KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Season 2 : Kompor Mledug


__ADS_3

Raut gembira menghiasi wajah Barra, akhirnya dia telah berhasil melamar Hanna secara resmi dan direstui oleh kedua orang tuanya. Pada acaranya lamaran kali ini hanya Jojo, Adinda, Barra yang datang. Nara ikut Kenzie menghadiri makan malam di kediaman mertuanya, sedang Naya masih berbulan madu dengan Aric.


“Jadi rencana pernikahannya kapan, Barra?” tanya Rayi.


“Kalau om boleh saran, bagaimana kalau dua bulan lagi? Kemarin kita baru mengadakan pernikahan estafet, jadi tolong kasih waktu istirahat buat para orang tua untuk rehat sejenak. Kasihan papamu kalau sampai terkena encok,” Anfa tergelak mendengar ucapannya sendiri.


“Dasar calon besan durjana,” balas Jojo yang kembali mengundang gelak tawa.


“Aku gimana Hanna aja, om.”


“Gimana Han?” Anfa menoleh pada putri sulungnya.


“Aku ikut pipi aja. Dua bulan lagi juga ngga apa-apa, biar kita persiapannya lebih mateng.”


“Ok fix ya dua bulan dari sekarang. Soal tanggal pernikahannya, kalian saja yang menentukan,” tutup Anfa.


Barra hanya menganggukkan kepalanya mendengar apa yang dikatakan calon mertuanya. Kemungkinan besar mereka akan mengambil waktu di akhir atau awal bulan. Pembicaraan selanjutnya tentu saja tentang mahar atau mas kawin.


“Kamu mau minta apa untuk maharnya, Hanna?” tanya Adinda.


“Minta mas kawinnya yang anti mainstream, kak. Minta aktor Korea kesukaan kakak di air keras buat pajangan di rumah, misalnya,” celetuk Haikal yang langsung dihadiahi jeweran dari sang mama.


“Aku terserah abang aja. Asal tidak memberatkan dan berguna.”


“Jangan terserah bang Barra! Kalau mas kawinnya dikasih besi rongsokan gimana?”


“Mulut lo, Kal, belum pernah dijejelin kain pel yang ngga dicuci seabad ya,” kesal Barra.


“Weh calon adik ipar nih. Gini-gini gue kesayangan kak Hanna. Kak, kalau bang Barra ngga bisa sayang dan terima gue apa adanya, jangan mau nikah sama dia kak. Seandainya kakak harus milih, antara aku atau bang Barra, please pilih aku, adik kakak tersayang yang gantengnya no kaleng-kaleng,” Haikal menangkupkan kedua tangannya seraya memasang wajah sendu. Bukannya terharu, Hanna malah mengadiahi toyoran di kepala adiknya itu.


“Sookooorr!!” teriak Barra puas.


“Diam, Kal. Ini lagi bicara serius. Sekali lagi nyamber, mama ngga kasih uang jajan dua bulan!”


Ancaman Rayi sukses membuat pemuda itu membungkam mulutnya. Tidak diberi uang jajan adalah hal menakutkan untuknya. Kalau dompet rata, maka kesempatan untuk tebar pesona berkurang. Zaman sekarang ngga cukup hanya bermodal muka ganteng, tapi dompet juga harus ganteng alias tebal. Tebal dengan lembaran uang berwarna merah, bukan tebal dengan lembaran pria bergolok apalagi bon hutang.


“Soal mahar, biar nanti kita bicarakan berdua aja, ma, tante,” jawab Barra.


“Iya, ma,” sahut Hanna.


“Kalau resepsi, kalian mau diadain di hotel Arjuna atau bagaimana?” tanya Rayi.


“Pengennya sih outdoor, ma,” jawab Hanna.


“Kalau mau outdoor, pastikan cuaca mendukung. Kalau dua bulan dari sekarang, kayanya sih udah masuk musim penghujan. Kalau tetap mau outdoor, cari pawang hujannya yang bener.”


Anfa tak bisa menahan tawa mendengar penuturan istrinya. Pasti pernikahan Radix dan Nabila dahulu masih melekat dalam ingatan istrinya. Acara kacau balau karena hujan deras yang menimpa.


