KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Season 2 : Yang Muda Yang Bercinta#1


__ADS_3

Semua keluarga Hikmat beserta keluarga Kevin, Jojo dan pastinya Radix berangkat ke Singapura untuk menghadiri pernikahan Akmal. Gurit telah berangkat lebih dulu bersama dengan keluarganya.


Pernikahan Akmal digelar di Marina Bay Sands, sebuah hotel bintang lima sekaligus tempat paling ikonik yang ada di negara berlambang singa ini.



Perjalanan hidup memang tak bisa ditebak. Gurit yang berasal dari keluarga sederhana, kehidupannya mulai merangkak naik dan kini salah satu anaknya akan menjadi menantu salah satu orang terkaya di Singapura.


Hubungan Akmal dan Jesslyn, harus mengalami tarik ulur karena Gurit sempat tak merestui hubungan mereka. Perbedaan keyakinan di antara mereka yang menyebabkan restu Gurit tak kunjung keluar. Akhirnya orang tua Jesslyn mengijinkan sang anak mengikuti keyakinan Akmal dan pernikahan mereka dapat terwujud.


Gelaran resepsi pernikahan dilangsungkan secara besar-besaran dan mewah. Maklum saja, sebagai salah satu orang terpandang di sana, keluarga Jesslyn mengundang banyak orang yang terdiri dari rekan bisnis dan juga pejabat pemerintah.


Ijab kabul dilaksanakan pada pagi hari sedang resepsi dilangsungkan malam harinya dengan mengusung konsep internasianal wedding. Nuansa ungu mendominasi dekorasi ballroom tempat digelarnya pesta. Gaun yang dikenakan pasangan pengantin juga berwarna ungu muda, sesuai warna kesukaan mempelai wanita.



Semua sahabat Gurit sudah datang beserta dengan anak-anak mereka. Begitu pula Abi dan yang lainnya. Mereka memboyong anak-anak tanpa terkecuali. Beberapa tamu yang hadir juga merupakan rekan bisnis mereka.


Secara bergantian Radix, Anfa, Sekar dan Rindu memberikan ucapan selamat pada pasangan pengantin, dan tentu saja pada sahabat mereka. Senyum kebahagiaan tak lepas dari wajah Gurit yang sudah tak muda lagi. Beberapa kali mereka juga melakukan sesi foto bersama. Orang tua Jesslyn cukup terkejut juga mengetahui besannya itu berteman baik dengan seluruh keluarga Hikmat.


Sementara itu, Abi dan para sahabatnya tengah duduk bersama di salah satu meja. Mereka memilih mengobrol santai dari pada harus berbaur dengan rekan bisnis yang juga menghadiri pesta pernikahan ini. Momen bersama para sahabat lebih berharga untuk mereka semua.


“Ngga nyangka ya, di antara kita semua, si Gurit duluan yang download mantu,” celetuk Cakra.


“By the way, itu besannya si Gurit sang* ngga kalo denger Syakira ngomong?”


“Hahaha...”


Hanya gelak tawa yang terdengar saat Abi melontarkan pertanyaan konyol tersebut. Pembahasan Syakira memang tak ada habis-habisnya, semenjak mereka muda sampai sekarang. Mereka bingung, karena suara de**han Syakira tidak berlaku saat berbicara dengan anak-anaknya. Tapi jika dengan Gurit dan yang lain, tetap suara mendes*hnya keluar.


“Ngga kebayang gue kalau salah satu dari kita besanan sama Syakira,” celetuk Jojo.


“Bisa jadi. Kayanya si Abi yang bakal jadi besannya dia,” sambung Cakra.


“Noh lihat, si Kenan lagi ama Jihan.”


Abi langsung melayangkan pandangannya ke arah yang ditunjuk oleh Cakra. Nampak di salah satu stall, Kenan tengah berbincang dengan Jihan, anak bungsu Gurit dengan Syakira.


“Syakira kan sampe sekarang masih takut sama elo, Bi. Luar biasa ya, pesona kekejaman elo bukan kaleng-kaleng,” Jojo terkekeh.


“Makanya jangan julid lo sama dia. Bentar lagi jadi besan hahaha,” Kevin tertawa puas.


“Ya kalau emang jodohnya Kenan itu Jihan, gue bisa apa. Paling gue cuma bisa sediain penyumpal kuping buat para tamu biar ngga sang* pas denger suara Syakira.”


“Hahahaha...”


