KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Season 2 : Jawaban yang Tertunda


__ADS_3

“Assalamu’laikum..”


“Waalaikumsalam..”


Semua yang berada di meja makan menolehkan kepalanya ke arah datangnya suara seraya menjawab salam. Naya dan Nara datang dari arah depan dan langsung menghampiri mereka. Kedua gadis kembar itu mencium punggung tangan Abi dan Nina bergantian.


“Tumben nih pagi-pagi ke sini, mau numpang sarapan ya,” celetuk Kenan.


“Ya ampun Nan, kamu kok tahu sih.”


Nara mendekati Kenan lalu menyambar roti yang ada di tangan pemuda itu dan langsung memasukkannya ke dalam mulut. Nina dan Abi tak dapat menahan senyumnya melihat anak dari Jojo ini. Walau kembar, sifat Nara dan Naya berbeda jauh. Naya lebih kalem dan anggun, sedang Nara cuek dan sedikit bar-bar. Untung saja keduanya bukan kembar identik. Jika wajah mereka sama, mungkin akan menimbulkan kesalahpahaman.


“Buset main nyamber aja kaya bensin,” kelutus Kenan.


“Tau ngga Nan, momen paling nikmat saat makan itu terletak pada suapan terakhir.”


“Iye.. dan itu elo udah nyamber suapan terakhir gue.”


“Sokoooorrrr.”


Gadis itu tergelak melihat ekspresi keki Kenan. Freya ikut tergelak seraya mengangkat tangannya untuk bertos ria dengan Nara. Naya hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah absurd saudara kembarnya. Dan Kenzie, seperti biasa menatap tanpa ekspresi.


“Ada apa Nay, kamu ke sini pagi-pagi?” tanya Nina.


“Ini tante, aku cuma mau kasih undangan pertunangan aja,” Naya mengambil kartu undangan dari dalam tasnya lalu memberikannya pada Nina.


“Akhirnya, jadi juga kamu sama Aric,” sahut Abi.


“Iya om.”


“Untung yang jadi jodohnya Naya itu bang Aric, om. Coba kalo bang Ken, widih serem deh, bisa kelar hidupku.”


“Hahaha.. bisa aja kamu.”


“Eh iya, bang Barra kan lagi mepet elo ya Frey. Please tolak bang Barra ya, gue ngga mau iparan ama abang lo ini.”


“Ck.. siapa juga yang mau iparan sama kamu. Kalau Frey milih Barra, aku bakal minta om Jo coret kamu dari kartu keluarga.”


“See.. lihat kelakuan abang lo, Frey. Jadi gue mohon dengan sangat, tolak bang Barra,” Nara menangkupkan kedua tangannya.


“Kok gue malah mikir sebaliknya ya. Mending gue terima bang Barra aja deh.”


“TIDAAAKKKK!!” Nara menaruh kedua tangannya di pipi dan memasang ekspresi terkejut.


“Lebay.”


Kenzie bangun dari duduknya kemudian mencium punggung tangan kedua orang tuanya. Sebelum pergi, dia menyempatkan menoyor kepala Nara dan mengusak puncak kepala Naya. Nara hanya mendengus kesal melihat perbedaan perlakuan naga kutub pada dirinya dan kembarannya.


“Kalau kamu kapan nyusul Ra?” tanya Nina.


“Waduh tante, hilal jodohku masih jauuuuuhhhhh...”


“Siapa juga yang mau ama cewek somplak modelan elo,” celetuk Kenan.


“Biarpun gue ngga laku, gue juga ngga mau punya pasangan kompor mleduk kaya elo,” Nara menjulurkan lidahnya ke arah Kenan.


“Amit-amit jabang baby. Jangan sampe gue dapet cewek modelan mobil butut kaya gini,” Kenan mengetuk kepala dan meja bergantian.


“Emang kamu pengen punya cewek kaya gimana Nan?” tanya Nina.


“Ya yang cantik, lembut dan anggun kaya kak Naya bolehlah.”


Naya tertawa kecil mendengar ucapan Kenan. Dia mengusak kepala pemuda yang sudah dianggap adiknya sendiri. Nara hanya menampilkan ekspresi meledek yang mengundang tawa Abi dan Nina. Namun jauh di lubuk hatinya, gadis itu menjerit, selalu saja Naya yang mendapat pujian dan perhatian lebih dari orang-orang di sekitarnya.


