KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Bonchap : Kebangkitan


__ADS_3

“Mas ABI!!!!!”


Tubuh Nina luruh jatuh ke lantai melihat berita tersebut. Freya dan Kenan menghambur ke arah sang mama. Kenzie yang baru saja tiba, meletakkan helmnya asal lalu berlari masuk ke dalam begitu mendengar teriakan mamanya. Dia segera menghampiri Nina yang tengah menangis, begitu pula Freya dan Kenan.


“Ma.. mama kenapa?” tanya Kenzie panik.


“Papamu.. Ken..”


Nina tak meneruskan ucapannya, hanya isak tangisnya saja yang terdengar. Kenzie melihat sekeliling, kemudian pandangannya terhenti pada layar datar di depannya. Tubuhnya menegang mendengar pemberitaan di televisi.


“Itu ngga benar, ya kan ayah? Om” Kenzie melihat ke arah Juna, Cakra dan Anfa bergantian.


“Ken..”


“Tolong bilang itu ngga bener, yah. Papa baik-baik aja kan?” Kenzie mengguncang bahu Juna.


“Semoga papamu baik-baik saja. Tim SAR masih melakukan pencarian,” Juna sungguh berharap kata-katanya akan menjadi kenyataan.


“Mama!!”


Semua melihat ke arah Nina begitu mendengar teriakan Freya. Anfa bergegas mengangkat tubuh Nina yang terkulai. Karena shock, Nina jatuh pingsan. Dengan cepat dia membawa Nina ke kamarnya. Kenzie dan yang lain bergegas menyusul ke kamar.


Dengan hati-hati Anfa membaringkan tubuh Nina di atas kasur. Dia meminta Kenzie mengambil minyak kayu putih atau parfum untuk menyadarkan sang kakak. Bergegas Kenzie mengambilkan apa yang diminta. Tak lama dia kembali dengan sebotol parfum di tangannya. Anfa menyemprotkan parfum pada jarinya kemudian menggerak-gerakkan di depan hidung Nina. Tak lama wanita itu tersadar.


“Mama..”


Freya naik ke atas kasur lalu memeluk Nina, begitu pula dengan Kenan. Nina memandang ke arah Kenzie yang duduk di sisi ranjang. Airmatanya kembali berlinang mengingat kejadian yang menimpa suaminya.


“Ken.. papa.. papa baik-baik aja kan?”


Kenzie hanya diam, tak tahu harus menjawab apa. Dia hanya menarik Nina ke dalam pelukannya. Wanita itu menangis tersedu dalam dekapan sang anak. Mata Kenzie berembun, dirinya pun tak kalah shock dan sedih mendengar berita sang papa. Juna mengajak Cakra dan Anfa keluar kamar.


Ketiganya kemudian duduk bersama di ruang tengah. Dia menghubungi Nadia untuk datang menghibur Nina. Begitu pula dengan Cakra dan Anfa. Tak butuh waktu lama bagi Nadia dan Rayi untuk sampai. Mereka datang bersama anak-anak mereka. Beberapa saat kemudian Sekar datang bersama Aric dan Anya. Di belakangnya menyusul Jojo dan Kevin.


Para pria berkumpul di ruang tengah, sedang para wanita memilih berada di kamar untuk menenangkan Nina. Melihat kedatangan sepupunya, Freya menghampiri Azra. Gadis itu menangis dalam pelukan Azra. Aric menghampiri Kenzie yang sedari tadi hanya mengatupkan mulutnya.


Sementara itu di ruang tengah, Juna dan yang lainnya tengah membicarakan tentang rencana pencarian Abi. Sebagai yang tertua, dia membagi tugas dengan yang lainnya. Walau perasaannya sedih, namun Juna harus tetap kuat. Apapun akan dilakukannya agar dapat menemukan sang adik.


“Aku dan Cakra akan berangkat ke Labuan Bajo malam ini,” ucap Juna.


“Aku ikut,” seru Jojo.


“Aku juga,” timpal Anfa.”


“Kamu di sini aja Fa. Berita hilangnya Abi sudah tersebar di media. Sebentar lagi perusahaan pasti akan mengalami guncangan. Kamu harus di sini untuk membantu Andhiar. Kevin, tolong bantu Andhiar juga.”