Beberapa orang yang ada di sekitar mereka langsung menolehkan wajahnya pada kelima pria tersebut saking kencangnya tawa mereka. Ada yang menggelengkan kepalanya, ada yang penasaran apa yang mereka bicarakan sampai tertawa begitu keras, ada juga yang bergosip karena kelima orang tersebut adalah orang terkenal di dunia bisnis.


“Vin.. beneran Ravin udah ngelamar Frey?” tanya Juna.


“Iya. Bener kan yang gue bilang, kalau ngga ada anaknya si kunyuk ini, anak gue yang nikah duluan.”


Jojo hanya mengendikkan bahunya santai tanpa merasa berdosa sama sekali. Juna selalu terkekeh melihat dua sahabatnya itu yang seperti Tom and Jerry.


“Tapi untung ya si Ravin ngga kaya bapaknya. Tuh anak normal, dateng ngelamar atas inisiatif sendiri, gentle mengakui perasaannya. Ngga kaya bapaknya,” seru Juna.


“Emang gue kenapa?”


“Kalau bukan dijebak gue yakin lo bakalan jadi perjaka tua hahaha...” celetuk Jojo.


“Mana nikahnya pake drama lagi. Saya terima nikahnya kangen huahaha,” sambung Juna.


“Masih mending gue. Dari pada elo, ngga nyadar apa kalo pernikahan lo fenomenal,” balas Kevin tak mau kalah.


“Oh yang jadi pengantin pengganti ya,” sahut Cakra.


“Bukan. Yang maharnya patungan hahaha.. CEO Blue Sky nikah, maharnya patungan. Untung ngga masuk pemberitaan. Hancur harga saham Blue Sky bisa-bisa hahaha..”


Abi, Jojo dan Cakra hanya geleng-geleng kepala saja melihat Juna dan Kevin saling berbalas pantun. Semakin tua, kedua orang pria itu semakin berkurang saja timbangan otaknya.


“Eh sadar ngga sih, kalau di antara kita, cuma si Kevin yang ngga punya anak cewek,” lagi-lagi Juna menjadikan Kevin topik pembicaraan.


“Bentar lagi gue bakal punya anak perempuan, Frey. Menantu juga anak sendiri.”


“Iya bener-bener,” Jojo menyetujui jawaban Kevin.


“Tumben akur,” ledek Cakra.


“Tapi kalian tahu ngga, kenapa Tuhan ngga ngasih Kevin anak cewek?”


“Kenapa Bi?” tanya Juna penasaran. Dia yakin adiknya ini mempunyai jawaban yang akan membuat sahabatnya gondok bin mangkel.


“Ya Tuhan kasihan aja, kalau nanti pas ijab kabul ‘saya terima nikah dan kawinnya fulan binti Ujang Kevin’ bisa berserakan harga diri anaknya huahaha...”


“Hahaha..”


Lagi suara tawa keras mereka terdengar. Juna sampai memegangi perutnya karena tak bisa berhenti tertawa. Kevin menatap keki pada Abi. Dan sialnya dia tidak punya bahan untuk membalas pria itu.


“Eh Vin.. lo kenapa sih jarang pulang ke kampung halamannya Rindu?” Juna terus menjadikan Kevin topik pembicaraan.


“Malu dia.. harga dirinya luluh lantak gara-gara difitnah sebagai pelaku pengeboman hahaha..” jawab Cakra.


“Maksudnya?” tanya Jojo bingung.


“Pas acara resepsi dulu. Ada kejadian pas di di rumah bibinya, Rindu tuh kentut, kenceng banget. Kebetulan ibu-ibu lagi pada ngumpul, mereka langsung nebak kalau pelakunya si Kevin. Berdasarkan tingkat volume kentut, diprediksi Kevin yang ngebom hahahaha...”


“Kok lo bisa tahu?” kesal Kevin.


“Lo lupa bini kita kan udah kaya kancing cetet, segala diceritain hahaha...”


Kevin menepuk keningnya. Habis sudah dirinya malam ini menjadi bulan-bulanan para sahabatnya. Sementara Jojo tersenyum senang, setidaknya kali ini dia bisa mengistirahatkan telinga dari ocehan dan ledekan absurd para pria kekurangan yodium ini.


Setelah berkeliling stall, Kenan kini mendekati meja prasmanan. Sedari tadi mulut pemuda itu tak berhenti mengunyah. Dan Jihan, anak bungsu Gurit selalu saja mengikuti langkah pemuda itu. Sejak mereka berkuliah di kampus yang sama, dan mengambil jurusan yang sama pula, benih-benih cinta mulai tumbuh di hati gadis itu.


