
Abi tengah berdiskusi dengan Andhiar, asistennya sekarang di ruang kerjanya. Mereka sedang membahas proyek terbaru yang akan mulai dijalankan bulan depan. Tiba-tiba pintu ruangannya terketuk, muncul Fadil bersama Agung. Abi memberi kode pada Andhiar untuk meninggalkan ruangannya. Agung kemudian duduk berhadapan dengan Abi di sofa.
“Ada apa?”
“Hanya mau melaporkan hasil monitoring saja pak.”
Agung memang ditugaskan Abi untuk memonitor semua orang yang pernah bermasalah dengannya atau keluarganya. Baru saja Agung akan berbicara ketika pintu ruangan kembali terbuka, kali ini Cakra dan Juna yang datang. Keduanya langsung bergabung dengan Abi juga Agung.
“Tumben Gung, ada di sini.”
“Biasa pak mau melaporkan hasil monitoring.”
“Kamu masih ngawasin mereka, Bi?”
“Iya kak. Mencegah itu lebih baik dari pada mengobati. Ini demi menjaga anak-anak kita nantinya. Siapa yang tahu kalau mereka dendam dan ingin membalaskannya pada anak-anak kita.”
Juna hanya menganggukkan kepalanya saja. Jika dalam hal ini harus diakui kalau sang adik lebih perhitungan. Abi selalu memprediksi hal-hal yang mungkin akan menjadi ancaman dan mencari solusi untuk mencegah kemungkinan terjadi hal buruk di depannya.
“Ayo Gung, mulai saja.”
“Dimulai dari Dika. Dia masih menjalani kehidupan seperti biasanya, tapi sekarang dia lebih banyak menghabiskan waktu di pesantren. Sepertinya dia memang benar-benar sudah tobat. Setahun yang lalu dia divonis mengidap HIV Aids.”
“Kebanyakan nyelup ya begitu tuh. Mending kalau satu lubang, nah ini ganti-ganti, resiko deh,” komentar Cakra.
Semua membenarkan apa yang dikatakan oleh Cakra. Dika yang senang bercinta dengan wanita, meneruskan petualangannya setelah gagal menikahi Nadia. Bahkan setelah dia berusaha mencelakai Nina, pria itu masih tetap berganti perempuan dari yang satu ke perempuan lain. Hanya saja dia tak pernah lagi berurusan dengan keluarga Hikmat. Namun petualangannya terhenti setelah dirinya divonis mengidap penyakit yang belum ada obatnya hingga kini.
“Selanjutnya Angela. Dia sudah selesai menjalani hukuman yang diberikan. Saat ini dia masih tinggal di Thailand hanya saja sudah pindah ke daerah perkotaan. Dia sudah menikah dengan seorang dokter di sana dan sudah mempunyai seorang anak. Sepertinya dia sudah tidak seperti dulu lagi. Tapi tetap kami akan terus mengawasinya.”
“Terus awasi dia. Kita tidak tahu apakah dia sudah benar-benar bertobat atau menyimpan rencana lain untuk balas dendam.”
“Selanjutnya tentang Danial beserta keluarganya.”
Agung membuka map yang tadi dibawanya kemudian mengeluarkan beberapa foto dari dalamnya. Abi, Cakra dan Juna mengambil foto-foto tersebut. Di sana terdapat gambar orang tua Danial tengah berjualan buah di pinggir jalan. Kemudian foto lain menunjukkan Danial yang tengah bercengkrama dengan wanita yang tengah hamil di depan sebuah rumah kecil. Wanita itu adalah istri Danial yang dinikahinya empat tahun lalu.
“Dua tahun yang lalu perusahaan milik Danial mengalami kebangkrutan. Semua aset mereka disita oleh bank. Sekarang untuk menopang hidup, kedua orang tua Danial berjualan buah dari hasil kebun salah satu temannya. Sedang Danial bekerja di sebuah perusahaan kecil sebagai staf administrasi. Istrinya pernah mengalami keguguran dua kali dan sekarang tengah hamil anak ketiga.”
“Aku memang pernah mendengar kalau perusahaannya sempat colaps karena kasus korupsi yang dilakukan oleh salah satu pegawainya. Tapi aku ngga nyangka kalau keadaannya sampai separah ini,” ujar Juna.
