
Kenan duduk tenang di atas sepeda motornya, memperhatikan kang Ewok yang sibuk melebarkan adonan martabak. Gerakan tangan pria itu cukup cepat, dalam waktu singkat adonan tersebut sudah masuk ke dalam penggorengan. Kemudian tak sengaja mata Kenan melihat ke arah pembeli yang baru saja datang. Dia bergegas turun dari motor lalu mendekati pembeli tersebut yang baru mengambil nomor antrian.
“Hai suntik..” Kenan menowel lengan Zahra, membuat gadis itu terjengit.
“Ih ngagetin aja.”
“Makanya jangan ngelamun.”
“Kamu tuh kaya hantu, di mana-mana ada.”
“Itu tandanya kita jodoh. Di mana ada kamu di situ ada aku eaaa..”
Zahra mengulum senyumnya. Lama-lama dia mulai terbiasa mendengar gombalan receh Kenan. Pemuda itu tak pernah lelah mengejarnya dan melemparkan kata-kata yang kadang terdengar aneh di telinga. Kenan adalah pria pertama yang gigih mengejarnya. Biasanya lelaki yang mengejarnya berhenti di tengah jalan begitu mendapatkan sikap juteknya.
“Kamu ngapain di sini?”
“Ya beli martabak kang Ewoklah, masa lihatin dia bikin martabak. Kamu beli martabak buat siapa?”
“Buat adikku. Dia lagi sakit, pengen makan martabak katanya,” jelas Zahra.
“Sama dong. Aku juga beli buat kakak ipar. Dia ngidam pengen makan martabak bang Ewok sama susu murni.”
“Siapa?”
“Kakak iparku.”
“Yang nanya.”
Kenan tersenyum dongkol ke arah Zahra. Sekarang gadis itu sudah bisa membalas kata-katanya. Tapi itu justru membuatnya semakin gemas saja.
“Kakak ipar kamu yang tadi di rumah sakit?” tanya Zahra.
“Iya.”
“Jadi yang cowok kakak kamu?”
“Iya. Gantengan mana sama aku?” Kenan menaikturunkan alisnya.
“Gantengan kakak kamu,” Zahra memeletkan lidahnya ke arah Kenan.
“Tapi dia udah bersegel. Kamu ngga punya peluang sama dia. Mending sama aku yang masih avaliable.”
“Males.”
“Masa? Nanti aku ruqiyah kamu deh biar jin males yang nempel di kamu pergi.”
Zahra melotot ke arah Kenan, namun pemuda itu hanya terkekeh saja. Kenan berjanji akan mengucapkan terima kasih pada Nara sepulang dari sini. Berkat ngidamnya, dia bisa bertemu dengan gadis pujaannya.
“Sambil nunggu pesanan, anterin aku beli sumur yuk,” ajak Kenan.
“Wani piro?”
“Kamu minta apa? Tinggal bilang, bulan.. bintang.. planet sama asteroidnya bakal aku bawain buat kamu. Tapi aku ngga bisa bawain kamu matahari, karena kalau aku ambil, khawatir cahaya yang menerangi kamu menghilang.”
“Ish..”
Wajah Zahra memerah, bukan karena mendengar gombalan receh Kenan tapi karena beberapa orang yang juga tengah menunggu pesanan langsung melihat ke arahnya. Dia segera turun dari motor lalu berjalan menuju tenda yang menjual susu murni. Kenan bergegas menyusulnya.
“Mang sumurnya satu rasa melon, satu lagi original ya, dibungkus. Kamu mau ngga?”
“Yang coklat mang, satu, minum di sini.”
“Original satu lagi, minum di sini.”
Kenan mendudukkan dirinya di kursi panjang yang terbuat kayu yang tersedia di sana. Zahra ikut menyusul duduk di sana. Tak lama pesanan mereka sudah siap. Zahra memegang gelas dengan kedua tangannya, mencoba menghangatkan telapak tangannya yang terasa dingin. Kenan hanya memandangi apa yang dilakukan Zahra penuh damba. Andai dia yang menjadi gelas itu.
“Kamu masih lama magang di rumah sakit?”
“Kurang lebih tiga bulan lagi.”
“Abis magang ngapain?”
“Ya buat laporan terus persiapan buat tugas akhir.”
“Kamu ambil S1 apa D3?”
“D3. Kenapa sih nanya mulu? Udah kaya wartawan aja.”
“Ya kan aku pengen tahu lebih banyak soal calon istriku.”
“Ngarep.”
“Ngga apa-apa. Emang kamu ngga ngarep punya suami ganteng kaya aku?”