“Ok om, tante.. kita pergi dulu ya. Masih banyak undangan yang harus kita sebar.”


Nara mencium punggung tangan Nina dan Abi bergantian, disusul oleh Naya. Kemudian kedua gadis cantik itu beranjak pergi. Baru saja keduanya akan menaiki mobil. Sebuah Audi sport berwarna putih berhenti di depan mereka. Aric turun dari mobil lalu menghampiri keduanya.


“Masih sebarin undangan?”


“Ngga kok, ini yang terakhir,” Naya mengedipkan matanya ke arah kembarannya. Nara hanya menganggukkan kepalanya ke arah Aric.


“Kalau gitu bisa dong aku pinjam Naya.”


“Silahkan kakak ipar, dengan senang hati.”


“Ayo sayang.”


Aric memutari bodi mobil kemudian kembali masuk ke dalam mobilnya. Naya melihat sebentar ke arah Nara.


“Thanks ya Ra. Love you.”


Naya melemparkan fly kiss ke arah adik kembarnya lalu masuk ke dalam mobil Aric. Nara masih diam di tempatnya, memandangi kendaraan roda empat itu pergi meninggalkannya.


“You’re welcome Nay. As always gue selalu jadi kacung lo,” gumamnya pelan.


Dengan langkah gontai, gadis itu masuk ke dalam mobilnya. Setelah menyalakan mesin mobilnya, dia menekan pedal gas lalu meluncur pergi.


☘️☘️☘️


Freya mematut dirinya di depan cermin, hari ini dia sudah memutuskan menerima ajakan Jojo juga Ravin. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai, wajah cantiknya hanya dipoles bedak tipis dan bibirnya dipulas lipgloss berwarna bibir. Gadis itu memang tidak pernah berdandan mencolok. Sehari-hari hanya celana jeans dan T-Shirt yang mendominasi penampilannya.


Setelah mengambil tas dan memasukkan ponsel ke dalamnya, Freya segera keluar dari kamar saat mendengar panggilan sang mama. Sambil berlari kecil gadis itu menuruni anak tangga. Di ruang tamu Barra sudah menunggunya. Senyum pria itu langsung menyambut kedatangan gadis yang tengah diincarnya. Setelah berpamitan dengan Nina dan Abi, keduanya pergi menuju salah satu mall untuk menonton film action terbaru.


Tak butuh waktu lama untuk mereka sampai di mall. Barra sengaja memilih mall yang tidak terlalu jauh dari kediaman Abi. Dia segera mengajak Freya ke lantai teratas, tempat di mana bioskop berada. Senyum tak lepas dari wajah Barra. Namun senyumnya hilang begitu melihat rivalnya juga berada di sana. Ravin segera menghampiri Barra dan Freya yang baru saja tiba.


“Telat.. bawa mobilnya kaya siput ya lo,” sembur Ravin.


“Nih si buluk kenapa ikutan ke sini?” tanya Barra pada Freya.


“Ngga baik perempuan dan laki-laki yang bukan muhrim berduaan, nanti ada setan.”


“Lah kita kan nontonnya ngga berdua. Keroyokan sama penonton lain.”

__ADS_1


“Terus di antara kita siapa yang jadi setannya?” tanya Ravin.


“Aku hahahaha...”


Untuk sesaat kedua pria yang tengah memperebutkan hati Freya terdiam. Mereka masih merenungi jawaban gadis itu. Tak lama kemudian mereka mulai menyadari maksud Freya. Secara kompak mereka menjawab.


“Najis!!!”


“Hahaha... ayo masuk. Eh beli cemilan dulu dong.”


“Lo yang beli, gue udah beli tiket. Ayo Frey.”


Ravin segera menarik tangan Freya menuju studio. Operator telah memanggil para penonton untuk masuk karena pertunjukkan akan segera dimulai. Sambil mendengus kesal, Barra menuju counter makanan lalu memesan dua buket popcorn dan tiga minuman bersoda. Setelah itu dia berjalan menuju studio.


Barra melihat ke kanan dan kiri. Matanya kemudian menangkap Freya dan Ravin duduk di barisan ketiga dari atas. Ravin ternyata memilih tempat duduk di pojok. Barra segera melangkahkan kakinya mendekati keduanya. Freya sudah mengambil posisi di pojok, yang artinya dia duduk di samping Ravin.


“Pindah,” titah Barra.


“Ogah,” jawab Ravin cuek.


“Gue yang ngajak Frey nonton, jadi gue yang harusnya duduk deket Frey.”


