KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Season 2 : Poor Zahra


__ADS_3

“Zahra..”


Zahra menolehkan kepalanya, matanya membulat melihat seseorang yang tak ingin ditemuinya lagi kini sudah berdiri tepat di hadapannya. Seorang pria berusia empat puluh lima tahun, berwajah cukup tampan dan terbalut kemeja lengan pendek berwarna biru muda menatap ke arah Zahra tanpa berkedip. Anak yang dulu ditinggalkan telah menjelma menjadi gadis yang cantik.


Sandi, ayah dari Zahra itu, beberapa kali sudah meminta pada mantan istrinya untuk menyuruh Zahra menemuinya. Namun anak sulungnya itu tak kunjung datang menemuinya. Hingga akhirnya Sandi memutuskan untuk menemui langsung putrinya. Pria itu melangkah mendekati Zahra, namun refleks gadis itu malah beringsut mundur.


“Ada apa denganmu? Ini papamu. Kenapa kamu kelihatan seperti bertemu dengan penjahat saja,” keluh Sandi.


“Ada apa papa mencariku?” tanya Zahra dingin.


“Apa salah seorang ayah ingin menemui putrinya? Papa sudah memintamu datang saat ulang tahun papa lewat ibumu. Apa dia tidak mengatakan padamu? Apa dia melarangmu?”


“Mama bilang padaku, tapi aku memang tidak bisa datang. Aku sibuk.”


“Sekarang kamu ikut papa, ya. Kita makan bersama, papa kangen sama kamu.”


“Aku cape, pa.”


“Papa mohon, Ra. Sekali ini saja.”


Melihat Sandi yang nampak memaksa, akhirnya Zahra menyetujuinya. Dia mengikuti langkah sang papa menuju kendaraan roda empat miliknya yang terparkir tak jauh dari area parkir motor. Sandi membukakan pintu untuk anaknya kemudian dia mengitari bodi mobil dan duduk di belakang kemudi.


Sepanjang perjalanan, hanya ada pembicaraan pendek. Zahra menjawab dengan kalimat singkat setiap sang ayah menanyakan sesuatu. Dia lebih memilih menolehkan kepala ke jendela samping. Tak berapa lama, kendaraan yang mereka naiki memasuki area parkir sebuah restoran. Setelah memarkirkan kendaraannya, Sandi mengajak sang anak turun.


Seorang pelayan menyambut kedatangan mereka dan memandu menuju meja yang sudah dipesan sebelumnya. Di sana sudah menunggu Risma, istrinya dan dua anak perempuannya, Dela dan Sisil. Zahra mendudukkan diri di depan Risma, sedang Sandi duduk di sampingnya.


Sejenak Zahra memperhatikan pakaian yang dikenakan keluarga sang papa. Kehidupan keluarga baru papanya memang berkecukupan, tidak seperti dirinya. Sandi adalah manager anak cabang salah satu bank swasta terkenal di Indonesia. Istrinya, Risma juga masih terdaftar sebagai pegawai aktif di sana. Perselingkuhan mereka memang berawal di tempat kerja. Sebelum menikah, Risma sudah lebih dulu berbadan dua. Lima bulan setelah pernikahan mereka, lahirlah Dila dan dua tahun setelahnya lahir Sisil.


Usia Dila dan Silva hanya berselisih lima bulan saja. Namun perbedaan perlakuan dan kasih sayang jelas begitu kentara. Setiap pulang dari rumah Sandi, Silva memang selalu membawa barang berupa pakaian, tas atau sepatu. Tapi itu semua adalah barang bekas Dila yang diwariskan padanya. Kebetulan tubuh Dila memang sedikit bongsor, berbeda dengan Silva yang mungil. Hal inilah yang semakin membuat hati Zahra sakit.


“Bagaimana kabarmu?” tanya Risma basa-basi.


“Alhamdulillah tante. Seperti yang tante lihat. Aku masih sehat, dan hidup berkecukupan.”


Risma tersenyum hambar. Dia memang tidak menyukai anak-anak dari istri Sandi terdahulu. Apalagi melihat Zahra yang begitu cantik. Wajahnya juga begitu mirip dengan suaminya. Berbeda dengan kedua anaknya yang tidak mewarisi wajah tampan sang suami.


