KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Season 2 : Calon Pengantin


__ADS_3

Kepala Barra menengok ke kanan dan kiri saat memasuki kediaman Anfa. Telunjuknya diletakkan di bibir saat salah seorang security melihatnya. Didekatinya penjaga di rumah Anfa tersebut. Pria itu membisikkan sesuatu kemudian memasukkan beberapa lembar seratus ribuan ke saku pakaian dinas security.


Setelah mendapat uang pelicin, pria itu mengantarkan Barra menuju ruang film melalui pintu samping yang biasa digunakan untuk para pekerja di rumah ini. Kemudian security tersebut masuk ke dalam rumah. Dia mencari keberadaan Hanna. Kebetulan sosok yang dicarinya tengah berada di dapur.


“Mba Hanna ditunggu mas Barra di ruang film.”


Hampir saja air dalam mulut Hanna tersembur keluar mendengar ucapan penjaga rumahnya. Pasalnya mereka tengah melakukan ritual pingitan. Dan ini adalah hari terakhir, karena besok mereka sudah berhadapan dengan penghulu. Gadis itu segera menuju ruangan film yang berada di dekat kolam renang.


Baru saja Hanna membuka pintu ruangan, Barra yang sudah lebih masuk segera menarik tangan calon istrinya. Dengan cepat dipeluknya tubuh Hanna. Hampir seminggu tak bertemu membuat Barra dilanda kerinduan. Setelah puas, pria itu mengurai pelukannya.


“Abang ngapain ke sini?”


“Kangen, Han.”


“Kalau ketahuan mimi bisa bahaya.”


“Sebentar aja, sayang.”


Barra kembali menarik Hanna ke dalam pelukannya. Tanpa mereka sadari Haikal rupanya juga tengah berada di sana. Pemuda itu sudah sejak dua jam lalu berada di ruang film untuk menghindari keramaian di rumah sambil bermain game online. Dia tak menyadari kedatangan pasangan calon pengantin karena berada dalam posisi tiduran dan telinganya tersumbat earphone.


Haikal beranjak dari posisinya ketika merasakan tenggorokannya terasa kering. Namun dia kembali ke posisi semula begitu melihat kakak dan calon kakak iparnya tengah berpelukan. Dilepaskan earphone dari telinganya, lalu pelan-pelan mengangkat tubuhnya, mengintip dari balik sandaran sofa.


Barra mengurai pelukannya, kemudian jemarinya bergerak merapihkan rambut Hanna yang sedikit berantakan. Diraihnya kedua bahu Hanna lalu mendaratkan ciuman di kening calon istrinya itu. Tak cukup sampai di situ, bibir Barra mulai mengarah ke bawah, tepatnya ke bibir Hanna. Perlahan pria itu mendekatkan wajahnya. Dan saat bibir mereka akan bertemu beberapa senti lagi, tiba-tiba.


“SETOOOOPPPPP!!!!”


Pertautan bibir yang hampir saja terjadi akhirnya terhenti. Refleks Hanna mendorong tubuh Barra begitu mendengar teriakan adik laki-lakinya itu. Haikal bangun dari sofa kemudian berjalan menghampiri pasangan tersebut. Barra menatap pada calon adik iparnya dengan tatapan mata keki.


“Bang, ngapain ke sini? Kan lagi dipingit. Wah parah nih, mau curi-curi kesempitan dalam kesempatan.”


“Sejak kapan lo di sini?” bukannya menjawab, Barra malah balik melontarkan pertanyaan.


“Ye suka-suka gue, bang mau nongki di mana aja.”


“Dari sekian banyak tempat di rumah ini kenapa lo malah nongki di sini?” sewot Barra.


“Buset.. terus gue harus nongki di mana? Masa iya gue harus nongki di kamar bi Sarmi.”


“Udah sana pergi. Gangguin aja yang temu kangen.”


“Dih mana boleh. Kan lagi pingitan. MIMI!! MIMI!! ADA BANG MMPPHH..”


Barra langsung membekap mulut Haikal dengan tangannya. Namun tak lama kemudian dilepaskan kembali karena Haikal meludah ke telapak tangannya. Air liur yang menempel di telapak tangannya segera disusutkan ke kepala Haikal.


“Woi bau jigong rambut gue!” protes Haikal.


“Kan jigong lo sendiri, PEA,” Barra menoyor kepala calon adik iparnya itu. Hanna tak bisa menahan tawanya. Gadis itu tergelak seraya berjongkok melihat kelakuan calon suami dan adiknya.