“Siapa cepat dia dapat.”


“Udah-udah... aku yang duduk di tengah. Kalian puas...”


Freya bangun dari duduknya lalu berganti posisi dengan Ravin. Pria itu berpindah duduk di kursi paling pojok. Barra mendaratkan bokongnya di kursi samping Freya. Dia lalu memberikan minuman pada Ravin dan Freya serta buket popcorn hanya pada Freya.


“Popcorn gue mana?” tanya Ravin.


“Beli aja sendiri.”


Tak ingin ada perdebatan lagi, Freya menaruh buket popcorn miliknya di antara kursinya juga Ravin. Barra pun melakukan hal yang sama. Beberapa saat kemudian lampu studio mulai padam. Tayangan film pun dimulai.


Durasi film yang mencapai 100 menit tak terasa sudah berakhir. Selama jalannya pertunjukkan, Freya tak benar-benar berkonsentrasi menonton. Pikirannya malah berkelana merangkai kata-kata yang nanti akan diucapkannya pada kedua pria yang ada di sampingnya. Setelah memikirkan matang-matang, dia berencana memberikan jawaban pada Barra juga Ravin hari ini.


Usai menonton, Ravin mengajak makan malam di tempat yang tak jauh dari pagelaran kembang api. Freya dan Barra menurut saja, namun ketika mereka sampai di parkiran, perdebatan kembali terjadi. Mereka memperebutkan Freya akan menaiki mobil siapa. Akhirnya Freya memilih pergi bersama Ravin, karena tadi dia sudah pergi bersama Barra.


Jajaran mobil terparkir di area pertunjukan kembang api. Freya, Ravin juga Barra berjalan menuju tempat yang sudah disediakan pihak penyelenggara untuk melihat pertunjukkan kembang api. Pertunjukkan ini merupakan bagian promo dari peresmian hotel baru grup Blue Sky. Setelah sukses dengan hotel Arjuna, kini Blue Sky kembali membangun hotel baru yang diberi nama Yudhistira hotel.


Mata Freya tak berkedip memandang cahaya yang berpendar di langit malam. Bunyi dentuman disusul percikan warna warni di udara benar-benar menyemarakkan malam ini. Diam-diam gadis itu memandangi Barra dan Ravin bergantian yang tengah menyaksikan pertunjukkan. Tangan Ravin tak henti mengabadikan pendaran cahaya dengan kameranya.


Usai menikmati pertunjukkan, ketiganya duduk bersama di dekat mereka memarkir kendaraan. Sesuai rencananya, Freya akan memberikan jawaban atas pernyataan cinta dua pria yang sedari tadi bersamanya.


“Sebenarnya tujuan aku ngajak kalian pergi bersama, karena aku mau kasih jawaban untuk kalian,” Freya membuka pembicaraan.


“Apa jawaban kamu Frey?” tanya Barra tak sabar.


Freya menarik nafas dalam-dalam. Jujur saja hatinya juga berdebar saat akan memberikan jawaban. Dia cukup takut membayangkan reaksi kedua pria ini akan seperti apa.


“Bang Ravin.. aku benar-benar ngga nyangka abang punya perasaan ke aku. Terima kasih sebelumnya. Tapi untuk saat ini aku masih nyaman dengan zona pertemanan kita. Jadi maaf, aku ngga bisa bang.”


Ravin tersenyum tipis mendengar jawaban Freya. Sejak awal dia sudah menyangka kalau gadis itu akan menolaknya. Tapi setidaknya dia sudah mencoba dan tidak akan mati penasaran. Selanjutnya Freya melihat ke arah Barra. Mendengar jawaban Freya untuk Ravin, Barra cukup percaya diri kalau pernyataan cintanya diterima.


“It’s okay Frey. Tapi aku harap kamu ngga nyesel ya udah nolak aku.”


“Ngga lah. Lagian aku juga kasihan sama Nara kalau harus iparan sama bang Ken.”


“Hahahaha.... betul juga. Kalau kita jadian, terus aku aku jadi adik iparnya Ken. Males banget. Anyway.. aku hargai kejujuran kamu Frey. Aku terima keputusan kamu, and please jangan pernah berubah. Tetaplah jadi Frey yang nyebelin.”


“Dih.. nyebelinnya ngga usah disebut kali.”


“Hahaha...”