“Percuma ganteng kalau ngga setia.”
“Eh jangan ditanya soal itu. Buktinya biar udah dijutekin kamu jutaan kali. Aku tetap ngejar kamu, kamu dan kamu.”
“Iya pas ngejarnya setia. Giliran udah dapet siapa yang jamin kalau tetap setia.”
Zahra menyeruput susu murninya yang sudah berkurang panasnya. Kenan memandangi zahra lekat-lekat. Mata Zahra saat membicarakan soal kesetiaan nampak memancarkan kemarahan. Pemuda itu jadi bertanya-tanya apakah gadis pujaannya pernah dikhianati kekasihnya.
“Minum susunya, nanti keburu dingin.”
Lamunan Kenan terhenti begitu mendengar suara Zahra. Pemuda itu segera menyeruput susu murninya. Setelah menghabiskan minumannya, Kenan membayar semuanya kemudian kembali ke gerobak martabak kang Ewok sambil membawa bungkusan berisi susu murni pesanan sang kakak.
Sesampainya di sana ternyata pesanan martabak mereka sudah jadi. Kenan kembali membayarkan pesanan mereka. Walau Zahra menolak namun pemuda itu bersikeras dan akhirnya Zahra mengalah. Kalau dia ngotot menolak, Kenan akan melakukan hal yang membuatnya malu. Sebelum pulang ke rumah, Kenan lebih dulu mengantarkan Zahra sampai ke depan rumahnya.
“Jangan lupa besok aku jemput jam 10.”
“Iya, bawel.”
“Bawel tapi ngangenin kan?”
“Terserah kamu aja. Asal kamu bahagia.”
“Hahaha.. aku pulang dulu ya. Bye suntik sayang.”
Kenan melemparkan fly kiss ke arah Zahra kemudian menjalankan kendaraan roda dua miliknya. Sejenak Zahra masih terpaku di tempatnya, memandangi motor milik Kenan yang semakin menjauh. Suara sang adik akhirnya menyadarkan Zahra. Gadis itu segera memasukkan sepeda motor ke dalam rumah.
__ADS_1
☘️☘️☘️
Tepat jam sepuluh pagi, Kenan sudah sampai di kediaman Zahra. Adik Zahra yang bernama Silva, tertegun memandangi pria tampan yang berdiri di depan pintu. Gadis berusia 13 tahun itu segera memanggil sang kakak.
Zahra tertegun memandangi Kenan dalam balutan kaos oblong berwarna putih dilapisi kemeja tangan panjang berwarna biru navy, yang digulung sampai ke siku. Entah mengapa pemuda itu terlihat lebih tampan. Begitu pula dengan Kenan yang tak bisa melepaskan pandangannya dari Zahra.
“Ehem!!”
Deheman keras Silva, membangunkan pasangan itu dari lamunan. Zahra menyampirkan tas selendangnya ke bahu kemudian mengambil helmnya. Sebelum pergi, dia mengusap puncak kepala adiknya.
“Jangan lupa oleh-olehnya ya kak!”
Baru saja Zahra akan mengeluarkan motornya, namun Kenan melarang. Dia hanya ingin jalan-jalan dengan satu kendaraan saja. Setelah berdebat sebentar, akhirnya Zahra mengalah. Gadis itu memakai helmnya, lalu bersiap untuk naik.
“Mama kamu mana? Aku mau pamitan.”
“Mama kerja.”
“Ooh..”
Zahra memegang bahu Kenan sebagai tumpuan saat naik di belakang pemuda itu. Sejurus kemudian roda motor itu berputar. Saat motor keluar dari gang dan berbelok ke jalan besar, Kenan menambah kecepatan motornya. Dia menarik tangan Zahra yang hanya memegangi ujung jaketnya lalu melingkarkan ke pinggangnya.
Zahra berusaha menarik tangannya namun Kenan menahannya seraya menambah kecepatan motornya. Alhasil Zahra tak melepaskan pelukan di pinggang pemuda itu. Sebuah senyuman tercetak di wajah Kenan. Dia terus mengarahkan kendaraannya menuju Bandung Utara.
Motor milik Kenan berbelok memasuki salah satu wahana wisata baru yang ada di daerah Lembang. Wahana ini bukan hanya menyuguhkan pemandangan indah dan spot-spot untuk berfoto saja. Tapi juga menyediakan beberapa permainan yang memacu adrenalin, seperti flying fox, giant swing, jembatan gantung dan hammock yang tergantung tinggi di antara dua pohon besar.
