KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Season 2 : Sweet Moments


__ADS_3

Waktu berbulan madu yang ditunggu Alisha akhirnya tiba. Sehari setelah sidang skripsinya, Viren langsung mengajak sang istri untuk berbulan madu. Seperti keinginan Alisha, mereka berencana untuk mengunjungi beberapa negara di Eropa, seperti Perancis, Italia dan Swiss.


Pagi-pagi sekali keduanya sudah bersiap untuk berangkat. Awalnya mereka berencana menggunakan pesawat komersil, namun Juna melarang dan menganjurkan menggunakan jet pribadi milik keluarga Hikmat demi kenyamanan perjalanan.


Sebelum menuju bandara, Viren meminta supir yang mengantar mereka untuk mampir ke kediaman Cakra. Dia ingin melihat keadaan sang sahabat, Anya, sebelum pergi berbulan madu. Kendaraan roda empat itu meluncur menuju daerah di mana Cakra tinggal.


Kedatangan Viren dan Alisha disambut ramah oleh Sekar. Wanita itu juga memanggilkan Anya yang masih berada di kamarnya. Mendengar kedatangan sepupu dan sahabatnya, Anya bergegas keluar kamar ditemani oleh Irvin. Dengan langkah pelan, Irvin membantu sang istri berjalan menuju ruang tengah.


“Eh tumben ke sini pagi-pagi, ada apa?” tanya Anya seraya mendudukkan diri di sofa.


Sebelum menjawab pertanyaan sang sahabat, Viren menyerahkan sebuah paper bag di tangannya pada ibu hamil itu. Tangan Anya terulur mengambil paper bag tersebut, senyumnya mengembang melihat isi di dalamnya adalah coklat kesukaannya.


“Wah makasih, bang.”


“Itu coklat kismis. Katanya kismis bagus buat ibu hamil.”


“Uuuhh… bang Vir, sweet aned sih. Semenjak nikah ama Al, udah ngga jadi chiller lagi ya. Udah berubah jadi hot box,” Anya terkikik geli mendengar ucapannya sendiri.


“Kalian bukannya mau bulan madu?” tanya Irvin.


“Iya, bang. Sebelum ke bandara, bang Vir ngajakin ke sini dulu. Mau nengok Anya katanya,” jawab Alisha.


“Ya ampun abang, aku terhura loh…”


Irvin berdehem menanggapi ucapan sang istri. Seketika hatinya panas melihat perhatian yang diberikan Viren pada Anya. Sejak dirinya menjadi calon ayah, kadar cemburu Irvin memang naik berkali lipat dari biasanya.


“Nya.. gue mau bulan madu sekitar semingguan. Kalau bisa lo jangan brojol dulu ya. Tungguin kita pulang baru keluarin tuh anak lo.”


“Buset, bang. Dikira lahiran bisa dipesen apa kapan waktunya. Kan gue lahirannya mau normal, bukan caesar. Tergantung si utun mau keluarnya kapan.”


“Gaje banget sih, lo,” ujar Irvin.


Tanpa mempedulikan calon orang tua itu, Viren bangun dari duduknya lalu berjongkok di depan Anya. Tangannya menempel di perut buncit Anya, sontak Irvin melotot melihat pemandangan tersebut. Alisha hanya menundukkan pandangannya, mencoba menyembunyikan tawanya.


“Tong… jangan brojol dulu. Tungguin uncle ama onty balik bulan madu ya. Betah-betahin aja dulu di perut emak, ok.”


Setelah mengucapkan kalimat absurd tersebut, Viren bangkit kemudian kembali ke tempatnya semula.


“Buset bang, kaga enak banget nyebut anak gue ‘tong’, giliran nyebut diri sendiri uncle,” sewot Anya. Tawa Alisha langsung pecah mendengarnya.


“Gue pergi dulu, ya. Salam buat papi. Inget, jangan brojol dulu.”


