
Dua tahun berlalu, kini Kenzie sudah berumur delapan tahun dan tengah menempuh pendidikan di sekolah dasar. Dia bersekolah di tempat yang sama dengan Aric, Barra, Fathan, Ravindra dan Virendra. Kenzie satu kelas dengan Fathan Aric dan Ravin. Sedang Barra satu kelas dengan Fathan dan Viren. Mereka hanya berbeda satu tahun saja.
Kenzie selalu menjadi incaran kaum hawa di kelasnya. Aric dan Ravin pun mempunyai banyak penggemar, namun tak sebanyak Kenzie. Sikap dingin dan jutek Kenzie justru menjadi daya tarik teman sekelasnya untuk mendekat. Berbeda dengan Aric dan Ravin yang konyol.
Hari ini Kenzie tengah berjalan-jalan dengan Abi. Keduanya sedang mencari hadiah untuk Rahma dan Teddy yang akan melangsungkan ulang tahun pernikahan esok hari. Mereka memilih mencari inspirasi dengan berjalan-jalan di mall. Nina sengaja tidak ikut karena tak ingin mengganggu kebersamaan ayah dan anak itu.
“Kasih kado apa ya buat oma sama opa?” tanya Abi pada Kenzie.
“Kenapa tanya Ken. Papa pikir aja sendiri.”
“Gimana kalau hadiahnya kamu nyanyi aja buat opa sama oma?”
“Papa lupa kalau udah ngewirisin suara sember papa ke Ken.”
TOK
Dengan kesal Abi menjitak kepala anaknya ini. Kenzie mengusap puncak kepalanya, namun wajahnya tetap tak menunjukkan ekspresi apapun. Abi menggelengkan kepalanya, kenapa sifat sang anak bisa begitu mirip dirinya. Dan ternyata itu menyebalkan juga.
“Kamu anak siapa sih? Nyebelin banget.”
“Ya anak papa lah. Masa iya anak tetangga, bibitnya juga dari papa,” jawab Kenzie santai.
Abi memutar bola matanya, anaknya ini selalu saja mempunyai jawaban dan tak enak di telinga pula. Tanpa bertanya lagi, dia mengajak anaknya menuju toko yang menjual jam keluaran ternama. Sang penjaga toko langsung menyambut kedatangan mereka dengan ramah.
“Selamat sore. Mau cari jam tangan model apa pak?”
“Saya mau jam tangan couple tapi modelnya klasik saja. Tidak terlalu banyak ornamen.”
“Baik pak. Silahkan ikut saya.”
Penjaga toko tersebut segera mengajak Abi juga Kenzie menuju etalase yang memajang jam tangan keluaran terbaru. Dia mengeluarkan beberapa jam tangan couple dari merk terkenal. Abi melihat-lihat model jam tangan yang diberikan padanya.
“Menurut kamu yang mana yang bagus?”
“Serius nanya sama Ken? Mana Ken tahu selera orang tua.”
“Astaga nih anak,” Abi menepuk keningnya.
“Kalau menurut saya yang ini bagus pak. Desainnya simple, angkanya juga tidak terlalu kecil dan tidak banyak ornamennya. Ada dua pilihan warna, gold dan silver yang dipadu dengan warna hitam.”
“Hmm.. kayanya ini bagus. Saya ambil yang ini.”
Pelayan toko itu mengangguk lalu segera menyiapkan barang yang dimaksud. Abi juga memberikan black cardnya agar transaksi segera diproses. Dia beranjak sedikit menjauh ketika ponselnya berdering. Sedang Kenzie tetap berdiri di tempatnya seraya memandangi deretan jam tangan di depannya.
“Adek mau beli jam tangan juga?” tanya pelayan yang lain.
“Mungkin.”
“Mau model yang seperti apa? Biasanya anak seusia kamu senangnya yang model seperti ini.”
Pelayan tersebut mengeluarkan jam tangan untuk anak laki-laki yang betuknya sedikit tebal dan dilengkapi dengan penunjuk digital.
“Norak.”