Barra mengusak puncak kepala Freya, membuat rambut gadis itu berantakan. Ravin hanya memandangi keduanya dengan tatapan yang sulit diartikan.


☘️☘️☘️


Jam sepuluh malam Barra sampai di rumah. Jojo langsung menyambut kepulangan anaknya. Dia ingin tahu apakah Freya telah memberikan jawaban untuk sang anak. Pria itu mengikuti Barra masuk ke dalam kamarnya.


“Ngapain sih pa ngikutin aku.”


“Gimana? Freya udah kasih jawaban belum?”


“Udah.”


“Apa?”


“Ditolak.”


“Yah gagal dong papa besanan sama om Abi. Terus Ravin gimana?”


“Sama ditolak juga.”


“Ngga apa-apa deh kalau Ravin ditolak juga. Si kulkas dua pintu juga ngga akan jadi besannya om Abi,” Jojo terkekeh.


Barra hanya menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah konyol sang ayah. Dengan santai dia melepas kemeja lengan pendek yang melekat di tubuhnya. Kemudian menggantinya dengan kaos oblong. Jojo masih bertahan di kamar anaknya, sepertinya masih ada yang ingin ditanyakannya.


“Bar.. kamu ngga patah hati ditolak Frey.”


Pria itu terdiam sejenak merenungi pertanyaan sang ayah. Dia meraba dadanya, lalu mengingat lagi momen kebersamaan dengan Freya. Mimik wajahnya justru semakin menunjukkan kebingungan.


“Kenapa?”


“Bentar deh pa. Kok aku malah ngga ngerasain apa-apa ya. Patah hati ngga, sedih ngga, seneng juga ngga. Terus apa namanya ya,” Barra bingung sendiri dengan perasaannya.


“Sebenernya kamu suka ngga sih sama Frey?”


“Ngga tau juga pa. Jadi gini ya, aku tuh kepikiran Frey sampai nembak dia karena papa tuh terus jejelin pikiran aku soal Frey. Dari pagi sampe malem yang papa omongin tuh Frey terus. Jadinya tuh nama sama muka tuh anak nempel di otak aku. Tapi aku malah bingung, sebenernya aku nembak dia karena beneran suka apa tersugesti sama omongan papa ya.”


“Ya mana papa tau. Kamu kalau deket Freya gimana? Deg-degan ngga? Waktu pegangan tangan atau ngga sengaja nyentuh dia perasaan kamu gimana?”


“Biasa aja.”

__ADS_1


“Ya salam. Jadi selama ini papa cuma ngarepin pepesan kosong doang. Punya anak laki satu-satunya oon amat.”


Jojo menepuk keningnya kemudian keluar dari kamar anaknya. Pantas saja sang anak terlihat anteng menunggu jawaban Freya sekian lamanya, ternyata anaknya itu juga tak tahu apakah mencintai gadis itu atau hanya sekedar suka saja karena berteman sejak kecil. Namun yang pasti, pupus harapannya menjadi besan dari sahabatnya.


“Kan masih ada Nara sama Dilara pa. Sapa tau tuh anak dua ada yang nyangkut jadi menantu om abi!” teriak Barra dari dalam kamar namun sudah tak terdengar oleh Jojo.


☘️☘️☘️


Lima orang pria yang usianya sudah tidak muda lagi tengah berkumpul sambil menikmati makanan di salah satu restoran bintang lima. Jojo sengaja mengajak keempat sahabatnya untuk makan bersama. Dia sengaja memesan private room agar pembicaraannya tidak terganggu suara dari pengunjung lain.


Aneka hidangan sudah tersaji di meja. Dia memesan aneka menu, sesuai dengan kesukaan para sahabatnya. Abi, Juna, Kevin dan Cakra dengan senang hati menerima undangan Jojo. Karena seiring bertambahnya usia, mereka jarang sekali berkumpul. Waktu mereka lebih banyak dihabiskan bersama keluarga.


“Tumbenan lo ngajakin makan siang,” seru Cakra.


“Kan udah lama kita ngga ngumpul bareng. Ngga kangen apa lo pada sama gue?”


“Ngga,” jawab keempatnya kompak yang langsung disusul tawa mereka.


Jojo hanya mendengus kesal. Sedari dulu sampai sekarang keempatnya senang sekali menjadikan dirinya bulan-bulanan. Tapi justru itu yang dirindukannya dari para sahabat somplaknya ini.


“Gue curiga nih, tiba-tiba dia traktir makan siang. Pasti ada udang dibalik bakwan,” celetuk Abi.


