KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Season 2 : Main Hati


__ADS_3

KRAK!!


Lucky hanya melongo saat Kenzie menginjak ponselnya. Benda pipih itu langsung remuk seketika karena Kenzie menginjaknya cukup keras. Pria itu menunduk kemudian mengambil ponsel yang sudah retak di sana-sini.


“Sorry ngga sengaja. Biar gue ganti.”


“Eh.. ngga usah.”


“Gue ngga mau berhutang. Ini kartu nama gue, dateng aja ke kantor nanti gue ganti hp lo. Sekali lagi, sorry.”


Kenzie menepuk punggung Lucky cukup kencang, membuat pria itu sedikit terbatuk. Kemudian dengan santainya dia melenggang pergi. Lucky memandangi kartu di tangannya, dia cukup terkejut mengetahui pria yang baru saja menabraknya tadi adalah salah satu ahli waris dari Abimanyu Hikmat.


“Ada apa?” Lucky terjengit ketika Veruca sudah ada di belakangnya.


“Hp gue hancur diinjek sama orang.”


“Kok bisa?”


“Lo tahu Kenzie?”


“Kenzie Hikmat, sepupunya Aric sama Ezra?”


“Iya. Dia yang nabrak gue dan nginjek hp gue sampe hancur. Tadi dia kasih kartu nama nyuruh gue ke kantor buat ganti rugi.”


“Mending lo jauhin dia. Gue ngga terlalu tahu dia seperti dia. Tapi dia itu anaknya Abimanyu Hikmat. Bos bilang, orang harus kita waspadai dan jauhi itu Abimanyu. Jadi mending ngga usah berurusan sama dia, walau cuma anaknya.”


Tak ada reaksi dari Lucky. Dia kembali ke meja bersama dengan Veruca sambil memandangi ponselnya yang sudah tidak bisa digunakan lagi. Pria itu cukup kesal karena gambar Nara hasil bidikannya tadi ikut hilang seiring dengan ponselnya yang menjadi almarhum.


“Ra, ayo kita dansa,” ajak Aric. Kenzie yang baru saja kembali ke tempat duduknya karuan kesal mendengarnya.


“Ngga ah bang. Ada Naya tuh. Nanti dia marah lagi sama aku.”


“Biarin aja.”


“Lo jangan memancing perang Barata Yudha, Ric,” sela Kenzie.


“Perang Barata Yudha versi mana nih. Naya-Nara atau lo sama gue?” Aric malah menggoda sepupunya.


“Suka-suka lo aja, nyet.”


Lampu ballroom yang semula terang, mulai meredup, pertanda lomba dansa akan segera dimulai. Kenzie berdiri lalu menarik tangan Nara. Dengan sangat terpaksa gadis itu mengikuti langkah Kenzie. Pria itu terus menarik tangan Nara sampai ke tengah area dansa. Sudah banyak pasangan yang ada di sana, termasuk Ravin dan Freya serta Barra dan Hanna.


Suara musik dengan tempo sedang segera mengalun. Para peserta dansa mulai mengambil posisi masing-masing. Kenzie mengarahkan sebelah tangan Nara memegang pundaknya lalu menautkan jarinya di tangan Nara.


“Ikutin kaki aku, ngerti?”


“Duh.. aku ngga bisa bang. Kalau joged dangdut okelah, koplo apalagi. Yang pake hoa hoe lebih seru bang. Mau aku peragain ngga? Gampang kok, tinggal angkat dua jempol...”


“Jangan macem-macem ya, Ra,” kesal Kenzie.


Nara terkekeh, entah mengapa dia senang sekali mengganggu Kenzie. Melihat wajah dingin plus ucapan yang membuat telinga sakit justru menjadi candu untuknya. Menurutnya Kenzie jauh lebih tampan dan seksi jika sudah keluar aura naga kutubnya.


Ish.. istihfar Ra.. istighfar.. kenapa dari tadi merhatiin naga kutub mulu sih..


Kaki Kenzie mulai bergerak ke kanan, Nara ikut bergerak mengikuti langkah Kenzie. Untuk beberapa saat dia menikmati acara dansa ini. Tangan Kenzie yang berada di pinggang Nara menarik tubuh gadis itu sedikit mendekat padanya. Dada Nara berdebar kencang saat posisi mereka semakin dekat. Lalu tiba-tiba..


