
Keramaian pesta resepsi berakhir sudah. Pasangan pengantin, keluarga kedua mempelai dan para tamu sudah meninggalkan area ballroom. Meninggalkan sisa-sisa pesta yang masih dibersihkan oleh staf banquet. Akhirnya perhelatan resepsi pernikahan selama tiga hari berturut-turut selesai sudah. Ezra sendiri telah menyiapkan bonus untuk semua karyawan yang telah bekerja keras menyelenggarakan pesta tersebut.
Azra sudah berada di kamar pengantin. Nara, Naya dan Freya yang tadi membantunya melepas gaun pengantin dan membersihkan sisa make up pun sudah kembali ke kamar mereka masing-masing. Azra sudah tidak perlu lagi diberikan petuah, karena sudah dua hari berturut-turut menjelang pernikahannya ikut mendengarkan. Kini hanya tinggal prakteknya saja.
Mempelai pria masih belum masuk ke dalam kamar. Fathan masih berkumpul dengan para sahabatnya. Sementara Azra yang sudah segar sehabis mandi dan berganti pakaian tidur menunggu di kamar sambil berbaring. Tangannya memencet tombol remote untuk menyalakan televisi. Dilihatnya jam di ponsel, waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam.
Rasa kantuk mulai mendera gadis itu. Suami yang ditunggunya belum juga datang. Ingin menelepon tapi malu rasanya. Disangkanya nanti dia sudah tak sabar untuk malam pertama. Azra memilih menunggu suaminya saja. Beberapa kali gadis itu menguap, matanya semakin memberat saja. Beberapa menit kemudian Azra sudah tak sanggup lagi bertahan. Dia memejamkan mata, bersiap masuk ke alam mimpi.
Sementara itu, Fathan masih berkumpul dengan para sahabatnya di kamar Barra. Setengah memkasa pria itu juga Ezra ingin ikut dalam pembicaraan para sahabatnya yang sudah tidak perjaka lagi. Jakun Fathan bergerak naik turun selama mendengarkan kursus kilat ala Kenzie, Aric dan Ravin. Rasanya dia ingin secepatnya menuju kamar dan mempraktekkan semua.
“Gue balik,” seru Fathan seraya berdiri dari duduknya.
“Heleh udah ngga sabar ya,” ledek Ravin.
“Sekali saja, Than. Gempur lagi besok paginya,” saran Aric.
“Biar sekali tapi berkualitas mainnya,” sambung Kenzie.
“Haaiisshh gue jadi traveling kan,” kesal Barra.
“Main sana sama tante Citra hahahaha,” Ravin terpingkal mendengar ucapannya sendiri. Fathan bergegas keluar kamar, sebelum dirinya menutup pintu, masih jelas terdengar seruan Ezra.
“Jangan kasar-kasar sama adek gue oii!!”
Tanpa mempedulikan lagi ucapan sang kakak ipar, Fathan segera keluar dari kamar Barra yang ada di lantai delapan. Dia bergegas menuju lift yang akan membawanya ke lantai sebelas, lantai di mana kamar pengantinnya berada. Setelah Fathan pergi, berturut-turut Kenzie, Aric dan Ravin ikut menyusul pergi. Mereka juga ingin mempraktekkan kursus singkat tadi. Tinggal Barra dan Ezra yang masih betah bicara berdua.
Fathan menempelkan card key ke panel yang ada di pintu kemudian membuka pintu yang sudah tak terkunci. Suasana di ruangan suite room ini begitu sepi. Dia kemudian menuju kamar tidur. Di lantai nampak kelopak bunga mawar berserakan, demikian juga di atas kasur berukuran king size yang ada di sana. Melihat Azra sudah tidur, Fathan memutuskan untuk membersihkan dulu tubuhnya yang terasa lengket.
Lima belas menit kemudian pria itu sudah selesai dengan ritual mandinya. Hampir semua bagian tubuhnya dibersihkan dan digosok dengan sabun agar bersih dan wangi. Dia harus benar-benar bersih sebelum menjamah istrinya untuk pertama kali. Fathan sengaja hanya mengenakan kaos oblong dan bokser tanpa dal*man agar lebih memudahkan saat tempur nanti.
