
Nina melambaikan tangannya pada Rayi ketika gadis itu masuk ke dalam cafe tak lama setelah dirinya datang. Juna dan Nadia juga sudah tiba. Rayi bergegas menuju meja Nina. Sebenarnya dia cukup gugup bertemu kembali dengan Nina. Gadis itu takut disuguhi sikap jutek Abi.
Rayi bernafas lega ternyata sosok yang ditakutinya tak ada di sana. Tergantikan oleh laki-laki yang wajahnya sedikit mirip namun kelihatan lebih ramah dan murah senyum. Dengan memasang senyum di wajahnya, Rayi menyapa semua.
“Siang semuanya, maaf saya datang terlambat.”
“Ngga kok. Kita juga baru datang,” jawab Nina.
“Kenalkan, saya Rayi.”
Rayi mengulurkan tangannya ke arah Nadia dan Juna. Kedua orang itu menyambut uluran tangan Rayi seraya menyebutkan namanya. Wajah Rayi merona mendengar nama dua orang di depannya. Seketika ingatannya tertuju pada suara-suara yang telah membuat telinganya ternoda beberapa waktu lalu.
“Kamu sakit Ray? Kenapa mukanya merah gitu?”
“Eh ngga kak. Mungkin kepanasan tadi.”
“Kamu ke sini naik apa?” tanya Nadia mencoba mengakrabkan diri.
“Naik motor kak, dianter pacar hehe..”
“Mana pacar kamu?”
“Langsung pergi lagi kak. Ada wawancara kerja katanya.”
“Ok.. jadi sudah sampai mana persiapannya?” tanya Juna.
Rayi mengeluarkan lembaran kertas dari dalam tasnya lalu mulai menerangkan sejauh mana persiapan resepsi yang akan diadakan tiga hari lagi. Juna hanya manggut-manggut mendengar penjelasan gadis itu. Rayi cukup leluasa menerangkan semuanya, karena sikap Juna yang ramah.
“Kalau kakak ada waktu, besok kita test food dulu kak.”
“Itu cateringnya dari Delicia kan?” Juna memastikan.
“Iya pak.”
“Kalau gitu ngga usah test food. Saya udah percaya rasa masakan mereka.”
“Baik pak.”
“Berarti udah beres semuanya ya. Makasih loh Rayi, sudah mau menangani resepsi kita yang mepet waktunya,” ucap Nadia.
“Iya kak, sama-sama.”
“Kenapa kamu panggil saya bapak tapi panggil istri saya kakak?” protes Juna.
“Eh.. bapak mau dipanggil kakak juga?”
“Bolehlah. Biar awet muda.”
Candaan Juna disambut tawa oleh yang lain. Rayi benar-benar lega, kliennya yang sekarang ternyata jauh lebih ramah dan manusiawi.
“Nah. Urusan kita udah beres. Sekarang tinggal satu pasangan lagi.”
“Siapa kak?”
“Nih yang di sebelah. Dia juga mau nikah bulan depan. Sekalian aja kamu yang urus juga pernikahan mereka.”
“Wah selamat ya kak Nina. Calonnya ngga ikut sekalian?”
“Ngga Ray.. takutnya kamu kena ayan kalau dia ikut.”
Uhuk.. uhuk..
Rayi tersedak saat minum ketika mendengar ucapan Nina. Saking senangnya dapat klien baru, dia lupa kalau calon suami Nina adalah pria jutek bin menyebalkan yang membuatnya mati kutu.
“Harap maklum ya Ray, calonnya Nina itu sejenis beruang kutub,” Nadia terkikik.
“Iya kak. Syukur deh kalau mas Abinya ngga ikut. Jadi aman sentosa.”
“Aman dari apa?”
Tiba-tiba saja Abi sudah berada di belakang Rayi. Dia menarik kursi di samping Nina. Wajah Rayi yang semula santai mulai menegang. Juna menggelengkan kepalanya. Begitu menakutkannya sosok sang adik di mata Rayi.
“Kita duluan ya Rayi. Ayo sayang.”