“Aduh!”


Karena tak hati-hati, kaki Nara terkilir. Kenzie berhenti berdansa lalu membimbing Nara kembali ke meja. Dia lalu memanggil salah satu pegawai, Kenzie meminta dibawakan es batu juga handuk kecil untuk mengompres kaki Nara.


“Nara kenapa?” tanya Aric.


“Keseleo kayanya.”


“Langsung kompres, Ken.”


“Iya, gue udah minta es batu sama handuk tadi.”


“Gue cari elastic band dulu. Kayanya ada di kotak P3K di mobil gue,” Aric bergegas pergi.


Naya yang sedari tadi kesal karena Nara selalu menjadi pusat perhatian, sedikit terhibur melihat insiden yang menimpa kembarannya itu. Dia segera menghampiri meja di mana Nara berada. Hatinya bertambah geram melihat Kenzie yang tengah membantu Nara. Pria itu berjongkok lalu mengompres pergelangan kaki Nara.


“Makanya kalau ngga bisa pake high heels jangan sok-sokan,” cetus Naya.


“Aduh sakit bang,” Nara meringis saat Kenzie mulai mengompres kakinya.


“Nyusahin orang aja lo, Ra.”


“DIAM!”


Sontak Naya terdiam mendengar ucapan Kenzie. Saat yang bersamaan Aric datang membawa elastic band di tangannya lalu menaruhnya di meja. Naya yang melihat Aric datang langsung mengadukan apa yang terjadi tadi.


“Abang... tadi bang Ken bentak aku gara-gara Nara.”


“Kok aku?” cetus Nara.


“Ric, mending lo bawa pergi cewek lo sebelum gue sumpel mulutnya pake es batu.”

__ADS_1


Tahu Kenzie kesal karena ulah tunangannya, Aric segera membawa Naya pergi. Nara terharu melihat perlakuan Kenzie padanya. Pria itu membelanya alih-alih Naya. Biasanya hanya kedua orang tuanya juga Barra yang membela saat Naya menekannya. Tapi sekarang Kenzie pun melakukannya. Hal itu sukses membuat mata Nara berkaca-kaca.


Usai mengompres, Kenzie langsung membebat pergelangan kaki Nara dengan elastic band. Nara semakin terharu, Kenzie pria yang terkenal dingin dan menyebalkan ternyata begitu perhatian padanya. Tak sadar airmatanya menetes dan mengenai punggung tangan Kenzie. Pria itu langsung mendongakkan kepalanya.


“Kenapa? Sakit banget?”


Nara hanya menganggukkan kepalanya seraya menghapus airmatanya. Tak mungkin juga dia mengatakan menangis karena terharu melihat sikap Kenzie padanya. Kenzie mengambil tisu yang tersedia di meja lalu menghapus airmata Nara.


“Mau aku cariin obat pereda nyeri?”


“Ngga usah. Makasih bang, udah bantu aku.”


“Kamu begini juga gara-gara aku.”


“Pak Kenzie, bisa kita bicara?”


Seorang pria datang menginterupsi pembicaraan Kenzie dan Nara. Kenzie menoleh ke arah Nara yang hanya dibalas anggukan. Pria itu kemudian pergi mengikuti langkah orang yang mengajaknya bicara. Sementara Nara masih bertahan di tempatnya. Perhatiannya kini tertuju pada lomba dansa yang masih berlangsung.


Mata Nara menangkap pasangan Barra dan Hanna yang tengah berdansa. Terlihat sekali kalau Barra begitu menikmati momen tersebut. Matanya tak lepas memandang Hanna dan tangannya memeluk erat pinggang wanita itu. Nara hanya berdecih melihat kelakuan sang kakak.


Heleh.. kemarin aja sok bilang ngga penting soal Hanna. Sekarang aja nempel mulu kaya perangko. Bucin kan lo, bang. Sokooorrr hahaha... bahagia gue lihatnya.