Pelan-pelan Fathan merangkak naik ke atas ranjang kemudian mendaratkan ciuman di kening istrinya. Azra masih nampak pulas dengan tidurnya. Sepertinya gadis itu benar-benar lelah menjalani serangkaian acara sejak pagi sampai malam. Tak kunjung ada respon dari Azra, Fathan kembali mencium istrinya itu. Kini pria itu mendaratkan ciuman di seluruh wajah sang istri.
“Euungghh..”
Fathan menghentikan ciumannya begitu mendengar lenguhan istrinya, namun ternyata Azra tetap melanjutkan tidurnya. Pria itu kemudian berdehem beberapa kali, tapi tetap tak berhasil. Dengan kesal dia menghempaskan tubuhnya ke kasur seraya membuat pergerakan-pergerakan yang bisa mengganggu aktivitas tidur wanita di sebelahnya. Namun sia-sia, mata Azra tetap terpejam.
Sebenarnya Fathan bisa saja langsung mencumbu gadis yang sudah sah menjadi istrinya. Namun untuk pertama kalinya dia ingin melakukannya secara bersama-sama, menikmati cumbuan berdua sambil saling menatap penuh cinta. Fathan kembali melirik Azra yang semakin pulas saja dalam tidurnya. Akhirnya pria itu mengalah dan memilih ikut tidur juga.
Sepuluh menit berlalu, Fathan masih belum bisa memejamkan matanya. Dia menegakkan tubuhnya, mengusak rambutnya dengan frustrasi. Pembicaraan bersama para sahabatnya sudah kadung membakar hasratnya. Namun sial, Azra malah tertidur, mungkin karena dirinya terlalu lama masuk ke kamar. Pria itu menatap juniornya yang masih terbangun. Akhirnya dengan sangat terpaksa Fathan masuk ke kamar mandi untuk bertemu tante yang disediakan pihak hotel.
☘️☘️☘️
“Zra..”
Azra membuka matanya ketika mendengar sebuah suara memanggilnya. Bahunya juga terasa diguncang seseorang. Gadis itu mengerjap-ngerjapkan matanya sejenak, matanya memicing melihat ke arah Fathan yang berdiri di samping ranjang. Penampilan suaminya itu sudah terbalut baju koko dan sarung.
“Abaang,” panggil Azra dengan suara serak khas bangun tidur.
“Bangun, udah shubuh.”
“Hah shubuh!”
Azra terlonjak dari tidurnya begitu mendengar waktu sudah shubuh. Perasaan baru sepuluh menit yang lalu memejamkan mata. Dia segera bangun, mengambil handuk dan pakaian lalu menuju kamar mandi. Sepuluh menit kemudian, gadis itu selesai. Tubuhnya terasa lebih segar dan kantuk sudah sepenuhnya pergi. Azra bergegas menggelar sajadah di belakang Fathan kemudian memakai mukena. Selanjutnya pasangan suami istri itu menunaikan shalat shubuh berjamaah untuk yang pertama kali.
“Abang masuk kamar jam berapa?” tanya Azra selesai shalat.
“Jam dua belas.”
“Kok ngga bangunin aku sih?”
Fathan memandang kesal pada istrinya itu. Tanpa menjawab pertanyaan, Fathan melipat sajadah dan sarung yang dikenakannya tadi. Kemudian pria itu naik ke atas kasur dan membaringkan diri membelakangi sang istri. Dia masih kesal karena semalam harus bertempur dengan sabun cair selama satu jam lebih.
Azra yang tidak tahu kalau sang suami dalam mode ngambek, dengan santai melipat mukena dan sajadah. Setelah itu dia berjalan menuju balkon, sedikit menggerakkan tubuhnya seraya menghirup udara segar.
Sampai tiba waktu sarapan, Fathan masih mengaktifkan mode silent. Azra mulai curiga dengan sikap suaminya. Sudah tidak mengajak bicara, ditambah lagi dengan muka masamnya, membuat bibir wanita itu gatal untuk tidak bertanya.
