
Dengan mengendap-endap Viren masuk ke dapur. Sejenak dia memperhatikan Alisha yang tengah membuatkan sarapan untuk mereka berdua. Kondisi rumah nampak sepi, Juna dan Nadia sedang pergi ke Jakarta bersama dengan Ezra. Azra sudah tinggal bersama dengan Fathan, para asisten rumah tangga diberi libur dua hari. Praktis di rumah sebesar ini hanya ada Alisha dan Viren.
Alisha terjengit ketika merasakan pelukan di pinggangnya. Tangan Viren terulur mematikan kompor kemudian membalikkan tubuh Alisha menghadapnya. Belum sempat istrinya bertanya, dia sudah menyambar bibir Alisha dan memagutnya dengan lembut. Walau terkejut namun tak ayal Alisha membalas ciumannya.
“Masak apa, sayang?” tanya Viren setelah mengakhiri ciuman mereka.
“Cuma masak sapi lada hitam aja. Abang kok belum siap-siap kerja?”
“Kamu lupa kalau sekarang tanggal merah?”
“Oh iya.”
Viren merangkum wajah Alisha kemudian mendaratkan ciuman di seluruh wajahnya tanpa tertinggal seinci pun. Kemudian pria itu mengangkat tubuh Alisha dan mendudukkannya di dekat wastafel. Kedua tangannya bertumpu pada kitchen set dengan sang istri berada di tengahnya.
“Hari ini kamu mau pergi kemana? Kita jalan-jalan.”
“Ehm.. ngga mau. Aku mau di rumah aja.”
“Ngapain di rumah?”
“Nyantai aja. Kita bisa nonton film, berenang atau lari-larian juga bisa hahaha..”
Viren mencubit hidung mancung istrinya pelan kemudian mengecup bibirnya. Alisha mengalungkan kedua tangannya ke leher Viren. Kedua mata mereka saling memandang dan mengunci. Nampak jelas binar cinta di kedua mata pasangan itu.
“Sekarang kita sarapan aja. Abang ngga laper apa?”
“Laper.. tapi bukan perutku.”
“Terus apa”
“Adikku.”
Viren sengaja berbisik di telinga Alisha seraya memberikan gigitan kecil di sana. Pria itu menggendong tubuh Alisha, membawanya keluar dari dapur seraya menautkan bibir mereka. Dia melangkahkan kakinya ke lantai atas, tepatnya menuju kamar mereka. Dengan bibirnya masih mel*mat bibir sang istri, Viren membaringkan tubuh Alisha ke atas kasur.
Udara panas mulai menguar di sekitar mereka, saat pasangan suami istri ini melakukan olahraga pagi. Saling berbagi peluh dan kenikmatan. Des*han manja Alisha terus terdengar ketika Viren tak henti bergerak di atasnya. Terkadang tangannya meremat rambut sang suami, kadang meremat seprai.
Tubuh Alisha bergetar saat berhasil sampai ke puncaknya. Viren mel*mat bibir istrinya, melesakkan lidahnya dan bermain-main di rongga mulut wanita itu. Tangannya kembali menyentuh titik-titik sensitif di tubuh wanita itu. Membangkitkan lagi hasrat Alisha dan permainan kembali berlanjut.
Viren menggulirkan tubuhnya ke samping setelah mendaratkan ciuman ke kening sang istri. Usai permainan panjang mereka, akhirnya pria itu berhasil menuntaskan hasratnya yang tertahan sejak semalam. Direngkuhnya tubus Alisha hingga merapat padanya, membawa kepala istrinya ke dadanya.
“Bang..”
“Hmm..”
“Kok aku belum isi, ya?"
“Kenapa buru-buru? Kita baru nikah dua bulan. Kita pacaran aja dulu, sayang.”
“Tapi kayanya asik aja kalo punya baby.”
“Kamu masih kuliah. Bukannya nolak rejeki, tapi kalau bisa nanti aja setelah kamu lulus.”
“Aku harus KB?”
