mempersilahkan para tamu undangan untuk menyicipi hidangan yang tersedia.
Seorang anak kecil berlari menuju Syakira sambil menyebut kata mama. Syakira menyambut Akmal, kemudian menggendongnya. Tangan Akmal melingkar di leher sang mama. Terlihat kerinduan di kedua bola mata anak itu.
“Mama.. Amal angen,” Akmal memang masih belum bisa mengucapkan namanya dengan benar.
“Mamaaahhh jugaaahh,” Syakira menciumi wajah anaknya.
“Akmal,” panggil Gurit.
Anak bernama Akmal itu menengok ke arah Gurit. Senyumnya mengembang lalu dia merentangkan tangannya ke arah Gurit. Dengan senang Gurit mengambil Akmal dari gendongan istrinya. Walau kedekatan mereka baru saja terjalin, namun Akmal sudah begitu dekat dengannya.
“Akmal mau es krim ngga?”
“Mau om.”
“Manggiilhhnyaahh papaahh syekaraanghh sayaanghh,” ucap Syakira pada Akmal.
“Papa? Ukan om agi?” Syakira mengangguk, Akmal ikutan mengangguk. Gurit tersenyum bahagia melihatnya.
“Ayo kita ambil es krim.”
Dengan Akmal berada dalam gendongannya, Gurit mengajak Akmal ke stand es krim. Setelah mengambil es krim, Gurit mengajak Akmal bertemu dengan para sahabatnya. Kedatangan Gurit beserta anak sambungnya tentu saja kembali memancing celotehan unfaedah dari para pria tak berakhlak.
“Widih udah akrab aja nih ama anaknya,” Radix.
“Buy one get two ya Rit,” Anfa.
“Mendadak nikah mendadak jadi bapak juga ye,” Cakra.
“Jangan galak-galak ama anaknya,” Juna.
“Waduh si Gurita nyalip gue jadi bapak,” Jojo.
“Derita lo,” Kevin mengomentari ucapan Jojo.
“Tuh anak ngomongnya men**sah juga ngga?”
Gurit hanya mendengus mendengar ucapan Abi. Dia mendudukkan diri di salah satu kursi yang kosong dengan Akmal berada di pangkuannya yang tengah asik menikmati es krim. Kemudian pandangannya tertuju pada seorang pria jangkung yang baru saja datang. Pria itu langsung menghampiri Syakira. Mata Gurit yang tak lepas memandangi pria tersebut, mengundang rasa penasaran Radix.
“Siapa tuh?” tanya Radix.
“Mantannya Syaki, bapaknya Akmal.”
“Kok tau kalian nikah? Jangan-jangan CLBK nih,” goda Anfa.
“Kayanya sih dia emang masih ngarep, tapi si Syaki udah ngga mau.”
“Ya kalau dia mau bego aja. Udah diselingkuhin masih mau balikan,” celetuk Sekar.
“Ya ngga bakalan maulah. Kan sekarang udah dapet popcorn manis, ya ngga?” Rindu menaik turunkan alisnya menggoda sang sahabat.
“Manis sih manis, cuma sayang nikahnya tak semanis impian huahahaha,” Radix tertawa kencang.
__ADS_1
“Gue sumpahin nikahnya elo lebih membagongkan dari gue,” kesal Gurit.
Radix terus tertawa tanpa mempedulikan sahabatnya yang sudah keki berat. Baginya tak ada pernikahan yang lebih mencengangkan dari pada pernikahan Gurit dan Syakira. Gara-gara penggerebekan keduanya terpaksa mempercepat pertemuan dengan penghulu.
Rindu dan Sekar juga tak bisa berhenti tertawa. Namun tiba-tiba tawa Rindu berubah menjadi ringisan. Kevin yang tengah berbincang dengan Juna terkejut ketika merasakan cengkeraman di pergelangan tangannya. Sontak dia melihat ke arah sang istri.
“Bee.. kamu kenapa?”
“Ssshhh.. sa..kit ..bang.”
Rindu memegangi perutnya yang terasa sakit. Semua yang ada di sana cukup terkejut melihat keadaan ibu hamil itu.
“Rin.. lo kenapa? Kontraksi bukan?”
“Ka..yanya Se.. sshhh.. aaawww..”
“Bang.. itu Rindu kontraksi!”
“Kontraksi apaan?” tanya Kevin polos.
“Astaga nih calon bapak. Istri lo mau melahirkan woi!!”