“Nan.. perasaan dari tadi lo makan mulu.”


“Tau nih, perasaan gue laper mulu.”


“Eh.. di kampus kan mau adain acara ya, halloween party gitu kalau ngga salah. Lo mau dateng ngga?”


“Ngga tau.”

__ADS_1


“Dateng ajalah bareng gue. Biar gue ada pasangannya.”


“Males.”


“Dih elo mah gitu. Kali aja kita menang sebagai couple of the night. Hadiahnya lumayan loh candle light dinner di Andromeda Cafe. Lo tau kan cafe yang lagi viral karena interior desainnya yang romantis abis. Mau ya Nan?”


Jihan menoleh ke tempat Kenan tadi berdiri. Tapi gadis itu terkejut melihat pemuda itu sudah tak ada lagi di sampingnya. Matanya berkeliling mencari keberadaan Kenan. Kemudian sudut matanya menangkap pemuda itu tengah duduk di salah satu meja bersama dengan Anya, anak bungsu Cakra.


Dengan kesal Jihan menghempaskan bokongnya di kursi. Sang kakak yang ada di kursi samping langsung menoleh ke arah adiknya. Emily memperhatikan Jihan yang terlihat kesal.


“Kenapa kamu?”


“Kesel kak.”


“Sama siapa?”


“Sama Anya.”


“Anya anaknya tante Sekar?”


“Iya. Emang ada Anya yang lain apa.”


“Kesel kenapa?”


Jihan merubah posisi duduknya menghadap sang kakak. Wanita yang berbeda tiga tahun darinya ini memang kerap dijadikan tempat curhat olehnya. Emily itu seorang kakak sekaligus teman bagi Jihan.


“Aku curiga deh kak, sama Nan juga Anya.”


“Curiga apa?”


“Curiga kalau mereka pacaran.”


“Hmmpphh huahahaha.. kamu tuh ada-ada aja,” Emily terus saja tertawa.


“Ih.. beneran kak. Coba deh kakak lihat, Nan tuh perhatian banget sama Anya. Kemana-mana berdua mulu. Di kampus juga gitu. Kalau di kelas duduknya ngga pernah jauhan. Pokoknya di mana ada Nan, pasti ada Anya.”


“Ya wajarlah, Anya itu kan sepupunya Nan. Wajar kalau mereka dekat dan saling menyayangi, apalagi mereka tumbuh bersama sejak kecil. Ngga mungkinlah mereka pacaran. Anya itu sepupu dari pihak bapaknya, secara ikatan darah lebih kuat. Ya walau memang ngga ada larangan menikah antar sepupu, tapi aku yakin mereka ngga pacaran. Kasih sayang mereka tuh tulus kaya ke saudara.”


“Masa sih?”


“Iya. Kamunya aja yang cemburu, makanya melihat kedekatan mereka dengan cara yang berbeda. Dengerin ya, kalau kamu suka sama Nan, berarti kamu juga harus berusaha suka dan dekat dengan orang-orang di sekeliling Nan, termasuk Anya. Kalau belum apa-apa kamu udah kirim sinyal perang ke Anya, yang ada Nan males deket-deket kamu.”


Emily melihat sejenak ke arah sang adik yang tengah merenungi kata-katanya. Tak lama kemudian dia berdiri lalu meninggalkan Jihan ketika melihat orang yang ditunggunya sudah tiba. Gadis itu menghampiri Beno dan Fanny kemudian mencium punggung tangan mereka.


Pengawal kepercayaan Abi itu kini sudah memiliki dua orang anak hasil pernikahannya dengan Fanny. Total pria itu memiliki tiga orang anak, satu anaknya adalah benih dari Dika. Ilham, anak biologis Dika, kini sudah tumbuh besar. Pria yang saat ini bekerja sebagai dosen, hanya bertemu sekali dengan Dika lima tahun yang lalu. Sebuah pertemuan pertama dan terakhir, karena Dika menghembuskan nafas terakhirnya setelah bertemu dengan anak kandungnya.


Beno, Fanny dan kedua anaknya segera menuju pelaminan untuk memberikan ucapan selamat pada pengantin. Meninggalkan Emily dan Ilham berdua saja. mereka sengaja memberikan waktu agar keduanya lebih dekat. Ilham yang pemalu sepertinya perlu sedikit dorongan agar bisa secepatnya menyatakan cintanya pada Emily.


