KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Season 2 : Janji Suci


__ADS_3

Tepat pukul sembilan pagi, semua yang berkepentingan sudah hadir di salah satu meeting room yang ada di hotel Arjuna. Seluruh anggota Hikmat beserta keluarga Jojo dan Kevin sudah berkumpul untuk menyaksikan janji suci antara Ezra dan Dilara. Ezra memutuskan menggelar pernikahan dua hari menjelang hari wisuda Dilara.


Dengan mengenakan beskap berwarna putih, pria itu duduk di hadapan penghulu dan juga Jojo. Sementara Dilara menunggu di ruangan lain sampai prosesi akad selesai. Nampak petugas KUA tengah memeriksa kelengkapan dokumen. Setelah dirasa tak ada lagi kekurangan, dia mempersilahkan Jojo untuk memulai ijab kabul. Dengan erat Jojo menggenggam tangan calon menantunya itu.


“Ananda Ezra Melviano Hikmat, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya, Dilara Salvina Romano binti Jovan Romano dengan mas kawin satu set perhiasan emas seberat 100 gram dibayar tunai!”


“Saya terima nikah dan Dilara Salvina Romano binti Jovan Romano dengan mas kawin tersebut tunai!”


“Bagaimana para saksi?”


“SAH!!” jawab Kevin dan Darmawan bersamaan.


Ezra mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya seraya mengucapkan syukur. Perasaan gugup dan grogi yang sedari tadi dirasakan, menguar sudah. Sebuah beban berat sudah terangkat dari dadanya. Kini dirinya tengah menantikan kedatangan wanita yang baru saja diambil alih tanggung jawabnya dari bahu sang ayah.


Untuk sejenak Ezra terpaku melihat Dilara yang tengah berjalan menghampirinya didampingi oleh Adinda dan juga Nina. Sang istri nampak begitu cantik dalam balutan kebaya berwana putih gading lengkap dengan riasan pengantin dan sanggul sederhana yang menghiasi rambutnya.


Adinda mendudukkan sang anak di samping Ezra. Keduanya kemudian duduk berhadapan dan saling memandang. Tangan Ezra bergerak mengambil kotak beluduru berwarna merah yang ada di atas meja kemudian membukanya. Perlahan dia memasukkan cincin bertahtakan berlian ke jari manis Dilara. Tak lama sang istri pun melakukan hal sama. Sebuah cincin berbahan titanium tersemat sempurna di jari manis Ezra.


Dengan takzim Dilara mencium punggung tangan suaminya. Hatinya bergetar saat bibir Ezra mencium keningnya dengan lembut. Tak ada satu pun suara yang terdengar ketika menyaksikan momen tersebut. Semua seakan terhipnotis akan kemesraan yang ditampilkan pengantin baru tersebut. Sang juru foto segera mengabadikan momen tersebut dalam bentuk foto dan video.


Jojo tersenyum lega, anak bungsunya akhirnya telah menemukan tempat berlabuh yang tepat. Dia percaya Ezra akan bisa menyayangi dan melindungi Dilara seperti dirinya. Pria itu menyusut air yang menggenang di sudut matanya. Hatinya bersyukur, bisa berbesan dengan seluruh keluarga Hikmat, yang juga sahabatnya sendiri. Setelah kesalahpahaman dan permusuhan di masa lalu, mereka bisa mengakhirinya dalam ikatan persaudaraan.


Lamunan Jojo buyar ketika pasangan pengantin baru itu menghampiri untuk menerima wejangan darinya. Pria itu langsung memeluk anak dan menantunya, masih belum ada kata-kata yang terucap dari bibirnya, seakan semuanya tercekat di tenggorokannya. Setelah beberapa saat, pria itu melepaskan pelukannya.


“Ezra.. papa titip Dilara padamu. Tolong bimbing dia agar bisa menjadi istri yang baik, kasihi dan sayangi dia. Sekarang dia adalah tanggung jawabmu, jangan sia-siakan buah hati papa.”


“In Syaa Allah, pa.”


“Dila, sekarang Ezra adalah imammu. Dialah yang harus kamu patuhi dan ikuti. Jadilah istri yang baik, istri yang mampu memberikan kesejukan dan tempat pulang suamimu.”


“Iya, pa.”


Jojo mencium kening putrinya beberapa saat kemudian melepasnya agar bisa menghampiri Adinda yang berdiri di sampingnya. Wanita itu segera menyambut sang putri dan memeluknya erat.


“Mama akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian. Rukunlah dalam membina biduk rumah tangga, saling percaya dan turunkan ego masing-masing ketika sedang berselisih, jangan terbawa emosi.”


“Iya, ma,” jawab Dilara dan Ezra bersamaan.