Seorang pelayan datang membawakan pesanan mereka. Aneka hidangan tersaji di atas meja. Zahra bingung sendiri menyebut acara makan kali ini. Disebut makan siang, jamnya sudah lewat. Disebut makan malam, masih terlalu sore. Setelah menata pesanan di atas meja, pelayan tersebut undur diri dan saat bersamaan datang seorang pria muda bergabung bersama mereka. Dengan penuh sukacita, Sandi menyambut kedatangannya.


“Selamat datang, Jay, ayo silahkan duduk.”


Dengan ramah Sandi menyambut kedatangan pria itu dan mempersilahkan duduk di samping Zahra. Begitu pula dengan Risma, keduanya seolah tengah menyambut kedatangan tamu agung. Perasaan Zahra mulai tidak enak melihat gelagat sang papa.


“Jay.. kenalkan ini aka sulung, om. Namanya Zahra. Ra, kenalkan ini Sanjaya atau biasa dipanggil Jay. Dia itu salah satu nasabah prioritas di tempat papa kerja.”


Zahra hanya menganggukkan kepalanya pelan seraya melihat ke arah pria itu tanpa ekspresi apapun. Wajah Jay lumayan tampan dan enak dilihat, namun tetap saja tidak bisa menandingi ketampanan Kenan. Jay tergugu melihat gadis cantik di sampingnya tapi terlihat begitu dingin. Baru sekali lihat, dia langsung suka pada gadis itu.


Sepanjang acara makan, Sandi dan Risma terus mengajak Jay berbicara. Tak jarang pujian keluar dari mulut mereka. Sesekali jay mengajak Zahra masuk dalam pembicaraan, namun diabaikan begitu saja olehnya. Beberapa kali Sandi melirik ke arah Zahra, hatinya kesal melihat sikap Zahra yang tak bisa bersikap ramah pada Jay.


“Aduh maaf om, bukannya ngga menghargai undangan om. Tapi saya harus pergi, saya lupa ada janji dengan klien,” ujar Jay begitu menerima pesan di ponselnya.


“Klien besar ya?”


“Iya, om. Kalau proyeknya lancar, keuntungannya juga besar.”


“Om doakan semuanya lancar.”


“Aamin.. makasih om. Tante, saya pergi dulu. Zahra..” Jay berpamitan pada semuanya termasuk Zahra, namun gadis itu hanya diam saja.


Sepeninggal Jay, acara makan terus berlanjut. Dila dan Sisil menambah pesanan dengan meminta hidangan penutup. Hati Zahra semakin menjerit, kehidupan Dila dan Sisil jauh berbeda dengan Silva. Adiknya itu harus menabung uang jajan kalau ingin menikmati makanan mahal. Bahkan untuk pakaian baru saja, Zahra hanya bisa membelikan enam bulan sekali. Gaji sang mama yang tidak seberapa habis untuk membayar kontrakan rumah, air, listrik dan makan sehari-hari. Untuk uang saku Silva sendiri menjadi tanggung jawab Zahra.


“Bagaimana menurutmu tentang Jay?” tanya Sandi membuyarkan lamunan Zahra.


“Apanya yang bagaimana pa?”


“Dia itu lelaki baik. Sudah tampan, mapan, pasti kamu akan hidup enak kalau menikah dengannya,” sambung Risma.


Zahra berhenti mengunyah makanannya begitu mendengar penuturan wanita yang berstatus istri dari papanya. Tebakannya benar, tidak mungkin Sandi tiba-tiba mengajaknya makan bersama jika tidak ada sesuatu dibaliknya. Selama ini sang ayah selalu tidak peduli akan kehidupannya juga Silva.


“Papa ingin menikahkanmu dengan Jay. Begitu selesai kuliah, papa akan minta Jay untuk melamarmu. Kamu tidak perlu bekerja keras karena dia akan memenuhi semua kebutuhanmu.”


Zahra sudah tak berselera makan lagi, mendengar kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut ayahnya. Ditambah Risma juga begitu memuji-muji sosok Jay. Muak mendengar semua omongon papa dan mama tirinya, Zahra segera beranjak dari duduknya. Dan tentu saja ini membuat Sandi terkejut.