Sejujurnya Zahra senang Kenan mengajaknya ke sini. Dari semenjak buka, dia memang sudah ingin mengunjungi tempat ini, hanya waktunya saja yang belum memungkinkan. Zahra bukanlah tipe gadis yang tidak tahu bersenang-senang, dia juga sering berjalan-jalan untuk menghilangkan suntuk. Tapi tak pernah ke tempat yang jauh, paling hanya jalan-jalan ke mall, makan di café atau menonton bioskop. Itu pun hanya dengan adik atau teman perempuannya saja.
Kenan adalah lelaki pertama yang berhasil mengajaknya keluar. Bahkan dokter tampan yang bekerja di tempat yang sama dengannya, juga tak berhasil mengajak gadis itu jalan-jalan. Selain ulet, Kenan seakan memiliki magnet yang sulit ditolak. Semakin kuat dia menolak, maka akan semakin kuat pemuda itu menarik ke arahnya.
“Mau main flying fox ngga?” tawar Kenan.
“Mau dong.”
Zahra terjengit ketika Kenan tiba-tiba menarik tangannya kemudian menuju tempat flying fox. Setelah membayar tiket, keduanya siap menjelajahi area wisata ini dengan berselucur melalui tali kawat. Jarak perjalanan mereka cukup jauh juga, melintasi lembah yang cukup dalam.
Terdengar teriakan Zahra ketika gadis itu mulai berseluncur. Kenan yang lebih dulu menaiki flying fox, menunggu gadis itu di ujung sana. Selesai memacu adrenalin dengan meluncur melawan arah angin, Kenan mengajak Zahra mencoba wahana lain yang tak kalah membuat jantung berdebar.
“Gimana asik ngga?” tanya Kenan setelah mereka mencoba semua permainan.
“Banget. Stress aku kayanya hilang.”
“Kapan-kapan kita ke sini lagi, ya.”
“Hmm..”
“Kamu sama pacar kamu suka kemana aja?"
“Aku ngga punya pacar.”
“Mantan pacar maksudnya.”
“Ngga punya juga.”
“Gebetan deh atau cowok yang lagi pedekate sama kamu.”
“Ngga ada.”
“Hmm..”
YES. Begitulah teriakan hati Kenan begitu mengetahui dirinya orang pertama yang berhasil mengajak Zahra kencan. Semangatnya semakin berkobar saja untuk mendapatkan gadis itu. Walau Zahra menerima ajakan kencannya karena ancaman, setidaknya dia sudah one step closer (satu langkah lebih dekat).
“Kamu sendiri sering ke tempat-tempat kaya gini?”
“Lumayan. Sama temen band."
“Yang duet bareng kamu itu pacar kamu?”
“Bukanlah, dia itu sepupuku, namanya Anya alias nyi ronggeng alias robot gedeg hahaha..”
“Dih jahat banget ngatain sepupu sendiri.”
“Lah kenyataan. Dia itu ngga bisa diem, ada aja yang keluar dari mulutnya. Udah gitu bocor banget, aku curiga sih timbangan otaknya kurang seons hahaha..”
“Sama kaya kamu.”
“Kan timbangan otakku yang kurang ada di kamu.”
“Dih..”
Kenan tergelak, namun tak ayal Zahra juga ikut tertawa. Namun tawa Zahra hilang saat melihat seorang pria bermain dengan dua orang anaknya. Wajahnya berubah mengeras, kemudian dengan cepat dia berdiri.
“Ayo pulang.”
“Kok pulang? Baru juga bentar.”
“Ya udah kamu di sini aja, aku mau pulang.”
Zahra bergegas pergi sebelum pria yang dilihatnya menyadari keberadaannya. Kenan segera menyusul, mensejajari langkah Zahra yang terkesan terburu-buru. Matanya memandang sekeling, menerka-nerka hal apa yang membuat gadis pujaannya tiba-tiba berubah mood.
Sepanjang perjalanan pulang, tak ada pembicaraan sama sekali. Pikiran Zahra berkelana pada kejadian pahit yang dialaminya 13 tahun lalu. Walau telah lama berlalu dan usianya masih terbilang muda saat itu, tetap saja kenangan pahit itu masih melekat dalam ingatannya. Kenangan yang membuat dirinya sempat membenci makhluk yang berjenis laki-laki.
Dengan menumpukan kedua tangan di pundak Kenan, Zahra turun dari kendaraan roda dua itu setibanya di depan rumah. Kenan membuka helmnya kemudian melihat Zahra yang masih memasang wajah masamnya.
“Ada masalah?”
“Ngga.”
“Kalau ngga kenapa jadi bete gini?"
“Ngga apa-apa,” nada Zahra terdengar ketus.