Barra terus bergerak mengikuti irama musik, Hanna pun dapat mengimbangi dengan baik. Kemudian matanya menatap ke arah Freya juga Ravin yang tengah berdansa tak jauh dari mereka. Sebuah senyuman tersungging di bibirnya melihat kebersamaan mereka.


“Kenapa bang senyum-senyum sendiri?” tegur Hanna.


“Itu lihat pasangan unyu di belakang kamu.”


Hanna menolehkan sejenak kepalanya ke arah belakang. Dia juga ikut tersenyum melihat kebersamaan Freya dan Ravin. Cara Ravin memandang Freya benar-benar menunjukkan perasaannya yang dalam.


“Bukannya dulu bang Ravin rivalnya abang?”


“Iya.. rival abal-abal. Aku nyesel juga pernah jadi pengacau di antara mereka. Kalau aku ngga ada, mungkin Frey sama Ravin udah jadian.”


“Maksudnya gimana bang?”


“Aku nembak Frey bukan karena benar-benar suka sama dia. Aku hanya terbawa suasana aja karena papa terus saja membicarakan Frey padaku,” Barra terkekeh mengingat kebodohannya sendiri.


“Terus sebenernya abang sukanya sama siapa?”


“Waktu itu belum ada. Kalau sekarang ada, tapi aku masih penjajakan dulu. Takutnya dia belum move on dari mantannya.”


“Susah ya bang kalau berhadapan dengan mantan.”


“Gitu deh. Kamu sendiri gimana? Udah bisa move on dari mantan?”


Barra tak bertanya lagi, namun dari sorot mata Hanna dapat terlihat kalau masih ada sisa perasaan untuk Tozaki di sana. Namun bukan Barra namanya kalau menyerah begitu saja. Dia sudah bertekad untuk mengejar Hanna, apapun rintangannya. Pria itu akan membuat Hanna jatuh cinta padanya dan melupakan Tozaki selamanya.


Barra mendekatkan wajahnya lalu berbisik pelan di telinga Hanna. Nampak gadis itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Barra merentangkan tangannya, memberikan kesempatan Hanna untuk melakukan gerakan berputar. Dengan sengaja Hanna menabrakkan punggungnya ke punggung Freya, hingga gadis itu terdorong dan menempel pada Ravin.


Kaget terdorong tiba-tiba, Freya yang tak bisa menjaga keseimbangan menabrak Ravin. Kepalanya menempel ke dada Ravin dan pria itu juga refleks memeluk pinggang Freya lebih erat lagi. Untuk sesaat mereka masih bertahan di posisinya masing-masing. Entah mengapa ada rasa nyaman berada di pelukan Ravin.


“Ngga apa-apa?”


“Ng.. ngga bang,” Freya baru saja akan melepaskan diri dari Ravin namun tangan pria itu masih melingkar di pinggangnya.


“Sebentar aja Frey seperti ini.”


Gerakan Freya terhenti, dia membiarkan Ravin terus memeluk pinggangnya dan tubuh mereka merapat. Degup jantung keduanya saling bersahutan, namun tak dipungkiri masing-masing menikmati momen ini.


“Frey.. apa aku boleh berjuang sekali lagi?”


“A.. apa bang?”


“Berjuang buat dapetin kamu lagi. Apa boleh?”


“Hmm.. bo.. boleh bang.”


“Makasih ya Frey.”


Tangan Ravin berpindah dari pinggang naik ke punggung Freya. Tubuh gadis itu sepenuhnya kini berada dalam pelukannya. Perlahan tangan Freya bergerak memeluk pinggang Ravin dan membenamkan kepalanya ke dada bidang pria itu. Untuk sesaat mereka masih bertahan dengan posisi itu. Tanpa mereka sadari, kebersamaan mereka sukses membuat dua orang lain meradang.


Pelukan keduanya berakhir ketika lampu ballroom kembali menyala dengan terang. Wajah Freya nampak bersemu merah ketika bersitatap dengan Ravin. Tangan pria itu bergerak merapihkan anak rambut Freya dan menyelipkannya ke belakang telinga. Kalau bisa, dia ingin membawa gadis di hadapannya ini ke depan penghulu malam ini juga.