“Terserah kamu, abang ngga maksa. Kalau kamu ngga mau, kita jalani semuanya secara alami aja.”
“Aku ngga mau di KB. Takutnya pas lepas malah susah punya anak.”
“Terserah kamu aja, sayang.”
Viren mengangkat dagu sang isti dengan telunjuknya lalu mencium bibir yang tak pernah bosan dicecapnya. Tangannya menarik pinggang Alisha hingga tubuh mereka merapat dan ciuman keduanya bertambah dalam. Namun kemesraan mereka harus berakhir ketika terdengar ponsel Viren berdering. Dengan malas pria itu meraih ponsel yang ada di atas nakas.
“Halo.”
“Halo, pak Viren. Maaf mengganggu waktu liburnya. Tapi ada berkas yang harus diperiksa. Saya tadi sudah hubungi pak Kevin, katanya biar pak Viren aja yang tangani. Apa bapak bisa ke kantor?”
“Hmm..”
“Baik, pak. Terima kasih.”
Panggilan berakhir, Viren meletakkan kembali ponsel ke atas nakas. Alisha menatap wajah suaminya yang terlihat kesal. Diusapnya rahang pria itu, membuat Viren menoleh ke arahnya.
“Kenapa bang?”
“Abang harus ke kantor. Ada berkas yang harus kupelajari.”
“Ya udah, abang mandi sana. Aku siapin baju sama sarapan.”
“Mandi bareng.”
“Nanti malah kelamaan. Abang aja….”
Ucapan Alisha terputus begitu saja ketika Viren membungkam dengan bibirnya. Setelah melepaskan tautan bibirnya, Viren mengangkat tubuh Alisha lalu membawanya ke kamar mandi.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama untuk keduanya membersihkan diri. Alisha segera menyiapkan pakaian untuk suaminya, kemudian memakai pakaian dengan cepat. Setelahnya dia bergegas menyiapkan sarapan.
☘️☘️☘️
Tangan Viren sibuk membolak-balik berkas yang baru saja diberikan oleh tim perencanaan. Di depan meja kerjanya duduk tiga orang dari tim perencanaan, dua di antaranya adalah wanita muda yang masuk dalam jajaran fans terselubung Viren.
“Masih banyak kesalahan. Siapkan ruang meeting. Kita bereskan di sana.”
“Baik, pak,” ujar karyawan pria. Dia dan kedua temannya segera keluar dari ruangan, kemudian menuju ruang meeting yang masih ada di lantai yang sama. Viren mengangkat tubuhnya kemudian berjalan menyusul ketiganya.
Sudah hampir dua jam lamanya mereka berkutat menyusun program baru. Tim perencanaan yang sedianya libur, terpaksa harus masuk ke kantor karena Viren memanggil mereka semua. Disangka mereka, Viren tidak seketat dan sekaku Kevin, namun ternyata mereka laksana pinang dibelah kampak.
“Ya ampun kukira pak Viren ngga sesadis pak Kevin, ternyata sama aja,” celetuk salah satu pegawai begitu Viren meninggalkan ruangan meeting.
“Namanya juga bapak ama anak. Untung ganteng pak Viren, jadi bisa cuci mata kita,” sahut yang lain sambil terkikik.
“Kira-kira udah punya pacar belum ya?”
“Aku denger gossip katanya udah nikah.”
“Masa?”
“Yah, layu sebelum berkembang dong.”
“Kalau belum nikah, emangnya berani deketin? Orang dingin model gitu. Ngomongnya aja irit, kecuali kalau bahas kerjaan.”
“Tapi justru daya tariknya.”
“Daya tarik ndasmu. Yang ada bengek.”
Ucapan terakhir langsung mendapat sambutan gelak tawa. Namun keceriaan mereka langsung menghilang ketika Viren kembali masuk dan suasana hening seketika. Semua kembali berkonsentrasi dengan pekerjaannya.
Sesuai permintaan suaminya, saat jam makan siang, Alisha datang ke kantor dengan membawa dua buah kantong berisi makanan. Dia sengaja memesan makanan untuk semua anggota tim yang tengah lembur.
