
Kediaman Cakra yang biasanya sepi, kini ramai dengan perbincangan Sekar, Rindu dan Gurit. Sahabat somplaknya itu tengah berkunjung ke rumah pengantin baru, minus Radix. Ketiganya tengah berbincang santai sambil menikmati camilan dan minuman di ruang tengah.
“Rin, resepsi lo jadinya kapan sih?” tanya Gurit.
“Harusnya kan minggu kemarin tapi berhubung lagi masa panen, diundur jadi minggu ini. Awas aja lo kalau ngga dateng.”
“Tapi tar bekelin gue ya pulangnya.”
“Tenang aja, tar gue bekelin beras, singkong sama kentang.”
“Busyet karbo semua.”
“Gue tambahin oncom,” sela Sekar.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Semua yang berada di ruang tengah kompak menjawab salam seraya menengok pada orang yang baru saja masuk. Radix berjalan lunglai memasuki ruang tengah kemudian dengan cepat merebahkan diri di sofa yang kosong.
“Napa lo? Tampang kusut beud.”
“Apes gue hari ini.”
“Apes napa sih?”
Radix bangun dari tidurnya kemudian duduk bersila di atas sofa. Dipandangi satu per satu wajah sahabatnya.
“Menurut lo semua, gantengan siapa, gue apa bang Jo?”
“Ya gantengan bang Jo lah,” sambar Rindu dengan cepat. Dan sebuah toyoran pun dengan cepat mendarat di kepalanya.
“Noyor gue lagi, gue aduin suami gue lo!” ancem Rindu pada Radix.
“Lo emang ngga kalah ganteng dari bang Jo, tapi kalah duit hahahaha,” seru Gurit.
“Dasar lo semua sahabat durjana.”
Radix kembali merebahkan tubuhnya. Hari ini dia benar-benar kesal, semua rencana yang disusunnya untuk bisa bersama dengan Adinda berantakan. Mulai dari menjemput ke rumah, ajakan makan siang sampai rencana mengantar pulang setelah gadis itu bekerja di apartemen Jojo. Rencananya gagal total karena Jojo dengan seenaknya telah memonopoli waktu Adinda.
“Dix.. lo beneran naksir si Dinda.”
Radix membuka matanya kembali yang nyaris terpejam kemudian kembali duduk bersila. Dia menatap ke arah Sekar dengan antusias. Gurit dan Rindu pun tak kalah penasaran dengan jawaban Radix.
“Iya, lo mau bantuin gue Se? Masalahnya saingan gue berat, kak Jo.”
“Emang bang Jo suka sama Dinda?” tanya Rindu.
“Gue sih ngga tau, tapi kayanya kak Abi ama suami gue mau nyomblangin bang Jo sama Dinda.”
“Yah.. alamat berhenti tengah jalan gue ini. Saingannya berat, back up juga berat. Adaww!!”
Radix menjerit kencang ketika sebuah pukulan mendarat di punggungnya. Dia melihat ke arah Sekar, sang pelaku pemukulan.
“Jangan cemen lo jadi cowok, terus kejar kalau emang lo suka. Tenang aja, gue bakal dukung lo.”
“Gue juga dukung,” seru Gurit.
“Gue juga. Gue udah bosen lihat lo jomblo,” ucap Rindu.
“Tapi berat Se.. berat.”
“Ngga usah takut ada kita-kita.”
“Tapi pendukung kak Jo banyak, ada kak Abi, suami lo, kak Nina juga pasti dukung kak Jo. Anfa juga gue yakin dukung kak Jo. Belum lagi kak Juna, kak Nadia ama laki lo, Rin.”
“Yang di Jepang ngga usah dipikirin. Lo punya kita bertiga, Anfa juga ngga masuk itungan, dia abstain. Jadi bang Jo, cuma punya 3 suporter juga, kak Abi, suami gue ama kak Nina. Imbang loh kita. Kalau soal modal lo ngga usah khawatir, gue modalin berapa juga.”
Radix yang tadinya sudah keok sebelum berperang, seketika mendapatkan keyakinannya kembali begitu mendengar penuturan Sekar. Tubuhnya mulai menegak, sorot matanya pun memancarkan keoptimisan.
“Bentar.. laki lo Rin, dukung siapa?” cetus Gurit.
“Lo pikir laki gue peduli gitu sama yang beginian?”
“Oh iya ya, laki lo kan si kulkas dua pintu yang gayanya lempeng kaya jalan tol Cikampek.”
“Laki gue tuh monyong!”
Rindu menggeplak kepala Gurit. Pemuda itu hanya nyengir kuda saja melihat Rindu yang mencak-mencak. Sudah bisa dipastikan sahabatnya ini sudah terkena virus bucin pada suaminya.
__ADS_1
“Eh iya gue lupa. Sebenernya tujuan gue ketemu di sini tuh mau kasih kabar gembira,” seru Gurit.
“Bener. Kok gue bisa lupa. Nyet, lo belum bilang?”
