
Ballroom hotel Arimbi telah didekor untuk resepsi pernikahan Nadia dan Juna. Sedari tadi Rayi sibuk mengecek, apakah semua berjalan lancar atau masih ada yang tertinggal. Sebentar lagi pengantin berikut para keluarga akan memasuki ballroom sebelum pintu dibuka untuk para tamu undangan.
Nadia dan Juna keluar dari kamar. Nadia mengenakan kebaya modern berwarna biru muda, sedang Juna mengenakan beskep dengan warna senada. Keduanya akan menuju ballroom untuk menyambut tamu undangan. Wira yang juga telah selesai berdandan menghampiri anaknya. Di belakangnya menyusul, Yani, adik dari Wira. Dia yang akan menemani sang kakak mendampingi Nadia di pelaminan.
“Nadia.. maafkan bapak. Sebagai ayah, bapak tidak bisa memberikanmu yang terbaik. Sungguh bapak malu, di hari bahagia dalam hidupmu bapak tidak melakukan apapun.”
“Bapak ngomong apa sih. Bapak sudah merawat, membesarkan dan mendidik aku, itu adalah hal luar biasa. Aku berterima kasih pada bapak. Maafkan kalau aku belum bisa membalas semua yang bapak lakukan untukku.”
Mata Wira berkaca-kaca mendengar penuturan putrinya. Satu-satunya harta berharga yang ditinggalkan mendiang istrinya hidup menderita karena ulah Ratih, istri keduanya. Kalau bukan amanah sang istri yang ingin dirinya menikahi sahabat terbaiknya, mungkin Wira tidak akan menikahi Ratih.
“Setelah pernikahan, bapak akan pindah ke desa tempat ibu Ratih menjalani perawatannya. Rumah di sini akan dikontrakan. Apa kamu keberatan nak? Kalau kamu tidak setuju katakan saja. Bahkan jika kamu ingin bapak berpisah dari ibu Ratih, katakan saja. Bapak akan mengabulkannya.”
“Jangan pak, aku ikhlas kalau bapak mau pindah ke desa. Aku tahu kalau ibu menyayangi bapak. Selama ini ibu sudah mengurus bapak dengan baik. Buatku ngga masalah ibu tidak menyukaiku. Yang penting ibu mengurus dan menjaga bapak dengan baik. Aku dan mas Juna akan sering berkunjung ke desa nanti.”
“Iya pak, jangan cemaskan Nadia. Dia sekarang istriku, tanggung jawabku. Aku akan menjaganya dengan baik. Bapak fokus saja pada kesembuhan ibu.”
“Terima kasih nak Juna. Sungguh bapak bersyukur memiliki menantu sepertimu. Bapak titip Nadia padamu.”
“Ayo pak, acara mau dimulai.”
Nadia memeluk lengan Wira, lalu bersama Juna dan Yani berjalan memasuki ballroom. Di sana Rahma dan Teddy sudah menunggu. Abi, Nina, Sekar, Cakra bahkan Kevin sudah lebih dulu tiba di ballroom.
Suasana ballroom kini sudah ramai dengan tamu undangan. Sebagian tamu adalah karyawan, rekan bisnis dan teman kuliah Nadia juga Juna. Para karyawan tidak terkejut dengan berita pernikahan atasannya. Kedekatan Juna dan Nadia memang sudah lama terdengar.
Di antara para undangan, turut hadir pula orang tua Dika. Dengan tulus mereka mendoakan kebahagiaan Nadia dan Juna. Sekali lagi mereka mengucapkan maaf atas kesalahan anak mereka. Wira berlapang dada menerima permintaan maaf sahabatnya itu. Demikian juga dengan Juna dan Nadia.
Acara resepsi bertambah semarak ketika artis-artis ibu kota yang didapuk sebagai pengisi acara mulai menyanyikan lagu-lagu bertemakan cinta. Sambil menikmati hidangan, para tamu dihibur oleh suara merdu mereka.