Semua yang ada di dalam ruangan langsung menolehkan kepala ke arah pintu ketika mendengar suara ketukan disusul dengan kemunculan Alisha. Kaum adam yang ada di sana seperti mendapat vitamin mata ketika melihat Alisha yang begitu cantik dalam balutan dress berwarna lavender. Namun pandangan mereka terputus ketika mendengar deheman keras Viren.
“Siang semua,” sapa Alisha.
“Siang,” jawab yang lain.
“Ke sini sama siapa?” tanya Viren seraya menghampiri istrinya.
“Dianter supir.”
“Silahkan makan siang dulu. Baru lanjutkan kembali.”
Pria itu mengambil dua kotak makanan kemudian pergi meninggalkan ruangan meeting sambil menghela pinggang istrinya. Terdengar kasak-kusuk di ruangan begitu pasangan itu keluar.
“Eh itu siapa?”
“Kalau ngga salah itu anak bungsunya pak Juna.”
“Hubungan sama pak Viren apa?”
“Entah, pacar atau bisa jadi istrinya.”
“Yah.. berhenti berharap gue.”
“Hahaha…”
Sementara itu di ruangannya, Viren tengah menikmati makan siang bersama dengan Alisha. Mereka duduk di sofa, makan dengan saling menyuapi. Sesekali jari Viren menyeka sudut bibir Alisha yang terkena saos.
“Begitu kerjaan beres, kita jalan-jalan ya.”
“Boleh, bang."
"Mau kemana?”
“Ke Lembang juga boleh, bang. Ke tempat wisata yang baru dibuka.”
“Ok, sayang.”
CUP
Viren mengecup bibir Alisha sekilas kemudian melanjutkan kembali acara makan siang mereka.
☘️☘️☘️
“Anya….”
Kepala Anya mendongak ketika mendengar sebuah suara memanggilnya. Salah satu staf pria The Ocean meletakkan sebuket bunga mawar ke kubikelnya. Sudah dua minggu lamanya Anya magang di kantor Anfa. Dia bergabung di divisi humas yang berada dalam pengawasan Hanna.
“Ini apa pak?”
__ADS_1
“Ck.. masih aja manggil, pak. Panggil mas aja,” ujar pria itu.
“Kan masih jam kantor. Ini apa?”
“Bunga. Masa kamu ngga bisa lihat.”
“Nenek-nenek bunt*ng juga tahu kalo ini bunga. Kamsud saya ini kenapa bunga parkir di kubikel saya?”
“Spesial buat kamu, dong. Anak magang paling cantik di divisi ini.”
“Ya pasti paling cantik, kan yang magang di sini cuma saya aja ceweknya, pak.”
Jawaban Anya disambut tawa karyawan lain yang ada di sana. Sang penggoda pun ikut tertawa. Selain cantik, Anya juga supel, senang bercanda dan itu sukses membuatnya bertambah gemas pada wanita itu.
“Bunga itu melambangkan hati saya.”
“Wah, sayang banget, pak. Saya ngga suka bunga mawar. Harusnya bapak tanya-tanya dulu kalau mau kasih bunga ke saya.”
“Emangnya kamu suka bunga apa?”
“Bunga kamboja.”
“Hahaha…”
Kembali suara tawa terdengar di ruangan tersebut. Beberapa di antaranya tertawa puas melihat rekannya yang tak pernah bisa menembus pertahanan Anya. Sejak hari pertama magang, pria yang bernama Rian itu terus mendekati Anya.
“Udah balik badan, Yan. Sebelum bertambah malu,” seru salah satu rekan kerjanya.
“Hooh.. cari mangsa anak magang di divisi lain.”
“Anya ngga mempan sama gembelan receh elo, hahaha…”
Rian hanya mendengus mendengar ledekan para rekannya. Pria itu kemudian kembali duduk di depan kubikelnya. Matanya melirik ke arah Anya yang menyerahkan buket darinya pada salah satu rekan kerjanya.