Tanpa menunggu jawaban Anya, Viren meraih tangan Alisha kemudian beranjak dari tempatnya duduk. Sebelum pergi, mereka menyempatkan diri berpamitan pada Sekar yang tengah berada di dapur. Anya juga ikut bangun untuk mengantar kepergian sepupu dan sahabatnya ditemani Irvin.


“Hati-hati ya, Al, bang. Nanti pulang bulan madu mudah-mudahan ada kabar gembira. Yang rajin nebar benih buat calon ponakan gue,” seru Anya yang hanya dibalas Viren dengan mengangkat ibu jarinya.


Anya terus bertahan di tempatnya, memperhatikan kendaraan yang ditumpangi Viren dan Alisha sampai tak terlihat lagi. Lamunan ibu hamil itu buyar ketika Irvin mengajaknya duduk di kursi yang ada di teras.


“Tumbenan Viren ngasih coklat. Ada angin apaan?”


“Angin timur kali, a,” jawab Anya seraya mengulum senyum. Dia sudah bisa menebak kalau sang suami tengah dilanda cemburu.


“Terus ngapain dia tadi pegang-pegang perut kamu?”


“Kan dia lagi ngobrol sama calon anak kita.”


“Tapi bisa kan ngga usah pegang-pegang perut segala.”


“Aa kenapa sih? Bawaannya sewot mulu. Itu bang Vir, suaminya Al, jangan mikir yang aneh-aneh deh. Masa cemburu sama bang Vir.”


Irvin hanya melengos, enggan menanggapi ucapan sang istri. Dari sekian pria yang dekat dengan Anya, dia memang paling cemburu pada Viren. Karena sebelum dirinya mempersunting Anya, gonjang-ganjing Viren menjalin hubungan dengan sang istri kerap mampir ke telinganya. Apalagi melihat bagaimana perhatian Viren pada Anya tadi, jelas membuatnya merasa cemburu.


“Kamu beneran dulu ngga pernah pacaran sama Viren?”


“Allahu Akbar, aa. Antara aku ama bang Vir ngga ada apa-apa. Emang aa ngga bisa lihat sebucin apa bang Vir ama Al? Aa tuh jangan ngadi-ngadi deh.”


“Yang hamil tuh bukan kamu aja. Ada Azra, Frey sama Hanna. Tapi kenapa cuma kamu yang dikasih coklat?”


“Ish.. aa tuh kalau lagi cemburu gini malah bikin gemes.”


Anya menangkup wajah Irvin kemudian mengecup bibir suaminya. Tangan Irvin bergerak cepat menahan tengkuk Anya, mengubah kecupan menjadi lum*tan panjang. Beberapa kali Anya menepuk dada Irvin saat merasakan dirinya mulai kehabisan oksigen akibat ulah suaminya.


“Aku cinta dan sayang kamu, Nya. Tolong jangan buat aku cemburu terus.”


“Aku juga sayang sama aa. Aa jangan cemburuan mulu.”


“Cuma sayang?” kening Irvin mengernyit.


“Cinta juga aa. I lap yu full, bibeh.”


Irvin menarik Anya ke dalam pelukannya. Untuk beberapa saat pria itu mendekap tubuh sang istri cukup erat. Tanpa Anya tahu, hati dan pikiran Irvin tengah galau menanti detik-detik waktu kelahiran sang anak. Ada rasa ketakutan yang menggelayuti dirinya.


☘️☘️☘️


Di hari ketiga berbulan madu, Viren dan Alisha tengah berada di Venesia, salah satu destinasi wisata yang mereka rencanakan untuk kunjungi. Walau pernah berkunjung ke Venesia beberapa kali, namun kunjungan kali ini terasa begitu spesial bagi Alisha. Karena kini ada suami tercinta yang mendampingi. Impiannya menyusuri kanal menggunakan gondola akhirnya bisa menjadi kenyataan.