“Ok, Jun.”


“Mungkin nanti akan ada pergerakan untuk mengganti posisi Abi sementara waktu. Jika itu sampai terjadi, maka Nina atau Kenzie yang akan maju. Itu skenario yang sudah Abi buat jika sewaktu-waktu terjadi sesuatu padanya. Pasti akan ada penolakan dari orang-orang yang mengincar posisi Abi. Kamu harus membantunya, Fa. Jangan biarkan Nina dan Kenzie bertarung sendirian. Hanya kamu yang kami andalkan saat ini.”


Anfa menganggukkan kepalanya. Walau berat, dia harus menyetujui usulan Juna. Dirinya juga harus memikirkan kakak dan keponakannya. Bukan tidak mungkin ada orang yang berusaha mengambil keuntungan dari situasi ini.


Kevin bergerak cepat menyiapkan jet pribadi yang akan membawa Juna, Cakra dan Jojo ke Labuan Bajo. Dia sendiri yang akan mengantar ketiganya ke bandara. Anfa meminta Rayi dan anak-anak menginap di kediaman Abi untuk menemani Nina.


Setelah Juna, Cakra dan Jojo berangkat ke bandara. Nadia beserta Sekar juga pulang ke rumah masing-masing karena anak-anak masih harus ke sekolah besok. Hanya Anfa beserta istri dan kedua anaknya yang bertahan di kediaman Abi.


Kenzie, Freya dan Kenan meninggalkan kamar setelah sang mama tertidur. Juna terpaksa memanggil dokter keluarga karena Nina terus saja menangis dan histeris. Setelah diberikan obat penenang, wanita itu akhirnya tertidur juga.


Rayi mendekati Freya dan Kenan yang masih tampak murung. Dia mendudukkan diri di samping Kenan lalu menarik anak itu ke dalam pelukannya. Kenan kembali menangis, anak itu bersedih mengingat sang papa yang begitu disayanginya.


“Kenan sayang, jangan menangis lagi. In Syaa Allah, papa akan baik-baik aja. sekarang lebih baik Nan tidur ya. Besok kan sekolah,” bujuk Rayi.


“Ayo, bang Nan, tidur bareng aku,” ajak Haikal.


Kenan melihat ke arah Haikal sejenak, adik sepupu yang berjarak dua tahun darinya. Haikal memang cukup dekat dengannya. Kenan berdiri kemudian beranjak menuju kamarnya di lantai dua diikuti Haikal dari belakang.


“Frey.. kamu juga tidur ya.”


Freya hanya menggelengkan kepalanya saja. Gadis itu tetap bertahan di tempatnya. Kenzie berjalan mendekat ke arah sang adik lalu berjongkok di depannya.


“Frey.. ayo tidur.”


“Ngga mau. Aku mau tahu kabar soal papa dulu.”


“Jangan seperti ini Frey. Papa pasti sedih kalau tahu kamu seperti ini. Ayah, om Cakra dan om Jo sedang menjemput papa. Kita percayakan aja sama mereka.”


“Papa akan baik-baik aja kan bang?”


“Hmm.. In Syaa Allah, papa baik-baik aja. Papa itu kuat kan,” suara Kenzie terdengar bergetar. Sebisa mungkin dia menekan kesedihan yang dirasakannya.

__ADS_1


“Ayo abang gendong.”


Kenzie membalikkan tubuhnya membelakangi Freya. Perlahan gadis itu bergerak kemudian naik ke punggung sang kakak. Kenzie berdiri lalu berjalan menaiki tangga. Freya memeluk leher Kenzie dan membenamkan wajahnya di punggung pemuda itu.


☘️☘️☘️


Juna tengah berbicara dengan Marsekal Muda TNI Agus Rahman yang bertugas memimpin timnya dalam pencarian kali ini. Setelah menerima SOS dari kapal yang membawa Abi beserta yang lain, mereka bergerak untuk mencari lokasi kapal. Timnya berhasil menyelamatkan 10 orang korban dan menemukan dua orang korban meninggal dunia. Tersisa empat korban lagi yang belum ditemukan, termasuk Abi.