“Abang kenapa sih? Dari tadi manyun mulu.”
“Ngga apa-apa.”
“Ngga apa-apa gimana? Diajak ngomong ngga dijawab, muka ngga enak banget dilihatnya. Kalau aku ada salah ngomong, jangan diem aja. Mana aku tahu isi hati dan otak abang. Aku tuh bukan cenanyang yang bisa baca pikiran orang. Kita tuh udah nikah sekarang, dewasa sedikit kenapa sih.”
Azra yang kesal melihat sikap diam suaminya, segera keluar dari kamar, karena semua keluarga sudah berkumpul untuk sarapan bersama. Fathan melongo mendengar omelan istrinya, sudah ditinggal tidur, tidak bisa buka segel, sekarang malah dihadiahi cerocosan dari mulut istrinya. Tak kalah kesal, Fathan menyusul keluar kamar. Keduanya masuk ke dalam lift dengan saling diam dan posisi berjauhan.
Area kolam renang tetap dipilih keluarga Hikmat untuk menikmati sarapan. Semua sudah berkumpul, kecuali pengantin baru. Tak lama yang ditunggu-tunggu datang juga. Semua mata menatap ke arah pasangan itu yang berjalan tak beriringan. Azra di depan, sedang Fathan di belakangnya.
Para wanita penasaran melihat gaya berjalan Azra. Gadis itu masih berjalan dengan langkah biasa, itu pertanda pertahanannya belum dijebol oleh sang striker. Begitu juga dengan para lelaki yang melihat wajah kusut Fathan, sudah pasti pria itu berwajah masam karena belum berhasil membuka segel. Azra memilih duduk dekat Nadia, sedang Fathan di dekat Barra dan Ezra.
Acara makan berlangsung seperti biasa, diselingi perbincangan ringan, namun tidak ada yang menyinggung pasangan pengantin baru yang seperti sedang dilanda perang dingin. Mereka akan menanyakannya di waktu yang tepat nanti. Beberapa kali Nadia dan Ruby melirik anaknya masing-masing, begitu pula Juna dan Agung yang hanya saling berpandangan saja.
“Nan.. cewek lo mana? Ngga diajak nyarap bareng?” celetuk Ravin.
__ADS_1
“Ngga, bang. Dia masuk shift pagi.”
“Gue ngga ditanyai bang?” celetuk Haikal.
“Ngapain nanyain elo. Palingan kecengan elo ngga jauh dari cabe-cabean yang suka lewat depan kompleks naik motor sambil reptil,” Ravin terkekeh sendiri. Haikal hanya mendengus sebal.
“Pa.. bulan depan aku udah mulai magang. Aku magang di kantor ya,” seru Kenan.
“Boleh. Kebetulan om Fadli ditugasin papa ngurus perusahaan yang di Jakarta. Jadi selama dua bulan kamu jadi sekretaris papa.”
“What???!! Ngga ada posisi lain gitu pa?”
Kenan cukup terkejut di masa magangnya langsung menjadi sekretaris sang papa. Dia tahu betul bagaimana sikap pria itu jika di kantor dan menyangkut urusan pekerjaan. Tak jarang Kenzie menerima semburan darinya. Belum apa-apa, pemuda itu sudah bergidik membayangkan bekerja di bawah papanya langsung.
“Kenapa Nan? Ngga punya nyali, lo?” ledek Kenzie.
“Bukannya gitu, bang. Gue denger CEO Metro East itu terkenal kejam dan ngga ada kata kompromi kalau melakukan kesalahan. Gue takut mati muda, bang.”
Dengan kesal Abi melempar sebungkus kecil butter yang ada di dekatnya dan tepat mengenai kening anak bungsunya itu. Anfa yang pernah merasakan kerasnya didikan Abi hanya tertawa saja.
“Kalau kamu mau magang di mana?” tanya Cakra pada putri bungsunya, Anya.
“Aku magang di kantor pipi aja deh, boleh kan pipi sayang?” Anya memainkan matanya seperti puppy eyes.