“Ok, deh. Next kita jalan-jalan lagi ya.”
“Ngga janji.”
Tanpa memberikan kesempatan pada Kenan untuk menjawab, Zahra segera masuk ke dalam rumah dan menutup pintunya. Kenan menghembuskan nafas panjang, baru saja hubungannya dengan Zahra sedikit mencair tapi entah karena apa dan siapa, gadis itu kembali ke mode awal. Kenan menyalakan kendaraannya kemudian melaju meninggalkan kediaman Zahra.
Sementara itu, Zahra masih berdiri dengan menyender di pintu. Hati kecilnya merasa bersalah telah bersikap ketus pada Kenan, padahal pemuda itu tidak melakukan kesalahan. Hanya saja kemunculan pria yang sangat dibencinya membuat moodnya berantakan.
__ADS_1
“Ra..”
Zahra terjengit ketika mendengar suara sang mama. Belum jam empat sore tapi mamanya sudah pulang ke rumah. Gadis itu mendekati ibunya kemudian mencium punggung tangannya.
“Mama kok udah pulang? Sakit?”
“Ngga.. emang ngga banyak pesanan hari ini, jadi mama sudah boleh pulang.”
Jawab wanita paruh baya yang bernama Nita itu. Ibu kandung dari Zahra bekerja di salah satu kantor jasa ekspedisi pengiriman. Biasanya dia pulang paling cepat jam empat sore, tapi tidak hari ini.
“Ra.. papamu telepon, katanya minggu besok kamu sama Silva disuruh ke rumah. Papamu ulang tahun.”
“Ngga mau.”
“Ra..”
“Kalau Silva mau pergi, silahkan aja, tapi aku ngga mau!”
Nita hanya menghela nafas panjang, pengkhianatan suaminya serta sikap kasarnya saat perselingkuhan itu terbongkar masih meninggalkan trauma mendalam pada Zahra. Bahkan anak sulungnya itu begitu membenci sang ayah. Setelah bercerai mantan suaminya itu sama sekali tidak pernah memberikan nafkah untuk kedua anaknya. Nita harus berjuang seorang diri membesarkan Zahra dan Silva.
“Ra.. biar bagaimana pun juga, dia papamu. Nanti saat kamu menikah, kamu tetap membutuhkannya sebagai wali.”
“Mama tenang aja, aku ngga akan menikah. Aku akan tetap menemani mama, membantu mama membesarkan Silva.”
“Ra.. istighfar.. jangan bicara seperti itu.”
“Bagiku, ngga ada laki-laki setia di dunia ini. Mereka bersikap manis hanya untuk mendapatkan hati kita. Setelah dapat, ditinggalkan begitu saja begitu mendapat yang baru, yang lebih segalanya dari kita. Seperti papa ke mama.”
Zahra segera masuk ke dalam kamar. Entah terbuat dari apa hati mamanya itu. Setelah disakiti dan dikhianati, dia tetap meminta kedua anaknya untuk tetap bersikap baik dan berbakti pada papanya. Zahra selalu menghindar jika sang mama sudah membicarakan papanya.
Nita hanya mampu memandangi pintu kamar Zahra yang tertutup. Hatinya gundah mendengar ucapan anak sulungnya tadi. Dia bisa bernafas lega karena Silva masih mau menuruti nasehatnya, karena anak itu masih dalam kandungan saat sang suami berselingkuh dengan rekan kerjanya.
Berbeda dengan Zahra yang sudah mengerti. Entah dengan cara apa Nita harus memulihkan luka hati anaknya. Diajak ke psikolog pun enggan, dia hanya bisa berpasrah menyerahkan semuanya pada Yang Maha Kuasa. Dalam setiap doanya, wanita itu selalu meminta Zahra dipertemukan dengan jodoh yang baik. Yang bisa menyembuhkan traumanya dan membahagiakan dirinya.
☘️☘️☘️
“Kak Naraaaaa…”
Kenan memanggil kakak iparnya begitu sampai di rumah. Kenzie dan Nara memang masih menginap di rumah Abi atas permintaan Nina. Nara yang sedang duduk santai di ruang tengah sambil menonton film seri kesukaannya segera menolehkan kepalanya begitu mendengar suara Kenan.
Senyuman terbit di wajah ibu hamil itu ketika melihat Kenan datang dengan membawa bungkusan di tangannya. Kenan mendaratkan bokongnya di sebelah Nara seraya menyerahkan bungkusan di tangannya. Aroma khas bapao langsung menerpa indra penciumannya begitu Nara membuka bungkusan tersebut.