Keramaian di ballroom berbanding terbalik dengan di bagian atas gedung. Kenzie dan Nara tengah menikmati kesunyian di area kolam renang. Mereka duduk di kursi santai yang ada di sana.



Pandangan mereka tertuju ke arah depan, di mana terdapat banyak gedung pencakar langit. Suasana semakin terasa romantis saat keduanya saling menautkan jari di bawah sinar bulan dan kerlipan bintang-bintang.


“Kamu mau bulan madu kemana nanti?” Kenzie membuka pembicaraan.


“Terserah mas aja. Bulan madu di sini juga ngga apa-apa. Tempatnya bagus, aku suka. Padahal aku sering banget ke sini kalau diajak papa nengok opa Richard. Tapi ngga pernah bosen.”


“Mas iihhh..”


Kenzie terkekeh melihat wajah Nara yang merona. Bersama dengan Nara, membuatnya banyak tersenyum dan juga banyak mengeluarkan kata-kata. Gadis itu sukses membuat dunianya jungkir balik. Semakin hari perasaan cintanya semakin bertambah subur.


“Kita belum beli cincin pernikahan.”


“Iya ya mas.”


“Hmm.. gimana kalau sekarang aja? Kayanya masih buka mall-nya.”


“Boleh mas.”


Kenzie berdiri kemudian menggandeng Nara menuju lift. Marina Bay Sands adalah hotel bintang lima yang juga dilengkapi dengan pusat perbelanjaan. Perlahan kotak besi yang mereka naiki bergerak turun.


Pusat perbelanjaan di Marina Bay Sands masih cukup ramai oleh pengunjung, walau waktu hampir menunjukkan pukul sembilan malam. Sambil menggandeng erat tangan Nara, mereka berjalan melewati deretan toko yang ada di sana. Setiap melintas ada saja yang melihat ke arah mereka, baik yang melihat Kenzie atau Nara.


Setelah melewati beberapa jajaran toko, akhirnya Kenzie mengajak Nara memasuki sebuah toko perhiasan dengan brand terkenal. Mereka langsung disambut oleh penjaga toko.


“Selamat malam. Mau cari apa pak?”


“Saya cari cincin pernikahan.”


“Silahkan ke sebelah sini pak.”


Penjaga toko tersebut membawa Kenzie juga Nara ke etalase yang ada di bagian ujung. Dia lalu mengeluarkan berbagai model cincin pernikahan koleksi terbaru. Nara melihat deretan cincin yang disusun di atas etalase. Lalu pilihannya jatuh pada cincin yang terbuat dari emas putih dengan berlian kecil di tengahnya. Sangat sederhana namun terlihat elegan.


“Yakin mau yang ini sayang?”


“Iya mas.”


“Saya pilih yang ini.”


Penjaga toko tersebut mengangguk kemudian segera menyiapkan cincin tersebut. Setelah menyelesaikan pembayaran, keduanya keluar dari toko. Karena enggan kembali ke ballroom, mereka memilih berjalan-jalan saja mengelilingi pusat perbelanjaan. Nara menarik tangan Kenzie menuju kedai es krim. Dia lalu memesan dua buah es krim gelato dengan rasa berbeda.


Sambil menikmati es krim, Kenzie dan Nara duduk di salah satu kursi yang tersedia. Mata mereka memandangi lalu lalang orang yang melintas di depan mereka. Sesekali terdengar tawa keduanya ketika menceritakan hal yang lucu.


Kenzie melihat es krim yang menempel di sudut bibir Nara. Dia mendekatkan wajahnya lalu membersihkan es krim yang menempel. Bukan dengan jarinya tapi dengan bibirnya. Sontak mata Nara melotot.


“Mas iih.. malu tahu.”


“Biarin aja. Mereka pada sibuk, ngga bakal merhatiin kita.”


Nara mencubit pinggang Kenzie hingga terdengar ringisannya. Tapi setelahnya pria itu hanya terkekeh saja. melihat pipi Nara yang merona semakin membuatnya gemas. Dengan cepat dia mencium pipi Nara kemudian beranjak dari tempatnya.


“Aku ke toilet dulu. Tunggu di situ.”


Nara memajukan bibirnya melihat aksi Kenzie, namun tak ayal hatinya tersenyum senang. Sikap dingin pria itu kini berubah romantis padanya. Rasanya dia ingin berteriak kencang, sembari mengucapkan kata-kata cinta untuk pria itu.


“Nara..”