“Mau kemana kamu?”


“Pulang.”


“Papa belum selesai bicara.”


“Bagiku sudah selesai, pa. Aku menolak permintaan papa untuk menikah dengan Jay. Papa ngga berhak mengatur hidupku. Aku akan menjalani hidup seperti apa yang kumau tanpa campur tangan papa.”


“Zahra! Kenapa kamu bicara tidak sopan pada papamu!” hardik Risma.


“Apanya yang tidak sopan, tante? Aku hanya mengutarakan apa yang ada dalam pikiranku. Tidak usah sok peduli dengan kehidupanku, seperti kalian pernah peduli saja sebelumnya,” sarkas Zahra.


Tak ingin mendengar ucapan dua orang itu lagi, Zahra bergegas meninggalkan meja makan dan keluar dari restoran. Sandi yang kesal dengan sikap anaknya segera menyusul. Di dekat parkiran, pria itu mencekal lengan Zahra dengan kuat.


“Apa begini cara ibumu mendidikmu? Tidak tahu sopan santun!”


“Jangan bawa-bawa mama. Selama ini mama sudah membesarkan dan mendidikku dengan baik. Sikapku yang seperti ini karena papa yang mengajarkannya.”


“Zahra!!!”


Emosi Sandi mencuat mendengar perkataan putrinya. Cengkeraman tangannya di lengan Zahra semakin kuat, membuat gadis itu meringis kesakitan. Dengan segenap tenaga Zahra berusaha menepis tangan sang papa dan berhasil.


“Jangan pernah kurang ajar kamu. Bagaimana pun juga, aku ini papamu! Kamu membutuhkan papa saat menikah nanti!!”


“Aku tidak membutuhkan papa untuk hal apapun. Kalau perlu aku tidak akan menikah supaya aku tidak membutuhkan restu darimu.”


“Dasar anak kurang ajar! Sikapmu sama saja seperti ibumu!!”


“Jangan selalu menyalahkan mama!! Harusnya papa bercermin dan menunjuk diri sendiri. Papa yang sudah membuatku begini bukan mama!!”


“Kurang ajar!!”

__ADS_1


Kegeraman Sandi semakin memuncak. Pria itu mengangkat tangannya dan melayangkannya menuju pipi sang anak. Zahra memejamkan matanya, pasrah saja menerima tamparan sang ayah. Namun ternyata tak ada yang terjadi, ketika dia membuka matanya, nampak seseorang menahan pergelangan tangan papanya.


“Siapa kamu? Jangan campuri urusanku!!” geram Sandi pada pria yang menghalanginya menampar Zahra.


“Anda tidak boleh bersikap kasar pada wanita,” jawab pria itu dingin.


“Bukan urusanmu! Dia adalah anakku!!”


“Apalagi ini anak anda. Bukan begini caranya memperlakukan anak sendiri.”


Zahra hanya tergugu melihat pria di depannya yang begitu membelanya. Dia bahkan berani melawan papanya. Tak ingin berurusan panjang, Sandi segera pergi dari parkiran, meninggalkan Zahra bersama pria itu.


“Ma.. makasih kak..” ucap Zahra terbata.


“Kamu tidak apa-apa? Ada yang terluka?”


“Ng.. ngga kak.”


“Kamu bawa kendaraan?” Zahra hanya menggeleng.


“Ayo ikut aku.”


Dengan cepat Zahra mengikuti langkah pria di depannya. Dia masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah dibukakan oleh pria tadi. Tak lama roda kendaraan bergerak maju. Zahra hanya menundukkan kepalanya. Tak berani menatap wajah pria yang duduk di sebelahnya.


“Halo.. Nan.. lo di mana?” pembicaraan pria di sebelah Zahra sukses membuat gadis itu menolehkan kepalanya.


“Masih di rumah, bang. Kenapa?” jawab Kenan dari seberang.


“Gue tunggu di kantor. Ngga pake lama! Bawa mobil jangan motor!”


“Iya bang.”