Keduanya kemudian menghampiri Nadia juga Juna. Nadia menyambut anak sulungnya beserta menantu ketiganya. Dipeluknya erat pasangan pengantin tersebut untuk beberapa saat.


“Ezra, jadilah kepala rumah tangga yang baik, penyabar, penyayang dan bersikap lembut pada istrimu seperti yang selalu ayahmu contohkan. Dila, bunda percaya kalau kamu adalah pendamping yang tepat untuk Ezra dan akan menjadi istri yang baik untuknya. Jangan lupakan landasan dalam berumah tangga, iman, kepercayaan dan juga komunikasi.”


“Iya, bunda.”


Nadia mencium kening Ezra dan Dilara bergantian setelah selesai dengan wejangannya. Kini keduanya menuju Juna yang sedari tadi hanya memperhatikan mereka. Dilara meraih tangan Juna kemudian mencium punggung tangannya dengan takzim disusul oleh Ezra.


“Anak ayah akhirnya siap memikul tanggung jawab baru dalam hidup. Jadilah lelaki yang bertanggung jawab, jangan sekali-kali bersikap kasar pada istrimu dan jaga lidahmu untuk tidak sembarangan mengucapkan kalimat yang akan membuat kalian menyesal,” Juna menepuk pelan rahang Ezra dan hanya dijawab anggukan oleh pria itu.


“Dila.. mulai sekarang, kamu juga anak ayah. Jangan sungkan untuk berbagi beban. Jika Ezra menyakitimu, maka ayah orang pertama yang akan membelamu.”


“Iya, ayah. Terima kasih.”


Usai mendapatkan wejangan dari kedua orang tua, pasangan pengantin kembali mendapatkan wejangan dari para tetua di sana. Bergantian Abi, Nina, Kevin, Rindu, Cakra, Sekar, Anfa, dan Rayi memberikan nasehat sebagai bekal mereka mengarungi biduk rumah tangga. Pun dengan Radix, Naysila dan Gurit ikut memberikan wejangan. Bahkan Darmawan dan Nita juga ikut serta, minus Syakira yang memilih diam. Hanya memberi dukungan lewat pelukan saja.


“Akhirnya stok terakhir dari edisi pertama sold out juga, ya. Tinggal edisi kedua, masih ada tiga jomblowan yang belum ganti status,” celetuk Barra.


“Gue udah punya calon, bang. Udah kaga jomblo, weh,” protes Kenan.


“Tapi belum ketemu penghulu,” balas Barra.

__ADS_1


“Itu juga kalo penghulunya ngga males ngadepin calon pengantin model kompor mledug kaya dia,’’ timpal Ravin.


“Dan Zahra ngga kabur menjelang ijab kabul,” timpal Aric.


“Buset terooosss aja bully, mumpung orangnya lagi ngantri beli kolor di perempatan,” kelutus Kenan.


“Ck.. adek gue tuh. Seenaknya aja dibully,” sela Kenzie.


“Noh dengerin apa kata abang gue,” jumawa Kenan.


“Teruskan bully-an kalian sampe dia mingkem,” lanjut Kenzie.


Kenan mendengus kesal mendengar ucapan sang kakak. Yang lain langsung terpingkal mendengarnya. Revan terlihat begitu puas melihat sang sahabat yang kerap mengeluarkan kalimat absurd terkena pukulan telak dari kakaknya sendiri.


“Kaga usah ngakak. Lo juga, cepetan cari pasangan sebelum expired.”


Celetukan Irvin langsung membungkam mulut Revan. Refleks dia menoleh ke arah sang kakak yang nampak tak berdosa saat melontarkan kalimat tersebut. Yang membuatnya bertambah keki, Anya, Kenan, Viren dan Haikal nampak tertawa bahagia.


“Jangan terlalu girang, Kal. Di antara yang lain, nasib lo yang paling ngenes,” celetuk sang pengantin pria.


“Last but not least, kak,” elak Haikal.


“Jangan last-last amat Kal, tar kebagian dedeknya doang,” timpal Dilara sambil terkikik.


“Buset sejak kapan lo mulai julid, Dil.”


“Sejak lo jadi presiden jomblo, hahahaha…”


Haikal memilih menyingkir daripada kupingnya terus menerus panas akibat sindiran para sepupu dan sahabatnya. Lebih baik mengisi perutnya yang terasa lapar.


☘️☘️☘️


Tanpa lelah pasangan pengantin mengumbar senyuman saat menerima ucapan selamat dari para undangan. Mereka juga memenuhi permintaan teman-teman untuk berfoto bersama di pelaminan.