Viren menghampiri salah satu gondola yang terparkir di sana. Pria itu naik ke atas gondola kemudian mengulurkan tangannya pada Alisha, membantu sang istri untuk naik. Setelah mendapatkan posisi duduk yang enak, sang pengayuh gondola segera menggerakkan perahu dengan dayungnya.

__ADS_1


Sambil menikmati udara sore hari dipayungi langit yang masih terlihat cerah, Alisha menikmati perjalanan mereka. Sesekali ponsel di tangannya mengabadikan gambar dirinya bersama sang suami. Tangan Viren melingkari pinggang sang istri kemudian menaruh dagu di pundaknya. Sesekali terdengar tawa kecil Alisha saat rasa geli menggelitik ketika Viren meniup telinga atau menciumi tengkuknya.


“Kamu senang, Al?”


“Seneng banget, bang. Dari dulu aku pengen banget naik gondola sama pasangan. Dan sekarang impianku terwujud.”


“Dulu siapa yang kamu inginkan jadi pasangan menemani kamu ke sini?”


“Hmm… siapa ya. Belum kepikiran sih. Aku kadang ngebayangin sama aktor drakor kesukaanku, hihihi….”


“Hmm.. terus abang sama aktor drakormu ganteng mana?”


“Ya ganteng abang dong, tapi dikit, banyakan dia hihihi…”


“Oh gitu ya.”


Tangan Viren menggelitiki pinggang Alisha, membuat wanita itu tertawa kegelian. Pria itu baru menghentikan aksinya ketika terdengar suara Alisha meminta ampun. Sang pengayuh gondola mengulum senyum mendengar suara tawa di belakangnya. Tanpa melihat pun dia bisa membayangkan kemesraan yang terjadi di antara keduanya.


Usai berjalan menyuri kanal dengan gondola, yang dilanjutkan dengan mencicipi makanan halal yang tersedia di sana, keduanya kembali ke hotel tempat menginap. Posisi hotel mereka tak jauh dari jantung kota Venice, agar lebih memudahkan mereka berjalan-jalan menyusuri keindahan kota yang terkenal dengan julukan City of Canals.


Setelah membersihkan diri, keduanya tengah bersantai di atas ranjang berukuran king size sambil menonton tayangan televisi. Viren merebahkan kepalanya di pangkuan Alisha, matanya terus memperhatikan layar datar di depannya.


“Bang..”


“Hmm..”


“Abang waktu itu sengaja ya manas-manasin bang Irvin.”


“Iya.”


“Ish.. jahara abang. Pasti Anya digerenyem sama bang Irvin begitu kita pergi.”


“Derita nyi ronggeng.”


Viren merubah posisi berbaring dengan kepala menghadap ke perut Alisha. Tangannya melingkari pinggang sang istri kemudian bibirnya beberapa kali mendaratkan ciuman di perut rata Alisha. Dalam hatinya berharap semoga akan segera hadir buah hati dalam rahim istrinya.


“Abang.. kalau aku ngga bisa punya anak gimana?”


Ciuman di perut Alisha terhenti. Viren mendongakkan kepalanya, melihat pada sang istri yang juga tengah melihat padanya. Tangannya bergerak menarik kepala Alisha seraya sedikit menegakkan tubuhnya. Sebuah ciuman lembut diberikan pria itu pada Alisha. Setelah beberapa saat, dia mengakhiri pagutannya.


“Jangan memikirkan hal yang belum tentu terjadi. Sekarang kita hanya perlu berusaha dan berdoa saja. Hasil akhirnya biarkan Allah yang menentukan.”


“Iya, bang.”


“Sekarang usaha lagi.”


Viren mengangkat tubuhnya kemudian kembali menyambar bibir istrinya. Alisha membalas ciuman yang suami hingga keduanya mulai terbawa hasrat. Viren membaringkan Alisha dan mencumbui sang istri. Udara panas langsung menguar di sekitar mereka ketika keduanya mulai saling berbagi keringat dan kenikmatan menuju surga dunia.


☘️☘️☘️


“Pagi-pagi sudah melamun, ada apa?”


“Ngga apa-apa, pa.”