“Iya pak. Pegawai tersebut membawa kabur dana investasi yang membuat perusahaan menderita kerugian puluhan milyar rupiah. Perusahaan tak sanggup melunasi hutang dan akhirnya dilelang. Begitu pula dengan Danial, semua asetnya disita. Mereka keluar dari rumah hanya membawa pakaian saja.”
Abi cukup terkejut mendengar perihal Danial. Dia memang tidak begitu memperhatikan kehidupan mantan kekasih istrinya itu. Ternyata roda kehidupan berputar sesuai rotasinya. Dulu mereka dengan sombongnya menghina dan merendahkan Nina, namun sekarang hidup mereka berada di titik terendah.
“Selanjutnya Keysha, dia berusaha membangun lagi karier modelnya. Sudah beberapa agensi yang dimasukinya. Namun usia dan juga reputasi buruknya membuat tak ada agensi yang ingin mempekerjakannya.”
“Kamu ngga mau bantu, Bi?” tanya Juna.
“Buat apa? Bisa geer dia kalau aku bantu.”
“Susah ya kalau cinta sudah melekat, t*i kotok serasa coklat hahaha,” Cakra terpingkal sendiri mendengar ucapannya.
Agung mengulum senyum tipis mendengar ucapan Cakra. Dia dan anak buahnya yang senantiasa mengawasi Keysha cukup tahu bagaimana perasaan perempuan itu pada Abi. Dia seperti sudah terobsesi pada pria dingin itu.
“Terakhir soal Fares. Tak ada pergerakan mencurigakan darinya. Dia tetap menjalani hidup seperti biasa. Saat ini istrinya, Diana tengah hamil anak keduanya. Tadi pagi, ibunya meninggal dunia. Sepertinya ibu Nina juga sudah mengetahui hal tersebut.”
“Makasih Gung. Tolong tetap awasi yang perlu diawasi. Untuk Danial, lepaskan saja. Begitu juga dengan Dika. tetap awasi Angela dan Keysha.”
“Kalau Fares?”
“Lepaskan saja.”
“Baik. Kalau begitu saya pamit.”
Setelah berpamitan, Agung pun keluar dari ruangan. Tepat sesudahnya ponsel Abi berdering. Nina menghubunginya dan meminta ijin untuk menghadiri pemakaman mama Fares. Walau pria itu pernah mengkhianatinya, namun Nina masih tetap berhubungan baik dengan ibu dari mantan kekasihnya itu.
“Kamu tunggu di rumah. Mas akan pulang sebentar lagi. Kita ke pemakaman bersama.”
Abi mengakhiri panggilan, kemudian dia segera bersiap untuk pulang. Dibereskan beberapa berkas di mejanya kemudian membawanya pada kakak dan juga sahabatnya. Diberikan berkas di tangannya pada kedua pria itu.
“Minta tolong ya, kalian yang handle meeting hari ini.”
“Ck.. cuma ke pemakaman doang, ngga usah dianter,” seru Cakra.
“Fares itu kecoa yang selalu berusaha mendapatkan kesempatan dalam kesempitan. Gue ngga mau dia coba-coba deketin Nina lagi.”
“Ninanya juga ngga akan mau,” sela Juna.
“Tapi tetap aja ngga rela tuh cecunguk deketin Nina.”
“Dasar bucin,” ledek Juna dan Cakra bersamaan.
Abi tak mempedulikan ledekan Juna dengan Cakra. Dia menyambar jas dari kapstok, kemudian mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja. Setelahnya dia segera keluar dari ruangan.
☘️☘️☘️
Abi beserta Nina tiba di pemakaman umum. Ketiga anaknya juga ikut serta karena Kenan menangis tidak mau ditinggal, Freya juga merengek ingin ikut. Anak itu selalu ingin ikut kemana Abi pergi, kecuali jika ke kantor. Dan Kenzie yang tak ada kegiatan sepulang dari sekolah juga meminta ikut. Alhasil Nina memboyong semua keluarganya untuk memberi penghormatan terakhir pada wanita yang dulu begitu dekat dengannya.
Keluarga Fares, khususnya papa Fares menyambut kedatangan Nina dengan hangat. Dia bersyukur Nina masih mau datang ke pemakaman sang istri. Fares hanya melihat sekilas pada Nina tanpa ada keinginan untuk menegur. Bukan karena membenci Nina, namun karena ada Abi di samping wanita itu. Padahal hatinya bersorak bisa bertemu kembali dengan mantan kekasih yang masih diingatnya.