“Buat anak cantik seperti kamu, apa sih yang ngga boleh. Nanti kamu di bagian Hanna aja, ya.”
“Ok pipi. Love you,” Anya membentuk cinta dengan telunjuk dan ibu jarinya pada Anfa.
“Oh gitu, jadi lopenya cuma buat pipi aja. Kita di lupain kayanya,” seru Abi.
“Iya, kita udah ngga dianggap,” sambung Juna.
“Ya ampun papa dan ayah tersayang jangan ngambek dong. Aku juga sayang kalian kok, sarange,” jari tangan Anya membentuk tanda hati kemudian memaju mundurkannya.
Cakra hanya tersenyum melihat tingkah anak bungsunya. Anya selalu bisa membungkus keresahan dan ketakutannya dengan keceriaan. Berbeda dengan pengantin baru yang terlihat lesu.
Usai makan pagi, Nara segera menarik Azra ke tempat lain untuk berbicara. Naya dan Freya yang penasaran, mengikuti langkah mereka dari belakang. Begitu pula dengan Ravin yang mengajak Fathan sedikit menjauh dari meja makan. Tak lama Kenzie, Aric, Barra dan Ezra menyusul. Mereka cukup penasaran dengan apa yang terjadi.
“Curiga nih gue, lo semalem ngga jadi bobol gawang ya,” cecar Ravin.
“Udah jelas, dari muka kusutnya,” sambung Aric.
“Dih ngga usah ngegas!” jawab Barra.
“Ya gimana gue ngga kesel. Balik ke kamar, Azra udah tidur. Udah coba gue bangunin ngga bangun-bangun. Padahal ditepuk-tepuk udah, dicium semuka-muka juga udah, gue dehem keras masih ngga denger. Sampe gue gulang-guling ngga jelas, dia tetap aja tidur. Astaga… emang Azra kalo tidur kaya kebo ya?”
Untuk beberapa saat semua terdiam, namun tak lama terdengar gelak tawa mereka. Ezra yang tahu kalau saudara kembarnya itu memang susah dibangunkan jika sudah tidur, hanya terpingkal sambil memegangi perutnya. Karuan Fathan bertambah kesal.
“Si Azra emang kalo tidur kaya kebo. Kayanya kalo ada gempa juga dia ngga akan ngeh, huahahaha….” Seru Ezra sambil terus tertawa.
“Udah tahu bini susah dibangunin, harusnya lo inisiatif dikit. Gr*pe-gr*pe gitu,” timpal Aric.
“Ya gue kan maunya dimulai bersama. Masa iya malam pertama gue buka warung sendiri.”
“Harusnya lo bawa si Azra ke kamar mandi terus masukin ke bath tub yang diisi air dingin biar bangun,” sahut Kenzie.
“Sadiss,” desis Fathan.
“Dari pada elo murang-maring ngga jelas kaya sekarang,” balas Kenzie tak mau kalah.
“Dan lo tahu yang bikin gue tambah kesel apaan?”
“Apa?” tanya Barra kepo.
“Dia nanya kenapa gue ngga bangunin dia. Terus ngomel-ngomel ngga jelas. Harusnya kan gue yang ngomel, ini malah galakan dia.”
“Huahahaha..”
Tawa kencang para pria yang otaknya sedikit oleng itu langsung membahana, membuat para tetua yang masih berkumpul di meja makan mengalihkan pandangan pada mereka. Tanpa mempedulikan tatapan para tetua, mereka terus melanjutkan perbincangan.
“Denger ya, ada dua aturan dasar dalam berumah tangga,” ujar Kenzie dengan wajah serius.
“Apaan?”
“Satu, istri tidak pernah salah. Dua, kalau istri melakukan kesalahan, maka kembali pada peraturan pertama. Dengerin juga Ric, Vin. Kalau bini kalian ngomel, terima aja, telen aja, bantah pun percuma, kalian ngga akan bisa menang dan ujung-ujungnya disalahin lagi,” tutur Kenzie panjang kali lebar. Sebagai yang lebih dulu menikah, dia memang punya pengalaman lebih berhadapan dengan wanita yang berstatus istri.