“Bilang apa?”
“Konten youtube kita pas di tempat lo pre wed kan viewersnya udah sampe 1 M.”
“Serius lo?” tanya Sekar dan Rindu bersamaan.
“Iya, beneran dah bawa berkah pre wed elo. Udah gitu penampakan hantunya bener-benar ketangkep kamera. Yang dua cewek di kamar bekas pembunuhan sama dua security yang di ruang tamu. Belum lagi pas kita kabur kan kamera terus ngerekam, ternyata ada juga yang ketangkep kamera, pocong!”
“Ih untung gue kaga ikut,” Rindu bergidik ngeri membayangkan semua yang diceritakan oleh Gurit.
“Ternyata eh ternyata ada sutradara yang ngangkat cerita tragis di rumah itu. Dan kita bakal diajakin syuting.”
“Widih bakalan jadi artis dong lo berdua. Kira-kira lo bakal jadi apaan? Pocong?”
“Enak aja. Kita tetap jadi diri sendiri, youtubers terkenal.”
“Kapan syutingnya?”
“Katanya sih nunggu ada produser yang berminat produksi film itu,” jawab Radix.
“Udah dapet. Barusan gue ditelepon, besok kita ketemuan buat tanda tangan kontrak.”
“Serius?”
“Iya, yang bakal produksi film itu J & J Entertainment.”
“Kok gue ngerasa ngga asing ya sama nama PH-nya,” Radix nampak berpikir sejenak.
PLAK
Sebuah tepukan mendarat di belakang kepala pemuda itu. Sontak Radix melihat ke arah Sekar. Sudah dua kali nyonya Cakrawala Dunia itu melakukan kekerasan fisik padanya.
“Lo tuh lemotnya ngga ilang-ilang. J & J Entertainment itu punya bang Jojo.”
“Ya salam kak Jo lagi,” Radix menepuk keningnya membuat yang lain tak dapat menahan tawanya. Sepertinya dunia Radix terus berputar di sekitar Jojo, rivalnya untuk mendapatkan hati sang pujaan hati, Adinda.
“Ayo semangat Dix, jangan kasih kendor. Biar lawan lo member BTS sekalipun tapi kalau si Dindanya suka sama elo, tetep aja bakal milih elo. Ngga usah pusingin bang Jo, pepet aja terus si Dindanya,” Sekar terus memberikan suntikan semangat pada sahabatnya.
“Bener Dix, semangat. Biar lo lepas dari gelar jodi. Biarin aja si Gurit yang jadi dedengkotnya.”
“Busyeet sejak nikah sama bang Ke, mulut lo pedes Rin.”
“Lah gue kan ngomong kenyataan, emang lo belum laku.”
“Wah ngajak ribut lo. Lihat aja ya ka....”
Ucapan Gurit terhenti ketika terdengar dering ponselnya. Dengan cepat pemuda itu menjawab panggilannya. Sesudah berbicara sebentar, Gurit mengakhiri panggilannya. Dia langsung mengajak Radix bersiap-siap.
“Kuy Dix, barusan astrada telpon, kita diminta ketemu ama penulis skenario.”
“Wokeh.. eh bentar,” Radix merogoh saku celananya kemudian mengeluarkan usb berukuran lalu memberikannya pada Sekar.
“Nih hadiah dari gue ama Gurit.”
“Apaan nih?”
“Film, nontonnya di laptop aja terus pake earphone biar jelas, soalnya suaranya kecil,” terang Gurit.
“Film apaan?”
“Film action. Keren bangetlah pokoknya, bikin tegang. Nonton sekarang mumpung lo berdua lagi kumpul. Gue cabut ya.”
Gurit dan Radix bergegas pergi. Sekar masuk ke dalam kamar untuk mengambil laptop plus earphone. Tak lama dia kembali lalu mulai menyalakannya. Kedua wanita itu memilih duduk di atas karpet. Sekar menghubungkan usb ke laptop. Setelah berbagi earphone dengan Rindu, Sekar memutar film.
Adegan dimulai dengan munculnya seorang laki-laki turun dari pesawat jet pribadi. Dia segera naik ke mobil mewah yang sudah menunggunya. Sedang di tempat lain ada wanita seksi yang telah menunggunya. Tak lama lelaki tersebut sampai di sebuah rumah dan disambut oleh wanita seksi tersebut. Adegan selanjutnya adalah adegan yang mencengangkan dua wanita tersebut.
“Kampret si curut ngasih film beginian,” umpat Sekar. Dia bermaksud mematikan film tersebut namun langsung ditahan oleh Rindu.
“Eh Se.. jangan. Mending kita tonton aja sampe beres, pelajaran ini.”
“Iih.. gila gue lihat otong tuh bule udah kaya singkong gajah,” Sekar terkikik geli.
“Lo kan pengen cepet punya anak biar bang Cakra ngga dikirim ke Jepang. Nah lo harus nonton nih film biar bisa praktek.”