Doa dari ustadz yang mengantar jenazah ke peristirahatan terakhirnya mengakhiri acara pemakaman yang dilakukan bada ashar. Beberapa kolega papa Fares terkejut melihat kedatangan Abi di sana. Siapa yang tak mengenal CEO Metro East, perusahaan yang dipegangnya kini tengah dalam kemajuan pesat berkat tangan dinginnya.
__ADS_1
Kehadiran Abi seperti magnet bagi beberapa orang yang hadir di sana. Mereka langsung saja menyapa pria yang kini berusia 37 tahun itu. Nina memilih menunggu di dekat mobil sambil menggendong Kenan dan Kenzie yang menemaninya. Sedang Freya memilih bersama dengan Abi.
Melihat Nina yang terpisah dari Abi, Fares bergegas menghampiri. Tak dipedulikannya larangan sang istri. Dengan kesal Diana terus memandangi sang suami yang berjalan menghampiri mantan tunangannya. Sejak dulu hingga sekarang, Diana memang tidak menyukai Nina. Bahkan setelah dirinya berhasil menikah dengan Fares, di hati pria itu tetap tertera nama Nina.
“Hai Nin.. apa kabar?” tanya Fares seraya mengulurkan tangannya.
“Baik.”
Nina membalas uluran tangan Fares namun hanya sebentar saja, dia kembali menarik tangannya ketika Fares hendak menggenggamnya. Kenzie memandangi pria yang berdiri di samping sang mama. Perasaannya mengatakan kalau pria ini bukanlah pria baik dan ada maksud lain pada mamanya.
“Ini anak kamu Nin?”
“Iya. Ken.. kenalin ini teman mama, om Fares.”
Kenzie mengulurkan tangannya, walau enggan, dia mencium punggung tangan Fares karena itu salah satu adab yang diajarkan orang tuanya jika bertemu dengan orang yang lebih tua. Fares tersenyum seraya mengusak puncak kepala anak itu, tapi dirnya tak enak hati juga melihat tatapan dingin Kenzie.
“Kamu sepertinya bahagia ya Nin.”
“Tentu saja. Mas Abi sangat menyayangiku, dia suami yang baik juga setia. Dia tidak mudah tergoda pada perempuan lain.”
Fares menelan ludahnya kelat mendengar jawaban Nina yang seolah tengah menyindir dirinya. Jika saja waktu bisa diulang, dia tidak akan termakan bujuk rayu Diana untuk meneruskan kegilaan mereka. Menyesal saja rasanya melepaskan perempuan sebaik dan secantik Nina. Kalau saja bukan Abi yang menjadi pendampingnya, mungkin pria itu akan merebut Nina kembali.
Melihat Abi yang masih berbicara dengan beberapa orang, termasuk papanya, Fares memanfaatkan kesempatan ini untuk lebih lama berada di dekat wanita ini. Dia merubah posisi berdirinya menjadi lebih dekat dengan Nina. Dihirupnya dalam-dalam aroma yang begitu dirindukannya. Aroma tubuh Nina yang selalu membuatnya mabuk kepayang hingga membuatnya melampiaskan hasratnya pada Diana.
Fares terus saja mengajak Nina berbincang, menanyakan hal-hal klise. Dia juga menceritakan bagaimana perjuangan sang mama saat bertahan hidup dari penyakit kronis yang menggerogotinya untuk meraih simpati Nina. Tak ada tanggapan berarti dari Nina, wanita itu hanya mendengarkan saja, sedang matanya terus melihat ke arah sang suami.
Satu langkah lagi Fares mendekat pada Nina, kini tubuh mereka hanya berjarak beberapa senti saja. Nina sendiri tak menyadari pergerakan Fares. Dia sudah terlalu muak pada pria itu hingga tak ingin menatap wajahnya. Perlahan Fares mendekatkan wajahnya ke arah kepala Nina. Hanya tinggal sedikit saja, dia bisa mencium puncak kepala mantan tunangannya itu. Kenzie yang melihat gelagat yang mencurigakan segera memberi isyarat pada sang adik dan
PLAK
Tangan kecil Kenan tepat mendarat di wajah Fares. Hal itu tentu saja mengejutkan Fares juga Nina. Kenzie tersenyum tipis, senang sekali Kenan mengerti akan kode yang diberikannya. Dia mengangkat jempolnya ke arah sang adik yang hanya dibalas senyum lucu bocah itu.