Pria yang ternyata adalah Kenzie segera mengakhiri panggilannya, kemudian kembali berkonsentrasi menyetir. Di sebuah mini market, Kenzie menghentikan kendaraannya. Setelah meminta Zahra menunggu, pria itu turun dari mobil. Tak lama dia kembali dengan membawa kantong plastik berisi minuman.


“Ini, minum dulu,” Kenzie menyodorkan sebotol minuman pada Zahra. Dengan cepat gadis itu mengambilnya lalu meneguk sedikit isinya.


“Kamu ikut saja ke kantor. Nanti Nan yang akan mengantarmu pulang.”


“I. iya kak, makasih.”


“Benar tidak apa-apa?”


“Iya, kak.”


“Laki-laki tadi, apa benar dia ayahmu.”


“Iya kak,” jawab Zahra pelan. Sekilas Kenzie dapat menangkap kesedihan sekaligus kemarahan di wajah kekasih adiknya itu.


“Aku tidak tahu masalah di antara kalian. Tapi kalau sampai dia menyakitimu, kamu tidak boleh ragu untuk melaporkannya ke pihak berwajib, mengerti?”


“Iya kak.”


“Bagus.”


Suasana kembali hening. Seperti biasa Kenzie kembali fokus ke jalanan dan Zahra pun kembali menundukkan kepalanya. Kesunyian di dalam mobil terpecahkan ketika ponsel Kenzie berdering. Tangan pria itu bergerak menekan tombol pada ear piece blueooth yang dikenakannya.


“Halo sayang..”


“Mas di mana?” terdengar suara Nara dari seberang.


“Lagi di jalan. Ada apa? Kamu mau sesuatu?”


“Aku pengen makan surabi kinca.”


“Mau mas belikan?”


“Ngga usah. Udah ada kok surabinya.”


“Terus? Mau disuapin?”


“Iya.. mas sibuk ngga? Kalau sibuk nanti aja deh, nunggu mas pulang kerja.”


“Ngga kok. Mas antar Zahra dulu ke kantor baru pulang ke rumah.”


“Mas lagi sama Zahra? Kok bisa?”


“Tadi ketemu di jalan. Nan udah mas suruh jemput ke kantor.”


“Ok deh. Aku tunggu ya, mas. Love you my hubby mmuuaaachhh..”


“Love you too, baby..”


Segurat senyum tercetak di wajah Kenzie begitu selesai menerima panggilan dari sang istri. Zahra terpaku melihat senyum manis itu. Ternyata mahkluk dingin di sebelahnya bisa juga tersenyum. Kenzie berbeda sekali dengan Kenan yang selalu mengumbar senyum di depannya lengkap dengan cerocosan yang terkadang terdengar absurd di telinga. Tapi justru itu yang menjadi daya tariknya dan membuat Zahra jatuh dalam pelukannya.


Tak terasa perjalanan sudah sampai di tempat tujuan. Kenzie menghentikan kendaraan di depan lobi kantor Metro East. Dia turun sebentar untuk mengantar Zahra sampai ke depan meja security.


“Sore pak Ken,” sapa salah seorang security.


“Sore. Tolong antarkan nona ini ke ruangan pak Abi.”


“Baik, pak.”


Setelah menyerahkan Zahra pada sang security, Kenzie kembali ke mobilnya. Tak lama kendaraan roda empat itu melaju meninggalkan area gedung Metro East. Security yang ditugaskan Kenzie segera mengantarkan Zahra menuju ruangan Abi yang berada di lantai 12.


Ini adalah kali pertama Zahra menjejakkan kakinya di kantor Metro East, salah satu perusahaan besar dan kuat di Indonesia. Dia mendapat perlakuan khusus, diantar menuju ruangan petinggi kantor ini. Seandainya saja papanya tahu siapa lelaki yang tengah dekat dengannya, akankah pria itu bersikeras menjodohkan dirinya dengan Jay. Kekayaan keluarga Jay mungkin hanya seujung kuku dibanding kekayaan keluarga Kenan.


Lamunan Zahra buyar ketika mendengar dentingan lift. Dada Zahra berdebar ketika pintu kotak besi itu terbuka. Sang security terus mengantarkan Zahra sampai ke depan meja kerja Fadli. Pria ramah itu menyambut kedatangan Zahra dan mengantarnya masuk ke dalam ruangan Abi.