Jojo berjalan di sekitar pelabuhan, dia bertanya-tanya pada penduduk setempat apakah ada nelayan yang menemukan korban hanyut. Dia masih berharap sahabatnya terdampar di suatu tempat dan diselamatkan oleh seseorang. Namun semua yang ditanya hanya menggelengkan kepala.


Tiba-tiba terdengar teriakan salah seorang yang ada di sana mengatakan kalau basarnas telah menemukan korban baru. Juna, Cakra dan Jojo bergegas mendekati petugas yang tengah menggotong dua kantung mayat. Dada Juna berdebar kencang, dia sungguh berharap bukan Abi yang ada di dalamnya.


“Silahkan diidentifikasi dulu pak Juna. Apakah salah satu dari korban ini adalah pak Abi,” ujar Marsekal Muda Agus Rahman.


Pria itu memberi kode pada anak buahnya untuk membuka kantong mayat tersebut. Wajah Juna, Cakra dan Jojo nampak tegang menanti terbukanya kedua kantong mayat tersebut. Juna menarik nafas panjang sebelum melihatnya. Cakra dapat bernafas lega, bukan sahabatnya yang ada dalam kantong tersebut.


“Kami akan terus melakukan pencarian pak.”


“Terima kasih.”


Juna hanya memandangi para petugas basarna itu menjalankan tugasnya kembali. Pandangannya teralihkan ketika sebuah suara memanggilnya. Fadil yang tengah dirawat di puskesmas terdekat langsung menuju pelabuhan ketika mendengar kedatangan Juna. Cakra mengajak Fadil duduk di sebuah warung. Dia ingin mendengarkan kronologis kejadian menghilangnya Abi.


Tubuh Juna lemas begitu mendengar cerita Fadil. Dia takut kalau sang adik tak bisa ditemukan atau mungkin sudah tak bernyawa lagi. Jojo tak bisa menahan tangisnya mendengar kisah tragis sang sahabat. Cakra hanya mampu terdiam, hatinya sungguh berharap ada keajaiban dan sahabatnya itu bisa selamat.


Mendengar kisah Fadil, Juna memutuskan untuk mengerahkan bantuan untuk mencari keberadaan sang adik. Dia akan meminta tim basarnas untuk memperluas lokasi pencarian berdasarkan keterangan dari Fadil. Juna juga memutuskan akan tetap tinggal di sana untuk memantau langsung proses pencarian. Begitu pula dengan Cakra dan Jojo.


☘️☘️☘️


Tiga hari berlalu, keadaan rumah Abi sudah seperti kuburan saja. Nina lebih banyak mengurung diri di kamar. Begitu pula dengan ketiga anaknya. Sepulang sekolah, mereka mengurung diri di kamar. Tak terdengar lagi teriakan Freya saat Kenan menjahilinya atau ucapan ketus Kenzie saat menegur adik-adiknya.


Kenzie sendiri menyibukkan diri dengan kuliah dan mengulang pelajaran yang diberikan papanya. Dia banyak menghabiskan waktu di rumah pohon yang ada di halaman belakang. Abi berinisiatif membangun rumah pohon untuk tempat bersantai saat dirinya dan Kenzie mabar, demi menghindari omelan Nina.


Nina berbaring di atas kasur. Tangannya terus mengusap ruang kosong di sebelahnya. Sisi yang biasa ditiduri sang suami. Mata wanita itu selalu terlihat merah, wajahnya bengkak karena terlalu banyak menangis. Nadia, Sekar dan Rayi sudah kehabisan kata-kata untuk menghibur Nina. Sejak berita hilangnya Abi, wanita itu seperti kehilangan gairah hidup.


Pagi menjelang, sinar mentari perlahan keluar dari peraduannya. Nina membuka jendela kamar lebar-lebar, membiarkan udara masuk ke dalam kamarnya. Kemudian dia keluar dari kamar untuk menyiapkan sarapan. Ternyata Dewi sudah menyiapkan semuanya di meja makan.


Freya dan Kenan datang lalu duduk di kursinya masing-masing. Keduanya nampak tak bersemangat menikmati sarapannya. Ini sudah hari keempat, tapi masih belum ada kabar keberadaan sang papa. Nina memperhatikan kedua anaknya yang belakangan ini selalu berwajah muram.