“Udah deh, ngalah aja, Than. Lagian salah elo juga, bukannya ngomong langsung malah diem-diem aja. Emangnya dia cenayang bisa tahu pikiran elo. Sekarang mending balik ke kamar, baek-baek deh ama istri lo. Emang lo ngga mau jebol gawang apa?” tanya Aric.
“Ya maulah,” sewot Fathan.
“Ngalah. Minta maaf aja ama Azra, demi kesejahteraan adek lo. Masa iya udah nikah mainnya sama tante Citra hahaha..” Ravin kembali terpingkal.
__ADS_1
Fathan terdiam sejenak. Sepertinya apa yang dikatakan para sahabat ada benarnya juga. Kalau dia tak cepat-cepat berinisiatif melakukan gencatan senjata, bisa jadi senjatanya tidak bisa beroperasi pagi ini. Dengan cepat pria itu berdiri kemudian bergegas meninggalkan area kolam renang. Tak dipedulikannya teriakan yang penuh dengan ujaran semangat berbalut ledekan yang keluar dari mulut sahabatnya.
“Go, Than. Lo pasti bisa buka segel!” Barra.
“Pelan-pelan yang penting tembus!” Ezra.
“Jangan kasih kendor!” Ravin.
“Inget ajaran semalem!” Aric.
“Serang terus sampe jebol!”Kenzie.
"Hahahaha..."
Sementara itu di lain tempat, Nara, Naya dan Freya dengan sabar mendengarkan cerocosanAzra yang tengah mengeluarkan kekesalannya akibat sikap suaminya yang mendiamkannya dan selalu berwajah masam.
“Coba kalau kalian jadi gue, pasti gedeg kan?” tanya Azra di akhir ceritanya.
“Ya jelas bang Fathan ngembek, elo jadi cewek ngga peka banget,” seru Naya.
“Ngga peka gimana?”
“Si bang Fathan tuh pengen kikuk-kikuk, jebol gawang. Eh elonya malah molor,” sembur Nara.
“Salah sendiri kenapa kelamaan masuk kamar, kan gue ngantuk. Lagian kenapa dia ngga bangunin gue,” Azra membela diri.
“Gue yakin bang Fathan pasti udah usaha bangunin elo. Makanya kalau tidur, lo jangan kaya kebo ngapa. Susah banget dibangunin kalau udah nempel ama bantal,” cerocos Freya yang langsung disambut gelak tawa lainnya.
“Ya terus gue mesti gimana?”
“Minta maaf sama suami elo. Terus tiup peluit, suruh dia jebol gawang hahaha,” Nara memegangi perutnya.
“Iya sana. Jangan sampe kelamaan suami lo ngambek. Tar kalau malaikat ikutan ngambek sama elo, gawat,” Freya menimpali.
“Waduh..”
Azra segera bangun dari duduknya. Bergegas gadis itu kembali menuju kamarnya. Dia tak ingin di hari pertamanya menjadi istri, dirinya terkena rutukan para malaikat karena mengabaikan keinginan suaminya.
Sesampainya di kamar, terlihat Fathan sudah ada di sana. Suaminya itu nampak sedang duduk menunggunya. Dengan kepala tertunduk, Azra menghampiri Fathan kemudian duduk bersisian dengannya.
“Abang.. maafin aku. Tadi aku udah marah-marah ngga jelas sama abang. Aku juga minta maaf kalau semalam ketiduran. Aku nunggu abang lama banget, jadinya ngantuk terus mmpphhh..”
Azra tak bisa melanjutkan kalimatnya karena Fathan langsung membungkam dengan bibirnya. Untuk beberapa saat pria itu mel*mat bibir Azra, kemudian mengakhiri dengan sebuah sesapan. Pria itu kemudian menyatukan kedua kening mereka.
“Maafin abang juga, udah bersikap kekanakan.”
“Abang udah ngga marah?”
“Ngga, sayang. Sekarang boleh kan?”
“Bo.. boleh bang.”