Melihat kedatangan Zahra, Abi berdiri dari duduknya kemudian menyambut gadis itu, mempersilahkannya duduk di sofa. Dia juga meminta Fadli menyiapkan minuman untuk tamunya itu. Abi mendudukkan diri di hadapan Zahra, tadi Kenzie sudah menghubunginya, menitipkan Zahra bersamanya sampai Kenan datang menjemput.


Sejenak Abi menatap gadis di hadapannya. Dia sudah tahu semua latar belakang tentang Zahra. Seperti biasa, pria itu pasti menyelidiki dulu orang-orang yang dekat dengan keluarganya. Mengetahui latar belakang keluarga gadis itu, wajar saja kalau Zahra sempat menghindari Kenan karena trauma dengan sikap papanya di masa lalu.


“Habis dari mana?” tanya Abi basa-basi.

__ADS_1


“Dari tempat kerja, om. Tadi ketemu kak Kenzie di jalan dan diajak ke sini.”


“Om masih ada pekerjaan, kamu santai aja dulu sambil nunggu Nan.”


“Iya om.”


Abi kembali ke belakang meja kerjanya, meneruskan pekerjaan yang belum selesai. Beberapa menit kemudian pintu ruangan terketuk, disusul dengan kemunculan Kenan dari balik pintu. Zahra lega melihat kedatangan pemuda itu. Rasa canggung yang dirasakannya mengurai begitu saja saat melihat wajahnya.


“Nan.. sini,” Abi menggerakkan tangannya ke arah Kenan. Anak bungsunya itu segera menghampirinya.


“Ujianmu sudah selesai?”


“Udah, pa.”


“Ada kegiatan lain?”


“Ngga ada.”


“Kalau begitu mulai besok kamu masuk kerja. Seminggu pertama, kamu bantuin kakakmu selama Fathan cuti.”


“Tapi waktu magangku bulan depan, pa.”


“Apa bedanya mulai bulan ini atau bulan depan? Kamu harus sudah mulai belajar mengelola perusahaan. Berhenti bermain-main.”


“Surat magangku belum keluar, pa,” Kenan masih saja berkelit.


“Apa perlu papa minta surat magang dari kampusmu sekarang?”


“Ngga usah, pa. Heheheh..”


“Kamu sudah harus menata masa depanmu mulai sekarang. Apa kamu tidak malu sama Zahra? Dia saja bisa bekerja sambil kuliah.”


“Iya, pa. iya. Besok aku mulai kerja. Tapi aslinya aku kan jadi sekretaris papa, jadi gaji aku bakalan sebesar gaji om Fadli, ya.”


“Kerja aja belum udah mikirin gaji. Kerja yang bener, buktikan kalau kinerja kamu layak untuk diberi gaji besar. Kalau kerjaan kamu ngga bener, papa kasih kamu gaji OB.”


Zahra hanya mengulum senyum mendengar perdebatan ayah dan anak itu. Kenan hanya mendengus mendengar ucapan sang ayah. Perkataan Abi di kantor adalah titah yang tidak bisa dibantah. Di sini tidak ada mamanya yang bisa membelanya.


“Aku antar Zahra dulu ya, pa.”


“Besok malam ajak Zahra makan malam di rumah.”


“Siap. Eh dalam rangka apa?”


“Syukuran kamu kerja,” jawab Abi asal yang hanya diangguki oleh Kenan.


“Ayo, Za,” ajak Kenan.


“Om, saya pulang dulu.”


Abi hanya menganggukkan kepalanya. Kenan langsung menggandeng tangan Zahra dan membawa gadis itu keluar ruangan. Kenan langsung memijit tombol B1 setelah memasuki lift. Kotak besi itu bergerak turun menuju parkiran basement 1.


☘️☘️☘️


Begitu meninggalkan kantor Metro East, Kenan tak langsung mengantar Zahra pulang. Dia memanfaatkan hari ini untuk berjalan-jalan dengan gadis itu, karena besok dirinya sudah mulai magang di perusahaan milik keluarganya.