Pelayan tersebut tersenyum lalu mengambilkan jam tangan lain dari etalase. Dia menerangkan kelebihan dari jam tersebut, termasuk material apa saja yang digunakan untuk pembuatannya. Kenzie mendengarkan tanpa minat, tangannya bersidekap sedang matanya menatap wanita yang terus saja mengoceh di depannya.
“Jadi mau yang mana dek?”
“Ngga ada.”
“Kenapa?”
“Kan saya tadi cuma bilang mungkin bukan iya. Jadi mungkin beli, mungkin ngga.”
Setelah mengatakan itu, dengan santainya dia berlalu pergi meninggalkan sang pelayan yang gondok melihat sikapnya. Abi kembali menghampiri kemudian mengambil jam tangan serta kartu dari pelayan yang tadi melayaninya lalu pergi meninggalkan toko menyusul Kenzie yang telah lebih dulu keluar.
“Pa.. Ken haus.”
“Ayo kita beli minum. Kalau di cafe depan aja gimana?”
“Ok.”
Sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana, Kenzie mengikuti langkah Abi. Mereka masuk ke dalam cafe dan memilih meja yang ada di bagian luar. Baru saja Abi memesan minuman, seorang pria yang merupakan rekan bisnisnya menghampiri.
“Ken.. kamu tunggu sini ya. Papa mau ke meja sebelah sana sebentar,” Abi menunjuk meja yang hanya berjarak tiga meja dari tempatnya dan Kenzie hanya mengangguk saja.
Kenzie mengeluarkan ponselnya kemudian mulai memainkan game favoritnya sambil menunggu pesanannya datang. Tiba-tiba saja datang anak perempuan seumuran dirinya kemudian duduk di hadapannya. Dia adalah teman sekelas Kenzie.
“Hai Ken.”
Kenzie mengangkat kepalanya, melihat sejenak ke arah anak perempuan itu lalu kembali menundukkan pandangannya. Dia masih berkonsentrasi memainkan gamenya. Anak perempuan yang bernama Chika itu sedikit kesal karena teman sekelasnya itu mengabaikannya.
“Lagi ngapain di sini?” kembali suara Chika terdengar.
“Jualan sayur.”
“Ish kamu tuh. Masa jualan sayur di sini. Lagi nunggu minuman ya?”
“Udah tau nanya.”
“Ken.. kalau ngomong lihat aku dong.”
“Penting gitu?” Kenzie terus saja menatap ke arah ponselnya.
Kesal terus menerus diabaikan, anak itu mengambil ponsel dari tangan Kenzie kemudian menyembunyikannya di balik punggungnya. Kenzie karuan saja kesal dengan perbuatan Chika. Dia menatap gadis kecil itu dengan tajam.
“Balikin!”
__ADS_1
“Ngga.. aku bakal balikin ini kalau kamu mau ngobrol sama aku.”
“Kamu balikin atau aku patahin tangan kamu!”
Melihat tatapan tajam nan menusuk juga wajah dingin Kenzie, nyali Chika ciut juga. Dia memberikan kembali ponsel pada pemiliknya. Dengan kasar Kenzie mengambil ponsel dari tangan Chika lalu melanjutkan permainannya lagi. Tak lama kemudian, seorang pelayan mengantarkan minumannya. Saat pelayan tersebut akan pergi, Kenzie memanggilnya.
“Mba..”
“Iya dek.”
“Bisa bawa pergi anak ini ngga?” Kenzie menunjuk pada Chika.
“Bukannya temannya ya?”
“Bukan.”
“Kenzieeee....”
“Kalau mba ngga bawa pergi dia, saya ngga mau bayar minumannya.”
Mau tak mau pelayan itu membujuk Chika untuk meninggalkan meja Kenzie. Dengan perasaan dongkol, anak itu kembali ke mejanya semula. Dia duduk sambil bersedekap dan memanyunkan bibirnya. Papanya yang sedang berbicara dengan Abi menoleh ke arahnya.
“Kenapa?”
“Temenku nyebelin.”
“Ya udah kamu di sini aja sama papa.”
“Kalau begitu saya permisi pak Damar. Pembicaraannya kita lanjutkan besok saja di kantor.”
“Oh iya pak Abi. Maaf sudah mengganggu waktu luangnya.”
