
“Maaf saya terlambat.”
Abi kembali menahan kata-katanya ketika seseorang datang. Jantung Barra langsung berdegup kencang. Dengan pelan pria itu menolehkan kepalanya ke arah datangnya suara. Barra mendekat ke arah Kenzie lalu berbisik padanya.
“Siapa tuh?”
“Penghulu,” jawab Kenzie santai.
“WHAT??!!”
Darmawan yang baru saja tiba, terkejut dengan teriakan Barra. Lagi-lagi pria itu mendapat hadiah dari sang ayah. Kali ini jitakan yang mendarat di kepalanya. Kenzie hanya mengulum senyum saja melihatnya.
“Selamat datang, pak Darmawan. Acaranya baru saja akan dimulai,” sambut Abi.
Abi menjabat tangan koleganya itu, diikuti oleh yang lain. Sandi juga Risma terkejut melihat kedatangan bosnya itu. Sandi mendekati Darmawan lalu menjabat tangan atasannya itu. Demi menghindari gangguan lagi, Abi segera membuka acara.
“Sebelumnya saya ucapkan terima kasih untuk semua yang sudah bersedia hadir pada hari ini. Acara hari ini adalah pertunangan anak bungsu saya, Kenan Mahendra Hikmat dengan Zahra Aulia, anak dari ibu Nita Almira.”
Ada kekecewaan di hati Sandi, ketika Abi hanya menyebutkan nama mantan istrinya. Padahal dia berharap calon besannya itu menyebutkan namanya juga. Setidaknya dia bisa ikut maju dan berdampingan dengan Nita. Melihat penampilan hari ini, sungguh membuat pria itu pangling. Dia masih tak percaya, wanita yang tengah berdiri bersama putrinya adalah sang mantan istri yang dulu diselingkuhi dan diceraikan olehnya.
Kenan dan Zahra sudah berdiri di depan sambil berhadapan. Sebelum acara penyematan cincin, terlebih dulu keduanya mengutarakan isi hatinya masing-masing. Haikal yang diberi tugas memegang kotak beludru berisi cincin pertunangan, berdiri di belakang Kenan.
“Za.. aku tahu hubungan kita baru seumur jagung, tapi aku sudah memantapkan diri untuk menjadikanmu pendamping hidupku. Aku harap kamu mau menungguku sampai aku siap membawamu ke depan penghulu. I love you, Zahra Aulia.”
“Nan.. terima kasih sudah datang dalam hidupku. Terima kasih sudah menyirami hatiku yang kering kerontang dengan cinta, kasih sayang dan perhatianmu. Aku akan menunggumu datang dan menghalalkan hubungan kita. I love you, Kenan Mahendra.”
Kaki Haikal maju satu langkah seraya menyodorkan kotak beludru di tangannya. Kenan mengambil cincin dari sana lalu menyematkannya di jari manis Zahra. Kemudian Haikal mendekati Zahra dan melakukan hal yang sama. Zahra mengambil cincin yang tersisa lalu menyematkannya di jari Kenan. Gemuruh tepuk tangan langsung terdengar ketika acara penyematan cincin selesai.
“Awas Nan, belum halal. Belum boleh kasih stempel,” celetuk Kenzie.
“Hooh.. jaga bibir biar tetap virgin,” lanjut Ravin.
“Dilarang mupeng,” sahut Aric.
“Tahan-tahan.. jangan sampe blong,” sambung Fathan.
“Heleh.. bisa aja lo pada. Sendirinya juga udah pada nyosor sebelum dapet label halal,” seru Barra yang langsung disambut gelak tawa. Namun semuanya langsung terdiam begitu melihat tatapan horror Nina.
“Untuk pernikahan, kami selaku orang tua menyerahkan pada anak-anak saja. Akan lebih baik jika keduanya sudah menyelesaikan studinya masing-masing. Apa bu Nita tidak keberatan?” tanya Abi.
“Saya tidak keberatan, pak. Saya setuju kalau mereka menyelesaikan studi dulu.”
“Baiklah kalau begitu. Acara kali ini hanya untuk mengikat saja. Zahra, dengan ini Kenan sudah melamarmu menjadi istri. Jagalah komitmen yang sudah kalian buat sampai tiba waktu kalian untuk bersama. Begitu juga kamu, Nan. Kamu sudah mengucapkan janji untuk menjalin hubungan serius dengan Zahra sampai ke jenjang pernikahan. Papa harap kamu memegang teguh janji itu dan bertanggung jawab atas pilihanmu.”
“Iya, pa,” jawab Kenan dan Zahra bersamaan.
“Alhamdulillah. Terima kasih untuk yang sudah datang dan menyaksikan acara ini. Kepada yang hadir, kami persilahkan untuk mencicipi hidangan.”
