KEPENTOK PERAWAT ANTIK

KEPENTOK PERAWAT ANTIK
Season 2 : Senjata Makan Tuan


__ADS_3

Seorang gadis muda, mengenakan pakaian casual masuk ke dalam gedung kantor J&J Entertainment. Sambil melemparkan senyum manisnya, gadis tersebut melambaikan tangan ke arah sang resepsionis. Dia lalu melanjutkan langkah menuju lift. Tangannya bergerak cepat menahan pintu begitu melihat pintu tersebut mulai menutup. Dengan selamat sang gadis akhirnya bisa masuk ke dalam kotak besi itu.


Sesampainya di lantai enam, gadis cantik itu keluar lalu menuju ruangan Barra. Diketuknya pintu ruangan yang tertutup rapat itu. Setelah mendengar jawaban dari dalam, gadis tersebut membuka pintu. Sambil mengibaskan rambut panjangnya, dia menyapa orang yang ada di dalam.


“Apa kabar semua?!”


Anya berteriak dengan suara sengaunya. Barra yang tengah fokus dengan laptopnya sampai terlonjak begitu mendengar suara yang identik dengan makhluk Tuhan paling seksi versi abal-abal. Wajah Irvin langsung cerah melihat gadis pujaannya yang datang. Dengan gaya bak peragawati yang berlenggak-lenggok di atas catwalk, Anya berjalan mendekati meja Barra.


“Ee.. ee.. bang Barra, kenapa kok manyun aja. Pasti lagi mikirin Hanna. Kapan atuh mau nikahnya,” Anya menirukan nada lagu Bang Jono milik Zaskia Gotik seraya merangkul bahu Barra.


“Diem, Nya. Lagi mode senggol bacok nih,” ujar Barra kesal.


“Ya ampun bang. Jangan galak-galak napa. Demi abang tersayang, aku sengaja datang membawa rencana untuk abang dapetin kak Hanna.”


“Rencana apa?”


“Hari ini, kak Hanna ada pertemuan di hotel Yudhistira. Nah, kalian ada syuting di sana kan? Bang Barra ke sana, lihat jalannya syuting. Salah satu artis pendukung yang ikut syuting itu temanku. Aku sama dia udah nyusun skenario biar kak Hanna cemburu.”


“Basi, Nya. Dia ngga bakalan cemburu.”


“Ah elah. Ayo dong bang, semangat, jangan loyo. Abang nanti tinggal ikutin skenario temanku. Selain mau buat kak Hanna cemburu, aku juga bakal buat dia merasa diabaikan dan ditinggalkan. Biasanya seseorang itu berarti untuk kita kalau kita sudah kehilangan orang itu. Nah, aku mau menyadarkan kak Hanna, kalau orang yang dia butuhkan itu bang Barra. Tapi itu juga kalau abang mau. Kalau ngga juga ngga apa-apa.”


“Eh mau, Nya. Mau.. kapan kita aktingnya?”


“Kita? Abang aja kali sama Sita, temanku. Pokoknya nanti abang tinggal ikutin alurnya ya.”


“Ok, deh.”


Semangat Barra yang sempat surut akhirnya bangkit lagi setelah mendapat support dari Anya. Diam-diam Irvin mendengarkan apa yang dikatakan Anya tadi. Pria itu pun bermaksud menyusun skenario yang sama, hanya targetnya saja yang diganti. Irvin tersenyum tipis saat membayangkannya.


Lihat aja, Nya. Itu rencana bakal aku terapin juga ke kamu. Biar jadi senjata makan tuan.


Irvin berpura-pura sibuk dengan laptopnya, ketika Anya menoleh ke arahnya. Gadis itu kembali fokus pada Barra. Rencana yang tadi disebutkan olehnya tentu saja tidak gratis. Ada bayaran yang harus diberikan pria itu dan Barra pun menyadarinya.


“Yakin nih rencana ngga gratis. Kamu minta apa buat bayarannya?”


“Beuh.. bang Barra emang terdebes deh. Aku minta tiket pas launching perdana film abang, yang judulnya Kejarlah Daku Kau Kusekap.”


“Berapa?”


“10.”


“Itu aja?”


“Plus makan siang sama artis utama dan pendukung, gimana?”


“Gampang. Vin, urusin tuh permintaan nyi ronggeng.”


“Ish.. udah dibantuin masih juga manggil nyi ronggeng.”


“Terus harus manggil apa? Robot gedeg? Hahaha...”


“Panggil nyonya Irvin, bang. Abang belum tahu kalau aku udah nikah sama Anya? Malah sekarang Anya lagi hamil anakku. Katanya goyanganku di ranjang hebat makanya cebongku cepet berbuah.”