“Oh ya ampun Fares, maaf ya. Dede, kenapa om nya dipukul?”
“Akal.. akal.. akal..”
PLAK
Kenan menjawab pertanyaan Nina dengan menyebutkan tiga kata secara berulang yang maksudnya ‘nakal’ lalu kembali mendaratkan tangannya di wajah Fares. Nina tak bisa menahan senyumnya melihat kedongkolan di wajah Fares, sebenarnya dia senang sang anak melakukan hal tersebut.
“Aduh maaf ya Fares, biasanya Kenan ngga kaya gini. Tapi dia kalau sama orang yang ngga disuka emang suka galak, maaf ya.”
“Iya ngga apa-apa Nin, namanya juga anak-anak. Ampuuunnn kamu tuh gemesin banget,” Fares mencubit pelan pipi Kenan, walau sebenarnya dia ingin melakukannya dengan keras.
“Ken.. tunggu sini ya. Mama mau nyusulin papa dulu. Kalau ngga disusul suka ngga inget waktu papa kamu.”
Kenzie hanya mengangguk. Nina pun bergegas menghampiri sang suami yang masih mengobrol. Fares menarik nafas panjang, gagal sudah dirinya mendapatkan kesempatan untuk bisa mencuri ciuman dari Nina. Kenzie menggeser tubuhnya sedikit mendekat pada Fares.
“Oh iya ngga apa-apa.”
“Dia emang ngga suka kalau ada orang deketin mama, kalau papa apalagi.”
Fares melihat ke arah Kenzie. Nada bicara anak itu yang dingin seakan menyindirnya. Fares melipat kedua tangannya di dada, matanya menatap tajam ke arah anak di depannya.
“Maksud kamu apa?”
“Om mau cium mama kan tadi?”
Fares cukup terkejut mendengarnya. Tak menyangka kalau Kenzie melihat tindakannya tadi. Dia hanya berdehem saja untuk menutupi kegugupannya.
“Kalau aku aduin ke papa, gimana jadinya ya.”
Kenzie ikutan melipat kedua tangannya di dada. Matanya tak kalah tajam melihat ke arah Fares. Kunyuk nih anak, sama nyebelin kaya bapaknya, rutuk Fares dalam hati. Dengan cepat Fares pergi meninggalkan Kenzie. Bahaya kalau anak itu sampai mengadu pada Abi. Bisa dijadikan perkedel dirinya.
Setelah berpamitan dengan papa Fares, Abi mengakhiri pembicaraan kemudian mengikuti sang istri menuju mobilnya. Nina, Freya dan Kenan lebih dulu masuk ke dalam mobil. Kenzie berjalan pelan di samping sang papa.
“Papa lama banget ngobrolnya. Hampir aja ada yang mau ganggu mama.”
“Tapi ngga jadi kan?”
“Kok papa tahu.”
“Jelas tahu, karena papa masih tetap ngawasin kalian walau sedang bicara dengan yang lain.”
“Kalau papa tahu kenapa ngga papa cegah,” kesal Kenzie.
“Papa mau lihat bagaimana cara kamu menjaga mama. Good job, papa suka cara kamu. Kamu harus bisa berpikir cepat untuk bisa melindungi keluarga dan orang-orang di sekitarmu. Papa bangga sama kamu.”
Abi mengusak pelan puncak kepala sang anak. Kenzie hanya terdiam merenungi ucapan papanya. Abi memang selalu mengajarinya secara tidak langsung bagaimana mengatasi keadaan di sekitarnya sejak kecil. Hingga sadar tidak sadar, alam bawah sadar Kenzie merekam itu semua dan selalu berusaha peka dan waspada serta mencari solusi dengan cepat jika situasi sudah mulai rawan.
“Oh iya sebelum pulang kita mampir beli kado. Besok ulang tahun Naya dan Nara,” ucap Abi yang membuat lamunan Kenzie buyar.
“Frey aja yang ke sana.”
“Kan mereka juga ngundang kamu.”
“Ck.. males. Ngga penting.”
“Ya kamu bilang sendiri sana sama om Jo kalau ngga mau dateng.”
__ADS_1
“Ya udah aku ikut.”