Nina beranjak dari tempatnya lalu mengajak para tamu undangan ke halaman belakang untuk menikmati hidangan. Semua langsung mengikuti langkah Nina. Setelah mengambil hidangan, mereka duduk berkelompok sesuai dengan usia mereka. Para pria generasi Hikmat memilih menikmati hidangan sambil berbincang santai di rumah pohon. Istri mereka berkumpul di ruang santai yang ada di lantai dua. Abi dan para sahabatnya berkumpul di halaman belakang. Sedang Sekar dan gerombolannya memilih berkumpul di teras.
Sandi bingung sendiri kemana harus bergabung. Tak satu pun dari yang hadir menyapa apalagi mengajaknya berbicara. Dirinya dan Risma seakan dianggap makhluk tak kasat mata. Masih untung Silva mau mengajak bicara Dila dan Sisil. Akhirnya pasangan itu memilih duduk di dekat meja prasmanan sambil memperhatikan sekitar.
Risma nampak kesal melihat Nina terus saja memperkenalkan Nita pada orang-orang di sana. Seharusnya dirinya yang berada di posisi Nita. Begitu pula dengan Sandi yang melihat iri pada mantan istrinya itu.
“Pak Darmawan, terima kasih sudah mau datang,” ujar Nina begitu berada di dekat pria itu. Tak lupa dia membawa Nita bersamanya.
“Sama-sama, bu Nina. Saya merasa tersanjung sudah diundang dalam acara keluarga kali ini.”
“Sayang…”
Nina menolehkan kepalanya begitu mendengar suara Abi memanggilnya. Pria itu melambaikan tangan ke arahnya. Melihat itu, Nina segera berpamitan pada tamunya.
“Maaf pak Darmawan, saya tinggal dulu. Bu Nita, tolong temani pak Darmawan ya.”
“Eh bu..”
Belum sempat Nita menyelesaikan kalimatnya, calon besannya itu sudah beranjak pergi. Matanya mengikuti langkah Nina yang tengah menuju suaminya. Kini tinggalah Darmawan dan Nita. Sejenak suasana menjadi hening, Nita sedikit canggung berada sedekat ini dengan Darmawan. Apalagi dia sempat melirik Sandi dan Risma terus melihat ke arahnya.
“Silva mana bu?” tanya Darmawan basa-basi.
“Silva…” mata Nita berkeliling mencari anak bungsunya. Kemudian tangannya menunjuk ke arah kolam renang.
“Itu Silva.”
__ADS_1
“Dia dengan siapa?”
“Dila dan Sisil, anaknya mas Sandi dengan Risma.”
“Kalau bu Nita sendiri kenapa tidak menikah lagi?”
“Saya fokus mengurus anak-anak.”
“Sekarang anak-anak sudah besar. Zahra juga akan segera menikah. Sepertinya tidak salah kalau bu Nita mulai memikirkan diri sendiri sekarang.”
“Duh.. siapa yang mau sama saya? Saya bukan bu Nina atau Risma yang cantik. Saya tidak punya apapun yang bisa dibanggakan.”
“Kecantikan seorang wanita itu bukan dinilai dari penampilan fisik, tetapi hati. Wajah cantik hanyalah adalah bonus.”
Nita hanya mengulum senyum saja mendengarnya. Sikap bersahaja Darmawan dan kata-katanya yang santun tak pelak membuat Nita mulai menyukai pria itu. Bertahun-tahun tidak pernah dekat apalagi berhubungan dengan seorang pria, sedikit membuat hatinya bergetar ketika berdekatan dengan Darmawan.
“Pak Darmawan sendiri kenapa belum menikah?”
“Tolong jangan bersikap terlalu formal. Panggil namaku saja, Darma.”
“Eh.. eung.. sepertinya kurang sopan. Ba.. bagaimana kalau ma..s Darma,” ujar Nita sedikit ragu.
“Aku suka itu. Kalau begitu aku juga akan memanggilmu, Nita saja. Kalau tidak keberatan tentunya.”
“Eh.. i.. iya boleh.”
Nita agak tergagap menanggapi perkataan Darmawan. Penggunaan kata ganti saya menjadi aku, membuat wanita itu cukup terkejut. Apalagi saat pria itu memanggil namanya langsung tanpa embel-embel ibu di depannya, membuat perasaan Nita semakin tak menentu.
“Sama seperti dirimu. Aku juga awalnya hanya fokus pada anak-anak saja, setelah istriku meninggal dunia. Tapi setelah Fikri menikah dan sebentar lagi juga Mentari menyusul, sepertinya aku akan mempertimbangkan usulan Mentari untuk menikah.”
“Semoga bapak eh.. mas Darma bisa mendapatkan pendamping yang baik.”
“Aamin.. tapi sepertinya aku sudah menemukannya.”