“Jalan-jalan dulu, ya.”


“Kemana?”


“Maunya kamu kemana? Nonton atau kemana, aku ngikut aja.”


“Aku mau cari hadiah buat Silva.”


“Silva ulang tahun?”


“Ngga. Cuma kemarin hasil ujian akhirnya bagus. Aku mau kasih hadiah aja buat dia.”


Zahra beralasan, padahal hatinya panas setelah melihat Dila dan Sisil mengenakan pakaian bermerk. Dia memutuskan untuk membelikan pakaian untuk sang adik, tak peduli kalau harus menghabiskan sedikit tabungannya. Dia ingin membuktikan pada sang ayah kalau dirinya mampu membelikan barang-barang bagus untuk Silva dan membuatnya bahagia.


Kenan mengarahkan mobil yang dikendarainya menuju mall Andhara. Pemuda itu tidak bertanya apapun pada Zahra, padahal tadi saat menuju kantor dia telah menghubungi kakaknya dan Kenzie telah menceritakan semuanya. Tak butuh waktu lama, untuk sampai ke mall yang dituju karena jaraknya memang tidak terlalu jauh dari kantor Metro East.


Sambil menggandeng tangan Zahra, Kenan memasuki area mall Andhara. Udara dingin yang berasal dari air conditioner langsung menerpa kulit mereka berdua. Zahra mengajak Kenan menuju departemen store yang terletak di lantai tiga. Gadis itu langsung menuju area yang memajang pakaian remaja. Kenan hanya mengikuti langkah gadis itu.


Kantung belanjaan yang dibawa Zahra sudah terisi dengan dua potong dress, satu potong celana jeans dan dua T-Shirt ditambah dengan sandal dan tas selempang khas ABG. Tak lupa dia juga membelikan pakaian untuk mamanya. Jika dihitung-hitung total belanjaannya mencapai satu juta rupiah. Tapi sekali lagi, Zahra tak mempedulikan itu semua. Gadis itu mendapat bayaran besar saat manggung di pesta resepsi keluarga Hikmat.


Sesuai dugaannya, semua belanjaan yang diambilnya harus dibayar sebanyak satu juta seratus lima puluh ribu rupiah. Sebelum Zahra mengeluarkan dompetnya, Kenan sudah lebih dulu menyodorkan kartu debitnya.


“Nan..” protes Zahra.


“Kenapa? Emang aku ngga boleh beliin hadiah buat calon mama dan adik ipar?” tanya Kenan santai.


“Bukan gitu. Kamu aja masih dapet uang dari orang tua. Aku ngga mau.”


“Itu uang tabunganku, hasil dari aku ngamen di café. Jadi itu uang penghasilanku sendiri, bukan pemberian orang tua, jelas sayangku..”


Sang kasir yang tengah memproses transaksi hanya mengulum senyum melihat perdebatan sepasang kekasih di depannya. Setelah membereskan pembayaran, kasir tersebut mengembalikan kartu debit pada Kenan.


“Makasih ya, Nan.”


“Sama-sama, sayang.”


BLUSH


Wajah Zahra merona mendengar kata sayang terlontar dari bibir Kenan. Walau dia sudah terbiasa mendengar gombalan receh pemuda itu, tetap saja ucapan sayang Kenan sekarang terasa lebih manis dan merdu di telinganya. Kenan meraih tangan Zahra kemudian membawa gadis itu keluar departemen store. Dia berniat mengajak Zahra menonton film di bioskop.


Keduanya kemudian berjalan menuju eskalator yang terletak di sisi yang berbeda dari departemen store. Zahra memandangi tangannya yang digenggam erat oleh Kenan. Setelah peristiwa tak mengenakkan bersama sang ayah, dirinya terhibur dengan kehadiran Kenan. Moodnya yang semula hancur, perlahan mulai membaik. Saat mereka akan menaiki eskalator, tiba-tiba


“Zahra..”


☘️☘️☘️


**Nah loh... sapa lagi tuh🤣🤣🤣

__ADS_1


Buat pembaca My Hot Guys, mamake up siang dan malam ya, sesuai peran matahari dan bulan, eaa...🤭**


__ADS_2