Sambil menikmati hidangan yang telah disiapkan, para tamu dihibur oleh penampilan para wedding singer dan tentu saja penampilan The Myth. Jika biasanya Anya selalu tampil untuk mendampingi Kenan, kali ini wanita tersebut mengambil cuti karena sudah memiliki momongan. Peran Anya digantikan oleh Zahra dan tentu saja itu membuat Kenan senang.


Ezra melambaikan tangannya pada sang pembawa acara. Pria itu berbincang sebentar kemudian turun dari panggung pelaminan dan langsung menuju panggung hiburan, di mana The Myth baru saja selesai membawakan dua buah lagu. Ezra berbicara sebentar, kemudian berdiri di depan stand mic.


“Selamat siang semuanya.”


Perhatian semua yang ada di sana langsung mengarah ke panggung hiburan begitu mendengar suara sang pengantin pria.


“Sebelumnya saya ucapkan terima kasih pada semua undangan yang bersedia hadir di hari bahagia kami. Dan sebagai ucapan terima kasih, saya akan menyumbangkan sebuah lagu. Lagu ini khusus saya persembahkan untuk istri cantik saya di sana.”


Ezra mengarahkan tangannya pada Dilara. Segurat senyum tercetak di wajah cantik pengantin wanita tersebut. Ezra menoleh sebentar ke belakang seraya menganggukkan kepalanya, memberi kode pada personil The Myth. Tak lama terdengar iringan musik sebuah lagu yang dipopulerkan Ed Sheeran.


“I found a love, for me. Darling, just dive right in and follow my lead. Well, I found a girl, beautiful and sweet. Oh, I never knew you were the someone waiting for me.”


Mata Dilara tak berkedip saat melihat Ezra di panggung hiburan yang tengah menyanyi untuknya. Walau memiliki suara merdu, namun Ezra jarang mempedengarkan kemampuannya bernyanyi. Dan kini di momen spesial, dia ingin memberikan penampilan istimewa untuk belahan jiwanya.


Lamunan Dilara terhenti ketika Ezra sudah berdiri di depannya. Diraihnya tangan wanita tersebut seraya mengajaknya berdiri. Sebuah pelukan melingkari pinggang Dilara, dan sambil menatap dalam netra sang istri, Ezra melanjutkan nyanyiannya.


“Baby, I'm dancing in the dark. With you between my arms. Barefoot on the grass. Listening to our. favorite song. I have faith in what I see. Now I know I have met an angel in person. And she looks perfect. I don't deserve this. You look perfect tonight.”


Ezra mengakhiri lagunya dengan mendaratkan ciuman di kening Dilara. Seiring dengan itu gemuruh tepuk tangan terdengar disertai sorakan dari para sahabat. Dilara membenamkan wajah di dada Ezra, menyembunyikan rasa malu berbalut bahagia.


Di dekat panggung nampak dua buah mata berkaca-kaca menyaksikan kebahagiaan dan kemesraan pasangan pengantin di atas panggung pelaminan. Hanum membalikkan tubuhnya demi menyusut airmata yang hampir saja menetes. Sebisa mungkin dia menahan diri untuk tidak menangis. Walau dirinya sudah memutuskan untuk merelakan, namun rasa sakit masih tetap mendera.


Kakinya segera melangkah mendekati pelaminan, begitu sang pembawa acara mempersilahkan para tamu undangan untuk kembali naik ke panggung pelaminan untuk memberikan ucapan selamat. Beberapa kali dia menarik nafas panjang sebelum berhenti di depan Dilara dan Ezra.

__ADS_1


“Selamat ya, Ez, Dila. Aku doakan semoga pernikahan bahagia, samawa dan dikaruniai anak-anak yang soleh dan solehah,” suara Hanum terdengar sedikit bergetar saat mengucapkannya.


“Terima kasih, Han. Aku juga mendoakan yang terbaik untukmu,” balas Ezra.


“Dila, maafkan kalau kemarin sikapku kekanakan.”


“Aku juga minta maaf kalau sudah menyakiti perasaan kakak.”


“Kamu ngga salah. Aku yang lancang ingin merebut sesuatu yang bukan milikku lagi. Jagalah Ezra dengan baik. Dia adalah pria yang baik dan aku yakin dia akan membuatmu bahagia.”


“Terima kasih, kak.”


Kedua wanita itu berpelukan sesaat. Ezra mengulum senyum melihat pemandangan di dekatnya. Hatinya bersyukur Hanum bisa menerima semuanya dengan baik. Walau sudah tak ada perasaan lagi, namun pria itu tetap berharap yang terbaik untuk mantan kekasihnya itu. Bagaimana pun juga Hanum pernah menjadi bagian hidupnya.