“Eh bener juga. Lo juga pengen cepet punya anak?”
__ADS_1
“Ngga.”
“Tapi semangat banget lo mau nonton nih film.”
“Eh service suami di kasur itu salah satu vaksin anti pelakor. Gue harus bisa negimbangin bang Ke yang h*t banget di ranjang hihihi.”
“Emang bang Ke h*t banget gitu? Masa sih si kulkas dua pintu bisa panas hahaha.”
“Beuh.. h*t banget Se. Gue bisa jadi kambing guling kalau dia udah on fire. Kalau bang Cakra gimana?”
“Sama aja. Keliatannya aja dia kalem gitu, tapi kalau udah di atas kasur buas banget. Pas pertama kali dia udah kaya Ronaldo aja jebol gawang gue sampe hattrick.”
Kedua wanita itu tergelak kemudian melanjutkan acara menontonnya. Sesekali mereka membahas adegan yang dilihatnya. Menonton adegan panas, karuan membuat mereka ikutan panas. Keduanya mulai tampak gelisah.
“Haaiiisshh kenapa gue jadi pengen,” keluh Rindu.
“Sama Rin. Ah gue mau wa suami gue suruh cepet pulang.”
“Gue juga ah, minta bang Ke jemput sekarang.”
Kedua wanita itu segera mengambil ponsel kemudian mengirimkan pesan pada suami masing-masing. Rindu mengatakan pada Kevin tak enak badan dan minta segera dijemput di rumah Cakra. Begitu juga dengan Sekar yang mengatakan perutnya sakit dan minta sang suami untuk cepat pulang.
Selesai mengirimkan pesan, keduanya kembali melanjutkan acara menontonnya. Mereka ketagihan untuk melihat gaya apa saja yang bisa dilakukan dalam bercinta. Sehabis menonton keduanya melesat ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Menonton film action yang diberikan Gurit sungguh membuat mereka basah.
☘️☘️☘️
Cakra dan Kevin tiba bersamaan. Keduanya turun dari dalam mobil. Cakra mendekati Kevin yang wajahnya nampak panik.
“Kenapa lo?”
“Barusan Rindu wa, katanya sakit makanya minta jemput. Lo juga kenapa udah pulang?”
“Sekar juga ngeluh kalau perutnya sakit.”
“Jangan-jangan mereka salah makan atau keracunan.”
Mendengar perkiraan Kevin, Cakra buru-buru masuk ke dalam. Pria itu benar-benar mengkhawatirkan keadaan sang istri. Sesampainya di dalam, mereka terbengong melihat para istri tengah duduk santai sambil menyeruput teh hangat. Wajah mereka terlihat segar dengan rambut basah seperti baru saja keramas.
“Bee.. kamu kenapa? Katanya sakit?”
“Iya bang, aku sakit. Pulang yuk.”
“Kita ke dokter ya.”
“Ngga usah, kita pulang aja. Aku mau tidur.”
“Ya udah, ayo.”
“Gendong.”
Kevin berjongkok di depan Rindu. Istrinya itu langsung naik ke punggungnya. Setelah berpamitan dengan Cakra, Kevin langsung keluar sambil menggendong sang istri. Rindu memeluk leher Kevin kemudian mencium pipi terus turun ke leher suaminya itu.
“Bee..”
“Hmm..” Rindu terus menciumi leher Kevin hingga bulu kuduknya meremang.
“Bee.. eeuugghhh jangan gini sayang.”
Kevin membuka pintu mobil kemudian mendudukkan Rindu di jok. Pria itu bergegas masuk ke dalam mobil melalui pintu sebelah. Tak lama kendaraan roda empatnya meninggalkan kediaman Cakra.
Sementara itu di dalam, Cakra memilih duduk di samping sang istri kemudian mengusap perutnya yang katanya terasa sakit. Sekar memejamkan matanya menikmati sentuhan sang suami. Dia menyurukkan kepala ke dada Cakra kemudian tangannya menyelip masuk ke dalam kemeja. Jemarinya mulai mengusap dada bidang itu naik turun.
“Se..”
“Abang.. ke kamar aja yuk.”
“Ayo.”
“Gendong.”
Sekar langsung naik ke pangkuan Cakra dengan posisi meng*ngk*ng, pria itu berdiri kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar. Sekar memeluk leher Cakra lalu me**mat bibir yang terlihat begitu menggoda. Cakra cukup terkejut dengan apa yang dilakukan istrinya namun dia pun memberikan balasan. Keduanya saling memagut sampai masuk ke dalam kamar.
☘️☘️☘️
**Diseling sebentar ya sama cerita pengantin baru yang lagi unyu²nya. Harap maklum, cerita ini ada banyak tokoh yang punya porsi masing². Sesuai alur yg udah mamake buat, nikmati aja dulu kisah mereka, ok gaessss😉
Yang ngga tau singkong gajah itu kaya gimana, nih mamake kasih gambarnya**.
__ADS_1