Abi bergegas kembali ke mejanya. Di sana Kenzie masih anteng bermain game sambil menyeruput minumannya. Abi mendudukkan diri di samping anaknya. Tangannya langsung menyambar gelas di depannya.
“Hmm.. kalah kan,” seru Abi saat melihat permainan anaknya berakhir.
“Kaya papa bisa aja mainnya.”
“Ck.. papa tuh jagonya main game online.”
“Masa?”
“Ayo kita mabar. Tapi jangan di sini, di rumah aja. Kalau kita pulang telat pasti mama ngomel.”
“Oh iya.”
Kenzie buru-buru menghabiskan minumannya. Nina hanya memberi mereka waktu dua jam untuk mencari hadiah. Lewat dari itu bisa dipastikan kuliah 6 SKS wanita itu akan keluar. Jika sudah seperti itu, sang papa pun tidak akan berdaya melawannya. Setelah menghabiskan minuman dan membayarnya, mereka segera keluar dari mall.
☘️☘️☘️
Suasana kediaman Teddy sudah ramai dikunjungi para tamu undangan. Mereka memilih mengadakan pesta di rumah saja dengan konsep pesta kebun alih-alih mengadakannya di hotel. Tak banyak juga tamu yang diundangnya. Hanya teman-teman terdekatnya, saudara juga besannya. Lita dan Sahrul juga datang bersama anak mereka.
Keysha yang baru saja bebas dari kurungan penjara setahun yang lalu juga ikut datang. Setia sengaja menyuruh anaknya datang dan bersikap baik di hadapan semua keluarga Hikmat, siapa tahu karier model anaknya itu akan kembali bersinar jika mendapat dukungan dari keluarga Hikmat.
Wanita itu sebenarnya masih memendam perasaan pada Abi walaupun pria itu telah menikah dan mempunyai tiga orang anak. Bahkan Abi juga yang telah menjebloskannya ke penjara. Namun rasa cintanya sudah terlalu mendalam untuk pria itu. Di hatinya tak ada lelaki yang pantas mendampinginya selain Abi.
Nina berjalan menuju dapur dengan Kenan berada dalam gendongannya. Anak bungsunya itu menangis ingin minum susu, maklum saja Nina baru menyapihnya seminggu yang lalu jadi Kenan masih sering rewel. Keysha yang melihat Nina menuju dapur segera menghampiri. Dia menarik kursi lalu mendudukkan diri di sana. Nina sendiri tak terpengaruh dengan kehadiran Keysha. Dia mendudukkan Kenan di meja lalu mulai membuatkan susu.
“Gimana kabarmu?” tanya Keysha.
“Baik, seperti yang kamu lihat,” jawab Nina tanpa melihat ke arah Keysha, membuat wanita itu berdecih.
“Senang ya jadi nyonya Abimanyu.”
“Tentu saja. Suamiku itu sangat mencintaiku, dia rela melakukan apapun untukku.”
Keysha bertambah geram mendengar jawaban Nina. Namun mencoba tetap bersikap biasa. Nina tersenyum tipis, dirinya memang sengaja ingin membuat hati wanita itu panas. Sebagai seorang wanita, dia tahu kalau Keysha masih memendam perasaan pada suaminya. Tentu saja Nina tidak akan memberikan celah pada calon pelakor mengusik rumah tangganya.
“Cih.. kalau bukan kamu yang menggodanya, kak Abi tidak akan pernah menjadi milikmu.”
“Oh ya? Lalu dia akan menjadi milik siapa? Milikmu?”
Nina tertawa pelan namun nadanya terkesan mengejek. Kali ini dia menatap ke arah Keysha yang masih bertahan di tempatnya. Sambil mengocok-ngocok botol susu anaknya, wanita itu kembali berkata.
“Tanpa aku menggodanya pun, mas Abi sudah jatuh hati padaku. Berbeda denganmu, walau kamu melemparkan tubuhmu padanya, dia tidak akan pernah tertarik padamu. Baginya kamu ngga lebih seperti lalat pengganggu.”