Usai memberikan ucapan selamat, Hanum menuruni panggung pelaminan. Azra mendekati Hanum dan mengajaknya bergabung bersama yang lain. Perselisihan yang sempat terjadi antara dirinya dengan Dilara, nyatanya sudah tidak dipermasalahkan lagi oleh para sahabat Ezra. Di tengah kepedihan ada terselip rasa bahagia, ternyata dia tidak kehilangan segalanya.


☘️☘️☘️


Malam menjelang, pasangan pengantin baru sudah masuk ke kamar pengantin. Mereka bersiap mengistirahatkan tubuh setelah menjalani serangkaian acara, mulai dari akad hingga ditutup dengan acara makan malam bersama keluarga.


Dilara keluar dari kamar mandi dengan tubuh terbalut bath robe. Dibukanya pintu lemari, namun gadis itu terkejut melihat pakaiannya raib entah kemana dan hanya menyisakan tiga buah lingerie seksi berbahan tipis. Untuk beberapa saat dia hanya terpaku di depan lemari.


Ezra yang tengah duduk santai di atas ranjang segera turun kemudian menghampiri Dilara yang masih berdiri menatap isi lemari. Menyadari Ezra menghampirinya, Dilara dengan cepat menutup pintu lemari.


“Kenapa?”


“Eung.. ngg.. ngga kenapa-kenapa.”


“Kenapa belum ganti baju?”


“Aku tidur pake ini aja, hehe..”


“Jangan aneh-aneh masa tidur pake bath robe.”


Tangan Ezra terulur hendak membuka pintu lemari. Dilara dengan cepat berusaha menghalangi, namun terlambat. Tangan Ezra sudah lebih dulu membuka daun pintu. Sama seperti Dilara, pria itu juga terkejut melihat isi di dalamnya. Dia terbatuk beberapa kali untuk mengusir pikiran nakal yang melintas di kepalanya. Membayangkan Dilara dalam balutan pakaian kurang bahan tersebut.


“Aku mau tidur, ngantuk,” langkah Dilara terhenti ketika Ezra menahan lengannya.


“Ganti baju dulu,” bisik Ezra di telinga Dilara.


“Ng.. ngga usah kak, eh mas.. a.. aku tidur pake ini aja.”


“Kamu ganti baju atau ngga usah pake baju tidurnya?”


“Hah?”


Refleks Dilara menyambar salah satu lingerie dari dalam lemari lalu berlari menuju kamar mandi. Ezra hanya mengulum senyum saja, sebenarnya tadi dia hanya bercanda tapi ternyata Dilara percaya akan ucapannya.


Sementara itu di kamar mandi, Dilara memandangi tubuhnya yang sudah terbalut lingerie dengan bahan menerawang. Dalam hatinya merutuki kenapa di antara tiga lingerie yang tersedia, kenapa tangannya justru mengambil pakaian yang bahannya mirip saringan tahu. Beberapa kali dia menarik nafas panjang sebelum memberanikan diri keluar dari kamar mandi.


Ezra meneguk ludahnya kelat menyaksikan kemolekan di hadapannya. Matanya menatap tak berkedip dan untung saja air liurnya tak menetes. Melihat tubuh Dilara yang terbungkus pakaian seksi menerawang seketika membuat otaknya berkelana. Suhu tubuhnya naik dan udara di sekitarnya mulai terasa panas.


Dengan langkah pelan pria itu mendekat kemudian menarik tengkuk sang istri. Sebuah ciuman dalam dan menuntut langsung diberikan olehnya. Niatnya menunda malam pertama sampai besok tak bisa terealisasi begitu melihat tubuh seksi Dilara.


Nafas keduanya nampak memburu ketika Ezra mengakhiri ciuman panjangnya. Kini giliran dada Dilara yang bertalu-talu sekaligus cenat-cenut melihat Ezra mulai melucuti pakaiannya satu persatu dan hanya menyisakan segitiga pengaman yang bentuknya sudah terlihat menonjol.


Pria itu kembali mel*mat bibir sang istri seraya membawanya ke ranjang. Cumbuan panasnya dimulai, membuat Dilara tak henti mengeluarkan des*han dan lenguhannya. Setelah pemanasan dirasa cukup, Ezra pun bersiap membobol gawang untuk pertama kalinya. Bersama dengan pasangan halalnya dia melakukan ritual yang selama ini hanya bisa didengar dari sepupu dan para sahabatnya. Akhirnya dia bisa merasakan nikmatnya surga dunia yang akan membawanya sampai ke nirwana.


☘️☘️☘️

__ADS_1


Tidak terasa ya perjalanan KPA akhirnya akan menemui ujungnya. Terima kasih untuk para readers yang masih terus setia membaca kisah ini sampai saat ini. KPA hanya menyisakan 2 episode lagi. Aku harap kisah manis keluarga Hikmat memberikan kenangan indah di hati kalian semua😘😘😘


__ADS_2