Ada desiran di dada Nita ketika melihat senyum hangat Darmawan. Ketika mengatakan sudah menemukan calon pendamping baru, pria itu melihat ke arahnya. Sejenak Nita berpikir apakah itu dirinya. Namun dia segera menepiskan pikiran itu. Rasanya tak mungkin pria seperti Darmawan tertarik padanya.
Perbincangan santai Nita dan Darmawan terus berlanjut. Nina diam-diam memperhatikan interaksi keduanya. Wanita itu tersenyum melihat kedekatan Nita dan Darmawan yang berkembang cukup cepat. Di sisi lain, Sandi turut memperhatikan gerak-gerik mantan istrinya itu. Ada rasa cemburu terselip di dalam dada saat melihat Nita tersenyum pada Darmawan.
Didorong rasa cemburu, Sandi bangkit lalu mendekati Darmawan. Risma ikutan berdiri kemudian menyusul suaminya. Digamitnya lengan Sandi, namun suaminya itu tak menoleh ke arahnya, hanya menatap lurus ke depan.
“Iya, bu Nina yang mengenalkan saya.”
“Oh iya, pak. Untuk acara gathering family akhir bulan nanti, konsepnya sudah selesai dibuat,” sela Risma. Wanita itu seakan ingin menunjukkan eksistensi dirinya di hadapan Nita.
“Bicarakan soal itu di kantor saja.”
Risma hanya tersenyum hambar mendengarnya. Nita memalingkan wajahnya ke arah lain, dalam hati dia senang melihat Darmawan membuat perebut mantan suaminya itu mati kutu. Berbeda dengan Sandi yang terus saja memperhatikan Nita.
Dddrrttt
Dddrrrtt
Ponsel Darmawan bergetar. Melihat nama pemanggil adalah Mentari, pria itu meminta ijin untuk menjawab panggilan, seraya beranjak sedikit menjauh. Nita yang tak ingin berdekatan dengan Sandi dan Risma, memilih menuju meja prasmanan. Saat dirinya sedang memilih camilan, Sandi mendekatinya.
“Andai dulu kamu berdandan seperti ini. Aku tidak akan berpaling pada Risma.”
“Benarkah? Apa mas tahu kalau untuk tampil cantik itu butuh biaya? Apa mas pernah memberiku uang untuk merawat diri? Jangankan memberi untuk perawatan tubuh, aku meminta uang belanja lebih pun kamu tak pernah memberi.”
Skak mat, mungkin itulah kata yang tepat untuk menggambarkan bagaimana situasi Sandi saat ini. Pria itu pun tak bisa mengelak karena semua benar adanya. Dia hanya berdehem demi mengusir rasa kesal yang menjalari hatinya.
“Apa kamu sedang menggoda pak Darma?” tuduh Sandi.
Gerakan tangan Nita yang hendak mengambil camilan terhenti begitu mendengar ucapan mantan suaminya itu. Dia menoleh ke arah Sandi dengan tatapan mata berapi-api.
“Apa maksud mas? Lagi pula aku menggoda pak Darma atau tidak, sama sekali bukan urusan mas. Kita sudah tidak ada hubungan lagi. Aku bebas bersama dengan siapa pun yang aku mau.”
“Cih.. kamu pikir pak Darma tertarik padamu? Biarpun bu Nina sudah mendandanimu, tapi tetap saja derajatmu tidak sepadan dengannya,” seru Risma yang tiba-tiba saja bergabung.
“Derajatku mungkin berada di bawahmu. Tapi setidaknya aku bukan perempuan yang berbahagia di atas penderitaan orang lain. Aku tidak pernah merebut suami orang, seperti dirimu.”
Setelah melontarkan kata-kata yang cukup membuat Risma dongkol, Nita segera pergi meninggalkan kedua orang itu. Awalnya Risma ingin menyusul Nita dan menjambak rambut wanita itu, namun diurungkan niatnya itu setelah melihat tatapan tajam Abi padanya.
Sementara itu, Darmawan yang baru saja selesai menerima panggilan dari Mentari, segera menyusul Nita yang terlihat terburu-buru meninggalkan halaman belakang. Setelah mencari ke sana kemari, pria itu mendapati Nita tengah duduk menyendiri di ruang makan. Darmawan mendekat kemudian menarik kursi di dekat wanita itu.
__ADS_1
“Apa ada masalah?”
“Ti.. tidak ada mas.”
“Apa Sandi dan Risma mengganggumu?”
Kepala Nita menggeleng, namun Darmawan yakin kalau wanita di sampingnya ini tengah berbohong. Pria itu menghela nafas sejenak. Dilihatnya kembali Nita yang lebih banyak menunduk. Entah dorongan dari mana, Darmawan meraih tangan Nita, membuat wanita itu mendongakkan kepalanya.
“Mentari tadi telepon. Dia mengajak makan malam bersama dengan Petra. Apa kamu mau menemaniku?”