Setelah menghabiskan sarapan, mereka berpamitan pada Nina untuk berangkat ke sekolah. Seperti biasa, Nina mengantar mereka sampai ke teras rumah. Dadang segera melajukan kendaraannya ketika Freya dan Kenan masuk ke dalam mobil. Bersamaan dengan itu sebuah Avanza hitam berhenti di depan rumah.


Andhiar turun dari dalam mobil. Nina mempersilahkan asisten Abi itu untuk masuk. Pasti ada hal penting yang akan dibicarakan, hingga pria itu datang ke kediamannya sepagi ini. Kenzie yang baru saja turun, menghentikan langkahnya menuju ruang makan ketika mendengar percakapan Nina dan Andhiar.


“Bukannya keberadaanmu sudah cukup sebagai wakil mas Abi?”


“Seharusnya seperti itu bu. Tapi, ada orang-orang yang ingin mengisi kekosongan itu dan membuat gaduh. Mereka mencari alasan mengadakan RUPS darurat untuk memilih pemimpin sementara sebelum pak Abi kembali. Rencananya RUPS diadakan pagi ini jam sembilan. Saya berharap ibu atau Kenzie bisa datang ke kantor. Sebagai pemegang saham mayoritas, pak Abi sudah menunjuk ibu atau Kenzie yang secara otomatis menggantikan kedudukannya jika beliau berhalangan.”


Nina terdiam sejenak. Dirinya memang tidak menguasai seluk beluk perusahaan. Tapi Abi sempat mengajarkan beberapa hal mendasar padanya. Apa saja yang harus dia lakukan di saat darurat.


“Baik, saya akan ikut ke kantor. Bisa tunggu sebentar?”


“Biar aku aja ma.”


Nina menoleh ke arah belakangnya. Nampak Kenzie sudah bersiap untuk pergi. Anaknya itu telah terbalut setelan jas berwarna hitam. Untuk sejenak Nina terpaku melihat sang anak yang terlihat gagah. Kenzie berjalan mendekat lalu mendudukkan diri di samping mamanya.


“Biar aku aja yang pergi om. Sama aja kan?”


“Iya Ken. Tapi sebelumnya, kamu masih punya waktu untuk mempelajari beberapa hal yang akan dibahas pada rapat nanti.”


Andhiar memberikan berkas yang tadi dibawanya. Kenzie membaca berkas tersebut. Ternyata ini adalah PR yang diberikan sang ayah sebelum pergi ke Labuan Bajo. Abi meminta Kenzie mempelajari proyek pembangunan one stop hotel dan mencari celah bagaimana cara menarik hati investor utama mereka.


“Aku udah tahu proyek ini om. Papa sudah suruh aku mempelajarinya. Oh iya, salah satu rekanan kita, Nirwana Corporation, apa sudah melakukan suksesi kepemimpinan?”


“Iya, baru dua hari yang lalu.”


“Apa kita sudah menandatangani perjanjian dengan mereka?”


“Belum. Sehari sebelum pak Abi pergi, beliau sudah menyetujui draft perjanjian yang diajukan pak Anwar. Sampai saat ini belum ada jawaban dari mereka. Mungkin karena mereka sibuk dengan acara suksesi.”


“Ok. Aku siap om. Kita berangkat sekarang.”


Andhiar menganggukkan kepalanya. Dia membereskan berkas-berkas yang dibawanya kemudian berpamitan dengan Nina. Kenzie memilih pergi dengan kendaraan sendiri. Dia mencium punggung tangan Nina.


“Doakan aku ma.”


“Iya sayang. Mama percaya, kamu pasti bisa.”


Kenzie memeluk Nina sebentar, dia memerlukan energi tambahan untuk maju ke medan perang. Jujur saja dia sedikit was-was berhadapan dengan para pemegang saham beserta jajaran direksi. Selama ini Abi sengaja menyembunyikan Kenzie dari orang-orang di perusahaan dan juga rekan bisnisnya. Dan akan menampilkan sang anak di saat yang tepat atau di masa darurat seperti sekarang ini.