“Sama pastikan, penghulunya sehat walafiat, ngga kena diare huahahaha,” sambung Anfa yang langsung disambut tawa Rayi, Jojo dan Adinda. Sedang anak-anak mereka hanya melongo saja, tak mengerti pembicaraan para orang tua.


“Pokoknya manfaatkan waktu sebaik mungkin untuk mempersiapkan pernikahan kalian. Perhatikan masukan dari WO kalian,” ujar Rayi lagi yang diangguki oleh pasangan calon pengantin.


Setelah tak ada lagi yang perlu dibicarakan, Jojo beserta keluarga pamit pulang. Anfa dan Rayi ikut berjalan mengantar calon besannya keluar rumah. Barra berjalan di belakang calon mertuanya seraya menggandeng tangan Hanna. Haikal yang ada di belakang mereka, dengan sengaja menerobos di tengah-tengah, membuat pertautan tangan mereka terlepas.


“Gandengan mulu kaya orang mau nyebrang,” seru Haikal. Barra menendang bokong calon adik ipar durjananya itu sampai tubuh Haikal terhuyung ke depan dan mencium bokong Anfa.


“Hahahaha..” Hanna tak bisa menahan tawanya. Haikal mendengus kesal, untung saja sang pipi tidak sedang mengeluarkan gas beracunnya.


☘️☘️☘️


Ravin melangkahkan kakinya memasuki Amarta restoran, sebuah restoran bintang lima yang ada di Yudhistira hotel. Hari ini dia baru saja melakukan pengecekan hotel yang baru saja beroperasi empat bulan lalu. Ezra sengaja meminta Ravin yang melakukannya, karena dalam waktu dekat anak sulung Juna itu akan meninggalkan kursi kebesarannya di Arjuna hotel dan bergabung di kantor pusat. Juna menarik Ezra lebih cepat dari jadwal dan akan menggemblengnya langsung sebagai penerusnya.


Seorang pria seusia dengannya langsung berdiri begitu melihat kedatangannya. Perwakilan dari Armenia Food itu segera menyalami Ravin. Sedianya dia akan membicarakan kesepakatan baru dengan pria itu mengenai suplai bahan-bahan kebutuhan hotel Arjuna dan Yudhistira.


“Selamat siang pak Ravin,” sapa pria itu.


“Selamat siang pak Sanjaya. Maaf saya terlambat datang.”


“Tidak apa. Saya juga baru datang.”


Ravin mempersilahkan pria itu duduk kembali dengan gerakan tangannya. Tanpa menunda waktu, Sanjaya atau yang biasa dipanggil Jay segera memberikan daftar harga terbaru serta produk baru yang mereka sediakan. Dengan seksama Ravin membaca berkas yang diberikan Jay. Ini pertama kalinya Ravin membuat kesepakatan dengan Jay. Sebelumnya dia selalu berhubungan langsung dengan Toni, ayah dari Jay.


“Intinya saya tidak keberatan dengan kenaikan harga, asal kualitas barang yang dikirimkan masih tetap sama. Dan soal penawaran yang baru, saya akan mencoba dua produk ini,” Ravin menunjuk gambar yang ada di berkas yang diletakkan di atas meja hingga Jay bisa ikut melihatnya.


“Kalau kualitasnya bagus, saya akan mengganti supplier sebelumnya.”


“Terima kasih pak Ravin. Saya jamin kualitas bahan-bahan kami tidak menurun.”


“Saya pegang janji bapak. Untuk masalah pembayaran akan berjalan seperti biasa.”


“Baik, pak.”


Senyum mengembang di wajah Jay. Akhirnya dia bisa mendapatkan kesepakatan dengan Ravin. Walau dia hanya meneruskan saja pekerjaan ayahnya, namun tetap senang, klien terbesar mereka tidak lepas dari genggaman. Hotel Arjuna tidak pernah menunggak pembayaran dan selalu membayar tepat waktu.


“Bagaimana kalau kita makan siang dulu? Sekalian menyicipi makanan di restoran ini,” tawar Ravin.


“Terima kasih pak Ravin. Tolong panggil Jay, saja.”