Wajah Azra bersemu merah saat menjawabnya. Fathan menarik tengkuk istrinya kemudian kembali menyatukan bibir mereka. Kali ini Azra sudah berani membalas ciuman suaminya. Dari ******* lembut, beralih menjadi ciuman yang panas, ketika keduanya memperagakan gaya berciuman ala french kiss.
Tubuh Azra terbaring di kasur dengan Fathan berada di atasnya. Bibir suaminya itu terus menelusuri seluruh wajah sang istri. Pria itu memberanikan diri meraba bagian sensitif istrinya. Terdengar lenguhan Azra saat Fathan meremat salah satu bukit kembarnya. Baru bercumbu sebentar, Fathan merasakan miliknya sudah menegang, efek semalam yang tak tuntas sempurna.
Tanpa menunggu lama, pria itu melucuti pakaian mereka berdua. Sebelum menjebol gawang, Fathan kembali memberi cumbuan, dengan menelusuri tubuh mulus istrinya dengan telapak tangan dan bibirnya. Bahkan lidahnya juga ikut bermain menyapu titik-titik sensitif wanita itu.
Azra memejamkan mata, menahan rasa nyeri dan linu saat milik Fathan berhasil memasuki miliknya. Dapat pria itu rasakan, ada sesuatu yang merembes di sela-sela miliknya, pertanda dirinya sudah berhasil merenggut kesucian sang istri. Dia berdiam diri sejenak, memberikan waktu pada Azra agar terbiasa dengan miliknya, baru kemudian bergerak maju mundur.
Lambat laun, rasa nyeri dan linu yang dirasakan Azra berganti dengan kenikmatan. Senjata Fathan terasa memenuhi miliknya dan membuatnya tak bisa menahan terlalu lama untuk mencapai pelepasannya. Tubuhnya bergetar hebat saat sang suami berhasil membawanya ke puncak kenikmatan.
Begitu pun dengan Fathan. Senjatanya yang dijepit begitu erat oleh milik Azra membuat pria itu tak bisa bermain lebih lama lagi. Dunianya semakin mengerucut seiring dengan pergerakannya yang semakin cepat. Tak lama kemudian Fathan berhasil menggapai kepuasannya. Lega rasanya saat dirinya berhasil melepaskan lahar panas ke dalam rahim sang istri.
Deru nafas terdengar saling bersahutan saat aktivitas panas mereka selesai. Kepuasaan tercetak jelas di wajah Fathan. Ternyata begini rasanya percintaan, begitu nikmat, wajar jika para sahabatnya tak bisa berhenti untuk menggarap tubuh istri mereka. Fathan menarik Azra ke dalam pelukannya seraya mendaratkan ciuman di kening. Dia mengisitirahatkan tubuhnya sejenak sebelum melakukan ronde kedua.
☘️☘️☘️
Zahra menggerakkan tubuhnya ke kanan dan kiri untuk mengurangi rasa pegal yang melanda. Siapa yang menyangka, di hari libur ini, ternyata banyak pasien yang datang ke IGD. Mereka mengalami keracunan makanan setelah menikmati nasi kotak gratis yang diberikan di lokasi Car Free Day. Karuan saja semua staf IGD dibuat sibuk oleh kejadian ini. Penyelenggara acara bertanggung jawab membayar semua biaya pengobatan korban keracunan.
Waktu telah menunjukkan pukul tiga lebih tiga puluh menit. Jam kerja Zahra sudah berakhir setengah jam yang lalu. Setelah berganti pakaian, gadis itu bergegas menuju parkiran motor yang terletak di basement 2. Sudah tak sabar rasanya ingin secepatnya sampai di rumah dan mengistirahatkan tubuhnya.
Zahra harus berhenti sebentar saat ada sebuah mobil melintas di depannya, baru kemudian melanjutkan langkahnya menuju parkiran motor. Sedikit lagi gadis itu sampai ke area parkir, tiba-tiba terdengar seseorang memanggil namanya.
“Zahra..”
☘️☘️☘️
**Sapa tuh???
Maaf ya baru bisa nongol sore🙏**
__ADS_1