Juna berdiri lalu mengajak Nadia pergi. Rayi ikut berdiri lalu menyalami pasangan itu. Dia kembali duduk, sialnya kini Abi yang berhadapan dengannya.
“Ehem... jadi kak Nina mau konsep pernikahan seperti apa?”
“Mas maunya kaya gimana?”
“Terserah kamu aja sayang.”
Abi mengsusap puncak kepala Nina dengan lembut. Rayi melongo melihatnya. Sepertinya beruang kutub ini sedang dalam mode jinak sekarang.
“Kalau tema internasional gimana? Kan kak Nadia udah pake tema tradiosional.”
“Hmm.. boleh.”
__ADS_1
“Nah ini ada beberapa contoh dekorasi dan baju pengantin dengan tema internasional.”
Rayi menyodorkan katalog di tangannya. Nina langsung melihat-lihat. Matanya memandang kagum melihat contoh dekorasi yang terlihat cantik dan elegan. Dia sampai bingung mau memilih yang mana. Sedang Abi seperti biasa hanya melihat tanpa ekspresi.
Dia kemudian mengambil beberapa contoh undangan yang ada di meja. Melihat-melihatnya sebentar. Rayi menambahkan contoh undangan yang masih ada di dalam tas lalu memberikannya pada Abi.
“Contoh undangannya ngga ada yang lain? Ngga ada yang menarik, standar semua.”
Rayi memejamkan matanya. Ternyata perkiraannya salah, Abi tetaplah menyebalkan. Selalu saja komen nyinyir dari mulutnya persis seperti jempol netizen yang hobi nyinyirin artis yang mereka benci. Rayi mengambil ponselnya, dia membuka salah satu aplikasi yang menyediakan contoh-contoh undangan.
“Silahkan mas dilihat di sini, siapa tahu ada yang cocok.”
“Eh siapa suruh kamu panggil saya mas. Panggilan itu cuma buat calon istri saya.”
“Eh oh.. maaf ba..ng.”
“Kamu pikir saya tukang bakso dipanggil abang.”
“Ya apa dong, kang atau aa?”
“Saya bukan aa Gym, bukan juga kang Mus.”
Ya salam nih orang kenapa sih. Bener-bener beruang kutub rese, nyebelin. Uuugghh pengen gue cekek rasanya.
Nina mencubit pinggang Abi. Calon suaminya ini kembali menunjukkan kelakuan menyebalkannya. Rayi menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
“Kenapa kamu? Kutuan apa ketombean? Garuk-garuk mulu kaya curious George.”
Rayi menghentikan garukannya. Otaknya berpikir seperti pernah mendengar nama itu. Matanya membulat ketika ingat kalau curious George adalah film kartun anak-anak yang menceritakan tentang monyet pintar. George adalah nama monyet itu.
Astaga nih orang bener-bener, gue yang cantik jelita cetar membahana disamain sama onye. Sabar Rayi.. sabar.. kalau sabar disayang sama Gean.
“Ehem.. boleh saya panggil kakak?”
“Emangnya..”
“Boleh Ray.. boleh ayo lanjut.”
Nina langsung menyela ucapan Abi sambil melotot ke arah pria itu. Abi pun menutup mulutnya. Dia menyambar gelas minuman milik Nina lalu meneguknya sampai habis. Nina mengambil ponsel Rayi kemudian melihat contoh-contoh undangan yang ada di sana.
“Yang ini aja mas, kayanya bagus deh.”
“Terserah.”
“Aku pilih yang ini aja ya Ray.”
Rayi segera mendownload contoh kartu undangan tersebut. Nina juga sudah memilih dekorasi yang diinginkan. Soal gaun pengantin, dia akan berdiskusi lebih dulu dengan calon mama mertua yang lebih paham soal mode.
“Kakak mau ada foto pre wed juga kan?”
“Ya iyalah, kita belum nikah. Saya mau foto yang temanya alam bebas,” sambar Abi.
“Oh boleh kak. Kalau foto sedang arung jeram atau rafting gimana?”
“Saya mau foto di alam bebas, alam terbuka yang menampilkan keindahan alam bukan mau outbond.”