“Makasih ya Naaaan.. kamu emang adikku yang terdebes deh.”
Nara mengeluarkan sebuah bapao dengan isi ayam, lalu langsung memakannya. Bapao yang masih terasa hangatnya itu tak butuh waktu lama untuk masuk ke dalam perutnya. Kenan hanya melongo melihat kakak iparnya menghabiskan dua buah bapao dalam waktu singkat.
“Kak.. laper apa kesurupan?”
“Dua-duanya hahaha..”
“Kak.. ngga ada niat ngidam yang aneh-aneh gitu?”
“Ngidam aneh gimana?”
“Apa kek yang out of the box. Perasaan kakak ngidamnya makanan mulu.”
Nara terdiam merenungi ucapan Kenan. Memang benar, setelah seminggu dinyatakan hamil, dia tidak ngidam yang aneh-aneh hanya sering minta dibelikan makanan saja. Paling hanya tidur minta dipeluk oleh Kenzie atau ingin bercinta sebelum suaminya kerja. Selebihnya normal saja.
“Gimana kalo kita bikin kesepakatan aja kak.”
“Kesepakatan apa?”
“Aku rela deh beliin apa yang kakak minta jam berapa pun, kapan pun dan di mana pun. Asal kakak mau bantu aku biar bisa deketin Zahra lagi.”
“Emang dia kenapa? Bukannya waktu itu kamu udah bisa ngajak dia jalan-jalan?”
“Nah itu dia kak. Semenjak itu dia tuh kaya ngehindari aku. Padahal aku ngga tahu apa salah dan dosaku.”
“Terus aku harus bantu gimana?”
“Nah kakak bilang kalau lagi ngidam. Ngidamnya tuh pengen lihat foto selfie aku sama Zahra. Atau pengen lihat aku nyanyi duet sama dia atau apa gitu yang ada hubungannya sama dia.”
“Emang dia bakalan percaya?”
“Ibu hamil itu kan kalo ngidam suka aneh-aneh. Ya dia pasti percaya-percaya aja sih kak. Banyak loh yang ngidam aneh-aneh.”
“Oh iya. Dulu waktu ngidam Dila, mama pernah ngidam makan batagor tapi yang jualnya harus botak kepalanya,” Nara terkikik geli.
“Nah kan udah ada contohnya. Please ya kak, bantuin aku.”
“Iya deh. Nanti aku ngobrol sama mas Ken dulu. Dia kan kadang punya ide aneh bin nyeleneh.”
“Nah betul. Tilimikici kakak iparku tersayang.”
Kenan baru saja akan memeluk Nara, namun sebuah jeweran mendarat di telinganya sebelum pemuda itu sempat menyentuh tubuh Nara. Kenan hanya melayangkan cengiran khasnya lalu kabur ke kamarnya begitu melihat sang pemilik kakak ipar sudah berdiri di dekatnya. Kenzie mendaratkan bokongnya di samping sang istri.
“Si kompor mledug ngomong apa tadi?”
“Itu, mas.. dia minta tolong aku ngidam yang aneh-aneh tapi ngelibatin Zahra, suster kecengannya. Kasihan mas, kayanya dia mentok deh.”
“Ck.. gimana ngga mentok, si Zahra pasti udah gumoh denger ocehannya yang ngga jelas."
“EH GUE DENGER YA, BANG!!!” teriak Kenan yang masih berdiri di anak tangga.
“BODO AMAT!!!” balas Kenzie tak kalah kencang sampai Nara harus menutup kedua telinganya.
“Ish kalian tuh, udah kaya di hutan aja teriak-teriak,” protes Nara.
“KAK NARA JANGAN LUPA BANTUIN AKU. KALAU BERHASIL AKU AKAN BERBAKTI JADI ADIK IPAR YANG BAIK BUAT KAKAK.”
“USAHA SENDIRI. JANGAN GANGGUIN BINI GUE.”
“BERISIK!!!”
Kenzie dan Kenan langsung bungkam begitu mendengar suara sang mama dengan kekuatan 1000 ampere. Si kompor mledug bergegas naik ke lantai dua lalu masuk ke dalam kamarnya. Kenzie mengambil bapao lalu menyuapi istrinya. Nara hanya terkikik geli, begitu singa betina mengaum, naga kutub dan kompor mledug langsung bungkam seribu bahasa.
☘️☘️☘️
**Yang nunggu Al sama Viren, sabar ya. Kasih waktu dulu buat kompor mledug show off, soalnya perjuangan doi masih panjang ya gaesss
__ADS_1
Cocok ngga? Zahra & Kenan**