Tangan Ravin terangkat, dan tak lama seorang pelayan datang sambil membawakan buku menu. Untuk sesaat kedua pria itu membaca menu yang tertera. Jay menyebutkan pesanannya, disusul oleh Ravin yang memesan makanan untuk dirinya juga Freya yang sedang dalam perjalanan menyusulnya.

__ADS_1


Sambil menunggu pesanan siap, kedua pria itu kembali berbincang. Jay banyak menanyakan perihal bisnis pada Ravin. Dia ingin belajar banyak pada general manager hotel Arjuna yang kabarnya sebentar lagi akan segera menduduki jabatan sebagai direktur utama. Jika itu terjadi, artinya Ravin akan bertanggung jawab atas hotel Arjuna, hotel Yudhistira serta dua resort yang ada di Bali dan kepulauan Seribu. Tentu saja Jay harus menjalin hubungan baik dengan pria itu untuk mendongkrak karirnya juga.


Di tengah perbincangan, mata Jay menangkap sesosok wanita cantik memasuki restoran. Mata pria itu tak lepas memandangi wanita berambut panjang itu. Ravin yang merasa Jay mulai tak fokus dengan pembicaraan mereka, menolehkan kepalanya, mengikuti arah pandang pria itu. Hatinya geram begitu tahu, pria di hadapannya memandang istrinya tanpa berkedip.


“Ehem!!” deheman Ravin sukses membuat Jay mengalihkan pandangan pada pria itu. Di saat yang bersamaan, Freya sampai di dekat meja mereka.


“Bang..” sapa Freya.


Jay melongo melihat wanita cantik ini ke meja mereka dan langsung menyapa Ravin. Ravin segera berdiri menyambut kedatangan istrinya. Freya mencium punggung tangan suaminya yang dibalas kecupan di kening. Hal tersebut semakin membuat Jay melongo.


“Pak Jay, kenalkan ini Freya, istri saya.”


Dengan gugup Jay berdiri kemudian mengulurkan tangannya ke arah Freya yang dibalas wanita itu. Freya menjabat singkat tangan Jay kemudian mendudukkan diri di sisi Ravin. Jay ikut mendudukkan diri dengan mata yang terus memandang ke arah Freya. Wanita di depannya ini sama cantiknya seperti Zahra, ditambah lagi dengan pakaian bermerk yang dikenakannya, semakin membuat wanita itu terlihat anggun dan berkelas.


“Tolong jaga mata anda pak Jay. Saya tidak segan-segan membatalkan perjanjian kita kalau bapak tidak bisa menjaga pandangan bapak,” ucapan tegas Ravin langsung menyadarkan pria itu dari kebodohannya.


“Ma.. maaf pak Ravin. Jujur, istri bapak begitu cantik. Maaf kalau saya lancang.”


“Kali ini saya maafkan. Tapi kalau besok-besok bapak masih bersikap seperti ini, maka jangan salahkan saya kalau bertindak kasar.”


“Iya, maafkan saya pak.”


Jay menelan ludahnya kelat, mendengar kata-kata Ravin. Pria itu mengutuki dirinya yang tidak bisa menjaga pandangan setiap melihat wanita cantik di dekatnya. Sialnya, kini dia terpergok memandangi wajah cantik istri dari klien besarnya. Freya tersenyum tipis melihat sikap posesif suaminya. Tapi dia senang Ravin bertindak tegas, Freya memang tidak nyaman dengan cara Jay memandanginya.


☘️☘️☘️


Zahra bergegas keluar dari rumahnya begitu mendapat pesan dari Kenan. Di depan rumah, Kenan menunggu di atas sepeda motornya. Dengan bertumpu pada bahu pemuda itu, Zahra naik ke atas motor. Begitu gadis itu mendaratkan bokongnya di jok, Kenan langsung melajukan kendaraan roda duanya.


Sepeda motor berwarna merah itu melaju dengan kecepatan tinggi. Kenan memanfaatkan waktu istirahatnya dengan mengajak Zahra makan siang di luar. Pemuda itu memilih tempat makan di dekat rumah sakit. Setelah makan, Kenan akan mengantar gadisnya itu ke tempat magangnya baru kembali ke kantor.