Di salah satu meja, Sekar bersama ketiga temannya tengah asik mengobrol sambil menikmati hidangan. Rindu sudah persis seperti setrikaan, bolak balik ke stall mengambil makanan. Beberapa kali dia berpapasan dengan Kevin dan tentu saja mendapat ledekan dari pria itu. Tapi Rindu tak mempedulikannya, yang penting perutnya bisa terisi penuh. Sesudah mengantri pasta, Rindu kembali ke mejanya. Tanpa disangka Kevin ikut duduk bersama mereka.
“Set Rin, lo kelaperan apa doyan? Tuh perut kaga meledak dari tadi diisi terus,” goda Gurit.
“Sirik aja lo. Se.. nanti gue boleh bungkus makanan buat dibawa pulang kan?”
Kevin terbatuk mendengar permintaan Rindu. Gadis itu benar-benar sudah putus urat malunya. Tak puas mencicipi semua hidangan yang ada, dia juga minta dibungkus untuk dibawa pulang.
“Boleh.. tar gue bilang ke petugas kateringnya. Lo juga mau Rit, Dix?” tawar Sekar.
“Wei.. rejeki jangan ditolak. Perbaikan gizi buat anak kost. Yang banyakan ya Se, biar bisa disimpen di kulkas. Lumayan ngirit uang makan berapa hari,” jawab Gurit senang.
“Eh Rin.. lo kenapa sih dah dua hari ini tuh muka ditekuk mulu. Kaga dikirimin duit ama abah?” tanya Radix.
“Bete gue.”
“Bete kenapa?”
“Abah mau ngejodohin gue.”
__ADS_1
“Wah yang bener? Sama siapa?”
Sekar, Gurit dan Radix menghentikan makannya lalu memandang serius ke arah sahabatnya. Kevin bersikap cuek saja seakan tak peduli, padahal telinganya terbuka lebar mendengar percakapan mereka.
“Jadi gini... abah kan pinjem uang buat modal sawah sama kebon sama pak haji Badar. Nah kemarin kan gagal panen, jadi abah ngga bisa ngembaliin uangnya. Sebenernya pak Haji juga ngga nagih harus dibayar cepet, cuma dasar abah gue aja yang ngga enakan. Nah dia punya ide bayar utangnya dengan menawarkan gue nikah sama anak bungsu pak Haji, kang Rafli namanya.”
“Wah udah kaya cerita di novel online aja. Dijodohin atau dinikahi paksa, dari benci jadi bucin ujung-ujungnya,” seru Sekar.
“BTW kang Rafli gimana penampakannya?”
“Ganteng, pinter juga. Dia kan lulusan universitas Al-Azhar di Kairo sana.”
“Wuih mantul.. terus gimana? Lo ngga nolak kan?”
“Siapa sih yang bisa nolak laki-laki high quality model kang Rafli. Cuma masalahnya, begitu abah cetusin ide itu, kang Rafli mentah-mentah nolak. Dia bilang udah punya calon sendiri. Busyet mau taro di mana muka gue. Biasanya kan yang dihutangin yang minta anak gadis yang ngutang sebagai ganti bayar utang. Lah ini abah gue yang nyodorin, ditolak juga.”
“Hahahaha...”
Tawa Kevin membahana, membuat keempat orang yang semeja dengannya mengalihkan pandangannya pada pria dingin itu.
“Berarti Rafli itu orang pinter, dia ngga mau rugi dua kali.”
“Maksudnya?” Radix yang rada lemot langsung bertanya.
“Mereka udah rugi karena abahnya si kangen ngga bisa bayar utang. Nah sebagai gantinya abah nawarin kangen buat dinikahin sama anaknya, yang makannya banyak. Jelas mereka nolak lah, uang yang mereka keluarkan ngga sebanding dengan keuntungan yang mereka dapet hahahaha..”
Sekar dan Gurit sontak terbahak mendengarnya. Berbeda dengan Radix yang membutuhkan waktu beberapa saat untuk berpikir baru kemudian ikut tertawa. Rindu memandang kesal ke arah Kevin.