BRAK
Keysha menggebrak meja dengan tangannya. Kesabarannya habis sudah. Nina terus saja menghina dirinya. Dia bangun dari duduknya lalu menghampiri Nina. Bertepatan dengan itu, Kenzie masuk ke dapur.
“Ma.. dicariin papa tuh. Lebay deh, ngilang bentar aja langsung dicariin.”
Nina tersenyum mendengar ucapan anaknya. Sambil menggendong Kenan, dia keluar dari dapur. Kenzie berjalan menuju lemari es kemudian mengambil minuman kaleng bersoda dari dalamnya. Dikocok-kocoknya sebentar kaleng tersebut, lalu dia melangkah mendekat pada Keysha kemudian membuka kaleng soda tersebut. Otomatis soda di dalam kaleng langsung menyembur keluar dan mengenai pakaian Keysha.
“Aduuhh!!”
Pekik Keysha seraya mengibas-ngibaskan air soda yang menempel di bajunya. Dengan kesal dia menatap ke arah Kenzie. Sang pelaku malah meminum sodanya dengan santai, tanpa merasa bersalah sedikit pun.
“Kamuuu....”
“Wah bajunya basah ya tan. Mending pulang gih, ganti baju nanti masuk angin. Kan ngga lucu kalau punggungnya ada tato bekas kerokan.”
Ucap Kenzie santai tanpa mempedulikan pelototan Keysha. Hati anak itu kesal mendengar perbincangan Nina dengan Keysha, itulah mengapa dia melakukan semua tadi untuk membalas ucapan Keysha pada mamanya. Kenzie menghabiskan minuman di tangannya kemudian membuang kaleng soda ke tempat sampah.
“Pulang tan, sebelum aku aduin semua yang tante bilang sama mama tadi ke papa. Kalau papa yang usir paksa tante kan tambah malu. Mana masih banyak tamu.”
Setelah melemparkan kata-kata yang membuat telinga Keysha merah, anak itu berlalu pergi. Dengan kesal Keysha mencuci tangannya yang terasa lengket akibat minuman tadi.
__ADS_1
“Ngga ibunya, ngga anaknya, ngeselin semua,” gerutu Keysha pelan.
Wanita itu kemudian keluar dari dapur. Dia mencari kedua orang tuanya untuk berpamitan pulang. Dia juga berpamitan pada Teddy dan Rahma. Kenzie terus mengawasi pergerakan Keysha dengan kedua matanya. Senyum tipisnya tersungging ketika melihat wanita itu meninggalkan kediaman kakeknya.
☘️☘️☘️
Waktu beranjak malam, namun keramaian di kediaman Teddy belum juga usai. Setelah teman dan koleganya yang berdatangan. Kini giliran tetangga dekatnya yang datang memberikan ucapan selamat.
Anak-anak dan para sahabatnya masih bertahan juga di sana. Mereka berkumpul di beberapa tempat dan asik berbincang. Seperti biasa, lima sekawan juga tengah berkumpul, kali ini anggota mereka bertambah satu, Agung. Sekarang Agung mulai berani berkumpul bersama kelima orang tersebut, walau tidak terlalu sering.
“Bi.. kata Aric si Kenzie punya banyak fans di sekolah,” ucap Cakra.
“So pasti, ngikutin jejak bapaknya.”
“Ngikut jutek plus mulut bon cabe maksudnya,” seru Jojo sambil terkekeh.
“Kalau Fathan gimana Gung?” tanya Juna.
“Alhamdulillah sekarang saya atau Ruby ngga sering dipanggil ke sekolah lagi. Udah agak anteng dia.”
“Eh si Barra tuh kadang-kadang ngomongnya suka ngeselin juga loh,” celetuk Jojo.
“Ketularan si Kenzie kali,” ujar Kevin.
“Bukan. Kayanya pas hamil Barra si Jojo sebel banget sama Abi. kan gara-gara Abi, dia kalah taruhan sampe nyanyi di lampu merah,” ujar Juna.
Tawa mereka kembali pecah mengingat kejadian fenomenal beberapa tahun lalu saat Adinda tengah mengandung Barra. Jojo hanya mendengus kesal, kalau bisa momen itu dihapus saja dari hidupnya.