Suasana café yang dipilih Kenan untuk makan siang sudah banyak didatangi pengunjung. Keduanya juga langsung memilih menu yang ditawarkan. Dari balik buku menu, Zahra mencuri pandang, melihat ke arah Kenan. Tak seperti biasanya, gadis itu merasa pangling melihat Kenan mengenakan kemeja lengan panjang dan celana bahan. Penampilan pria itu terlihat lebih dewasa. Apalagi lengan kemejanya sengaja dilinting hingga ke siku, membuat Kenan semakin terlihat tampan saja.


“Emang di mukaku ada nama-nama makanan ya,” ujar Kenan tanpa mengalihkan pandangan dari buku menu yang dipegangnya. Sontak Zahra langsung mendekatkan buku menu untuk menutupi dirinya. Wajahnya bersemu merah, malu karena ketahuan mencuri pandang pada pemuda di depannya.


“Kenapa berhenti? Terus aja lihatin aku,” Kenan menarik buku menu di tangan Zahra kemudian mencondongkan tubuhnya hingga wajah pria itu terlihat jelas oleh Zahra.


“Apaan sih..”


“Aku suka dilihatin sama kamu. Itu tandanya kamu sudah jatuh dalam pesonaku.”


“Narsis.”


Kenan tergelak, kemudian tangannya terangkat sambil melihat ke arah pelayan. Tak lama seorang wanita muda mendekat lalu mulai mencatat pesanan mereka. Sepeninggal sang pelayan, Kenan menggenggam tangan Zahra.


“Aku kangen,” ujar Kenan.


“Sembilan hari, bukan seminggu,” ralat Kenan.


“Iya.. iya.. Sembilan hari, belum setahun.”


“Kok gitu sih. Emangnya kamu ngga kangen apa?”


“Ngga..” jawab Zahra singkat dan sukses membuat wajah Kenan suram.


“Ngga salah maksudnya,” sambung Zahra dan membuat senyum pria itu terbit.


Keheningan seketika melanda, kedua insan yang tengah dimabuk asmara itu hanya diam dan saling memandang dengan tangan saling bertautan. Mereka seakan ingin memuaskan kerinduan melalui tatapan mata, bukan kata-kata. Kebisuan di antara mereka terhenti ketika pelayan datang membawakan pesanan.


Ingin rasanya Kenan bertahan lebih lama, namun apa daya, jam istirahatnya sebentar lagi akan berakhir. Pemuda itu harus kembali ke kantor tepat waktu kalau tidak ingin terkena semprotan ayahnya. Setelah makan siang mereka berakhir, Kenan segera mengajak Zahra pergi.


Kendaraan milik Kenan berhenti di depan pintu masuk IGD. Zahra turun dari motor, Kenan membantu melepas helm dari kepala gadis itu. Beberapa rekan kerjanya yang melintas cukup heran melihat Zahra datang bersama seorang pria. Ini pertama kalinya mereka melihat Zahra dekat dengan seorang pria.


“Aku langsung pergi, ya. Nanti malam aku jemput.”


“Iya, hati-hati Nan.”


“Ok, sayang. Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam,” Zahra menjawab salam Kenan dengan wajah bersemu merah.


Zahra tetap bertahan di tempatnya. Matanya terus memandangi motor yang membawanya kekasihnya keluar dari area rumah sakit. Setelah Kenan hilang dari pandangannya, gadis itu memutar tubuhnya, hendak memasuki IGD.


“Zahra..”


Zahra terpaksa menghentikan langkahnya begitu melihat Sandi sudah berdiri di hadapannya. Entah mengapa akhir-akhir ini Sandi senang sekali menemuinya, atau lebih tepat mengganggunya. Gadis itu hanya menatap malas ke arah sang ayah.


“Jadi kamu serius dengan pemuda tadi?”


“Hmm..”


“Apa bagusnya dia? Jay berkali-kali lebih baik dari dia.”


“Tapi aku ngga suka Jay.”


Zahra berjalan melewati Sandi. Dia memang sengaja tidak mengatakan siapa Kenan sebenarnya. Selain enggan membuka identitas kekasihnya itu, Kenan juga melarangnya. pemuda itu ingin meraih restu Sandi tanpa ada embel-embel Hikmat di belakangnya.