Semua peserta dansa kembali ke mejanya masing-masing. Barra mengajak Hanna untuk menemui Nara lebih dulu. Sekilas tadi Barra melihat ada yang tak beres dengan adiknya itu. Didatangi oleh sang kakak, Nara menyambutnya dengan senyum menggoda.


“Ra.. kamu kenapa tadi pas dansa?” tanya Barra.


“Keseleo bang.”


“Kok bisa?” timpal Hanna.


“High heels-nya ketinggian kayanya hehehe..”


“Biasa pake sendal jepit terus pake high heels, ya pasti keseleo,” kekeh Barra.


“Udah diobatin?”

__ADS_1


“Udah tadi sama bang Ken.”


“Uhuk.. kalo yang ngobatin Ken pasti langsung sembuh. Yuk Han, kita pergi aja. Nanti si naga kutub dateng kita malah jadi obat nyamuk tak berasap.”


Nara hanya berdecih mendengar ledekan sang kakak. Namun tak ayal dalam hatinya tersenyum juga, berharap kalau yang dilakukan Kenzie tadi bukan hanya bentuk kepedulian semata namun ada hal lain yang mendasarinya. Barra menarik tangan Hanna, bermaksud mengajaknya kembali ke meja. Namun suara Nara menahan pergerakannya.


“Bang.. gimana Hanna, cantik kan?” goda Nara seraya menaik turunkan alisnya.


“Ya cantiklah namanya juga perempuan.”


“Hilih ngeles mulu. Han.. kemarin ada yang bilang sama gue, ada atau ngga ada elo ngga ngaruh sama kehidupannya.”


“Siapa?”


Mata Barra langsung membulat mendengar ucapan sang adik. Baru saja Nara akan membuka mulutnya, cepat-cepat pria itu menyumpal mulut adiknya dengan jeruk lemon yang ada di gelas minum Nara.


“Ayo Han..”


Barra segera menarik tangan Hanna menjauh dari sana tanpa mempedulikan umpatan Nara yang untuk kedua kalinya dijejali jeruk masam. Kenzie yang masih berbicara dengan rekan bisnisnya hanya tersenyum tipis melihat adegan tadi. Apalagi saat melihat mulut Nara nampak komat-kamit seperti mbah dukun merapalkan mantra. Gadis itu semakin terlihat menggemaskan di matanya.


Di meja lain, Freya yang baru saja mendudukkan diri harus ditinggal Ravin karena pria itu harus menemui sang empu acara. Adel memberikan kode pada Remy untuk menyingkir sejenak. Ada hal yang ingin dibicarakan oleh wanita itu pada Freya. Dengan malas Remy beranjak pergi. Walau kesal, dia harus memberikan waktu untuk Adel berbicara dengan Freya, seperti kesepakatan mereka tadi.


“Itu pasti kamu kan,” Adel membuka percakapan.


“Apa?”


“Perempuan yang disukai mas Ravin sejak dulu, itu kamu kan?”


“Kalau iya kenapa?”


Adel tertawa kecil. Ternyata informasi yang didapat dari Ezra benar adanya, ditambah melihat kedekatan mereka tadi semakin menguatkan berita yang didengarnya. Perempuan yang berhasil mencuri hati Ravin adalah pegawai baru di divisinya. Adel yang awalnya menyukai Freya dan ingin menjadi sekutu demi mendapatkan Ravin, kini berbalik memusuhinya. Baginya kini Freya adalah rival terberatnya.


“Jadi kamu perempuan bodoh yang sudah menolak mas Ravin,” sinis Adel namun tak ditanggapi oleh Freya.


“Well.. aku harus berterima kasih sama kamu karena udah nolak mas Ravin. Dengan begitu, aku bisa bebas mengejarnya. Dia pasti kecewa dan sakit hati ditolak kamu. Aku akan menjadi pengobat hatinya yang patah,” imbuhnya lagi.


“Cih.. pedenya. Yakin bisa dapetin bang Ravin?”


“Apa yang ngga mungkin. Batu kalau ditetesi air terus menerus akan bolong juga. Begitu juga mas Ravin. Aku yakin hatinya akan berpaling padaku dan melupakanmu untuk selamanya. Jadi aku tegaskan, jangan dekati mas Ravin lagi karena kamu sudah menolaknya.”