“Abaaaaanngg!!!”


Barra makin terpingkal dibuatnya. Irvin memang telah menceritakan apa yang dilakukan Anya demi menyingkirkan mantan pacarnya. Anya menatap kesal ke arah Irvin. Sandiwaranya saat itu masih saja dijadikan senjata untuk menggodanya.


“Biasa aja lihatnya neng, nanti bucin sama aku,” goda Irvin.


“Dih pede gila.”


“Nya.. nonton yuk.”


“Nonton apa?”


“Nonton film di bioskop lah. Masa nonton topeng monyet.”


“Ogah.”


“Yakin ngga bakalan nyesel? Jangan marah ya kalau aku ajak orang lain.”


“Emang situ siapa bikin akoh nyesel.”


“Jangan salah, Nya. Si Irvin punya banyak fans sekarang. Ada karyawan baru, artis baru sampe tukang lotek yang baru mangkal di deket kantor juga suka sama dia hahahaha,” Barra terpingkal melihat Irvin yang melotot ke arahnya.


“Kok aku penasaran sama kang loteknya. Namanya siapa bang?”


“Jajang hahahaha…”


Anya ikut terpingkal mendengar nama si tukang lotek. Tadi gadis itu memang melihat gerobak lotek mangkal di trotoar depan kantor. Tapi tidak tahu penjualnya laki-laki atau perempuan. Mengingat itu, Anya jadi ingin makan lotek juga.


“Kok aku jadi pengen lotek ya, bang.”


“Bentar aku telepon OB buat beliin. Kamu mau Vin?”


“Boleh bang.”


Barra mengangkat telepon eksternal lalu menghubungi pantry. Dia meminta OB yang sedang stanb by untuk membelikan lotek yang mangkal di depan kantor. Setelah itu, Barra bersiap untuk pergi. Sesuai saran Anya, dia akan menuju hotel Yudhistira dan mengikuti skenario yang Anya dan temannya telah susun.


Kini tinggalah Anya dan Irvin dalam ruangan. Gadis itu menghempaskan tubuhnya di sofa empuk yang ada di ruangan. Dikeluarkan ponsel dari dalam tasnya, kemudian gadis itu membuka salah satu aplikasi novel online dan meneruskan bacaannya. Ada satu cerita yang sudah diikutinya sejak tiga hari lalu, cerita tentang pasangan yang belum kelar. Tak butuh waktu lama untuk sang gadis sudah tenggelam dalam bacaannya.


Ingin rasanya Irvin mendekati gadis pujaannya itu. Sayang, masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Pria itu menahan diri dan menyelesaikan semua pekerjaan. Beraki-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Berkutat dulu dengan pekerjaan, berkencan kemudian.


Tak ada perbincangan di dalam ruangan. Keduanya sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Sesekali terdengar tawa Anya, yang masih asik membaca novel favoritnya. Di tengah kekhusyukan mereka, terdengar ketukan di pintu dan tak lama kemudian pintu terbuka. Dari luar muncul seorang gadis, usianya dua tahun di atas Anya dan wajahnya lumayan manis. Dia adalah karyawan baru di kantor ini dan masuk dalam jajaran penggemar Irvin, seperti yang dikatakan Barra tadi.

__ADS_1


“Pak Irvin.. ini laporan dari tim dua,” gadis yang bernama Tasya itu menyerahkan sebuah berkas di tangannya. Irvin menerima berkas tersebut kemudian mulai memeriksanya.


“Siapa yang buat laporan ini?”


“Saya pak.”


“Masih banyak yang kurang. Siapa yang bimbing kamu buat laporan?”


“Pak Sigit. Tapi hari ini pak Sigit sakit, jadi saya kerjakan sesuai petunjuk aja, pak. Bagian mana yang kurang, pak? Kalau boleh biar saya kerjakan di sini, sekalian bapak yang bimbing saya.”


Perkataan Tasya sukses membuat Anya menolehkan kepalanya ke arah gadis itu. Dari bahasa tubuhnya nampak sekali kalau dia tengah mencari perhatian Irvin. Mendadak Anya merasa kesal, apalagi begitu melihat Tasya menatap Irvin tanpa berkedip dengan penuh damba.


“Ya sudah, kamu pakai laptop saya. Ini perbaiki yang sudah saya kasih tanda.”


Irvin beranjak dari duduknya, memberi ruang pada gadis itu untuk mengambil alih tempatnya. Sebenarnya dia malas harus membimbing karyawan baru itu, tapi laporan sudah ditunggu oleh Gurit, mau tak mau pria itu harus turun tangan. Rona bahagia terpancar dari wajah Tasya, dia segera duduk di kursi kerja Irvin dan mulai memperbaiki laporan.