Gadis itu menoleh ketika seseorang memanggil namanya. Sejenak dia tertegun melihat seorang wanita paruh baya berdiri di depannya. Nara berusaha mengingat wanita di depannya, rasanya wajah di depannya ini tak asing.


“Kamu Nara kan? Anaknya Jovan Romano.”

__ADS_1


“Iya. Maaf, ibu siapa?” Nara bangun dari duduknya kemudian berdiri di depan wanita itu.


“Saya, Astri. Mamanya Chika.”


“Oh tante. Maaf saya ngga tahu.”


Nara bermaksud mencium punggung tangan Astri, namun dengan cepat wanita itu menjauhkan tangannya dari Nara. Wanita itu menatap gadis muda di depannya dengan penuh kebencian. Karena Nara, Chika harus merasakan patah hati dan dibenci oleh Kenzie.


“Apa kamu tahu apa yang dilakukan calon suamimu pada anakku?”


“Maksud tante?”


“Chika harus berjalan kaki belasan kilometer. Dan itu pasti karena kamu yang sudah menghasut Kenzie melakukan semua itu.”


“Maaf tante, saya ngga ngerti maksud tante.”


“Ngga usah pura-pura. Jangan karena kamu anaknya Jovan Romano, kamu bisa bertindak macam-macam. Keluarga saya juga punya kekuasaan untuk menjatuhkan keluargamu. Apa kamu tidak tahu kalau sebenarnya Chika yang dijodohkan dengan Kenzie. Sihir apa yang kamu berikan pada Kenzie sampai dia mau padamu? Dasar perempuan licik.”


“Maaf tante. Saya sama sekali ngga mengerti apa yang tante katakan. Aku dan mas Kenzie memang akan menikah, karena kami saling mencintai. Sejak kapan Chika menjadi calonnya mas Ken? Setahuku dia yang selalu datang menemui mas Ken walau sudah ditolak berkali-kali. Kalau tante memang berasal dari keluarga terpandang, maka tunjukkan itu lewat sikap dan kata-kata. Apa yang tante lakukan sekarang justru menunjukkan hal yang sebaliknya.”


“Dasar anak kurang ajar!”


Astri mengangkat tangannya. Baru saja dia akan mendaratkannya di wajah Nara, tiba-tiba sebuah tangan menahannya. Dengan wajah dinginnya Kenzie menatap ke arah Astri kemudian melepaskan cekalannya.


“Tidak ada satu orang pun yang boleh melukai calon istri saya, termasuk tante.”


“Kenzie.. harusnya kamu sadar kalau kamu sudah dipengaruhi perempuan ini.”


“Harusnya tante yang sadar dan bisa mendidik anak tante dengan lebih baik lagi. Apa tante tahu apa alasan saya memberikan hukuman pada Chika? Karena dia sudah berani menyuruh orang untuk mencelakai Nara.”


“Ada apa ini?”


Perdebatan Kenzie dan Astri terhenti ketika Damar datang. Pria itu juga istrinya juga diundang oleh Gurit untuk menghadiri pernikahan Akmal. Astri langsung mendekat pada suaminya, karena dia cukup takut juga berhadapan dengan Kenzie.


“Kenzie sudah berani mengancam mama, pa.”


“Ken..”


Dengan tenang Kenzie mengambil ponselnya kemudian mengirimkan video pada pria di depannya. Video saat Chika meminta preman bayaran untuk menyingkirkan Nara. Kenzie meminta Damar untuk membuka video yang dikirimkannya. Mata Damar membulat melihatnya.


“Saya bisa saja melaporkan Chika ke polisi. Bukan hanya itu, Chika juga terbukti bersekongkol dengan Cheryl menyabotase Ferina saat kontes ratu kecantikan. Saya punya bukti dan saksi untuk itu. Tapi karena om adalah teman papa, saya menahan diri tidak melaporkan Chika ke polisi. Sekali lagi Chika atau istri tante mengganggu Nara, saya tidak akan segan-segan bertindak. Permisi, om.”


Kenzie segera menarik tangan Nara. Keduanya pergi meninggalkan orang tua Chika yang masih shock mendengar penuturan Kenzie. Damar tak percaya, anak yang selalu dibanggakannya ternyata mampu melakukan hal keji seperti itu.


“Pa.. itu bohong kan? Itu pasti video hasil rekayasa.”


“Berhenti ma. Ini akibatnya kalau mama terlalu memanjakan Chika.”


“Kenapa papa malah menyalahkan mama? Harusnya papa membela Chika.”