“Maaf sepertinya aku berubah pikiran sekarang. Aku udah jadi perempuan bodoh karena sudah menolaknya. Jadi aku putuskan menjadi perempuan pintar dan memberinya kesempatan lagi. Lebih baik kamu menyerah, jangan sampai perjuanganmu sia-sia saja.”


“Wow.. kamu sudah menolaknya dan sekarang mau mengejarnya?”


“Why not (kenapa tidak).”


“Kamu ngga malu menjilat ludahmu sendiri?”


“Buat apa malu, yang kujilat itu ludahku sendiri bukan ludah orang lain.”


Adel tambah meradang mendengar ucapan Freya yang terdengar begitu santai. Dengan kesal dia meninggalkan gadis itu. Freya meraih gelas di depannya lalu meneguk isinya sampai habis. Walau terlihat santai namun tidak dengan hatinya. Bukan hanya kesal, tapi Freya juga was-was, takut kalau Adel berhasil menggoda Ravin. Wanita itu bukan hanya cantik tapi juga memiliki daya tarik tersendiri. Apalagi Ravin selalu memuji kinerjanya. Adel sepertinya tidak bisa dianggap enteng. Freya harus bergerak cepat agar Ravin segera melamarnya.


Sementara itu Remy menghampiri Ravin yang baru saja selesai berbicara dengan salah satu penyelenggara acara. Pria itu datang dengan membawakan segelas minuman untuk atasannya itu. Namun karena mereka telah berteman sejak kuliah, maka di luar jam kerja keduanya kerap berbicara santai. Ravin menerima gelas dari tangan Remy.


“Vin.. lo udah lama kenal Freya?”


“Udah, kenapa emang?”


“Kok lo ngga ngenalin ke gue sih punya temen cantik kaya dia.”


“Harus gitu?”


“Ya harus dong. Freya tuh tipe gue banget, selain cantik, dia juga pinter, supel dan enak diajak ngobrol. Kayanya cocok buat dijadiin istri. Rencananya gue bakal bawa dia ketemu ortu, buat gue kenalin jadi calon istri.”


Uhuk.. uhuk..


Ravin tersedak mendengar ucapan Remy. Dengan kesal dia meletakkan gelas di tangannya ke meja di dekatnya. Sejenak dia melihat ke arah Remy, ada kekesalan di sorot matanya.


“Bantuin gue ya bro. Gue denger dia masih jomblo, jadi peluang gue makin besar. Gue butuh informasi banyak soal dia. Gue bakal lakuin apa aja asal lo mau jadi sekutu gue buat bantu naklukkin Freya.”


Remy menepuk pundak Ravin kemudian berlalu meninggalkan pria itu. Ravin begitu geram mendengar ucapan Remy. Kemarin Barra dan sekarang Remy yang menjadi rivalnya. Namun kali ini Ravin tidak akan bersikap lunak lagi. Dia tak akan membiarkan Remy menghalangi jalannya. Mengingat temannya itu adalah sejenis buaya buntung yang bisa menarik hati wanita dengan mudah, Ravin harus bergerak cepat dan menjadikan Freya miliknya.


☘️☘️☘️


**Eaa.. eaa.. ada yang cemburu nih😂


Mohon maaf dua hari ngga up, menjelang akhir puasa, kesibukan juga semakin tinggi. Tubuh butuh istirahat karena ngga mungkin menghalu bisa lancar kalau badan lemah, letih, lesu dan tak bertenaga🤭


Menjelang akhir Ramadhan mamake minta maaf kalau ada kata yang menyinggung, sering curhat ngga jelas, sering gantungin cerita, sering bikin kalian nunggu, maafkeun daku🙏


In Syaa Allah mamake besok up. Kalau udah shalat Ied, sungkeman, ziarah, makan ketupat, keliling ngumpulin angpao, jangan lupa kalau ada notif langsung buka ya🤭


Sebagai ungkapan rasa sayangku, mamake kasih hampers buat kalian semua tapi mohon maaf visualnya aja😂✌️**



Selamat meraih kemenangan. Minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir batin🙏

__ADS_1


__ADS_2