“Eh jangan lupa, partner duetnya,” Cakra merangkul Agung.
“Waduh tolong jangan diingatkan lagi. Itu adalah momen paling memalukan dalam hidup saya.”
“Kira-kira kalau si Barra lihat video bapaknya kaya gimana ya reaksinya,” celetuk Abi.
“Jangan macem-macem lo, Bi. Inget ya, gue juga masih punya foto lo lagi pake daster. Lo juga Vin, video lo lagi nari love shot juga masih gue simpen,” ancam Jojo.
“Baik-baik lo semua sama gue, kalau aib lo pada ngga mau gue sebar,” seru Cakra.
“Wah, jangan cari mati, lo. Gue juga punya video lo lagi dandan dan bergaya ala mimi peri pas Sekar hamil Anya,” balas Abi.
Jojo dan Kevin tertawa puas, mereka juga telah melihat video tersebut karena diam-diam Sekar merekamnya saat meminta sang suami berdandan ala mimi peri lalu bergaya ala makhluk jadi-jadian tersebut.
“Cuma gue yang aman,” ujar Juna.
“Kata siapa? Gue punya video lo lagi masak di dapur, pake celemek pink, bando helo kity sambil nyanyi goyang dombret huahahaha,” Kevin tertawa puas sekali.
Juna tak ayal ikut tertawa mengingat bagaimana Nadia dulu mengerjainya saat tengah hamil Alisha. Agung pun tak kuasa menahan tawanya membayangkan kelima pria tersebut melakukan permintaan aneh istrinya masing-masing saat mengidam. Dia bersyukur ternyata bukan hanya dirinya yang menderita dan menanggung aib akibat permintaan konyol sang istri.
Hari semakin larut, satu per satu tamu sudah undur diri. Sang empu acara pun sudah masuk ke kamar untuk beristirahat. Juna, Abi dan Sekar juga berpamitan pulang. Hanya Anfa dan Rayi saja yang tak kemana-mana, karena mereka memang tinggal bersama Rahma dan Teddy.
Setelah kepulangan tamu dan juga anak-anaknya, kediaman Teddy langsung sepi. Hanya menyisakan bekas pesta yang masih belum dibereskan. Bi Sari dibantu pegawai yang lain mulai membersihkan seisi rumah. Hari ini memang hari yang melelahkan bagi mereka, namun begitu mereka ikut merasa berbahagia atas hari bahagia majikannya. Teddy dan Rahma memang kerap berlaku baik pada semua pegawainya, dan itu membuat semua yang bekerja dengannya merasa senang dan betah.
☘️☘️☘️
**Haii readers, maaf nih, mak curcol dikit ya. Buat readers yg udah ngga mau lanjutin cerita ini silahkan tinggalkan saja tapi mohon tidak berkomentar yg tidak enak. Othor juga manusia yang bisa baper apalagi sekarang bulan puasa, cobaan buat sabar itu lebih berat. Komentar jelek juga bisa menurunkan level novel. Perlu diingat, menulis novel tidak semudah menulis komentar🙏
Makasih buat yang masih setia baca sampai sekarang dan terus memberikan komentar positif🙏
Buat yang puyeng ngapalin nama anak²nya, sama mamake juga🤣 Tapi ngga usah dihafalin semua, cukup hafalin aja anak²nya Abi karena cerita hanya berpusat pada mereka bertiga ya. Episode anak² juga ngga akan panjang, takut ada yg komen lagi, muter² kaya sekuter, bikin keder dan bosen ujung²nya bikin mamake baper😎
Ini mamake kasih daftar nama anak²nya.
Abi : Kenzie, Freya, Kenan
Juna : Ezra, Azra, Alisha
Cakra : Aric, Lavanya
Kevin : Ravin, Viren
Jojo : Barra, Nayara, Naraya, Dilara
Anfa : Hanna, Haikal
Radix : Irvin, Revan, Olivia, Katrina
Gurit : Akmal (anak tiri), Emily, Jihan
Bi Murni : ngga usahlah ya🤣🤣🤣
Dan ini visual keluarga cemara
Papa Abi
Mama Nina
Kenzie**
Freya
__ADS_1
Kenan