“Membela anak kita yang salah? Jangan gila, ma. Kamu tahu betul siapa keluarga Hikmat.”


“Bukan keluarga Hikmat. Tapi Nara, anak dari Jovan Romano.”


“Sama saja. Nara itu calonnya Kenzie. Mengusik Nara sama saja mengusik keluarga Hikmat. Kalau mama mau menjadi gelandangan silahkan. Lakukan saja sendiri.”


Damar segera pergi meninggalkan sang istri. Dia harus segera menemui Abi untuk meluruskan hal tentang putrinya. Bisa gawat kalau Abi sampai turun tangan. Bukan hanya Chika, tapi seluruh keluarganya bisa terkena imbas.


☘️☘️☘️


Sementara itu di Skypark Observation Deck, sepasang kekasih tengah menikmati pemandangan malam dari ketinggian. Dari lantai 57, Freya bersama Ravin dapat melihat keindahan laut yang terbentang di hadapannya. Letak Marina Bay Sands memang berhadapan dengan teluk Marina. Keduanya sudah seperti Jack and Rose saja. Berdiri di ujung deck, seperti adegan di film Titanic.


Ravin berdiri di belakang Freya. Tangannya memeluk pinggang gadis itu dan kepala diletakkan di bahunya. Perlahan Freya menyandarkan kepalanya di dada bidang Ravin. Tak ada pembicaraan di antara mereka. Keduanya asik menikmati suasana tenang ditemani semilir angin malam.


“Abang sejak kapan mulai mengikutiku?”


“Mengikutimu?”


“Hmm.. mama Rindu pernah kasih aku kotak yang isinya foto-foto aku yang diambil secara candid. Katanya abang minta mama buang foto-foto itu, kenapa?”


“Supaya aku bisa move on dari kamu. Tapi ternyata kita malah bertemu di tempat kerja.”


“Waktu aku lihat foto-foto candidku, aku baru sadar kalau abang bener-bener sayang sama aku. Aku ngga rela abang buang foto-foto itu dan lupain aku. Aku nyesel udah nolak abang.”


“Waktu itu kenapa kamu nolak aku?”


“Karena aku ngga mau hubungan abang sama bang Barra renggang karena aku. Dulu teman kuliahku ada yang seperti itu. Mereka sahabat dekat tapi harus berakhir gara-gara mereka jatuh cinta sama perempuan yang sama. Kalau waktu itu aku milih bang Barra, apa abang bakalan tetap sahabatan sama dia?”


“Tentu aja. Kalau ternyata dia yang bisa buat kamu bahagia, aku bisa apa. Lagi pula dia sahabat baikku. Aku yakin kalau dia bisa menjagamu dengan baik.”


“Kalau Remy?”


“Aku ngga rela kalau kamu sampai sama Remy. Dia itu laki-laki ngga setia, sukanya mainin hati perempuan. Bagaimana pun caranya, aku bakal misahin kamu dari dia. Kamu jangan dekat-dekat dia lagi. Kalau kemarin aku belum punya kekuatan apa-apa untuk melarangnya, tidak sekarang.”


“Abang juga jangan deket-deket sama Adel.”


Ravin melepaskan pelukannya kemudian membalikkan tubuh Freya menghadap padanya. Dirapihkannya anak rambut yang berterbangan tertiup anak malam lalu menyelipkan ke belakang telinga.


“Aku ngga punya perasaan apa-apa sama Adel. Satu-satunya alasan membiarkannya mendekatiku, karena aku ingin membuatmu cemburu.”


“Abang beneran ngga suka sama Adel?”


“Ngga.. satu-satunya perempuan yang aku cinta itu kamu Frey. Dari dulu sampai sekarang.”


Ravin mencium kening Freya dengan lembut kemudian membawa ke pelukannya. Tangan Freya melingkari punggung Ravin dan wajah terbenam di dadanya. Gadis itu dapat dengan jelas mendengar debaran dada Ravin, sama seperti debaran jantungnya saat ini.


☘️☘️☘️


**Segini dulu ya part uwunya, lanjut besok lagi. Mamake juga takut kalau terlalu mengobral kebucinan di novel ini tar mamake dituntut ama pengacara kondang yang kurang kerjaan🏃🏃🏃


Abi.. kekejamanmu memang bukan kaleng²😎


Kevin.. yg sabar ya🤣


Sekarang mamake kasih visual anak²nya Cakra**


Aric



Anya

__ADS_1



__ADS_2