“Kak.. udah sana balik. Tar dicari mimi. Biarin bang Barra kangen-kangenannya ama gue.”

__ADS_1


“Najis.. siapa yang mau kangen-kangenan ama elo,” Barra menjitak kepala Haikal.


Tak tahan melihat interaksi Barra dan Haikal, Hanna langsung berlari keluar ruang film. Karena tak berhenti tertawa, hampir saja gadis itu mengompol. Ditinggalkan Hanna, Barra memilih untuk pulang. Dia mencuci tangan terlebih dahulu di wastafel yang ada di ruangan film lalu mengusap tangannya yang basah ke wajah Haikal seraya keluar dari sana.


☘️☘️☘️


Sebuah mobil berjenis sedan, berwarna hitam berhenti di depan gang yang menuju kediaman Zahra. Tak lama seorang pria turun kemudian berjalan menuju rumah Zahra. Melihat orang yang dikirimkan Darmawan untuk menjemput dirinya dan anak-anak, Nita bersiap untuk pergi.


Malam ini, Darmawan memang mengajak makan malam bersama dengan kedua anaknya. Dia juga meminta Nita membawa kedua anaknya. Rencananya malam ini dia ingin melamar Nita di hadapan anak-anak mereka.


Mobil yang membawa Nita dan kedua anaknya berhenti di sebuah restoran bintang lima. Seorang pelayan langsung menyambut mereka dan membawa ke privat room yang sudah dipesan. Pelayan wanita itu membukakan pintu ruang private tersebut. Darmawan segera berdiri untuk menyambut wanita yang telah berhasil mencuri hatinya.


“Nita.. kenalkan ini anak-anakku. Ini Fikri dan istrinya Wulan, yang ganteng ini cucuku, namanya Gibran. Lalu ini Mentari, kamu pasti sudah kenal dan ini Petra, calon suaminya.”


Nita menyalami satu per satu yang dikenalkan oleh Darmawan, disusul oleh Zahra juga Silva. Pria itu kemudian mempersilahkan tamu undangannya untuk duduk. Untuk sesaat ketiganya masih merasa canggung, namun sikap hangat Darmawan dan Mentari membuat kecanggungan mereka mengurai perlahan.


“Zahra masih kuliah atau sudah lulus?” tanya Darmawan.


“Masih kuliah, om. Sekarang lagi magang, rumah sakit.”


“Sering nangani pasien aneh ngga?” tanya Mentari.


“Pernah, kak. Ya itu, Kenan.”


“Hahaha..”


Semuanya terdengar mendengar jawaban Zahra. Keluarga Darmawan memang sudah mengenal semua anak Abi. Fikri juga teman satu angkatan Kenzie saat kuliah, jadi dia juga mengenal Kenan.


“Nita.. seperti yang sudah aku katakan sebelumnya. Aku ingin menjalin hubungan serius denganmu. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu, kalau kamu berkenan.”


Wanita itu tak dapat berkata-kata. Dia hanya menundukkan pandangannya sebentar lalu melihat lagi ke arah pria yang duduk di hadapannya. Melihat wanita yang dipilih sang ayah hanya terdiam, Mentari berinisiatif menjadi penengah.


“Tante.. papaku ini belum pernah menjalin hubungan dengan wanita lain setelah mama meninggal dunia. Dan baru kali aku melihat papa menunjukkan ketertarikannya pada lawan jenis. Kalau aku pribadi tidak keberatan dengan keputusan papa untuk menikah lagi. Aku sadar papa butuh pendamping untuk menenaminya, karena sebentar lagi aku juga akan menikah dan tidak bisa selalu ada di samping papa. Kalau tante mau menerima papa, aku akan sangat berbahagia.”


“Begitu pula dengan saya, tante. Saya berharap tante bisa menemani hari-hari sepi, papa. Saya juga senang bisa mendapatkan adik lagi. Saya berharap kita bisa jadi satu keluarga yang saling menyayangi dan mengasihi,” sambung Fikri.


Mata Nita nampak berkaca-kaca. Perasaan bahagia dan haru mengentaknya bersamaan. Sikap hangat kedua anak Darmawan membuatnya yakin akan kesungguhan hati pria itu. Nita melihat ke arah Zahra juga Silva, ingin mendengar pendapat keduanya sebelum dirinya mengatakan keputusannya.


“Kalau mama bahagia, aku ikut bahagia. Mungkin saja om Darma itu malaikat yang dikirimkan Tuhan untuk mama agar hidup mama bahagia lagi. Apapun keputusan mama, aku mendukungnya,” ujar Zahra.