“BTW emang abah lo utang berapa sih Rin?” tanya Gurit.
“Lima puluh juta.”
“Busyet lo dihargain lima puluh juta doang ama abah lo, udah gitu ditolak juga hahaha..”
“Kampreto...”
“Ah elo Rin, kalau duit segitu gue juga punya keles. Udah gue pinjemin deh buat abah lo lunasin utangnya,” tawar Sekar.
“Bener Rin.. secara temen kita ini kan sultini. Bokap nyokapnya tajir melintir, kakak-kakaknya juga tajir, udah pinjem aja sama dia. Duit segitu mah cetek, tul ngga Se?”
“Elo kalau soal duit aja cepet nyambernya Dix.”
“Utangnya emang 50 juta tapi abah butuh modal lagi buat garap sawah sama kebon. Jadi total 100 juta-an.”
“Gampang, tar gue transfer ke rekening abah lo.”
“Bener Se? Ya ampun.. lo emang sohib gue paling baik dan perhatian.”
__ADS_1
Rindu memeluk Sekar dengan erat. Gurit dan Radix yang ingin ikut berpelukan langsung dihadiahi kepalan tangan oleh kedua gadis itu. Alhasil mereka kembali ke kursinya masing-masing.
“BTW kalian udah lihat video kita yang baru? Wuih viewers-nya langsung ribuan, cetar ngga tuh. Ngga sia-sia kita hunting ke kuburan malem-malem.”
“Mau aja tuh mereka dibohongin ama kalian,” celetuk Sekar.
“Nipu apaan? Kita emang ke kuburan dan emang lihat kunti di sana.”
“Itu kunti KW dodol.”
“Sok teu lo! Asli itu.. lagian mana ada cewek malem-malem ke kuburan udah gitu pas hujan lagi.”
“Ada. Itu buktinya cewek yang lo sangka kunti. Dia manusia asli. Itu kak Nina.”
“Ngga usah nge-prank kita deh.”
“Lo waktu di kuburan ketemu kak Abi ngga?”
“Iya ketemu. Kenapa?”
“Nah itu kak Abi lagi jemput kak Nina di sana.”
“Serius? Jadi cewek yang kita sangka kunti itu kak Nina?”
Sekar mengangguk dengan pasti. Radix dan Gurit saling berpandangan lalu menepuk kening mereka bersamaan. Sia-sia mereka melakukan perjalanan ke kuburan, ternyata makhluk astral yang mereka temui adalah kunti jadi-jadian.
“Kalau penonton lo tahu, bisa habis lo dihujat.”
“Ngga bakalan kalau kak Abi sama kak Nina tutup mulut.”
“Tar aku yang kasih tahu mereka,” celetuk Kevin.
“Jangaaaaaannn!!” teriak Gurit dan Radix bersamaan.
“Kami mohon dengan sangat jangan bocorin ke kak Abi juga kak Nina ya pak Kevin yang baik hati,” Gurit menangkupkan kedua tangannya ke hadapan Kevin.
Kevin mengendikkan bahunya. Diseruputnya minuman miliknya sampai habis kemudian dengan santai meninggalkan meja.
“Kira-kira pak Kevin bakal buka mulut ngga ke kak Abi. Ngeri gue kalau kak Abi tahu kita bilang kak Nina kunti di video kita. Rin, lo kan deket sama pak Kevin. Bujuk dia dong biar ngga buka mulut.”
“Ogah.. najis tralala gue harus rayu-rayu dia.”
“Gue sumpahin lo jadian ama dia.”
“Ogaaaaaahhhhh....”
Sekar, Radix dan Gurit terbahak melihat wajah panik Rindu. Mereka sering kali mendengar curhatan Rindu soal Kevin. Atasan kejam yang seenaknya saja mengganti namanya. Tawa keras mereka menarik perhatian tamu yang ada di dekat mereka.
__ADS_1
☘️☘️☘️
Tuh empat sekawan ada² aja ya. Ngga kebayang jadi Rindu, ditolak jadi pembayar utang🤣