Irvin menarik kursi di depan mejanya lalu mendudukkan diri di sana. Sesekali terdengar suaranya memberi masukan pada Tasya sambil melihat berkas di tangannya. Anya tertegun menyaksikan cara Irvin bekerja, sangat profesional dan tegas. Tak ada gaya cengengesan seperti saat berhadapan dengannya. Irvin nampak lebih berwibawa. Gadis itu menggelengkan kepalanya. Kenapa juga dia jadi malah fokus pada Irvin. Anya kembali menekuni bacaannya.


Sepuluh menit berselang, seorang OB datang membawakan pesanan lotek. Pria berseragam biru itu meletakkan nampan yang berisi dua buah piring dengan bungkusan lotek di atasnya serta dua gelas berisi air putih. Anya mengucapkan terima kasih saat sang OB selesai menaruh pesanan dan berlalu pergi.


“Sudah selesai, pak. Mau dicek dulu,” ujar Tasya.


Irvin berdiri dari duduknya lalu menghampiri Taysa. Dia berdiri di samping gadis itu dengan sedikit membungkukkan badannya. Matanya fokus melihat ke arah layar laptop. Tasya jadi gugup sendiri berada sedekat ini dengan Irvin. Anya melihat tak suka ke arah mereka berdua. Dia meletakkan ponselnya lalu membuka lotek pesanannya. Gadis itu sengaja menaruh piring ke meja dengan suara keras untuk menarik perhatian Irvin. Namun nyatanya pria itu masih fokus pada layar laptopnya.


“Ya sudah cukup. Besok-besok saya ngga mau ada kesalahan lagi kaya gini.”


“Iya pak.”


Tasya bangun dari duduknya membuat Irvin harus menarik langkah mundur ke belakang. Bukannya pergi, Tasya malah berdiri di depan Irvin seraya memasang senyum di wajahnya. Kening Irvin mengernyit melihat karyawan baru ini belum juga pergi dari hadapannya.


“Masih ada yang perlu kamu tanyakan?”


“Bapak mau makan siang sama saya?”


Uhuk… uhuk..


Anya yang tengah menikmati lotek langsung terbatuk mendengar ajakan makan siang Tasya. Sontak dia melihat ke arah Irvin yang masih belum menjawab ajakan Tasya.


“Bang… ini loteknya,” seru Anya.


“Loteknya buat mbak aja gimana? Biar pak Irvin makan sama saya,” Tasya melihat ke arah Anya sambil tersenyum.


“Emangnya gue uler kadut apa, makan dua bungkus lotek,” sewot Anya.


“Kamu makan siang dengan yang lain saja,” jawab Irvin.


“Tapi besok bisa kan pak, makan siang sama saya?”


“Usaha teroooosss,” sindir Anya.


Irvin hampir saja tertawa mendengarnya. Melihat reaksi Anya, rasanya tak salah kalau dia menerka kalau gadis itu tengah cemburu. Terbersit dalam benak Irvin untuk mengerjai Anya. Sampai sejauh mana reaksi Anya kalau dia menerima tawaran Tasya.


“Terserah bapak, aku ngikut aja enaknya di mana.”


“Nya.. kamu ada rekomendasi teman makan yang enak ngga di sekitar sini?” Irvin melihat ke arah Anya.


“Nih lotek kang Jajang. Rasanya enak, harga aman di kantong, ngga jauh dari kantor, jadi irit bensin,” jawab Anya tanpa melihat ke arah Irvin karena hatinya tengah dongkol sedongkol-dongkolnya.


“Kamu tim promonya kang Jajang ya?”


“Iya.. selain rasa loteknya kang Jajang enak, dia itu orangnya SETIA, ngga ngumbar janji kemana-mana.”


Ingin rasanya Irvin tertawa melihat reaksi Anya. Namun sebisa mungkin dia menahan tawa dan hanya mengulum senyum saja. Tasya yang awalnya senang, menjadi curiga melihat sikap Anya dan Irvin. Dia merasa hanya dijadikan alat untuk Irvin membuat Anya cemburu.


“Gimana kalau makan di kedai ayam penyet mbok Darmi? Tempatnya juga ngga jauh dari kantor, pak.”


“Mana enak ayam penyet. Yang senak tuh ayam crsipy yang banyak tepungnya jadi semok kan kelihatannya,” timpal Anya.


“Nanti kita bicarakan lagi. Kamu kembali saja ke ruangan.”