Kevin terlonjak mendengar ucapan Abi. Dia langsung berdiri kemudian berlari keluar dari pekarangan rumah Syakira.
“Mau kemana lo?” tanya Juna.
“Ke rumah sakit.”
“Terus bini lo ditinggal gitu?” Jojo menunjuk ke arah Rindu.
“Oh iya.”
Kevin menepuk keningnya kemudian kembali ke tempatnya semula. Dia membantu sang istri berdiri kemudian memapahnya. Radix berinisiatif membantu pasangan itu. Dia menawarkan diri untuk menyetir mobil Kevin yang langsung disetujui pria itu.
Semua sahabat Kevin langsung berpamitan, mereka juga akan pergi ke rumah sakit. Teddy juga Rahma juga ikut pamit. Mereka bermaksud menyusul ke rumah sakit. Tinggalah Gurit yang hanya mampu memandangi kepergian para sahabatnya. Ingin rasanya dia ikut menyusul namun apa daya, tak mungkin juga dia meninggalkan syukuran pernikahan di saat masih banyak tamu yang hadir.
☘️☘️☘️
“Aaaaagghhh.”
Teriakan Kevin terdengar begitu Rindu menjambak rambutnya dengan kencang. Rasa sakit dari kontraksi yang dirasakannya membuat ibu hamil itu melampiaskannya pada sang suami. Melihat adegan pasutri di jok belakang, Radix yang tengah panik tak bisa menahan senyumnya.
“Radix cepetan!! Aaaggghh!”
Teriakan Kevin kembali terdengar. Kali ini lengannya yang terkena cubitan dari sang istri. Pria itu meringis sambil mengusap tangannya yang terasa panas terkena cubitan Rindu. Sekilas dia melihat Rindu yang mulai terlihat tenang, Kevin dapat bernafas lega. Namun tak lama kemudian teriakannya terdengar lagi ketika Rindu menjambak dengan keras rambutnya.
“Sabar bang, penderitaanmu sebentar lagi berakhir nih. Kita udah sampe.”
Radix membelokkan kendaraan memasuki area rumah sakit. Pemuda itu terus menjalankan mobil hingga ke depan pintu IGD. Dengan cepat dia turun kemudian membantu Kevin juga Rindu turun dari mobil. Dua orang perawat langsung menyambut pasangan suami istri tersebut.
Melihat Rindu sudah dibawa masuk, Radix kembali ke dalam mobil. Dia bermaksud memarkirkan kendaraan. Setelah memarkirkan kendaraan, pemuda itu terdiam sejenak, mencoba mengingat-ingat apa yang dilupakannya.
“Perasaan ada yang lupa, apa ya?”
Radix menyandarkan punggungnya ke jok sembari pikirannya terus bekerja mengingat hal yang terlewat. Getaran ponselnya membuyarkan lamunannya. Tertera nama Nabila di layar ponsel. Pemuda itu terlonjak ketika ingat apa yang dilupakannya.
“Astaga si Bila ketinggalan! Auto ngamuk nih.”
Radix menggeser ikon hijau di layar ponselnya. Perlahan dia mendekatkan benda pipih itu ke telinganya.
“Radiiiixxxx!!” terdengar teriakan tujuh oktaf Nabila dari seberang sana.
“Ngga usah! Aku udah ikut sama Sekar.”
“Aku tunggu di depan IGD ya yang..”
“Bodo amat!!”
Nabila memutuskan panggilan. Radix hanya dapat menarik nafas panjang. Dia harus menyiapkan hati juga telinganya, karena bisa dipastikan kekasihnya itu akan ngoceh panjang lebar. Pemuda itu segera turun dari mobil lalu berjalan menuju pintu masuk IGD.
☘️☘️☘️
“Aaaggghhh... sakit Bee... aaaggghhhh!!!”
Teriakan demi teriakan Kevin terus terdengar oleh semua orang yang ikut menunggui kelahiran anak pertama kulkas dua pintu itu. Keempat sahabat Kevin duduk manis sambil tak henti tertawa ketika mendengar teriakan pria itu. Delia berjalan mondar-mandir menunggu kelahiran cucunya.
Sementara itu Adinda dan Nadia tak bisa berhenti tertawa melihat Radix yang masih mendengarkan ceramah mamah Dedeh yang keluar dari mulut Nabila. Pemuda itu hanya pasrah ketika omelan panjang nan lama kekasihnya terus memasuki gendang telinganya.