“Kalau mama nikah sama om Darma, Silva jadi punya papa dan tiga orang kakak,” celetuk Silva sambil memamerkan deretan gigi putihnya saat tersenyum.


Semua juga tersenyum mendengar ucapan gadis belia itu. Tangan Fikri bergerak mengusap puncak kepala Silva, membuat gadis itu senang dan merasa disayangi. Darmawan meraih tangan Nita.


“Nita.. terima kasih sudah membuat jantungku berdetak lebih cepat dan membuat hatiku bergetar lagi. Seperti yang kukatakan, aku tidak akan menjanjikan apapun, tapi marilah kita coba jalani hubungan ini. Aku akan belajar dan berusaha memahami dirimu, begitu pula dirimu mau mencoba memahami diriku dan menerima kekuranganku. Apa kamu mau menikah denganku?”


“Iya, mas. Aku mau.”


“Alhamdulillah.”

__ADS_1


Mentari berseru senang. Dia segera berdiri dari duduknya lalu memeluk Nita dengan erat. Dia juga memeluk Zahra dan Silva bergantian. Fikri pun merasakan kebahagiaan yang sama. Melihat sang papa telah menemukan pendamping hidup yang baik seperti almarhumah mamanya, membuat pria itu sedikit lebih tenang sekarang.


Usai makan malam, Darmawan sendiri yang akan mengantarkan Nita beserta kedua anaknya pulang ke rumah. Namun Zahra tak ikut dengan mereka karena Kenan telah menjemputnya.


Darmawan menyempatkan diri mampir ke kediaman Nita. Pria itu duduk di ruang tamu sambil menunggu Nita menyiapkan minuman untuknya, sementara Silva memilih masuk ke dalam kamar.


“Diminum dulu, mas.”


Nita meletakkan secangkir the manis di atas meja. Darmawan mengambil cangkir tersebut kemudian menyesap pelan minuman berwarna kuning kecoklatan tersebut. Diletakkan kembali cangkir ke atas meja lalu melihat ke arah Nita.


“Nita.. apa kamu tidak keberatan kalau kita menikah dalam waktu dekat?”


“Apa tidak terlalu cepat, mas?”


“Kita bukan lagi anak muda. Aku ingin sebelum pernikahan Mentari, aku sudah memiliki pendamping yang akan menemaniku di pelaminan nanti.”


“Aku terserah mas, saja. Tapi kalau boleh, aku hanya ingin pesta yang sederhana saja.”


“Terserah dirimu saja. Oh iya, besok kamu mau kan menemaniku ke pernikahan Barra dan Hanna. Zahra juga pasti datang, karena Hanna itu sepupu Kenan.”


“In Syaa Allah, mas.”


“Besok mas jemput jam Sembilan. Akad nikahnya jam sepuluh.”


“Iya, mas.”


Suasana kembali hening sejenak. Untuk menghilangkan kecanggungan, mata Darmawan mengelilingi ruang tamu yang tidak terlalu luas itu. Matanya kemudian tertumbuk pada figura yang terpajang di dinding. Foto Nita dengan kedua anaknya.


“Nit, apa boleh mas meminta sesuatu?”


“Apa itu?”


“Kalau kamu tidak keberatan, apa kamu mau berhenti bekerja? Sudah waktunya kamu berdiam diri di rumah, menemani Silva atau melakukan hobi yang kamu suka.”


“Iya, mas. Sebenarnya aku sudah mengajukan surat pengunduran diri, Zahra minta aku berhenti kerja, tapi masih diproses.”


“Syukurlah kalau begitu. Oh ya, apa hobimu? Aku lihat di depan ada beberapa tanaman. Apa kamu suka merawat bunga?”


“Iya, mas.”


“Di rumahku ada taman kecil. Kamu bisa menanaminya dengan bunga yang kamu sukai.”


“Terima kasih, mas.”


“Aku yang berterima kasih, kamu mau menerima diriku ini.”


“Mas bisa saja.”


Wajah Nita bersemu merah mendengarnya. Dermawan mengulum senyum simpul, dia suka melihat rona merah di wajah Nita. Keduanya terus melanjutkan perbincangan, masing-masing mencoba untuk lebih terbuka lagi. Mencari tahu apa saja hal yang disukai dan tidak disukai, demi menghindari perselisihan saat mereka menikah nanti.

__ADS_1


☘️☘️☘️


Eaaa....pak Darmawan bisa ngegembel juga ya. Kita ketemu lagi hari Sabtu ya, jangan lupa dandan yang cetar, soalnya mau ke undangan Barra & Hanna💃💃💃


__ADS_2