Nina memandangi mobil yang Kenzie kendarai sampai hilang dari pandangannya. Untuk sesaat, wanita itu masih terpaku di tempatnya. Kemudian dia bergegas menuju kamarnya. Nina berjalan menuju walk in closet. Tangannya meraih setelan blazer berwarna hitam kemudian meletakkan kembali di tempatnya. Setelah itu dia berjalan menuju kamar mandi.

__ADS_1


Tiga puluh menit kemudian, Nina telah siap dengan setelan blazer yang dipilihnya tadi. Dia memulas wajahnya dengan make up tipis dan menata rambutnya dengan cepolan sederhana. Nina mematut penampilannya di cermin yang terlihat sederhana namun elegan.


“Sudah cukup kamu bersedih, Nin. Sekarang waktunya kamu bangkit. Kamu harus membantu Kenzie, jangan biarkan anakmu bertarung sendirian melawan orang-orang yang berusaha menjatuhkannya. Doakan aku mas. Aku akan menjaga anak-anak dan perusahaan dengan baik. Aku harap mas terus berjuang untuk hidup dan kembali padaku juga anak-anak,” gumam Nina seraya menatap pantulan dirinya di cermin.


Sekali lagi Nina mematut dirinya di depan cermin. Kemudian tangannya meraih tas yang berwarna senada dengan pakaiannya. Lalu mengambil high heels hitam dan mengenakannya. Dengan langkah mantap, wanita itu keluar dari kamarnya.


☘️☘️☘️


Ruang meeting Metro East Corporation terasa panas. Walau secara sah Kenzie berhak mengisi kursi yang ditinggalkan Abi, tetap saja ada beberapa orang yang tidak puas dengan keputusan itu, salah satunya adalah Anwar. Mereka beralasan Kenzie masih terlalu muda untuk memegang tampuk kepemimpinan Metro East.


Kenzie berusaha tetap tenang di tengah cecaran Anwar dan beberapa orang yang mendukungnya. Mereka berusaha mencari celah agar Kenzie mundur dari jabatan sementaranya sebagai CEO.


“Apa anda tahu kalau proyek pembangunan one stop hotel itu adalah proyek besar. Bagaimana cara anda membujuk tuan Sander? Dia bukan orang yang mudah didekati. Banyak pengusaha ternama yang ditolak mentah-mentah bekerja sama dengannya. Bagaimana bisa bocah ingusan seperti kamu membujuknya?”


“Tuan Sander sudah bersedia datang dan bertemu dengan Kenzie besok,” jawab Andhiar.


“Apa kamu gila? Bagaimana bisa kamu mengirim bocah ini?”


“Bisa anda sopan sedikit? Berhentilah memanggil saya bocah. Secara hierarki, saya adalah atasan anda. Bersikaplah sedikit sopan!”


Anwar terkejut mendengar perkataan Kenzie. Terlebih gaya bicaranya mirip seperti Abi lengkap dengan tatapan tajamnya. Kenzie yang sedari tadi mencoba bersabar, akhirnya terpancing juga emosinya.


“Apa anda tahu apa yang paling tuan Sander inginkan dalam sebuah bangunan, entah itu mal, hotel atau apartemen?”


“Tentu saja desain yang unik dan bagus serta kualitas bangunan yang sesuai standar internasional. Apa hal seperti itu kamu tidak tahu?”


“Yang tuan Sander inginkan adalah keamanan pengunjung. Bangunan harus dibuat seaman mungkin bagi pengunjung dan juga menyediakan berbagai fasilitas untuk pengunjung difabel. Anak bungsu tuan Sander mengalami kecelakaan saat berkunjung ke salah satu pusat perbelanjaan di Paris. Dia terjatuh dari lantai tiga dan mengalami kelumpuhan. Itulah kenapa tuan Sander sangat menekankan dua hal tersebut. Apa hal seperti itu anda tidak tahu?” Kenzie balas menyindir Anwar.


Andhiar tersenyum melihat bagaimana Kenzie berhasil membungkam mulut sombong Anwar. Bahkan orang-orang yang sedari tadi mendukungnya mulai berpikir ulang. Sepertinya Kenzie tak sebodoh yang mereka kira.


“Sekarang saya tanya pada anda semua yang ada di sini. Apa kalian mau perusahaan ini dipimpin oleh seorang bocah tapi bisa menarik investor utama proyek kita atau oleh orang yang merasa hebat tapi ternyata hanya tong kosong yang berbunyi nyaring?”