“Aaaaggghhh!!!”
“Oweee.. oweee..”
Suara teriakan Kevin yang kemudian disusul tangisan bayi seketika membungkam mulut Nabila. Semua yang ada di ruang tunggu sama-sama mengucapkan syukur karena Rindu telah berhasil melahirkan anaknya. Tak lama pintu ruangan terbuka, Kevin muncul dengan penampilan tak karuan.
“Huahahahaha...”
Tawa para sahabat juga orang tua dan yang lainnya langsung terdengar menyambut kedatangan pria itu. Dengan langkah lunglai Kevin berjalan mendekati kursi kemudian mendudukkan diri di sana. Rambut Kevin sudah acak-acakkan, habis dijambak oleh Rindu. Tiga kancing kemejanya juga lepas dan tangannya dipenuhi cakaran, cubitan dan gigitan sang istri.
“Ya ampun lo abis kena angin ****** beliung di mana?” Cakra.
“Ck.. ck.. ck.. korban KDRT,” Abi.
“Rindu bar-bar juga ya,” Juna.
“Kulkas dua pintu berubah jadi rempeyek hahahaha,” Jojo.
Kevin tak mempedulikan ejekan para sahabatnya. Yang dia inginkan menjauh sejenak dari sang istri yang tak berhenti menyiksanya selama proses melahirkan. Namun tak lama kemudian, suster keluar dan memanggilnya masuk. Dengan pasrah, Kevin kembali ke ruang persalinan.
“Anak bapak sudah selesai ditimbang dan diukur. Beratnya 3,5 kg dan panjangnya 53 cm yang pak. Ini silahkan diadazni anaknya.”
Perawat tersebut menyerahkan bayi mungil berjenis kelamin laki-laki pada Kevin. Sejenak pria itu memandangi anak dalam gendongannya. Rasa haru langsung menyeruak melihat anak yang selama ini ditunggunya akhirnya lahir ke dunia dengan selamat tanpa kurang apapun. Dia pun mulai melantunkan adzan di telinga kanan anaknya.
Suster kembali mengambil bayi dalam gendongan Kevin kemudian memberikannya pada Rindu untuk diinisiasi dini. Bidan bersiap untuk menjahit bagian bawah Rindu yang sobek setelah melahirkan anaknya. Dengan gerakan tangan, wanita itu meminta suaminya mendekat.
“Ada apa Bee?”
“Di sini aja jangan jauh-jauh. Lihat anak kita lagi nyusu.”
Kevin mengalihkan pandangannya pada sang anak yang belum diketahui namanya itu. Bibirnya nampak bergerak-gerak mencari sumber kehidupannya. Senyum Kevin mengembang melihat pemandangan di depannya. Namun kemudian
“Aaaaggghhh!!”
Teriakan kencang Kevin kembali terdengar ketika Rindu mencubit pinggangnya. Wanita itu merasakan sakit ketika obat bius yang disuntikkan sudah mulai berkurang khasiatnya. Dokter, bidan dan suster sekali lagi harus mendengar teriakan Kevin saat menerima siksaan sang istri.
☘️☘️☘️
__ADS_1
Kevin terus memandangi bayi mungilnya yang tertidur di dalam boks.
Rindu juga sudah tertidur karena lelah yang mendera. Para sahabatnya masih setia menemani bapak baru itu bersama Nadia dan Adinda. Nina dan Sekar memang tidak ikut ke rumah sakit, mereka menunggu kelahiran Rindu di rumah saja. Anfa dan Rayi juga pamit pulang, bersama dengan Radix dan Nabila.
“Siapa nama cucu mama?” tanya Delia membuyarkan lamunan Kevin.
“Muhammad Ujang Purnama, ma,” celetuk Abi.
“Hahahaha..”
Bukannya marah, Delia malah tertawa mendengar jawaban nyeleneh Abi. Dia jadi teringat bagaimana anak bungsunya itu mendapat nama Ujang di depan nama yang telah dia dan sang suami siapkan sebelumnya. Kevin membalikkan tubuhnya kemudian menatap sahabatnya itu dengan pandangan horor. Namun Abi sama sekali tak peduli.
“Siapa namanya Vin?” ulang Delia.
“Ravindra Arkana.”
“Apa?? Arwana??” celetuk Abi.
“Ke THT sono, kuping lo congean kayanya,” balas Kevin kesal.
“Hahahaha...” Abi malah terpingkal.