Tasya menganggukkan kepalanya lalu keluar dari ruangan. Irvin berjalan menuju sofa lalu mendudukkan diri di samping Anya. Dia membuka bungkusan lotek yang sudah ditaruh Anya di atas piring. Pria itu langsung melahap makanan khas Jawa Barat itu. Dan memang benar apa kata Anya, rasa lotek ini memang lezat.


“Nya.. kamu kenal sama mang Jajang?”


“Mang Jajang mana?”


“Ini yang jualan lotek.”


“Ngga.”


“Terus tahu dari mana kalau dia setia? Siapa tahu istrinya empat.”


“Ya ngga masalah, asal dia sanggup dan adil. Yang penting dia udah komitmen sama empat perempuan itu. Ngga PHP, sudah menunjukkan keseriusannya dengan memberi label halal sama keempat istrinya.”


“Emang yang PHP yang kaya gimana? Yang kaya Hanna maksudnya?”


“Kak Hanna bukan PHP, dia cuma galon aja gara-gara kedatengan mandor Romusha. Dalam hatinya aku yakin kok kalau dia cinta sama bang Barra. Yang PHP tuh yang ngajakin cewek nikah tapi masih tebar pesona sama cewek lain.”


“Emang siapa yang kaya gitu?”


“Ngaca bang.. ngaca..”


Kesal Anya, saking kesalnya gadis itu langsung menyuapkan sisa lotek sekaligus ke dalam mulutnya, membuat bumbu kacang menempel di kedua sudut bibirnya. Irvin menarik tisu yang ada di atas meja kemudian mengusap sudut bibir Anya. Dada gadis itu berdetak kencang saat Irvin melakukannya, ditambah dengan adegan tatap menatap di antara mereka.


“Kamu tuh makannya belepotan gini, kaya anak kecil.”

__ADS_1


“Ehem..”


Anya hanya berdehm saja untuk menghilangkan kegugupannya. Dia menyambar gelas berisi air putih kemudian meneguknya sampai habis setengah. Setelah itu Anya kembali mengambil ponselnya dan melanjutkan bacaannya. Irvin melirik sekilas ke arah layar ponsel Anya.


“Lagi baca apa?”


“Novel.”


“Cerita soal apa?”


“Pasangan CLBK. Ada tiga pasangan, mereka pisah saat masih saling cinta dan mau balikan lagi.”


“Ngapain balikan. Mantan itu buang aja pada tempatnya.”


“Tapi aku kalau punya pasangan kaya mereka juga pasti mau balikanlah. Pasangan mereka tuh sebenarnya setia tapi karena keadaan aja harus berpisah. Kaya dokter Regan, yang harus pisah sama Sarah gara-gara istrinya trauma setelah anak mereka meninggal. Terus ada Irzal sama Poppy, mereka pisah karena salah paham gara-gara valakor. Nah kalau Ega sama Alea pisah karena keluarga mereka musuhan, kaya Romeo and Juliet gitu. Seru deh pokoknya.”


“Nah itu ada pelakor, ya mending ngga usah balikan.”


“Tapi Irzalnya ngga selingkuh, Cuma istrinya aja yang salah paham karena kehasut sama si pelakor. Aku sih pengen banget punya suami setia kaya Irzal. Udah ganteng, mapan, setia, udah gitu pinter nyanyi. Aku kan bisa duet bareng sama dia,” Anya terkikik geli membayangkan dirinya berduet dengan tokoh fiksi favoritnya.


“Dia itu ngga real. Mending cari yang real.”


“Yang real tapi tukang PHP dan tebar pesona gitu?”


Irvin tertawa kecil mendengarnya. Dia bukan tidak tahu kalau Anya tengah menyindirnya. Tapi dia berpura-pura saja, seolah tak mengerti arah pembicaraan gadis itu. Irvin meneruskan makannya dan Anya melanjutkan bacaannya.


Usai makan, Irvin membereskan bungkusan bekas lotek lalu membuangnya ke tempat sampah. Kemudian pria itu kembali duduk di samping Anya. Dia mendekatkan tubuhnya ke arah Anya, ingin melihat novel yang dibaca Anya. Kebetulan sekali, Anya tengah membaca part di mana Irzal baru saja menikah lagi dengan Poppy, mereka berada di dalam kamar dan sedang berciuman.


“Kamu baca yang gitu jangan-jangan sambil ngebayangin ya,” celetuk Irvin.


“Ngebayangin apa?”


“Itu.. ciuman.”


“Ngga ya. Dasar abang aja yang pikirannya ngeres.”


“Ya sapuin dong kalo ngeres.”