Nita hanya bisa tergugu mendengar ajakan Darmawan. Sejenak dia berpikir apakah ada yang salah dengan pendengarannya.
“Bagaimana Nita? Apa kamu mau?”
“Ehm.. eung.. ke.. kenapa sa.. saya?”
“Tidak tahu. Saya hanya ingin mengajakmu saja. Apa tidak boleh?”
“Bo.. boleh. Ta.. tapi a.. apa mas tidak malu mengajakku?”
“Untuk apa aku malu? Kamu wanita baik, cantik, malah aku merasa tersanjung kalau kamu mau menemaniku.”
Nita menundukkan kepalanya, rasanya begitu malu untuk bersitatap dengan Darmawan. Walau usia pria di dekatnya ini sudah mencapai kepala lima, namun gurat ketampanan masih terlihat di wajahnya.
“Nita… bagaimana?”
“Aku.. tanya Zahra dulu. Kalau dia mengijinkan, aku akan ikut dengan mas.”
“Silahkan.”
Nita beranjak dari duduknya kemudian kembali ke halaman belakang untuk menemui Zahra yang tengah bercengkerama dengan Kenan dan para sahabatnya. Darmawan juga beranjak dari duduknya, kemudian menghampiri Sandi dan Risma.
“Bu Risma, saya harap ibu bisa bersikap lebih sopan pada bu Nita. Kalau ibu bersikap kasar padanya, sama saja ibu tidak menghargai pak Abi juga bu Nina sebagai calon besannya. Saya mengatakan ini demi kebaikan ibu Risma sendiri. Saya ingatkan, jangan mengganggu Nita lagi.”
Tanpa menunggu jawaban Risma, Darmawan segera berlalu meninggalkan pasangan suami itu. Risma nampak dongkol, sedang Sandi semakin terbakar cemburu. Pria itu memilih untuk meninggalkan halaman belakang. Tanpa sengaja dia menyenggol seseorang.
“Ma.. maaf,” ujar Sandi.
“Tidaakhh apaahh-apaahh..”
Sandi terperangah mendengar suara yang begitu familiar di telinganya. Dia terkejut saat melihat Syakira adalah orang yang ditabraknya tadi. Wajah Sandi yang tadi nampak kusut, berubah ceria ketika bertemu dengan Syakira.
“Bu Syakira.. sedang apa di sini?”
“Sayaahh diundhaanghh buuhh Ninaahh.”
“Oh ya? Bu Syakira kenal dengan ibu Nina?”
“Syuamiihh sayaahh syahabaatthh adiikhh pakkhh Abiih.”
“Ooh begituuhhh..”
“Syaki.. Gurit mana?”
Perbincangan Syakira dan Sandi terpotong oleh kedatangan Sekar. Satu-satunya sahabat Sekar yang belum datang memang Gurit. Sandi terkejut melihat Sekar yang wajahnya pun tak kalah cantik dari Syakira. Dia terus memandangi istri dari Cakra itu.
“Diptaahh masyiihh di jalaannhh.”
“Pak Sandi kan? Ayahnya Zahra?” tegur Sekar yang sadar kalau sedari tadi Sandi terus memandanginya.
“I.. Iya. Kenalkan saya, Sandi.”
Sandi mengulurkan tangannya yang dibalas oleh Sekar. Mata Sandi tak lepas melihat pada Sekar dengan tangan terus menggenggam tangan wanita itu. Tiba-tiba saja dia merasakan genggaman tangannya terlepas. Kenan yang menghampiri segera memutus tautan tangan pria itu.
“Mami.. dipanggil sama papi,” ujar Kenan.
“Ok, Nan.”
Bersama dengan Syakira, Sekar beranjak menuju halaman belakang. Mata Sandi terus mengikuti arah langkah kedua wanita cantik itu. Namun tatapannya terputus ketika mendengar deheman kencang Kenan.
“Om.. mohon dijaga matanya. Maaf, ini demi keselamatan om sendiri. Papi ngga suka kalau istrinya dilihat seperti tadi. Bisa dicabik-cabik nanti sama papi.”
Kenan melemparkan senyuman sebelum meninggakan calon mertuanya. Selepas Kenan pergi, berturut-turut Juna, Jojo, Kevin dan Cakra melintasinya. Pria itu melemparkan senyuman pada keempat pria itu namun tak mendapat lirikan sedikit pun. Tak lama di belakang mereka, muncul Agung dengan Dendi. Lagi-lagi Sandi dianggap tak kasat mata oleh mereka. Pria itu hanya bisa menahan kedongkolan dalam hati saja.
__ADS_1
☘️☘️☘️
Akhirnya bisa up juga. Jelas ya bukan penghulu yang datang. Mamake ngga sejahat itu. Justru kalian yang berharap Barra ketikung lagi. Ya ampun, kalian belajar julid dari mama sih?🏃🏃🏃