“Bi.. jangan diledekin mulu. Maklum, dia lagi cedera,” sahut Juna.
“Kulkas dua pintu bisa ngerasain sakit juga,” sambung Jojo.
“Gue penasaran sama ekspresinya tadi pas lagi teriak,” lanjut Cakra.
“Hahahaha...”
Suara tawa kembali terdengar. Kevin hanya mendengus kesal. Dia membalikkan tubuhnya, melihat lagi sang anak yang masih tertidur pulas tanpa mempedulikan suara-suara di sekitarnya. Nadia tak berhenti tertawa melihat sahabatnya habis menjadi bulan-bulanan. Begitu pula Adinda, perempuan itu sampai memegangi perutnya. Tiba-tiba dia bangun dari duduknya kemudian berlari menuju kamar mandi.
HOEK..
HOEK..
HOEK..
Mendengar sang istri muntah-muntah, Jojo bergegas menyusul. Yang lain mulai berpandangan melihat hal yang menimpa Adinda. Bahkan Kevin sampai membalikkan tubuhnya menghadap ke arah para sahabatnya.
“Si Pitak udah b*nting?” tanya Kevin.
“Au.. ikutan nyuntik juga ngga, gue,” celetuk Cakra yang langsung dihadiahi toyoran Abi.
“Akhirnya tuh cebong ngga salah alamat lagi,” sahut Juna.
“Udah pasang GPS kayanya,” sambung Abi.
Orang yang dibicarakan keluar dari kamar mandi. Jojo merangkul sang istri kemudian mendudukkannya kembali di sofa.
“Dinda sudah isi, Jo?” tanya Delia.
“Ngga ma.”
“Lah itu muntah-muntah.”
“Ck.. kayanya maagnya kambuh lagi.”
“B*nting kayanya,” celetuk Kevin.
“Buset bahasa lo, Vin. Lo kira istri gue kebo apa dibilang b*nting,” sewot Jojo.
Kevin hanya mengendikkan bahunya kemudian berbalik lagi. Dia masih betah memandangi wajah tampan anaknya yang rautnya lebih banyak didominasi oleh Rindu.
“Mumpung di rumah sakit, mending diperiksa,” saran Nadia.
“Ngga usah, yakin gue, Dinda ngga hamil. Ini udah kejadian yang ketiga. Pertama juga kaya gini. Gue udah girang banget, eh taunya dia cuma masuk angin. Yang kedua juga gitu, pas diperiksa kata dokter asam lambungnya naik, makanya muntah-muntah.”
“Ya kali aja sekarang beneran positif. Udah sana periksa,” ujar Juna.
“Ck.. ngga yakin gue.”
“Udah periksa dulu.”
Cakra bangun kemudian menarik tangan Jojo, hingga sahabatnya itu berdiri dari duduknya. Pria itu hanya menghela nafas panjang. Bukannya Jojo tak menginginkan anak, hanya saja dia takut kecewa lagi nantinya, seperti yang sudah-sudah.
“Ya udah, berhubung kalian bawel kaya emak-emak kompleks. Gue bakalan bawa periksa Dinda buat buktiin ke kalian semua kalau dia cuma sakit maag.”
“Kalau Pus beneran hamil, gimana?” tanya Abi.
“Kalau Dinda hamil, gue bakalan nyanyi sambil joged-joged di lampu merah deket rumah sakit. Puas lo?!”
“Janji lo ya?”
“Iya, tapi kalau Dinda ngga hamil, elo yang nyanyi di sana!”
“Siapa takut. Deal?”
“Deal!”
Jojo dan Abi berjabat tangan menandai kesepakatan taruhan mereka. Yang lain hanya menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah absurd kedua pria dewasa itu. Jojo mengajak Adinda untuk memeriksakan diri ke dokter kandungan. Dia sudah tak sabar ingin melihat CEO Metro East menyanyi dan menari di depan deretan mobil yang berhenti di lampu merah.
☘️☘️☘️
**Menurut kalian siapa yang bakal menang taruhan? Abi apa Jojo?
Hari ini mamake up triple, gimana puaaaaassss???
Please jangan nanya lagi soal kapan Nadia ama Dinda hamil, mamake beneran berasa lagi dicecar mertua yang ngga sabar pengen punya cucu✌️😃
Ini visual pemeran KPA jilid 2
Rayi & Anfa**
Gurit & Syakira
Radix & Nabila
__ADS_1
Ruby & Agung