Abi hanya terkekeh melihat reaksi sang anak. Kenzie enggan harus berhadapan dengan Jojo, sahabat papanya itu pasti akan berbicara panjang lebar padanya. Apalagi kalau sampai Kenzie menolak datang ke pesta anaknya. Bisa dipastikan setiap hari Kenzie akan ditelepon oleh Jojo dan diikuti kemana pun dia pergi. Jojo selalu punya seribu satu cara untuk membujuk Kenzie mengikuti kemauannya.
☘️☘️☘️
“Happy birthday Nanay,” ucap Kenzie pada si kembar yang tengah berulang tahun seraya menyerahkan kado di tangannya.
Nanay adalah panggilan Kenzie untuk si kembar. Menurutnya lebih hemat waktu dan energi memanggil mereka dengan sebutan itu. Walau awalnya memprotes, akhirnya kedua anak cantik itu pasrah saja menerima panggilan tersebut. Sialnya, yang lain pun mengikuti jejak Kenzie.
“Nanay, met ultah.”
Viren menyodorkan kado di tangannya dengan wajah tanpa ekspresi. Setelahnya bocah itu segera berlalu sebelum si kembar sempat mengucapkan terima kasih. Kevin yang melihat anaknya segera menghampiri.
“Kalau ngucapin ulang tahun yang bener,” ujar Kevin seraya menjewer telinga sang anak.
“Kan udah tadi.”
“Pake senyum.”
“Penting gitu?”
Kevin hanya melongo mendengar jawaban sang anak. Kesempatan itu segera diambil Viren untuk menjauh dari sang ayah.
“Hahahaha... sukurin lo dijutekin anak sendiri. Makan tuh kurma!!”
Cakra tertawa lepas melihat Kevin yang hanya bisa terpaku melihat sikap sang anak yang memang persis seperti dirinya. Tawa pria itu terhenti ketika melihat anaknya juga Ezra tengah menghampiri si kembar. Dia penasaran apa yang akan dilakukan kedua anak tersebut.
“Nanay happy birthday. Gue doain tambah cantik dan gemoy.”
Aric mencubit pipi Naya dan Nara bersamaan, membuat kedua anak tersebut menjerit. Aric segera kabur setelah melakukannya. Kini giliran Ezra yang mendekat, dia memberikan kado pada si kembar yang wajahnya tidak identik.
“Happy birthday Nanay, sakit ya.”
Ezra mengusap pipi Nara dan Naya membuat kedua anak itu kembali tersenyum. Ezra memang selalu bersikap manis pada mereka. Ditambah senyum manis yang Ezra layangkan membuat kedua anak itu semakin senang.
“Semoga suka ya sama kadonya.”
Ezra kembali tersenyum seraya mengedipkan matanya ke arah si kembar. Cakra menepuk keningnya melihat kelakuan sang keponakan. Juna yang sedari tadi juga memperhatikan anaknya hanya menggelengkan kepalanya saja.
“Heran, kenapa gaya leboy Jojo nemploknya di Ezra,” ucap Abi yang tengah duduk bersama Juna.
“Ngga tau. Pas hamil Nadia sebel banget kali sama si Jojo,” jawab Juna asal.
“Ngga usah nyalahin Jojo, bapaknya juga tukang tebar pesona,” sahut Kevin.
“Gue cuma bersikap ramah aja ya, bukan tebar pesona,” protes Juna.
“Ramah sama tebar pesona itu tipis bedanya. Tetep aja bikin baper orang,” sambung Abi.
“Dari pada elo, bikin orang darting,” sela Cakra yang ikutan nimbrung.
“Udah gitu ngga nyadar lagi,” celetuk Jojo.
“Tapi sekarang dia udah dapet balasannya dari Ken,” Juna terkekeh.
“Sama noh si Kevin juga hahaha,” lanjut Cakra.
Abi dan Kevin hanya mengendikkan bahunya tak acuh. Juna dan yang lainnya terus menertawakan kedua orang menyebalkan itu. Kemudian mereka kembali fokus memperhatikan anak-anak mereka. Sesekali terdengar komentar disertai gelak tawa kelimanya.
☘️☘️☘️
**Kemarin ada yang nanya kabar para musuh Abi. Udah mamake kasih jawaban ya. Mereka sudah tuntas.. tas.. tas.. tas..
Yang nanya anaknya Agung dan Ruby, namanya Fathan.
Dan ini mamake kasih lagi visual anak² yang bikin gemes kelakuannya.
Kenzie**
Aric
Viren
Ezra
Naya
Nara
__ADS_1