“Cobalah jalan bersama Jay sekali saja. Kamu pasti akan tahu kalau pria itu baik. Dia juga mapan dan hidupmu akan enak nantinya. Hal yang belum tentu kamu dapatkan dari lelaki tadi.”


“Kenan, pa. Namanya Kenan.”

__ADS_1


“Papa tidak peduli siapa namanya. Putuskan hubunganmu dengannya, lalu terima Jay.”


“Papa punya hak apa untuk mengatur diriku? Aku akan bersama dengan siapa bukan urusan papa. Papa sebaiknya pergi, aku harus kerja.”


“Baiklah. Ajak dia ke rumah papa akhir pekan nanti ke rumah.”


Tanpa menunggu jawaban dari Zahra, Sandi segera pergi dari hadapan putrinya itu. Dia berencana mempermalukan Kenan saat bertamu ke rumahnya nanti dan memperlihatkan pada Zahra kalau pemuda itu sama sekali tidak cocok dengannya.


☘️☘️☘️


Mengikuti keinginan Sandi. Di akhir pekan, Zahra membawa Kenan menemui ayahnya. Awalnya Zahra tak ingin memenuhi permintaan ayahnya itu, namun Kenan bersikeras untuk datang. Pemuda itu penasaran akan rencana Sandi. Bukan tanpa alasan tiba-tiba pria itu ingin bertemu dengannya. Pasti ingin menjatuhkan dirinya di mata Zahra.


Motor yang dikendarai Kenan berhenti di depan kediaman Sandi. Pria itu berdecih melihat sang anak turun dari kendaraan roda dua itu. Penilaiannya pada Kenan semakin buruk saja di matanya. Kenan memarkirkan BMW miliknya alias motor Bebek Merah Warnanya di belakang mobil Sandi. Pemuda itu sengaja meminjam motor antik milik Septa. Motor itu dibeli Septa saat sedang menjalani salah satu misi.


“Malam om,” sapa Kenan. Dia hendak meraih tangan Sandi namun diabaikan oleh pria itu. Sungguh Zahra merasa malu melihat sikap papanya itu.


“Masuk,” ujar Sandi dingin.


Bersama dengan Zahra, Kenan melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah yang ukurannya hanya sepertiga dari rumah miliknya, namun Sandi begitu sombong di hadapannya. Tapi bukan Kenan namanya kalau bisa dengan mudah ditindas oleh Sandi. Dia malah ingin mengerjai pria itu.


“Eh Zahra.. tumben mau main ke sini,” sindir Risma yang datang dari arah dalam. Tak ada jawaban dari mulut Zahra, gadis itu enggan menangapi perkataan ibu tirinya.


“Langsung makan aja, mas,” ajak Risma.


“Kalian sudah makan?” tanya Sandi.


“Kebetulan belum, om. Perut saya emang laper,” Kenan segera menyela jawaban yang akan keluar dari mulut Zahra. Pasti kekasihnya itu akan menolak. Benar saja, Zahra sontak melihat ke arah Kenan seraya membelalakkan matanya namun pemuda itu hanya membalas dengan kedipan mata saja.


Kenan memandangi semua makanan di meja dengan mata berbinar. Sesekali sengaja menelan ludahnya kasar untuk memperlihatkan betapa dia sangat tergiur akan makanan di depannya. Sandi dan Risma tersenyum sinis melihatnya.


“Silahkan Kenan, kamu pasti jarang makan makanan enak, kan?” tembak Risma.


“Aduh jadi malu nih. Tante tau aja. Maklum lah tan, namanya juga anak kost, harus ngirit hehehe..” Kenan mengusap tengkuknya.


Tanpa malu Kenan menyendokkan nasi dan beberapa lauk ke piringnya kemudian memakannya dengan lahap. Tak dipedulikannya pandangan penuh ejekan dari Risma dan Sandi. Zahra yang awalnya misah-misuh justru mulai menikmati pertunjukkan Kenan. Senang rasanya melihat papa dan mama tirinya merasa di atas awan. Dia hanya tinggal menunggu kapan keduanya jatuh terhempas ke bumi.


“Kamu sudah bekerja?” tanya Sandi di sela-sela makannya.