“Udah pasti. Dari awal dateng juga aromanya udah ngga enak,” sahut Kevin.


“Banyak sabar ya Cak, besanan ama dia,” seru Juna.


“Kalau bukan demi Aric, gue juga ogah besanan ama dia.”


“Eh anak lo ya yang nyosor Naya duluan,” sewot Jojo yang dibalas gelak tawa Cakra.


“Beneran nih ada yang mau lo omongin?” tanya Abi.


“Bentar ya. Kita makan desert dulu.”


Dua orang pelayan masuk mengantarkan makanan penutup. Seorang membereskan piring kotor, seorang lagi menyajikan desert di atas meja. Setelah selesai dengan pekerjaannya, kedua pelayan tersebut meninggalkan ruangan.


“Jadi gini...” Jojo memulai pembicaraan setelah mereka menghabiskan makanan penutup.


“Kalian tahu kan, kalau gue punya empat bibit unggul. Alhamdulillah yang satu udah laku dan bentar lagi resmi jadi menantunya Cakra. Nah sekarang gue lagi open rekruitmen buat anak-anak kalian yang mau jadi menantu gue.”


Keempat sahabat Jojo terdiam sejenak kemudian terdengar tawa mereka. Sejak dulu, Jojo selalu ribut perihal perjodohan anak-anak mereka. Sepertinya dia tak rela bibit unggul para sahabatnya harus menjadi milik orang lain.


“Emangnya Barra ngga jadi sama Freya?” tanya Juna.


“Ngga ditolak dia.”


“Hahahaha...”


“Ngga usah ketawa lo Vin. Anak lo juga ditolak.”


“Anak gue emang the best deh,” celetuk Abi.


“Kalau Freya ngga mau, Ken atau Nan deh.”


“Ya mana mau mereka. Emangnya mau main anggar sama Barra.”


“Bukan Barra kampret. Nara atau Dilara.”


“Kalau gue sih ogah,” celetuk Kevin.


“Eh maksud lo apa? Anak gue tuh kualitas unggul semua,” sewot Jojo.


“Gue sih ngga meragukan kualitas anak-anak lo. Cuma gue ogah aja besanan ama elo huahahaha...”


“Kampret.”


Cakra tak kuasa menahan tawanya. Begitu juga Juna, dia sampai menyusut airmata di sudut matanya karena tak berhenti tertawa. Jojo dan Kevin memang kerap berdebat sejak kedua anak mereka menyatakan perasaannya pada Freya.


“Nanti deh gue tanya ama Ezra, Azra atau Al. Kali aja mereka ada minat,” kekeh Juna.


“Gue cabut dulu ya, nyonya besar udah telepon.”


Juna bangun duduknya kemudian meninggalkan ruangan lebih dulu setelah mendapat pesan dari sang istri. Tak lama Kevin menyusul pergi, karena seperti tadi ucapannya, dia tak ada minat berbesan dengan Jojo.


“Kalau gue udah ya si Aric. Cukup dia aja, gue mau melebarkan sayap menjalin hubungan perbesanan sama yang lain. Gue cabut.”


Cakra menepuk pundak Jojo kemudian menyusul kedua sahabatnya yang lebih dulu pergi. Kini hanya tinggal Abi dan Jojo saja. Sejenak Abi memandangi sahabatnya. Walau pun sedari tadi Jojo banyak tertawa, namun dia tahu ada yang menjadi beban pikiran sahabatnya itu.


“Lo kenapa Jo? Ada masalah?”


“Ngga.”


“Ngga usah bohong. Soal yang tadi gue tahu lo cuma iseng doang. Ada apa?”


Jojo menghembuskan nafas panjang. Memang sulit menyembunyikan sesuatu dari sahabatnya ini. Abi selalu peka dengan keadaan orang-orang di sekelilingnya. Dan sepertinya dia juga harus mengungkapkan apa yang menjadi kegelisahannya akhir-akhir ini.


“Bi...”


☘️☘️☘️


**Akhirnya dua²nya ditolak Freya🤣


Buat yg bilang Kenan mirip Abi. Emang visual Kenan tetap Brant Dougherty cuma versi mudanya🤣


Mamake nyicil kasih visual para pemain season 2 ya. Biar kalian lebih memghayati. Kalau langsung dikasih semua tar keder🤭


Barra**



Ravin


__ADS_1


Ganteng mana hayo😁


__ADS_2