“Oh begitu ya. Kira-kira mau yang seperti apa kak?”
“Malah nanya, mikir! Kamu yang harus menyodorkan berbagai konsep pre wed di alam terbuka terus ajukan ke saya, biar saya bisa milih dan memutuskan. Kalau kamu tanya sama saya buat apa saya pakai jasa WO.”
Habis sudah kesabaran Rayi. Sedari tadi dia selalu disudutkan, disalahkan bahkan diledek seperti George. Tangan Rayi mengepal di atas meja, dengan sorot mata tajam dia melihat ke arah Abi.
“Kak Abi!” nada suaranya cukup tinggi.
“Apa??!!”
“Bisa kasih saya waktu buat memikirkan konsepnya? Kayanya saya harus semedi atau tapa dulu biar dapet ilham,” suara Rayi mendadak melunak. Ciut juga nyalinya melihat aura Abi yang menyeramkan.
“Hmm.. sekalian sana tapanya di gunung Kawi.”
“Saya mau cari ilham kak, bukan mau pesugihan,” gerutu Rayi.
Nina tersenyum geli melihat perdebatan Abi dan Rayi. Capek mengingatkan Abi, akhirnya gadis itu membiarkan saja. Mudah-mudahan saja Rayi menjadi kebal menghadapi Abi lengkap dengan sikap jutek dan menyebalkannya.
“Ok kalau gitu sekarang cukup ya kak. Kalau saya sudah dapat konsep pre wed yang bagus, nanti saya hubungi.”
“Iya Ray, sekarang kamu fokus aja sama pernikahan kak Juna dan kak Nadia.”
“Iya kak. Kalau gitu saya permisi.”
“Kamu pulang naik apa?”
“Saya dijemput Gean kak.”
Abi langsung mengarahkan pandangannya pada Rayi ketika gadis itu menyebut nama Gean.
“Siapa Gean?”
__ADS_1
“Pacar saya kak.”
“Oh udah punya pacar. Ck... kecil-kecil udah pacaran.”
“Maaf ya kak, umur saya udah 23 tahun jadi saya bukan anak kecil lagi.”
“Ngga nanya!”
“Saya pengumuman kok.”
“Ngga butuh pengemuman ngga penting.”
Rayi berdecak kesal. Lama-lama berhadapan dengan Abi, bisa terkena stroke dirinya. Dia meraih tasnya lalu berdiri dari duduknya.
“Saya duluan ya, mari kak Nina.”
“Iya Ray, hati-hati.”
Rayi segera pergi dari hadapan pasangan tersebut. Dia sengaja tak berpamitan pada Abi karena masih kesal bin gondok pada pria menyebalkan itu.
“Dasar ngga sopan, cuma pamit sama kamu aja. Dianggapnya aku makhluk tak kasat mata apa.”
“Lagian mas nyebelin gitu. Mas mau makan ngga?”
“Ngga.. ayo pergi.”
Nina mengambil tasnya lalu berdiri. Abi langsung menggandeng tangan Nina. Keduanya berjalan keluar dari cafe. Di depan cafe terlihat Rayi yang masih menunggu jemputan. Nina mengajak Abi menghampiri gadis itu.
“Belum dijemput Gean? Mau bareng kita ngga?”
“Ngga kak, makasih. Sebentar lagi Gean sampe kok.”
Tak berselang lama, sebuah Yamaha Vixion berhenti tepat di depan Rayi. Gadis itu berpamitan pada Nina dan Abi kemudian menghampiri Gean. Pemuda itu memberikan helm pada Rayi dan membantu memasangkannya. Nina memperhatikan gerak-gerik pasangan itu. Sedang Abi memandang tak berkedip ke arah Gean. Matanya seperti berusaha menembus kaca helm yang gelap untuk melihat wajah Gean. Setelah Rayi naik di belakangnya, Gean langsung memacu kendaraannya. Sebelumnya dia menganggukkan kepala ke arah Nina dan Abi.
“Ayo,” suara Abi membuyarkan lamunan Nina.
“Kita kemana sekarang mas?”
“Ke makam Anfa.”