“Saya masih kuliah, om. Tapi saya suka ngamen di café-café, lumayan om, buat nambah-nambah uang saku. Kalau kuliah saya dapet beasiswa, Alhamdulillah bisa mengurangi beban orang tua. Kadang saya juga dapet tawaran ngisi acara wedding, di sana saya ketemu Zahra. Apa om tahu kalau Zahra itu suaranya merdu? Kalau lagi duet sama dia, saya berasa kaya Anang-Ashanti.”


Sandi menghentikan makannya mendengar cerocosan Kenan. Matanya menatap lurus pada pemuda di depannya. Satu pertanyaannya dijawab panjang lebar oleh pemuda itu. Zahra menundukkan kepalanya, mencoba menyembunyikan senyumnya.


“Oh ya om, saya sekarang udah magang juga,” lanjut Kenan.


“Ngga nanya,” balas Sandi kesal.


“Sekedar informasi om. Dari pada om buang-buang energi nanya, mendingan saya infokan sekalian, lebih efisien.”


“Kerajinan,” desis Sandi.


“Saya magang di kantor Metro East, pasti om tahu kan kantor itu?”


Mendengar kata Metro East, Sandi mulai menunjukkan ketertarikannya. Dia melihat ke arah Kenan. Siapa tahu pemuda bawel di hadapannya ini bisa memperkenalkannya dengan CEO atau wakil CEO perusahaan besar itu.


“Kamu magang di bagian apa?”


“Di bagian public relation om. Tapi ya gitu deh, kerjaan saya paling banter cuma fotocopy berkas, nyiapin bahan meeting sama nyebarin bahan meeting ke semua anggota divisi. Namanya juga anak magang."


“Kamu pernah bertemu dengan pak Abimanyu?”


“Pernah pak, sekali. Widih orangnya sadis loh pak kalau di kantor. Saya aja pernah kena semprot waktu awal magang gara-gara telat kasih berkas laporan. Tapi selain sadis, papa..k Abi juga ganteng. Tapi masih gantengan saya sih pak, hehehe..” hampir saja Kenan keceplosan memanggil Abi dengan sebutan papa.


“Percuma ganteng kalau kere,” sindir Risma.


“Tante, kalau ganteng itu takdir, tapi kere itu pilihan. Lewat muka ganteng saya, kalau ngga dapet kerjaan kantor, saya bisa ngelamar jadi model atau artis. Apalagi saya bisa nyanyi, ikut idol juga saya jamin bisa menang. Asal kerja keras, saya bisa sukses juga. Biarpun ngga jadi konglomerat, minimal satu tingkat di atas kere lah.”


Suara tawa yang tertahan terdengar dari mulut Zahra. Gadis itu menundukkan kepalanya dalam-dalam, sebisa mungkin tidak ingin melihat ke arah Kenan. Takut kalau tawanya akan meledak. Berbeda dengan Zahra yang merasa apa yang dikatakan Kenan lucu, Sandi dan Risma malah semakin memandang remeh pemuda itu.


“Kamu serius sama anak saya?”


“Serius dong, om. Kalau ngga serius, saya ngga mungkin berani dateng ke sini.”


“Kamu mau kasih makan apa sama anak saya kalau menikah nanti?”


“Ya ampun om, ya udah pasti saya kasih makanan manusia dong, seperti nasi dan lauk pauknya, bakso, siomay, cilok, seblak, bapao, cilor, cireng, pokoknya apa aja yang bisa dimakan. Anak om kan bukan sebangsa dedemit yang doyan kemenyan.”


Dengan kesal Zahra menepuk lengan Kenan. Pria itu mengusap pelan lengannya seraya melemparkan cengiran khasnya. Sandi semakin geram melihat dan mendengar jawaban Kenan. Mungkin di atas kepalanya sudah ada asap yang mengepul. Risma hanya melayangkan senyuman sinisnya. Berbeda dengan Dila dan Sisil yang terkikik geli.


“Orang tuamu kerjanya apa?”


☘️☘️☘️


**Go Kenan.. terus bikin si Sandi bengek🤣


Eh buat kalian yang suka horor, mamake baru bikin cerpen. Yuk intipin karya baru mamake, klik aja profil mamake ya terus klik gambar ini**



Jangan lupa kalau udah mampir kasih love sama komennya ya, makasih😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2