Hampir saja Andhiar terbahak mendengar ucapan anak atasannya itu. Like father, like son, itulah gambaran yang bisa pria itu dapatkan dari Kenzie. Anwar sendiri nampak berang dengan ucapan Kenzie. Dia baru saja akan membuka suaranya, namun lebih dulu disela oleh yang lain.


“Kami percayakan posisi pak Abi padamu. Kami percaya, pak Abi menunjukmu sebagai penggantinya bukan tanpa alasan. Kami semua akan mendukungmu.”


Anwar menatap tak suka ke arah pria tersebut. Sia-sia usahanya selama tiga hari ini menarik beberapa pemegang saham agar berpihak padanya. Kenzie melihat ke arah Anwar.


“Hubungi Nirwana Corporation dan tanyakan kesepakatan apa yang mereka inginkan.”


“Saya sudah membuatnya, hanya tinggal menunggu persetujuan.”


“Buat ulang.”


“Kesepakatan yang saya buat sudah disetujui oleh pak Abi. Apa anda meragukan penilaiannya?”


“Keputusan papa saat itu sebelum terjadi suksesi kepemimpinan. Sekarang tampuk kepemimpinan sudah berganti. Maka kebijakan mereka pun tak akan sama lagi.”


“Pemimpin yang sekarang adalah anaknya. Saya rasa kebijakannya tetap sama.”


“Apa anda yakin? Lebih baik anda pastikan lebih dulu.”


“Saya tidak mau karena itu membuang waktu.”


“Kalau pak Abimanyu yang meminta apa anda akan melakukannya?”


Semua yang ada di ruangan menoleh ke arah datangnya suara. Nina yang sedari tadi sudah berada di dekat pintu langsung masuk. Dia sudah tidak bisa membiarkan Anwar bersikap seenaknya pada sang anak.


“Kalau pak Abimanyu yang meminta apa anda akan melakukannya?” Nina mengulang kembali pertanyaannya.


“Tentu saja,” jawab Anwar.


“Kalau begitu apa bedanya sekarang. Kenzie adalah pemegang tampuk kepemimpinan saat ini. Itu artinya kamu harus menghargai dan mengikuti semua keputusannya. Apa itu masih kurang jelas pak Anwar?”


“Jelas bu, maaf,” Anwar menundukkan kepalanya.


“Selama Kenzie memegang kendali perusahaan, dia akan ada dalam pengawasan saya, termasuk anda semua yang ada di sini. Terutama anda, pak Anwar.”


Anwar terkejut, kali ini Anfa yang datang dan secara tidak langsung menekannya. Tak lama kemudian Kevin masuk. Pria itu berdiri di belakang Kenzie, matanya menatap tajam pada Anwar. Tanpa harus berbicara, Anwar sudah tahu kalau asisten Juna itu tengah menegaskan diri kalau dia ada di belakang Kenzie. Posisi Anwar semakin terpojok saat Marcel, asisten Cakra juga datang untuk memberikan dukungan. Pria itu memilih diam, jika salah bertindak bisa-bisa dirinya yang akan ditendang dari perusahaan.


☘️☘️☘️


**Haaaahhh panjangnya sampe 2800 kata. Moga kalian ngga pegel ya bacanya, soalnya mamake bingung mau menggalnya dmn. Sengaja bab ini mamake up semua, supaya besok kalian bisa dapat kepastian kabar soal Abi😉


Di sini mamake hanya mau menggambarkan bagaimana didikan keras Abi pada Kenzie akhirnya membuahkan hasil. Juga menggambarkan bagaimana Nina yg terpuruk kembali bangkit demi anaknya.


Jika biasanya Abi yang selalu menjaga mereka. Kini giliran mereka yang harus bisa menjaga diri mereka sendiri dan melawan musuh dengan senjata yang sudah Abi siapkan. Mereka bangkit dari keterpurukan dengan harapan di suatu tempat, Abi juga tengah berjuang untuk hidup dan kembali pada mereka.


Semoga kalian tidak lelah membaca bab ini yg begitu panjang🙈**

__ADS_1


__ADS_2