“Jangan bohong. Papa lihat belakangan ini kamu terlihat gelisah. Apa ada masalah dengan kehamilan Anya?”


“Ngga, pa.”


“Lalu?”


Irvin terdiam sejenak. Terdengar tarikan nafas panjangnya di tengah kebisuannya. Sepertinya dia memang harus berbagi dengan sang ayah, kegelisahan yang menggelayutinya akhir-akhir ini.


“Pa.. bagaimana kondisi mama Bila waktu melahirkan aku?”


Kali ini giliran Radix yang menarik nafas panjang. Kini pria itu paham apa yang tengah mengganggu pikiran anaknya. Sepertinya Irvin mengalami ketakutan akan mengalami peristiwa yang sama seperti dirinya dulu. Kehilangan istri tercinta setelah melahirkan buah hati mereka.


“Sejak awal kehamilan, kondisi mamamu sudah tidak baik. Tapi mamamu bersikeras untuk tetap mempertahankan kandungan dan melahirkanmu. Papa tahu kekhawatiranmu, tapi jangan samakan keadaan mamamu dengan Anya. Istrimu sehat, anak dalam kandungannya juga, In Syaa Allah semuanya akan baik-baik saja. Singkirkan pikiran burukmu itu. Kamu harus tetap positif thinking, jangan biarkan ketakutan seperti itu menghantui pikiranmu. Anya membutuhkan dirimu, kamu harus kuat.”


“Iya, pa. Tapi… jujur aku takut.”


“Berdoa saja, Vin.”


Radix menepuk pelan pundak anaknya. Baru saja dia hendak beranjak dari tempatnya, ponsel Irvin berdering. Sebuah panggilan masuk dari mama mertua masuk. Dengan cepat Irvin menjawabnya.


“Halo..”


“Vin.. bisa kamu ke rumah sakit sekarang?”


“Kenapa ma? Anya baik-baik aja kan?” Irvin serta merta bangun dari duduknya.


“Anya sudah mau melahirkan. Mama tunggu sekarang.”


“Iya, ma.”


Dengan panik Irvin membereskan barang-barangnya di atas meja, memasukkan ponsel ke saku celananya. Setelah menyambar jasnya, tanpa berpamitan pada Radix, pria itu bergegas keluar dari ruangan. Bahkan dia tak mendengar panggilan Barra yang berpapasan dengannya di depan pintu ruangan.


“Om.. Irvin kenapa?”

__ADS_1


“Tadi ada telepon, sepertinya Anya mau melahirkan.”


“Wah.. ayo om kita ke rumah sakit.”


“Ayo.”


Bergegas keduanya lalu menyusul langkah Irvin keluar ruangan. Setelah memberikan pesan pada sang sekretaris, Barra segera meninggalkan kantor bersama dengan Radix.


☘️☘️☘️


Irvin berdiri di samping partus bed. Matanya terus memandangi bidan yang tengah membersihkan sisa darah di rahim Anya yang baru saja melahirkan anak pertama mereka sepuluh menit yang lalu. Lamunan pria itu terhenti ketika suster mendekat lalu memberikan bayi mungil yang baru saja selesai dibersihkan.


Dengan perasaan diliputi keharuan, Irvin menerima bayi berjenis kelamin wanita dengan berat 3 kilogram dan panjang 49 cm. Sejenak pria itu memandangi darah dagingnya sebelum dia mempedengarkan adzan di telinga kanan sang anak. Airmata Anya meleleh mendengar suara Irvin yang bergetar ketika mengumandangkan adzan.


Irvin terus mendampingi Anya yang tengah dijahit sambil memberikan inisiasi dini untuk putri tercinta. Ada perasaan lega melihat sang istri berhasil melewati detik-detik menegangkan ketika berjuang mengeluarkan bayi mungil mereka. Ibu muda itu dipersilahkan pindah ke ruang perawatan setelah dokter memastikan kondisinya aman.