Suasana kembali tenang, semua sudah mulai berkonsentrasi pada pekerjaannya. Anya nampak mengerjakan tugasnya dengan tekun. Di ruangan ini tak ada satupun yang tahu kalau dirinya adalah anak dari Cakra dan sudah menikah. Mereka hanya tahu Anya adalah mahasiswa yang tengah melakukan praktek kerja lapangan.
Tak terasa waktu telah beranjak menuju tengah hari. Semua bersiap menuju EDR yang ada di lantai lima untuk menikmati makan siang. Dengan cepat Rian mendekati Anya. Pria itu bermaksud mengajak Anya makan siang di luar.
“Nya.. kita makan di luar, yuk. Aku yang traktir,” tawar Rian.
“Ngga ah. Aku mau makan di EDR aja.”
“Enakan makan di luar,” bujuk Rian.
“Ngga enak, pak. Nanti saya susah nelen makanan.”
“Kenapa?”
“Gara-gara lihat muka bapak.”
“Bhuahahaha…”
Salah satu rekan kerja Rian langsung terpingkal mendengarnya. Tanpa mempedulikan Rian, Anya segera keluar dari ruangan, menyusul rekan kerjanya yang sudah lebih dulu keluar.
Usai menunaikan shalat dzuhur, Anya segera menuju EDR. Ruangan besar itu sudah dipenuhi karyawan yang sedang mengisi perutnya. Wanita itu berjalan menuju meja panjang tempat makanan tertata. Baru saja dia mengambil nampan, seseorang menghampirinya.
“Hai, sayang.”
“Aa.. kok ke sini ngga bilang-bilang.”
“Surprise.”
Senyum Anya mengembang melihat kedatangan suaminya. Keduanya mengambil makanan kemudian memilih meja yang kosong. Rian yang berada di belakang mereka, terus mengikuti pergerakan Anya yang diikuti Irvin.
Irvin dan Anya mengambil posisi duduk berhadapan. Diraihnya tangan sang istri, kemudian digenggamnya erat, sedang tangan sebelahnya digunakan untuk menyuap makanan. Sesekali Irvin mencium punggung tangan Anya tanpa mempedulikan sekitarnya. Anya juga tak terlihat jengah, malah menikmati semua perlakuan suaminya.
Bukan tanpa alasan Irvin melakukan semua ini. Dia mendapat kabar dari Hanna, kalau ada salah satu karyawan yang mencoba mendekati Anya. Tentu saja pria itu harus siap siaga menjaga wanitanya dari gangguan para pebinor. Di meja lain, Rian menatap pemandangan itu dengan perasaan dongkol.
Usai makan, Irvin sengaja menaiki lift bersama dengan Rian. Di dalam lift, lagi-lagi dia memperlihatkan kemesraan mereka. Sesekali Rian melirik ke arah pasangan itu. Sadar akan pandangan Rian, Anya mulai bersuara.
“Pak Rian, kenalkan ini aa Irvin.”
Dengan malas Rian mengulurkan tangannya ke arah Irvin. Dengan cepat Irvin menyambar tangan pria itu, menggenggamnya sedikit kencang membuat Rian meringis.
“Rian..”
“Irvin, suami Anya.”
Tak pelak ucapan Irvin langsung membuatnya melongo. Pria itu sontak melihat ke arah Anya dan hanya dijawab dengan anggukan seraya mengangkat tangannya yang terdapat cincin pernikahan. Sebuah senyuman hambar diperlihatkan pria itu. Kemudian membalikkan tubuhnya, membelakangi Anya dan Irvin.
☘️☘️☘️
**Yang minta pasangan baru udah ya. Darmawan libur dulu, lagi nyari cincin lamaran katanya. Barra sama Hanna juga masih sibuk luluran🏃🏃🏃
__ADS_1
Mohon maaf kemarin ngga bisa up, karena mamake juga harus bagi waktu dengan deadline di RL. Keduanya sama² penting, jadi tidak bisa mengabaikan salah satunya. Kalau aku ngga up berarti aku lagi kejar setoran di kerjaan RL🙏**