“Apaan sih, gaje.”


Perbincangan kembali terjeda ketika lagi-lagi terdengar ketukan di pintu. Kali ini Gita, sekretaris Barra masuk dengan seorang gadis cantik di belakangnya. Gadis itu adalah Alana, dia adalah artis pendatang baru. Irvin merasa semesta tengah berpihak padanya hari ini. Baru saja dia merencanakan membuat Anya cemburu, Tuhan sudah mendatangkan dua makhluk cantik untuk merealisasikan rencananya lebih cepat.


“Pak Irvin, ini Alana, mau membicarakan tentang kontrak iklan.”


“Silahkan duduk, Lana.”


Anya memperhatikan waniita bernama Alana itu. Selain berparas cantik, dia juga memiliki bodi aduhai, ditambah bibir tebal yang dibalut lipstick berwarna maroon, membuatnya terlihat semakin seksi.


“Apa yang mau ditanyakan?”


“Ini pak, klien menawarkan kontrak eksklusif sama saya. Bedanya dengan kontrak non eksklusif apa? Kalau dilihat secara nominal, saya lebih tertarik sama kontrak eksklusif.”


“Memang kontrak eksklusif menawarkan nilai kontrak lebih besar itu karena selama setahun kamu akan terikat penuh. Selain tidak bisa menerima job dari tempat lain, kamu juga harus siap kalau klien membutuhkanmu untuk kepentingan promo. Kalau saran saya, lebih baik ambil kontrak non eksklusif aja biar waktu kamu juga lebih fleksibel dan bisa menerima job dari yang lain.”


“Oh begitu ya, pak.”


“Akhir-akhir ini kamu banyak dapat tawaran job. Saran saya, kamu ambil manajer untuk mengatur jadwal dan memilih klien yang tepat buat kamu.”


“Kalau bapak yang jadi manajer saya gimana?” tanya Alana seraya mengerlingkan sebelah matanya pada Irvin.


“Ya kalau pak Irvin jadi manajer kamu, yang ada dia turun jabatan dong,” protes Anya.


“Bukan manajer pekerjaan. Tapi manajer hati dan hidupku alias suami.”


“Pak Irvin udah punya calon istri, keles,” jawab Anya dongkol.


“Yang bener pak? Siapa?”


GUE CALON ISTRINYA, teriak Anya dalam hati. Dia benar-benar kesal kenapa hari ini terus bertemu dengan wanita yang tingkahnya membuat tekanan darahnya naik. Gadis itu semakin dongkol ketika melihat Irvin diam saja. Padahal Anya berharap Irvin membenarkan apa yang dikatakannya tadi.


“Jadi gimana pak?”


“Seperti yang saya katakan tadi. Ambil kontrak non eksklusif aja.”


“Baik, pak. Terus soal manajer hati gimana?” goda Alana lagi.


“Saya belum berpikir ke arah sana. Kalau tidak ada yang akan dibahas lagi, silahkan keluar. Saya masih ada urusan dengan nona Anya.”


Alana tersenyum kecut mendengar ucapan Irvin. Secara tidak langsung pria itu mengusirnya. Dia segera berdiri kemudian keluar dari ruangan. Irvin melirik ke arah Anya yang masih terlihat cemberut.


“Aku pulang, bang.”


“Kok pulang? Temenin aku sampai jam kerja habis dong. Aku yakin bang Barra ngga akan balik ke kantor.”


“Males. Nanti para penggemar abang yang lain pada dateng ke sini. Capek jadi kambing congek. Dasar tukang PHP.”


Anya bangun dari duduknya, tapi melihat Irvin yang diam saja tanpa berusaha menahannya, membuat gadis itu semakin dongkol. Dengan kesal dia menendang kaki pria itu.


“Aduh, kamu kenapa sih, Nya.”


“Bang Irvin nyebelin!”


☘️☘️☘️


**Wkwkwk... senjata makan tuan ya, Nya. Rencana Hanna yang mau digituin, kamunya udah kena duluan🤣🤣🤣

__ADS_1



Buat yang udah mampir di My Hot guys makasih banyak ya🤗 Harap jangan kaget apalagi sawan dengan alurnya yang berbeda dari KPA. Mamake cuma ingin membuat sesuatu yang berbeda, sedang menchalenge diri sendiri biar ngga terjebak dalam stereotype, menghasilkan karya dengan tema dan alur yang itu² saja. Sedang berusaha mengeksplore lagi daya imajinasi mamake. Terima kasih sekali lagi, harap ngga nabung bab ya, biar retensinya tetap stabil dan naik🙏😘😘😘**


__ADS_2