Nina tersenyum senang. Dengan semangat dia berjalan menuju mobil yang terparkir tak jauh dari pintu masuk. Abi memacu kendaraannya menuju TPU yang letaknya cukup jauh dari cafe tadi.
☘️☘️☘️
Nina duduk memandangi nisan yang bertuliskan nama adiknya. Sekarang dia bisa melihat lebih jelas keterangan yang tertera di nisan. Anfa meninggal sepuluh tahun yang lalu. Namun keningnya berkerut melihat tanggal lahir sang adik. Tanggal dan bulan yang tertera bukanlah tanggal lahir sang adik.
“Kenapa tanggal lahirnya beda? Anfa lahir tanggal 19 Oktober, tapi ini 7 September. Cuma tahunnya aja yang sama.”
“Mungkin tanggal yang dituliskan adalah tanggal lahir Gean.”
“Gean? Siapa Gean?”
Abi mulai menceritakan informasi yang didapatnya tentang Anfa yang kemarin disampaikan oleh Cakra. Dia juga mengungkapkan informasi janggal yang diperoleh kalau anak yang meninggal adalah Gean, bukan Anfa.
“Jadi ada kemungkinan yang meninggal itu Gean, bukan Anfa.”
“Tapi buat apa orang tua Gean memalsukan kematian anaknya. Kayanya ngga ada gunanya mas.”
“Mungkin saja mereka belum bisa menerima kematian Gean karena Gean anak mereka satu-satunya. Jadi mereka menggantikan sosok Gean dengan Anfa. Kalau kamu mengijinkan, aku akan membongkar makam Anfa dan mencocokkan DNA-nya denganmu.”
“Ngga usah mas. Kalau pun aku mengijinkan, belum tentu orang tua angkatnya mengijinkan. Aku ngga mau mas terkena masalah karena ini. Secara hukum mereka adalah orang tua Anfa, mereka berhak menolak kan mas.”
“Aku akan berusaha membujuk mereka.”
“Ngga usah mas. Kemungkinan besar ini memang Anfa. Terima kasih sudah menemukannya untukku. In Syaa Allah aku sudah mengikhlaskannya.”
“Kamu yakin?”
“Iya mas.”
“Hmm.. baiklah kalau itu keinginanmu. Anfa.. beristirahatlah dengan tenang, aku berjanji akan membahagiakan kakakmu dan menjaganya dengan nyawaku.”
Abi merangkul bahu Nina. Mata Gadis itu berkaca-kaca, terharu dengan kalimat yang diucapkan Abi barusan. Dia merebahkan kepalanya di bahu Abi.
“Anfa.. kakak lega sudah menemukanmu walau terlambat. Kakak yakin kamu bahagia di sana, sampaikan salam serta maaf kakak untuk mama dan papa karena tidak bisa sering menengoknya. Sampaikan juga pada mereka kalau kakak sudah mendapatkan seorang laki-laki yang baik serta keluarga yang sangat menyayangi kakak. Beristirahatlah dengan tenang, kakak akan selalu mendoakanmu juga mama dan papa.”
Abi menghapus airmata Nina yang kembali mengalir. Rasa haru sekaligus bahagia meliputi hatinya. Dibalik sikap dingin dan ketusnya, Abi kerap bersikap hangat dan manis untuk menunjukkan rasa cintanya. Rasa sakit yang diberikan Danial dan Fares padanya terbayar dengan kehadiran Abi di hidupnya.
“Kita pulang sekarang.”
Suara Abi membuyarkan lamunan Nina. Gadis itu mengangguk lalu berdiri dengan dibantu oleh Abi. Keduanya berjalan meninggalkan area pemakaman. Nina memeluk pinggang Abi. Berada dekat dengan calon suaminya ini membuat dirinya tenang dan merasa terlindungi.
☘️☘️☘️
Rayiiii sungguh kasihan dirimu😂
Jadi sebenarnya yang meninggal itu Gean apa Anfa ya🤔
__ADS_1
Coba nanti kita tanya kuncen kuburannya, siapa tahu bisa manggil oray koneng buat ditanyain🤣