Wajah-wajah sumringah menyambut orang tua baru itu. Di sana juga ada Viren dan Alisha yang baru saja pulang berbulan madu dua hari yang lalu. Sekar langsung mengambil cucu keduanya yang berada dalam gendongan Anya. Wanita itu kemudian mengikuti kursi roda yang diduduki putrinya menuju ruang perawatan VVIP.


Doa-doa dan pujian terus mengalir pada bayi mungil cantik yang tertidur pulas di boks. Wajahnya perpaduan Irvin dan Anya, ada lesung di pipi sebelah kanannya setiap dia tersenyum.


“Kamu sudah menyiapkan nama untuk anakmu?” tanya Radix pada Irvin yang terus saja duduk di samping Anya.


“Sudah, pa.”


“Siapa namanya?”


“Auristela Danastri.”


“Panggilannya apa?” tanya Viren.


“Stela.”


“Jiaaahhh kaya pengharum ruangan, Stela,” celetuk Kenan.


“Daripada dipanggil Au.. tar kaya tarzan auuooo,” timpal Revan.


Sebuah apel langsung mendarat di kepala Revan, pelakunya tak lain sang ibu yang sudah memasang wajah perang. Sambil mengusap kening, Revan mengambil apel yang terjatuh di lantai. Diusapnya apel ke bajunya lalu menggigitnya.


“Dasar jorok. Abis jatuh bukan dicuci dulu,” seru Anya.


“Vitamin, PEA,” jawab Revan santai seraya mengusah gigitan apelnya.


Perbincangan mereka terhenti ketika dokter masuk untuk memeriksa keadaan Anya. Irvin langsung bertanya ketika dokter wanita itu selesai memeriksa.


“Istri saya baik-baik aja kan dok?”


“Alhamdulillah, kondisi ibu Anya baik. Kalau tidak ada kendala, besok sudah boleh pulang.”


“Alhamdulillah.”


Raut lega terpancar dari wajah Irvin. Rasa cemas yang kerap menghantuinya, berangsur menghilang. Pria itu menoleh pada Anya, meraih tangan wanita itu kemudian mengecupnya lembut.


“Terima kasih sayang, I love you.”


“I love you too, aa.”


“Aku sudah lega sekarang.”


“Aa cemas berlebihan. Aku dan anak kita baik-baik aja.”


“Aku cuma takut, kamu seperti mama,” ujar Irvin dengan suara pelan.


“Aku baik-baik aja. Aku harus tetap hidup untuk mendampingi aa dan membesarkan anak kita. Kalau aku pergi gimana nasib anak kita? Aku ngga rela aa nikah lagi dan anak kita dapet ibu tiri karena ibu tiri hanya cinta kepada suamiku saja,” Anya mengucapkan kalimat terakhir seraya menyanyikannya.


PLETAK


“Aduh.. sakit aa.”


Anya mengusap keningnya ketika merasakan sentilan di sana. Irvin langsung menggantikan sentilannya tadi dengan ciuman di kening.


“Jiaaahhhh… masih banyak penonton oiii…” ujar Revan.


“Au… kaga tahu malu banget,” sungut Haikal.


“Iri bilang bos,” jawab Anya.


“Harap maklum jomblo karatan lagi sensi akhir-akhir ini,” celetuk Kenan.


“Tar gue masukin fotonya ke situs cari jodoh,” sahut Viren dengan santai.


“Sue lo pada..”


Gelak tawa langsung terdengar. Haikal hanya bisa pasrah menjadi bulan-bulanan sahabat dan sepupunya. Kini presiden jomblo resmi berpindah pada dirinya setelah Kenan bertunangan dengan Zahra, dan Revan mulai berkencan dengan Tiara.


☘️☘️☘️


**Alhamdulillah bisa up lagi. Doakan besok daku juga bisa up ya😉

__ADS_1


Eh yang belum cek SUNDIRAH, yuk ah kepoin ceritanya. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya, like, komen dan rate bintang 5🤗**



__ADS_2